Petualangan Mistis

Petualangan Mistis
Episode 169


__ADS_3

malam itu berada di desa Boneng, tepat desa yang tersambung dengan desa Baluran, desa yang terbakar habis tanpa sisa, mereka tim samudera dan beberapa orang lainnya tampak tegang dan gelisah menunggu pergantian waktu.


setiap detak jarum jam terus berputar maka detak jantung mereka pun semakin berdetak kuat. orang-orang yang berada di dalam rumah itu nampak menampilkan kegelisahan dan kerisauan masing-masing.


"kalau mengantuk kalian tidurlah, jangan menahannya" pak Firman berbisnis kepada anak-anak remaja itu


"perempuan saja yang tidur, kami laki-laki akan berjaga" pak Banu menimpali


meski sudah menahan kantuk dengan paksa namun tetap saja mata tidak bisa menahan untuk tidak tertutup. akhirnya para ibu dan anak-anak gadis yang bersama mereka mengambil tempat di ruang itu untuk berbaring.


Alana tidur di dekat El-Syakir, ia tidak ingin jauh dari kakaknya itu. hilangnya Adam membuat Alana takut El-Syakir akan meninggalkannya juga. tangan Alana menggenggamnya tangan El-Syakir dan dia pun terlelap. Leo hanya mengusap kepala gadis itu.


Starla tidur bersama Melati dan Nisda sedang Seil bersama Zahra. ibu Murni bersama anaknya, Amran dan ibu Nurma tidur di samping suaminya.


"apakah selama ada obor, mereka tidak akan berani masuk ke dalam desa...?" tanya El-Syakir


"di ujung desa, sudah di pagari dengan banyaknya obor. selama api obor itu masih menyala maka mereka tidak akan bisa masuk ke dalam desa" pak Samsul menjawab


"kalau hujan bagaimana...?" tanya Vino


"maka jelas mereka akan masuk ke dalam desa dan itu sangatlah berbahaya" pak Zainal menjawab


"apakah tidak ada cara lain untuk membuat mereka tidak mengusik desa ini lagi...?" tanya Leo


"sampai saat ini kami belum menemukan cara itu. hanya sebatas ini yang bisa kami lakukan" jawab pak Firman


"ada cara lain" pak Zainal menjawab dan itu membuat mereka semua menoleh ke arah pria itu


"apakah benar ada...?" pak Banu menatap serius pak Zainal


"bagaimana caranya pak...?" tanya El-Syakir begitu ingin tau begitu juga yang lain


"melenyapkan junjungan mereka, kuntilanak merah" pak Zainal menjawab dengan wajah serius


"kuntilanak merah...?" Bara dan Leo berucap bersamaan


karena mengikuti pak Samsul untuk menemui pak Zainal, maka keduanya tidak dapat mendengarnya cerita yang diceritakan oleh ibu Nurul waktu berada di puncak Boneng.


"warga desa Baluran yang berada di dalam hutan belakang desa ini, mereka mengabdi kepada kuntilanak itu" El-Syakir memberitahu


"apa...?" tentu saja keduanya terkejut


"gila, nggak percaya Tuhan mereka ya. iblis kok disembah" Leo geleng kepala


"jadi benar kalau penduduk desa itu mengabdi kepada kuntilanak merah...?" Vino memastikan


"berdasarkan cerita, memang seperti itu. penduduk desa mencari tumbal gadis perawan untuk setan itu. mereka mencari tumbal di desa lain hingga saat desa lain tau perbuatan biadab mereka, dengan brutal warga desa lain membakar desa itu saat penduduknya masih dalam keadaan terlelap tidur" jawab pak Zainal


"bukankah setan itu yang kita hadapi terakhir kali ini" Bara berbisik di telinga El-Syakir


"iya, gue penasaran apakah ratu Sundari mengalahkannya atau nggak" El-Syakir menjawab dengan berbisik juga


"kalian semua....punya penjaga" pak Zainal menatap keempat remaja itu dengan tatapan lekat


"hah...?" mereka terkejut mengapa tiba-tiba laki-laki itu mengatakan hal semacam itu


"penjaga apa maksudnya pak...?" pak Firman penasaran


"bukan apa-apa, sekarang waktu kita tersisa 30 menit lagi. semoga hujan tidak turun sampai pagi datang" pak Zainal mengalihkan pembicaraan


mereka masih terus bertahan untuk tidak tidur meski pada kenyataannya tubuh mereka sudah sangat harus istrahat terlebih lagi tim samudera laki-laki yang seharian menjelajah hutan. sesekali mereka menguap karena kantuk yang sudah sangat terasa.


"jangan tidur Le, buka matamu" Bara menepuk bahu Leo yang sudah memejamkan mata


seketika Leo tersadar dan membuka matanya lebar-lebar.


"bikin kaget aja lu Bar" Leo mencebik


"agar tidak terlalu mengantuk, biar bapak buatkan kopi untuk kita semua" pak Firman beranjak untuk menuju dapur


"terimakasih pak, kami memang butuh kopi untuk menghilangkan rasa kantuk" Vino berbicara


pak Firman mengangguk dan tersenyum kemudian meninggalkan ruang tengah menuju dapur. sementara tim samudera, mereka ikut menuju dapur untuk ke kamar mandi guna mencuci muka agar terlihat fresh dan tidak mengantuk.


"biar aku bantu pak" El-Syakir mengambil nampan yang akan dibawa pak Firman ke depan


"terimakasih nak"


mereka kembali ke ruang tengah. El-Syakir menyimpan gelas kopi di tengah-tengah dan duduk kembali.


"silahkan diminum kopinya" ucap pak Firman kepada tiga laki-laki seumurannya

__ADS_1


"terimakasih pak Firman sudah merepotkan" ucap pak Zainal


"sama sekali tidak pak Zainal, silahkan diminum kopinya" timpal pak Firman


kopi yang masih mengepul asapnya itu langsung diseruput oleh mereka. pak Firman juga menyediakan cemilan untuk mereka makan.


10 menit lagi menuju pergantian waktu, udara terasa semakin dingin bahkan mengalahkan dinginnya AC pada malam itu. mereka menggunakan jaket untuk menghangatkan tubuh. pak Firman mengambil selimut tebal untuk para perempuan yang mulai kedinginan.


"kenapa bangun...?" Vino bertanya saat Starla bangun dari tidurnya dan mendekat duduk disampingnya


"dingin" Starla kedinginan


bukan hanya Starla yang bangun, yang lainnya pun ikut terbangun karena rasa dingin yang begitu menusuk sampai ke tulang.


Seil segera ke kamar untuk mengambil jaket mereka semua kemudian kembali lagi dan menyerahkan jaket itu kepada perempuan.


"makasih Se" ucap Nisda yang mulai menggigil


"kenapa dingin seperti ini pak...?" tanya El-Syakir kepada pak Zainal


"itu tandanya pergantian waktu tinggal menghitung menit, bulan purnama sebentar lagi akan muncul. 5 menit lagi menuju pergantian waktu" pak Zainal menjawab saat matanya melihat ke arah jam yang digantung di atas televisi


semakin berdebar dan tegang mereka semua. kantuk yang tadinya menyerang tiba-tiba hilang seketika dengan gantikan dengan perasaan gelisah dan ketegangan di ruang tengah itu.


"sudah waktunya" ucap pak Zainal


tepat jam 12 malam, bulan purnama mulai muncul. saat itu juga mereka mendengar suara terompet yang begitu terdengar jelas di telinga mereka. itu seperti bunyi saat dua kubu kerajaan akan melakukan peperangan.


di tengah hutan tepatnya di desa yang pernah terbakar, berbagai makhluk mengerikan mulai muncul satu persatu setelah mendengar bunyi terompet pertanda perburuan akan segera dilakukan.


mereka dengan wujud yang sangat mengerikan mulai berjalan menuju ke desa Boneng. tubuh yang gosong, kulit yang mengelupas, kuku tajam kuntilanak yang runcing dan mata merah menyala membuat siapapun akan sangat ketakutan saat melihat mereka.


"hihihihihi" suara tawa wanita terdengar menggema di dalam hutan itu


sementara di tempat yang sama dua anak manusia sedang bersembunyi agar arwah-arwah yang mengerikan itu tidak melihat mereka.


"mau kemana mereka...?" Adam memperhatikan dengan seksama


"ke desa Boneng, malam ini adalah munculnya bulan purnama. mereka akan mencari mangsa seperti sebelumnya" Deva pun turut memperhatikan


"gawat, penduduk desa dalam bahaya kalau seperti itu"


"kita tidak bisa keluar dari sini, bisa mati konyol di serang oleh mereka"


"kakak bukannya penakut tapi lihatlah mereka puluhan bahkan ratusan dan kita hanya dua orang. bisa dijadikan ayam geprek kita nanti" Deva tidak terima Adam mengejeknya seorang penakut


"hais kenapa pake bilang ayam geprek segala sih, aku kan jadi lapar" Adam menggerutu


"kakak juga lapar tau bukan hanya kamu"


Adam kini sudah tidak membenci Deva lagi. Deva memaksa Adam untuk mendengarkan penjelasannya saat kejadian tragedi mengerikan empat tahun yang lalu. Deva tidak ingin hubungan keduanya hancur begitu saja hanya karena kesalahpahaman.


meski malas mendengar namun Adam tetap mendengarkan Deva untuk menceritakan yang sebenarnya pada saat itu.


Deva terpaksa melakukan itu semua, karena waktu itu dirinya hanya seorang diri. ia tidak mungkin melawan Baharuddin sendirian yang mempunyai pengawal cukup banyak. Deva hanya bisa bersembunyi di bawah meja.


mengapa Adam membencinya...? karena waktu itu Adam melihat Deva sedang bersembunyi, Adam berharap Deva dapat menolongnya namun sampai kedua orang tuanya di tembak mati dan ia pun ditembak juga, Deva tidak bergeming sedikitpun. itulah yang membuat Adam membenci Deva.


setelah kejadian itu, Baharuddin ternyata tau kalau Deva ada di tempat itu. ia mengancam Deva agar tidak memberitahu Zidan tentang siapa pelaku pembantai itu. Baharuddin meminta Deva untuk meninggalkan keluarga Sanjaya dan kembali ke orang tuanya di desa Boneng.


tidak punya pilihan lain, Deva menuruti perkataan Baharuddin. ia meminta izin kepada Zidan untuk kembali karena ibunya sedang sakit keras padahal sebenarnya tidak. jika tidak begitu, tentu saja Zidan tidak akan mengizinkannya untuk pulang. namun meskipun begitu Deva masih terus berkomunikasi dengan Zidan, ia terus menanyakan keadaan Adam saat Adam masih dalam keadaan koma.


"cari restoran yuk"


pluuukk


"aduh, kok dipukul sih kak" Adam merengek saat Deva menggeplak kepalanya


"kamu kalau ngomong yang benar aja dong, mana ada restoran di hutan belantara seperti ini" Deva begitu gemas dengan sikap Adam, baginya ketengilan Adam tidak pernah berubah sejak dulu


"ya abisnya aku lapar, hiks... hiks" Adam mulai memasang jurus andalan


ia merengek seperti anak kecil yang tidak diberi mainan dan sesekali melirik ke arah Deva yang hanya menatapnya dengan tatapan datar.


"nggak usah drama, kakak udah tau ya akal bulus mu. nggak mempan" Deva mencibir sambil bersidekap


"ck, jahat banget sama adik sendiri. aku ngambek nih" Adam menggerutu dan berbalik membelakangi Deva


ngambeknya Adam saat ini sama seperti ngambeknya dia saat bersama El-Syakir, namun Deva lebih berpengalaman menghadapi Adam, adik angkatnya itu.


"ngambek aja, guling-guling sono di tanah" Deva tidak termakan dengan merajuknya adiknya itu

__ADS_1


"huwaaaa hmmppp"


Adam mengeluarkan jurus terakhir, menangis dengan kencang namun seketika Deva membekap mulutnya.


"kamu mau buat kita jadi mangsa mereka" Deva benar-benar sangat gemas, ingin sekali rasanya membenturkan kepala Adam di pohon tempat mereka bersembunyi


"gawat, ada yang kemari" Deva menarik Adam agar tidak terlihat oleh beberapa arwah yang mendengar suara teriakan Adam tadi


mereka mengendus-endus seperti mencium sesuatu, energi yang tidak pernah mereka rasakan sebelumnya. energi manusia yang sangat mereka inginkan.


"bagaimana ini" arwah-arwah itu semakin dekat dengan keduanya


"aku punya ide, hanya itu satu-satunya cara agar mereka tidak merasakan energi kita" Adam mengusulkan pendapatnya


"apa itu cepat katakan sebelum mereka semakin dekat"


tanpa basa-basi, Adam membalurkan tanah di seluruh tubuhnya. dari wajah sampai kaki semuanya ia balurkan tanah.


"cepat kak, dengan seperti ini mereka tidak akan mengenali kita kalau kita berdua adalah manusia"


Deva pun mulai melakukan hal yang sama seperti yang dilakukan Adam. tepat mereka selesai, saat itu juga arwah yang mengerikan itu berada di tempat persembunyian mereka.


grrrrr


Adam berperilaku seperti makhluk-makhluk itu, menggertakkan gigi-giginya dan dan menggaruk-garuk pohon di sampingnya. Deva mengerutkan kening dan menggaruk kepala.


(dia ini lagi ngapain sih) batin Deva memperhatikan tingkah konyol Adam yang ingin memanjat pohon besar itu bahkan sesekali menciumnya


arwah-arwah itu pun hanya menatap Adam dengan tatapan heran, dalam pikiran mereka sedang apa teman mereka itu bahkan sampai mencium pohon segala.


ummmaaacchh


ummmaaacchh


grrrrr


Adam terus melakukan kekonyolannya sedang Deva menahan diri untuk tidak tertawa. ia menggigit bibir agar tawanya tidak meledak. namun karena tidak sanggup, Deva pun tertawa terbahak-bahak hal itu membuat arwah-arwah di samping mereka mengalihkan pandangan ke arah Deva.


grrrrr....


goaaaaarrrrr


goaaaaarrrrr


Deva refleks berperilaku seperti harimau, bahkan tangannya akan mencakar para makhluk itu. arwah-arwah itu saling pandang satu sama lain, sepertinya mereka akan berpikir kalau Adam dan Deva yang mereka anggap sebagai teman mereka, keduanya mengalami gangguan jiwa.


pada akhirnya arwah-arwah yang mengerikan itu meninggalkan Adam dan Deva, mereka kembali berbalik arah menyusul arwah-arwah yang lainnya yang sedang menuju ke desa Boneng.


"heh Bambang, kamu ngapain cium pohon segala udiiiin" Deva kembali terbahak. untungnya tidak ada lagi yang mendengar suaranya karena makhluk-makhluk itu telah jauh dari mereka


"hais...habis sudah keperawanan bibirku" Adam menghentikan aksinya dan menatap Deva dengan kesal karena menertawakannya


"beruntung sekali pohon ini mendapatkan aksi brutal dari kamu, hahahaha"


uhuk...uhuk


Deva terbatuk-batuk tatkala Adam memasukkan daun-daunan di mulut Deva.


"adik durhaka" Deva membersihkan mulutnya sedang Adam cekikikan


"kita lanjutkan perjalanan" ucap Adam


"nggak bisa. kita nggak akan bisa keluar dari hutan ini kalau matahari belum terbit. malam ini adalah malam kekuasaan mereka, kita bisa mati kalau bertemu tuan mereka"


"memangnya siapa tuan yang mereka sembah itu...?"


"kuntilanak merah"


"APA, KUNTILANAK MERAH...?" Adam kaget bukan main


"siapa disana...?"


seseorang yang mendengar suara Adam langsung menghampiri ke tempat mereka. untungnya Adam dan Deva dengan cepat bersembunyi agar tidak ditemukan.


seorang laki-laki paruh baya datang memeriksa tempat persembunyian Adam dan Deva tadi. dirinya tidak menemukan siapapun.


"paman Ujang" ucap Deva dengan pelan. dia begitu kaget melihat laki-laki itu


Adam juga ikut kaget, laki-laki itu adalah yang memberikan dia dan Zahra ikan.


(pantas saja saat itu rumahnya terasa panas, ternyata dia ada sangkut pautnya dengan hutan ini) batin Adam

__ADS_1


belum hilang keterkejutan mereka berdua, keduanya kaget melihat seorang gadis yang mereka cari-cari, dialah Wulan yang bersama dengan laki-laki itu. tatapan matanya kosong dan berdiri tanpa bergerak, seperti patung. saat laki-laki itu melangkah, Wulan ikut melangkah seperti ajudan yang siap mengikuti kemanapun tuannya pergi.


__ADS_2