Petualangan Mistis

Petualangan Mistis
Episode 208


__ADS_3

mobil yang di bawah oleh Ardi melaju kencang karena begitu terburu-buru ingin sampai di perusahaan. beberapa kali ia menyelinap mobil yang lain karena mereka tidak punya banyak waktu untuk mengemudi dalam keadaan santai.


"lampu merah Ar" ayah Adnan mengingatkan karena di depan mereka adalah lampu merah


bukannya berhenti Ardi langsung menerobos lampu merah begitu saja dan pengendara lain yang akan menyebrang berhenti seketika tatkala mobil Ardi melaju kencang di depan mereka.


"hati-hati Ar, aku belum mau mati" ucap Edward yang hampir jantungan dengan cara mengemudi Ardi


"tenang saja Ed, kamu masih bisa bertemu dengan Cecil nantinya. lecet dikit nggak apa-apa lah" Ardi menjawab dengan seuntai senyuman di bibirnya


waktu tempuh yang harusnya 30 menit kini mereka tempuh dalam waktu 15 menit saja. itu berarti Ardi mengikis jalan dengan kecepatan diatas rata-rata.


ciiiiiit....


mobil berhenti tepat di depan gedung yang menjulang tinggi 15 lantai. sementara mobil pengawal yang mengikuti mereka baru saja tiba. rupanya sang sopir pun ahli dalam mengemudi seperti yang dilakukan oleh Ardi.


mereka semua bergegas berlari ke dalam. pak satpam sampai terheran-heran melihat bos dan para pengawal masuk terburu-buru ke dalam kantor.


"pak Adnan kenapa itu...?" gumamnya


karena merasa ada sesuatu yang tidak beres, pak satpam dengan langkah tergesa-gesa menyusul mereka masuk ke dalam kantor.


para karyawan yang masih mengerjakan pekerjaan mereka langsung tergelak kaget saat melihat bos mereka datang dengan nafas yang memburu.


"kalian semua, hentikan pekerjaan kalian dan langsung pulang secepatnya" ucap ayah Adnan


"memangnya kenapa pak, kami belum selesai mengerjakan laporan yang harus kami kumpulkan besok" tanya salah seorang karyawati laki-laki


"bergegas benahi semua barang-barang kalian dan tinggalkan kantor. atau kalian ingi meledak di dalam sini. ada bom yang entah dimana para penyusup masuk dan meletakkan benda itu. jika kalian ingin selamat maka keluarlah dari perusahaan ini" ucap Ardi


semua orang tentu saja kaget setelah mendengar adanya bom di perusahaan itu. dengan terburu-buru dan bahkan telah bergetar ketakutan, satu persatu langsung meninggalkan meja mereka dan menuju ke pintu keluar.


"ada apa ini pak...?" satpam yang baru saja datang bertanya kepada ayah Adnan


"ada bom di sini, suruh semua karyawan untuk meninggalkan tempat ini sebelum gedung ini meledak" perintah ayah Adnan


karyawan yang mengadakan lembur kerja hanya terdapat di lantai satu sampai lantai tiga. para pengawal langsung masuk ke dalam lift untuk menuju ke lantai dua dan tiga. sementara di lantai satu, semua karyawan berbondong-bondong keluar karena tidak ingin mati konyol karena bom yang tidak tau siapa yang memasang di tempat kerja mereka.


Ardi mengkomando untuk ke lantai tiga sementara Edward yang sebagian pengawal lainnya berhenti di lantai dua


"keluar... semuanya keluar, ada bom di tempat ini. cepat keluar" teriak pengawal yang baru sampai di lantai dua


"bom...? yang benar saja" sebagian dari mereka mempercayai ucapan tiga pengawal itu


"mau menyelamatkan diri atau kalian tetap ingin di sini sampai menunggu perusahaan ini meledak dan tubuh kalian semua hancur berkeping-keping...?" ucap salah satu pengawal yang menatap tajam ke arah mereka


"kalau mau mati, maka tetaplah kalian berada di sini. kami hanya ingin menyelamatkan orang-orang yang masih sayang dengan nyawa mereka" ucap Edward tidak peduli


"aku tidak mau mati"


"mengerikan sekali, ayo kita pergi. aku masih sayang nyawaku"


semuanya langsung panik dan membereskan barang-barang mereka setelah itu berlari keluar dari ruangan dan masuk ke dalam lift untuk turun ke lantai bawah.


di lantai tiga juga sama paniknya dengan yang lain. Ardi mengarahkan mereka menuju ke lift untuk turun ke lantai bawah. namun sayangnya suara ledakan yang begitu keras terdengar entah di lantai mana membuat semua orang teriak ketakutan dan bahkan keluar dari lift dan berkumpul di depan ruangan kerja mereka.


"lewat tangga darurat, jangan menggunakan lift.. bahaya" teriak Ardi memberitahu


dengan berbondong-bondong dan tergesa-gesa mereka semua berlari ke arah tangga darurat. hal yang tidak akan diduga ternyata pintu menuju ke tangga darurat dikunci dan tidak bisa terbuka.


"bagaimana ini, pintunya terkunci" mereka bertambah semakin panik


dua pengawal datang dan berusaha mendobrak pintu darurat itu. beberapa kali tendangan dilayangkan sampai pintu itu terbuka lebar.


saat itu juga mereka menerobos langsung menuju ke lantai bawah. dua pengawal itu mengantar mereka sampai di lantai satu sementara tiga pengawal yang bersama dengan Ardi langsung ikut masuk ke tangga darurat dan tujuan mereka adalah tempat dimana terjadi ledakan tadi.


"keluar, semuanya keluar" teriak ayah Adnan saat segerombolan karyawannya yang dari lantai tiga baru saja datang


kantor di kosongkan, semua orang telah keluar menjauh dari gedung bertingkat itu. sementara ayah Adnan serta pengawalnya langsung bergegas ke lantai atas.


Ardi menghubungi Edward dan ayah Adnan untuk ke lantai tujuh karena ledakan itu berasal dari sana. tanpa menggunakan lift takutnya terjadi sesuatu hal yang dapat menyebabkan mereka terjebak di dalam lift, mereka menggunakan tangga untuk sampai di lantai tujuh.


tiba di lantai tujuh deru nafas mereka begitu memburu, bahkan ayah Adnan sampai bersandar di dinding mengatur nafas yang tidak beraturan.


lantai tujuh di periksa oleh mereka, yang sudah dalam keadaan berantakan karena ledakan tadi.


sebuah notifikasi pesan masuk di hp ayah Adnan. pesan dari nomor yang tidak dikenal dengan nada ancaman.


08xxxx : bagaimana pak Adnan yang terhormat, terhibur dengan hadiah yang aku berikan. aku bahkan bisa meledakkan seluruh lantai perusahaan Sanjaya grup jika aku mau. tapi aku ingin melihat kepanikan darimu.


ayah Adnan membalas pesan tersebut dengan perasaan was-was.

__ADS_1


"apa maumu...?" pesan itu dikirim ke nomor misterius tadi


08xxxx : aku bisa meledakkan semuanya karena remote control dari bom itu ada di tanganku. kamu bertanya apa yang aku mau...? gampang saja, aku menginginkan nyawamu dan nyawa semua orang yang berhubungan dengan keluarga Sanjaya


"aku menemukannya" teriak Edward


pencarian dilakukan bukan hanya di lantai tujuh tapi di setiap lantai perusahaan Sanjaya grup. Edward mendapatkan bom itu di lantai sembilan, dengan kakinya yang panjang Edward berlari di tangga darurat untuk kembali ke lantai tujuh.


"kabel mana yang harus kita potong untuk menonaktifkan bom ini...?" tanya ayah Adnan


"agghhh sial, kita bisa meledak kalau seperti ini" Ardi menendang kursi karena begitu emosi


"coba saya lihat pak" satpam yang ternyata mengikuti mereka datang dan mendekat


"kamu tau cara menjinakkan bom...?" tanya Edward


"saya harus lihat dulu secara detail" jawab pak satpam


siapapun akan bingung, begitu banyak kabel sampai bingung harus memotong kabel yang mana. salah potong saja maka tamatlah riwayat mereka.


"kita tidak punya waktu lagi pak, tersisa 30 menit lagi" ucap salah satu pengawal lain


"kita larikan saja ke tempat lain dan buang ke laut" ucap pengawal lain


"bomnya akan meledak di jalan. daripada memakan korban lebih baik biar perusahaan ini yang menjadi korbannya" timpal ayah Adnan


satpam menghubungi seseorang melalui video call dan menunggu beberapa detik panggilan diangkat.


"ada apa Madan...? tanya seorang laki-laki yang terpampang di layar hp satpam


"tolong aku An, kami dalam masalah. ada sebuah bom di tempat perusahaan aku bekerja. aku bingung karena belum terlalu lihai dalam menangani bom seperti ini. coba kamu lihat. waktu yang tersisa 28 menit lagi" satpam mengarahkan hpnya ke arah bom yang tergeletak di atas meja


"kabel mana yang harus aku potong...?" tanya satpam yang masih terlihat begitu muda


"itu adalah bom yang dapat diledakkan dari jarak jauh"


"apakah kamu bisa mengatasinya. tolong An, kami bisa meledak di sini"


"biar aku ke sana untuk memeriksanya"


"memangnya kamu dimana...?"


"aku di cafe biasa tidak jauh dari tempat kamu bekerja"


satpam itu mematikan panggilan. dan memegang bom tersebut.


"temanku akan datang membantu, ayo kita ke bawah" ucap satpam yang masih begitu muda tersebut


ayah Adnan dan yang lainnya mengangguk mereka turun ke bawah untuk menunggu seseorang yang akan datang menonaktifkan bom yang ada di tangan mereka.


sementara di rumah sakit, Gibran duduk di salah satu kursi bersama dengan Zidan. keduanya saling menatap bahkan Gibran kini sekarang begitu lemah. luka tembak yang ada di perutnya terus berdarah. sedang untuk melepaskan bom yang ada di tubuhnya sungguh tidak mungkin jangan sampai bom itu meledak seketika.


semua orang telah berada di tempat yang aman. ketiga pengawal Sanjaya grup sedang memeriksa satu persatu dari mereka untuk mencari seseorang yang dicurigai orang itulah yang membawa masuk bom tersebut.


sementara di sudut ruangan itu tepatnya berada di tempat paling belakang, seorang laki-laki sedang mengendap-endap untuk keluar dari ruangan itu. ketika tiga pengawal itu sedang sibuk memeriksa satu persatu orang-orang yang ada di tempat itu, laki-laki itu menggunakan kesempatan untuk kabur. sayangnya sebuah lemparan kursi melayang mengenai pintu tepat saat laki-laki itu akan memegang gagang pintu.


braaaakkk


semua orang panik dan kaget, mereka histeris dan beringsut ke tempat yang paling sudut.


Helmi berdiri dengan tatapan tajam menatap laki-laki itu, bahkan bersidekap. dialah yang melempar kursi ke arah laki-laki itu. Randi dan Pram mendekati Helmi dan berdiri di sampingnya.


"mau kemana bung, buru-buru amat" ucap Helmi semakin mendekat


"kenapa Hel...?" tanya Randi


"dia mau melarikan diri" jawab Helmi


"bukannya dia... laki-laki yang ada di rekaman cctv itu ya" ucap Pram


"sial" umpat laki-laki itu


laki-laki itu membuka pintu namun secepat mungkin Helmi menendang pintu tersebut hingga tertutup kembali dan juga ia melayangkan tendangan ke arah laki-laki itu sehingga ia tersungkur ke lantai.


"dimana remote control bom itu...?" tanya Helmi


bukan menjawab, laki-laki itu menendang kaki Helmi dari bawah sehingga Helmi jatuh ke lantai. sementara itu laki-laki itu mengambil kesempatan untuk kabur. Randi mengejarnya dan memegang bajunya, jas dokter yang ia kenakan untuk menyamar sebagai seorang dokter. jas itu ia lepaskan sehingga dirinya terlepas dari Randi.


laki-laki itu menuju ke lift, namun karena pintu lift yang begitu lama terbuka dan juga Pram telah berada tidak jauh darinya membuat laki-laki itu menuju ke tangga dan naik ke lantai atas. hanya ke lantai atas tempat ia melarikan diri karena untuk ke pintu keluar, dirinya tidak bisa melewati ketiga pengawal tadi.


Pram mengejarnya, Randi dan Helmi pun mengejar. aksi kejar-kejaran di tangga darurat seperti di film action dimana ketiga polisi mengejar satu orang buronan.

__ADS_1


bugh


Pram melayangkan tendangan dan mengenai punggung laki-laki itu namun tidak membuatnya berhenti.


"sial" umpat Pram begitu kesal


mereka semakin naik di lantai paling atas. Pram berhasil memegang baju laki-laki itu saat mereka telah tiba di atap, gedung rumah sakit tersebut.


buaaaak


satu pukulan Pram layangkan ke wajah laki-laki itu hingga ia jatuh dan menabrak kumpulan besi yang ada di atap gedung itu.


Randi dan Helmi baru saja datang. laki-laki itu telah menjadi bulan-bulanan bagi Pram. tendangan demi tendangan ia layangkan ke perut laki-laki itu.


"dimana remote control bom itu...?" tanya Pram menarik kerah baju laki-laki itu


"hahaha, jangan mimpi untuk mendapatkan itu. sisa 15 menit lagi bom itu akan meledak bersama dengan tubuh Gibran si penghianat itu" laki-laki itu tertawa padahal wajahnya telah penuh dengan luka akibat ulah dari Pram


bugh


"aaaggghh"


Pram jatuh tersungkur ke belakang karena laki-laki itu membenturkan kepalanya di hidung Pram.


melihat hidungnya berdarah, Pram semakin meradang dan emosi menguasai dirinya.


"MATI KAMU"


buaaaak


buaaaak


dua bogem mentah mendarat di wajah laki-laki itu.


buaaaak


bugh


Pram melompat ke atas dan memberikan tendangan bebas menggunakan lututnya di wajah laki-laki itu. darah dari mulut laki-laki itu keluar dan bahkan ia seketika ambruk.


baru saja Randi akan mendekati untuk memeriksa remote control itu, laki-laki itu bangun dan menendang Randi sehingga Randi terhuyung ke belakang. sementara itu, laki-laki itu menggunakan kesempatan berlari ke arah depan berniat untuk terjun bebas ke bawah dari atap rumah sakit itu.


"JANGAN"


Helmi teriak dan ikut berlari. laki-laki itu telah terjun ke bawah namun untungnya Helmi pun ikut terjun dan menangkap kaki laki-laki itu sementara itu kaki Helmi di tangkap oleh Pram.


"RANDI, TOLONGIN" teriak Pram menahan kaki Helmi


Randi bangkit dan berlari kemudian mereka berdua bersama-sama mengumpulkan tenaga untuk menarik Helmi dan juga laki-laki itu. keduanya telah di tarik kembali ke atas. Pram mencari benda yang mereka cari dan benda kecil berwarna hitam itu ada kantung celana milik laki-laki itu.


"Gibran sebentar lagi akan ma..."


bugh


Pram yang masih tersulut emosi membenturkan kepala laki-laki itu ke dinding hingga dirinya langsung pingsan.


"tombol mana yang akan di tekan...?" tanya Pram karena ada dua tombol di remote itu, warna merah dan warna hijau


"tekan warna merah" ucap Helmi


mereka panik karena waktu tersisa 20 detik lagi sementara mereka masih ragu untuk memencet tombol mana yang akan mereka tekan.


wajah Gibran telah di penuhi air mata. dirinya bukan takut untuk mati namun ia menyesal tidak bisa merasakan kehangatan kasih sayang dari keluarga Sanjaya yang menyayanginya tidak seperti ayahnya.


"pergi paman, bom ini akan meledak"


"tidak, paman akan tetap di sini bersama kamu"


"paman masih mempunyai Galang dan tante Vania, pergi paman" Gibran mendorong Zidan namun Zidan bangkit dan memeluk Gibran dengan eratnya


"pergilah paman" Gibran sudah terisak dalam pelukan Zidan


lima detik lagi bom itu akan meledakkan mereka berdua. keduanya menutup mata, Zidan memeluk Gibran dengan eratnya tidak ingin meninggalkan keponakannya itu. hingga setelah lama mereka menutup mata namun ledakan dari bom belum juga terjadi.


Zidan mengurai pelukannya dan melihat bom itu sudah tidak aktif lagi.


"kamu selamat" ucap Zidan mencium kening Gibran beberapa kali


Gibran langsung lemas dan pingsan. dokter Nathan segera berlari ke arah mereka dan membawa Gibran untuk ia tangani kembali.


di perusahaan Sanjaya, tepat satu detik lagi laki-laki yang bernama Aan berhasil memotong kabel untuk menonaktifkan bom tersebut. setelah berhasil mereka semua jatuh ke lantai dengan keringat yang sudah membasahi baju mereka.

__ADS_1


ketiga pengawal andalan Sanjaya grup berpelukan setelah berhasil menonaktifkan bom itu. mereka menjatuhkan diri dan berbaring di lantai atap.


"syukurlah kita berhasil" ucap Helmi dengan nafas yang begitu lega


__ADS_2