Petualangan Mistis

Petualangan Mistis
Episode 182


__ADS_3

(alamak......gaswat ini) Adam menelan ludah


laki-laki itu hanya melihat tiga remaja yang ada di belakangnya. dengan emosi yang menggebu-gebu, ia menghampiri ketiga remaja itu dengan kedua antek-anteknya.


"berhenti" ia menghadang jalan El-Syakir, Adam dan Vino


"ada apa ya pak...?" El-Syakir bertanya kebingungan


"bapak-bapak.....emang saya bapak kau" laki-laki itu menggertak dengan suara keras


"lah terus harus dipanggil apa dong, mamake...? Adam melangkah maju ke depan


"siapa yang melempar kepala saya dengan kaleng minuman ini...?" ia memperlihatkan kaleng minuman yang tadi mengenai kepalanya


"ya mana kami tau, memangnya kami dukun" Vino menjawab santai


(bahaya ini....bahaya) Adam menggaruk-garuk kepalanya yang sebenarnya tidak gatal


"kenapa kamu, banyak kutu ya...?" salah satu anak buah laki-laki yang bertato itu dan memakai baju warna merah bertanya kepada Adam saat ia melihat Adam terus menggaruk kepala


"kamu nanya...?" Adam memasang wajah tengilnya


"kamu bertanya-tanya...?" anak buah satunya lagi yang memakai topi hitam dan baju hitam malah bertanya kepada temannya yang memakai baju warna merah itu


"edan lu, yang kita tanya dia bego bukan saya" laki-laki berbaju merah itu memukul topi temannya tersebut


"aku tanya sekali lagi siapa yang melempar kepalaku dengan kaleng minuman ini. pasti kalian bertiga kan, ayo ngaku" laki-laki bertato itu mulai mendesak dengan suara yang meninggi


"tanya aja sama kalengnya siapa yang melempar dia dan mengenai kepala kamu" ucap Adam yang tidak ingin mengaku kalau itu adalah perbuatannya


"tanya kalengnya bos" laki-laki berbaju hitam malah mendengarkan ucapan gila Adam


"bodoh, mana ada kaleng bisa ngomong" laki-laki bertato itu memarahi anak buahnya


"kalau abang tanya sama kami siapa pelakunya, kami nggak tau bang dan tolong jangan halangi jalan kami, kami mau lewat" El-Syakir angkat suara


"tidak bisa, kalian bertiga akan menjadi tawanan kami. pasti kalian pelakunya"


"loh bang kan kami sudah bilang kalau bukan kami pelakunya dan kami nggak tau, jangan asal nuduh tanpa bukti dong" Vino mulai geram


"ha benar itu, menuduh tanpa bukti itu Fatonah namanya" celetuk Adam bersidekap


"Fatonah siapa...?" laki-laki yang berbaju merah bertanya kepada temannya yang berbaju hitam


"mana aku tau, kalau nama Fatimah sih aku tau" jawab laki-laki berbaju hitam


"janda desa sebelah kan, dia cantik bener euy" timpal laki-laki berbaju merah


"hoooo ketahuan.....suka main sama janda. aku laporin sama istri-istri kalian ya" Adam memicingkan matanya dan menunjuk ke arah kedua orang itu


"kami belum menikah bocah" ucap laki-laki berbaju merah


"hhh....perjaka tua ternyata" Adam mencibir


"wah pedas juga tuh mulut, mau ku geprek kau"


"bodoh, kenapa malah berdebat... tangkap mereka bertiga" laki-laki bertato itu menyuruh kedua anak buahnya


"mbak Fatimah.....mau kemana mbak...?" Adam teriak seakan menyapa seseorang


refleks ketiga preman itu menoleh dan kesempatan itu di gunakan ketiga remaja itu untuk melarikan diri.


"mana Fatimah...?"


"kok nggak ada...?"


"kurang ajar, kita dikadalin. kejar mereka" laki-laki bertato menyuruh kedua anak buahnya untuk mengejar Adam, El-Syakir dan Vino


bukannya berlari ke arah mobil yang terparkir, mereka malah berlari semakin jauh dari parkiran. dengan tangan yang dipenuhi kantung belanjaan, mereka bertiga terus berlari untuk menyelamatkan diri.


"tungguin woi, berat nih" Vino teriak karena dirinya yang sudah kelelahan apalagi ia tertinggal di belakang sementara di belakang ketiga preman pasar itu mengejar


Adam yang berada di garda terdepan langsung berhenti dan berbalik kembali ke belakang untuk menolong Vino. ia membantu memegang kantung belanjaan kemudian menarik tangan Vino untuk kembali berlari.


"berhenti di situ" teriak preman-preman itu


"aku bilang berhenti" teriak laki-laki berbaju merah


"apakah kalau kalian jadi kami, kalian akan berhenti...?" Adam masih sempat-sempatnya mengajukan pertanyaan dalam keadaan panik seperti itu


"ya nggaklah, bodoh banget" laki-laki berbaju hitam menjawab


"kamu yang bodoh, ayo cepat kejar mereka" si bos memukul topi anak buahnya itu


sementara ketiga laki-laki tim samudera masih terus berlari tanpa melihat ke belakang. hingga akhirnya mereka berhenti karena Vino sudah tidak sanggup lagi untuk terus berlari.


"stop stop stop, haaah haaah haaah, capek gue" Vino ngos-ngosan begitu juga Adam dan El-Syakir


"kalau kita berhenti, kita bisa ditangkap sama mereka" ucap El-Syakir.


"terus kita kemana sekarang...?" tanya Vino


Adam melihat sekitar dan kemudian ia menemukan tempat persembunyian yang menurutnya aman. dengan cepat ia menarik tangan El-Syakir dan Vino untuk bersembunyi.


"haduuuuh benar-benar tuh para bocah, cepat banget larinya" preman-preman itu berhenti tepat di bawah pohon mangga yang ada di depan rumah salah satu warga

__ADS_1


di atas sana, ketiga remaja itu sedang memperhatikan para preman itu. rupanya Adam mengajak adik dan sahabatnya untuk naik di atas pohon karena hanya itu tempat persembunyian mereka. sementara kantung belanjaan mereka disembunyikan di tempat yang tidak dilihat orang.


"kemana perginya mereka bos...?" laki-laki berbaju hitam bertanya dengan nafas yang memburu


"mana aku tau bego. cari mereka sampai dapat, tanganku gatal sekali ingin mencincang mereka bertiga" laki-laki bertubuh kekar dan bertato menggeplak tangannya


"ada dua jalan nih, ke kanan apa ke kiri...?" tanya laki-laki berbaju merah


"kita ke kanan bos yang ke kiri" si baju hitam mengatur


"berani kalian menyuruhku...?" laki-laki bertato itu menatap tajam keduanya


"maap bos, kalau begitu bos di sini saja biar kami yang mencari mereka" si baju merah menyela


"kita berpencar saja, saya ke kiri kalian ke kanan" ucapnya mengatur anak buahnya


"lah....itu kan tadi yang aku maksud bos" ucap laki-laki berbaju hitam


"sudah cepat bergerak" perintahnya


ketika para preman itu meninggalkan pohon mangga tersebut, Adam, El-Syakir dan Vino mulai bernafas lega. namun setelahnya El-Syakir dan Vino menahan nafas kembali karena mencium bau busuk yang menyengat.


"bau apa nih, busuk banget hueeek" Vino hampir saja muntah


"kak, elu kentut ya...?" El-Syakir memicingkan matanya ke arah Adam


"hehehe maap, abis perut aku tiba-tiba kembung" Adam cengengesan


"adaaaaaam" Vino geram dan menarik rambut Adam


"sakit Vinokio, lepasin nggak" Adam membalas menarik rambut Vino


"hhh serah kalian lah, gue mau turun" El-Syakir melompat turun ke bawah


"woi, masih mau gelud di situ atau gue tinggal" El-Syakir meneriaki keduanya


"sabar sabar, lagi ngambil ancang-ancang nih" Vino menurunkan satu kakinya dan tangannya berpegangan di dahan yang lain hingga akhirnya ia sudah berada di bawah


"kak Dirga, ayo turun" ucap El-Syakir


"hehehe....aku kok nggak bisa turun ya" Adam cengengesan karena dirinya tidak tau bagaimana caranya agar ia bisa turun dari pohon itu


"ya salaaaaam....naik bisa turun nggak bisa, elu gimana sih Adam hawa" Vino menepuk jidat yang pusing melebihi tujuh keliling


"pelan-pelan aja kak turunnya. heran banget gue, perasaan kak Dirga suka nangkring di pohon deh dulu" ucap El-Syakir


"itu kan saat aku masih jadi hantu, sekarang kan aku udah jadi manusia" timpal Adam yang masih ada di atas pohon


"hhh...manusia jadi-jadian. gue kok heran ya, bisa-bisanya ratu Sundari suka sama cowok bengek kayak elu. lompat aja Napa dam, loading banget" Vino mencebik


saat itu hp El-Syakir bergetar, Leo menghubunginya dan menanyakan keberadaan mereka. El-Syakir memberitahukan dimana posisi mereka bertiga dan mengatakan kalau Adam terjebak' di atas pohon mangga.


Leo


ya sudah kalian tunggu kami di situ


El-Syakir


oke, jangan kelamaan


"mereka dimana Le...?" tanya Bara


"sebelah barat, di pertigaan jalan yang ada pohon mangganya. emang disini yang ada pohon mangga di depan rumah dimana kak Deva...?" ucap Leo


"banyak yang punya pohon mangga di depan rumah. kalau disebelah barat berarti kita harus jalan ke sana. kita susul mereka saja, ayo masuk ke dalam mobil" ucap Deva


mereka bertiga masuk ke dalam mobil dan meninggalkan parkiran. sementara itu di lain tempat, El-Syakir dan Vino pusing memikirkan cara agar Adam bisa turun tapi yang dipikirkan malah sibuk memetik buah mangga yang sudah banyak ia kantongi di bajunya.


"oi dam, elu niat turun nggak sih. malah sibuk metik mangga, entar orangnya datang dikira kita pencuri" Vino geleng kepala melihat kelakuan makhluk unik yang satu itu


"kak, ayo gue bantuin turun. nginjak di bahu gue aja" El-Syakir akhirnya menemukan cara setelah sekian menit berpikir


"tunggu sebentar, aku masih sibuk" bukannya ingin turun, Adam malah tidak menggubris keinginan El-Syakir


"astaga, El dapat dimana sih kakak bengek seperti dia. pengen banget gue timbang di barang bekas" ucap Vino


"kayaknya nyokap Ama bokap lu dulu, ngadon tuh anak ada kesalahan teknis deh" lanjut Vino lagi


"mungkin pas lahir kepalanya kepentok" El-Syakir malah menambahkan


"El... Vin" Leo memanggil keduanya saat keluar dari mobil. mereka menghampiri kedua remaja itu


"astaga dam, benar-benar lu ya nggak ada akhlak. bagi kek mangganya" Leo bukannya meminta Adam untuk turun namun malah meminta mangga


"naik dong, banyak nih yang masak" jawab Adam menghitung mangga yang telah dipetiknya


"okeh, tunggu gue di situ" Leo mengambil posisi untuk memanjat namun Bara langsung menahannya


"kita ke sini bukan untuk manjat pohon Bambang, ibu Nurma dari tadi telpon nyuruh kita pulang" ucap Bara menahan lengan Leo


"yaaaah kok pulang sih, aku kan belum belanja pakaian" Adam menghentikan aksinya memetik mangga


"bagaimana kamu mau belanja kalau masih nongkrong di situ. ayo turun" Deva mendekat untuk membantu Adam turun


sebelum turun, Adam melempar mangga yang ia petik satu persatu dan Leo serta Vino menangkapnya. setelah itu, ia berusaha untuk turun dengan berpegang erat di batang pohon namun sayangnya kakinya tidaklah sampai di bahu Deva.

__ADS_1


"nggak bisa kak" Adam menarik kembali kakinya


"ya udah lompat aja nanti kakak tangkap" ucap Deva


El-Syakir hanya memperhatikan, ia berpikir sepertinya dulu Adam begitu patuh kepada Deva karena saat ini hanya dia yang dapat memujuk Adam untuk turun.


Adam menggeleng tidak ingin melompat karena takut. ia pun kembali mengulurkan kakinya ke bawah namun yang terjadi dirinya malah bergelantungan di pohon tersebut.


Deva memeluk pinggangnya kemudian Adam melepaskan pegangannya dan barulah Deva menurunkan Adam.


"selamet....selamet" Adam mengelus dada


"pulang yuk" ajak Bara


"tunggu dulu. beritahu pemilik mangga ini kalau kita telah memetik buahnya. sangat tidak bertanggungjawab sekali kalau hanya main pergi begitu saja" El-Syakir mendekati rumah yang bercat kuning namun langkahnya terhenti karena seseorang menyapa mereka semua


"kok pada berkumpul di rumah saya, ada apa ya...?" seorang wanita baya datang dengan keranjang belanjaannya


"maaf bu, kami lancang memetik buah mangga milik ibu. katakan saja berapa semua harganya, akan kami bayar" ucap Deva sementara Adam sibuk menghitung buah mangga itu dan memasukkan ke dalam kantung


satu


dua


tiga


empat


Lima


enam


tuuuuuuu "loh mana satunya" Adam berdiri dan berputar-putar mencari mangga yang ia cari


wanita itu tersenyum simpul melihat kelakuan Adam, ia merasa lucu karena Adam mencari buah mangga yang sebenarnya ada di ketiaknya.


"di ketek elu bego" Vino mengambil buah mangga itu


"hehehe" Adam cengengesan dan mengambilnya


"dia adik saya Bu, mohon maaf atas kelakuannya. jadi berapa semua harga yang harus saya bayar...?" ucap Deva lagi


"tidak perlu membayar, buah mangga ini saya tidak jual. siapapun yang menginginkannya boleh memetiknya. kalau mau lagi silahkan di tambah, saya punya bambu panjang di dalam. tunggu sebentar ya saya ambilkan" wanita itu hendak masuk ke dalam rumah namun di tahan oleh El-Syakir


"tidak usah bu, terimakasih banyak. sudah diberikan gratis kami sudah sangat berterimakasih" ucap El-Syakir


"tidak apa-apa, saya malah sangat senang jika kalian mau menambah. biasanya buah mangga ini saya bagikan ke tetangga yang menginginkan. tunggu ya" ibu itu meninggalkan mereka kemudian kembali lagi dengan bambu yang panjang


Adam melompat kegirangan. dengan semangat 45 ia mulai memetik buah mangga itu dengan bambu yang diberikan ibu tadi. setelah di rasa cukup dan kantung besar miliknya terisi penuh, mereka berterimakasih lagi kemudian berpamitan untuk pulang.


tiba di rumah anak-anak remaja itu sibuk menikmati mangga yang dipetik Adam tadi. baik laki-laki maupun perempuan, mengupas bergantian karena pisau yang tersedia hanya dua.


Adam menyupai Deva dan El-Syakir, begitu juga dengan yang lain yang saling suap-suapan.


namun kemudian hp El-Syakir bergetar, saat melihat layar hp miliknya, rupanya ayah Adnan yang menghubunginya.


El-Syakir


halo assalamualaikum yah


ayah Adnan


El, kalian pulang sekarang....paman dan tante kamu kecelakaan


El-Syakir


APA, KECELAKAAN...?"


suara El-Syakir yang meninggi membuat mereka semua kaget dan menoleh ke arahnya.


El-Syakir memegang hp-nya dengan erat, air matanya seketika tumpah.


"kenapa kak...?" Alana mendekati El-Syakir


"kak Dirga, paman Zidan.... tante Vania, mereka...."


tatapan Adam yang tadinya teduh berubah menjadi tajam dan bahkan ia memegang mata pisau dengan erat membuat tangannya terluka.


"dam" Melati mengambil pisau itu yang sudah dilumuri darah Adam


Adam mengambil hp El-Syakir dan berbicara dengan ayah Adnan.


El-Syakir


ayah, ini Dirga


ayah Adnan


Dirga, paman dan tante mu kecelakaan....ini semua karena ulah Baharuddin


"Baharuddin brengsek, aku bersumpah akan membunuhmu dengan kedua tanganku" kilatan amarah yang Adam keluarkan membuat mereka yang baru saja melihat itu langsung merinding. Seil dan Zahra sampai berpelukan karena kaget


"kita pulang" ucap Deva


saat itu juga, mereka semua berpamitan pulang kepada ibu Nurma saja karena pak Firman belum pulang dari pasar.

__ADS_1


ibu Nurma dan Zahra berdiri di teras rumah dan melambaikan tangan kepada mereka yang sudah meninggalkan pekarangan rumah dengan dua mobil yang mereka bawa.


__ADS_2