
setelah sholat magrib, El dan Alana bersiap termasuk juga Adam. hantu itu bahkan membongkar semua pakaian yang telah dibelinya untuk mencobanya satu persatu sampai El pusing dibuatnya.
"ah nggak cocok" Adam mengganti lagi bajunya dan memilih yang lain
El duduk di kursi belajarnya dan terus memperhatikan Adam yang sibuk memilih style apa yang akan ia pakai padahal tidak ada seorangpun yang akan melihatnya.
"udah belum sih. gue nunggu elu sudah 30 menit tau" El mulai kesal
"menurut kamu aku cocok yang mana, yang ini apa yang ini...?" Adam memperlihatkan baju dikanan kirinya
"mana saja cocok. udah buruan Napa dam"
"ish, jawabnya suka gitu" Adam menggerutu
"yang kanan" ucap El
"kenapa nggak yang kiri...?"
"ya udah iya yang kiri".
"tadi bilangnya yang kanan"
"ya Allah daaaaam....elu kayak cewek aja tau nggak. pake aja Napa sih. lagian juga di sana nggak akan ada yang liat elu juga" El benar-benar dibuat pusing
"iya....iya" Adam melempar baju yang ia pegang di tangan kirinya dan memakai baju yang ada di tangan kanannya
(sabar El sabar....orang sabar disayang istri. eh kok istri, pacar aja nggak punya) batin El
"udah siap...?" tanya El mendekati Alana di sofa ruang tengah dan Adam melayang di sampingnya
"udah kak. ayo jalan" ajak Alana
"tunggu yang lain, kita berangkat bareng" jawab El
jelang beberapa menit, Leo, starla dan Vino pun datang. namun kali ini Vino tidak sendirian, ia membonceng seseorang sedangkan starla, gadis itu diantar oleh sopir.
"elu ikut juga Nis...?" tanya Leo melihat adik sepupunya itu datang bersama Vino
"iya, Vino yang ngajak" jawab Nisda
"lebih tepatnya elu yang maksa" timpal Vino sementara Nisda hanya tersenyum menanggapi
"ya udah, berangkat sekarang yuk" ajak El
"Lana sama kak Leo ya kak" ucap Alana
"kakak sama starla Lana" ucap Leo
Alana mengerucutkan bibirnya, dan akhirnya ia naik di motor kakaknya.
sementara starla, gadis itu hanya melihat Vino yang sudah membonceng Nisda. Nisda nampak menyimpan tangannya di atas paha Vino. bahkan saat Alana menawarkan diri untuk dibonceng Leo, gadis itu tidak menggubris biasanya dirinya akan sangat senang.
"La, ayo" ajak Leo
"ah...iya" dengan cepat starla menghampiri Leo naik di atas motornya.
"terus aku gimana...? ucap Adam yang melihat semuanya sudah punya boncengan
"nih masuk ke kantung gue" ucap Leo
Adam menggerutu, dia tidak akan ikut kalau tidak di bonceng juga padahal tinggal melayang saja. dengan terpaksa akhirnya starla membonceng Alana sedangkan El bersama Leo dan Adam. meskipun Alana sedikit bingung kenapa mereka berganti lagi, namun gadis itu tidak bertanya.
sepanjang jalan, Nisda terus memeluk Vino dan itu sungguh membuat starla sangat tidak nyaman. entahlah, perasaannya sekarang merasa tidak suka Nisda bersama Vino.
beberapa menit perjalanan, mereka sampai juga di pasar malam. begitu banyak orang membuat pasar itu sangatlah ramai. aneka jajanan berjejer rapi. pakaian dan segala macam pernak-pernik ada di tempat itu.
"waaaah ramai sekali, tau gitu aku ajak mba Kun dan mas poci tadi" Adam begitu antusias
"El, ayo ke sana" ajak Adam
"ke sana yuk" ajak El kepada yang lain untuk ke tempat yang di tunjukan Adam
"Vin, elu bawa Nisda emang nggak takut sama Bara...?" tanya El
kini para perempuan berada di depan sedikit beberapa jarak dari mereka.
"gue sebenernya tadi datang sendiri" jawab Vino
"terus...?" tanya Leo
"gue nggak sengaja ketemu dia jalan tadi pas mau isi bensin. dia tanya mau kemana yah gue jawab mau ke pasar malam bareng kalian. lah dianya langsung naik ke motor gue tanpa mau turun dan memaksa untuk ikut" jawab Vino
"ati-ati, ada hati yang tersakiti" timpal Adam. hantu itu asik mengunyah melati. ternyata di tempat itu ada penjual bunga dan Adam merengek ingin membeli melati, tentu saja El langsung membelikannya
"siapa juga yang tersakiti, kayak gue punya pacar saja" ucap Vino
"emang selama ini, kamu tidak merasa ada yang berbeda dengan hatimu...?" ucap Adam lagi
"berbeda gimana sih maksud lu. nggak ngerti gue" timpal Vino
"nggak usah dimengerti, cukup kamu rasakan saja" ucap Adam
"kalau ketahuan Bara, bisa mampus lu Vin dihajar lagi sama dia" kini Leo yang berbicara
"yah terus gimana dong, dianya maksa mulu. dia pernah bilang kalau hubungannya sama Bara itu sudah kandas. yah benar atau nggaknya gue nggak tau sih" timpal Vino
"percintaan rumit ya, untung aku tidak jatuh cinta" ucap Adam
"mau jatuh cinta sama siapa, sama mba Kun di pohon mangga...? timpal El
"jangan salah ya. mba Kun itu aslinya cantik. nanti deh aku perlihatkan wajah asli mba Kun yang sebenarnya" jawab Adam yang terus mengunyah melatinya
"Vin" panggil El
__ADS_1
"hummm" jawab Vino
"elu masih suka sama Nisda...?' tanya El
"entahlah" Vino mengangkat bahu " gue nggak tau" lanjutnya
mereka berhenti di tempat penjualan pernak pernik. kalung yang indah, anting dan berbagai macam aksesori lainnya.
"ini cantik nggak kak...? tanya Alana kepada starla memperhatikan anting yang dipegangnya
"cantik, apalagi kalau kamu yang pakai malah cantiknya double" bukan starla yang menjawab melainkan Leo membuat Alana tersipu malu
"nggak usah ngegombalin adek gue, dia masih kecil" ucap El
"bukan ngegombal, itu memang kenyataan, fakta dan realita" jawab Leo
"modus" Adam bersuara yang berdiri di samping El
El melihat satu kalung yang membuatnya tertarik. tangannya tergerak mengambil kalung itu. sesaat ia melihat ke arah starla yang sedang melihat-lihat aksesoris di depannya.
"Vin, kita beli gelang cuople yuk. kamu inisial nama aku, aku pakai inisial nama kamu" ucap Nisda. gadis itu saat berbicara dengan Vino, ia menggunakan panggilan aku dan kamu
"gelang persahabatan, boleh juga tuh. yuk kita beli gelang yang sama dengan inisial nama masing-masing" ucap Vino
Nisda yang tidak mendapatkan respon dari Vino hanya menghela nafas dan menyimpan kembali gelang yang dipegangnya.
"aku juga mau ya" Adam antusias
semuanya setuju. mereka mulai mencari gelang yang bagus untuk dijadikan gelang persahabatan.
Leo menyarankan untuk mengukir nama tim persahabatan mereka di gelang itu, bukan dengan nama mereka sendiri.
SAMUDERA, nama yang diberikan untuk persahabatan mereka. berharap kasih sayang, ketulusan, dan cinta untuk sesama mereka seluas samudera yang membentang.
semuanya setuju, dan hanya beberapa menit saja gelang itu akhirnya selesai juga. semuanya dapat, termasuk Alana dan Nisda. sepertinya tim samudera bertambah dua orang personil.
"cari makan yuk, laper nih" ucap Vino
"tuh, kesana saja...ada penjual mie ayam" tunjuk Leo di salah satu pedagang mie ayam
mereka segera ke tempat penjual jajanan itu. banyak juga yang makan di tempat itu, sepertinya orang-orang yang merasa kelaparan karena lelah berkeliling akhirnya menyempatkan diri untuk menikmati semangkuk mie ayam.
"bang, mie ayam enam ya" ucap El
"siap den" jawab penjual
mereka duduk di bangku yang kosong. Nisda tidak pernah jauh-jauh dari Vino. gadis itu selalu ingin berdekatan dengan Vino.
"El, aku mau keliling boleh nggak" izin Adam
"jangan jauh-jauh" balas El pelan dan Adam mengangguk
hantu itu melayang keluar dari tempat makan, entah kemana dia pergi. sementara El dan kawanannya menikmati mie ayam yang telah mereka pesan.
"aw...panas... panas" Nisda merintih karena seseorang tidak sengaja menumpahkan semangkuk mie ayam ke tubuhnya
"maaf mba maaf. saya benar-benar tidak sengaja" ucap seorang gadis panik
karena baju Nisda yang transparan, dengan cepat Vino membalik tubuh gadis itu untuk menghadap ke arahnya kemudian membuka jaketnya memakaikan ke tubuh Nisda.
"hati-hati dong mba, gimana sih. teman saya bajunya jadi kotor nih" ucap Vino sedikit geram
"maafkan saya, saya sangat menyesal" gadis itu nampak menunduk takut
"ada apa ini...?" seorang ibu-ibu datang menghampiri mereka
"nggak apa-apa Bu, hanya ada masalah sedikit" jawab El yang tidak ingin memperpanjang masalah
"kamu buat ulah lagi Seil...?" ibu itu menatap tajam gadis yang menumpahkan mie ayam ke tubuh Nisda
"m-maafkan saya bi, Seil tidak sengaja" jawabnya dengan takut
"maafkan keponakan ibu ya, biar nanti dibersihkan tumpahannya" ucap ibu itu
"sini kamu" ibu itu menarik kasar gadis yang bernama Seil itu
El melihat kasian kepada gadis itu yang ditarik kasar oleh seorang ibu yang sepertinya pemilik warung mie ayam.
"kak Nisda nggak apa-apa...?" tanya Alana
"nggak, cuman panas aja tadi" jawab Nisda
"masih panas...?" Vino memegang lengan Nisda yang memerah
"udah nggak lagi" jawabnya yang kesakitan
"ikut gue, kita cari salep untuk mengobatinya" dengan cepat Vino menarik tangan Nisda dan keluar dari tempat itu
starla hanya melihat kepergian mereka, entah apa yang dirasakan gadis itu sekarang. sejak tadi dirinya tidak banyak bicara
"are you Ok La...?" Leo melihat starla yang tidak semangat
"ok kok" jawabnya
"elu lemas banget, sakit ya...?" El memegang kening starla
"nggak kok. oh ya, nanti kita jalan berdua ya, biar Alana sama Leo" usul starla menatap mata El
"ok" El langsung mengiyakan
"terus Alana sama kak Leo...?" tanya Alana memastikan
"kenapa, kamu nggak mau jalan sama kakak...?" Leo bertanya balik
__ADS_1
"mau kok mau" Alana mengangguk dengan cepat membuat Leo terkekeh karena gemas
ke empat remaja itu saling memisahkan diri dan akan bertemu lagi di parkiran motor mereka.
"naik itu yuk" tunjuk starla ke arah bianglala yang tinggi
"emang elu berani...?" tanya El
"kan ada elu yang jagain" starla memegang tangan El dan menuju ke tempat yang ia inginkan
setelah mengantri, akhirnya mereka dapat tempat juga dan perlahan bianglala itu bergerak untuk berputar.
"di lihat dari sini, di bawah sana pemandangannya indah juga ya" mata gadis itu tidak lepas dari bawah sana
"hummm" jawab El seadanya
"setelah sekian lama kita bersama, baru kali ini elu mau gue ajak jalan berdua. biasanya elu selalu nolak gue" starla melirik sekilas ke arah El
"emang iya....?"
"hummm, elu nggak pernah mau sama gue" ucap gadis itu lirih
El tidak menjawab, ia hanya diam dan menikmati pemandangan di ketinggian sana.
"El"
"ya"
"apa selama ini sedikitpun elu nggak ada perasaan suka sedikit saja ke gue...?" starla menatap mata bulat itu
El terdiam tanpa tau harus menjawab apa. lidahnya seakan kaku untuk berkata sepatah katapun..
"dari diamnya elu, gue udah tau jawabannya apa" gadis itu melihat ke arah lain.
"maaf ya"
"untuk...?"
"maaf kalau selama ini gue udah buat elu nggak nyaman dengan sikap gue yang terkesan selalu mencari perhatian elu"
"gue janji, mulai hari ini sikap gue akan berubah menjadi sikap sebagai seorang sahabat" starla tersenyum hangat
lagi-lagi entah apa yang dirasakannya, namun saat ia mengetahui kebenarannya bahwa El bukanlah teman masa kecil yang dicarinya, ia mulai berpikir seperti apa yang dikatakan Adam bahwa sepertinya ia mengejar El karena dirinya berpikir El adalah cinta masa kecilnya dulu.
El membalas senyuman starla, ia mengusap lembut kepala gadis itu. perlahan ia memakaikan sesuatu di leher starla membuat gadis itu terkesiap kaget.
"buat gue...?" tanya starla dan El mengangguk
"cantik banget....?" ia menatap kembali mata El
"thanks ya. ini adalah hadiah yang sangat cantik. oh ya, harusnya elu juga ngasih buat Alana"
"gue beli dua, satu buat elu dan satunya buat adek gue"
"untuk calon pacar nggak elu belikan...?" goda starla, entahlah...kini ia merasa tidak lagi begitu tersulut dengan perasaannya sekarang
"belum ada, nantilah kalau udah ada" jawab El tersenyum
sampai saat ini El-Syakir belum juga melabuhkan kepada siapa hatinya akan bersandar. untuk starla saja, ia hanya menganggap sebagai sahabat yang ia sayangi.
"El, gue mau cerita boleh...?"
"cerita apa...?"
"sebelumnya gue mau minta maaf. sebenarnya gue suka sama elu selama ini karena gue berpikir elu adalah cinta masa kecil gue"
"cinta masa kecil...?" El terlihat bingung
"hummm, dan ternyata bukan elu orangnya namun seseorang diantara kalian bertiga"
"siapa...?" El sangat penasaran
"Vino, Vino lah orangnya. sapu tangan yang ada sama elu kemarin adalah sapu tangan gue saat waktu kecil gue memberikannya kepadanya karena tangannya terluka"
"Vino...?" tanya El dan starla mengangguk
"jadi, gadis kecil yang dimaksud Vino itu adalah elu...?"
"gadis kecil...?"
"iya. dia pernah bercerita kalau ia mempunyai teman masa kecil seorang gadis yang cantik. sapu tangan itu ia dapat darinya dan ternyata gadis kecil itu adalah elu"
"terus, Vino udah tau kalau elu gadis yang ia maksud...?" lanjut El
"nggak. gue ingin memberitahu tapi...."
"tapi kenapa...?"
"dia sepertinya sudah bersama dengan Nisda" jawab starla lirih.
"berjuang dulu. setidaknya beritahu dia agar dia tau. elu masih punya waktu untuk itu"
"kalau seandainya gue udah kasi tau terus responnya biasa saja gimana....?" starla terlihat ragu
"itu urusan belakangan, yang terpenting sekarang elu harus memberitahu dia dulu. semangat dong, sama seperti saat elu mengejar gue namun ternyata elu salah orang. jangan patah semangat hanya karena seorang gadis yang belum tentu mereka jadian"
"tapi...."
"tapi apalagi sih La"
"sepertinya dia nggak punya perasaan apapun ke gue"
"ceritakan dulu siapa elu sebenarnya. udah sampai nih, ayo turun dan kemudian kita cari Vino. pokoknya malam ini elu harus bilang ke dia. penantian elu selama ini nggak boleh sia-sia"
__ADS_1
El menggandeng tangan starla dan bergegas untuk mencari Vino yang entah dimana dirinya sekarang.