
"sedang apa kamu...?" suara seseorang terdengar di belakangnya
Furqon menurunkan tangannya dan berbalik menghadap ke orang itu.
"aku hanya ingin melihat-lihat saja" jawab Furqon sementara Gibran menatapnya dengan penuh kecurigaan
"bukankah tidak sopan jika kamu sembarang masuk di dalam rumah orang" ucap Gibran dengan dingin
"maaf, aku begitu takjub dengan rumah besar ini jadi aku dibuat penasaran apa saja isi rumah yang seperti istana ini" Furqon menggaruk kepalanya
"Gibran" suara seseorang memanggil laki-laki itu
Furqon dan Gibran menoleh ke arah suara itu.
"Nathan" ucap Gibran
"kenapa kamu di sini...?" tanya Gibran
"aku lupa menyuntikkan obat kepada wanita itu" jawab Nathan
(wanita...?) batin Furqon penasaran
"kalau begitu cepat lakukan dan setelah itu kamu pulang" ucap Gibran
"iya iya, aku masuk dulu" ucap Nathan
Nathan melewati mereka berdua dan masuk ke dalam kamar. saat dokter itu membuka pintu kamar, Furqon mencuri pandang ke dalam kamar tersebut. hal yang ia lihat adalah tiang infus yang ada samping ranjang sementara dirinya tidak melihat siapa yang terbaring di ranjang itu karena Nathan telah menutup pintu.
"tunggu aku di depan" ucap Gibran kemudian menyusul Nathan masuk ke dalam kamar
"kalian lihat kan yang ada di dalam tadi...?" Furqon bertanya kepada ketiga pengawal Sanjaya
"apa mungkin yang di dalam itu adalah Vania, dia bilang seorang wanita tadi kan" ucap Randi
"cek dimana keberadaan Furqon sekarang Helmi" perintah ayah Adnan
"baik pak" jawab Helmi
Helmi mengotak-atik laptop miliknya, beberapa menit menunggu namun Helmi tidak menemukan dimana titik letak keberadaan Furqon sekarang.
"aneh, kenapa tidak bisa" Helmi heran, padahal hp milik Furqon terkoneksi dengan laptopnya namun ia tidak menemukan titik merah dimana posisi Furqon sekarang
"masa nggak bisa sih" Pram mengambil alih laptop itu dan melakukan hal yang dilakukan Helmi tadi
"kenapa seperti ini, kenapa tidak bisa dilacak" gumam Pram
"Furqon, kamu tau dimana tempat kamu berada sekarang...?" Helmi bertanya
"entahlah, aku juga bingung dan tidak menghafal jalannya padahal tadi aku ingat banget jalan yang aku lalui" Furqon menggaruk kepala
"keluar ke halaman rumah, pergi ke jalan raya. tempat apa saja yang kamu lihat" perintah ayah Adnan
Furqon berlari keluar rumah dan ia menuju jalan raya. kamera yang ada di kacamatanya tidak bisa menangkap gambar di daerah luar itu. yang muncul di layar laptop Helmi hanya warna abu-abu tanpa ada gambar sama sekali.
"kenapa dengan laptop mu ini Hel, apakah rusak...?" tanya Randi
"kenapa bisa seperti ini" Helmi begitu bingung
"Fur, apa yang kamu lihat di sekitar itu...?" tanya Pram
"memangnya kalian tidak bisa melihat apa yang aku lihat...?" tanya Furqon
"tidak, coba perbaiki kacamata mu" ucap Helmi
Furqon membuka kacamata miliknya dan kemudian memakainya lagi.
"bagaimana dengan ini, apakah sudah jelas...?" tanya Furqon lagi
"tetap tidak muncul gambar, ada apa ini sebenarnya" Helmi terus mengotak-atik laptop miliknya namun tetap saja tidak memunculkan gambar sama sekali
"Furqon, coba kamu lihat di sekitar mu. ada gedung apa saja, agar kami dapat mencari keberadaan mu sekarang" ucap Randi
Furqon melihat di sekitarnya, jika ia amati yang dilihatnya hanyalah rumah para warga di sekitar itu dan tidak ada gedung kantor atau semacamnya yang dilihatnya.
"hanya rumah-rumah milik warga, aku tidak melihat gedung bertingkat atau semacamnya yang bisa aku jadikan patokan" ucap Furqon
"Abimana sedang apa kamu di luar" Aris datang menghampiri Furqon
"pemandangan di luar indah pak" jawab Furqon dengan asal
"apa yang indah hanya melihat rumah-rumah penduduk. dasar orang aneh" Aris mencibir
sementara Furqon tersenyum masam
__ADS_1
"sejak tadi aku lihat kamu mengunyah terus, apa yang kamu makan...?"
"oh, aku sedang mengunyah permen karet pak...bapak mau...?" Furqon menawarkan
karena perannya yang menjadi Abimana Aryasatya, Furqon yang tidak suka dengan permen karet harus terpaksa memakan permen tersebut, sebagai ciri khas dari dirinya.
"tidak, aku tidak suka permen" tolak Aris yang berlalu masuk ke dalam
"ada yang aneh, kenapa saat Aris muncul kita dapat melihat dirinya melalui kamera Furqon namu saat menelisik di sekitar, kita tidak melihat apapun" ucap Helmi
mereka semua terdiam membenarkan ucapan Helmi bahwa ada yang tidak beres dengan tempat yang didatangi oleh Furqon.
"kalian istirahatlah dulu, tidak lama lagi mendekati waktu magrib" Thalita datang bersama Mita sementara Sisil membantu ibu Arini yang memasak sejak tadi
"kita harus bersiap naik ke atas" ucap Pram
"makan dulu. kalian butuh tenaga untuk melawan musuh. mandi dan sholatlah terlebih dahulu" Mita mendekati Pram dan mengajaknya ke kamar yang mereka tempati di ruangan itu
di alam gaib hutan timur, dua anak manusia masih berada di dalam air yang begitu dingin. Adam dan El-Syakir sama-sama mulai menggigil kedinginan.
tim samudera meninggalkan mereka berdua kembali ke kerajaan karing-karing karena mereka tidak diizinkan untuk menemani Adam dan El-Syakir.
"aku sudah nggak kuat" ucap Adam, bibirnya mulai membiru begitu juga dengan El-Syakir
"harus kuat kak, demi paman Zidan, tante Vania dan semua orang. kita harus kuat" El-Syakir menyemangati Adam
Senggi yang mengawasi mereka akhirnya menghilang dari tempat itu dan menghadap ke ratu Sundari.
"bukankah waktu mereka hanya sampai matahari terbenam ratu, lalu kenapa mereka harus menunggu sampai pagi" tanya Senggi
"aku hanya menguji mereka Senggi, apakah tekad mereka benar-benar kuat atau tidak" jawab ratu Sundari
"sepertinya ratu pasti tidak meragukan lagi bagaimana sikap Adam selama ini. aku meminta agar ratu meluluskan mereka dari ujian ini. mereka telah melakukan apa yang ratu minta, keduanya tidak akan lagi di kenali oleh Sri Dewi"
"baiklah, bawa mereka kembali ke istana"
Senggi menunduk hormat kemudian menghilang dan kembali di sungai Kaligasan. ia berdiri tepat di hadapan Adam dan El-Syakir.
"naiklah, sudah selesai berendamnya" perintah Senggi
"benarkah...?" mata Adam berbinar
"ratu memanggil kalian kembali ke istana" ucap Senggi
Senggi memberikan mereka pakaian kering agar keduanya berganti pakaian. dengan tangan yang gemetar dan kedinginan, Adam dan El-Syakir mengambil pakaian itu.
"dingin dingin begini enak dipeluk yayang" ucap Adam sambil memakai bajunya
"nggak usah ngeres deh otak lu kak" tegur El-Syakir
"bilang aja sirik karena nggak punya yayang" Adam menjulurkan lidahnya ke arah El-Syakir
"nggak butuh" jawab El yang telah selesai memakai baju dan celananya
"El, jangan-jangan kamu ini...." Adam melirik ke bagian bawah adiknya itu
buuuk
"sembarangan kalau mikir, aku normal ya" El-Syakir menggeplak kepala Adam karena berpikir yang tidak-tidak tentang dirinya
Senggi membawa mereka kembali ke istana. tim samudera sudah bersama ratu Sundari. setelah tiba, Adam dan El-Syakir duduk bergabung bersama yang lain.
"setelah ini, energi kalian berdua tidak akan dapat dicium oleh Sri Dewi" ratu Sundari menatap Adam dan El-Syakir bergantian
"apakah penampilan mereka tidak diubah saja ratu agar ratu Sri Dewi benar-benar tidak mengenal mereka" ucap Leo
"aku memang akan merubah penampilan keduanya" ucap ratu Sundari
"atau aku ubah wujud kalian menjadi orang lain...?" tanya ratu Sundari
"kalau merubah wujud, paman pengawal tidak akan dapat mengenal kami ratu" timpal El-Syakir
"betul juga" gumam Vino
"make over saja tanpa merubah wujud ratu, sebisa mungkin ratu Sri Dewi dan Baharuddin tidak mengenal mereka berdua" ucap Starla
"baiklah. kalian berdua berdiri di depan" perintah ratu Sundari
Adam dan El-Syakir menuruti perintah ratu Sundari. mereka berdiri tidak jauh dari wanita itu. telapak tangan ratu Sundari mengeluarkan cahaya biru. ia mengarahkan telapak tangannya ke depan sehingga cahaya itu langsung mengarah kepada Adam dan El-Syakir. keduanya tidak lagi terlihat karena cahaya biru itu.
tim samudera satu persatu begitu deg-degan. mereka menunggu akan seperti apa nantinya perubahan kedua kakak adik itu.
perlahan-lahan cahaya biru yang menyelimuti Adam dan El-Syakir mulai redup. dengan mata yang tetap fokus, tim samudera tidak mengalihkan pandangan sedikitpun ke tempat lain.
__ADS_1
kini penampakan keduanya mulai terlihat, tim samudera sampai melongo dibuatnya saat melihat penampilan kedua teman mereka itu.
Adam terlihat sangat berbeda dari sebelumnya. rambutnya gondrong lurus sampai sebahu. retina mata yang hitam berubah menjadi biru. dagunya ditumbuhi bulu-bulu halus yang menambahkan kesan karismatik dalam dirinya. hidungnya bertambah mancung padahal sebelumnya tidak semancung itu. kulitnya yang putih berubah menjadi kecoklatan. sungguh penampilan yang luar biasa untuk seorang Dirga Sanjaya.
sementara El-Syakir, rambut lurusnya berubah menjadi keriting dan berwarna coklat. kacamata bulat bertengger di hidungnya yang mancung. alisnya yang tadinya tipis berubah menjadi tebal, terdapat tahi lalat di bawah mata kirinya, tidak begitu besar namun cukup untuk meyakinkan bahwa dirinya bukanlah El-Syakir. meskipun begitu ketampanan dari putra ayah Adnan dan ibu Arini ini, tidaklah hilang.
"oh my Gooood" Nisda menganga lebar
"Kak Dirga sama Kak El ganteng banget" Alana memuji kedua kakaknya
"woaaaah....kalian berubah menjadi manusia Hiro" Vino mendekat dan mengelilingi keduanya
"heh, kenapa aku malah jadi manusia jadi-jadian seperti ini...?" Adam memegang rambutnya yang panjang sampai bahunya
"elu ganteng loh kak, coba bercermin. ratu, bisa bisa tolong sediakan cermin untuk mereka" Bara meminta dengan sopan
ratu Sundari melihat ke arah Senggi. wanita langsung menyediakan cermin yang dibutuhkan dengan menggunakan sihirnya.
"alamaaaaak, kok aku malah jadi Adamwati" Adam teriak tatkala melihat penampilannya yang sekarang
"hahaha" tawa Melati dan Starla langsung meledak
"kenapa rambutku malah jadi mie instan seperti ini...?" El-Syakir memegang rambutnya yang berubah menjadi keriting
keduanya sibuk mengomentari penampilan masing-masing. Adam bahkan merengek kepada ratu Sundari untuk mengubah dirinya dengan penampilan yang lain. ia tidak suka rambutnya yang gondrong seperti perempuan.
"udahlah, elu masih ganteng kok dam. coba tanya sama ratu, pasti ratu jawab elu ganteng. iya kan ratu" ucap Leo
"bagaimanapun penampilan mu bagiku kamu tetap Adam yang aku kenal. penampilan mu sekarang menunjukkan bahwa kamu laki-laki dewasa yang terlihat akan disegani. Baharuddin akan menganggap kamu laki-laki yang mempunyai keberanian seperti orang kepercayaannya yang bernama Gibran" ratu Sundari menjelaskan alasan ia mengubah Adam menjadi seperti itu
"darimana ratu tau kalau nama orang kepercayaannya adalah Gibran" tanya El-Syakir
"elu lupa El yang elu tanya itu siapa..?" ucap Leo
"maaf ratu" ucap El-Syakir
"selama ini aku selalu mengawasi dia. karena lewat dia aku bisa mencari tau dimana Baharuddin dan Sri Dewi bersembunyi namun nyatanya sampai saat ini aku tidak tau dimana mereka berdua" ratu Sundari menjawab pertanyaan El-Syakir
"padahal aku merasakan kalau Gibran sering bertemu mereka berdua namun tetap saja aku tidak bisa menjangkau keberadaan mereka. setiap dia bertemu dengan Baharuddin dan Sri Dewi maka saat itu juga aku akan kehilangan Gibran yang padahal sudah dalam pengawasanku setiap saat"
"apa sesakti itu sekarang ratu Sri Dewi...? tanya Alana kepada ratu Sundari
"entahlah, tapi sepertinya memang kekuatannya bertambah kuat setelah Baharuddin pernah menyelamatkannya waktu itu" ratu Sundari menjawab
"jadi penampakkan diriku begini saja nih..?" tutur Adam yang masih terus memperhatikan dirinya di cermin
"iya begitu saja, elu memang sekarang cocok jadi penampakkan, hahaha" Starla kembali ngakak. bukan apa-apa, dirinya hanya merasa lucu dengan rambut Adam yang gondrong itu
"asem kamu" Adam mencebik
"nggak buruk-buruk amatlah, begini saja sudah sangat cukup" ucap El-Syakir tersenyum geli melihat dirinya di cermin
"siapa yang punya karet, aku mau ikat rambut. panas nih" ucap Adam
Melati memberikan ikat rambut miliknya yang tidak ia pakai. Adam mengikat rambutnya ke atas sehingga terlihat jelas aura ketampanan yang ia miliki.
"woaaaah, ternyata aku ganteng ya" Adam mulai narsis saat melihat kembali dirinya di cermin
"hadeeeh, kambuh lagi penyakitnya" Nisda memutar bola matanya
"sekarang kembalilah, ada tugas baru yang akan kalian selesaikan" ucap sang ratu
"Senggi, bawa mereka. antar mereka pulang" perintah sang ratu Sundari
"baik ratu" Senggi menjawab patuh
"bisa tunggu di luar, aku ingin bicara sebentar dengan ratu" ucap Adam kepada Senggi
Senggi mengangguk dan ia mengajak tim samudera untuk keluar dari ruangan itu. sementara itu Adam langsung mendekati ratu Sundari dan memeluknya.
"biarkan seperti ini sejenak" ucap Adam
ratu Sundari membiarkan Adam memeluknya. wanita itu juga membalas pelukan Adam.
"aku sangat takut paman Zidan akan pergi meninggalkan ku dan tante Vania tidak akan bisa aku temukan. aku begitu pesimis karena lawanku sekarang adalah penguasa kegelapan"
"tapi dengan adanya ratu bersamaku, aku yakin bisa menghadapi mereka"
Adam melepaskan pelukannya dan menatap dalam mata wanita yang ada di depannya.
"bantu aku untuk melawan mereka ratu, dirimu adalah kekuatan bagiku" ucap Adam dengan sorot mata yang terlihat ada keputusasaan di dalam mata itu
"kamu tidak sendirian Adam. aku selalu bersama kamu" ratu Sundari tersenyum dan membelai wajah Adam dengan lembut
__ADS_1
Adam kembali memeluk ratu Sundari. setelah ini, ia dan bersama tim samudera akan berjuang bersama-sama untuk melawan kebathilan.