Petualangan Mistis

Petualangan Mistis
Episode 71


__ADS_3

"jiwamu milikku, jiwamu milikku. mati, mati, mati.... hihihihihi"


mata Leo melotot, tangannya memegang seprei dengan kuatnya. urat-urat leher dan tangannya semakin terlihat. ia terangkat ke atas melayang di atas kasur.


wuuusshh


bughhh


satu tendangan mendarat di kepala gadis itu, dirinya menabrak dinding dengan kasar.


buuukkk


Leo terjatuh kembali di kasurnya, dirinya langsung pingsan tidak sadarkan diri. Adam menatap tajam gadis di depannya yang juga sedang menatap dirinya dengan tidak kalah tajamnya.


braaakkk....


pintu terbuka dengan kasar, El serta yang lainnya masuk ke dalam menghampiri Vino namun langkah mereka terhenti saat melihat sosok gadis di dalam itu.


"aku peringatkan, jangan ikut campur urusanku" ucapnya dengan wajah marah


"aku yang harus memperingatkan mu, jangan ganggu teman-teman ku" jawab Adam dengan mimik wajah dingin dan membuat merinding


gadis itu mengarahkan tangannya ke arah meja yang terdapat sebuah gunting. gunting itu terangkat dan secepat kilat menyerang Nisda dan starla.


hap


Adam menangkap gunting itu sehingga tidak sempat menyentuh salah satu dari dua gadis yang bersama mereka. starla shock dengan gunting yang menyerang namun Nisda tak kalah shock saat melihat dengan mata kepalanya sendiri gunting yang terbang dan melayang-layang di depannya.


Bara mengangga tidak percaya, dugaannya selama ini tidak salah kalau El dan sahabat-sahabatnya mempunyai teman gaib.


Adam melempar gunting itu kembali ke si penyerang membuat gadis itu menghindar dengan cepat.


gadis itu kemudian menghilang menghindari Adam. saat gadis itu pergi, El dan Vino segera menghampiri Leo yang terbaring dengan keringat membasahi bajunya.


"Carikan baju di lemari, gue akan ganti pakaiannya" ucap El


segera Vino melangkah ke lemari dan mengambil satu lembar baju kemudian diberikan kepada El.


El-Syakir membuka baju Leo dan menggantinya dengan baju yang diambilkan oleh Vino.


"sebenarnya apa yang terjadi padanya...?" Bara sudah tidak bisa menahan rasa penasarannya


"Adam, sebenarnya ada apa...?" bukan menjawab pertanyaan Bara, El bertanya kepada hantu itu


"dia telah terikat dengan gadis itu. Leo memberikan darahnya ke lukisan yang dia maksud kemarin. meskipun itu tidak sengaja namun penghuni lukisan itu telah mencicipi darah Leo dan dengan itu juga Leo melakukan perjanjian pengikat antara dirinya dan gadis itu. sehingga dia ingin membawa Leo pergi bersamanya" jawab Adam


"lalu apa yang harus kita lakukan, jangan sampai gadis tadi datang dan membawa Leo" ucap starla


"maaf menyela ucapan kalian. tapi bisakah sekarang saja gue melihat yang namanya Adam itu agar gue nggak kebingungan seperti ini" ucap Bara dan Nisda mengangguk


El, Vino dan starla saling pandang kemudian ketiganya melihat ke arah Adam, meminta persetujuan. karena mereka tidak harus sembarangan membocorkan keberadaan Adam. meskipun tadi mereka telah setuju tapi sepertinya tindakan yang diambil sangat tergesa-gesa


"tutup pintunya Vin" ucap El


El menghampiri Adam dan membawanya di sudut kamar. Nisda dan Bara hanya melihat tangan El menuntut angin padahal sebenarnya El sedang berpegangan tangan dengan teman hantunya.


"gue meminta keputusan dari elu. benar kata Vino dan starla, kita harus memikirkan akibat terburuknya nanti" ucap El


"boleh aku bertanya...?" ucap Adam


"tentu" jawab El


"kenapa kalian nggak percaya padanya...?" Adam melihat Bara yang sedang melihat ke arah mereka namun tentu saja yang dilihatnya hanya El saja


"elu percaya padanya...?" El bertanya balik


"seperti aku percaya padamu, seperti itu juga aku percaya padanya" jawab Adam


"segampang itu, padahal kalian tidak saling kenal dan bahkan tidak saling melihat" El tidak percaya apa yang didengarnya


"aku mengenalnya dan aku sering melihatnya"


"dimana, hanya di sekolah kan tidak bertemu langsung. pikirkan lagi dam"


"kenapa kamu begitu ragu padahal kamu tau kalau dia itu sebenarnya baik. yang membuat kalian mencapnya sedikit buruk itu karena masalah kemarin Vino dengan Nisda kan. siapapun akan merasa marah kalau seseorang mendekati pacarnya" Adam berbicara keras agar Vino dan starla dapat mendengarnya


"bukankah kamu juga pernah bilang kalau dia itu baik lalu kenapa sekarang kamu ragu" lanjut Adam


"elu ngomong seperti itu, kayak udah mengenal lama dirinya" ucap El


"aku kan sudah bilang tadi. aku mengenalnya dan aku sering melihatnya" jawab Adam


"apa..... kalian...."


"kamu percaya padaku kan" Adam memegang bahu El


"tentu saja" jawabnya


"kalau begitu lihat apa yang terjadi setelah dia melihatku" ucap Adam melayang mendekati Bara

__ADS_1


tangan dingin Adam menyapu wajah remaja itu sehingga Bara merasakan ada tangan yang mengusap wajahnya. Bara menutup mata, gugup dan ada rasa takut.


setelah tangan dingin Adam menyapu wajahnya, perlahan Bara membuka matanya dan ia melihat Adam sedang berdiri di hadapannya dan tersenyum hangat.


"apa gue salah lihat atau gue sedang berhalusinasi" Bara mengucek-ngucek matanya memastikan apa yang dirinya lihat


"bisa keluar bola matamu kalau dikucek terus seperti itu" ucap Adam


"k.....k...." gugup dan tergagap Bara berucap


"k k apa, bicara yang jelas" ucap Adam


"k-kak D-Dirga"


"apa kabar adik asuh ku, lama tidak berjumpa" Adam tersenyum merentangkan tangannya


Bara mengangga tidak percaya. air matanya berlinang begitu saja tanpa di suruh. remaja itu menghambur memeluk Adam dan menangis meraung di pelukannya.


sementara El, Vino dan starla tidak percaya kalau ternyata Adam dan Bara saling mengenal satu sama lain bahkan Adam memanggil Bara dengan adik asuhnya.


Nisda yang belum melihat Adam hanya terbengong dengan keadaannya sekarang. ia hanya dapat melihat Bara yang sedang memeluk angin.


"hiks...hiks....aku bahkan selalu menjenguk kakak di rumah sakit. berharap kakak bisa bangun lagi. tapi bagaimana bisa bangun kalau ternyata kakak malah gentayangan" ucap Bara masih memeluk Adam


"iya, kakak gentayangan cari jodoh, bosan jadi jomblo terus" kelakar Adam


"paman Zidan sangat terpukul, dia siang malam selalu menemani kakak di rumah sakit dan sekarang tubuh kakak di bawa LN untuk menjalani perawatan yang lebih baik agar kakak cepat sadar" Bara melepas pelukannya


"LN...?" tanya Adam


"iya, kak Pram yang cerita. aku nggak nyangka ternyata kakak masih di dunia ini meski hanya dalam bentuk roh. aku senang banget bisa lihat kakak lagi" kembali Bara memeluk Adam


"udah dong nangisnya. itu ingus sampai meleleh gitu. sampai di jilat segala"


tidak menjawab gurauan Adam, Bara malah semakin menangis dan terisak. Adam mengelus punggung remaja itu agar lebih tenang.


"ternyata mereka saling kenal" ucap Vino


"iya, kita ketinggalan informasi" timpal starla


El hanya diam melihat Adam yang masih memeluk Bara dan menenangkan remaja itu, seperti seorang kakak menenangkan adiknya.


(apa mereka sedekat itu) batin El


setelah Bara kini giliran Nisda yang di usap wajahnya. gadis itu akhirnya dapat melihat Adam dengan jelas seperti tim samudera lainnya.


"aku percaya kepada kalian berdua, aku harap kalian bisa menepati janji" ucap Adam


"bagaimana denganmu Nisda...?" Adam menatap dingin gadis itu


"janji kak" jawab Nisda


kini bertambah dua personil tim samudera, Adam melihat ke arah El yang masih terdiam di tempatnya. entahlah, El seakan merasakan cemburu melihat kedekatan Bara dengan teman hantunya itu.


siang tenggelam malam menyapa. El dan Vino pulang ke rumah mereka jam 4 sore tadi untuk mengambil baju ganti dan akan kembali lagi setelah magrib. Adam tentu saja ikut bersama El, hantu itu tidak bisa jauh dari El-Syakir.


Nisda dan starla ditugaskan untuk menjaga Leo bersama dengan Bara. saat ini kedua gadis itu sedang membantu mama Melisa memasak di dapur dan Bara menjaga Leo di kamarnya.


"tante pintar banget ya masaknya. kapan-kapan aku mau diajar memasak sama tante" puji starla yang sedang mengulek sambal


"Tante memang harus pintar masak karena papanya Leo tidak ingin makan kalau bukan masakan tante" jawab mama Melisa ramah


"berarti tante tidak perlu ART selama ini...?" tanya Nisda yang sedang menggoreng kerupuk


"ada, tapi hanya untuk pekerjaan lain kalau memasak itu urusan tante" jawab mama Melisa


"emmm tapi aku kok nggak liat papanya Leo dari kemarin tante" ucap starla


"papanya Leo ke luar kota. itulah sebabnya tante senang sekali kalian menginap di sini. selain tante punya teman ngobrol, Tante juga nggak kesepian" jawabnya


"Leo anak tunggal ya tan" ucap Nisda


"iya. tante berharap masih bisa mempunyai anak tapi sepertinya Leo tidak mau. dia sudah besar, malu katanya dan juga dia tidak ingin berbagi kasih sayang"


"aku juga anak tunggal, sama seperti Leo. hanya saja aku nggak punya ibu lagi. yang aku punya sekarang hanya papa, dia segalanya bagiku" ucap starla sendu


"sabar ya sayang. berbakti kepada papa kamu, in shaa Allah kebahagiaan menjemputmu" mama Melisa mengelus lengan starla


setelah makan malam dan berbincang-bincang, mama Melisa memutuskan untuk masuk ke dalam kamar. kini tim samudera berada di dalam kamar Leo.


"kita harus memutuskan tali pengikatnya. kalau tidak, setelah lewat dari tiga hari jiwa Leo akan dibawa oleh gadis itu" ucap Adam


"terus bagaimana caranya...?" tanya El


"tunggu tunggu, memangnya Leo kenapa. perasaan dia baik-baik saja dan sedang tidur" Bara kebingungan begitupun dengan Nisda


"Bara, kami lupa memberitahu padamu kalau kami selain mempunyai teman gaib, kami juga selalu melakukan hal yang berkaitan dengan gaib" ucap El


"maksudnya...?"

__ADS_1


"maksudnya adalah, kami membantu para arwah yang meminta tolong untuk pulang dengan tenang, dengan menyelesaikan keinginan terakhir mereka sebelum mereka pergi" timpal Vino


"eh tapi ngomong-ngomong, berbicara tentang arwah, apakah gadis itu adalah arwah penasaran seperti arwah Ainun waktu itu yang menculik para laki-laki...?" tanya starla


"karena selama ini yang kita bantu adalah arwah yang meminta pertolongan tapi kali ini gue merasa kasusnya sama seperti Ainun waktu itu. gadis itu tidak meminta bantuan tapi malah ingin mencelakakan Leo" lanjut starla


"entahlah, aku juga bingung menyimpulkan tentang itu. apakah dia arwah atau Jin yang meminta tumbal" jawab Adam


"mendengar yang kalian katakan, gue jadi merinding" ucap Nisda yang sejak tadi hanya diam


"beginilah kami Nisda sekarang. kalau elu nggak sanggup, lebih baik mundur dari sekarang dan jangan bergabung bersama kami" Vino menimpali


"kamu sepertinya nggak suka denganku Vin, apa aku punya salah...?"


"nggak ada gadis lain yang gue suka selain starla dan elu nggak punya salah apapun. gue hanya mengingatkan" jawab Vino dengan wajah datarnya


starla yang duduk di samping Vino, menggenggam tangannya. ia berusaha membuat Vino mengendalikan dirinya karena ia tau, pacarnya itu punya perasaan kesal terhadap Nisda yang dulu pernah memberikan harapan palsu saat dirinya habis babak belur dihajar oleh Bara dan kedua temannya meski Leo dan Vino membantunya.


sedangkan Bara, kali ini remaja itu hanya diam tanpa membela Nisda atau membalas perkataan Vino. dirinya sama sekali tidak melirik gadis itu.


"bisa tolong jelaskan padaku mengapa sampai Leo diincar oleh arwah atau Jin yang kalian maksud itu" ucap Bara


"dia tidak sengaja melakukan perjanjian pengikat antara dirinya dan gadis itu dan tugas kita sekarang adalah memutuskan tali pengikatnya" jawab starla


"oke, kita sudah tau jalan keluarnya lalu yang menjadi pertanyaannya adalah bagaimana caranya memutuskan tali pengikatnya" ucap Vino


"dengarkan aku baik-baik"


jarum jam menunjukkan pukul 20.00, ke dua remaja dan satu hantu sedang mengendarai motor untuk pergi ke rumah ibu yang memiliki kebun melati.


di rumah, yang menjaga Leo adalah starla, Nisda dan Bara. Leo telah sadar tepat setelah kedua sahabatnya dan teman hantunya meninggalkan rumah.


"Le, elu butuh sesuatu...?" tanya starla


"haus" jawabnya lirih


"ini, minumlah" Nisda membantunya untuk minum setelahnya Leo berbaring kembali


kini El dan Vino serta Adam telah berada di depan rumah si ibu. keduanya memakirkan motor di halaman rumah yang banyak sekali tanaman hias dan berbagai macam bunga.


"assalamualaikum" salam El-Syakir


"wa alaikumsalam" terdengar jawaban dari dalam


cek lek


"loh kalian yang kemarin itu kan, temannya nak Leo...?"


"iya Bu, maaf sekali telah bertamu malam-malam" ucap El


"tidak apa-apa, ayo masuk ke dalam"


mereka masuk dan duduk di ruang tamu. si ibu pergi ke dapur membuat minuman dan kembali lagi dengan dua cangkir teh untuk tamunya.


"silahkan diminum"


"ibu nggak perlu repot-repot, kami jadi tidak enak hati" ucap Vino


"tidak sama sekali. tapi kalau boleh tau apa yang membuat kalian datang malam-malam seperti ini...?"


"kami datang mau petik melati Bu" jawab El


"oalaaaah....kalau mau petik melati tinggal petik saja nak tidak usah sungkan. lagi pula itu kan sudah jadi miliknya nak Leo"


"iya kami tau, tapi tetap saja kami harus meminta izin kepada ibu karena bagaimanapun ibu yang masih mengurus bunganya" ucap El


"ya sudah, silahkan kalian petik ibu tentu mengizinkan"


keduanya beranjak untuk memetik melati sebagai alasan mereka datang ke rumah itu, sedangkan Adam, ia sedang berdiri di depan lukisan yang dimaksud oleh Leo.


"rupanya banyak yang tersesat di dalam lukisan ini" ucapnya dengan mata tajamnya


di rumah Leo, semuanya nampak baik-baik saja hingga kemudian sesuatu terjadi. Leo yang sedang tidur membuka matanya dan melotot, dirinya tegang dengan urat-urat yang terlihat.


"Bara, Leo kenapa...?" Nisda berteriak


Bara dan starla mendekat dan berusaha menyadarkan Leo yang seperti orang kerasukan.


"tumbal, darah, mati. jiwamu milikku"


"jiwamu milikku, jiwamu milikku"


"mati...mati....mati"


"aaaaaagghh"


Leo berteriak dengan kerasnya, tubuhnya terangkat setelahnya terjatuh dan pingsan.


Adam yang sedang memperhatikan lukisan di depannya seketika menutup mata karena kilatan cahaya yang tiba-tiba keluar dari lukisan itu dan akhirnya redup seiring dengan suara yang ia dengar, suara yang sangat ia kenal.

__ADS_1


"Adaaaaaam" suara menggema di telinganya dan hilang seiring dengan cahaya yang redup masuk ke dalam lukisan


"gadis laknat" hantu itu berteriak dengan penuh kemarahan


__ADS_2