Petualangan Mistis

Petualangan Mistis
Episode 57


__ADS_3

"aish sekarang kita berkutat lagi dengan pekerjaan seperti ini" Helmi bersandar di kursinya


selama Zidan dan ayah Adnan di LN, maka mereka lah yang akan mengerjakan segala pekerjaan mereka.


"nanti ya, aku akan minta kenaikan gaji. ini mah sudah melebihi kapasitas pekerjaan kita" Randi membaringkan tubuhnya di sofa


"kalian enak berdua. nah aku, harus sendirian mengurus perusahaan Zidan" Pram menimpali


"sendiri apanya, orang kamu berdua sama Mita mulu kemana-mana" cibir Randi


"Mita sekretaris Zidan itu...?" tanya Helmi


"ho oh, baru tau kamu. kemarin-kemarin kemane aja bang" jawab Randi


"kemana lagi kalau bukan pergi kencan" cibir Pram


"suudzon betul nih kalian dua. lagian apa salahnya kencan. kita itu butuh teman hidup bro, bukan hanya begini-begini terus. emang kalian mau jadi perjaka tua"


Randi dan Pram saling pandang kemudian beralih menatap Helmi dan serentak menggeleng kepala.


"iya juga sih" Pram manggut-manggut membenarkan perkataan Helmi


ketiganya terdiam larut dalam lamunan masing-masing.


ting


pesan masuk di handphone Randi. pesan itu dari Zidan yang mengatakan akan pulang hari ini ke Indonesia dan juga menyuruh mereka untuk pergi melihat Rudi Thalita.


"siapa, gebetan ya...?" goda Helmi


"ck, dari Zidan. dai akan pulang hari ini dan kita disuruh Zidan untuk pergi melihat Vania" jawab Randi


"sebenarnya, aku masih kepikiran dengan ucapan Rudi waktu itu" Pram menghela nafas


"ucapan. ucapan bagaimana maksudnya...?" tanya Helmi


"Rudi bilang kita hanya menangkap lalat kecil dan ikan paus besar masih berkeliaran di luar sana" jawab Randi


"lalat kecil dan ikan paus besar. aku tidak mengerti" ucap Helmi


"pemikiranku, bukan Rudi pelakunya tapi orang lain" ucap Randi


"bukan Rudi gimana, jelas-jelas dia yang merencanakan semua ini" timpal Helmi


"dia memang terlibat namun hanya sebagai tangan kanan saja. waktu itu dia juga mengatakan kalau meskipun dia sudah tertangkap namun bukan berarti Zidan aman sekarang karena itu, ikan paus besar masih berkeliaran di luar dan sudah jelas dia pasti pelakunya" Randi menyimpan kembali handphonenya di kantong celananya


Helmi menghela nafas dan bersandar di kursinya. ia menutup matanya kemudian mengambil posisi duduk yang baik dan menatap kedua temannya.


"sebenarnya kemarin itu aku tidak sedang berkencan" ucap Helmi serius


"lah terus kamu kemana. malah kita ditinggal gitu aja setelah pulang dari hutan waktu itu" timpal Pram


"aku sedang mencari tau sesuatu" jawab Helmi


"sesuatu apa...?" kini wajah Randi mulai nampak serius begitupun kedua temannya


"aku sependapat dengan kamu Ran kalau memang bukan Rudi big bosnya. selama ini aku sedang mencari tau saudara kandung pak Burhan yang dikatakan meninggal 10 tahun lalu dengan tubuh yang terbakar" ucap Helmi


"ngapain cari tau orang yang sudah meninggal. aneh kamu" ucap Randi


"ck, makanya dengar dulu aku bicara" timpal Helmi kesal


"oke lanjut"


" menurut informasi yang aku dapat, kalau sebenarnya mayat itu bukanlah mayat saudara pak Burhan melainkan mayat orang lain" lanjut Helmi


"maksud kamu saudara pak Burhan itu benar-benar tidak terbakar...?" tanya Randi


"mungkin iya mungkin juga tidak. masalahnya mayat itu sudah hangus hitam tanpa dikenali. yang menjadi patokan mereka menyebut bahwa itu adalah saudara pak Burhan karena kedua jarinya tidak ada, jari manis dan kelingking di tangan kanannya. sedangkan memang benar kedua jari itu tidak dipunyai oleh saudara pak Burhan di tangan kanannya"


"lalu, apa hubungannya dengan peristiwa selama ini...?" Pram masih kebingungan


"informasi yang aku dapat. dulu ayah pak Burhan dan saudaranya itu menyerahkan perusahaannya kepada saudara pak Burhan namun karena saudaranya itu tidak becus mengurus perusahaan bahkan hampir saja gulung tikar, ayah pak Burhan menarik kembali dan memberikan kepada pak Burhan sebagai penerusnya"


"aaah aku tau aku tau. setelah ayah pak Burhan menarik kembali perusahaan itu dan menyerahkan kepada pak Burhan, maka di situlah saudara pak Burhan itu tidak terima dan marah besar. begitu maksudmu...?" ucap Randi berargumen


"iya" jawab Helmi


"maksud kamu yang membunuh pak Burhan dan istrinya itu adalah saudaranya itu yang menurut versi cerita yang kamu dengar bahwa dia masih hidup...?" kini Pram mulai mengerti


"iya" jawab Helmi


"tapi kan mayat yang ditemukan itu sudah jelas mayat saudara pak Burhan, buktinya dia tidak mempunyai dua jari dan lagi saudara pak Burhan itu sudah mati 10 tahun lalu sedangkan pak Burhan meninggalnya 4 tahun lalu, bagaimana bisa saudara pak Burhan itu membunuh pak Burhan dan istrinya. masa iya dia bangkit lagi kubur" ucap Pram


"segala sesuatu bisa mungkin Pram kalau otak seseorang sudah dipenuhi dengan kelicikan. memalsukan kematian seseorang zaman sekarang ini adalah hal yang mudah asal kamu punya banyak uang" jawab Helmi


"maksud kamu, saudara pak Burhan itu sengaja memalsukan kematiannya agar keluarganya percaya bahwa dia telah mati dan saat dia melakukan pemberontakan terhadap keluarganya sendiri maka ia tidak akan dicurigai ataupun dicari karena anggapan masyarakat bahwa dia telah mati, begitu...?" ucap Pram lagi


"iya, kamu benar" jawab Helmi


"terus terus" Randi mendesak


"lagipula ada seseorang yang diam-diam melakukan tes DNA terhadap mayat itu untuk membuktikan apakah itu saudara pak Burhan atau bukan dan hasilnya 99% negatif dalam artian mayat itu bukan saudara pak Burhan" lanjut Helmi


"jangan bilang kalau yang kamu temui kemarin itu adalah orang yang melakukan tes DNA itu...?" ucap Pram menatap serius Helmi dan pria itu mengangguk


"jadi kesimpulan dari semua ini maksud kamu bahwa saudara pak Burhan itu masih hidup dan masih tetap mengincar harta almarhum ayahnya, bahkan sampai rela membunuh saudara sendiri. begitu...?" tanya Randi

__ADS_1


"jangankan saudaranya sendiri, orang tuanya saja bahkan ia bunuh"


"apa...?" Pram dan Randi terbelalak


"selama ini Zidan salah paham. bukan papa Vania yang membunuh orang tuanya melainkan pamannya sendiri. namun papa Vania dijadikan kambing hitam dari perlakuan biadabnya itu" ucap Helmi


"aku sebenarnya ingin memberitahu Zidan, namun aku belum punya cukup bukti. tapi sekarang dengan bukti yang aku dapatkan, aku akan memberitahunya nanti" lanjutnya


"gila gila...ini benar-benar gila. kenapa permasalahan keluarga Zidan serumit ini sih" Randi menggeleng-gelengkan kepalanya


"informasi yang kamu dapatkan ini nyata kan Hel. jangan sampai hanya informasi basi karena orang yang membutuhkan uang makanya dia memberikan informasi yang tidak akurat" ucap Pram


"100% akurat. orang yang memberikan informasi ini adalah dia yang pernah bekerja untuk saudara Burhan itu namun pada akhirnya ia dikhianati dan semua keluarganya dibunuh, tinggal dia yang selamat" jawab Helmi mantap


"kita harus mempertemukan orang itu dengan Zidan. Zidan harus tau semua ini" ucap Randi


"tapi kenapa selama ini kamu nggak bilang kalau sedang mencari tahu masalah ini. jadi selama ini kamu pergi bilangnya bertemu seseorang itu bukannya kencan...?" tanya Pram


"kan aku sudah bilang jangan suudzon terus. lagian kalau aku kencan apa masalahnya sih, harusnya kalian senang karena teman kalian ini sudah laku" jawab Helmi


"ck, elu yang laku kita yang nggak laku" cibir Randi


"sabar. atau mau aku lelang kalian berdua, siapa tau ada yang minat...?" Helmi menaik turunkan alisnya


"kampret kau" Pram memukulkan berkas yang ada di tangannya ke arah Helmi


"bukannya aku tidak ingin memberitahu tapi kemarin-kemarin itu kan kita di sibukkan dengan pengejaran terhadap Rudi jadi aku juga tidak terlalu fokus untuk menyusut masalah ini" ucap Helmi


"jadi ikan paus besar yang dimaksud Rudi itu adalah....." Randi menatap kedua temannya


"saudara pak Burhan" ucap Helmi dan Pram


"siapa namanya...?" tanya Randi


"Baharuddin Sanjaya"


**********************************************


"kita mau kemana....?" tanya Adam yang duduk anteng di jok belakang


"naik-naik ke puncak gunung" jawab asal El


"mana gunungnya....?" Adam melihat kanan dan kirinya


"ck. kita mau ke toko ayah, gue mau belanja di situ"


"emang jual apa saja di toko ayah...?"


"ayah....?" El melirik Adam di kaca spion motornya


"iya. pan kita saudara, berarti ayah kamu ayah aku juga"


"melati ada...?"


"itu adanya di toko bunga kali dam"


"tadi katanya apa saja yang dijual, gimana sih" Adam mulai cemberut


"iya tapi nggak jual bunga. nanti pulang gue belikan melati yang....."


"banyak-banyak tumpah-tumpah lumer-lumer" Adam tersenyum manis dan mengedip-ngedipkan matanya


"idih, genit"


"kamu pikir aku lekong" kini hantu itu kembali cemberut dan El hanya terkekeh pelan


setelah sampai El langsung masuk ke dalam. pegawai kasir yang melihat El langsung menyapa ramah.


"tumben main ke sini dek...?" tanyanya sambil menghitung uang pendapatan mereka


"lagi pengen main aja kak" jawab El sopan


"Alana kabarnya gimana. dia udah jarang datang ke sini. biasanya pulang sekolah langsung ke sini"


"adek baik, Alhamdulillah. lagi sibuk dia kak, mau pelulusan bentar lagi"


"oooh, mau masuk SMA dia ya"


"iya. eh kak, kalau ayah keluar kota, siapa yang urus toko ini...?"


"ada bang Radin yang dipercayakan oleh ayahmu" jawabnya


"ooh. emm aku ke sana dulu ya kak"


"okeh"


El melangkah meninggalkan kasir dan mengambil keranjang belanja untuk penyimpanan belanjaannya. saat sedang memilah milih, Radin yang dimaksud pegawai kasir tadi menghampirinya.


"loh El, baru kelihatan lu kesini" ucapnya mendekat


"kebetulan lewat jalan sini bang, jadi sekalian mampir" jawab El


"hummm. ya sudah, silahkan lanjut, Abang mau keluar dulu" menepuk pundak El pelan


"iya bang"


Adam hanya memperhatikan namun kemudian memiringkan kepalanya menatap remaja itu.

__ADS_1


"kenapa lu...?"


"nggak kenapa-kenapa bang" jawabnya lalu melayang mendekati rak segala macam yang di jual


"lu pikir gue abang-abang" cebik El


El mengambil beberapa mie instan kemudian beralih ke minuman kaleng, snack, kue-kue dan kacang garuda empat bungkus yang besar.


"kamu kan alergi kacang" hantu itu mengernyitkan dahinya saat melihat El mengambil kacang garuda


"untuk Leo dan Vino nanti kalau mereka main ke rumah" jawabnya


El beralih ke rak peralatan kecantikan. ia mengambil sabun wajah yang sering dipakainya.


"masker yang dipakai Alana waktu itu nggak ada ya...?" Adam menelisik setiap produk masker yang ada di depannya


"masker yang mana...?"


"itu yang bisa membuat 15 tahun lebih muda. aku mau pakai yang itu, supaya aku terlihat muda dan tampan sepanjang hari"


"emang bisa hantu makai begituan...?"


"kalau nggak bisa ya di bisa bisakan lah, emang hanya manusia saja yang bisa perawatan, hantu juga bisa kelles"


"ck, udah ah. kita pulang. sudah jam setengah 5 nih, bentar lagi malam"


El berjalan menuju kasir. pegawai wanita tadi langsung membungkus belanjaan anak dari bosnya itu.


"berapa kak...?"


"nggak usah. bisa kena mental aku sama pak Adnan memungut biaya dari anaknya sendiri" jawabnya sambil memberikan kantung plastik itu kepada El


"ya udah, makasih ya kak. aku pamit dulu"


"okeh. ati-ati di jalan"


El keluar dari minimarket. mendekati motornya dan memakai helmnya bersiap untuk pulang.


"Ayuk" ajaknya kepada Adam yang juga belum naik


"melatiku gimana...?"


"kan bisa sambil jalan sambil cari toko bunga. Ayuk buruan"


"jangan pulang dulu, jalan-jalan dulu Napa. selama aku sama kamu, kamu nggak pernah ngajak aku jalan-jalan. rutenya tiap hari, sekolah rumah, sekolah rumah. aku bosan" celetuknya


"elu kayak cewek aja yang ngambek nggak diajak jalan" jawab El


"pokoknya aku mau jalan-jalan dulu"


"iya iya, tapi cari melati dulu"


"hehehehe....sayang kamu banyak-banyak daaaah" hantu itu langsung memeluk erat El


"jangan terlalu erat juga kali dam, gue nggak bisa nafas"


"hehehehe, maaf maaf. habis aku terlalu menghayati" ucapnya melepas pelukannya


setelah membeli melati, maka di sini lah mereka berdua berada sekarang. di taman kota yang sudah ramai pengunjung. anak-anak berlarian dengan mainannya, para pedagang menjajakan dagangannya dan ada yang bersenda gurau dengan keluarganya.


Adam menatap ke arah dua anak kecil yang sedang bermain dengan ayah dan ibunya.


"terbang yang tinggi kak, terbang tinggi" teriaknya memainkan pesawat mainannya


"yeeeeiii.....adek terbang... hahahaha" anak kecil yang terlihat muda berlarian sambil merentangkan kedua tangannya


Adam tersenyum melihat kedua anak kecil itu. hatinya menghangat melihat kebahagiaan yang terpancar di mata indah mereka.


"pasti akan sangat menyenangkan ya punya keluarga dan bisa bersama terus seperti mereka" ucap Adam masih memperhatikan kedua anak kecil itu


"elu rindu keluargamu...?" El menatap Adam kemudian kembali menatap anak-anak itu


"tentu saja, siapapun pasti akan rindu dengan keluarga mereka. tapi.....entah mereka merindukanku atau nggak" mata hantu itu menatap dalam mata El yang juga sedang menatapnya


"aku sangat rindu" ucapnya yang berubah parau masih menatap dalam mata El


ada rasa yang tidak bisa diungkapkan oleh El saat hantu itu menatap lembut kepadanya. rasa yang seakan pernah lama hilang namun kembali, dan itu ia rasakan saat sekarang ini.


"mereka juga pasti merindukanmu" jawab El


"sungguh, apa mereka benar-benar merindukanku. apakah mereka benar-benar masih merindukanku....?" tatapan itu tidak lepas dari El, bahkan mata Adam sudah nampak berkaca-kaca


"tentu saja. seperti yang elu katakan, siapapun pasti akan merindukan keluarganya" jawab El mengangguk


Adam mengalihkan pandangannya ke arah lain. ia menghela nafas dan tersenyum kembali saat melihat kedua anak kecil tadi.


"aku juga pernah seperti mereka. bermain dan tertawa seperti itu"


El kembali menatap Adam yang masih memfokuskan pandangannya ke arah dua anak kecil yang berlarian itu.


"dam"


"hummm"


"apakah ingatanmu sudah kembali. elu sudah mengingat siapa keluaragmu...?"


Adam hanya melihat sekilas ke arah El dan tersenyum kemudian kembali mengarahkan pandangannya ke depan.

__ADS_1


"dari senyuman mu gue simpulkan iya. dan apakah elu juga tau siapa nama elu sebenarnya...?" El sangat dibuat penasaran. dari dulu dirinya sangat penasaran siapa sebenarnya hantu yang selalu bersamanya itu


"apakah kamu tidak mengenaliku...?" kini Adam beralih kembali menatap sayu mata El


__ADS_2