Petualangan Mistis

Petualangan Mistis
Episode 132


__ADS_3

para laki-laki tim samudera sedang dalam perjalanan menuju istana karing-karing. mereka tetap waspada jangan sampai di jalan nanti mereka bertemu dengan jin pengikut ratu Sri Dewi, itu hanya akan dapat membuat tenaga mereka terkuras sia-sia.


"haishh... ternyata lebih enak jadi roh daripada jadi manusia, bisa melayang sesuka hati" Adam mulai mengomel


"kakak nyesal jadi manusia...?" tanya El


"ya nggak lah, aku hanya membandingkan kemudahan melakukan apapun saat masih menjadi arwah. bisa menghilang kapan saja tanpa harus susah payah jalan kaki" Adam tentu tidak menyesal telah kembali pada tubuhnya


"gue penasaran dam, apakah kekuatan mu ikut hilang saat elu kembali menjadi manusia...?" tanya Leo


"aku juga belum mencobanya, apakah kekuatanku menghilang atau tidak" Adam berhenti melihat kedua tangannya


"kalau gitu elu coba saja dulu. jujur saja selama ini elu yang selalu melindungi kita, kalau kekuatanmu hilang itu berarti kita akan semakin kesulitan menghadapi musuh" timpal Vino


"nanti sajalah, kita nggak punya banyak waktu untuk sekedar uji coba kekuatan" Adam kembali melangkah dan diikuti yang lain


"kak, bukankah dulu kakak pernah berjanji tidak akan kembali ke tubuh kakak atau kepada Tuhan sebelum kakak menemukan pembunuh bunda dan ayah Burhan. tapi kok sekarang kakak malah sudah bersatu dengan tubuh kakak kembali" tanya El-Syakir yang sebenarnya ingin menanyakan itu sejak pertama Adam mendatangi mereka


"itulah kuasa Tuhan. mungkin Tuhan mengembalikan aku ke tubuhku karena dengan aku menjadi manusia bisa lebih mempermudah pencarian ku" jawab Adam


"bagaimana pun elu, kami tetap akan menjadi sahabatmu, entah itu elu hanya berbentuk arwah atau seorang manusia" ucap Vino


"kalian memang yang terbaik" Adam tersenyum hangat


mereka terus berjalan menyusuri hutan luas itu. Adam yang merengek lelah akhirnya kini telah berada di punggung El-Syakir.


"perasaan tadi kita ke gua nggak sejauh ini deh, ini kenapa gue merasa kita udah berjalan berkilo-kilo meter tapi belum nyampe-nyampe juga" Bara mulai mengeluh


"istrahat dulu deh kalau gitu, capek juga jalan kaki" El-Syakir berhenti di sebuah pohon besar


mereka beristirahat menghilangkan penat. tidak pernah berjalan kaki membuat mereka cepat ngos-ngosan saat berjalan jauh sedikit apalagi kini yang telah berkilo meter mereka melangkah.


saat sedang istirahat, Leo mendengar suara sesuatu yang membuat istirahatnya terusik.


sssss.....


"suara apaan tuh...?" tanya Leo melihat teman-temannya


"suara apa sih Le, nggak ada suara apa-apa" jawab El


"ada, tadi gue dengar jelas banget" Leo bersikukuh


ssssss....


"nah tuh kan, kedengaran kan" ucap Leo


"eh iya, suara apa itu ya" mereka mulai mendengar


"ssssttt" Adam menempelkan jari telunjuknya ke bibir Vino


"diam jangan berbicara dan bergerak" Adam berbicara pelan


mereka semua mulai tegang. biasanya kalau Adam sudah seperti itu berarti ada sesuatu dan kini mereka membisu serta diam tidak bergerak seperti patung.


Adam mengintip suara tersebut dan siapa sangka ternyata di dekat mereka ada seekor ular yang besar berwarna hitam dengan gigi tajamnya dan lidah yang terus keluar. Adam menarik kembali kepalanya dan melihat satu persatu teman-temannya dengan wajah serius.


"ada apa kak...?" tanya El dengan suara yang sangat pelan


"ada ular di balik pohon ini" jawab Adam pelan


Bara memiringkan kepalanya untuk melihat ular itu dan seketika raut wajahnya menjadi tegang.


"i-itu ular Ragin, ular peliharaan ratu Sri Dewi" ucal Bara


gleg


mereka menelan ludah, niat tidak akan tertangkap oleh siapapun sekarang mereka malah terjebak dengan sang ular Ragin yang mempunyai racun mematikan.


"terus bagaimana, bisa mati di gigitnya kita" Vino mulai was-was


Adam mencari-cari sesuatu yang ada di dekat mereka, kemudian ia melihat batu yang jaraknya tidak terlalu jauh dari kakinya. dengan hati-hati ia mengulurkan kakinya untuk menggeser batu itu agar semakin dekat dengannya. sangat hati-hati agar tidak mengeluarkan suara.


yang lain sekarang malah menahan nafas, mereka sangat tegang dan takut jangan sampai ular beracun itu melihat mereka semua.


dengan susah payah Adam mengambil batu menggunakan kakinya, setelah berhasil ia melempar jauh batu itu ke arah kanan sehingga ular Ragin yang mendengar suara lembaran langsung merayap menghampiri asal suara itu.


kini posisi ular itu sudah sedikit jauh dari mereka. Adam menyuruh untuk pergi dari tempat itu dengan melangkah pelan dan sangat hati-hati agar tidak mengeluarkan suara.


mereka mulai melangkah, Vino di depan di susul oleh Leo, Bara, El dan terakhir adalah Adam.


Bara yang merasa hidungnya gatal ingin sekali bersin namun dengan sigap El-Syakir menutup hidung Bara sehingga temannya itu tidak jadi bersin.

__ADS_1


"hehehe" Bara cengengesan melihat El yang sedang menatapnya tajam sedangkan Adam menjitak kening Bara


"sakit tau" rengeknya pelan


sayang seribu sayang, Dewi Fortuna sepertinya tidak berpihak pada mereka kali ini. selamat dari Bara yang lain malah membuat ulah. Vino dengan refleks bersin dan mengeluarkan suara keras sehingga ular Ragin dengan cepat melihat ke arah mereka.


gleg....


"mampus" Leo berucap dengan ekspresi ngeri saat melihat ular besar itu mulai melihat ke arah mereka


"lariiiii" teriak Adam


kyaaaaaaaa


mereka semua ketar-ketir, berlari dengan cepat agar terhindar dari sang ular beracun sementara ular Ragin jelas tidak akan membiarkan mereka kabur begitu saja. dengan cepat ular itu merayap mengejar tim samudera.


"kampret lu Vin, bikin sial aja lu ini" Leo masih sempat-sempatnya memarahi Vino padahal mereka kini dalam keadaan berlari


"ya maap, abis hidung gue gatal banget" jawab Vino dengan keras


mereka terus berlari dan ular Ragin terus mengejar, tidak sekalipun mereka melihat ke belakang karena Adam menyuruh untuk tetap fokus ke depan.


"haaaah... haaaah, stop stop stop" Vino berhenti karena sudah tidak sanggup lagi untuk berlari


"ngapain berhenti sih Vin, kita masih dikejar sama ular itu" El berucap dengan nafas ngos-ngosan


"nggak kuat gue, sumpah" Vino mengatur nafasnya


"harus kuat Vin, nanti kita ditangkap sama ujar itu bagaimana" Bara mengingatkan


sssssss......


desis ular Ragin semakin terdengar, Adam menarik Vino untuk bersembunyi di balik pohon begitupun yang lain. kali ini mereka bersembunyi di pohon yang berbeda. Adam bersama Vino sedang El-Syakir bersama Leo dan Bara.


sang ular yang kehilangan jejak memeriksa di sekelilingnya, mereka begitu waspada jangan sampai ular Ragin melihat mereka lagi.


kraaaak


tanpa sengaja El-Syakir menginjak ranting kayu sehingga mengeluarkan bunyi.


sssssss....


ular Ragin dengan cepat menyerang ketiganya untungnya mereka cepat menghindar sehingga ular itu hanya mengenai batang pohon.


"nggak, El nggak mau" El-Syakir menggeleng cepat


bughhh


bughhh


Bara dan Leo terpelanting ke batang pohon akibat ekor ular Ragin yang menghajar mereka.


"aku bilang pergi, aku akan melawannya, cepat pergi ke istana karing-karing" teriak Adam lagi


"lalu bagaimana dengan kakak...?" Bara tidak ingin meninggalkan Adam


tanpa menjawab pertanyaan Bara, Adam mendekati ular Ragin dengan tatapan tajam, sedangkan ular itu Ragin mulai menyerang Adam.


El dan Vino membantu Leo dan Bara untuk berdiri. mereka tidak punya pilihan lain, mereka percaya kepada Adam meski sebenarnya ada keraguan dalam hati mereka.


setelah mereka pergi, Adam lebih fokus untuk menghadapi ular hitam itu. ternyata meskipun sudah menjadi manusia kekuatan Adam tidak hilang hanya saja dirinya sudah tidak bisa melayang dan menghilang.


El-Syakir dan yang lainnya terus berlari hingga kini mereka telah tiba di wilayah istana karing-karing. rasa lelah yang mereka rasakan membuat semuanya tersungkur di tanah dan bersandar di pohon untuk menghilangkan penat sejenak.


"haaaah... haaaah, sumpah gue nggak kuat lagi beneran" Vino terengah-engah


"belum apa-apa kita udah kewalahan kayak gini, belum lagi menghadapi musuh yang paling berat" timpal El


"encok pinggang gue" Leo memegang pinggangnya yang sakit akibat lemparan ular tadi


"sekarang berpikir bagaimana caranya kita bisa masuk ke dalam istana. lihat para jin prajurit semuanya sudah mengelilingi istana besar itu" ucap Bara, dari kejauhan mereka dapat melihat banyaknya jin yang menjaga istana karing-karing


"udah rame aja ya, tadi kayaknya sepi banget macam kuburan" ucap Leo


"mungkin ratu Sri Dewi baru saja mendatangkan pengikutnya ke sini" jawab El


"lalu sekarang apa yang harus kita lakukan...?" tanya Vino


"jelas harus menyusup untuk masuk ke dalam. setelah kita berhasil masuk hal pertama yang harus kita lakukan adalah membebaskan Senggi terlebih dahulu" jawab El


"gimana mau bebasin dia, kita kan nggak tau dia disekap dimana atau jangan-jangan ratu Sri Dewi sudah...." Leo menyimpan telunjuknya dilehernya seperti seseorang yang digorok

__ADS_1


"kita usaha saja dulu, kalaupun dia sudah dibunuh ya berarti kita melangkah ke rencana kedua, mencari tau penawar racun ular Ragin" timpal El


"oke...itu nanti kita pikirkan, masalahnya sekarang adalah bagaimana caranya kita bisa masuk ke dalam sana" ucap Bara


mereka diam, otak keempatnya sedang memikirkan cara untuk masuk ke istana karing-karing tanpa harus ketahuan oleh penjaga istana.


"ada yang punya ide...?" tanya El


sayangnya ketiga temannya menggeleng kepala dengan pelan, El-Syakir memijit pelipisnya bingung memikirkan cara masuk ke dalam.


"gimana kalau salah satu dari kita memancing mereka untuk fokus hanya pada satu orang sedang yang lain bergerak cepat masuk ke dalam" ucap Vino


"dan salah satu dari kita itu akan dicincang hidup-hidup jika tertangkap nanti" Leo gemas dengan rencana Vino


"hehehe, iya juga" Vino hanya nyengir kuda


"kalau begitu ikuti rencana gue" ucap El


"bagaimana rencana elu...?" tanya ketiganya


tanpa menjawab, El-Syakir mengambil batu yang ada di dekatnya kemudian melempar salah satu penjaga yang sedang berdiri menatap lurus ke depan.


buuuk


"aduh, kurang ajar siapa yang beraninya melemparku" jin penjaga itu mulai marah


penjaga yang lain hanya menatap teman mereka itu dengan heran namun tidak menggubris perkataannya.


buuuk


"woi...siapa yang melemparku" emosinya mulai naik


"siapa juga yang melemparmu, kami dari tadi hanya berdiri seperti ini" penjaga yang lain menjawab


buuuk


lagi penjaga itu kembali dilempar oleh El-Syakir. penjaga yang dilempar melihat ke arah temannya dan matanya menangkap tangan penjaga yang lain itu sedang memegang sesuatu berupa batu.


"ternyata kamu yang melempar saya" penjaga yang dilempar oleh El-Syakir dengan cepat melayangkan pukulan ke arah temannya itu sehingga tersungkur ke tanah


"bedebah, cari mati kamu rupanya" tidak terima di pukul akhirnya ia pun membalas memukul sehingga terjadi adu pukul sesama mereka


padahal yang sebenarnya terjadi adalah keduanya dilemparkan batu oleh tim samudera. namun penjaga yang lain saat kepalanya terkena lemparan batu, ia segera mengambil batu itu dan bersamaan dengan itu penjaga yang dilempar oleh El melihat ke arahnya. saat melihat penjaga itu memegang batu, penjaga yang dilempar oleh El kini menuduh temannya itu yang melemparnya padahal mereka sama-sama menjadi korban.


melihat para penjaga mulai menghambur meninggalkan tempat penjagaan mereka hanya untuk melerai pertarungan, kesempatan itu tidak disia-siakan oleh tim samudera. mereka segera cepat berlari menuju pintu belakang istana dan segera masuk ke dalam.


saat masuk ada beberapa dayang istana yang berada di dapur sedang menyiapkan makanan, segera mereka menunduk cepat dan berjalan seperti bebek untuk bersembunyi di bawah meja yang cukup besar sehingga keadaan mereka sekarang menjadi aman.


"sudah selesai...?"


"sudah"


"kalau begitu siapkan air kembang untuk ratu Sri Dewi mandi"


"baik"


langkah kaki dari salah seorang mereka meninggalkan dapur. Leo mengintip dengan mengeluarkan kepalanya, masih ada tiga dayang istana yang berada di dapur itu.


"bagaimana keadaan ratu Sundari ya...?"


"iya, saya khawatir dengannya. karena perbuatan keji saudaranya sendiri dia kehilangan tahta dan kerajaannya dan sekarang kita malah menjadi budaknya"


"meskipun begitu kita harusnya bersyukur karena ratu Sri Dewi tidak membunuh kita"


"tapi dia banyak membunuh rakyat ratu Sundari. yang selamat hanya sebagian kecil saja"


"tidak apa-apa, yang penting mereka selamat dan kita juga di sini harus menjaga sikap jangan sampai membuat ratu Sri Dewi marah"


"andai ada yang datang menyelamatkan kita, semoga ratu Sundari kembali datang dan merebut kerajaannya"


"iya, semoga saja"


"eh, saya duluan ya. saya harus memberikan makan kepada Senggi, dia harus mempunyai tenaga agar bisa melawan ratu Sri Dewi. hanya dia harapan kita satu-satunya"


"ya sudah sana, saya juga mau ke kebun buah"


"saya temani"


ketiganya meninggalkan dapur istana, merasa sudah aman tim samudera yang bersembunyi di bawah meja mulai keluar satu persatu.


"kita ikuti dayang yang akan memberikan makan kepada Senggi" ucap El

__ADS_1


"kalau begitu cepat kita bergerak" ucap Bara


mereka meninggalkan dapur istana dan mengikuti dayang tadi. saat melihat jin lain yang ada di istana, segera mereka bersembunyi agar tidak ketahuan. mereka harus berhati-hati agar tidak dilihat oleh penghuni istana itu.


__ADS_2