Petualangan Mistis

Petualangan Mistis
Episode 207


__ADS_3

setelah Zidan serta pengawalnya keluar kini di dalam kamar itu hanya ada tim samudera, Furqon, Bagas serta dokter Nathan.


"kalau kamu membencinya lalu kenapa waktu itu kamu menyelamatkannya memberikan penawar racun padanya" tanya Furqon setelah sekian detik mereka hanya diam tanpa bersuara


"bukan urusanmu" jawab Gibran dengan sikap dinginnya


"kita keluar saja. ngapain di sini menginterogasi orang yang tidak ingin memberikan jawaban. lebih baik kita cari sendiri saja dimana keberadaan Baharuddin, tanpa dia kita masih bisa bergerak" Leo akhirnya bersuara setelah sejak tadi ia hanya menjadi penonton


"ternyata kamu itu egois" ucap Vino dan seketika Gibran menatapnya dengan tajam


"kamu pikir dengan menatapku seperti itu akan membuat aku takut...? bahkan aku pernah melihat hal yang lebih mengerikan daripada tatapan mu itu. kamu pikir selama ini hanya dirimu yang yang menderita. paman Zidan pun juga begitu menderita. kehilangan orang tua yang dibunuh oleh ayahmu dan juga kehilangan kakaknya serta kakak iparnya karena ulah ayahmu juga. Adam, oh bukan. kamu kan tidak mengenal nama Adam. Awan, bahkan Awan kakak dari Syakir harus koma selam empat tahun, melawan maut yang hampir merenggut nyawanya. semua karena siapa...? karena ulah ayahmu" urat-urat leher Vino bahkan terlihat karena menahan kesal dan amarah namun tidak bisa ia keluarkan


"ayahmu yang membuat hidupmu menderita bukan paman Zidan ataupun keluarga Sanjaya lainnya. jika kamu mau membenci seseorang maka benci ayah mu saja, dia biang masalah dari semua ini. tapi sayangnya kebencian menutup mata hatimu hingga kamu tidak bisa melihat mana yang salah dan mana yang bukan" lanjut Vino lagi


"semoga kak Gibran cepat sembuh" ucap El


El-Syakir kini memanggil Gibran dengan panggilan kakak, bukan lagi panggilan bos. penyamaran mereka telah terbongkar dan juga karena bagaimanapun dia lebih tua dari mereka.


"ayo keluar" ucap Furqon


mereka semua meninggalkan tiga orang yang masih berada di dalam. Gibran hanya menatap kepergian mereka dengan wajah datar.


"Galang telah bersama mereka dan Anggun kini pun bersama mereka" ucap Bagas


"loh kenapa bisa istri ku bersama mereka" tanya Nathan


"mereka sudah tau kalau Galang adalah anak dari Zidan. untuk menyelamatkan Galang dan Anggun serta Gandhi, mereka dititipkan di keluarga Sanjaya. hanya di sana tempat yang aman untuk anak dan istrimu sekarang. saat ini Baharuddin pasti sedang mengincar kita semua" ucap Bagas


Nathan menghela nafas panjang, ia memijit pelipisnya dan kepalanya tiba-tiba saja terasa berdenyut. kini hidupnya tidak bisa lagi tenang seperti dulu.


"Gibran, simpan rasa egoismu itu sekarang. bukankah tadi Zidan sudah meminta maaf. kamu pun sudah tau bagaimana terpuruknya dia karena ulah ayahmu. seandainya aku ada di posisi dia, belum tentu aku akan setegar dia. memang benar apa yang dikatakannya, apa yang harus dilakukan anak remaja yang masih berusia 15 tahun, pastinya mentalnya terguncang karena kehilangan orang tua yang ternyata dibunuh oleh saudara kandungnya sendiri. dia juga tidak tau kalau selama ini Baharuddin mempunyai anak" ucap Nathan menatap Gibran yang sedang memejamkan matanya


"aku rasa dia tulus padamu. apa kamu tidak dengar kalau dia tetap menganggap kamu sebagai bagian dari keluarga Sanjaya karena kamu adalah keturunan dari keluarga itu. yang membunuh ibu dan adikmu adalah Baharuddin, bukan Zidan ataupun yang lainnya. rasa bencimu kali ini salah tempat" lanjut Nathan lagi


"apa yang dikatakan dokter Nathan ada benarnya Gibran, rasa bencimu saat ini salah tempat" timpal Bagas


Bagas merasa bahwa tidak seharusnya Gibran membenci Zidan yang sama sekali tidak tau permasalahan yang dialami olehnya, harusnya Gibran tidak menyamakan kelakuan Baharuddin dan Zidan yang sangat sangat jauh perbedaannya.


Gibran tidak bergeming, bahkan ia sama sekali tidak menjawab perkataan dokter Nathan dan Bagas. mungkinkah ia sedang merenungi apa yang keduanya katakan atau sedang memikirkan hal yang lain.


"kamu istirahatlah, aku ingin menemui Zidan" dokter Nathan bangkit dan melangkah keluar


di kamar rawat Vania, hanya tersisa Zidan dan para pengawal sementara laki-laki tim samudera telah pulang di suruh oleh Zidan.


cek lek


pintu kamar itu terbuka, semua orang melihat ke arah seseorang yang mengenakan jas putih dan kemeja abu-abu yang dimana kemeja itu sudah berdarah-darah. dia adalah dokter Nathan.


"apakah aku mengganggu...?" tanya dokter Nathan


"tidak, ada apa kemari...?" tanya Zidan


"aku ingin meminta alamat rumahmu, aku ingin menjemput istri dan anakku" jawab Nathan


"sebaiknya biarkan mereka di sana dulu. tidak ada tempat yang aman saat ini selain di kediaman Sanjaya. bukankah rumah kalian telah diketahui oleh Baharuddin" ucap Helmi


"tapi... aku tidak enak hati menumpang di rumah orang" ucap dokter Nathan


"tidak perlu cemas, kami tidak akan meminta bayaran. di sana ada istri-istri kami yang akan menjadi teman istrimu. tidak akan ada yang menyakitinya dan juga Baharuddin tidak akan berani mencari mereka ke sana" ucap Pram


tiba-tiba hp Helmi bergetar. ia merogoh hpnya dan melihat nomor yang tidak di kenal tertera di layar hpnya. sementara dokter Nathan mendekati Vania dan memeriksa kondisi wanita itu. meski di rumah sakit ini bukan dirinya yang bertindak menangani Vania namun dokter Nathan pernah menjadi dokter pribadi wanita itu saat Vania masih berada dalam pantauan Gibran.


Helmi


kurang ajar, apa mau mu. Helmi tiba-tiba berteriak, semua orang menatap ke arahnya


nomor tidak dikenal


berikan ponselnya kepada Zidan. ucap seseorang yang menghubungi Helmi


Helmi segera memberikan hpnya kepada Zidan. Zidan mengambil alih benda itu dan tidak lupa memperbesar suaranya.


Helmi


halo. ucap Zidan


nomor tidak dikenal


halo Zidan, apakah kamu mengenal suaraku


Helmi


mas Bahar


nomor tidak dikenal


hahaha, rupanya suaraku begitu melekat di memori kamu ya


Helmi segera duduk di dekat Zidan dan membuka laptopnya. ia ingin melacak dimana keberadaan orang yang menghubungi mereka itu.


Helmi


apa maumu mas


nomor tidak dikenal


pertanyaan yang bagus. kamu tau apa yang aku mau. pikirkan baik-baik, jika tidak maka siap-siap mendengar berita perusahaan Sanjaya grup meledak dan hancur lebur bersama semua orang yang ada di dalamnya. rumah sakit tempat kalian berada akan ikut hancur. dan satu lagi.... dengarkan suara siapa ini


"paman... jangan turuti kemauannya" suara Adam terdengar

__ADS_1


"paman, selamatkan saja semua orang jangan berikan apa yang dia mau" teriak Deva


Helmi


Dirga, Deva... brengsek. apa yang kamu lakukan kepada mereka bedebah.


nomor tidak dikenal


coba tebak kira-kira apa yang akan aku lakukan kepada keduanya. kamu keras kepala dan tetap mempertahankan Sanjaya grup. sekarang aku ingin tau apakah kamu masih memilih perusahaan ataukah kedua keponakanmu ini


panggilan terputus, sedang Helmi telah menemukan titik dimana keberadaan musuh mereka.


"bagaimana memberitahukan semua orang kalau di sini ada bom" Zidan begitu frustasi


"aku sudah menemukan titik keberadaannya" ucap Helmi


"astaga, lalu apa yang harus kita lakukan sekarang" dokter Nathan panik


tentu saja mereka panik, rumah sakit itu akan meledak dalam waktu dua jam. selama dalam kurun waktu dua jam mereka tidak menemukan bom tersebut maka otomatis rumah sakit itu akan meledak, perusahaan Sanjaya grup pun akan ikut meledak.


Zidan menghubungi ayah Adnan untuk membantunya dalam bertindak. mereka harus cepat bertindak.


ayah Adnan yang mendengar kabar dari Zidan langsung mengarahkan Ardi dan beberapa pengawal lainnya untuk mengantarnya ke kantor. masih banyak orang yang berada di kantor karena mereka sedang lembur. banyak yang harus mereka kerjakan sehingga sebagian orang memilih untuk lembur daripada harus mengerjakannya esok hari.


"kenapa yah...?" tanya ibu Arini


"nyawa para karyawan dalam bahaya, ada bom yang di pasang di perusahaan" jawab ayah Adnan


"bom...?" semua orang tentu saja kaget


"iya. bukan hanya di perusahaan tapi di rumah sakit tempat Zidan berada juga di pasangkan bom. ayah harus segera ke kantor sekarang" ucap ayah Adnan


"astaghfirullah, bahaya yah. ayah bisa celaka" ibu Arini panik begitu juga yang lainnya


"ayah tidak mungkin berdiam diri saja Bu. ayah harus ke sana" ucap ayah Adnan


"aku ikut yah" El bangkit dari duduknya padahal mereka baru saja tiba


"kalian di sini saja, bahaya kalau kalian ikut" ucap ayah Adnan


"nggak, El tetap ikut" El-Syakir tetap kekeuh


"kami juga ikut om, tenang saja kami akan menjaga diri" ucap Bara


"sebaiknya kalian ke tempat keberadaan Baharuddin saja. Helmi baru saja bisa mendeteksi keberadaannya. kakakmu dan Deva ditangkap olehnya"


"kak Dirga sama kak Deva ditangkap...?" Alana ikut panik


"ya Allah, kenapa semuanya jadi sulit seperti ini" ibu Arini hampir saja roboh. Mita segera merangkul wanita itu


"tenang bu, semuanya akan baik-baik saja. kota berdoa dari sini untuk memudahkan mereka" ucap Thalita


El-Syakir nampak berpikir, ini bukanlah keputusan yang mudah untuk diambil namun mereka harus memutuskan.


"baiklah, biar aku dan yang lain ke sana. aku akan meminta paman Helmi untuk mengirimkan lokasinya" ucap El-Syakir


"kalau begitu aku akan ikut pak Adnan saja" ucap Edward


semuanya sepakat dan meluncur ke tempat tujuan masing-masing. ayah Adnan, bersama Ardi dan Edward serta beberapa pengawal lainnya menuju ke perusahaan Sanjaya grup sementara semua tim samudera masih belum tau kemana arah yang akan mereka ambil karena El-Syakir belum bisa menghubungi Helmi.


"biar aku yang menghubungi kak Pram" ucap Bara


Bara menghubungi Pram, beberapa kali menelpon dan panggilan yang kelima barulah kakaknya itu mengangkat.


Bara


halo kak


Pram


ada apa dek, aku sedang sibuk. kita dalam masalah besar


Bara


kirimkan lokasi keberadaan Baharuddin, biar kami saja yang ke sana. kakak dan yang lainnya di situ saja mencari keberadaan bom yang ada di rumah sakit


Pram


tapi kalian harus berhati-hati, dia berbahaya


Bara


iya kak, tenang saja. kakak kan sudah tau kemampuan kami


Pram


baiklah, akan kakak kirimkan


"bagaimana Bar...?" tanya Starla setelah Bara selesai menghubungi Pram


"lokasinya akan dikirim" jawab Bara


"harusnya minta nomornya saja tadi, biar aku yang lacak di laptop" ucap Leo


"yah...elu nggak bilang" ucap Bara


satu pesan masuk di hp Bara, Pram telah mengirimkan lokasi keberadaan Baharuddin. Bara juga meminta nomor yang menghubungi Helmi tadi dan Pram mengirimkannya.


Leo mengambil laptopnya dan mulai melacak keberadaan nomor itu. hal yang ia dapat seperti yang Helmi temukan.

__ADS_1


"kita ke tempat ini" ucap Leo menunjuk titik merah di layar laptopnya


"tapi tunggu" Melati menghentikan mereka


"kenapa Mel, kita nggak punya waktu" tanya Nisda


"bukannya ratu Sri Dewi membuat pelindung agar Baharuddin tidak terlacak oleh kita, lalu kenapa tiba-tiba sekarang dia memperlihatkan keberadaannya kepada kita. bukankah itu aneh" ucap Melati


"lah iya, Baharuddin tidak akan sebodoh itu membiarkan kita mengetahui keberadaan dia sekarang kalau mereka tidak mempunyai rencana licik" timpal Vino


"tapi kak Dirga sama kak Deva ada di sana, mereka ditangkap oleh bedebah itu" ucap El-Syakir


"oke, sambil jalan sambil kita menghubungi Adam dan kak Deva" usul Leo


di rumah sakit Zidan serta tiga pengawalnya mulai berpencar untuk mencari dimana letak bom yang disimpan oleh Baharuddin di tempat itu. mereka tidak mungkin mengevakuasi banyak orang di rumah sakit yang begitu besar itu namun jika tidak begitu maka tentu saja keselamatan semua orang dalam bahaya.


mereka tidak ingin membuat panik semua orang hingga mereka tidak fokus untuk mencari bom tersebut.


hal pertama yang mereka lakukan hal melihat kamera cctv, pasti ada orang suruhan Baharuddin untuk masuk membawa bom itu ke rumah sakit dan bukan dia sendiri yang membawanya.


kini mereka telah berada di tempat dimana semua orang dapat dilihat dari layar komputer yang ada di depan mereka. petugas yang berjaga di tempat itu memundurkan beberapa jam ke belakang untuk melihat apakah ada seseorang yang mempunyai gerak-gerik mencurigakan.


kini mereka melihat pada saat mereka tiba di rumah sakit. dokter Nathan masuk dan memanggil para perawat setelah itu ia masuk lagi bersama Bagas dan Gibran yang ada di atas brankar. setelah itu masuklah mereka bersama dengan Vania. tidak ada yang aneh dari waktu kedatangan mereka.


"stop tunggu" Randi menahan tangan petugas saat akan beralih ke jam berikutnya


"coba perbesar orang itu" tunjuk Randi kepada seseorang yang berpakaian seperti dokter. memakai masker dan membawa tas ransel warna hitam


petugas memperbesar layar agar orang itu dapat terlihat jelas. orang yang berpakaian seperti dokter berjalan ke arah toilet dan masuk ke dalam toilet khusus laki-laki. satu jam berada di dalam toilet, orang itu keluar lagi dan melangkah berjalan pelan. ia mengamati sekitarnya dan masuk ke dalam lift kemudian menuju ke lantai lima. setelah itu orang itu tidak terlihat lagi. bahkan cctv di tempat itu tidak berfungsi lagi


"cctv sengaja di buat rusak. bukankah itu lantai paling atas, lantai lima" ucap Helmi


"kita cari ke lantai lima" perintah Zidan


saat mereka keluar dari ruangan tempat pengendali cctv, Gibran sudah berada di sana menunggu mereka untuk keluar.


"p-paman" panggil Gibran dengan pelan, matanya fokus melihat ke arah Gibran


hal yang membuat mereka terkejut adalah di tubuh Gibran sudah terpasang bom yang dimaksud oleh Baharuddin. ternyata bom itu di pasang di tubuh Gibran.


"b-bagaimana" Zidan shock dan bergetar melihat Gibran yang menatapnya dengan tatapan sendu


rupanya target mereka adalah Gibran. orang itu sengaja mencari waktu yang tepat agar Gibran ditinggalkan seorang diri dan ia dapat melancarkan aksinya.


"Gibran" Bagas yang baru saja datang bersama dokter Nathan berhenti seketika


"G-Gibran" dokter Nathan berdiri membeku di tempatnya


"kita masih punya waktu untuk menonaktifkan bom ini. lebih baik kita ke tempat lain" Randi mendekati Gibran dimana wajahnya sudah nampak pucat bahkan luka di perutnya kembali mengeluarkan darah


semua orang panik melihat ada bom di tubuh seseorang. Zidan mendekat Gibran dan memegang bahunya dengan erat.


"jangan takut, ada paman di sini. kamu tidak sendiri" Zidan menangkup wajah Gibran


Gibran mengangguk, dan tidak terasa air matanya jatuh membasahi kedua pipinya. kini ia tau kalau Zidan memang berbeda dari ayahnya.


"Helmi, cepat panggil petugas penjinak bom" ucap Zidan


"tidak bisa, aku tidak mendapatkan signal" Helmi mengangkat hp-nya ke atas namun tidak mendapatkan satu batang signal di hp miliknya


"sial, mereka meretas signal di rumah sakit ini. kita keluar saja dari sini" ucap Pram


semuanya setuju, mereka akan membawa Gibran ke tempat yang jauh dari keramaian agar tidak menimbulkan kepanikan semua orang walaupun memang sekarang di rumah sakit itu nampak semakin heboh karena adanya bom itu.


sayangnya mereka tidak bisa keluar dari rumah sakit itu. Helmi menerima pesan dari nomor yang menghubunginya tadi bahwa remote yang dapat menonaktifkan bom yang ada di tubuh Gibran ada di rumah sakit itu. dan juga jika mereka ke tempat lain, waktu mereka akan habis dalam pelarian mencari tempat yang aman sedang waktu mereka tersisa satu jam dua puluh menit lagi.


"bawa aku ke tempat yang jauh paman, biarkan aku meledak sendiri. aku tidak ingin ada korban jiwa di rumah sakit" ucap Gibran


"tidak...selama ada paman akan paman lakukan apapun untuk menyelamatkan mu. kita hanya perlu mencari remote dari bom ini" Zidan menggeleng tidak setuju dengan usulan Gibran


"tapi kita semua akan mati di sini, lihatlah mereka... harusnya mereka tidak menjadi korban. aku yang diincarnya jadi biarkan aku mati seorang diri"


"paman bilang tidak tetap tidak" Zidan meninggikan suaranya dan seketika Gibran menunduk


"lihat paman" Zidan mengangkat wajah Gibran yang menampakkan kesedihan


"tidak akan paman biarkan seorangpun Baharuddin menyentuh keluarga Sanjaya dan salah satunya adalah kamu. paman akan menyelamatkanmu. kamu percaya kan...?"


Gibran mengangguk dengan mata yang sudah nampak berkaca-kaca bahkan ia menggenggam tangan Zidan dengan erat.


"Randi, Helmi, Pram"


"kami bos"


"cari laki-laki yang membawa bom ini, aku yakin remote itu ada di tangannya dan dia pasti masih berada di rumah sakit ini"


"baik bos"


"satu lagi. hubungi Jacob, suruh semua anak buahnya ke lokasi penyekapan Dirga dan Deva. bukankah kalian bilang dia akan membantu kita"


"aku sudah menghubunginya dan anak buah Jacob sedang dalam perjalanan. mereka akan membantu tuan muda El-Syakir untuk menyelamatkan tuan muda Dirga dan Deva" jawab Helmi


"bagus, peperangan sebenarnya akan dimulai. sekarang cepat cari laki-laki itu. bunuh saja kalau perlu"


"baik bos" jawab ketiganya


(jika kamu menyentuh Dirga dan Deva, habis sudah kamu mas Bahar) batin Zidan


Pram telah memberitahu pihak rumah sakit untuk mengamankan semua orang, menjauhi Gibran dan berlindung di tempat yang aman. sementara itu Zidan tetap berada di dekat Gibran tanpa berniat meninggalkannya sedikitpun.

__ADS_1


__ADS_2