
sudah tiga jam mereka menunggu di depan ruang IGD dan sampai sekarang dokter yang menangani Zidan belum juga keluar.
Pram bahkan tidak sempat untuk mengganti pakaiannya yang penuh dengan darah sahabatnya di dalam ruangan sana. ia tidak peduli dengan keadaannya sekarang ini.
Randi, Helmi serta Ardi pun sampai sekarang belum memberikan kabar. ketiga pengawal itu sampai sekarang belum kembali dari pengejaran yang mereka lakukan.
di rumah besar keluarga Sanjaya, ibu Arini di temani oleh Thalita, Mita dan Sisil serta pengawal yang menjaga ketat rumah tersebut. untuk sekarang keadaan mereka benar-benar tidak aman, bisa saja serangan datang kapan saja tanpa mengenal waktu.
"Allahuakbar Allahuakbar"
suara kumandang azan terdengar dari masjid yang tidak jauh dari rumah sakit. berjam-jam mereka menunggu namun dokter belum juga keluar, akhirnya mereka memutuskan untuk melaksanakan kewajiban mereka. dengan meminta pertolongan kepada yang Maha Kuasa, berharap Zidan dapat selamat.
mereka semua menuju ke masjid yang berjarak hanya beberapa meter dari rumah sakit. Pram mengganti pakaiannya dengan pakaian bersih yang ada di dalam mobilnya.
di dalam sholatnya, Adam begitu khusyuk menjalankan kewajibannya. lepas sholat, mereka semua berdoa. Adam mengangkat tangannya dan meminta keselamatannya untuk satu-satunya paman yang selama ini ada untuknya.
"tolong selamatkan paman Zidan ya Allah, jangan ambil dia dariku. aku belum sanggup untuk kehilangan lagi" dengan air mata yang berlinang, Adam meminta keajaiban kepada Tuhan
"wahai dzat yang maha menyembuhkan dan menghidupkan, aku memohon Engkau selamatkan paman Zidanku. selamatkan hidupnya seperti dulu Engkau menyelamatkan hidupku"
"dan beri aku kekuatan untuk menumpaskan kedzaliman yang telah meluluhlantakkan keluargaku. beri aku jalan agar semua pertumpahan darah ini akan aku akhiri dengan tanganku sendiri"
"tolong ya Allah, tolong..... tolong jangan ambil paman Zidan, tolong selamatkan hidupnya, selamatkan ia"
Adam menutup wajahnya dengan kedua tangannya, ia menangis dalam doanya berharap sang pemilik kehidupan dapat mengabulkan doanya.
Adam menghapus kasar air matanya dan membuka matanya, saat itu juga ia melihat di luar sana yang masih terlihat di jendela masjid, seorang wanita cantik sedang berdiri memperhatikan dirinya.
ia begitu mengenal siapa wanita itu namun Adam belum keluar dari tempat yang suci itu, ia masih menenangkan dirinya ditemani semua tim samudera sementara ayah Adnan, Pram dan Ardi kembali ke rumah sakit.
"kak Dirga" panggil El-Syakir
"hum" jawab Adam dengan begitu lesu. ia kembali melihat ke arah luar dimana wanita tadi berdiri namun wanita cantik itu sudah tidak berada di sana
"kakak mencari siapa...?" tanya El-Syakir
(apa aku hanya berhalusinasi saja ya) batin Adam
"dam" Leo menepuk bahu Adam
"ya...?" Adam segera memutar kepalanya kembali untuk menghadap ke mereka
"liatin apa sih, dari tadi elu celingukan seperti mencari seseorang" ucap Leo
"nggak, aku nggak mencari siapa-siapa. kita kembali ke rumah sakit, mungkin saja paman Zidan sudah selesai di operasi" Adam beranjak
mereka semua meninggalkan masjid menuju kembali ke rumah sakit. saat tiba, memang benar Zidan telah selesai di operasi dan kini laki-laki itu sedang berada di ruangan ICU dalam keadaan koma.
dokter menyarankan agar mereka melihat Zidan bergiliran, hanya satu orang yang dapat masuk setelah itu baru yang lain lagi.
pertama yang masuk adalah ayah Adnan. laki-laki baya itu begitu terpukul melihat keadaan Zidan yang kini tengah menutup mata seperti seseorang yang sedang tidur. tidak terasa ayah Adnan mengeluarkan air matanya.
"kami menunggu mu sadar, cepatlah bangun" ayah Adnan menghapus air matanya kemudian keluar
kini giliran Pram yang masuk. melihat keadaan sahabat sekaligus bosnya itu yang terbaring tidak berdaya, hati Pram hancur berkeping-keping. sejak dulu mereka terus bersama, dari masa sekolah hingga kini mereka telah menikah, baik Pram, Zidan dan Randi pun masih terus bersahabat sampai sekarangpun hingga anggota mereka bertambah satu orang lagi yaitu Helmi.
"kami janji, akan mencari Vania dan anak kamu dan membawa mereka kembali padamu" Pram memegang tangan Zidan
setelah Pram keluar kini giliran Deva dan Adam yang masuk. sebenarnya Deva yang lebih dulu untuk masuk namun Adam bersikukuh untuk tetap ikut hingga akhirnya mereka berdua masuk ke dalam tanpa sepengetahuan dokter.
"paman" Deva memanggil lirih Zidan yang tentunya mungkin mendengarkan mereka di alam bawah sadarnya tapi tidak bisa menanggapi
"aku pulang paman, aku pulang" Deva duduk di samping ranjang Zidan, Adam berdiri di dekat Deva
"katanya, paman rindu dengan Deva. sekarang saat aku pulang kenapa paman malah tidur seperti ini" Deva menggigit bibirnya agar tidak mengeluarkan tangis namun ternyata pertahanannya runtuh juga, ia menangis memeluk tubuh yang lemah itu
Adam ikut menangis dan memeluk Deva, keduanya menumpahkan kesedihan yang teramat dalam karena keadaan orang yang mereka sayangi.
"Dirga janji paman, Dirga akan membalas semua penderitaan keluarga kita. dengan kedua tangan ini, Dirga akan membunuh laki-laki yang bernama Baharuddin itu" ucap Adam disela isak tangisnya
waktu yang mereka gunakan telah habis, kini giliran El-Syakir dan Alana yang masuk. sebagai perempuan tentu memiliki hati yang mudah untuk menangis. Alana langsung menumpahkan air matanya tatkala melihat keadaan Zidan. El-Syakir diam membisu namun tentunya dengan tangan yang terkepal dan mata yang memerah menahan tangis.
__ADS_1
pukul 17.00, mereka semua memutuskan untuk pulang karena meskipun berada di tempat itu mereka tidak bisa masuk ke dalam untuk menemani Zidan. dua orang pengawal datang ke rumah sakit untuk menjaga Zidan sesuai perintah dari Pram. pihak rumah sakit tidak mempermasalahkan hal itu karena ayah Adnan menjelaskan kejadian bahwa nyawa Zidan sedang diincar oleh seseorang itulah mengapa mereka memanggil pengawal untuk berjaga di ruangan ICU itu.
tim samudera tidak pulang ke rumah mereka melainkan ikut pulang ke rumah keluarga Sanjaya. saat mereka tiba, ibu Arini langsung menanyakan keadaan Zidan.
"bagaimana kondisi Zidan yah...?" tanya ibu Arini
saat ini mereka semua berada di ruang tengah. Mita mendekati suaminya dan mengelus pelan lengannya. ia tau bagaimana perasaan Pram saat ini. Pram tersenyum dan merangkul istrinya.
Sisil duduk bersama Azam, putranya sedang Thalita di samping mereka.
"dia koma" jawab ayah Adnan
"innalilahi" ibu Arini tentu saja kaget begitu juga Thalita, Sisil dan Mita
"lalu bagaimana dengan Vania yah...?"
"Pram, apa kamu tidak bisa menghubungi mereka" ayah Adnan bertanya kepada pengawal itu
"tidak bisa pak, tapi coba saya lacak keberadaan mereka. tapi saya butuh laptop" ucap Pram
"bu, tolong ambilkan laptop di ruangan kerja ayah" ayah Adnan meminta tolong kepada istrinya
"saya bawa laptop pak" Sisil segera mengambil laptop miliknya dan menyerahkan kepada Pram
Pram mulai bekerja, ia mencari keberadaan ketiga pengawal Sanjaya grup dengan melacak ponsel mereka. hanya beberapa menit ketiganya telah terlacak.
"dapat pak, mereka mengarah ke pelabuhan bagian utara" ucap Pram
"jangan-jangan tante Vania mau di bawa kabur dari kota ini" Bara berasumsi
"atau dibawa pergi dari negara ini melalui jalur perairan" timpal El-Syakir
"kurang ajar" Adam bangkit seketika ingin pergi namun Deva menahan dan mendudukkannya kembali
saat itu juga ponsel Pram berdering, Randi menghubunginya dan ia langsung mengangkat panggilan itu.
Pram
Ran bagaimana, kenapa kalian baru memberi kabar
Randi
Pram
baiklah, kalian semua hati-hati. kami akan menyusul ke sana
setelah mematikan panggilan, Pram mengumpulkan banyak pengawal dan menyuruh mereka ke pelabuhan utara, memblok jalan itu agar seseorang yang menculik Vania tidak bisa melarikan diri.
para pengawal yang dibayar mahal oleh Sanjaya grup langsung meluncur ke pelabuhan utara. sementara tim samudera serta yang lainnya pun ikut menyusul.
"sayang, kalian hati-hati di rumah. ada pengawal yang akan menjaga kalian" ucap Pram pada istrinya
"Thalita, aku percayakan mereka padamu" Pram melihat ke arah Thalita
"iya mas, pergilah. mereka akan berada di penjagaanku" jawab Thalita
semuanya meninggalkan rumah besar itu kecuali para istri dan juga Seil. gadis itu tidak memiliki kelebihan untuk bertarung maka dari itu Deva memintanya agar Seil tetap berada di tempat itu sampai mereka kembali.
"kak biar aku yang nyetir" ucap Adam
Deva melempar kunci mobil ke arah Adam dan mereka masuk ke dalam mobil. di mobil Adam ada El-Syakir, Deva, Melati dan juga Alana sementara sisanya berada di mobil Bara. Pram satu mobil dengan ayah Adnan dan juga Ardi.
mereka bergegas meninggalkan rumah dengan kecepatan tinggi. malam itu seperti orang yang melakukan balapan liar, Adam tidak tanggung-tanggung untuk menaikkan kecepatan mobilnya.
Bara pun melakukan hal yang sama. untungnya keduanya mahir dalam menyetir mobil sehingga mereka dapat dengan mudah menyalip kendaraan lain yang menghalangi jalan mereka.
"sayang, kita bukan pergi untuk menyetor nyawa ya. pelan-pelan" Nisda yang duduk di kabin tengah memperingatkan
"maaf yang, tapi kali ini aku nggak bisa membawa dengan santai. kita harus cepat sampai" tanpa menoleh sedikitpun, Bara tetap fokus pada tugasnya
"kalau perlu lebih cepat lagi Bar" timpal Vino
__ADS_1
"oke"
Bara semakin mempercepat laju mobilnya, membuat Nisda dan Starla tentu saja takut namun tidak bisa berbuat apa-apa karena memang saat ini mereka sedang berburu waktu.
para pengawal yang dikirim oleh Pram kini telah mengunci akses jalan yang menuju ke pelabuhan utara. sementara itu sebuah mobil hitam yang Randi, Helmi dan Furqon kejar terjebak di jalan itu. belakang dan depan sudah banyak pengawal yang turun dan memasang pistol mereka bersiap untuk menembak.
orang-orang yang melihat itu langsung menjauh dari tempat. mereka di alihkan ke jalan lain, diperbolehkan untuk lewat namun tidak dengan mobil yang berplat nomor xxxx.
mobil Bara dan Adam tiba setelah mobil Pram datang. mereka segera keluar dan melihat satu mobil yang berada di tengah-tengah mereka.
Deva, Adam dan El-Syakir maju untuk melihat siapa yang berada di dalam itu. tentunya mereka berada di belakang ketiga pengawal andalan Sanjaya grup.
"keluar dari mobilmu" ucap Helmi yang sudah bersiap dengan pistolnya
pintu mobil hitam itu terbuka, seorang laki-laki yang memakai topi hitam dan kacamata serta jaket kulit dan celana jeans, mengangkat kedua tangannya ke atas seperti seseorang yang sedang menyerahkan diri.
"periksa ke dalam Furqon" perintah Randi
Furqon maju ke depan mendekat mobil itu. Ardi pun ikut karena jangan sampai ada serangan mendadak dari dalam mobil. saat mereka membuka pintu mobil, tidak ada siapapun di dalam bahkan Vania pun tidak ada.
"tidak ada siapapun di dalam sini" ucap Furqon
"apa....? bagaimana bisa" mereka memeriksa dan benar saja di dalam mobil dan tidak ada seorangpun kecuali barang-barang yang entah apa fungsinya.
"BRENGSEK"
buaaaak
buaaaak
Adam kehilangan kendali, ia dengan brutal memukul laki-laki itu bahkan sampai tersungkur ke aspal jalan. Adam menginjak kepala laki-laki itu, matanya memerah menahan amarah dan emosi.
"kak" El-Syakir menjauhkan Adam dari laki-laki itu
"lepasin, aku ingin membunuh laki-laki bangsat ini" Adam memberontak namun ayah Adnan datang dan memeluknya
"jika kamu membunuhnya maka kita tidak akan bisa mendapatkan informasi darinya" ayah Adnan berucap pelan
barulah setelah itu Adam menenangkan dirinya namun tetap saja ia masih memberikan satu bogem mentah kepada laki-laki itu hingga hidungnya mengeluarkan darah.
"bajingan kau Baharuddin"
braaaakkk
Randi menendang mobil hitam itu kemudian mengambil kepala laki-laki itu dan menghantamkan kepalanya di spion mobil hingga keningnya berdarah.
laki-laki itu hanya terkekeh pelan diperlakukan seperti itu. Deva memicingkan matanya melihat sesuatu yang berada di bagian belakang leher laki-laki itu.
sesuatu yang kecil dan menyala berwarna merah, saat Deva mendekat ia tau apa sebenarnya benda itu.
"ASTAGA, MENJAUH DARI TEMPAT INI, CEPAT" teriakan Deva membuat semua orang kebingungan
"MENJAUH, ADA BOM DI TUBUHNYA" teriak Deva lagi
mendengar ada bom, semuanya seketika menjauh. mereka berlari menjauhi mobil itu sayangnya Adam di tahan oleh laki-laki itu dengan mencekik lehernya menggunakan lengannya.
"kak Dirga" teriak El-Syakir
"Adam" tim samudera berhenti seketika
"lepaskan dia bajingan" El-Syakir ingin maju namun Leo menahannya
"hahaha, kalian pikir Baharuddin sebodoh itu bisa kalian tangkap dengan mudahnya. bermimpilah saja" ucapnya tertawa dengan kerasnya
"Dirga" ayah Adnan mendekat, Pram menahannya
"ucapkan selamat tinggal kepada mereka semua" laki-laki itu tersenyum menyeringai dan kemudian
ddduuuaaaar
buuuuum
__ADS_1
"ADAAAAAAM"
"kak DIRGAAAAA