
bersamaan suara teriakan di dalam kamar, tiba-tiba pintu masuk terbuka lebar. sosok wanita masuk ke dalam dengan langkah kaki yang berdarah-darah.
dia masuk ke dalam kamar menembus pintu dan kini wanita itu sudah berada di dalam.
"hihihihihi" suara cekikikan dari dalam terdengar
anehnya tidak satu orang pun yang bangun untuk melihat keadaan di dalam kamar. begitupun mereka yang tidur di kamar, nampak mereka terlelap tanpa terganggu suara dari tawa sosok yang berada di kamar itu.
sosok itu memakai baju berwarna merah yang menjuntai ke bawah. rambutnya panjang tergerai bahkan sampai di lantai. wajahnya hancur sebelah di penuhi darah dan sebelah lagi masih tetap utuh. matanya terus berubah warna, hitam, putih dan kemudian merah.
dia mengelilingi semua gadis tim samudera yang sedang tertidur pulas. hingga setelahnya kedua dari mereka bangun dari tidurnya dengan tatapan kosong ke depan.
braaaakkk
pintu kamar terbuka lebar, kedua gadis itu berjalan keluar kamar menuju pintu ke luar. tidak ada yang sadar dengan itu, para laki-laki sama sekali tidak terbangun bahkan Adam sekalipun yang sudah mewanti-wanti hal itu akan terjadi sama sekali tidak bangun.
wanita itu menghilang seketika, kini tinggal kedua gadis tim samudera yang tanpa sadar keluar dari laundry dan berjalan ke arah rumah ibu Dewi.
"hoaaaam" Vino menguap dan mengucek matanya
dia bangun dan mengambil posisi duduk, semua teman-temannya masih terlelap memeluk guling.
dirinya yang kehausan langsung beranjak dari sofa menuju dapur untuk mengambil air minum. setelah selesai dia kembali lagi ke tempatnya semula. namun kemudian matanya tertuju pada daun pintu yang terbuka lebar di depan sana, padahal seingatnya sebelum mereka tidur, mereka sudah mengunci pintu itu.
"kok bisa terbuka...?" ucapnya. dia melangkah akan menutup kembali. setelah menutup pintu dirinya berbalik hendak kembali namun dia merasakan dibawah kakinya, dia menginjak sesuatu yang lengket
Vino menunduk untuk melihat apa yang dia lihat. warnah darah yang merah pekat melengket di kakinya. saat itu juga dia mulai panik dan kembali ke ruang tengah untuk membangunkan semua teman-temannya.
"El, Adam... bangun"
"Leo, Bara, bangun"
dengan keras dia memukul lengan keempatnya agar cepat bangun dari tidur mereka.
"ck, kenapa sih Vin...ganggu orang tidur aja" Leo kesal karena Vino mengganggu mimpi indahnya
"kenapa Vin...?" tanya El dengan suara seraknya
"ck, dasar kalian semua woi...ada seseorang yang masuk menyelinap ke dalam" Vino kesal karena teman-temannya itu masih menutup mata
"ada apa...?" tanya Adam yang sudah mengumpulkan kesadarannya
"lihat, lihatlah di lantai. ada jejak telapak kaki, dan itu adalah darah"
seketika mata mereka semua langsung terbuka lebar saat mendengar ucapan Vino. dan benar saja dari pintu depan bahkan sampai di pintu kamar, jejak kaki darah itu benar-benar ada. yang lebih membuka mereka panik, pintu kamar kini terbuka.
"Alana" El dan Adam dengan cepat melesat ke kamar
yang lainnya pun ikut berlari menuju kamar, di sana dua gadis teman mereka sudah tidak ada, Melati dan Alana. yang tersisa hanyalah Nisda dan Starla yang kini terbangun karena Leo yang panik melihat Alana sudah tidak ada di tempat tidurnya.
"ada apa...?" tanya Starla yang bingung melihat mereka
"kemana Alana dan Melati...?" tanya Nisda
"kenapa kita ceroboh sekali" Adam begitu kesal karena bisa-bisanya dirinya tidak merasakan ada sosok jahat yang masuk dan membawa pergi adik serta temannya
"bagaimana sekarang...?" tanya Bara
"kita cari mereka" ucap El
mereka semua keluar dari tempat itu untuk mencari keberadaan Melati dan Alana.
"gadis-gadis yang manis, kemarilah" ibu Dewi menyambut kedatangan Melati dan Alana
kedua gadis itu masih dalam keadaan tatapan kosong dan keduanya melangkah mendekati ibu Dewi. wanita itu kini memakai jubah hitam persis seperti sosok yang pernah dikejar oleh Adam dan El-Syakir.
sedangkan makhluk wanita yang berambut panjang dan mempunyai wajah hancur itu, dirinya kini berada di kamar lain. dia sedang duduk di depan cermin sambil menyisir rambutnya yang panjang. beberapa ulat-ulat kecil jatuh dari kepalanya. dengan seringai menyeramkan dia memungut ulat-ulat itu dan membawanya ke dalam mulutnya.
"hihihihihi" tawanya menggema di kamar bahkan di rumah itu
"dengarlah, dia sepertinya sangat senang merasakan kedatangan kalian" ibu Dewi berbicara kepada Alana dan Melati yang masih berdiri di depannya seperti patung
dia membawa kedua gadis itu ke tempat tidur. kemudian dirinya keluar dari kamar dan berdiri di depan pintu masuk.
bibirnya komat-kamit membaca sesuatu kemudian dia memegang lantai hingga kini seperti membalikkan telapak tangan, dia sudah berada di tempat lain.
di sebuah sungai yang aliran airnya sangat deras. Alana dan Melati kini terbaring di atas batu dan keduanya di selimutkan dengan kain putih.
bukan hanya kedua gadis itu, dua gadis lain ada di tempat itu. mereka berdua adalah Dian, pegawai laundry ibu Arini dan Nilam anak ibu Dewi sendiri.
__ADS_1
selain keempat gadis itu, seorang remaja laki-laki ada juga di tempat itu. wajahnya pucat dan bibirnya menghimtam, dia adalah Rehan, anak ibu Dewi yang akan dia hidupkan kembali.
"Rehan, anak ibu" ibu Dewi mengusap kepala anaknya
"sebentar lagi kita akan berkumpul seperti dulu nak. sebentar lagi kamu akan bangun dari tidur panjangmu selama ini"
"ibu akan membuat kamu hidup kembali, tidak peduli harus menjadikan tumbal anak orang lain. bagi ibu kamu sangat berarti daripada mereka" dia mencium kening putranya
sungguh perbuatan yang sangat sirik, menduga dapat menghidupkan kembali orang yang mati yang jelas-jelas seharusnya dimakamkan dan kembali kepada Tuhan.
entah apa yang dilakukan wanita itu, pemikiran yang demikian sangat membuatnya yakin kalau anaknya akan kembali hidup, padahal bisa saja saat putranya bangun, dia bukan lagi Rehan yang dulu melainkan iblis yang mengambil alih tubuh Rehan.
"kita harus cari kemana...?" Nisda begitu takut kedua temannya dalam keadaan bahaya walau sebenarnya memang seperti itu keadaan mereka sekarang
"apa yang elu lihat kak...?" El bertanya saat melihat Adam sedang memeriksa sesuatu di tanah
"mencari tanda kemana perginya Alana dan Melati" jawab Adam
"bubuk yang kamu usulkan itu ya...?" tanya Starla
"iya. lihat, bubuk ini mengarah ke rumah itu" Adam menunjuk rumah ibu Dewi
"bagaimana bisa, memangnya Alana dan Melati sengaja meninggalkan jejak...?" tanya Leo
"semalam aku menyuruh Alana untuk mengikat bubuk putih ini di pinggangnya dan membuat lubang sedikit agar bubuknya jatuh ke tanah. aku melakukan itu karena jangan sampai saat terjadi sesuatu kita tidak sadar sama sekali, seperti yang dialami Sinta saat Dian pergi dan memang kita mengalami itu sekarang"
"dengan bubuk ini kita tau kemana perginya Alana dan Melati"
"Melati mengikat bubuk juga di pinggangnya...?" tanya Vino
"tidak, hanya Alana saja. karena aku merasa Alana yang diinginkan namun ternyata dia menginginkan dua orang" jawab Adam
"hebat juga lu kak, kami nggak kepikiran sampai di situ loh" puji Bara
"tunggu apalagi, kita ke rumah itu sekarang" ajak El yang sudah tidak bisa menunggu lagi
"suram sekali rumah ini" gumam Adam saat mereka telah sampai di depan pintu masuk
"ketuk pintunya" ucap El
Leo mengetuk pintu rumah itu namun sampai beberapa kali ketukan tidak ada yang datang membuka pintu. mereka bahkan mengucapkan salam namun tetap saja tidak ada sahutan dari dalam.
"elu mau kita diteriaki maling terus digebuk satu komplek" ucap Bara
cek lek
"lah nggak di kunci" Leo yang memegang gagang pintu langsung dapat membuka pintu tersebut
"masuk" Adam langsung menerobos masuk ke dalam
memang sangat tidak sopan, namun mereka tidak punya pilihan lain selain melakukan itu. setiap kamar mereka periksa satu persatu, tidak ada keberadaan Alana dan Melati di sana.
hingga satu kamar mereka masuki lagi, seorang pria sedang terbaring di ranjang dengan tubuh yang kaku.
"om" El mendekat ke arah pria itu, dia adalah suami dari ibu Dewi
"kenapa om bisa seperti ini" El kaget melihat perubahan pria itu
mulutnya miring ke samping. saat melihat El-Syakir dan yang lain, pria itu berusaha menggerakkan tangannya namun sangat sulit untuk dia lakukan.
"jangan bergerak om, seperti itu saja" El duduk di sampingnya
"Wawa Wawa" ucapan pria itu sangat tidak jelas dan tidak dimengerti
"towom Niam" ucapnya lagi
"kami nggak ngerti om" El sama sekali tidak mengerti
"tunjukkan huruf abjad saja" Adam memberikan ide
"kita nggak punya kertas sama pulpen" timpal Bara
"biar gue cari" ucap Nisda
dia keluar dari kamar untuk mencari yang mereka butuhkan setelah itu dia datang kembali dengan kertas HVS dan pulpen di tangannya.
Nisda segera menulis huruf abjad kapital di kertas itu, kemudian menyerahkan kepada El-Syakir.
"om, El akan menunjuk setiap huruf ini ya. kalau huruf itu yang om maksud maka om bisa menganggukkan kepala" ucap El dan pria mengangguk
__ADS_1
El-Syakir mulai menunjuk setiap huruf yang dipegangnya. saat mengenai huruf yang dimaksud, pria itu akan mengangguk dan hingga kemudian huruf-huruf yang diperoleh El-Syakir digabungkan menjadi satu.
"tolong Nilam" ucap mereka serempak
"jadi memang benar kalau Nilam dalam bahaya" ucap Starla
"ada apa dengan Nilam om, apa dia sakit...?" tanya Adam dan pria itu mengangguk
"apa ada hubungannya dengan tante Dewi...?" El bertanya dan pria itu mengangguk
pria itu kembali menunjuk kertas, El-Syakir mulai menunjuk setiap huruf yang dimaksud oleh suami dari ibu Dewi itu.
"ibu Dewi akan menjadikan Nilam sebagai tumbal" baca El-Syakir
"tumbal...?" mereka mengulang ucapan El-Syakir
"ya ampun, lagi lagi tumbal. dari kita ikut perkemahan, kita harus menyematkan Nisda dan juga Dian dari ayahnya Laksmi yang ingin menjadikan mereka tumbal untuk membangkitkan Laksmi kembali" Vino begitu marah
"wawawawa" pria itu berbicara lagi
"masih mau memberitahu sesuatu om...?" tanya El dan dia mengangguk
"ibu Dewi ingin menghidupkan Rehan kembali dengan menumbalkan Nilam dan korban lainnya" Adam membaca saat huruf-huruf itu digabungkan
"astaga...memang manusia nggak ada otak" Starla geram membacanya
"dengan bantuan kuntilanak merah...?" El-Syakir membaca kembali tulisannya
"kuntilanak merah...?" mereka semua terkejut
"astaghfirullah, kuntilanak merah...?" Nisda merinding mendengar nama itu
"dia kuntilanak terkuat diantara semua makhluk sepertinya" ucap Adam
"hiiiiii....berani banget tante Dewi melakukan persekutuan dengan setan mengerikan itu" Vino bergidik
"sehebat dia dengan ratu Sri Dewi...?" tanya Starla
"entahlah, aku juga tidak tau. mungkin tidak beda jauh dengan kekuatan wanita itu, atau bisa jadi masih lebih unggul ratu Sri Dewi" jawab Adam
"sepertinya kita akan babak belur lagi" ucap Leo
"hanya segitu perjuangan mu untuk menyelamatkan Alana...?" Adam menatap tajam ke arah Leo
"bukan begitu, gue hanya bilang kalau musuh kita kali ini adalah lawan yang berat, seperti ratu Sri Dewi. kita harus mempersiapkan diri untuk menghadapinya" jelas tidak mungkin Leo menyerah begitu saja. apapun akan dia lakukan untuk menyelamatkan Alana dan juga Melati
"lalu bagaimana sekarang, Alana dan Melati tidak ada di rumah ini" ucap Bara
"dia pasti ke tempat kuntilanak itu" ucap Adam
"terus, apa yang harus kita lakukan kak...?" El mengharapkan Adam melakukan sesuatu,
"kita ke sana" Adam berdiri dan keluar dari kamar
mereka meninggalkan suami ibu Dewi itu. El-Syakir berpamitan dan mengatakan akan berusaha menyelamatkan Nilam. bukan bermaksud tidak peduli hanya saja mereka akan membantu pria itu setelah urusan mereka selesai.
"kenapa malah berhenti di sini...?" tanya El saat Adam berhenti di ruang tengah
Adam duduk dan membaca sesuatu, dia memegang lantai dengan tangan kanannya hingga kemudian saat semuanya sadar, mereka telah berada di tengah hutan.
"kita pindah dimensi...?" tanya Starla masih tidak percaya kalau ternyata Adam bisa melakukan itu
"keluarkan kerismu" ucap Adam kepada El-Syakir
El-Syakir merapalkan mantra hingga sebuah keris keluar dari tubuhnya. bercahaya kemudian redup dan El-Syakir mengambil keris itu kemudian memberikan kepada Adam.
"karena kamu tuannya, maka kamu yang harus menggunakannya"
"menggunakan bagaimana, kita tidak sedang bertarung" El bingung
"gunakan keris itu sebagai petunjuk arah kita" jawab Adam
El-Syakir pun maju ke depan, dia menancapkan keris itu ke tanah dan kemudian dirinya mundur. setelahnya keris itu bergerak hebat dan ujungnya menunjuk ke arah kiri.
"kiri memang adalah jalannya mereka" ucap Adam
"ayo cepat" ucap Adam
Adam berlari mendahului mereka sementara mereka menyusul. keris larangapati kembali masuk ke dalam tubuh tuannya.
__ADS_1