Petualangan Mistis

Petualangan Mistis
Episode 106


__ADS_3

"melati aku mana...?" Adam mulai menagih janji Bara


"noh" Bara menunjuk kantung kresek di sebelahnya


Adam yang duduk di samping El langsung mengambil kantung itu. namun saat Adam akan kembali ke tempat duduknya, El melarang dirinya untuk datang karena ada Alana di sampingnya. ia takut Alana melihat yang seharusnya tidak ia lihat. kalau seandainya gadis itu melihat bunga melati yang melayang, bisa-bisa dia shock dan pingsan.


"sini aja" Starla menepuk lantai di belakangnya. maksudnya adalah agar Adam duduk di dekatnya


"di sini aja" Adam menggeleng dan lebih memilih bersembunyi di belakang Bara yang memiliki punggung yang lebar


Adam yang bersembunyi agar tidak terlihat oleh Alana, sedang memakan melatinya. dirinya seperti seseorang yang sangat takut ketahuan sedang mencuri makanan dan memakannya secara diam-diam.


"nyokap lu mana Vin...?" tanya Leo


"lagi pergi sama bokap gue" jawab Vino


"terus kak Rain...?" lanjut Leo


"jam segini mah kakak gue masih di kantor" jawab Vino


tersedia minuman dan cemilan di depan mereka. ada beberapa jenis kue yang dibuat oleh mama Nifa. karena wanita itu memang pandai membuat kue.


"rumah kak Vino besar ya" ucap Alana. ini kali pertama buatnya datang di rumah Vino


" kalah besar juga sama rumah kalian dek" timpal Vino


"gimana tadi di kelasnya, udah punya teman baru...?" lanjut Vino


"udah kak. Seil sekarang teman aku saat Meri nggak ada" jawab Alana


"emang Meri kemana...?" tanya El


"dia di kirim sekolah ke luar kota sama ayahnya, di kota neneknya" jawab Alana


"ngomongin tentang nenek, gue jadi kangen sama nenek gue di kampung" ucap Bara


"Lana juga. kapan ya kak El kita ke rumah nenek lagi. udah lama banget kita nggak ke sana" ucap Alana


"nanti kalau libur kita ke sana. kakak udah dapat nomornya Mira. kalau mau bicara sama kakek nenek, kita bisa telepon Mira" jawab Alana


"Mira yang pernah datang di rumah elu itu ya...?" tanya Vino


"iya, udah cantik sekarang dia mah" jawab El


"oh ya. jadi penasaran gue, kira-kira gimana dia sekarang" Leo menyahut sambil tersenyum


"kak Leo suka sama kak Mira...?" Alana langsung menodongkan pertanyaan


"dulu nggak, tapi nggak tau sekarang kalau ketemu lagi" jawab Leo santai tanpa tau kalau yang bertanya tidak suka dengan jawabannya


"kalau suka pepet aja Le, mumpung elu jomblo" kini Nisda yang bersuara


"kak Leo mau LDR...?" Alana bertanya lagi


"biar LDR yang penting dekat di hati" jawab Leo


"tapi kayaknya kalian cocok deh Le, siapa tau memang dia mau sama elu" El menambahkan


"kak El kok dukung kak Leo sih" sungut Alana


"loh emang kenapa. kakak kan cuman berpendapat" El merasa heran kenapa adiknya itu seakan tidak suka


"cemburu tanda cinta, marah tandanya sayang" Adam bernyanyi sambil memakan melatinya


"kenapa melihat ku seperti itu. tersepona ya...?" Adam bertanya saat mereka melihat ke arahnya kecuali Alana yang tidak dapat melihatnya


"emang Alana lagi cemburu ya...?" bisik Bara di telinga Adam


"mana aku tempe" jawab Adam mengangkat bahunya


"ck, dasar" Bara mencebik


mereka kembali melanjutkan memakan cemilan. Leo yang melihat raut wajah Alana tidak seperti tadi langsung tersenyum tipis.


"jangan cemberut gitu dong. nih makan" Leo menyuapi Alana dengan kripik yang ada di tangannya


meski hatinya tidak baik-baik saja saat membahas Leo dan Mira, sepupunya sendiri, namun Alana tetap menerima suapan dari Leo.


"gadis kecilnya kakak udah besar sekarang ya" Leo mengacak rambut Alana


"iyalah besar, masa mau kecil terus" Starla bersuara


"Leo sama Alana kayaknya cocok juga deh" ucap Bara


"apanya yang cocok...?" El bertanya


"yaaa elu tau lah. masa nggak tau" jawab Bara


Alana yang disandingkan dengan Leo langsung tersipu malu dan tersenyum-senyum.


"nggak usah ngawur deh lu" ucap El


"emang kenapa El. elu nggak restuin gue sama adek lu...?" kali ini Leo berbicara


"dia masih kecil Le, nggak usah ngada-ngada deh" timpal El


"aku udah besar ya kak, bukan anak kecil lagi" Alana angkat suara


"tuh, kayaknya ada signal lampu hijau buat lu Le" Vino menaik turunkan alisnya


Leo hanya tersenyum menanggapi ucapan Vino. Vino jelas tau bagaimana perasaan Leo terhadap Alana. saat dirinya memergoki mereka yang pernah berpelukan dan saat Vino juga pernah melihat Leo yang sedang menatap foto Alana di handphone miliknya. hanya saja Vino tutup mulut dan tidak ingin mencampuri urusan hati sahabatnya itu.


hari sudah semakin sore, Vino mengusulkan kepada teman-temannya untuk menginap saja di rumahnya dan berangkat ke sekolah bersama esok hari.


"tapi kita nggak bawa baju sekolah yank" ucap Starla

__ADS_1


"iya, masa iya kita mau pulang terus balik lagi. jauh itu mah rumah gue" Nisda menimpali


"iya juga sih. tapi kan kalian belum pernah nginap di rumah gue. hanya El dan Leo aja yang pernah" ucap Vino


"gini aja deh, besok aja nginapnya gimana. sekalian kita bawa baju ganti" El memberi usul


"Lana ikut nginap boleh...?" Alana bertanya ragu


"boleh dong dek. besok ikut kakakmu aja" jawab Vino tersenyum


karena waktu sudah semakin sore, mereka semua berpamitan. saat di depan, mereka berpapasan dengan kedua orang tua Vino.


"udah mau pulang ya...?" mama Nifa bertanya dengan ramah


"iya tante. kapan-kapan kami datang lagi" jawab Starla sopan


"kok kapan-kapan, besok kan kalian mau nginap, gimana sih" Vino menimpali


"bagus dong kalau mau nginap. besok tante tunggu ya, tante masak yang spesial buat kalian semua" ucap mama Nifa tersenyum hangat


"bikin kue seperti tadi ya tante, enak soalnya" ucap Leo


yang lain melihat Leo yang dan remaja itu hanya cengengesan saat mengusulkan agar mama Nifa membuat kue seperti yang mereka makan tadi.


"kamu suka Leo kue buatan tante...?" tanya mama Nifa


"suka tante, kue buatan tante sangat enak" puji Leo


"kalau gitu nanti tante buatkan lagi" ucap mama Nifa


"sekalian buatkan dengan kue kesukaan papa ya mah. udah lama papa tidak makan kue itu" pak Wira ikut menimpali


"gampang pah. nanti mama bikin, di bantu sama Vino. iya kan sayang" mama Nifa memeluk putranya itu dari samping


"siap mah" Vino memberi hormat


tim samudera berpamitan untuk pulang. Adam bonceng di motor Leo, karena mereka satu jalur dengan rumah paman Zidan, rumah tempat tinggal El dan Alana sekarang. Vino pun ikut mereka, karena dirinya harus mengantar Starla pulang ke rumahnya. sedang Bara dan Nisda, mereka berdua bela jalur dengan yang lainnya.


mereka berhenti di penjual martabak untuk membelikan pesanan Azam dan juga pengawal tadi sore sebelum mereka berangkat ke rumah Vino.


"Seil" Alana berteriak memanggil teman barunya itu saat turun dari motor


"Lana" Seil menghampiri mereka. ia senang temannya datang terlebih lagi saat ada El juga di tempat itu


"elu masih jualan...?" El bertanya saat dekat dengan mereka


"iya, ayah sampai sekarang masih jualan. alhamdulillah dagangan ayah laris manis" jawab Seil tersenyum


"pernah beli di sini El...?" tanya Vino


"pernah satu kali. kalau gitu gue pesan martabak coklat keju 6 porsi ya" ucap El


"banyak banget El, untuk siapa...?" tanya Leo


"untuk orang rumah lah" El menjawab


"gue juga satu porsi. martabak coklat kacang juga ya" Leo pun ikut memesan


sambil menunggu pesanan mereka siap, mereka duduk di bangku yang di sediakan oleh ayahnya Seil. gadis itu membantu membungkus martabak yang telah jadi. benar kata Seil, dagangan ayahnya laris manis. banyak pembeli yang mengantri untuk merasakan enaknya martabak itu.


"ini pesanan kalian" Seil memberikan masing-masing martabak yang sudah mereka pesan


"berapa...?" tanya El


Seil menyebutkan harga martabak pesanan El, namun El ternyata membayar satu kali dengan pesanan kedua sahabatnya.


"thanks El" ucap Vino dan Leo bersamaan


"aku kok nggak dibelikan" Adam memasang wajah cemberut


"mau martabak juga...?" tanya El dengan pelan


"bukan, mau melati" jawabnya


"ya udah, nanti ketemu toko bunga baru kita beli. sekarang kita pulang"


mereka berpamitan kepada Seil. gadis itu tersenyum manis dan menganggukan kepalanya. matanya hanya tertuju kepada El-Syakir, tapi sayangnya El tidak begitu peduli terhadap gadis itu.


El-Syakir berhenti di toko bunga untuk membeli melati. Alana sempat bertanya-tanya kenapa kakaknya membeli bunga melati, dan El memberikan alasan kalau dirinya akan merawat bunga melati itu.


"sejak kapan kakak suka sama bunga...?" Alana mengernyitkan dahinya


"kamu kebanyakan nanya deh dari tadi. nih pegang bunganya" El memberikan bunga melati itu kepada Alana


di persimpangan, mereka berpisah dengan Vino, karena arah menuju rumah Starla tidak sejalur lagi dengan mereka. sementara El dan Leo terus menyusuri jalan sampai mereka tiba di rumah yang berdiri kokoh dan besar.


"kak Leo kok sampai di sini sih, bukannya rumah kakak udah lewat ya" Alana bingung saat Leo mengikuti mereka sampai di rumah


"emmm... itu... kakak mau pinjam buku, iya kakak mau pinjam buku" Leo memberikan alasan. padahal sebenarnya ia sedang mengantar Adam


"oooh" Alana manggut-manggut


gadis itu lebih dulu memasuki rumah, setelah Alana masuk Leo segera pamit pulang ke rumahnya.


"hati-hati ya Le" ucap El


"yoi" Leo mengangkat jempolnya


setelah Leo pergi, El berjalan ke arah pengawal dan memberikan mereka dua porsi martabak. sementara Adam, ia langsung masuk ke dalam rumah dan menuju ke kamar El-Syakir


"wah.. makasih tuan muda" ucap mereka


"sama-sama paman"


El juga menghampiri Furqon dan Ardi yang sejak tadi mengikuti mereka. dia memberikan satu porsi martabak kepada dua pria itu.

__ADS_1


"terimakasih tuan muda" ucap Ardi


"sama-sama Kak" jawab El


"boleh minta sesuatu kak...?"


"apa itu...?" tanya Furqon


"jangan panggil aku tuan muda, panggil saja nama seperti biasa. aku nggak terbiasa" ucap El


"maaf tuan muda tapi kami tidak bisa. tuan muda adalah anak dari bos kami dan kami berdua hanya bawahan saja" Furqon menolak


"nggak ada istilah seperti itu dalam hidup aku kak"


"tapi kami tetap tidak bisa. maaf tuan muda" kali ini Ardi yang bicara


"ya sudah. aku masuk dulu ya"


"iya tuan muda, silahkan"


El-Syakir meninggalkan kedua pengawalnya itu dan masuk ke dalam rumah. dia menuju dapur dan di sana dirinya bertemu dengan Thalita.


El memberikan satu porsi martabak kepada Thalita. wanita itu berterimakasih dan akan makan bersama Vania di dalam kamar. El juga menghampiri kamar Azam, untuk memberikan martabak pesanan bocah itu. setelah itu El menuju ke arah kamar ibunya untuk memberikan satu porsinya martabak yang ada di tangannya.


tok... tok... tok


"bu, El masuk ya"


"masuk aja nak"


cek lek


pintu terbuka, ibu Arini sedang menjahit di dalam kamarnya.


"baru pulang nak...?"


"iya bu. El bawakan ibu martabak" El menyimpan kresek itu di meja samping ranjang


"coklat keju...?"


"iya, sesuai kesukaan ibu" El duduk di samping ibunya


"makasih ya sayang. sekarang kamu mandi gih, sebentar lagi magrib"


"iya bu. kalau gitu El ke kamar dulu ya"


"iya sayang"


El-Syakir keluar dari kamar ibu Arini dan menaiki anak tangga menuju kamarnya. saat masuk ia melihat Adam sedang cekikikan menonton sesuatu di laptop El.


"nonton apa sih kak...?" El mengambil handuk yang tergantung


"nonton kartun. El handphone kamu mana...?" Adam mengangkat kepalanya


"nih" El memberikan handphone miliknya kepada Adam


El-Syakir masuk ke dalam kamar mandi sementara Adam memainkan jari-jarinya di benda pipih warna hitam itu. sekitar setengah jam berada di kamar mandi, El keluar dan mendapatkan Adam sedang cekikikan melihat layar handphone miliknya.


"dari tadi tertawa mulu. liat apa sih...?" El berjalan ke arah lemari untuk mengambil baju dan celana


"nggak liat apa-apa" jawab Adam tanpa melihat ke arah El


"El, ada pesan di Facebook mu dari Seil Indriani"


"siapa tuh...?" kening El mengkerut


"mana ku tempe. aku bacakan ya pesannya. Hai kak, udah sampai belum di rumah...?"


"coba gue liat"


El mendekati Adam dan mengambil handphone untuk melihat siapa yang mengirim pesan padanya. El melihat profil gadis itu, seorang gadis yang baru saja mereka temui tadi.


"kok dia dapat ya Facebook gue, perasaan profil gue nggak pakai foto gue" ucap El


"dari siapa sih...?" Adam mulai kepo


"nggak penting"


El mengembalikan handphone itu kepada Adam. karena penasaran, Adam melihat profil yang mengirim pesan kepada El.


"jadi dia. aku merasa dia ada hati deh sama kamu" Adam melihat-lihat beberapa foto yang ada di akun gadis itu


"perasaan kakak aja kali" jawab El


"tapi dia cantik loh. coba deh lihat"


Adam memperlihatkan foto gadis itu yang berada di pantai dan sedang tersenyum manis ke arah kamera. suasananya sepertinya, saat itu sedang menjelang malam karena terlihat matahari yang mulai akan terbenam di belakangnya.


"cantik kan...?" tanya Adam


"kak"


"hummm" Adam sibuk melihat foto-foto gadis yang bernama Seil Indriani


"coba lihat foto yang tadi"


"yang mana, yang ini...?" Adam kembali menunjukkan foto itu


"lihat kak, di belakangnya... itu bukankah.... "


Adam melihat kembali foto itu dan memperhatikan dengan jelas. seketika mereka berdua saling pandang. di belakang gadis itu ada seorang wanita yang mereka berdua kenal.


______________________________________________


Hai kakak semua, terimakasih sudah membaca novel petualangan mistis sampai sejauh ini. mampir juga yuk ke novel ku yang lain, pembunuhan berantai. tinggal klik profil aku aja.

__ADS_1


terimakasih 🙏🙏🙏


__ADS_2