Petualangan Mistis

Petualangan Mistis
Episode 195


__ADS_3

POV (Adam)


kali ini aku sedang berada di ruangan rumah sakit yang ditempati oleh Aris. setelah kejadian yang menimpa dirinya karena ulahku yang sebenarnya dia tidak tau, laki-laki sombongnya selangit ini terkapar di ranjang rumah sakit.


flashback


karena aku tidak bisa lagi melawan Gibran, maka yang harus aku lakukan adalah melindungi semua keluargaku yang berada di dalam rumah. mereka tidak boleh sampai masuk ke dalam. tidak siapapun yang bisa masuk kecuali tanpa izinku.


aku berlari ke arah samping rumah dan bersembunyi di balik pohon bonsai agar tidak ada siapapun yang dapat melihatku. jika aku terlihat, pastinya orang-orang Baharuddin akan datang menyerangku


aku duduk bersila dan menutup mata. aku akan membuat pagar gaib agar tidak seorangpun dari para musuh yang bisa masuk ke dalam terkecuali orang-orang dari Sanjaya.


ku arahkan telapak tanganku ke depan hingga kemudian rumah besar ini diselimuti tabir yang tidak bisa dilewati oleh para musuh kami.


rupanya saat itu juga aku melihat Aris sedang berusaha masuk ke dalam rumah. karena tidak bisa dan usahanya selalu gagal, dia mengambil sesuatu di balik bajunya. jika aku amati, itu adalah sebuah tusuk konde. darimana dia mendapatkan tusuk konde seperti itu. apa iya itu adalah miliknya. kalau memang iya itu adalah miliknya berarti laki-laki ini memang tidak waras.


aku mengamati apa yang akan dia lakukan. rupanya dia menancapkan tusuk konde itu ke tanah dan dirinya duduk bersila.


gawat, sepertinya dia ingin menghancurkan pagar gaib yang aku buat. terlihat tusuk konde itu melayang di atas kepalanya dan sinar merah keluar dari tusuk konde tersebut.


kurang ajar, berani sekali dia akan membobolkan pagar gaibku.


saat tusuk konde itu melesat cepat untuk merubuhkan pagar gaib yang aku buat, dengan cepat aku melesatkan cahaya biru ke arahnya sehingga tusuk konde itu tidak dapat menyentuh pagar gaibku dan Aris terpental beberapa meter.


suara ledakan yang begitu besar membuat sebagian orang yang ada di tempat itu terluka, apalagi ternyata mereka sama terpental bersama Aris.


aku memeriksa apakah ada orang-orang Sanjaya yang terluka namun ternyata tidak. hanya pasukan musuh yang terluka dan itu membuat Gibran menyuruh semua pasukannya untuk mundur dan pergi.


aku melihat Aris tergopoh-gopoh melarikan diri dan masuk ke dalam mobil. tidak semudah itu untuk kamu melarikan diri dariku pecundang.


aku melesat mengikutinya dan saat itu aku bertemu dengan paman Helmi. aku memberitahu tujuanku hingga paman Helmi membiarkan aku pergi untuk mengejar Aris.


mobil yang kendarai Aris tidak melaju begitu cepat sehingga aku dapat menyusulnya. namun ternyata mobil itu malah mogok di tengah jalan. dengan perasaan kesal Aris keluar dari mobil dan menendang ban mobilnya yang sepertinya bocor.


"brengsek, bisa-bisanya dalam keadaan seperti ini masih sempat-sempatnya mobil ini pecah ban" Aris mengumpat dengan kasar


"aaaggghh SIALAN"


melihat kesialan yang dialaminya, aku jadi merasa senang. harusnya bukan pecah ban tapi masuk ke jurang saja sekalian atau mungkin kecelakaan dan mobilnya meledak. itu sungguh khayalanku yang tingkat tinggi.


di dalam mobil aku memikirkan cara bagaimana agar bisa meringkus tikus yang tertimpa kesialan ini ke dalam karung yang aku miliki. tanganku terus mengetuk setir mobil dan berpikir keras hingga kemudian aku melihat tiga orang laki-laki yang sepertinya dalam keadaan mabuk sedang melewati jalan ini. tawa mereka sesekali terdengar dan jalan mereka pun sempoyongan


senyuman ku langsung melebar tatkala melihat ketiganya. aku membuka masker dan topiku. rambutku yang gondrong aku biarkan tergerai begitu saja karena karet yang aku pakai telah putus. ternyata aku tampan juga memiliki rambut gondrong seperti ini saat melihat diriku di spion gantung.


kemudian tidak lupa aku membuka jaket yang aku pakai. setelah itu aku turun dari mobil dan menghampiri ketiganya.


"hai bro, apa kabar...?" aku mendekati mereka dengan sok akrab


dari jarak beberapa meter, aroma alkohol sudah masuk di dalam hidungku.


"kamu kenal dia...?" salah seorang yang bertubuh kurus bertanya kepada kedua temannya


keduanya menggelengkan kepala dan mereka menatapku dengan intens dari kepala sampai ujung kaki.


"siapa kamu...?" yang berbadan kekar bertanya kepadaku


"aku...?" aku menunjuk diri sendiri


"aaah....aku adalah seseorang yang akan membuat kalian hoki malam ini asal kalian menuruti perintahku" ucapku dengan gaya kedua tangan berada di dalam saku jaketku


"hoki...?" hoki siapa...?" yang mempunyai bekas luka di wajahnya bertanya


buuuk


"goblok" yang berbadan kekar memukul kepala temannya itu


"hoki itu adalah......emmm" dia nampak berpikir keras


"aku pun tak tahu" ucapnya lagi Kemudian kembali meneguk minuman keras


yang mereka pegang


"dasar goblok. hoki itu pasti hello Kitty"


"kamu mau memberikan kami boneka hello Kitty...?


"apakah kita terlihat gemulai...? aku merasa pakaianku sangat cool dan LAKIK"


mereka ini sungguh bloon sekali. aku bilang hoki malah dikira hello Kitty. apa kaitannya coba.


segera aku mengambil dompet dan mengeluarkan uang merah sepuluh lembar.


"aku akan memberikan kalian uang ini, asal kalian mau mengerjakan sesuatu untuk ku. bagaimana...?" aku mengipas-ngipaskan uang merah ini di wajah ketiganya


saat melihat uang, mata ketiganya langsung melotot dan hendak mengambil uang yang aku pegang namun tentu saja tidak semudah itu mereka akan mendapatkannya.


"pekerjaan selesai maka ada uang" ucapku seraya mengipas-ngipaskan uang itu di wajahku


"jadi apa yang harus kami lakukan...?"


"kalian lihat laki-laki yang sedang frustasi di sana...?" aku menunjuk ke arah Aris yang sedang duduk di aspal dan bersandar di mobilnya


"aku rasa dia sedang tidak frustasi tapi sedang bersantai" ucap laki-laki yang berbadan kurus. ia bahkan meneropong Aris dengan kedua tangannya


"ho'oh, betul sekali" kedua temannya mengangguk setuju


memang kalau dilihat Aris sekarang ini seperti seseorang yang sedang bersantai di tengah malam yang dingin ini.


"tugas kalian adalah membuat babak belur orang tersebut" ucap ku lagi


"apakah dia penjahat...?"

__ADS_1


"atau dia psikopat...?"


"oooh atau dia....."


"dia hanya orang yang perlu kalian hajar. tidak perlu banyak tanya. eksekusi saja maka uang ini akan menjadi milik kalian" aku kembali mengipaskan uang di wajah mereka


"okeh let's go" yang berbadan kekar membuang botol minumannya dan menarik kedua temannya untuk mendekati Aris


sementara aku duduk di atas depan mobil dan berpangku dagu untuk menyaksikan aksi ketiganya. hingga detik berikutnya terdengar teriakan dari Aris yang begitu keras menggema di gelapnya malam. untungnya ada lampu jalan yang menerangi kami.


"woi woi woi, apa-apaan ini" Aris tentu saja kaget saat tubuhnya diangkat ke atas dan melayang di udara


laki-laki yang bertubuh kurus memegang tangan kanan, yang mempunyai bekas luka di wajah memegang tangan kiri sementara yang berbadan kekar memegang kedua kakinya.


"ayo kita buang dia ke got" ucap laki-laki bertubuh kurus


what...?"


aku sudah akan membayar mahal dan mereka hanya membuangnya ke got. yang benar saja. apa tidak ada yang lebih ekstrim gitu. aku menggurutu kesal melihat ketiga orang mabuk ini.


"jangan ke got. bagaimana kalau kita buang saja di atas pohon" ucap laki-laki yang memiliki bekas luka


ya ampuuuun....yang ini malah tambah parah.


"bahlul. kita buang saja ke semak-semak"


aku menepuk jidat mendengar rencana ketiga orang yang setengah waras itu. masing-masing mempertahankan pendapat masing-masing hingga kini Aris menjadi bahan tarik menarik antar ketiganya.


"LEPASIN AKU WOI" Aris memberontak dan terus berteriak meminta untuk dilepaskan


"jangan ribut. suaramu keras sekali. kami tidak pikun" yang berbadan kurus memarahi Aris


"kalian ini siapa, beraninya berbuat seperti ini padaku. lepaskan nggak"


"ayo kita buang dia ke got"


"jangan ke got. kita culik saja dia"


astaga......


aku benar-benar dibuat pusing oleh orang-orang suruhan ku ini. bukannya melakukan perintahku mereka malah ingin menculik Aris.


buaaaak


Aris menendang laki-laki yang memegang kakinya hingga laki-laki itu tersungkur ke tanah. kemudian ia menarik kedua orang yang sedang memegangi tangannya dan


bugh


Aris membenturkan kepala keduanya hingga mereka oleng dan pingsan di tempat.


"dasar manusia-manusai menjijikkan" umpat Aris dengan begitu kesal


lah mereka malah pingsan. nyesal sekali aku menyuruh mereka. dari jarak yang cukup jauh aku masih memikirkan rencana lain hingga sekumpulan geng motor datang. awalnya mereka melewati Aris begitu saja namun berikutnya mereka berbalik arah dan menghampiri Aris


bruummm...bruuummm


masih aku pantau dari jauh apa yang akan mereka lakukan. mungkin lewat mereka aku bisa menjadi pahlawan untuk korbanku saat ini.


rupanya mereka bukan hanya geng motor namun juga mereka adalah sekelompok begal. kalau aku hitung mereka lebih dari sepuluh orang.


sepuluh orang melawannya satu orang, sungguh situasi yang sangat tidak menguntungkan untuk Aris sekarang.


"serahkan apa yang kamu punya" laki-laki yang memakai ikat kepala merah menodongkan golok ke leher Aris


sedangkan yang lain memegang kedua tangan Aris agar ia tidak bisa melawan. mereka mulai menggeledah kantung celana Aris. hp dan dompet telah mereka rampas dan kini mereka juga mengambil kunci mobil.


"hahaha, dapat umpan besar hari ini kita bro" mereka tertawa tanpa tidak tau malu telah merampas milik orang lain


"bunuh saja dia" ucap salah satunya


aku mencari sesuatu yang dapat aku gunakan untuk mencelakai salah satunya dari jarak jauh. saat Aris hendak akan di tusuk, aku melempar batu yang aku dapat dan


bughhh


aaaggghh


tepat sasaran. lemparanku tepat mengenai kepala laki-laki yang hendak akan menusuk Aris.


"aaaggghh, bangsal....siapa yang melempar kepalaku"


"aku" aku sudah berdiri di hadapan mereka


"cari mati. bunuh dia"


lima orang datang menyerangku sementara yang sisanya menghajar Aris. aku masih bisa melihat Aris melakukan perlawanan. aku pun menghajar satu persatu orang-orang ini.


pukulan dan tendangan aku layangkan hingga mereka semua terkapar di aspal. saat itu aku melihat Aris kepalanya di pukul dengan benda tumpul. bahkan punggungnya pun di tebas dengan parang.


swing


swing


bughhh


bughhh


aku mengeluarkan kekuatan agar dapat menyelamatkan Aris. bagaimanapun juga aku masih butuh dirinya untuk bisa bertemu dengan Baharuddin.


mereka yang terkena sihirku langsung terpental dan menabrak tiang listrik. sementara saat itu ternyata ada seseorang yang melempar pisau ke arahku. hanya saja pisau itu terhenti tepat di depanku tanpa bisa menyentuhku.


aku mengembalikan pisau itu kembali kepada pemiliknya dan

__ADS_1


jleb


tepat di paha sebelah kirinya, pisau itu bersarang sekarang.


"kabur...kabur"


"woi, kembalikan barang-barang yang kalian ambil sebelum kalian kabur"


dengan tangan gemetar, dua orang mengembalikan hp, dompet dan juga kunci mobil. setelah itu mereka lari terbirit-birit tanpa membawa kendaraan mereka. dasar begal bodoh, punya otot tapi tidak punya otak.


ku dekati Aris yang sedang menatapku dengan permohonan meminta untuk diselamatkan hingga akhirnya ia tumbang di depanku.


flashback end


"kamu sudah sadar...?" ucapku setelah melihat Aris sadar dari pingsannya


"aw" Aris memegang kepalanya yang telah diperban oleh dokter


"aku dimana...?" tanya Aris


"di akhirat" jawabku


"a-akhirat...?" Aris langsung melotot seketika


aku menatapnya dengan tajam. ku pasang wajah sangarku agar dirinya ketakutan melihatku. dengan penampilan ku yang sekarang, siapapun pasti takut jika aku tatap dengan tatapan membunuh.


"k...k-kamu m-malaikat...?" Aris terbata-bata


melihat ekspresinya sekarang, aku ingin tertawa ngakak. bagiku dia seperti kucing yang disiram air.


aku menahan tawa sekuat tenaga dan memasang senyum yang mengerikan. rambutku yang tidak aku ikat membuat wajahku semakin seram saat ini.


"Man Rabbuka...?" tanyaku dengan wajah yang hanya berjarak beberapa centi dari wajah Aris. senyuman ku semakin aku buat mengerikan


aaaaaa


buuuk


Aris langsung pingsan kembali. padahal aku tidak begitu seram-seram amat namun kenapa dia langsung jantungan dan pingsan lagi.


ckckck.....


dirinya benar-benar penakut. bisa-bisanya Baharuddin mempunyai anak seperti ini.


dengan terpaksa aku menunggunya lagi sampai ia sadarkan diri. membosankan.... sungguh membosankan. hal yang paling aku benci adalah menunggu.


karena tidak bisa menahan kantuk dan aku terus menguap, aku pun beranjak di sofa kemudian membaringkan tubuhku yang letih. dari semenjak berendam di sungai Kaligasan bahkan sampai kembali ke alam manusia aku belum istrahat sedikitpun.


perlahan mataku semakin mengecil hingga kemudian tertutup dengan rapat. tangan kananku aku jadikan sebagai bantal.


"bagaimana keadaanmu...?"


"seperti yang kamu lihat. aku hampir sekarat karena digebukin begal"


sayup-sayup aku mendengar suara dua orang yang sedang berbicara. aku membuka mata dengan pelan dan mengedarkan pandangan di atas langit-langit ruangan yang penuh dengan bau obat yang begitu tercium di hidungku.


sepertinya aku tertidur cukup lama. aku bangun dan mengambil posisi duduk. saat itu juga mataku bertemu tatap dengan seseorang.


matanya tajam menusuk ke arahku. namun bukannya takut, aku membalas tatapan itu dengan tatapan dingin.


"aku seperti pernah melihat mata itu" ucapnya yang terus memandang ke arahku


gawat....


apa hanya dengan menatap mataku saja dia langsung punya perasaan pernah berjumpa denganku. padahal saat itu jelas-jelas yang terlihat hanyalah kedua mataku namun bagaimana bisa dia begitu memperhatikannya mataku dengan teliti.


"mataku yang menawan ini tidak mempunyai kesamaan dengan mata manusia lainnya. bagaimana bisa kamu berasumsi pernah melihatku" jawabku dengan tenang


aku bangkit dan mendekati Aris yang sudah sadar mungkin saat aku tidur tadi.


"kamu sudah bangun rupanya" ucapku


"ck, kamu manusia sialan yang mengagetkanku tadi" Aris menatap kesal ke arahku


"tapi aku juga yang menyelamatkan mu dari para begal itu kalau kamu belum hilang ingatan" jawabku


"terimakasih atas kebaikanmu" ucap Gibran


"hmmm" jawabku


"apa ayah tidak datang menjengukku, kenapa hanya kamu yang datang...?" tanya Aris


"dia sibuk. malam nanti kami akan bertemu dengannya. dia ingin bertemu dengan Abimana dan Syakir" jawab Gibran


Abimana dan Syakir, jelas mereka berdua adalah kak Furqon dan El.


"bawa dia juga" Aris menunjuk diriku


"aku...? kenapa aku harus dibawa...?" aku bertanya dan menunjuk diri sendiri


"kalau kamu mau bekerja denganku, kamu akan aku bayar dengan bayaran mahal. bagaimana...?" ucap Aris


"dia hanya orang luar, tidak ada urusannya dengan kita" ucap Gibran


Aris menggerakkan tangannya meminta Gibran untuk mendekat. laki-laki itu patuh dan mendekat. Aris membisikkan sesuatu ke telinga Gibran. aku tau mereka sedang membicarakan ku, terlihat dari mata Gibran yang terus mengarah ke arahku.


"bagaimana, apa kamu terima tawaranku...?" tanya Aris kepadaku


kesempatan emas memang tidak akan datang dua kali dan aku tidak akan menyia-nyiakan kesempatan ini.


pertama-tama aku berpura-pura nego harga, imbalan yang akan aku dapatkan. setelah itu aku menyetujui tawaran Aris.

__ADS_1


Baharuddin....


kita akan secepat bertemu.....


__ADS_2