
pagi di rumah Leo, Bayu sudah menggedor kamar orang tuanya. akibat janji pak Rahmat kepada putra bungsunya itu, kini Bayu pagi pagi sekali sudah membangunkan mama Melisa dan pak Rahmat.
duhh
duhh
dugh
"papa mama bangun, udah pagi. katanya mau jalan-jalan" Bayu berteriak di pintu kamar
"papa mama" teriak Bayu lagi
"den Bayu cari papa sama mama ya...?" bi Ira yang menjadi ART di rumah itu menghampiri Bayu
"iya bi, tapi papa sama mama nggak bangun-bangun" Bayu menjawab
"papa sama mama nggak pulang semalam den, jadi mereka tidak ada di dalam kamar" bi ira berjongkok di depan anak itu
"kok nggak pulang, memangnya mereka kemana bi...?" Bayu menatap bi Ira dengan mata bulatnya
"aduh, bibi juga nggak tau den. lebih baik sekarang den Bayu minum susu dulu yuk, bibi udah buatkan susu kesukaan kamu" bi Ira membujuk
"nggak mau, Bayu mau papa sama mama" Bayu mulai merajuk
"untuk sekarang den Bayu sama bibi dulu ya, kita tunggu papa sama mama pulang" bi Ira masih berusaha membujuk anak itu
"papa bohong lagi sama Bayu. katanya mau jalan-jalan, tapi sekarang Bayu ditinggal" mata Bayu mulai berkaca-kaca
sejak di angkat menjadi anak, Bayu sangat dimanjakan oleh pak Rahmat dan mama Melisa namun bukan berarti semua keinginannya di penuhi. mereka banyak mengajarkan hal tentang anak itu.
mendapatkan kasih sayang dari orang tua baru membuat Bayu merasa nyaman dan kini tidak bisa jauh dari kedua orang tua barunya.
Leo yang baru keluar dari kamar bersama yang lain, menghampiri adiknya itu.
"kenapa dek...?" Leo mengangkat tubuh Bayu dan menggendongnya
"papa bohongin Bayu, katanya mau hari ini mau jalan-jalan, padahal papa sama mama nggak pulang" Bayu sudah menjatuhkan air matanya, suaranya sudah terdengar serak
(nah kan gue bilang juga apa, papa sih malah janji segala, sekarang anaknya nangis malah nggak ada ) Leo membatin
"nggak usah nangis, nanti jalan-jalan sama kakak dan kakak yang lainnya. kita ke pantai seperti kemauan Bayu" Leo menenangkan Bayu
"benar...?" mata bulat anak itu berbinar
"benar dong. iya kan gays, kita nanti ke pantai kan...?" Leo mencari pembenaran
"benar banget, sekarang Bayu minum susu dan sarapan dulu yuk, nanti setelah itu kita siap-siap ke pantainya" Starla mengangguk membenarkan ucapan Leo
dengan semangat Bayu mengangguk patuh. masih dalam gendongan Leo, mereka menuju meja makan untuk sarapan. bi Ira menyiapkan semuanya.
"assalamu'alaikum" terdengar ucapan salam
"wa alaikumsalam" jawab mereka semua
pak Rahmat dan mama Melisa yang baru saja pulang menghampiri mereka di meja makan. Bayu yang melihat orang tuanya pulang langsung senang dan sumringah.
"anak papa makan apa...?" pak Rahmat mengelus kepala Bayu
"roti bakar. pah, jadi kan jalan-jalan ke pantai...?" Bayu mendongakkan kepalanya untuk bisa melihat pak Rahmat
"jadi dong. setelah sarapan, kita siap-siap ke pantai" pak Rahmat menjawab
Bayu semakin senang dan ia pun sangat lahap memakan roti bakar miliknya.
setelah sarapan, mereka pun bersiap dan kini mereka telah berada di halaman rumah.
karena tidak mungkin menggunakan satu mobil, mereka pun pergi dengan dua mobil. para perempuan menaiki mobil pak Rahmat sedang laki-laki berada di dalam mobil Leo.
di dalam mobil, Bayu yang duduk di kursi tengah bersama Starla dan Nisda, terus bernyanyi tiada henti. dirinya sangat senang karena baru kali ini ia pergi liburan bersama keluarga barunya.
sebenarnya sudah dari dulu pak Rahmat ingin mengajak mereka jalan-jalan, menikmati waktu bersama namun karena kesibukannya di kantor, hal itu hanya tinggal rencana saja hingga hari rencana itu baru terlaksana.
"kalau jalan kayak gini, gue jadi ingat Adam. biasanya dia yang paling heboh karena harus mencari melati terlebih dahulu" Vino mengenang teman hantu mereka itu
"iya, gue jadi kangen sama kak Dirga" Bara berucap
"semoga dia tenang di sana. meskipun dia udah nggak ada, tapi nama dan kenangannya akan tetap ada di hati kita" El-Syakir berucap dan memandang ke luar jendela
__ADS_1
"Kira-kira bisa nggak ya kita membantu arwah kalau Adam udah nggak ada lagi seperti sekarang ini. biasanya kan dia yang menyelesaikan semua masalahnya" Leo yang sedang menyetir menimpali ucapan mereka
"in shaa Allah bisa, selama kita terus bersama dan saling bantu" jawab El
"apapun nanti yang terjadi pada kita, kita harus tetap bersama ya dan jangan saling meninggalkan" ucap Vino
"takut banget kehilangan Vin" ucap Leo
"cukup Adam yang pergi, kalian jangan. kita udah lama sama-sama, kehilangan itu sangat menyakitkan Le. gue nggak mau kehilangan kalian semua" Vino melihat ke arah belakang untuk dapat melihat El dan Bara
"kita tim samudera akan selalu bersama apapun yang terjadi" ucap Bara dan mereka semua mengangguk
setelah mengambil karcis, kedua mobil itu di parkir di tempat yang nyaman. semuanya turun dari mobil. hari minggu lebih banyak pengunjung dari hari biasanya. tentu saja seperti itu, karena dihari itu pasti yang berada di tempat itu ingin menghabiskan waktu bersama keluarga tercinta.
Bayu langsung berlari ke air saking senang dan semangatnya ia melihat pantai.. mereka menyewa tempat yang di sediakan di pantai itu. satu gazebo akan dibayar 100 rb.
"mah, Bayu mau mandi boleh ya...?" Bayu menghampiri mama Melisa yang sedang menata barang-barang mereka
"boleh sayang, tapi jangan ke tempat yang dalam yah" mama Melisa mengiyakan
"iya" jawab Bayu
Bayu tidak sendirian, ia diawasi oleh para perempuan namun tidak masuk ke dalam air, mereka hanya berdiri di pesisir pantai itu.
******
ibu Arini yang sedang berbincang dengan Vania harus menghentikan obrolan mereka karena handphonenya berdering.
suaminya yang sudah 5 bulan meninggalkannya, menghubunginya. ibu Arini pamit kepada Vania untuk ke kamarnya. sementara Vania yang juga di tinggal oleh suaminya, menerima pesan dari pria yang sangat dirindukannya itu.
Suamiku : hari ini aku pulang, mungkin larut malam aku tiba
saat membaca pesan dari Zidan, Vania tampak kegirangan bahkan langsung meloncat seperti anak kecil.
"nona hati-hati" Thalita menegur Vania. ia datang dengan segelas susu di tangannya
"hehehe, aku senang banget soalnya Tha, suamiku akan pulang hari ini" Vania kembali duduk di sofa
"senang sih senang, tapi ingat juga baby yang di dalam perut nona" ucap Thalita
"nih, diminum sampai habis biar babynya sehat" Thalita memberikan susu itu kepada Vania
"makasih ya Tha"
"sama-sama nona. nggak terasa perut nona sudah sebesar ini" Thalita mengelus perut Vania
"iya, nggak nyangka banget. Kira-kira nanti kalau Zidan udah datang, dia bakalan shock nggak ya liat aku yang perutnya udah besar kayak gini" Vania mengusap perutnya yang sudah membesar
usia kehamilannya sudah 6 bulan. sebenarnya saat Zidan ke LN ternyata dirinya sudah mengandung 1 bulan namun ia sama sekali tidak tau. dan saat dirinya tau kalau dia hamil, ia sebenarnya ingin memberitahu Zidan namun ia urungkan dan akan membuat kejutan nantinya.
"bukan shock lagi tapi pasti langsung pingsan. pulang-pulang perut istrinya udah besar aja. langsung struk dia mah" jawaban Thalita membuat Vania terkekeh
"kamu benar, aku nggak bisa ngebayangin gimana reaksinya nanti" Vania mulai tertawa pelan
"paling ngamok minta cerai" timpal Thalita
"hus, kamu mah ngomongnya suka gitu. ya jangan sampai" Vania menegur
"ya nggak lah, paling pak Zidan loncat-loncat seperti nona tadi saking bahagianya udah mau jadi bapak" ucap Thalita
"tapi aku ngebayangin ekspresi kagetnya itu loh gimana"
"paling dramanya seperti ini. sayang, kamu hamil...? Thalita dengan ekspresi kagetnya memegang bahu Vania
"tega ya kamu sayang, berbulan-bulan aku tinggal, datang-datang kamu udah hamil aja. katakan siapa bapaknya" Thalita menatap Vania dengan tajam, mereka berandai kalau Thalita adalah Zidan
"bapaknya kamu maemunah" Vania langsung menyoyor kepala Thalita
"aduh, sakit nona. jangan ditoyor juga palaku. nanti lah pak Zidan datang baru hantam kepalanya pakai balok" Thalita memegang kepalanya
"hehehe maaf Tha, habis aku terlalu menghayati" Vania cengengesan dan Thalita cemberut
setelah puas mandi di air laut, Bayu naik ke permukaan. dia digandeng oleh Alana dan menghampiri yang lainnya yang ada di gazebo.
"seru sayang mandinya...?" tanya mama Melisa
"seru mah, tapi Bayu udah dingin" jawab anak tampan itu
__ADS_1
"ayo sini ganti bajunya dulu setelah itu kita makan"
Bayu mendekat ke arah mama Melisa dan membuka semua pakaian anak itu. kemudian mama Melisa mengambil satu botol air mineral dan diguyurkan di tubuh Bayu agar anak itu tidak gatal-gatal nantinya.
setelah selesai, mama Melisa memakaikan Bayu dengan baju ganti yang dibawanya. hari sudah siang, waktu menunjukkan pukul 14.00 namun karena matahari yang di halangi oleh awan yang sepertinya isinya akan menyapa bumi, maka waktu tidak terlihat seperti siang hari karena cuaca yang tiba-tiba saja mendung.
"mau hujan nih" ucap Nisda melihat ke atas sana
"kita makan setelah itu kita pulang. nggak baik diluar hujan-hujanan" pak Rahmat menimpali
mereka telah melaksanakan sholat dzuhur, kebetulan di tempat itu disediakan tempat untuk ibadah jadi mereka tidak susah untuk mencari masjid lagi.
mama Melisa menyediakan makanan dibantu oleh para perempuan. kini berbagai lauk tersedia di depan mereka.
mereka mulai menyantap makanan itu, Bayu yang kedinginan bahkan sampai menggigil pada akhirnya di suapi oleh mama Melisa.
"pah sepertinya kita memang harus pulang, Bayu sudah menggigil seperti ini" mama Melisa melihat suaminya
"selesaikan makan dulu baru kita pulang" jawab pak Rahmat
"pakai jaket aku saja tante biar Bayu sedikit hangat" El membuka jaket yang ada di badannya
"makasih ya El, harusnya memang tadi tante membawakan jaket untuk Bayu" mama Melisa mengambil jaket El-Syakir dan memakaikan ke tubuh Bayu yang sudah pasti akan tenggelam karena sangat kebesaran
setelah makan, mereka bersiap untuk pulang namun sayangnya hujan sudah turun lebih dulu. dengan terpaksa mereka harus menunggu hujan reda, karena kalaupun bergegas mereka akan basah sebab mobil diparkir jauh dari tempat mereka sekarang.
hujan turun begitu derasnya. angin bertiup kencang membuat siapapun pasti kedinginan. Bayu di dekap oleh mama Melisa. anak itu sudah terlelap dipelukan ibunya, sepertinya dia kelelahan karena seharian bermain air.
Alana yang kedinginan dipeluk oleh El-Syakir, sementara yang lain memeluk diri sendiri. Bara dan Vino tidak mungkin untuk memeluk Starla dan Nisda di depan mama Melisa dan pak Rahmat, mereka masih punya rasa malu untuk melakukan hal itu.
dalam derasnya hujan, entah ada apa tiba-tiba saja orang-orang yang tadinya sedang berteduh malah berlari ke arah air.
dua orang bahkan langsung menyebur ke dalam air dan berenang ke tempat yang dalam. dapat dilihat seorang wanita ingin masuk ke dalam air laut namun seorang pria mencegahnya. terlihat wanita memberontak dan memukul dada pria yang mencegahnya tadi.
"eh itu kenapa ya...?" tanya Melati melihat orang-orang tadi
El-Syakir mengarahkan pandangan ke tempat dimana dua orang sedang berenang. ternyata mereka sedang ingin menyelamatkan seorang anak kecil yang tenggelam. anak itu terus mengangkat tangannya ke atas dan tubuhnya timbul tenggelam ke dalam air.
"ada yang tenggelam" ucap El-Syakir sedikit keras
"ya Allah, kasian sekali. pah tolongin pah" mama Melisa nampak panik
semua laki-laki tim samudera termasuk pak Rahmat, mereka menerobos hujan dan berlari ke dalam air.
El-Syakir tanpa pikir panjang langsung berenang menuju ke anak kecil yang semakin lama tubuhnya semakin tenggelam. dua orang yang berusaha untuk menyelamatkannya pada akhirnya tidak bisa menyelamatkan anak itu karena semakin mereka dekati anak itu semakin menjauh padahal seharusnya saat ia tidak bisa berenang maka anak itu harusnya tetap berada di tempatnya.
"El.... balik El" Leo berteriak karena El-Syakir sudah pergi ke tempat yang semakin dalam, namun sayangnya suaranya tentu tidak di dengar oleh El-Syakir karena suara hujan yang begitu deras
Vino yang tidak bisa mandi hujan pada akhirnya ia kembali ke gazebo untuk berteduh. tubuhnya basah kuyup dan dia sama sekali tidak membawa baju ganti.
"yank, pakai ini" Starla yang membawa jaket memberikan kepada Vino dan menyelimuti Vino dengan jaketnya
"kamu kan nggak bisa mandi hujan, kenapa malah ikutan lari juga sih" Starla memeluk Vino dari samping, ia tidak peduli dengan adanya mama Melisa karena sangat khawatir kepada Vino. Starla khawatir Vino akan drop sama seperti saat mereka berkemah dulu
"ganti bajumu Vin, pakai bajunya papa Leo saja." mama Melisa mengambilkan baju ganti yang dia bawakan untuk pak Rahmat
sengaja mama Melisa membawa baju ganti untuk suaminya karena ia pikir suaminya itu akan berenang dengan Bayu namun ternyata tidak.
"terus om Rahmat pakai apa tante, om Rahmat juga basah" Vino menjawab, ia sudah menggigil meski jaket Starla telah membungkus tubuhnya
"om kalau basah nggak apa-apa, beda dengan kamu. ambil dan pakai" mama Melisa memberikan baju itu kepada Vino
Vino langsung membuka bajunya yang basah kemudian memakai baju pak Rahmat yang diberikan oleh mama Melisa.
"El balik El" Leo masih terus memanggil El-Syakir namun semua itu percuma
dua orang yang berusaha menyelamatkan anak itu pada akhirnya mereka kembali ke daratan namun tidak dengan El-Syakir. ia masih tetap terus berenang untuk menggapai anak itu yang sudah semakin dekat dengannya.
El-Syakir berhasil meraih tubuh anak itu dan mengangkatnya. anak laki-laki yang seusia Bayu, di angkat ke punggungnya dan ia kembali berenang naik ke daratan.
sayangnya saat akan kembali berbalik, seakan kaki El-Syakir ada yang menahan di bawah sana sehingga dirinya tidak bisa berenang.
meskipun berusaha sekuat tenaga, tetap saja El-Syakir tidak bisa berenang karena kakinya tertahan di bawah dasar laut.
"papa tolongin El pah, tolongin" Leo panik begitu juga yang lainnya
pak Rahmat meminta pelampung dan kemudian berenang menyusul El-Syakir yang sedang kesusahan untuk berenang kembali ke daratan.
__ADS_1
tenaga El-Syakir sudah habis, bahkan anak yang ada di punggungnya itu sudah kembali tenggelam hingga akhirnya keduanya sama-sama tenggelam karena El-Syakir sudah tidak punya tenaga lagi untuk berenang.