
"kamu.....telah melakukan kesalahan" pak Zainal menatap tajam Bara yang kini sedang kaku dan meneguk ludah
"harusnya setelah menabrak kucing itu, kalian pulang bukan meneruskan perjalanan" lanjut pak Zainal
(darimana dia tau kalau gue habis menabrak kucing) batin Bara
(kok dia bisa tau ya, padahal kami belum cerita apa-apa) Leo terkesiap saat mendengar ucapan pak Zainal
"kita cari mereka sebelum tiba jam 12 malam, waktu yang tersisa sekitar 4 jam lagi berarti selama itu juga waktu yang kita punya" pak Zainal beranjak dan masuk ke dalam sementara yang lainnya menunggu di ruang tamu
ibu Ainun menghampiri suaminya yang sedang bersiap di dalam kamar.
"bapak akan pergi...?" ibu Ainun membantu suaminya mengancing bajunya
"selama bisa membantu, akan bapak tolong" pak Zainal menatap lembut wajah cantik istrinya
"hati-hati pak, ibu selalu menunggu bapak pulang"
"doakan kami baik-baik saja"
ibu Ainun mengangguk, setelahnya mereka keluar dari kamar menghampiri tamu mereka.
"bapak pergi ya bu"
"hati-hati pak"
setelah mencium tangan suaminya, ibu Ainun mengantar sampai di depan. hingga mobil yang mereka tumpangi tidak terlihat lagi, ibu Ainun masuk ke dalam rumah.
pak Zainal, duduk di samping pak Samsul sementara Bara dan Leo berada di belakang. karena itu tidak mungkin keempatnya akan duduk di samping kemudi, maka Leo dan Bara jelas harus mengalah kepada yang lebih tua.
"kalau masih di jalan besar seperti ini masih aman Le, tapi kalau udah masuk kawasan puncak Boneng, kok gue bakal merinding ya. malah gelap pastinya, handphone juga udah lobet" ucap Bara yang bersandar di bahu Leo
"tutup mata saja, sampai kita tiba di tujuan" Leo menimpali
"kira-kira nih ya, Adam sama kak Deva dimana ya sekarang. secara kan Adam punya ilmu gaib, jelas nggak mungkin kalau dia akan kenapa-kenapa di dalam hutan itu"
"atau jangan sampai mereka masuk ke dimensi lain lagi, seperti yang pernah kita alami dulu"
"gue juga sebenarnya yakin kalau Adam dan kak Deva akan baik-baik saja namun bukan berarti mereka tidak kenapa-kenapa. bisa jadi sekarang mereka membutuhkan bantuan kita. meskipun punya ilmu gaib, tapi di hutan itu banyak penghuninya Bar, jelas Adam kewalahan menghadapi mereka"
"harusnya memang kita peka dengan keadaan. harusnya kita tau saat gue menabrak kucing itu, itu adalah pertanda buruk dan membatalkan rencana kita" Bara merasa bersalah
"udah terlanjur Bar, nasi sudah menjadi bubur. yang harus kita fokuskan sekarang adalah bagaimana menemukan Wulan, kak Deva dan Adam"
"lapar gue Le"
"sama gue juga"
"kalau singgah makan dulu gimana...?"
"waktu kita akan habis Bar, 4 jam itu bukan waktu yang lama jika kita sedang berburu dengan waktu. beda halnya saat kita menunggu, udah kerasa seperti setahun"
"tapi gue lapar" Bara meringis memegang perutnya
Leo yang tidak tega melihat Bara menahan kelaparan langsung memberitahu pak Samsul dengan mengetuk kaca mobil. pak Samsul menghentikan mobilnya.
"kenapa nak Leo...?" tanya pak Samsul
"kami lapar pak, apakah bisa singgah di minimarket untuk membeli roti" Leo menjawab
"di depan sana ada warung makan, nanti bapak belikan makanan. tapi kalian makan di mobil saja tidak apa-apa ya" ucap pak Samsul
"nggak apa-apa pak, yang penting perut kami di isi" jawab Leo
pak Samsu kembali menyalakan mobilnya, sekitar beberapa meter mereka sampai di warung makan yang dimaksud oleh pak Samsul. segera laki-laki baya itu keluar dari mobil membeli tiga bungkus makanan dan air botol mineral. ia datang kembali dan menyerahkan makanan itu kepada Leo, Bara dan juga pak Zainal.
pak Zainal memang belum makan, harusnya saat pulang dari masjid tadi istrinya akan menyiapkan makan malam. namun karena keadaan genting akhirnya pak Zainal tidak sempat makan malam. pria baya itu duduk di belakang bersama Leo dan Bara untuk makan bersama, sedang pak Samsul sendirian menyetir mobil di depan.
karena waktu yang semakin mepet, pak Samsul melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi, mereka harus secepatnya sampai di puncak Boneng.
saat memasuki kawasan puncak Boneng, aura mistis begitu terasa. Leo dan Bara bahkan merinding, mereka bersyukur pak Zainal menemani mereka berdua. begitu gelap tanpa cahaya sedikitpun kecuali cahaya dari lampu mobil pak Samsul.
__ADS_1
berada di puncak Boneng, puncak yang begitu indah pada siang hari namun begitu menyeramkan pada malam hari. malam itu, mereka yang berada di dalam warung sangat gelisah menunggu kedatangan kedua teman mereka.
"mereka kok lama ya" Seil terus menatap ke arah pintu
"semoga mereka tidak kenapa-kenapa" ucap Vino
setelah makan malam, mereka melaksanakan sholat isya kemudian kini mereka semua sedang menunggu kedatangan pak Samsul, Leo dan Bara.
"bu, boleh saya bertanya...?" El-Syakir memberanikan diri untuk bertanya
"ada apa...?" ibu tanya ibu Nurul
"sebenarnya apa yang tidak kami ketahui tentang puncak Boneng ini...?" ucap El-Syakir
"satu yang harus kalian tau kalau tempat ini itu angker" jawab ibu Nurul
"kalau masalah angkernya kami tidak begitu takut bu. kami hanya ingin tau apakah ada cerita dibalik tempat yang indah ini" ucap El-Syakir
ibu Nurul menghela nafas panjang dan menatap mereka semua satu persatu.
"bukankah kamu Zahra, anak ibu Nurma dan kamu.... Seil?" ibu Nurul melihat Zahra dan Seil tadinya ibu Nurul tidak begitu memperhatikan kedua gadis itu
"iya bu, saya Zahra dan ini Seil. yang hilang itu kak Deva, Wulan dan kak Adam" Zahra menjawab
"Deva pulang...?"
"dia mengantar teman-temannya ini untuk datang di puncak ini bu, sayangnya kemalangan malah menimpa kak Deva" ucap Zahra dengan lirih
"sebenarnya hutan puncak ini terhubung dengan hutan dibelakang desa Boneng. kalau mengambil jalan pintas, yang paling dekat untuk sampai di puncak ini adalah mengambil jalur di hutan belakang desa Boneng. mungkin tidak cukup satu jam kita akan sampai di puncak ini jika mengambil jalur di hutan itu. sayangnya sekarang jalan itu sudah tidak digunakan lagi, setelah dulu sebuah desa mengalami kebakaran di tempat itu"
"sebuah desa...?" tanya Vino
"iya. dulunya di hutan belakang desa Boneng, ada sebuah desa yang sangat banyak penduduknya. desa Boneng dan desa itu saling terhubung satu sama lain, hanya saja memang desa itu letaknya berada di dalam hutan. meskipun begitu banyak orang-orang yang pergi ke desa itu, apalagi penduduk desa Boneng yang ingin ke puncak Boneng, pastinya akan melewati desa itu karena hanya di tempat itu jalan yang paling cepat untuk sampai di puncak Boneng"
"dari dulu puncak Boneng ini memang sudah banyak digemari orang-orang luar untuk datang melihat keindahannya, apalagi dari atas puncak sana. namun setelah kejadian mengerikan itu terjadi, puncak Boneng di tutup dan tidak dirawat lagi, jalur untuk ke puncak Boneng pun ditutup dari desa yang terbakar itu. sejak kejadian itu, desa Boneng menutup akses jalan menuju ke desa Baluran. itu adalah nama desa yang terbakar"
"tidak ada lagi orang-orang yang pergi ke desa yang telah hangus terbakar itu. mereka mengatakan kalau desa Baluran adalah desa kutukan, bahkan penduduk desa Boneng percaya kalau penduduk desa Baluran masih ada di tempat itu dengan wujud yang sangat mengerikan"
"berarti arwah yang gentayangan" Melati menimpali
"sampai sekarang penduduk desa Boneng tidak ada yang berani ke hutan belakang desa, karena takut akan bertemu dengan mereka"
"untuk menyelamatkan diri dari gangguan mereka, penduduk desa Boneng memasang setiap obor di masing-masing rumah. obor yang mengelilingi rumah. di belakang desa pun di pasangkan obor begitu banyak agar arwah mengerikan itu tidak masuk ke dalam desa"
"jadi itu alasannya kenapa setiap malam rumah-rumah di kelilingi obor" ucap Vino
"mereka takut dengan api, maka dari itu kami memasang obor mengelilingi rumah"
"kejadian kebakaran itu adalah saat bulan purnama dahulu, setiap bulan purnama jam 12 malam mereka akan datang ke desa Boneng untuk mencari mangsa. dan malam ini tepat bulan purnama jam 12 malam, mereka akan datang ke desa Boneng"
"celaka, berarti malam ini penduduk desa dalam bahaya" ucap Starla
"tapi kan ada api obor yang akan menghalangi mereka sehingga tidak masuk ke dalam desa" Nisda menimpali"
"memang benar kak, tapi pernah api obor yang dinyalakan mati karena turun hujan. saat itu juga mereka dengan jumlah yang banyak, masuk ke dalam desa dan meneror penduduk desa. bahkan ada yang menjadi korban mereka" Seil memberitahu
"makanya itu Zahra takut sekali. kak Deva, kak Adam dan Wulan mereka masih diluar sana. bagaimana kalau mereka bertemu dengan hantu-hantu itu" ucap Zahra
"ya Allah kak Dirga" Alana semakin khawatir saat mendengar cerita dari ibu Nurul
"kenapa bisa desa itu terbakar bu...?" tanya El-Syakir
"entahlah, ibu juga tidak tau jelas karena cerita itu ibu dengar saat ibu masih kecil. kejadian itu sudah lama sekali, namun teror mereka tetap ada sampai sekarang" jawab ibu Nurul
"yang ibu dengar entah benar atau tidak, kalau penduduk desa Baluran sering menculik anak gadis di desa lain untuk melakukan ritual tumbal. ritual tumbal itu dilakukan untuk memberi makan kepada setan yang mereka junjung, kuntilanak merah"
"APA...?"
tim samudera begitu shock mendengar ucapan ibu Nurul kali ini. bagaimana tidak, setan yang disebutkan namanya itu adalah setan yang terakhir kali pernah berurusan dengan mereka. bahkan mereka dibuat babak belur oleh kuntilanak merah itu. untungnya waktu itu ada ratu Sundari yang datang membantu mereka, sayangnya mereka tidak tau bagaimana kejadian malam itu karena ratu Sundari memerintahkan mereka untuk meninggalkan tempat itu. mereka tidak tau apakah ratu Sundari berhasil mengalahkan kuntilanak merah atau tidak.
"kenapa kak, kalian kaget seperti itu...?" tanya Seil
__ADS_1
"nggak, kami hanya kaget saja" El-Syakir memberikan alasan
tim samudera saling pandang seakan memberikan isyarat kalau kali ini sepertinya lawan mereka tetap lawan mereka yang kemarin.
"desa-desa lain yang sudah mengetahui bahwa penduduk desa Baluran selalu menculik anak gadis begitu murka apalagi ada anak gadis mereka yang menjadi korban. kita begitu tau bagaimana jika massa mulai mengamuk. tanpa pikir panjang mereka membakar desa itu saat penghuninya masih dalam keadaan terlelap tidur"
"jadi di puncak Boneng ini berarti ada arwah-arwah mengerikan itu...?" tanya Vino
"desa Baluran adalah yang paling dekat dengan puncak ini, sudah pasti mereka ada di sini juga. itulah mengapa ibu memasang obor di sekeliling warung" jawab ibu Nurul
tidak terdengar suara mobil yang mengarah ke tempat mereka. ibu Nurul mengintip untuk melihat siapa yang datang. saat melihat suaminya keluar dari mobil, wanita itu segera membuka pintu warungnya.
pak Zainal berjalan beriringan bersama Leo dan Bara, mereka semua kemudian masuk ke dalam warung.
"loh kalian berdua udah ganti baju aja, padahal kami membawakan kalian baju ganti" ucap Bara kepada Vino dan El-Syakir
"ini pakaian anak ibu warung ini" jawab Vino
"baiklah. ini adalah pak Zainal yang akan membantu kalian mencari teman-teman kalian yang hilang" pak Samsul memperkenalkan pria baya itu
"pak, tolong temukan kakak saya dan kedua temannya" Alana memohon
"ada berapa orang yang hilang...?" tanya pak Zainal
"tiga orang pak, satu perempuan dua laki-laki" jawab El-Syakir
"baiklah, kita berangkat sekarang saja. hanya laki-laki saja yang ikut untuk perempuan kalian tetap di sini" ucap pak Zainal
"pak, saya mau ikut" ucap Zahra
"bahaya Zahra, biar mereka saja yang mencari" ucap Melati
"saya ingin mencari kak Deva juga" jawab Zahra
" kan sudah ada mereka yang akan mencari, ada pak Zainal juga yang membantu. kita disini saja menunggu mereka kembali" timpal Melati
"kenapa sih kakak egois banget, yang hilang itu kakak aku, kak Melati nggak akan tau rasanya gimana khawatirnya aku sama kak Deva" nada bicara Zahra sudah tidak bersahabat
"lalu apa menurut kamu kak Adam bukan kakak aku...? bukan hanya kakak kamu yang hilang Zahra, kakak aku juga hilang sekarang. kalau kamu nekat ikut, jika nanti kamu yang menghilang bagaimana, bukankah itu akan tambah repot lagi. lebih baik kamu diam di sini dan jangan banyak bicara" Alana yang mendengar Zahra membentak Melati langsung naik pitam
"benar kata Alana Ra, lebih kita perempuan tetap di sini" Seil meyakinkan sepupunya itu
"bagaimana kalau kalian tidak menemukan mereka, pokonya aku harus ikut" Zahra tetap pada keinginannya
"baiklah kalau begitu, jika kamu tidak percaya kepada kami maka silahkan kamu sendiri yang pergi untuk mencari mereka" pak Zainal menatap Zahra dengan tatapan dingin
"a-aku..."
"kelakuan elu sekarang itu udah menghambat waktu kami tau nggak. benci banget gue sama cewek yang keras kepala" Bara emosi melihat kelakuan Zahra. gadis itu menunduk mendapatkan semprot dari Bara
"ayo pak, waktu kita sudah tidak banyak" El-Syakir mengajak
"kita berangkat sekarang" ucap pak Zainal
mereka laki-laki keluar dari warung ibu Nurul. tiga obor mereka bawa untuk berjaga-jaga sedangkan ada juga senter untuk penerangan mereka. enam orang itu mulai menjauh dari warung untuk ke jalan pendakian yang menuju ke puncak atas sana.
"Zahra, aku nggak habis pikir sikapmu bisa kekanak-kanakan seperti ini" Seil terlihat kecewa dengan gadis itu
"aku hanya ingin mencari kak Deva apa itu salah"
"nggak salah, tapi elu liat sendiri kan pencarian kita tadi sia-sia. harusnya elu menghargai pak Zainal yang sudah jauh-jauh datang kemari untuk membantu kita. gue pikir elu punya adab loh, nggak taunya sama sekali nggak punya etika" Nisda menskak gadis keras kepala itu
"dan Alana nggak suka ya kamu bentak-bentak kak Melati" Alana yang biasanya bersikap lembut kepada siapa saja kali ini begitu geram dengan kelakuan Zahra
"sudah-sudah, tidak usah ribut. sebaiknya kalian semua istrahat. kita tunggu mereka datang untuk mendengar informasi lagi. kalian pergi tidur di kamar dekat dapur, di sana sudah ibu siapkan bantal dan selimut" ibu Nurul menghentikan Nisda dan Alana yang sedang mengeroyok Zahra dalam ucapan
"ayo Mel" Starla mengapit lengan Melati dan menuju ke kamar
yang lain pun mengikuti mereka, sementara Zahra masih duduk di tempatnya.
"ayo Ra" ajak Seil. meski kecewa dengan sikap sepupunya itu namun bukan berarti ia membencinya, begitupun dengan perempuan tim samudera. mereka hanya kesal saja kepada gadis itu tapi bukan berarti membenci
__ADS_1