Petualangan Mistis

Petualangan Mistis
Episode 177


__ADS_3

ratu Sundari yang tangannya dipegang oleh Adam, langsung membalikkan badan dan mendekatinya.


yang lain merasa senang pada akhirnya Adam sadar juga meski belum membuka mata namun mereka dapat mendengar suara rintihannya.


"kak Dirga" El-Syakir mendekati Adam


Adam membuka matanya dengan pelan, hal pertama yang ia lihat adalah wanita cantik yang sedang berdiri di sampingnya.


"mau kemana...?" tanya Adam kepada ratu Sundari


"kembali ke alamku" ratu Sundari menjawab lembut dengan senyuman


"tidak boleh" Adam menggeleng cepat


ia memaksakan diri untuk bangun. El-Syakir membantu kakaknya itu untuk bangun dan duduk. tubuh Adam bersandar di dada El-Syakir.


"ratu tidak boleh pergi" Adam menggenggam erat tangan ratu Sundari


sementara Melati, gadis itu terdiam membisu begitu melihat Adam yang menahan ratu Sundari. ia menatap tangan keduanya yang saling menggenggam, dapat ia lihat kalau ratu Sundari menatap teduh ke arah Adam.


"aku harus kembali" ucap ratu Sundari


"tidak, aku tidak mengizinkan" Adam tetap tidak mengizinkan wanita itu pergi


Senggi mendekat ke arah ratu Sundari dan membisikkan sesuatu di telinga sang ratu.


"sepertinya dia kembali mengingatmu ratu" bisik Senggi


"apa iya" ucap ratu Sundari dengan berbisik pula


"aku tidak mengizinkan kamu pergi, tidak mau" Adam menggeleng dan menarik tubuh ratu Sundari. pinggang ramping wanita itu ia peluk dengan erat


"kenapa Adam seperti itu, apa dia sudah mengingat lagi ratu Sundari...?" Leo berbisik di telinga Vino


"mana gue tau" Vino mengedikkan bahu


ratu Sundari melihat ke arah Melati, gadis itu hanya terpaku dengan mulut tekatup rapat. kemudian ratu Sundari melihat ke arah pak Zainal yang sejak tadi memperhatikan dirinya dan Adam. laki-laki baya itu memberikan hormat kepada ratu Sundari dengan menundukkan kepala sejenak kemudian mengangkatnya lagi.


"kak, kita harus mengobati luka kakak" ucap El-Syakir


"biar ratu yang mengobatiku" jawab Adam. ia melepaskan pelukannya di pinggang wanita itu dan mendongakkan kepala ke atas


"kenapa...?" tanya Adam dengan mata yang penuh kelembutan


"kenapa apa...?" timpal ratu Sundari


"kenapa berbuat seperti itu, kenapa kamu cabut ingatanku tentangmu. kenapa...?" Adam menuntut penjelasan


(bagaimana bisa dia mengingatnya) ratu Sundari tentu saja kaget. bagaimana bisa Adam kini mengingat dirinya lagi


"aku tidak mengerti maksud kamu" ratu Sundari mencoba mengelak


Adam menghela nafas panjang kemudian bergeser menjauh dari ratu Sundari. El-Syakir masih tetap setia berada di samping Adam.


"jika tidak ingin lagi bersamaku maka cukup katakan saja, tidak perlu menghilangkan ingatanku tentangmu. jika memang ratu sudah tidak mempunyai perasaan apapun padaku, aku tidak akan memaksa"


"tapi maaf, saya bukan barang yang bisa dioper begitu saja kepada orang lain. saya bukan bola yang bisa sesuka hati ratu mengiringnya kepada orang lain"


"terimakasih untuk kebaikan ratu yang lagi-lagi telah menolong kami. satu hal yang ingin aku beritahu"


"aku.... sangat kecewa padamu ratu, begitu juga dengan dirimu Melati" Adam mengalihkan pandangan ke arah Melati yang menunduk tidak berani menatap Adam


"ayo El, kita pergi dari sini"


El-Syakir membantu Adam turun dari atas batu itu. Bara segera mendekat dan membantu El-Syakir untuk memapah Adam.


sementara itu, Deva dan Vino mencari sesuatu untuk bisa digunakan mengangkat tubuh pak Ujang yang tengah dalam keadaan skarat. Nisda dan Starla pun akan menganggap tubuh Wulan.


ratu Sundari menyiapkan mereka tandu. hanya dengan mengarahkan telapak tangannya ke tanah, benda itu sudah siap di samping pak Ujang dan Wulan.


"terimakasih ratu" ucap Vino dan wanita itu mengangguk


Vino dan Deva segera mengangkat tubuh pak Ujang dengan tandu dan berjalan menyusul yang lainnya, begitu juga Starla dan Nisda, mereka mengangkat tubuh Wulan di atas tandu.


"aku pernah mengatakan sebelumnya ratu bagaimana nanti Adam akan kecewa dengan sikap yang dulu ratu ambil dan sekarang hari itu ternyata tiba juga" Senggi memperhatikan tim samudera meninggalkan mereka

__ADS_1


"karena hubungan kami adalah hubungan terlarang Senggi. tidak ada manusia dan jin yang saling hidup bersama" ratu Sundari merasa bersalah


"Adam mungkin tidak akan bisa ikut bersama ratu di kerajaan karing-karing, tapi bukankah ratu bisa ikut bersama dia di alam manusia"


"tidak semudah itu Senggi"


"mudah jika kita menemukan tubuh ratu yang disembunyikan oleh Sri Dewi. hanya dengan kembali ke tubuhmu maka dirimu akan sama seperti mereka semua"


"sudah berpuluh-puluh tahun lamanya Senggi, dan bahkan sampai sekarang aku tidak pernah bisa menemukan tubuhku"


"kalau begitu kita mulai melakukan pencarian lagi. bagaimana kalau kita meminta tolong kepada mereka untuk membantu kita"


"mereka siapa maksudmu...?"


"anak-anak itu"


"masalahku biarlah menjadi urusanku Senggi, aku tidak ingin melibatkan siapapun"


"kalau begitu ratu akan benar-benar kehilangan Adam"


"sudah sejak dulu aku telah kehilangannya"


"lebih tepatnya ratu sendiri yang sengaja melepaskannya. lihatlah bahkan kini ia begitu kecewa padamu. bagaimana bisa Melati mengambil hatinya jika sudah begini keadaannya"


ratu Sundari menarik nafas dan terus memperhatikan Adam yang dipapah oleh El-Syakir dan Bara. mereka semakin menjauh dari keduanya.


"apa iya aku masih bisa menemukan tubuhku" gumam ratu Sundari


"lacak saja keberadaannya dimana Sri Dewi menyembunyikannya"


"sudah sejak dulu aku lakukan namun yang aku lihat hanya kegelapan"


"tabir penghalang yang dibuat wanita itu begitu kuat sampai penglihatan ratu tidak bisa untuk menembusnya"


"aku penasaran Senggi, kenapa bisa Adam kini mengingat aku lagi. padahal aku tidak membuka kembali ingatannya"


"ratu, manusia yang hilang ingatan saja pasti ada saat dimana masa lalu yang pernah ia lalui terlintas di dalam pikirannya. di situlah mereka akan mengira bahwa ingatan itu adalah kehidupan yang pernah mereka alami di masa lalu"


"mungkin itu juga yang pernah Adam alami. ada saat dimana kenangan yang pernah kalian lalui tiba-tiba saja terlintas dalam ingatannya sehingga ia berusaha keras untuk mengingat ada hubungan apa ratu dengan dirinya. kemudian hari inilah ingatan itu benar-benar ia ingat"


"darimana kamu tau semua itu...?"


ratu Sundari tidak lagi menjawab. ia kemudian mengajak Senggi untuk meninggalkan tempat itu. namun Senggi tetap menatap lurus ke depan dimana tim samudera sudah tidak terlihat lagi.


"akan aku urus semuanya" ucapnya sebelum akhirnya menghilang menyusul ratu Sundari


tim samudera kini telah tiba di ujung desa Boneng. Adam yang begitu kesakitan membuat mereka semua harus menghentikan perjalanan dan beristirahat di belakang desa Boneng.


"minumlah ini kak" El-Syakir mengambil ramuan yang ratu Sundari berikan untuknya tadi


"apa ini...?" tanya Adam


"obat untuk menetralisir racun di dalam tubuh kakak. minumlah" El-Syakir membawa ramuan itu ke dalam mulut Adam. Adam meminumnya sampai habis.


awalnya semuanya baik-baik saja, namun beberapa menit kemudian tubuh Adam begitu kesakitan hingga akhirnya ia memuntahkan darah. dari muntahnya itu, keluar beberapa belatung.


"astaghfirullah, ngeri banget" Starla bergidik ngeri


"seperti santet saja" ucap Nisda


"untungnya ada ramuan ratu Sundari" ucap El-Syakir


"beri dia minum" ucap pak Zainal


Alana mengambil persediaan air minum mereka dan memberikannya kepada Adam. bagai orang yang begitu kehausan, Adam meminum air itu dengan tergesa-gesa.


"pelan-pelan kak" Alana melap baju Adam yang basah


"kita lanjutkan perjalanan, di rumah dia bisa beristirahat dengan tenang" ucap pak Zainal


semua orang setuju. El-Syakir menggendong Adam di punggungnya. mereka tidak bisa lagi memapahnya karena tubuh Adam yang sudah begitu lemah tanpa tenaga untuk bisa berjalan.


mereka pulang saat sudah mendekat malam. matahari mulai tenggelam menyisakan sinar kuning di langit sana.


semua orang belum ada yang berani membuka pintu rumah mereka. obor-obor tetap mengelilingi setiap rumah warga desa Boneng.

__ADS_1


kini mereka semua telah tiba di lorong. halaman rumah pak Firman telah terlihat di naungi beberapa pohon kelapa.


setelah sampai di depan rumah, pak Zainal segera mengucapkan salam.


"ada yang mengucapkan salam pak Firman" pak Samsul memberitahu pemilik rumah


"siapa...?" tanya pak Firman


"aku juga tidak tau, coba kita lihat" pak Samsul akan beranjak namun ditahan oleh pak Banu


"biar aku yang lihat, kalian di sini saja" ucap pak Banu


para istri mereka berada di dapur untuk menyiapkan makan malam sementara mereka berada di ruang tengah.


pak Banu bergegas ke ruangan tamu dan mendekat jendela mengintip dibalik tirai.


"Allahu Akbar, mereka pulang" suara pak Banu memberitahu kedua bapak-bapak tadi


pak Firman dan pak Samsul bergegas ke depan. pak Banu sudah membuka pintu. laki-laki itu segera menyongsong anaknya yang masih berada di atas tandu.


"masuk masuk, cepat masuk" pak Firman mengarahkan mereka semua untuk masuk ke dalam rumah


bergegas semuanya masuk ke dalam dan pak Firman langsung menutup pintu serta menguncinya.


semuanya diarahkan ke ruang tengah. Adam, Wulan di baringkan di tikar begitu juga dengan pak Ujang. Seil dan Zahra segera keluar dari kamar setelah mendengarkan ribut-ribut di ruang tengah.


"kak Deva" Zahra berlari ke arah Deva dan memeluknya dengan erat


"Zahra bahagia sekali, kakak bisa pulang" Zahra menangis


"udah jangan nangis, kakak baik-baik saja" Deva mengelus punggung adiknya itu


Seil pun ikut memeluk Deva. ia bersama Zahra sangat mengkhawatirkan keadaan mereka semua.


ibu Nurma yang baru saja datang dari arah dapur bersama dua ibu lainnya segera mendekati Deva dan memeluknya dengan erat. sementara ibu Murni mendekati Wulan dan menangisi keadaan putrinya itu. Amran pun ikut menangis di samping Wulan.


"syukur Alhamdulillah kalian semua pulang dengan selamat" pak Samsul begitu lega


"tapi kenapa bisa ada pak Ujang...?" tanya ibu Nurul yang melihat pak Ujang terluka parah


"dia adalah biang kerok dari semua ini bu. paman Ujang bersekongkol dengan Kuntilanak merah untuk mencari tumbal. Deva, Adam dan Wulan akan dijadikan tumbal olehnya, untung saja pak Zainal dan yang lain datang menyelamatkan kami" terang Deva menjelaskan kejadian yang sebenarnya


"astaghfirullah, pak Ujang melakukan itu semua...? ibu Nurma sama sekali tidak percaya


"padahal paman Ujang orangnya baik sekali" timpal Zahra


"dia sekarang dalam keadaan skarat" pak Zainal duduk di samping pak Ujang. mata laki-laki itu melotot ke atas, mulutnya ingin mengatakan sesuatu namun begitu sulit dan tidak bisa


"dia dalam keadaan sakaratul maut" lanjut pak Zainal


"Allah, Ujang" pak Firman begitu prihatin dengan keadaan laki-laki itu


pak Zainal membimbing pak Ujang untuk mengucapkan dua kalimat syahadat, namun sayangnya pak Ujang sama sekali tidak bisa mengucapkan kalimat itu.


"astaghfirullah, ya Allah" pak Banu begitu miris melihat pak Ujang


tim samudera serta yang lainnya begitu tidak tega melihat penderitaan yang dialami pak Ujang.


pak Zainal terus membisikkan kalimat syahadat di telinga pak Ujang agar laki-laki itu bisa mengikutinya. dengan terbata pak Ujang berusaha keras untuk mengikuti ucapan pak Zainal. nafasnya sudah berada di tenggorokan, hingga kemudian tubuhnya terangkat ke atas. pak Ujang kejang-kejang seperti ayam di sembelih kemudian nafasnya terputus satu kali.


"innalilahi wainnailaihi Raji'un" semua orang mengucapkan belasungkawa


pak Zainal menutup mata pak Ujang dengan tangan kanannya. kedua tangan laki-laki itu di simpan di atas perutnya. ibu Nurma mengambil kain panjang di dalam kamar untuk menutupi mayat pak Ujang.


selepas sholat magrib, pak Samsul mengumumkan kematian pak Ujang kepada warga desa. kentongan yang ada di pos ronda langsung dipukul dengan lama sebagai pertanda bahwa warga desa harus keluar rumah. malam itu juga pengumuman penting pun di umumkan bahwa kini desa Boneng telah aman dari gangguan arwah-arwah gentayangan yang selalu meneror mereka semua.


sujud syukur mereka panjatkan kepada sang pencipta. akhirnya malam itu adalah hari kebebasan untuk semua warga desa Boneng. tentu saja mereka sangat bersuka cita, kini desa itu telah aman dari gangguan makhluk gaib yang ada di hutan belakang desa Boneng.


meski terbesit tanda tanya besar di benak mereka bagaimana bisa dan siapa yang menyelamatkan desa mereka, mereka tetap percaya kepada pak Samsul apalagi setelah laki-laki itu menyebut nama pak Zainal. ia menerangkan bahwa laki-laki itu yang telah menolong mereka semua. tentu saja para warga percaya karena mereka tau siapa pak Zainal.


satu persatu warga desa pergi melayat ke rumah pak Firman. karena pak Ujang sudah tidak mempunyai sanak saudara, maka pak Firman serta keluarga yang akan mengurus jenazah pak Ujang.


para ibu-ibu menyiapkan makanan di dapur. perempuan tim samudera ikut membantu sementara bapak-bapak dan laki-laki tim samudera sedang mengaji di ruang tengah.


Adam dan Wulan di pindahkan ke dalam kamar karena tidak mungkin membiarkan keduanya terbaring di ruang tengah yang kini dipenuhi oleh banyak orang.

__ADS_1


saat ini kondisi Adam sudah mulai membaik setelah meminum ramuan dari ratu Sundari. ia kini sedang tidur dengan pulas di dalam kamar Deva yang ditempati untuk mereka laki-laki.


sementara Wulan berada di dalam kamar Zahra yang kini sedang dijaga oleh Amran adiknya.


__ADS_2