
drrrrtttt.... drrrrtttt
drrrrtttt.... drrrrtttt
handphone Zidan terus bergetar. pukul 11 malam waktu setempat di negara Indonesia namun disebrang yang dipisahkan lautan luas menghadapi siang yang mencekam.
"bagaimana...?" tanya Ciko, pengawal yang di tugaskan untuk menjaga Dirga
"tidak diangkat" Samuel menggeleng kepala
"telepon lagi sampai diangkat"
Samuel menekan lagi nomor Zidan dan entah sudah keberapa kalinya panggilannya tidak diangkat. saat Ciko menatapnya, lagi-lagi Samuel menggeleng kepalanya pertanda tidak diangkat lagi.
sementara di dalam kamar rawat Dirga, Edward sedang melakukan tugasnya sebagai seorang dokter. bahkan keringat dingin mulai muncul di keningnya.
"bagiamana ini dokter...?" tanya perawat yang melihat keadaan Dirga kritis
tit
tit
tit
tiiiiiiiiiiiiiiiiit.....
alat indikator Dirga menunjukkan garis yang terpampang dilayar benda itu telah berubah menjadi garis lurus yang dalam artian Dirga sudah akan pergi untuk selamanya.
"ambilkan alat pemicu jantung, cepat" teriak Edward
semuanya seketika menjadi panik, terutama Ciko dan Samuel yang juga belum bisa menghubungi Zidan. jalan terakhir Ciko menghubungi Pram. ia ingin menghubungi ayah Adnan namun nomor bosnya itu tidak ada dalam handphonenya.
📞 Pram
halo
📞 Ciko
Dirga kritis, cepat beritahu bos Zidan. teriak Ciko disebrang sana
📞 Pram
apa. baik-baik
Pram yang sedang berada di rumah Zidan segera berlari ke ruang tengah dimana mereka berkumpul. di sana ada Helmi dan juga Randi serta Zidan yabg sedang memangku laptop.
"kenapa kamu, lari-larian gitu seperti orang dikejar setan" tanya Helmi melihat raut wajah Pram yang panik
"Dirga kritis"
deg....
dua kata itu membuat Zidan menjatuhkan laptopnya ke lantai. ia segera mencari handphonenya yang entah dimana ia letakkan. dirinya berlari menaiki anak tangga dan masuk ke dalam kamarnya.
benar saja, panggilan tidak terjawab sudah puluhan di layar handphonenya. ia berlari lagi turun ke bawah dan menghampiri ketiga pengawalnya.
"beritahu mas Adnan, cepat. Pram kamu jemput mas Adnan langsung bawa ke bandara"
"Randi, siapkan pesawatnya, aku ingin terbang malam ini juga"
"baik" jawab Randi
dalam perjalanan Pram menghubungi ayah Adnan. saat tersambung ia segera memberitahu kepada pria itu dan sontak saja membuat ayah Adnan panik.
ibu Arini yang melihat ayah Adnan bangun dan langsung bersiap begitu heran. mau kemana suaminya malam-malam seperti ini.
"mau kemana yah...?"
"Bu maaf, ayah harus pergi. Dirga kritis di sana"
"kritis. ya Allah anakku" ibu Arini ikut dilanda kekhawatiran
"ayah harus pergi Bu" ayah Adnan memegang bahu ibu Arini
"pergilah. ibu meridhoi, semoga Dirga baik-baik saja"
"terimakasih"
setelah mencium kening istrinya, ayah Adnan keluar dari kamar menuju depan karena Pram sudah menunggunya. ibu Arini melepas kepergian suaminya dengan perasaan risau dan khawatir.
"100 Joule, siap"
dugh....
tubuh Dirga terangkat ke atas dan terhempas lagi ke bawah
"100 Joule, siap"
dugh...
"150 Joule, siap"
dugh
"paman mohon berjuanglah Dirga" bibir Edward bahkan bergetar
"150 Joule, siap".
dugh
lagi-lagi tubuh Dirga terangkat dan terhempas dengan kasar
"naikkan 200"
"dokter, itu sudah ter...."
"aku bilang naikkan 200" teriak Edward dengan keringat sudah bercucuran di keningnya
"200 Joule, siap"
dugh
"200 Joule, siap".
__ADS_1
dugh
tiiiiiiiiiiiiiiiiit
nafas Edward terengah-engah, ia lepaskan alat yang ada di tangannya dan ia naik di atas ranjang Dirga. posisinya sekarang, Dirga di bawah dan dokter itu diatas dengan kedua tangannya ia simpan di dada remaja itu.
"1 2 3"
"1 2 3"
Edward memompa dada Dirga dengan kedua tangannya. harapannya belum putus, tanpa putus asa dokter itu melakukan sebisa yang ia lakukan.
"dokter, pasien telah......"
"diam kamu Cecil. jangan katakan apapun ditelinga ku" bentak Edward yang terus memompa dada Dirga
"paman mohon, kembalilah"
seseorang yang tidak tau akan kemana dan dimana dia berada sedang kebingungan mencari jalan pulang. sekitarnya tidak ada siapapun, hanya ia seorang diri. sayup-sayup ia mendengar suara manusia disebrang sana. ia berjalan pelan hingga akhirnya sampailah ia dan melihat dua anak laki-laki yang sedang bermain dengan riangnya.
"ayaaaaaah" dua anak laki-laki itu berlarian menuju ayah mereka yang baru saja pulang
hap
keduanya langsung ditangkap oleh pria yang mereka sebut ayah itu.
"oleh-oleh adek ada kan...?" si bungsu menatap dengan matanya yang bulat
"tentu dong sayang. ayah bawa oleh-oleh untuk kakak dan juga adek"
"horeeeeeeee" keduanya bertepuk tangan riang
si bungsu di gendong oleh ayahnya dan si sulung di gandeng di tangan kanannya. mereka bertiga menuju ke rumah dimana seorang wanita telah berdiri di depan pintu menyambut mereka dengan senyuman manisnya.
"turun ya dek, ayah masih capek loh" ucap sang bunda
"nggak mau" gelengnya tidak ingin turun
"lihat oleh-oleh yang ayah bawa yuk, tapi adek harus turun" ajak si sulung
"okeh. yah, adek mau turun"
pria itu menurunkan anaknya, dan memberikan mainan kepada mereka.
"wah pesawat. ayo main kak, ayo main"
si bungsu menarik tangan kakaknya untuk ke halaman rumah bermain pesawat yang dibelikan oleh ayah mereka.
"hahahaha terbang kak, terbang yang tinggi"
"yeeeeiii adek terbang" ia berlari dan merentangkan kedua tangannya seperti sayap pesawat
"Dirga, El...ayo masuk" panggil sang Bunda
kedua anak itu menoleh dan berlari menghambur ke pelukan bunda mereka.
"kamu akan pergi begitu saja...?" suara seseorang mengagetkan seseorang yang tersesat tadi
"kamu tidak ingin menemuiku lagi...?"
"aku adalah salah satu dari anak kecil itu" ia menunjuk dua anak tadi yang masih memeluk bunda mereka
kedua anak itu berjalan beriringan namun kemudian langkah mereka terhenti dan berbalik ke arah dua orang itu. yang tadinya mereka hanyalah anak berumur 4 tahun dan 8 tahun, kini dengan sekejap anak-anak itu berubah wujud menjadi usia remaja.
"kembalilah" ucapnya dan menghilang
"1 2 3"
"1 2 3"
tit
tit
tit
"dokter, dia kembali" ucap Cecil yang kaget bercampur senang
bughhh
"hah... hah"
Edward menjatuhkan dirinya di lantai. ia tersungkur dan bersandar di kaki Cecil yang bersyukur akhirnya pasien mereka telah kembali.
"dokter hebat" puji Cecil duduk dan menepuk pundak Edward
"kamu juga hebat" timpal Edward dengan nafas yang masih memburu
setelah berjam-jam di dalam pesawat, akhirnya ayah Adnan dan Zidan mendarat juga di negara yang mereka tuju.
mobil telah disediakan, Zidan menerima kunci mobil dan segera menuju rumah sakit. tiba di sana ayah Adnan langsung berlari menuju kamar rawat Dirga. di sana sudah ada Edward yang sedang berbaring di sofa dan matanya ia tutupkan dengan lengannya.
"Edward" panggil Zidan mendekat ke arah ranjang Dirga
"kalian sudah datang. maaf, aku ketiduran. tadi itu sangat melelahkan" Edward bangun dan duduk
"bagaimana keadaannya, bukankah dia kritis...?" ayah Adnan duduk di samping Dirga
"iya, memang tadi dia kritis dan sempat meninggalkan kita. untungnya Tuhan masih baik padanya" jawab Edward
"lalu bagaimana keadaannya sekarang...?" tanya Zidan penuh khawatir
"kembali seperti sebelumnya" jawab Edward
"selama 4 tahun ini, baru kali ini dia mengalami kritis. apakah dia akan baik-baik saja...?" Zidan menatap sayu keponakannya itu
"aku bukan Tuhan yang bisa menjanjikan kalau dia akan baik-baik saja. tapi aku akan berusaha sebisa yang aku lakukan. kita berdoa saja semoga hal tadi tidak terjadi lagi. aku pun tadi benar-benar takut dia akan pergi" ucap Edward
"terimakasih dokter. kamu telah melakukan yang terbaik" ucap ayah Adnan melihat sekilas dokter Edward
di rumah ayah Adnan, El-Syakir masih terus berteriak memanggil nama Adam. bahkan anak itu seperti orang yang hilang akal mencari Adam kemanapun.
ibu Arini yang mendengar teriakan anaknya, segera keluar kamar dan menghampirinya. putranya itu sudah berada di halaman depan rumah dengan memanggil-manggil nama Adam.
__ADS_1
"tolong"
suara Adam meminta tolong terngiang-ngiang di telinganya, bahkan ia merasakan pusing yang luar biasa.
"t-tolong"
"tolong"
suara itu terus menari di kepalanya. El menjambak rambutnya karena merasakan sakit kepala yang teramat sangat.
"aaaaggghhhh....adaaaaaaaaam" teriaknya dengan sangat keras dan terus menjambak rambutnya sendiri
"El, ada apa nak" ibu Arini menghampiri putranya itu
bugh
seketika remaja itu langsung tumbang dan ambruk di lantai. ibu Arini histeris melihat anaknya itu tiba-tiba saja pingsan tidak sadarkan diri.
perlahan mata El terbuka namun ia tutup lagi karena silaunya lampu di kamarnya.
"eh, El sadar tuh" ucap Leo mendekat
hal yang pertama El lihat saat membuka mata adalah sosok yang sedari tadi malam ia cari-cari. sosok itu sedang duduk dan tersenyum manis di depannya.
"Adam"
"kamu sudah sadar...?"
bruukk
El bangun dan langsung menghambur memeluk hantu itu. Leo, Vino dan starla hanya saling pandang dan merasa heran melihat El yang seakan tidak ingin melepaskan pelukannya dari Adam.
"elu kemana saja. gue cari-cari dari tadi. elu nggak apa-apa kan, kepalamu nggak luka kan...?" El memeriksa setiap inci tubuh hantu itu
"aku nggak kemana-mana, aku di sini" jawab Adam
"tapi kenapa tadi malam kamu menghilang begitu saja. terus kamu juga penuh darah, aku takut banget tau nggak"
"woi, elu itu udah tidur tiga hari lamanya tau nggak dan baru bangun sekarang" ucap Vino
"tidur tiga hari...?" El mengernyitkan keningnya
"ho oh, elu pingsan dan baru saja sadar. heran gue ya sama elu. elu kalau pingsan sadarnya lama bener. kemarin juga waktu elu kecelakaan dan ditemukan pingsan di salah satu ruangan di rumah sakit, elu sadarnya lama sampai tiga hari juga" celetuk Vino
"masa sih, kok gue nggak rasa"
"yaelah...gimana mau rasa orang elu molor mulu. timpal starla
"ada yang sakit...?" tanya Adam lembut
"kepala gue pusing" jawab El
"ya udah, baring lagi aja" Adam membantu El untuk baring kembali
"tapi elu nggak akan kemana-mana kan...?" El memeganggi tangan Adam
"aku di sini, tenang aja" Adam tersenyum hangat
El yang berbaring kembali pada akhirnya tertidur kembali. semuanya membiarkan sahabat mereka itu untuk istirahat tanpa mengganggu.
saat malam tiba, El baru saja bangun dari tidurnya. saat membuka mata tidak ada siapapun di dalam kamarnya. ia pun panik dan bangun namun saat turun dari ranjangnya, tubuhnya tidak dapat berdiri sempurna hingga akhirnya ia terjatuh namun langsung ada yang menangkapnya.
"mau kemana...?" tanya Adam masih menahan tubuh El
"cari elu" jawabnya
"ayo, aku bantu duduk" Adam membantu El duduk bersandar di ranjang
"yang lainnya mana...?"
"sedang makan malam. ibu Arini nanti akan membawakan makanan untukmu" Adam melayang menutup gorden jendela yang belum sempat di tutup kemudian kembali duduk di samping El
"dam"
"iya" Adam memijit-mijit kaki El
"malam itu elu kenapa...?"
"memangnya apa yang kamu lihat...?" Adam balik bertanya
"elu berdarah bahkan muntah darah. apa yang terjadi...?"
Adam tidak menjawab, ia hanya menatap El dengan lembut kemudian tersenyum tanpa kata.
"kenapa nggak jawab. gue takut banget tau nggak. gue takut elu kenapa-napa. bahkan saat gue memeluk elu, elu menghilang begitu saja"
"aku ini hanya berbentuk arwah, hal yang kamu takutkan tidak akan aku alami kecuali memang ada dukun sakti yang sengaja ingin melenyapkanku baru aku kenapa-kenapa" jawab Adam santai
"lalu yang malam itu apa. kenapa tiba-tiba elu menjadi seperti itu...?"
"kamu sangat menghawatirkan ku ya. aku senang kamu khawatir padaku. memang harus seperti itu kan sebagai seorang Adik harus khawatir kepada kakaknya"
"adik...?"
"iya. sepertinya umur aku itu lebih tua daripada kamu. yang lebih muda memang di sebut adik kan.. ?"
"cih, emang iya. tapi kelakuan terbalik. malah tiap hari gue yang harus jadi kakak. elu manjanya melebihi anak kecil" cibir El
"ya sudah kalau begitu kita balik saja. aku yang jadi adik dan kamu yang jadi kakak"
"lagi pula manja-manja gini kalau aku nggak ada kamu pasti rindu kan. buktinya nggak lihat aku semalam saja kamu langsung panik"
El tidak menjawab karena memang yang dikatakan hantu itu benar adanya. ia masih terbayang-bayang dengan kejadian malam itu, seketika hatinya diliputi rasa cemas dan khawatir.
"ada apa...?" Adam dapat melihat raut wajah cemas itu
"gue takut, takut banget saat melihat elu bersimbah darah. gue takut elu....elu akan pergi ninggalin gue" mata El nampak sudah berkaca-kaca. sekarang dirinya lah yang menjadi cengeng
Adam mengehela nafas dan beralih ke kasur duduk mendekat dengan El-Syakir.
"aku nggak kemana-mana, aku tetap di sini. dan jika nanti pun aku kemana-mana dan tidak kembali, aku akan selalu ada di sini" Adam menunjuk dada El dengan telunjuknya
"tapi untuk sekarang gue mohon, elu tetap di sini bersama gue"
__ADS_1
"iya" Adam mengangguk dan tersenyum