
buuuummmmm
ddduuaaaaarrrrrr......
ayah Adnan memeluk El-Syakir agar tidak terkena batu atau semacamnya akibat ledakan yang kedua. cindi berteriak keras dan menutup telinganya serta matanya.
ayah Adnan melepas pelukannya, ia berdiri mematung melihat tokonya yang telah hancur lebur luluh lantah dengan tanah.
ddduuaaaaarrrrrr
lagi, ledakan itu masih terdengar. El-Syakir memeluk cindi yang kembali berteriak dan bergetar karena shock.
semua yang berada dekat di tempat itu langsung berbondong-bondong menuju toko ayah Adnan. ada yang merekam kejadian lewat video. ada yang menyelamatkan beberapa kendaraan yang masih mangkir di depan toko.
pihak kepolisian telah dihubungi dan juga ambulan rumah sakit karena sudah pasti akan ada korban dari ledakan besar itu.
"a-adam" El-Syakir baru sadar kalau hantu itu tidak keluar dari toko
setelah merasa aman dan pihak kepolisian telah tiba, mereka menelusuri kedalam toko tersebut untuk mencari para korban.
beberapa pegawai telah di selamatkan, mereka mengalami luka cukup serius dan juga sebagiannya luka ringan karena mungkin mereka menemukan tempat untuk berlindung dari ledakan itu.
yang mengalami luka cukup serius salah satunya adalah Galang, pemuda itu di tanduk oleh dua orang polisi dan di bawa keluar. ayah Adnan segera menghampirinya dan memegang tangannya.
"aku tidak apa-apa pak, jangan khawatir" ucapnya masih bisa tersenyum padahal darah di pahanya terus keluar
"setelah di sini selesai, aku akan menjengukmu" ucap ayah Adnan yang merasa sedih karena Galang ia sudah anggap seperti anak sendiri
yang menjadi korban ledakan telah di larikan ke rumah sakit. ayah Adnan berharap tidak ada korban yang meninggal dunia.
El masuk ke dalam untuk mencari Adam. meskipun ia tahu hantu itu adalah makhluk halus namun tetap saja dirinya merasa khawatir.
El melihat Adam sedang berdiri mematung di ujung sana. saat El menghampiri dan memanggilnya, Adam menoleh dan menunjuk korban ledakan yang sepertinya sudah tidak bernyawa.
segera El berteriak memanggil polisi untuk mengevakuasi jasad itu. tidak dapat disembunyikan betapa sedihnya ayah Adnan. ia berharap tidak ada yang meninggal namun ternyata Tuhan berkata lain.
korban adalah seorang wanita yang memakai seragam kerja di toko itu. segera jasad itu di bawa ke rumah sakit. ayah Adnan diminta kepolisian untuk memberikan laporan terkait kejadian.
El tidak segera pergi dari tempat itu karena dari tempatnya berdiri, ia melihat seorang wanita yang sedang berdiri dengan baju penuh darah. wajahnya pun sebelah terdapat luka gores yang cukup besar. wanita itu adalah arwah wanita yang meninggal tadi.
"kamu masih di sini...?" tanya El menghampirinya
"k-kamu bisa melihatku...?" ia terkejut El-Syakir dapat melihatnya
"apa yang membuatmu masih tertahan di sini...?"
wanita itu tidak menjawab. ia hanya melihat jasadnya telah di naikkan di mobil ambulan dan meninggalkan tempat menuju rumah sakit.
"hiks hiks" akhirnya wanita itu menangis tidak percaya dirinya sekarang telah meninggal dunia
"kenapa ini terjadi padaku"
"kakak harus ikhlas, semua sudah takdir" ucap El
Adam tidak mengeluarkan sepatah katapun. ia hanya diam memperhatikan wanita yang malang itu.
"aku masih ingin melihat anakku untuk terakhir kalinya sebelum aku pergi" gumamnya
rupanya itu yang membuat dirinya masih tertahan di dunia. rasa tidak ikhlas karena dirinya telah meninggal dan juga tidak ikhlas meninggalkan anaknya.
"memangnya anak kakak ada dimana...?"
"di kampung bersama suami saya dan juga mertuaku. aku ingin sekali melihatnya sebelum aku pergi" jawabnya lirih
"aneh sekali. harusnya suaminya yang merantau mencari uang, ini kenapa malah istrinya yang merantau di kota orang" ucap Adam yang sedari tadi hanya diam
"aku akan membantu kakak, tapi tidak sekarang. mungkin setelah semua ini selesai. sekarang kakak bisa ikut aku saja dulu"
"dia siapa...?" wanita itu melihat Adam
"dia temanku"
"sama sepertiku...?"
"iya. tenang saja, dia baik kok kak"
"iya aku baik, hatiku itu pink seperti hello Kitty" ucap Adam asal membuat wanita itu tersenyum karena merasa lucu
(setelah sekian minggu libur dari mereka, aku pikir tidak akan ada lagi yang perlu di tolong, rupanya sekarang tugas itu datang lagi) batin El
ayah Adnan di bawa ke kantor polisi untuk dilakukan pemeriksaan terhadap dirinya. ayah Adnan menyuruh El-Syakir untuk ke rumah sakit saja menyusul para korban, menggantikannya yang sepertinya masih akan lama berada di kantor polisi.
El segera melajukan motornya, wanita tadi bonceng di jok belakang sedangkan Adam hanya melayang mengikuti dari samping.
kejadian itu terdengar juga di telinga Zidan dan ketiga pengawalnya. mereka yang sedang berada di tempat biasa mereka melakukan pertemuan kaget dan khawatir bagaimana keadaan pemimpin Sanjaya grup itu.
"kalian tau kan apa yang harus kalian lakukan...? ucap Zidan
__ADS_1
"tau bos" jawab ketiganya
Randi kembali ke rumah sakit melihat Thalita, dan juga untuk memeriksa cctv rumah sakit. Pram dan Helmi mencari siapa pelaku dibalik ledakan yang terjadi di toko ayah Adnan. mereka mendatangi toko ayah Adnan dan meminta rekaman cctv yang berada di sekitar tempat itu, mungkin saja ada seseorang yang mencurigakan gerak geriknya.
untungnya di samping toko ayah Adnan, memasang cctv di parkiran yang juga langsung tertangkap dengan tempat parkir toko ayah Adnan.
Pram menyuruh petugas itu untuk mengirimkan rekaman cctv itu kepadanya, setelahnya mereka bergegas untuk menemui seseorang yang pernah Helmi temui waktu lalu dalam menyelidiki kematian Baharuddin Sanjaya. Zidan pun dalam perjalanan menuju tempat dimana mereka akan bertemu.
sementara Randi, pria itu segera menemui pihak yang memegang kendali cctv. dia ingin mencek rekaman yang berada di lobi rumah sakit.
benar saja, pria yang menembak mereka itu ternyata sudah berada di sana sejak Zidan datang bahkan dirinya masuk bersama Zidan ke rumah sakit. setelahnya pria itu berbelok ke arah kiri dan mengambil tempat di pojokan. duduk di sana sampai Zidan kembali dengan Vania dan mengobrol dengannya.
"tolong kirimkan padaku rekamannya"
"baik mas"
setelah mendapatkan yang diinginkan, Randi bergegas ke kamar rawat Thalita. saat membuka pintu, ia melihat Thalita sedang bersandar di ranjang dan menatap ke jendela kamarnya. rupanya wanita itu telah sadarkan diri dari pingsannya.
"kamu sudah sadar...?" Randi berjalan menghampirinya dan duduk di sampingnya menggunakan kursi
"terimakasih telah membawaku ke tempat ini" Thalita beralih menatap Randi
"orang sakit memang harus di bawa ke tempat ini"
"aku sangat menyedihkan ya" Thalita memandang ke arah jendela
"sangat, kamu sangat menyedihkan dan bahkan aku sangat kasihan padamu yang menjadi wanita bodoh hanya karena sebuah perasaan cinta gila"
Thalita tidak menjawab, ia hanya mengeluarkan air mata sebagai bentuk bahwa dirinya sekarang benar-benar bodoh.
"kamu belum makan...?" tanya Randi melirik makanan yang ada di atas meja
"aku tidak nafsu makan" jawabnya
"bagaimana bisa sembuh kalau kamu tidak ingin makan. jangan memperlambat kesembuhan mu, aku tidak ingin terus-menerus berada di sini hanya karena dirimu. sekarang makanlah, aku suapi" Randi mengambil makanan itu dan mulai menyuapi Thalita
"aku bisa sendiri" tolaknya
"jangan membantah, cepat makan agar kamu cepat pulih"
dengan terpaksa wanita itu membuka mulutnya dan menerima suapan dari Randi. melihat ada nasi di bibir wanita itu, Randi segera melapnya dengan tangannya sendiri. seketika mereka beradu tatap namun dengan cepat Randi mengalihkan pandangannya ke piring makanan yang ada di tangannya.
"terimakasih" ucap Thalita tulus
"makan lagi" Randi kembali menyuapi Thalita
"aku tidak mengenalmu mas, karena pakaian mu seperti itu" ucap Helmi duduk begitu juga dengan Pram
"agar tidak ada yang dapat mengenaliku. kalian sekarang sudah tidak aman, tanpa kita tau mungkin mata-mata Baharuddin ada dimana-mana. kalau dia tau aku masih hidup dia pasti akan kembali mengincar ku"
"iya juga. kenalkan ini Pram sahabat sekaligus rekan kerjaku"
"Pram" mengulurkan tangan
"Benni" menerima uluran tangan Pram
setelah menunggu beberapa menit akhirnya Zidan datang juga. ia segera melangkah mendekati ketiga pria itu dan duduk di samping Helmi.
"ini Zidan" ucap Helmi
"kamu sudah sangat dewasa sekarang" Benni tersenyum
"kamu mengenalku...?" tanya Zidan
"tentu saja, bahkan setiap hari aku selalu mengawasi kalian semua sebelum akhirnya Baharuddin melakukan penyerangan terhadap orang tuamu, orang tuanya sendiri" jawab Benni
"jadi benar mas Bahar yang membunuh orang tuaku...?" tanya Zidan lagi
"maafkan aku, aku baru bisa mengatakannya sekarang" ucap Benni penuh sesal
"kurang ajar. lalu dimana si brengsek itu sekarang...?"
"tentu dalam persembunyiannya. aku hanya ingin mengatakan kalau sekarang pasti kalian sudah tidak akan aman setelah tangan kanannya kalian habisi sudah pasti dia sendiri yang akan turun tangan dengan semua antek-anteknya" ucap Benni
"apa jangan-jangan yang menembak ku tadi di rumah sakit adalah orang suruhannya..?" ucap Zidan
"jelas pasti, siapa lagi kalau bukan dia yang sekarang menjadi musuh kita" timpal Helmi
"berarti sekarang mas Adnan juga dalam bahaya. apakah yang meledakkan toko mas Adnan adalah ulahnya juga. tapi dia kan tidak tau mas Adnan" ucap Zidan
"kamu lupa kalau Rudi tau mas Adnan, jelas dia akan melaporkan itu kepada si ikan paus itu. berarti sekarang ayah Adnan dan juga keluarganya tidak aman" timpal Pram
"tapi kan Rudi tidak tau keluarga sebenarnya mas Adnan, dia taunya mas Adnan adalah keluargaku"
"Baharuddin bukan Rudi, Zidan. dia licik dan pintar. tentu untuk mencari tau keluarga pak Adnan itu bukan hal yang sulit. dulu saja dia dengan gampangnya mencari tau keluargaku dan menghabisi mereka, hanya aku yang selamat. padahal waktu itu aku sudah menyembunyikan keluargaku dari dunia luar tapi tetap saja dia menemukan mereka" timpal Benni
"sebenarnya apa yang membuat mas Bahar ingin mengjabisimu padahal kamu bekerja dengannya...?" tanya Zidan
__ADS_1
"aku membocorkan kepada orang tuamu bahwa dia akan membunuh mereka. sayangnya sebelum mereka pergi, Bahar sudah datang lebih dulu dari perkiraan ku. dari situlah Bahar ingin membunuhku bahkan sampai dengan semua keluargaku" jawab Benni
"aku berhutang budi kepada orang tuamu yang telah menyelamatkan istriku dengan membayar semua biaya pengobatan dan juga operasinya, sebelum aku bekerja dengan Baharuddin. setelah aku bekerja dengan Baharuddin, aku mengganti uang mereka namun dengan ikhlas mereka mengatakan aku tidak perlu mengembalikannya. saat aku tau Bahar akan membunuh mereka, aku sungguh tidak tega dan melakukan penghianatan dengan membocorkan rencananya"
"kematian palsunya pun aku bocorkan, sehingga dirinya marah besar dan dari situlah tragedi pembunuhan keluargaku terjadi" mata Benni nampak berair
"kalian harus hati-hati dan siap siaga untuk menerima setiap serangannya"
setelah bertemu Benni. Zidan, Pram dan Helmi ke kantor polisi untuk menemui ayah Adnan sedangkan Randi di telepon oleh Zidan untuk menemani El mengurus semua administrasi korban ledakan, karena ayah Adnan memberitahukan bahwa putranya yang menggantikan dirinya melihat keadaan para korban.
Zidan juga menghubungi Furqon dan Ardi agar terus mengawasi El dan tidak sedikitpun jauh dari anak itu.
tiba di sana, ayah Adnan baru saja selesai di periksa. mereka segera masuk ke dalam mobil untuk menuju rumah sakit.
Pram tidak ikut, ia membawa mobil sendiri untuk pergi melihat keadaan ibu Arini karena sebenarnya tugasnya adalah mengawasi wanita itu. namun karena dirinya terus dibutuhkan oleh Zidan, maka ia menyuruh beberapa pengawal lain untuk menjaga ibu Arini.
kini tinggal Zidan dan ayah serta Helmi di dalam mobil. ayah Adnan dan Zidan di tempat duduk bagian tengah dan Helmi menjadi supir mereka.
"aku akan mencarikan toko yang lain untuk mas Adnan" ucap Zidan
"terimakasih Zidan, tapi itu biarlah aku saja nanti yang mengurus" jawab ayah Adnan
"bagaimana pekerjaan kantor Helmi. maaf sudah beberapa hari aku tidak masuk" ucap ayah Adnan
"baik-baik saja pak, pak Adnan tidak perlu khawatir" jawab Helmi
"sebenarnya ada ingin aku katakan kepada mas Adnan" ucap Zidan
"apa itu...?"
Zidan mulai menceritakan semuanya. tentang dalang dari semua ini yang ternyata bukan Rudi melainkan Baharuddin kakaknya sendiri.
"kita sekarang harus lebih berhati-hati mas, dia sangat licik dari Rudi" ucap Zidan
"aku pikir setelah Rudi tertangkap kita akan aman tapi ternyata kita malah semakin di kejar seperti buronan" ayah Adnan menghela nafas
"maafkan aku mas karena telah menyeret mas Adnan ke dalam masalah ini" ada sesal di hati Zidan
"jangan merasa menyesal. kita hadapi dia sama-sama"
"emmm ada lagi yang ingin aku tanyakan mas"
"tanyakanlah"
"apa mas Adnan belum memberitahu El-Syakir tentang kakaknya Dirga...?"
"entahlah Zidan, aku ingin memberitahu tapi apakah anak itu akan tegar menerima berita yang akan aku sampaikan. aku takut dia terpukul dan tersiksa karena mengetahui bundanya telah pergi"
"menurutku mas Adnan harus memberitahunya, bagaimanapun dia harus tau yang sebenarnya"
"aku akan mencari waktu yang tepat untuk bicara dengannya"
braaakkk
mobil mereka di tabrak dari belakang, Helmi kehilangan kendali untung saja ia segera dapat mengatasinya.
mobil hitam berada di belakang mereka dan lagi-lagi terus menabrak mobil mereka.
"siapa sebenarnya mereka...?" ayah Adnan melihat ke belakang
"yang pasti mereka bukan orang baik. sudah pasti mereka adalah suruhan mas Bahar" jawab Zidan
Helmi tancap gas agar tidak ditabrak lagi, mobil hitam itupun terus menerus mengejar. Helmi melewati jalan yang sepi karena dirinya ingin melakukan sesuatu.
dor
dor
tembakan mulai dilayangkan dari pemilik mobil hitam itu. mereka terus menembaki mobil Zidan. ayah Adnan dan Zidan menunduk agar tidak terkena tembakan.
ciiiiiiiit.....
Helmi memutar mobilnya sehingga berhadapan dengan mobil hitam itu. ayah Adnan dan Zidan bahkan terbentur karena tidak siap dengan rencana pria itu. dalam keadaan menyetir mobil yang berjalan mundur, Helmi mengambil pistolnya dan mengeluarkan kepalanya di jendela kemudian mulai menembaki mobil hitam itu.
dor
dor
target Helmi adalah ban mobil hitam itu, dua kali tembakan akhirnya ia berhasil membuat bocor ban mobil itu sehingga mobil itu oleng dan menabrak pohon besar di pinggir jalan.
Helmi tersenyum smirk melihat mobil hitam itu ringsek parah. ia kembali memutar mobilnya dan mengemudi dengan normal.
"kamu hebat Helmi" puji ayah Adnan
"aku belajar dari bos Zidan" jawab Helmi tersenyum.
Zidan yang mendengar jawaban pengawalnya itu hanya tersenyum kecil.
__ADS_1