
hargailah setiap karya orang lain. jangan melihat dari segi pandangan kita saja karena kita nggak tau bagaimana proses penulisannya.
butuh ketenangan dan situasi yang baik untuk berpikir bagaimana membuat alur cerita menjadi semenarik mungkin agar menarik perhatian pembaca. terkadang aku sudah selesai menulis namun aku ganti lagi karena menurut aku alurnya kurang menarik untuk dibaca.
aku memang bukan penulis handal dan masih banyak kekurangan tapi aku juga berusaha untuk memberikan yang terbaik. aku nggak bisa up banyak karena kehidupan nyatanya aku lebih rumit dari kehidupan novel yang aku tulis.
terimakasih sebanyak-banyaknya untuk kalian yang telah membaca dan menunggu lanjutan ceritanya.
maafkan aku telah membuat kalian menunggu lama 🙏🙏🙏. komentar positif dari kalian adalah penyemangat bagiku
sayang kalian banyak-banyak untuk pembaca novel petualangan mistis. semoga hari kalian selalu menyenangkan dan rejeki kalian mengalir terus. aamiin
________________________________________________
Adam sedang memikirkan ucapan El-Syakir saat tadi malam mereka menyusun rencana untuk pergi ke kuburan saat malam jum'at nanti.
"apa kakak tidak pernah mencium wangi tubuh ratu Sundari...?"
"wangi tubuh...?"
"iya. coba ingat-ingat apa yang kakak cium atau aura apa yang kakak rasakan. karena dengan begitu kita bisa membandingkan hal itu kepada ratu Sri Dewi"
"aku nggak tau, itu kan udah lama"
Adam terus mengingat wangi tubuh ratu Sundari. lama berpikir satu hal yang ia ingat kalau ratu Sundari saat itu memiliki wangi berbau bunga melati.
(benar, ratu Sundari saat itu beraroma melati. aku tidak merasakan wangi busuk atau semacamnya aku juga tidak merasakan kegelapan yang sangat gelap padanya padahal dia adalah ratu alam gaib. berbeda dengan ratu Sri Dewi, saat melihatnya aku bisa merasakan aura yang begitu gelap) batin Adam
(apa benar kata Bara kalau mereka saudara kembar. kok macam di sinetron aja ya) batin Adam menghela nafas
"kalau aku bertemu ratu Sundari lagi, bisa dipenggal kepalaku nantinya karena kabur di hari pernikahan" ucap Adam menggaruk kepala
"eh tapi ngomong-ngomong bagaimana kabar Melati ya. semoga saja dia tidak ketahuan waktu itu"
hari ini ketiga pengawal zidan mempunyai tugas masing-masing. Randi mengawal ayah Adnan ke Sanjaya grup, Pram mengambil alih pekerjaan Zidan karena pria itu akan libur beberapa hari untuk menikmati masa pengantin barunya dan Helmi pergi menemui istri Riki, pria yang membuat keonaran di pernikahan Zidan.
Helmi memarkirkan mobilnya ke sebuah indekos yang sederhana berdinding papan dengan cat warna hijau. mobil mewah itu mencuri perhatian orang-orang sekitar karena penasaran siapa yang berkunjung ke lingkungan mereka dengan mobil mewah seperti itu.
Helmi keluar dari mobil dan melangkah mencari kamar nomor 5. dilihatnya setiap angka yang tertera di depan pintu dan matanya berhenti di angka nomor 5. pria itu melangkah mendekati kamar tujuannya.
tok tok tok
Helmi mengetuk pintu beberapa kali dan terdengar pintu yang sedang dibuka menampakkan seorang wanita dengan memakai daster dan menggendong seorang anak kecil berusia 2 tahun.
"siapa ya...?" tanya wanita itu karena baru pertama kali ia melihat Helmi
"aku temannya Riki" jawab Helmi
"maaf, bang Riki dari kemarin belum pulang" ada raut kesedihan saat wanita itu mengatakan suaminya belum pulang
"aku tau dan aku datang untuk membawakan pesannya padamu" jawab Helmi
"pesan....?"
"boleh aku masuk...?"
"ah iya silahkan. maaf sedikit berantakan" wanita itu mempersilahkan Helmi untuk masuk dan duduk di tikar
wanita itu meninggalkan Helmi sebentar dan datang lagi dengan secangkir teh di tangannya.
"maaf, aku tidak punya apa-apa untuk di suguhkan" ia menyimpan teh hangat itu di depan Helmi
"terimakasih" ucap Helmi
"jadi mas tau dimana bang Riki berada...?" tanya wanita itu
"dia sedang menjalankan tugasnya dan saat ini. aku disuruh olehnya untuk datang menemuimu dan membawakan ini padamu" Helmi memberikan amplop berwarna coklat
tugas yang dimaksudkan Helmi adalah tugas Riki untuk mengikuti proses hukum yang berlaku akibat dari perbuatannya.
"apa ini...?" wanita itu menatap amplo itu namun belum mengambilnya
"ini adalah hak kamu dan anak kamu" Helmi mengambil tangan wanita itu dan memberikan amplop berisi uang
"apa yang dikerjakan bang Riki sampai mendapatkan uang sebanyak ini. dia tidak melakukan hal aneh kan mas" raut wajah khawatir terlihat di wajahnya
"sama sekali bukan hal aneh yang ia lakukan. dia bekerja dengan pekerjaan halal. aku hanya ingin menyampaikan kalau untuk kedepannya mungkin dia belum bisa pulang karena pekerjaan yang menuntutnya. tapi tenang saja, setiap bulan gajinya akan ia berikan padamu. Riki berpesan untuk kamu tidak khawatir karena dirinya baik-baik saja"
"bayar uang kos dengan uang itu dan juga susu untuk anakmu" Helmi melihat anak laki-laki itu sedang bermain mobil-mobilan
"dia tampan seperti ayahnya" ucap Helmi tersenyum
"dia merindukan ayahnya. sejak kemarin Nabil menangis memanggil nama bang Riki" ucap wanita itu melihat ke arah putranya
"belilah makanan yang sehat. bulan depan aku akan datang lagi untuk melihat keadaan kalian. itu pesan Riki padaku"
"terimakasih mas. tapi...... apakah bang Riki benar-benar tidak bisa datang menemui kami. apakah dia kerja di luar kota...?"
__ADS_1
"iya" bohong Helmi
"satu lagi. pakai handphone ini agar aku bisa menghubungi kamu dan kamu juga bisa menghubungi aku kalau kamu butuh bantuan" Helmi memberikan sebuah handphone
"ini terlalu berlebihan, apa ini semua benar-benar dari bang Riki....?" wanita itu ragu untuk mengambil
"ini semua dari hasil kerja keras suamimu"
"tapi bang Riki pengangguran, bagaimana bisa mendapatkan pekerjaan dan langsung gajian sebanyak ini"
"rejeki datang tiba-tiba untuk orang-orang yang selalu sabar"
setelah selasai urusannya, Helmi meninggalkan indekos itu dan membelah jalan raya. namun seketika ia menghentikan mobilnya saat melihat wanita yang sangat ia kenal sedang berdiri di pinggir jalan dan menelpon seseorang. memang di daerah itu adalah tempat tinggal wanita itu.
dari dalam mobilnya Helmi dapat melihat wanita itu di jemput oleh mobil hitam entah siapa yang berada di dalam mobil.
Helmi yang penasaran mengikuti mobil itu di belakang. Helmi mengambil handphonenya dan menekan nomor si wanita. panggilan tidak diangkat dan Helmi masih terus mencoba hingga ke tiga kali panggilannya di angkat
📞Helmi
assalamualaikum Sil
📞Sisil
alaikumsalam. ada apa Hel...?
📞Helmi
kamu dimana
📞Sisil
di jalan mau ke kantor
mendengar jawaban Sisil, Helmi mengernyitkan keningnya karena mobil yang ditumpangi Sisil tidak ke arah jalan menuju kantor. perasaan pria itu diliputi cemas dan juga curiga.
📞Sisil
Helmi, kamu masih di situ kan....?
📞Helmi
ah iya. tadinya aku mau jemput kamu tapi ya sudahlah nanti kita bertemu di kantor saja
📞Sisil
tuuuuuuuut
Sisil mematikan panggilan sementara Helmi masih terus mengikuti mobil hitam di depannya hingga akhirnya mobil itu masuk di pekarangan rumah mewah dan parkir di depan halaman luas itu.
"rumah siapa ini...?" Helmi memperhatikan Sisil yang keluar dari mobil dan ia di sambut oleh seorang pria yang langsung memeluk wanita itu
melihat pemandangan itu ada perasaan yang tidak bisa dijelaskan oleh Helmi. pria itu merasa sesak bahkan ada ngilu di hatinya. tidak ingin berlama-lama, Helmi menyalakan mobilnya dan meninggalkan rumah itu.
keluarga ayah Adnan tidak di izinkan oleh Zidan untuk pulang ke rumah mereka. setelah identitas keluarga ayah Adnan terbongkar, sudah dapat dipastikan mereka sekarang dalam keadaan tidak aman dan Zidan tidak ingin sesuatu yang buruk terjadi pada mereka.
"tinggallah di sini sementara dan ibu Arini serta Alana tidak boleh keluar tanpa pengawal. El-Syakir sudah ada yang mengawal dirinya, Furqon dan Ardi" ucap Zidan saat ini mereka di ruang keluarga setelah sarapan pagi. ayah Adnan sudah ke kantor bersama Randi
"jadi selama ini kak Furqon dan kak Ardi itu pengawal yang selalu ngikutin aku...?" tanya El memastikan
"iya, mereka selalu ada di sekitar mu dalam jarak beberapa meter" jawab Zidan
"pantas saja mereka selalu ada saat aku kesulitan" gumam El
"kalau begitu El nggak bakalan bebas lagi dong paman" ucap Leo
"tetap jaga diri dan selalu ada di pantauan pengawal karena paman yakin setelah usahanya mereka kemarin gagal pasti akan ada rencana mereka selanjutnya" timpal Zidan
"Lana jadi takut" gadis itu memeluk El-Syakir
Adam yang berada di dekat kedua adiknya hanya mampu mengelus kepala gadis itu dan tentu saja membuat Alana kaget dan refleks melihat ke arah belakangnya.
"ada apa...?" tanya El
"nggak apa-apa" Alana memperbaiki posisi duduknya
Adam hanya mengedip-ngedipkan matanya ke arah El dan memonyongkan bibirnya. El-Syakir memutar bola matanya karena gemes ingin menggeplak kepala kakaknya itu.
"genit" ucap El pelan
para tim samudera pulang ke rumah masing-masing karena mereka telah ditunggu oleh orang tua di rumah. tim samudera akan bertemu lagi esok hari di sekolah.
melihat anaknya pulang, mama Melisa langsung menyambut anaknya itu dan memeluknya dengan erat. Leo anak satu-satunya dan tentu saja menjadi anak kesayangan.
Bara di sambut oleh ibunya dan ayahnya yang berada di rumah. Bara senang karena ayahnya dapat meluangkan waktu untuk bersamanya.
begitu juga dengan Starla dan Nisda. kedua gadis itu sangat di cemaskan oleh orang tua mereka.
__ADS_1
Vino pulang dengan perasaan senang. tiba di rumah ia disambut hangat oleh mama Nifa. wanita itu benar-benar berubah 100%. tidak ada kebencian lagi dalam hatinya karena kebencian itu telah berubah menjadi rasa sayang kepada putranya. entah karena ia melihat Vino dalam keadaan bahaya di pernikahan Zidan atau karena ia merenung sendiri, namun pasti wanita itu tidak ingin kehilangan putra keduanya.
"malam nanti adalah malam jum'at, aku kok ada rada ragu ya" ucap Vino
"ragu kenapa...?" tanya Starla
"ratu Sri Dewi pasti sangat sakti, dia penguasa kegelapan. apalah kita ini yang hanya bocah ingusan" ucap Vino
"setiap makhluk pasti ada kelemahannya. kita akan cari tau itu" timpal Adam
"lalu apa yang harus kita lakukan malam nanti...?" tanya Nisda
"menggagalkan ritual penumbalan" jawab Adam
"caranya....?" tanya El
Adam hanya tersenyum melihat semua remaja itu. kemudian ia melayang meninggalkan mereka membuat tim samudera kebingungan.
"lah bukannya jawab malah pergi aja tuh hantu" ucap Leo
"jangan ragukan Adam, dia selalu punya rencana dadakan. ke kantin yuk, lapar nih" ajak Vino
"ayuk lah, gue juga lapar" timpal Bara
mereka semua beranjak menuju kantin sekolah. baru saja duduk dan memesan makanan seorang gadis menghampiri mereka, lebih tepatnya menghampiri Bara.
"Hai Bara" ucap Nabila
"Hai kak. duduk, silahkan" Bara bergeser dan Nabila segera duduk di sampingnya
"akan ada yang kebakaran jenggot nih" bisik Adam yang datang tiba-tiba di samping El dan Vino
"astogeeeee.....kaget gue" Vino mengelus dada karena kaget
"jangan berisik kak, nanti benar-benar kebarakan" jawab El berbisik pula
"kakak darimana...?" tanya El masih dengan berbisik
"nyari melati" Adam menunjukkan bunga melati yang berada di kantung plastik
"ambil dimana...?"
"di tas kamu" jawab Adam mulai memakan melatinya
"kamu kok nggak angkat telpon ku sih" ucap Nabila
"dianya boker" ucap Adam asal
"telpon, kapan...?" tanya Bara
"kemarin. aku juga ngirim pesan tapi nggak elu balas. sibuk ya...?"
"sibuk merajut kasih sama si mantan" ucap Adam lagi
"diam kak. nggak bisa dibilangin ya kakak ini" bisik El
"maap maap" Adam menutup mulutnya rapat
"oh iya, kemarin aku sedang sibuk" jawab Bara
"nanti kalau aku hubungi elu lagi, elu angkat ya"
"iya, pasti" Bara tersenyum
"sabar sabar. nih minum air es biar hatinya adem atau mau nyemplung di bak kamar mandi sekalian" Adam sudah berada di samping Nisda yang kesal melihat kedekatan Bara dan Nabila. sepertinya hantu itu akan memulai lagi aksinya
"lah tadi dia masih di sini, sekarang udah di situ aja dia. benar-benar jelangkung" ucap Vino melihat Adam
"adiknya jelangkung dia mah" timpal Starla
makanan yang mereka pesan datang. Nabila akhirnya memesan makanan dan duduk makan bersama mereka. hati Nisda bertambah panas saat Nabila melap bibir Bara yang kotor karena saus baksonya.
"minum minum minum" Adam memaksa Nisda untuk meminun es teh manis
"tarik nafas buang, tarik nafas buang" Adam memberikan intruksi dan anehnya Nisda mengikutinya entah dia sadar atau tidak
"tahan.... tahan... tahan, jangan bernafas"
"metong anaknya orang dam" ucap Leo
"nah sekarang keluarkan lewat kentut" ucap Adam tanpa dosa
plaaaaaak
Nisda memukul Adam dengan kesalnya. gadis itu bahkan mencekik Adam saking kesalnya yang sejak tadi menahan nafas.
"kyaaaaaa.... Nisda kesurupan" teriak Adam menyelamatkan diri melayang keluar dan Nisda mengejarnya tidak peduli pandangan siswa siswi yang lain
__ADS_1
tim samudera terbahak melihat Adam lari kalang kabut menghindari amukan Nisda. Bara ikut tertawa sementara Nabila melihat mereka semua dengan raut wajah bingung