
POV (Adam)
semua orang telah meninggalkan kami dan tinggallah aku, kak Furqon dan El yang masih berada di dermaga. ku tatap kotak kayu yang ada di depan kami. masing-masing dari kami akan membawa lima kotak kayu.
tiga mobil hitam telah di sediakan, sebuah alamat yang akan kami tuju pun telah di kirim di masing-masing hp kami bertiga.
"paman Helmi, apa yang harus kami lakukan sekarang...?" tanyaku, aku membutuhkan arahan dari mereka
seumur hidup baru pertamakali ini aku melihat langsung barang haram ini. aku tidak takut jika ketahuan nanti namun aku takut akan masuk buih sebelum aku menangkap Baharudin dengan tanganku sendiri.
"aku sudah melihat alamat yang akan kalian tuju, sekarang dengarkan baik-baik" ucap paman Helmi
nomor kami bertiga telah disadap oleh mereka sehingga pesan apapun yang masuk di nomor kami akan terlihat juga oleh mereka.
"untuk tuan muda El-Syakir, jalan yang menuju ke wilayah barat hanya ada satu jalan yang tidak di patroli oleh polisi. ambillah jalan itu dan tiba di warung kopi, berhenti di tempat itu karena Leo dan Bara akan menemanimu. aku khawatir tuan muda akan mendapatkan masalah di sana karena daerah itu adalah daerah yang terdengar rawan. banyak pencopet dan dengan mereka tidak segan-segan untuk membunuh jika tidak korbannya melawan" ucap paman Helmi
"kalau seperti itu biar aku saja yang ke wilayah barat, tuan muda El-Syakir menggantikan aku ke wilayah selatan" ucap kak Furqon
"tidak bisa Fur, semua harus sesuai rencana karena Gibran pasti akan memeriksa apakah kalian benar-benar pergi atau tidak" jawab paman Pram
"lalu bagaimana kalau seandainya Gibran tau kalau aku ditemani oleh Leo dan Bara" ucap El
"Leo dan Bara tidak akan sampai di tempat tujuan mu. mereka akan mengawasi mu dari kejauhan saat tuan muda melakukan transaksi dengan orang yang bernama Gara itu" ucap paman Randi
"apa tidak bisa membawa pengawal juga untuk mengawasi El paman" ucap ku
"tidak bisa, lagi pula Leo dan Bara pun sudah cukup untuk menemani tuan muda El-Syakir. bukankah kemampuan mereka juga cukup kuat. aku sudah melihat waktu penyerangan semalam" jawab paman Helmi
"jangan khawatir dam, gue dan Bara pasti akan melindungi El-Syakir" ucap Leo
"oke, sekarang selanjutnya" jawabku
meskipun aku khawatir dengan keadaan El nanti tapi aku percaya dia dapat melaluinya. bukankah dia mempunyai keris yang sakti apalagi ada Leo dan Bara yang akan menemaninya. aku tidak perlu cemas lagi.
"untuk tuan muda Dirga, jalan yang menuju ke wilayah timur tidak begitu diawasi oleh polisi. tuan muda dapat melewati jalan itu dengan aman hanya saja setelah itu tuan muda akan melewati ujung kota. tempat yang akan tuan muda tuju bahkan akan melewati hutan, ada gudang perkebunan kelapa sawit di tempat itu. di situlah tempat transaksi yang akan tuan muda lakukan bersama dengan orang yang bernama Jacob. tuan muda akan di temani oleh Deva dan...."
"aku ikut paman"
aku mendengar suara Melati yang menawarkan diri untuk ikut bersama aku dan kak Deva.
"jangan Mel, terlalu berbahaya" ucap Starla
"maaf Melati tapi yang akan menemani tuan muda Dirga adalah Deva dan Vino. Jacob dikenal dengan seorang pemain licik. dia bisa melakukan apa saja untuk mengelabui siapa saja. apalagi anak buahnya begitu banyak, aku tidak mungkin mengirim kalian perempuan untuk pergi ke tempat seperti itu" ucap paman Helmi
"kalian di sini saja berjaga-jaga jangan sampai serangan mendadak terjadi lagi seperti semalam" ucap paman Pram
"baik paman" jawab Melati
aku tidak peduli siapa yang akan menemani ku nanti tapi yang aku pikirkan setelah melakukan transaksi, aku ingin menemui wanitaku. sangat tepat sekali aku ditugaskan ke wilayah timur, hutan timur dimana adalah kekuasaan ratu Sundari. aku ingin sekali menemuinya walau hanya sebentar.
"untuk kamu Fur, kamu hanya perlu membawa barang-barang itu ke pelabuhan utara, di sana para anak buah Damian sedang menunggumu. Ardi akan menemanimu nanti. meskipun aku tidak mendengar kalau Damian tidak melakukan kecurangan saat bertransaksi tapi tetap saja kamu harus berhati-hati"
"baik, lalu dimana aku akan menjemput Ardi...?" tanya kak Furqon
"di lampu merah jalan Mandonga. untuk tuan muda Dirga, tuan muda dapat menjemput Deva dan Vino di jalan Merak, menuju ke wilayah timur" paman Helmi menjelaskan
kami bertiga pun bersiap-siap. satu persatu sampai lima kotak telah kami masukkan ke dalam bagasi mobil. aku mendekati El dan memeluknya.
"hati-hati" ucapku
"kak Dirga juga" jawab El
aku mengangguk kecil kemudian masuk ke dalam mobil. kak Furqon terlebih dahulu meninggalkan dermaga, menyusul El dan aku yang terakhir di belakang. di persimpangan tiga, aku mengambil jalur kanan, El jalur kiri sedang kak Furqon tetap lurus. kami berpisah di jalan ini.
aku penasaran seperti apa yang bernama Jacob ini. kenapa dirinya harus melakukan transaksi di tempat yang sangat jauh dari kota. apakah dia takut ketahuan oleh polisi atau mungkin jangan sampai dirinya berniat menghabisi seseorang yang membawa barang-barang ini setelah dia dapat mengambilnya. kalau iya, berarti dirinya benar-benar licik.
"paman, apakah kak Deva dan Vino sudah bergegas ke jalan Merak...?" tanyaku
"sudah, kamu akan melihat mereka di sana nanti" jawab paman Randi
"Dirga"
suara lembut ayah terdengar di telingaku. aku jadi merindukan ayah dan ibu, juga semuanya.
"iya yah" jawabku
"hati-hati, kamu dan El-Syakir harus pulang dengan selamat" ucap ayah
"aku janji akan baik-baik saja yah" ucap El
"kami akan baik-baik saja yah" jawabku
diriku terbayang dengan paman Zidan, sosok yang selama ini ada untukku. aku berjanji paman, aku akan membawa tante Vania kembali, aku janji.
dan saat itu tiba, aku akan membuat Baharuddin menjadi mayat, sama seperti yang dilakukannya dulu kepada bunda dan ayah Burhan.
"paman, bagaimana keadaan paman Zidan. penjagaan diperketat kan, aku tidak ingin ada yang berniat menyakitinya" ucapku
"Edward sedang berada di rumah sakit bersama Cecil, mereka berada di sana sejak pagi tadi. dia akan memberitahu kita nanti jika mereka pulang" jawab ayah
paman Edward adalah seorang dokter yang merawatku waktu aku masih koma dan berada di luar negeri. andai saja paman Zidan bisa di bawah ke rumah dan paman Edward yang merawatnya.
__ADS_1
"apakah tidak sebaiknya paman Zidan di bawa saja ke rumah, kan ada paman Ed dan juga tante Cecil yang akan memeriksa kondisinya setiap saat" ucapku
"mereka tidak punya alat-alat rumah sakit kak, lagi pula paman Edward bukan dokter di sini, dia dokter di luar negri" El menimpali ucapanku
"akan kita pikirkan bagaimana baiknya nanti. sekarang fokus saja kepada tugas kalian semua" ucap paman Randi
aku berhenti di SPBU untuk mengisi makanan yang di butuhkan oleh mobil ini. jikalau bensinnya habis jelas sudah aku dan kedua pengawalku nanti tidak akan sampai di wilayah timur.
melakukan pekerjaan seperti ini, aku tidak ubahnya bagai mafia yang ada di film-film. melakukan hal yang membahayakan nyawa.
setelah keluar dari SPBU, aku menuju ke jalan Merak. mungkin di sana kak Deva dan Vino sudah menungguku. tepat setelah berada di jalan Merak, aku malah tertahan di lampu merah. harus menunggu beberapa menit lagi. ku layangkan pandanganku ke arah jendela mobil karena kaca mobil tidak aku tutup.
saat itu tepat di samping mobilku, aku melihat wanita yang begitu aku kenal. aku memicingkan mata untuk memastikan apakah yang aku lihat benar-benar dia atau bukan dan ternyata saat wanita itu melihat ke arahku dan tersenyum, aku langsung terpaku. dia adalah wanita yang aku cari-cari.
mobil merah yang dikendarai wanita itu langsung meninggalkan lampu merah. aku segera mengikutinya, aku harus mengikutinya. saat itu aku melihat kak Deva dan Vino yang sedang berada di depan sebuah ruko. aku berhenti dan memanggil keduanya.
"kak Deva, Vino" panggilku
setelah melihatku, mereka berdua langsung berlari ke arahku dan masuk ke dalam mobil. kak Deva duduk di sampingku sedang Vino berada di kabin tengah. aku kembali menjalankan mobilku.
"loh dam, kok malah belok sih bukannya lurus" ucap Vino karena aku mengambil jalur yang lain
"aku melihat ratu Sri Dewi, aku harus mengikutinya. kita harus mengikutinya dengan begitu kita akan tau dimana Baharuddin berada" jawabku sambil terus memeriksa dimana mobil merah tadi
"ratu Sri Dewi...?" paman Pram bertanya
mereka pasti bingung, masalahnya kami belum menceritakan apa yang pernah kami alami selama ini.
"dia adalah ratu penguasa kegelapan paman, ratu Sri Dewi yang selama ini membantu Baharuddin agar tidak terlacak oleh kita. Baharuddin menggunakan kekuatan gaib untuk berlindung dari kejaran kita" Nisda menjelaskan
"ratu kegelapan...? kekuatan gaib...?" ayah bertanya
kalau sudah seperti ini aku juga bingung harus menjelaskannya seperti apa. apakah mereka akan percaya atau tidak, itu titik masalahnya. jangan sampai kami hanya akan dikatakan membual.
"bisa ceritakan apa maksud dari ucapan kalian" ucap paman Randi
"yang mereka katakan semuanya benar Ran. aku bahkan pernah ke tempat alam gaib bersama mereka. ratu Sri Dewi mempunyai kembaran bernama ratu Sundari, penguasa hutan timur dimana tempat akan tuan muda tuju. apa kalian ingat saat dimana kita tidak bisa melacak keberadaan Furqon padahal semua alat yang ada terkoneksi dengan laptop dan hp miliknya, itu semua pasti karena pengaruh sihir. ratu Sri Dewi yang melakukannya. bahkan mungkin Baharuddin bisa saja berada di depan mata kita namun kita tidak bisa melihatnya" ucap kak Ardi
"aduh, kepalaku pusing" ucap paman Pram
"kalian pernah datang di alam gaib...?" tanya paman Helmi
"bahkan kami pernah tinggal di sana beberapa hari. ingat tidak om Adnan, saat kita ke kampung untuk menyampaikan kepada keluarga Sintia, karyawann om yang menjadi korban atas ledakan yang terjadi di toko om waktu itu. saat kita pulang, bukankah terjadi insiden dimana Vino hilang dan El mengejarnya. saat itu sebenarnya bukan hanya El yang mencari Vino tapi ada Adam juga" ucap Starla
"tuan muda Dirga...?" bagaimana bisa, waktu itu kan tuan muda sedang koma" timpal paman Randi
"memang Adam sedang koma tapi arwahnya ada bersama kami. Adam yang menyelamatkan Vino waktu itu saat ratu Sundari akan membawa Vino ke alam gaib" jawab Starla lagi
"hantu yang selalu membantu mereka waktu itu adalah tuan muda Dirga Ran. bukankah waktu itu aku pernah menceritakan kalau tuan muda El-Syakir diikuti oleh seorang hantu dan dia adalah tuan muda Dirga" ucap kak Furqon
"bukannya ratu Sundari itu yang akan menculik Vino, kenapa sekarang malah meminta bantuan padanya" tanya ayah
aku mendengar Melati mulai menjelaskan, memang hanya dia yang dapat menjelajahi semuanya. aku harus tetap fokus untuk mencari mobil merah tadi.
"sialan, kemana sih perginya nenek sihir itu" umpat ku dengan kesal
"dam sebaiknya kita kembali ke tujuan awal. masalah ratu Sri Dewi dan Baharuddin, kita jalankan sesuai rencana" ucap Vino
"cepat atau lambat kita akan menemukan mereka, jadi fokus saja ke tugas kita kali ini" ucap kak Deva
aku menghela nafas dengan kasar, kemudian dengan terpaksa mengambil jalur kiri karena kami harus ke tujuan awal. membawa semua barang-barang ini ke wilayah timur.
Melati masih terus menjelaskan kepada ayah dan yang lainnya. aku tau sulit dicerna dengan akal pikiran namun itulah kenyataan yang ada.
"jadi keduanya adalah manusia...?" tanya ayah
"iya, dan tubuh ratu Sundari disembunyikan oleh kembaran sendiri, ratu Sri Dewi" jawab Melati
"bagaimana kita bisa melawan mereka kalau Baharuddin brengsek itu ternyata menggunakan ilmu sihir. sialan" paman Helmi begitu emosi sepertinya
"semua ada jalan paman, untuk ilmu gaib serahkan saja kepada tim samudera, mereka bisa mengatasinya" ucapku
kami harus bisa saling bekerjasama, tidak boleh ada yang perlu di tutupi lagi. untuk meraih kemenangan, kami harus saling terbuka.
"tuan muda El berhenti" ucap paman Helmi
"kenapa paman...?" tanya El
sepertinya terjadi sesuatu dengan El dan yang lainnya, aku menjadi tidak tenang untuk mengemudi.
"mundur secara perlahan dan ambil jalur kiri, di depan banyak polisi" ucap paman Helmi
"baik" jawab El
perjalanan yang kami tempuh sangatlah jauh, wilayah timur apalagi harus masuk hutan. sialnya sebelum sampai di ujung kota, ban mobil kami bocor. rupanya saat kak Deva periksa, ada paku yang tertancap di ban mobil.
"sial, siapa sih yang melakukan ini. gue hajar baru mampus sekalian" Vino menggerutu
"mana di sini nggak ada bengkel lagi" ucapku menggaruk kepala
"terus gimana, bisa-bisa nanti kita sampenya malam lagi. malah di hutan lagi, gue masih malas berhadapan dengan para setan" ucap Vino
__ADS_1
"jangan-jangan nih ya, si Jakob ini makhluk jadi-jadian lagi" lanjut Vino lagi
"banci maksud lu...?" tanya kak Deva
"iblis pemakan narkoba" jawab Vino
"ckckck, di kasih makan apa sih itu otak...goblok banget" aku mencebik dan menyoyor kepala Vino
"sakit Bambang" Vino kesal dan menatapku kesal
kami bertiga semakin bingung, apa yang harus kami lakukan. di sekitar itu tidak ada bengkel. kalau terlalu berlama-lama di sini bisa-bisa nanti kami ketahuan dan ditangkap.
"cari mobil sewa saja deh kalau begitu. tunggu gue tanya sama bapak-bapak itu dulu" Vino melangkah untuk menghampiri dua orang bapak-bapak yang sedang duduk di depan toko
aku dan kak Deva hanya memperhatikan saja setelah itu seorang bapak datang bersama dengan Vino.
"memangnya kalian bertiga ini mau kemana...?" tanya bapak itu
"mau ke rumah saudara pak, tapi ban mobil kami malah bocor" jawabku sopan
"kalau mau bawa di bengkel, masih jauh dan itupun ada di lorong sana. tapi kalau kalian mau cari mobil sewa, teman saya bisa bantu untuk mencarikan" ucap bapak ini
"terimakasih banyak pak, kami memang sebaiknya menyewa mobil saja soalnya ada barang yang harus kami antar ucap kak Deva
"tunggu sebentar saya hubungi dulu teman sama biar dia segera bawa mobilnya ke sini" ucapnya
sembari menunggu bapak ini menghubungi temannya, kami sedang memikirkan cara untuk memindahkan kotak ini. bagaimanapun mereka tidak boleh melihat apa isi di dalam kotak ini. bisa hancur rencana kami.
"bagaimana pak...?" tanya kak Deva saat si bapak telah selesai menghubungi temannya
"sudah akan dibawa ke sini mobilnya. lebih baik kita ke sana saja dulu sambil minum kopi" ajaknya dengan ramah
"tidak usah pak terimakasih, kami menunggu di sini saja. lagipula di sini adem" jawabku
kami tidak mungkin meninggalkan mobil begitu saja, sekalinya gegabah maka hancur sudah tugas yang akan aku lakukan.
"memangnya rumah saudara kalian dimana, aku tidak pernah melihat kalian di daerah sini" si bapak malah menemani kami dan mengajak kami mengobrol
"rumah paling ujung di daerah ini, itu adalah rumah keluarga dari ayah kami pak" jawabku
"rumahnya ibu Aida...? tanyanya untuk memastikan
"i-iya pak, ibu Aida...dia...tante kami" jawab Vino
haduuuuh
sepertinya kami harus melakukan lagi penyamaran. ibu yang bernama Aida itu saja kami tidak tau bagaimana rupanya, sejak kapan dia menikah dengan paman Zidan sehingga dia menjadi tante kami. Vino ini benar-benar membuat pusing.
"saya kok baru tau ya kalau ibu Aida punya ponakan, dia kan janda yang ditinggal mati suaminya. mereka kabur ke sini karena keluarga suaminya ibu Aida tidak merestui hubungan mereka"
"hah...?" aku langsung shock dan melongo
mampus....
kami bertiga saling pandang, kepalang tanggung sudah basah lebih baik mandi sekalian.
"suaminya ibu Aida keluarganya kami pak" ucapku
masih bisa menyelamatkan diri, karena mereka tidak tau keluarga suami dari wanita yang bernama Aida tersebut. kalau mereka tau, entah apa yang akan kami lakukan.
"oooh, syukurlah kalau begitu. setelah ditinggal suaminya, ibu Aida dan anaknya hidup serba susah, kasian" ucap si bapak
"tapi kenapa harus menyewa mobil, kan kalian sudah sampai di sini. lebih baik mobilnya di bawa ke bengkel terus saya antar ke rumah ibu Aida" ucap si bapak
"cari alasan tuan muda, kalian tidak boleh terlalu lama berada di tempat itu" ucap paman Helmi
aku memutar otak bagaimana menjelaskan kepada bapak ini. ini semua gara-gara Vino, jadinya kami terjebak dengan sandiwara sendiri.
"kami masih ingin ke tempat lain pak, makanya kami membutuhkan mobil. soalnya ini mendadak" jawab kak Deva
piiiiiip
klakson mobil terdengar, sepertinya itu teman dari bapak ini. syukurlah, setidaknya kami tidak melakukan drama lagi.
"nah ini dia yang menyewa mobil kamu Lan" ucap si bapak
laki-laki yang ternyata memiliki rambut gondrong sama dengan diriku, tersenyum ke arah kami. kami mulai melakukan transaksi dengan membayar sewa mobil kemudian kunci mobil diserahkan kepadaku.
sekarang kami bingung, bagaimana caranya untuk memindahkan kotak-kotak ini ke mobil yang telah kami sewa. kalau hanya kami bertiga mungkin sangat mudah tapi masalahnya si bapak tadi dan yang bernama Lanang ini masih berada bersama kami.
"biar kami bantu" ucap Lanang
"emmm nggak usah kak, kami bisa sendiri" Vino melarang Lanang
"tidak apa-apa, jangan sungkan" jawab Lanang
aku terpaksa membuka bagasi. Lima kotak kayu telah terlihat di dalam bagasi. aku mulai mengangkat satu kotak kayu dan memindahkannya ke bagasi mobil satunya. sementara kak Deva tetap memantau Lanang dan bapa itu.
"memang ini isinya apaan, kok berat sekali" ucap si bapak yang sepertinya mulai penasaran
kami tidak menjawab dan si bapak mengangkat kotak itu membawa ke mobil satunya. tersisa dua kotak lagi, saat kami tidak memperhatikan rupanya si bapak sedang akan membuka penutup kotak kayu tersebut.
__ADS_1
"JANGAN"
aku, Vino dan kak Deva teriak bersamaan saat penutup kotak kayu itu berhasil di bukanya.