
POV (Adam)
aku melepaskan pelukanku dari tubuh ramping wanita yang kini sedang berdiri di depanku. dialah sang ratu penguasa hutan timur dan tentunya juga yang telah menguasai hatiku. berkat dirinya aku masih hidup sampai sekarang. bantuannya selalu datang saat aku benar-benar terdesak.
aku sangat bersyukur bisa bertemu dengan wanita ini, meski mungkin usianya lebih dewasa dariku tapi aku tak peduli. usia bukan jaminan untuk kelanggengan sebuah hubungan.
"pergilah, teman-temanmu sudah menunggumu" ucapnya sambil tersenyum
senyumannya ini sangat membuatku candu. aku akan berusaha bagaimana pun caranya untuk bisa menemukan tubuhnya kembali.
"aku butuh energi" ucapku menatapnya lembut
"bukannya kekuatanmu melebihi dari tim samudera yang lain...?" ucap ratu Sundari
ah, sepertinya dia tidak mengerti apa yang aku maksud. mungkin aku harus inisiatif duluan.
"bukan energi itu tapi aku butuh energi seperti ini" aku langsung menangkup wajahnya dan menempelkan bibirku ke bibirnya
hanya menempelkan saja tanpa melebihkan karena untuk melakukan itu aku takut tidak bisa menahan diri. aku laki-laki normal, bisa hancur dunia persilatan jika itu aku lakukan. mungkin tim samudera akan menggantung diriku ke tiang jemuran. mereka kan galak.
aku menarik kembali wajahku dan menjauh. ku lihat wajah wanitaku bersemu merah. hais, aku benar-benar ingin membungkus dia dan membawa pulang ke rumah.
"aku pergi dulu ya. tetap awasi aku ratuku, tanpa bantuan mu aku tidak bisa apa-apa" ucapku
"pergilah, aku akan selalu memantau kalian" jawabnya
aku memeluk dirinya sekali lagi dan kemudian meninggalkan ruangan itu. di sana, di halaman istana, tim samudera tengah menungguku.
"lama banget sih lu" Vino menggerutu
"bahkan aku tidak puas, waktunya cuman sedikit" jawabku dengan biasanya
"cih, dasar bucin" cibir Vino
"bleeeek" aku menjulurkan lidah ke arahnya dan ia memutar bola mata
"aku akan mengantar kalian pulang" ucap Senggi
Senggi meminta kami untuk menutup mata dan itu kami lakukan. sedetik berikutnya saat kami membuka mata, kami semua sudah berada di tempat yang berbeda dari sebelumnya. tempat itu adalah pekarangan rumah keluarga Sanjaya. Senggi membawa kami pulang ke rumah.
"selain Adam dan El-Syakir, semuanya harus berada di sini" ucap Senggi
"lalu kami berdua akan kemana...?" tanya El-Syakir
aku pun ingin menanyakan hal itu dan rupanya El-Syakir tau apa yang aku pikirkan.
"bukankah kalian sudah punya rencana dari awal. ikuti saja rencana itu, aku harus kembali" Senggi menghilang dari pandangan kami
"El, hubungi kak Furqon dimana dia sekarang" ucapku
El-Syakir mengambil hp-nya dan menghubungi Furqon namun tidak tersambung walau beberapa kali dia melakukan panggilan.
"ah sial, kak Furqon pasti sudah ganti nomor makanya gue nggak bisa hubungi dia" ucap El-Syakir
"kalau begitu hubungi kak Ardi, dia pasti tau dimana kak Furqon sekarang" ucap Leo dan aku mengangguk setuju
El-Syakir akan menghubungi kak Ardi namun diurungkan karena rupanya yang kami akan telepon ternyata sedang berkeliling untuk memperketat keamanan. bahkan kami baru saja sadar kalau ternyata sudah banyak pengawal yang mengelilingi rumah ini.
untung saja saat kami datang dengan tiba-tiba, Senggi membawa kami ditempat yang terhalang dari para pengawal itu sehingga mereka tidak keheranan, bagaimana bisa kami tiba-tiba sudah berada di depan mereka.
"kak Ardi, kak Deva" Bara memanggil keduanya
mereka yang melihat kami semua langsung berlari kecil menghampiri kami dan berhenti tepat di depan kami semua.
"darimana saja kalian...?" tanya kak Deva, kini penampilannya sudah kembali seperti sebelumnya
"kami dari alam lain. kenapa penjagaan diperketat, apakah akan ada serangan dari musuh...?" Starla memperhatikannya sekitar
"hanya bersiap siaga saja. kita tidak tau apa yang direncanakan oleh Baharuddin licik itu" jawab kak Ardi
saat melihatku dan juga El-Syakir, kening kak Ardi dan kak Deva mengkerut. mereka saling pandang dan kembali lagi melihat kami berdua.
"siapa mereka...?" tanya kak Deva seraya menunjuk aku dan juga El-Syakir
"mereka Adam dan El-Syakir kak" jawab Alana
"Dirga dan El-Syakir...?"
"tuan muda Dirga dan tuan muda El-Syakir...?
wajah mereka seketika kaget. tentu saja, penampilan kami saat ini sangat berbeda dari sebelumnya. apalagi diriku yang kini menjelma menjadi laki-laki yang cantik karena memiliki rambut gondrong.
kak Deva mendekati kami berdua dan berputar mengelilingi kami. dia berhenti tepat di hadapanku dan memperhatikan dengan seksama. hingga kemudian tawanya meledak seketika.
"hahaha....hahaha" kak Deva mundur beberapa langkah dan terbahak-bahak
"heh, nggak sopan banget menertawakan adik sendiri" gerutuku dengan kesal
"kamu kok malah jadi cantik" ucap kak Deva yang masih diiringi dengan tawa
"aku cool ya kak, enak aja cantik. emangnya aku manusia jadi-jadian" aku menjawab dengan bibir mengerucut
"pppfffttt"
"kak Ardi kalau tertawa, aku sunat nanti ya" ancamku karena aku melihat kak Ardi menahan tawa yang hampir akan meledak
"ya jangan dong tuan muda. bisa hilang masa depanku" kak Ardi memegang bagian bawahnya
"kak, aku minta nomor kak Furqon untuk menanyakan dimana dia sekarang" ucap El-Syakir
"dia masih bersama Gibran dan katanya sedang berada di markas mereka. nih nomornya" kak Ardi memberikan HP-nya kepada El-Syakir
El-Syakir menyimpan nomor kak Furqon dan mulai mengubunginya namun tidak diangkat.
"apa dia sedang sibuk...?" gumam El-Syakir
"kita bisa melacak keberadaannya. tunggu aku panggilkan Helmi" ucap kak Ardi
"kami ikut" ucap Melati
karena kami berada di halaman belakang rumah, kami semua bergegas ke halaman depan. rupanya di sana paman Helmi, paman Randi dan paman Pram sedang berkumpul di teras rumah. kami semua menghampiri mereka.
"bagaimana Ar, sudah di cek semua kan...?" paman Helmi bertanya
__ADS_1
"sudah. sekarang tuan muda Dirga dan tuan muda El-Syakir ingin mengetahui keberadaan Furqon" ucap kak Ardi
"tuan muda Dirga dan tuan muda El-Syakir...? dimana mereka...?" tanya paman Randi
tentu saja dia bertanya karena paman Randi tidak mengenal kami berdua.
"ini mereka paman" Nisda mendorong aku dan El-Syakir untuk maju ke depan
"hah...?" ketiganya melongo tidak percaya
bukan mereka saja yang tidak percaya, aku sendiri saja tidak percaya akan berubah seperti ini. kenapa tidak sekalian saja ratu Sundari mengubahku menjadi power rangers.
"yang ini kak Dirga dan ini El-Syakir" Bara memberitahu mereka
"ya ampun kalian tampan sekali" ucap paman Randi
"tuan muda Dirga serasa lebih dewasa ya, apalagi dengan jenggot tipis mu itu" paman Pram tersenyum
"elleh, pasti kebalikannya" cibirku
"loh kok tau tuan muda" paman Helmi menggodaku
"ish, dasar paman-paman nggak ada akhlak. masa tuan mudanya di tertawain" rengekku
"ganteng kok ganteng. nah ini dia posisi Furqon, dia sedang......"
"sedang apa paman...?" tanya El
"dia sedang mengarah ke tempat ini" ucap paman Helmi
"mungkin ada yang ingin ia sampaikan pada kita" timpal paman Pram
aku melihat jari-jari paman Helmi menari-nari di banyaknya tombol laptop yang ada di pangkuannya. hebat juga ternyata dia, sepertinya aku belajar teknologi dari paman Helmi, siapa tau aku bisa menjadi hacker yang handal.
"Furqon, kenapa kamu mengarah ke sini. kalau ada yang melihatmu bagaimana" paman Helmi sepertinya sedang berbicara dengan Furqon
"lah itu Gibran" kak Ardi menunjuk ke arah laptop paman Helmi
"gawat, kita di serang. BERSIAP SEMUANYA, BERSIAP" paman Helmi bangkit seketika dari tempat duduknya
semua pengawal yang mendengar suara teriakan paman Helmi langsung siap siaga. sementara kami, juga sudah bersiap untuk menyambut kedatangan musuh.
"Adam, El, kalian nggak seharusnya berada di sini" ucap Melati
"kami mau membantu Mel, masa iya mau pergi begitu saja" jawabku
"kak, kalau kalian tetap di sini, jelas pasti laki-laki yang namanya Gibran itu akan melihat kalian berdua. sia-sia dong penyamaran yang kalian lakukan" ucap Alana
benar juga apa yang dikatakan Alana. kalau Gibran melihat kami tentu rencana kami akan gagal. apa sebaiknya memang aku dan El pergi dari sini. tapi bagaimana dengan ayah, ibu dan yang lainnya.
"ayo kak, kita harus pergi dari sini" El menarik tanganku untuk pergi dari tempat ini sebelum orang-orang itu datang
"tidak bisa" aku menghempaskan tangan El
"bagaimana bisa kita pergi sementara nyawa ayah ibu dan yang lainnya sedang terancam. aku tidak pergi, aku akan melawan mereka. mereka tidak boleh menyentuh seujung rambut pun orang-orang yang aku sayangi" aku menggertakkan gigi. sudah cukup paman Zidan dan tante Vania yang mereka celakai, aku tidak ingin ayah dan ibu serta yang lainnya mereka lukai
"lalu bagaimana caranya kita bisa ikut campur, sedang kita dalam penyamaran" ucap El
El mulai berpikir sejenak hingga kemudian ia menarik tanganku membawaku masuk ke dalam rumah.
"kenapa kalian belum pergi juga. pergilah sebelum terlambat dan mereka datang" Leo mendorong kami untuk keluar namun aku mencoba menahannya
"kami akan ikut bertarung. untuk urusan penyamaran, bukankah kami bisa memakai topeng atau semacamnya agar wajah kami tidak terlihat" ucap El
nah itu dia yang aku maksudkan. kami bisa memaki topeng atau memakai masker untuk menutupi wajah kami berdua. tidak peduli jika nanti penyamaran ku terbongkar, aku tetap tidak akan meninggalkan keluargaku, tidak akan. mereka tidak boleh menyentuh keluargaku lagi.
"kalau begitu kalian memakai kostum yang tidak bisa di kenali. tunggu sebentar aku ambilkan" paman Helmi melesat meninggalkan kami
"pakai pakaian ini" paman Helmi datang kembali dan memberikan kami kostum serba hitam dan juga masker serta topi agar tidak ada dapat mengenali kami.
aku mengambil pakaian itu begitu juga dengan El. kami berganti di dalam kamar. setelah memakai pakaian serba hitam ini, aku merasa seperti pencuri yang masuk ke dalam rumah sendiri. rambutku yang gondrong ku masukkan ke dalam lubang topi yang ada di belakang dan mengikatnya seperti perempuan menggulung seperti bola dan mengikatnya dengan karet.
"ini benar-benar aku telah menjadi Adamwati kalau seperti ini" ku perhatikan wajahku di cermin
"hah terserahlah. mau Adamwati kek, Adam Jordan kek, yang penting ratu Sundari tetap klepek-klepek sama aku"
"El sudah belum..?" aku melihat ke arah El karena kami masuk dalam satu kamar yang sama
"sudah kak, ayo" ajaknya padaku
kami keluar dari kamar. telingaku sudah mendengar suara yang begitu banyak orang di luar yang sepertinya sedang berkelahi.
"astaga, apakah mereka sudah datang" aku langsung berlari menuju ke luar
benar saja saat kami berdua tiba di luar, tim samudera serta yang lainnya sudah mempunyai lawan masing-masing. bahkan mereka dikepung karena banyaknya orang-orang Baharuddin yang datang menyerang kami.
satu lawan empat dan kadang lawan lima. sungguh tidak seimbang tapi namanya penjahat, mereka memang senang main keroyokan
"El, hajar mereka semua. kalau perlu bunuh sekalian" mataku nyalang menatap El
"baik kak" El mengangguk
"mati kalian semua"
bugh
bugh
ku tendang kepala dua orang yang hendak menyerang Alana. keduanya jatuh ke tanah.
buaaaak
buaaaak
ulu hati mereka menjadi targetku. dengan kuat aku meninju mereka hingga bahkan keduanya memuntahkan darah dan keduanya pingsan seketika.
"bersyukur kalian cepat pingsan, jika tidak sudah pasti kalian akan kehilangan nyawa"
aku bukan orang yang akan menghabisi lawan jika dirinya sudah tidak berdaya. namun berbeda hal jika aku bertemu dengan Baharuddin sialan itu. meski sudah tidak berdaya sekalipun, aku membuatnya meminta ingin dibunuh daripada hidup.
aku melihat tim samudera telah menggunakan senjata mereka masing-masing karena musuh yang kami hadapi pun menggunakan senjata tajam.
lima orang datang mengepungku, aku berada di tengah-tengah mereka.
__ADS_1
"kalian melawan satu orang dan menggunakan senjata tajam, bukankah itu curang" ucap ku dengan santai
hal seperti ini sudah biasa bagiku, apalagi yang aku takutkan. kuntilanak merah saja aku lawan meskipun akhirnya babak belur dan terbaring lemah tapi setidaknya dibandingkan dengan mereka, lawanku yang dulu-dulu tidak sebanding dengan cengunguk lima orang ini.
"nggak usah banyak komplen. bunuh dia" salah seorang dari mereka memerintah
dua orang yang berada di belakangku maju menyerangku. aku menendang salah satu paha dari keduanya, kemudian yang satunya lagi ku tahan tangannya saat benda tajam akan melayang menusuk punggungku.
buaaaak
buaaaak
keduanya ku beri hadiah pukulan maut hingga mereka jatuh ke tanah dan menindih teman mereka yang habis di hajar oleh Leo.
aku dan Leo saling pandang. Leo mengedipkan mata ke arahku dan aku membalas dengan mengangkat jempol kanan.
"awas dam" Leo meneriaki ku karena ada serangan dari arah belakang
bugh
ugh
satu pukulan dari kayu menghantam punggungku. aku jatuh ke tanah. kepalaku terasa pusing.
"brengsek" umpatan kesal keluar dari mulutku
orang itu hendak memukulku lagi namun aku mengambil pisau kecil di dalam jaketku dan
jleb....
ku tancapkan pisau itu ke pahanya hingga ia teriak kesakitan. dua orang lagi datang akan membantu teman mereka. di saat itu aku melompat dan melakukan gerakan berputar sehingga tubuhku melayang di udara dengan berpegangan kepada tubuh laki-laki yang aku tusuk tadi.
buaaaak
buaaaak
ku hantam kepala keduanya dengan kaki panjagku dan mereka tumbang ke tanah. lalu aku mencabut pisau yang masih tertancap di paha laki-laki tadi.
aaaggghh
teriakan kesakitan keluar dari mulutnya. tentu saja sakit, terkena sedikit saja dari mata pisau yang tajam sudah membuat kulit perih dan sakit apalagi jika tertancap masuk ke dalam.
buaaaak
bugh
ku hajar wajahnya dengan siku hingga ia jatuh ke tanah.
aku mencari keberadaan kak Furqon dan Gibran namun di tempat itu, mereka tidak ada.
"kemana mereka"
setelah mencari keberadaan keduanya, aku melihat kak Furqon. dia bersama laki-laki yang pernah dimasukkan ke dalam penjara oleh paman Zidan.
"dia saja yang ku hajar"
namun rupanya paman Helmi mengincar laki-laki itu. buktinya sekarang mereka berdua tengah berhadapan. aku rasa paman Helmi mempunyai dendam kepada.
terpaksa aku batalkan untuk melawan Aris. mereka yang datang menyerang ku habisi satu persatu.
kalau saja tidak berdosa meminum darah mereka, tentunya aku akan menghisap darah mereka sampai habis.
aku melawan orang-orang itu hingga tanpa sadar ternyata kini aku sudah berhadapan dengan Gibran.
bagus, dengan begitu aku akan tau bagaimana kemampuan dirinya.
"jadi ini manusia yang jadi andalan Baharuddin" ucapku
sengaja aku mengubah suaraku menjadi berat agar nantinya jika bertemu lagi dengannya, ia tidak mengenaliku hanya karena suaraku.
"rupanya keluarga Sanjaya mempunyai pasukan yang misterius" ucapnya
jika aku lihat, laki-laki ini sama dengan paman Zidan. postur tubuh mereka, tinggi badan dan juga penampilan. aku jadi penasaran, apakah kekuatannya juga sama dengan paman Zidan.
"kenapa, kamu takut menghadapi pasukan misterius seperti ku...?" tanyaku
"hhh, apa yang harus aku takutkan. manusia seperti mu hanyalah manusia pengecut yang bersembunyi di balik masker" jawabnya
rupanya dia ini mempunyai skill menjatuhkan mental lawan. tapi tentunya itu tidak berlaku untukku.
aku memasang kuda-kuda untuk menyerang sementara Gibran sepertinya sudah siap dengan serangan yang aku berikan.
aku melompat memberikan pukulan dan ia tahan dengan pukulan juga sehingga tinju kami berdua saling bertemu.
gila, keras juga tangan laki-laki ini. dia sepertinya tidak bisa aku pandang enteng.
pertarungan kami berdua berlanjut. kekuatan kami sama-sama seimbang. bahkan yang membuat aku tidak percaya, rupanya Gibran mempunyai ilmu sakti yang tidak pernah aku tau sebelumnya.
dia melesatkan pukulan yang kekuatannya berlipat-lipat dari sebelumnya. aku dapat merasakan ada kekuatan ilmu sihir di dalamnya. untung saja aku bisa menghindar dan dia pukulannya hanya mengenai mengenai angin. tapi dari kerasnya angin yang ada di pukulannya itu, aku dapat mengetahuinya.
gawat...kalau aku mengeluarkan kekuatanku sekarang, sudah pasti dia akan tau nantinya jika aku sudah bertemu untuk bergabung bersamanya.
apa yang harus aku lakukan untuk melawan dia. bisa-bisa aku babak belur jika hanya mengandalkan tenaga biasa saja tanpa menggunakan kekuatanku.
aku melamun memikirkan cara untuk melawan Gibran dengan cara lain. namun saat itu juga aku dikejutkan dengan suara teriakan Vino yang memanggil namaku
"ADAM AWAS"
_______________________________________
catatan :
ini pertama kalinya aku membuat cerita dari sudut pandang pemeran yang ada di dalam cerita.
jangan lupa like dan komen ya.
aku ingin tau apakah cerita yang aku tulis sekarang bagus atau tidak. kalau menurut kalian tidak bagus, maka aku akan kembali menulis seperti biasa menurut sudut pandangnya aku.
terimakasih untuk kalian semua yang sudah membaca petualangan mistis sampai episode ini.
salam sayang dari author Awan Biru
sayang kalian banyak-banyak 😊🤗🥰🥰
__ADS_1