Petualangan Mistis

Petualangan Mistis
Episode 188


__ADS_3

Furqon mendekati Deva dan duduk di sampingnya. partner sekaligus anak angkat Burhan Sanjaya itu kini sedang terlelap tidur setelah tadi dokter Amelia memberikan obat penenang kepadanya.


"dia akan baik-baik saja kan...?" tanya Furqon kepada keempat pengawal yang kini masih mengawasi keduanya dari kamera yang ada di kacamata Furqon


"dia akan baik-baik saja, lukanya juga tidak parahkan" Randi menjawab


"demi menebus kesalahannya dulu, dia rela melakukan hal berbahaya seperti ini" ucap Pram yang sedang memperhatikan Deva di layar laptop milik Helmi


"oke, sudah selesai. data kalian berdua telah selesai aku tangani. Nabil Pramana, seorang anak yatim-piatu yang kini bekerja di sebuah cafe melodi cafe" Helmi menjelaskan data baru yang akan diperankan oleh Deva nantinya


"ya ampun Hel, apa nggak ada yang lain apa selain menjadi anak yatim-piatu, sedih banget" ucap Furqon


"nggak usah komplen deh, sekarang dengarkan identitas baru kamu. Abimana Aryasatya, seorang pemilik bengkel di tengah kota dan juga seorang mahasiswa jurusan komunikasi di kampus ternama kota S. Abimana atau biasa dipanggil Abi, adalah mahasiswa semester akhir yang akan hampir di DO"


"oh my God, ini menjatuhkan harga diri aku nih identitas. aku aja lulusnya cumlaude, kenapa sekarang malah mau di DO. nggak bisa, aku nggak mau. ganti ganti, yang keren dikit kek" Furqon protes dengan identitas barunya


"apa yang perlu di ganti...?" Gibran tanpa sepengetahuan Furqon sudah berada di belakangnya. Furqon terlonjak kaget dan melompat ke atas ranjang


"ya ampun, kamu mengagetkan saja. beri salam kek kalau masuk" Furqon mengelus dadanya karena terkejut


"ini rumahku, terserah aku mau masuk teriak-teriak atau diam" Gibran menjawab dingin dan melangkah mendekati Deva


"apa yang perlu diganti...?" Gibran melihat Furqon dengan tatapan seperti mengintimidasi


"emm, anu... pakaian yang kakakku pesan online tidak sesuai dengan kenyataan jadi aku suruh kakak aku untuk mengganti uang yang aku telah keluarkan" Furqon mengangkat hp-nya dan menunjukkan bahwa dirinya sedang menelpon dengan seseorang


"halo Abi, kamu masih dengar kakak kan...?" Ardi yang ternyata dihubungi oleh Furqon langsung mengambil peran saat temannya itu dicurigai oleh Gibran


"masih kak. pokoknya aku tidak mau tau, kakak harus ganti uang aku kalau nggak aku nggak mau pulang" ancam Furqon kepada Ardi


"ya ya ya, nanti kakak ganti uangmu. ya sudah kakak tutup dulu telponnya, ada pelanggan yang datang"


klik


Ardi langsung mematikan panggilan sementara Furqon menyimpan kembali hp-nya di saku celana.


"aku akan keluar, kamu tetap di sini atau aku antar kalian pulang"


"teman aku masih sakit loh, masa mau diantar pulang" Furqon malah ikut berbaring di samping Deva


"terserah kamu saja" Gibran melangkah ingin keluar namun Furqon bangun dan mengatakan sesuatu


"aku sebenarnya sedang mencari seseorang" ucap Furqon


Gibran kembali membalikkan badannya dan menatap Furqon dengan penuh selidik"


"seseorang siapa...?" tanya Gibran


"pemimpin Sanjaya grup, apa kamu tau tentang dia. aku punya dendam yang harus diselesaikan. kalau tidak salah namanya adalah Zidan Sanjaya" Furqon memasang wajah yang serius


"Zidan Sanjaya...?" tanya Gibran


"iya, apakah kamu tau dimana dia tinggal. aku ingin menemuinya dan memberinya pelajaran karena telah membuat hidupku menderita" Furqon mengepalkan tangannya dengan erat


Gibran baru hendak menjawab namun ketukan pintu terdengar. segera ia meninggalkan Furqon dan menuju ke ruang tamu.


"apakah tadi aktingku meyakinkan...?" tanya Furqon kepada teman-teman pengawalnya


"bagus, pokoknya kamu harus bisa mendekatinya dan buat dia percaya padamu" ucap Randi


ceklek


Gibran membuka pintu, seorang laki-laki memakai topi dan kacamata serta masker berdiri tepat di depannya, ia memegang dua kantung kresek di kedua tangannya.


"cari siapa...?" tanya Gibran


"maaf mas, ini paket makanan yang anda pesan" ucapnya sopan


"makanan...? tapi saya tidak memesan makanan"


"tapi alamat yang tertera saya harus membawa di alamat ini mas"


Gibran keheranan karena dirinya merasa tidak memesan makanan. saat itu Furqon yang baru saja keluar dipanggil oleh Gibran.


"kamu, kemari" panggil Gibran


"namaku Abimana, panggil Abi saja" ucap Furqon yang melangkah mendekati Gibran


"kamu memesan makanan...?" tanya Gibran


"makanan...?" Furqon pun terlihat kebingungan


"aku...."

__ADS_1


laki-laki yang berdiri didepan mereka itu mengangkat kepala dan mengedipkan mata kepada Furqon. hal itu membuat Furqon terbatuk sementara Gibran menaikkan satu alisnya.


"emm iya, aku memesan makanan tadi saat sebelum menolong kamu menghadapi para preman-preman itu" Furqon beralih melihat Gibran


"kak Fur"


"yaaaaa ampun dek" Furqon langsung memeluk El-Syakir dan berbisik di telinganya


"tuan muda kenapa bisa ada di sini. panggil aku Abi, Abimana" bisik Furqon


laki-laki yang menjadi pengantar makanan itu adalah El-Syakir. dengan penampilannya sekarang ini Furqon hampir tidak mengenalnya. untungnya El-Syakir memberikan kode padanya sehingga Furqon langsung peka.


"dia adikmu...?" tanya Gibran


"iya, dia adik aku. dia boleh masukkan...?" Furqon tanpa mendengar jawaban dari Gibran langsung membawa El-Syakir masuk ke dalam


"manusia dari planet mana sih mereka ini" Gibran benar-benar kesal dengan sikap tamu yang ia terima hari ini


drrrttt.... drrrttt


bos


halo, kamu dimana


Gibran


saya di rumah bos, ada apa


bos


datang ke sini sekarang juga


Gibran


baik bos


Gibran mematikan panggilan dan memasukkan hp-nya ke kantung celananya. ia menghampiri Furqon dan El-Syakir yang berada di ruang tengah.


"saya harus pergi" ucap Gibran


"tidak mau makan dulu...?" Furqon menawarkan makanan yang dibawakan oleh El-Syakir


"tidak terimakasih. selama saya pergi, jangan menyentuh barang apapun" Gibran mengingatkan mereka dengan suara dinginnya


"boleh aku ikut. aku sedang mencari pekerjaan, aku lihat kamu adalah seorang bos dari pakaian mu yang rapi dan bagus" ucap El-Syakir


(mampus) Furqon menganga dengan hal nekat yang dilakukan oleh El-Syakir


"siapa dia...?" Helmi bertanya kepada Furqon


"dia tuan muda El-Syakir" Furqon berbicara sangat pelan


"ya ampun, apa yang harus kita lakukan sekarang" Pram panik seketika


"ini pasti rencana anak-anak itu. tidak apa-apa kita ikuti saja arusnya, Furqon jangan diam saja... lakukan sesuatu" ucap Helmi


sementara tim samudera sedang memantau dari jarak yang cukup dekat dengan rumah Gibran. lensa mata yang dipakai oleh El-Syakir dapat menampilkan apa yang dilihatnya di laptop Leo.


"harusnya Le, dari tadi bergerak seperti ini" ucap Bara


"berkedip juga El, nanti mata lu sakit" ucap Leo memperingati El-Syakir


"kenapa malah nekat akan ikut, kalau Baharuddin tau dia adalah El-Syakir bagaimana ini" Adam panik dan khawatir


"aku punya ide agar dia tidak diketahui oleh Baharuddin dan ratu Sri Dewi" timpal Melati


"caranya...?" tanya merasa semua


"hanya ratu Sundari yang bisa membantu kita" jawab Melati


"El, jangan ikut dia sekarang. nanti saja setelah kita membuat kamu benar-benar tidak diketahui oleh Baharuddin dan ratu Sri Dewi" ucap Melati dan tentu saja El-Syakir mendengarnya


"saya tidak mempunyai pekerjaan untukmu" jawab Gibran melewati El-Syakir


"apa saja, pekerjaan apa saja yang penting saya bisa bekerja" ucap El-Syakir lagi


"Syakir, misi kita itu mencari keberadaan Zidan Sanjaya bukannya mencari pekerjaan" Furqon mulai mengambil peran


"bagus Fur" Randi memuji


"sebenarnya apa hubungan kalian dengan Zidan Sanjaya...?" Gibran kembali berbalik


"orang yang harus aku lenyapkan" Furqon tersenyum menyeringai memperlihatkan bahwa di dalam dirinya ada dendam dan kekejaman

__ADS_1


"kak Furqon seram juga senyum seperti itu" ucap Starla


bos : cepat datang dan urus wanita ini


Gibran membaca pesan yang masuk di hp-nya. tanpa berpamitan ia pergi begitu saja meninggalkan Furqon dan El-Syakir. setelah kepergian Gibran, Furqon terduduk lemas di sofa.


"tuan muda, kenapa bisa tuan muda berada di sini" tanya Furqon


"aku ingin ikut dalam menjalankan rencana kak" jawab El-Syakir


"tapi itu berbahaya untuk diri tuan muda sendiri. anak pemimpin dari perusahaan besar Sanjaya grup sudah di tau oleh Baharuddin dan tentunya orang tadi pun pasti sudah mengenal tuan muda. untungnya wajah tuan muda masih memakai masker"


"Furqon, ajak El-Syakir keluar. kita bertemu di tempat yang sepi" ucap Helmi memerintah


Furqon menghela nafas dan memberitahu El-Syakir bahwa mereka dipanggil oleh para pengawal Sanjaya grup.


tim samudera pun ikut dalam pertemuan itu, tentu saja mereka tidak ingin melewatkan sedikitpun waktu yang terjadi.


"kita sudah sepakat Furqon dan Deva yang akan melakukan peran ini, kenapa kalian malah ikut-ikutan" Pram bersidekap menatap satu persatu tim samudera


"aku khawatir dengan kak Deva paman. biar aku saja yang menggantikan peran kak Deva" ucap Adam


"tidak bisa, Baharuddin jelas-jelas mengenal wajahmu...tuan muda bisa dibunuh untuk kedua kalinya" Randi tidak setuju


"tapi kali ini aku akan melawannya paman"


"dia licik dan kejam tuan muda, kami tidak mungkin mengorbankan nyawa tuan muda untuk menjadi incarannya laki-laki iblis itu" timpal Helmi


"pakai cara yang dikatakan Melati saja agar Adam tidak diketahui oleh Baharuddin" ucap Vino


"cara...? cara yang seperti apa maksudmu...?" tanya Ardi kepada Vino


"kak Deva sedang terluka, jelas dia tidak mungkin untuk mengambil peran berbahaya ini. aku akan menggantikan kak Deva. paman tidak perlu khawatir, aku akan baik-baik saja dan tidak akan dikenal oleh Baharuddin" Adam meyakinkan para pengawal itu


"tapi El-Syakir sudah terlanjur dilihat oleh Gibran. nanti dia akan curiga jika satu persatu kita muncul dan saling mengenal" timpal Furqon


"kalau begitu lakukan dengan cara terpisah saja. kak Furqon dan El-Syakir tetap berperan sebagai adik kakak, sementara Adam menjadi orang lain yang tidak mereka kenal" ucap Nisda


"kalau tuan muda Dirga dan tuan muda El-Syakir ikut, rencana kita akan ketahuan. mereka berdua adalah anak dari pemimpin Sanjaya grup, jelas wajah keduanya telah di ketahui" ucap Furqon mencoba memberitahu konsekuensi yang akan mereka terima jika Adam dan El-Syakir mengambil peran


"tidak, kami janji tidak akan ketahuan. percaya saja kepada kami semua. paman Helmi dan yang lainnya cukup mengawasi kami saja. urusan permak wajah akan kami urus sendiri" ucap Adam begitu yakin


"bagaimana Ran, Pram...?" Helmi menanyakan keputusan kedua sahabatnya itu


"kalau aku setuju dengan usulan tuan muda Dirga" Ardi yang menjawab


laki-laki itu jelas sudah tau bagaimana tim samudera, mereka melakukan sesuatu hal yang pastinya sudah dipertimbangkan secara matang dan benar-benar yakin.


"tapi kalau kali ini kalian gagal, kita akan semakin jauh dari harapan untuk menemukan Vania" Randi menatap mereka semua


"kami akan melakukan yang terbaik paman" ucap El-Syakir meyakinkan


huufffttt


Helmi menghela nafas, Pram memijit pelipisnya sedang Randi menundukkan kepalanya. keputusan harus merasa ambil dan tidak boleh ceroboh.


"baiklah, kami akan terima kalian berdua" ucap Helmi


"Hel, kamu yakin...?" Pram masih mempunyai keraguan


"kita akan selalu berada di dekat mereka Pram" ucap Helmi


"Ran" Pram meminta pendapat kepada Randi


"apa boleh buat, kita sudah sejauh ini jadi terima saja. tapi ingat, kalian tidak boleh ketahuan. mengerti" Randi menatap Adam dan El-Syakir bergantian


"mengerti Paman" jawab keduanya


keputusan telah diambil, Adam dan El-Syakir serta Furqon akan berusaha masuk ke lingkaran Baharuddin sementara Deva akan diberhentikan karena keadaannya yang memang tidak memungkinkan untuk melanjutkan perannya.


hari itu sebelum Gibran pulang, tim samudera ke suatu tempat untuk membuat Adam dan El-Syakir tidak akan diketahui oleh Baharuddin dan ratu Sri Dewi.


sesuai perkataan Melati, mereka mendatangi ratu penguasa hutan timur, ratu Sundari. mereka semua memerlukan bantuan wanita cantik itu untuk membuat Adam dan juga El-Syakir tidak dikenal oleh para musuh mereka.


dengan semangat yang begitu besar dan keinginan untuk menangkap Baharuddin dengan tangannya sendiri, Adam begitu bersemangat untuk menemui pujaan hatinya, ratu Sundari.


El-Syakir pun begitu antusias melakukan tugasnya kali ini. dia ingin sekali melihat secara langsung laki-laki yang telah membunuh ibunya hingga dirinya tidak lagi dapat melihat wanita yang dipanggilnya bunda itu untuk selamanya.


kematian bunda Ayu, menanamkan luka di hati El-Syakir. berpisah dari umur empat tahun dan tidak pernah bertemu sampai ia bertemu lagi dengan kakak kandungnya namu. sayangnya dirinya tidak dapat lagi bertemu dengan ibunya karena ulah Baharuddin Sanjaya yang membunuh bunda Ayu dan Burhan.


(lihat saja Baharuddin, aku akan membuat kamu menderita disaat kamu akan sakaratul maut. penderitaan mu akan lebih pedih dari apa yang bundaku alami) batin El-Syakir dengan amarah yang menggebu


sementara Adam, dalam pikirannya dia ingin cepat bertemu Baharuddin. dendam empat tahun silam masih terus membara sampai sekarang.

__ADS_1


__ADS_2