
setelah semua orang merayakan pesta ulang tahun ibu Arini, kini mereka mulai membubarkan diri untuk ke kamar masing-masing. para pengawal Sanjaya grup menginap di rumah itu, lagipula ada begitu banyak kamar yang masih tersedia, yang sering mereka pakai saat mereka akan menginap di rumah kediaman Sanjaya grup.
Azam lebih memilih tidur di kamar El-Syakir dan Adam, dirinya tidak ingin tidur dikamar lain apalagi sampai mengganggu kedua orang tuanya.
tinggallah tim samudera yang masih berada di halaman belakang rumah. mereka masih betah bercerita dan bersenda gurau melepaskan tawa dimana jika terdengar perkataan lucu dari mulut mereka.
"Adam mana ya, kok nggak ada...?" Leo celingukan mencari keberadaan CEO muda Sanjaya grup itu
"tadi gue lihat dia pergi deh, mungkin ke toilet" timpal El-Syakir
"kasian juga sih dia, sejak kejadian itu sampai sekarang Adam masih terus menunggu. padahal udah satu tahun terlewati, ratu Sundari tetap tidak ada yang bisa menggantikan posisinya di hati Adam" Nisda menyandarkan kepalanya di bahu Bara
"atau kita kenalkan saja sama cewek-cewek cantik di kampus, kan banyak tuh. nggak mungkin lah mereka nggak suka sama Adam" Vino asik memakan kacang
"permasalahannya, Adamnya mau nggak sama mereka. kalaupun mungkin dia mau, gue yakin sih Adam nggak bakalan serius dan hanya main-main saja. istilahnya sekedar mencari teman hiburan, kalau bosan nanti dibuang" ucap Starla
"setuju tuh. mending biarkan dia seperti itu, kita nggak punya hak juga untuk mengurus hati orang lain. biarkan dia melupakan ratu Sundari seiring berjalannya waktu. kalau dipaksakan, bisa-bisa Adam semakin terluka dan seperti yang dikatakan Starla tadi. jangan sampai hal itu membuat Adam menjadi laki-laki playboy. yang ada bukan hanya dia saja yang menderita tapi wanita lain juga" Nisda sependapat dengan Starla
El-Syakir hanya dapat menghela nafas. bagaimanapun dirinya setuju dengan Nisda, mereka harus membiarkan Adam melewati semuanya sesuai keinginannya. jika mereka memaksakan kehendak bisa-bisa Adam menjadi seperti yang dikatakan oleh Nisda.
"oke, lupakan tentang itu. sekarang gimana kalau kita merencanakan untuk pergi berlibur. udah lama kan kita nggak pergi-pergi lagi seperti dulu. gimana kalau kita ke kampung nenek gue. dari dulu loh kita merencanakan hal itu tapi nggak pernah jadi, ada aja kendalanya" Vino memberikan usul
"kayaknya aku nggak bisa. pekerjaan kemarin saja belum aku selesaikan. lebih-lebih Dirga, dia yang menjadi pimpinan sekarang. kami berdua harus mencari waktu yang tepat untuk bisa ikut bersama kalian" ucap Deva
"huufffttt, makin susah dong sekarang kita jalan bareng. kak El kuliah, kak Dirga sama kak Deva kerja, Alana sendirian di rumah kalau pulang sekolah" Alana memasang wajah cemberut
"kan ada Galang teman kamu dek, lagian Seil kan sering kesini juga" timpal El-Syakir
"Seil juga ke sini karena mau ketemu kakak, aku jadi obat nyamuk"
Seil hanya tersipu malu mendengar ucapan Alana. sementara semua orang terbatuk-batuk dan menatap El-Syakir yang terlihat biasa saja.
"udah resmi ya El...?" tanya Bara
"apanya yang resmi...?" El-Syakir bertanya balik
Bara memutar bola mata, kesal dengan sikap El-Syakir yang terlihat plin plan menurutnya. sementara Seil menghela nafas sebelum akhirnya beranjak dari tempat duduknya.
"Seil udah ngantuk, mau tidur duluan" Seil melangkahkan kakinya untuk masuk ke dalam. namun langkahnya terhenti tatkala suara Nisda terdengar di telinganya
"Seil, El-Syakir mau ngomong sesuatu sama kamu. mending kalian bicara berdua aja ya. ayo guys kita cabut" Nisda beranjak yang lainnya pun ikut bangkit
"loh mau kemana...?" El-Syakir tentu saja tidak ingin ditinggalkan
"heh El, mending sekarang elu perjelas status jangan sampai diambil orang baru nyaho lu" Melati menepuk pelan bahu El-Syakir sebelum akhirnya mereka pergi meninggalkan keduanya
Seil masih setia di tempatnya ia berdiri. dirinya semakin kikuk dan salah tingkah karena El-Syakir tidak kunjung bersuara.
"emmm kak, aku....masuk dulu".
"duduklah" perintah El-Syakir
Seil mendekat dan duduk sedikit berjarak dari El-Syakir. hening, tidak ada lagi yang bersuara. bahkan saat ini pun El-Syakir hanya memasang wajah datarnya menatap lurus ke depan. Seil semakin tidak nyaman dengan situasi sekarang.
__ADS_1
"kakak mau bicara apa...?" pelan, Seil bertanya dengan suara pelan
"aku tidak ingin mengatakan apapun. Nisda hanya mengada-ada"
jawaban El-Syakir membuat perasaan Seil menjadi sangat malu. gadis itu menghela nafas sebelum akhirnya berdiri dan berpamitan untuk pergi. namun El-Syakir menahan tangannya dan mendudukkan gadis di sampingnya.
tangan El-Syakir masih terus menggenggam tangan Seil yang ia letakkan di atas pahanya.
"selama ini aku tidak pernah memikirkan untuk menjalin hubungan dengan seorang perempuan. bagiku, menjalin hubungan dengan seorang perempuan itu adalah hal yang sulit. aku tidak ingin dikekang, di perintah dan aku malas mendengar perempuan yang suka ngambekkan nggak jelas kepada pasangannya"
"aku menyukai diriku yang bebas, tidak bergantung kepada orang lain. tidak mempunyai beban diatur oleh pacar yang belum tentu nantinya akan menjadi pasanganku dunia akhirat kelak"
Seil semakin diam dan bahkan sulit untuk mengatur nafas. jika sudah seperti itu berarti memang laki-laki yang selama ini dia idamkan tidak tertarik kepadanya. hal itu membuat Seil semakin merasa sangat malu dengan perasaannya.
"namun.... mungkin bisa aku coba jika aku menanamkan aturan didalamnya disaat menjalin hubungan itu" El-Syakir memutar kepala menatap Seil yang juga sejak tadi sedang menatapnya
"jika kamu ingin bersama denganku, apa kamu akan sanggup dengan peraturan yang aku berikan...?" El-Syakir menatap dalam gadis itu
Seil menunduk dan berpikir, dirinya sama sekali tidak menyangka bahwa ternyata El-Syakir adalah laki-laki yang begitu dingin dengan makhluk yang bernama wanita.
tidak mendapatkan jawaban, El-Syakir melepaskan genggaman tangannya dan bergeser sedikit menjauh dari samping Seil.
"sepertinya kamu tidak bisa" El-Syakir berkata dengan dingin
"Seil bisa" dengan cepat Seil menjawab dan mengangkat kepala "jadi katakan apa peraturannya" lanjut Seil dengan begitu yakin
"baiklah. hal pertama aku tidak suka dikekang, tidak suka di larang jika itu hal yang aku sukai. kedua, aku tidak suka perempuan yang manja yang selalu meminta ditemani setiap waktu tanpa tau kalau aku juga punya kesibukan lainnya bukan hanya mengurus anak orang. ketiga aku tidak suka perempuan yang pencemburu, dimana dirinya selalu membatasi dengan siapa aku akan berteman dan dengan siapa aku tidak bisa berteman. aku paling tidak suka dengan hal ini. kadang sahabat sendiri harus dijauhi hanya karena pasangan marah jika kami laki-laki terlalu dekat dengan seorang perempuan yang kadang nyatanya dia adalah sahabat kami. bahkan lebih dulu kami bertemu dengan sahabat itu dari pada dia sendiri. keempat, bertingkah yang sewajarnya jika kita bertemu. jangan terlalu mengekspos keromantisan di depan banyak orang. hal seperti itu ada porsinya, bisa dilakukan tapi sewajarnya saja. bagaimana, apa kamu sanggup...?"
"kalau.... berpegangan tangan apakah itu masih hal yang wajar jika kita bertemu...?" Seil bertanya dengan hati-hati
"tentu saja bisa, bukankah aku katakan hal yang sewajarnya saja"
"baiklah, Seil akan mengikuti semua peraturan itu. namun, peraturan itu berlaku juga untuk kakak. bagaimana...?"
"tidak masalah, aku memang laki-laki yang tidak ingin ribet dalam urusan percintaan. kalau cocok lanjut kalau tidak maka berhenti"
"jadi...apa sekarang kita"
"kita apa...?" El-Syakir menaik turunkan alisnya menggoda gadis itu
"jangan pura-pura bodoh kak, kak El tau apa yang Seil maksud" Seil cemberut karena merasa dikerjai
El-Syakir tersenyum kemudian mengusap kepala Seil dengan lembut.
"semoga betah bersamaku, jika kamu tidak sanggup maka katakan dan kita akan berhenti"
Seil mengangguk dengan senyuman yang terus menghiasi wajahnya. sementara itu tim samudera keluar dari tempat persembunyian dan membuat kehebohan. El-Syakir diangkat dan dibawa ke dalam kolam renang.
"woi woi woi, apa yang kalian lakukan" El-Syakir memberontak namun para laki-laki tidak menggubris teriakannya
"tentu saja merayakan hari jadi kalian. ayo lempar, 1...2...3"
byuuur
__ADS_1
El-Syakir di lempar ke dalam kolam renang. semua orang tertawa sementara El-Syakir begitu kesal. ia pun naik ke atas dan mengejar semua orang untuk ia seret ke dalam kolam. Adam yang baru saja datang langsung menjadi target utamanya.
"hei hei hei... lepaskan aku, apa yang kamu lakukan" Adam memberontak namun El-Syakir tetap menggendong Adam
keduanya terjun ke dalam kolam renang, tentu saja Adam menjadi basah kuyup. semua orang hendak berlari masuk ke dalam rumah namun Adam menutup pintu tanpa menyentuhnya, tentu saja dengan kekuatan gaibnya. ia dan El-Syakir kembali naik ke atas dan mengejar siapa saja untuk mereka seret ke dalam kolam.
tidak ada yang tidak basah malam itu, mereka semua bermain air di dalam kolam. menjelang pukul 3 dini hari, barulah mereka masuk ke dalam rumah dan bersih-bersih mengganti pakaian.
esok harinya tampak Adam sedang sibuk di ruangannya bersama El-Syakir dan Deva serta laki-laki tim samudera lainnya. untuk para perempuan, mereka lebih memilih untuk keluar jalan-jalan daripada harus berkutat dengan lembaran berkas yang membuat otak mereka pusing.
"meetingnya jam berapa kak...?" Adam bertanya kepada Deva
"jam 1 siang nanti, hari itu kan kamu yang memundurkan jadwal karena ulang tahun ibu Arini" jawab Deva
"haduh, cepek banget gue. ini pekerjaan nggak ada habisnya ya" Leo mengeluh dan memilih bersandar di sofa
"latihan memang Le, perusahaan om Rahmat kan elu juga nanti yang akan ambil alih" Vino masih tetap memeriksa setiap lembaran berkas yang ada di tangannya
"begini amat jadi anak sulung, coba aja Bayu udah gede, kan bisa tuh dia yang gantiin gue" Leo menghembuskan nafas dengan pelan
Leo memejamkan mata dan pada akhirnya dirinya malah tertidur pulas. Vino yang merasa lelah pun menghentikan pekerjaannya dan ikut bersandar di sofa. keduanya tertidur sementara yang lain masih sibuk dengan pekerjaan masing-masing.
ponsel Deva berdering, segera ia membuka kacamata miliknya dan mengangkat panggilan telepon entah dari siapa. setelahnya, ia memberitahu Adam bahwa klien mereka yang akan bekerjasama dengan Sanjaya grup rupanya telah tiba di bandara dan meminta bertemu di luar bukan di ruang lingkup kantor Sanjaya grup.
"memangnya dia mau bertemu dimana...?" tanya Adam
"di pulau" jawab Deva
"di pulau...?" semua orang kaget
"pulau mana nih maksudnya...?" tanya El-Syakir
"pulau wisata milik Sanjaya grup" Deva menjawab
"lah, kenapa minta bertemu disana. darimana dia tau kalau Sanjaya grup mempunyai pulau wisata" Bara mengerutkan kening
"tentunya sebelum mengambil keputusan untuk bekerjasama, jelas mereka akan mencari tahu mengenai tentang perusahaan Sanjaya grup. emmm kayaknya bukan hal aneh juga sih kalau dia mau bertemu di sana. mungkin maksudnya sekalian liburan gitu" El-Syakir berpendapat
"kalau gitu kita bisa ikut dong, sekalian liburan juga. kalau para cewek-cewek tau pasti mereka senang"
"siapa yang mau liburan...?" Vino terbangun karena merasa terganggu dengan suara teman-temannya, Leo pun ikut terbangun
"kita mau berlibur di pulau, mau ikut nggak" ucap Bara
"wah maulah, kapan kapan...?"Vino tentu saja bersemangat
"tadi mereka mengatakan kita akan bertemu dengan mereka kapan kak, hari ini...?" tanya Adam
"besok pagi jam 8, nona Airin hanya ingin bertemu berdua denganmu, jadi setelah sampai di pulau, aku tidak akan ikut bersamamu"
"loh kenapa seperti itu, kakak kan asisten aku"
"ya mau bagaimana lagi, itu adalah keinginan klien kita. kalau kamu menolak bisa jadi kerjasamanya batal"
__ADS_1
Adam menggaruk-garuk kepala kemudian menghela nafas. setelahnya ia menyuruh semua orang untuk bersiap-siap karena mereka akan berangkat ke pulau hari itu juga.