Petualangan Mistis

Petualangan Mistis
Episode 191


__ADS_3

kini mereka telah berada di ruang rahasia, di tempat itu mereka akan aman tanpa ditemukan oleh musuh mereka.


ada beberapa kamar di ruangan itu. para istri beristirahat di dalam kamar sementara para suami berada di luar, di sebuah tempat dirancang seperti ruang keluarga.


Deva yang tadinya akan berjaga di luar langsung dipanggil masuk oleh ayah Adnan.


sementara ART pun ikut bersama mereka, keselamatan semua orang adalah tanggung jawab para pengawal itu.


"Furqon mengirimkan aku sebuah pesan gambar" ucap Helmi setelah ia memeriksa hp-nya


"coba aku lihat" Randi menggeser posisinya ke arah Helmi


"botol apa ini...?" tanya Randi setelah mengamati gambar yang dikirim oleh Furqon


"aku cari dulu di internet" ucap Helmi


"sambungkan kembali laptopmu dengan kacamata yang dipakai Furqon Hel, aku mau lihat dimana dia sekarang" ucap Pram


Helmi melakukan perintah Pram. ia mulai memainkan jarinya di laptop miliknya, kemudian muncullah gambar yang terlihat. gambar itu adalah yang diperlihatkan oleh kamera yang ada di kacamata Furqon.


"Fur, kamu dimana sekarang...?" tanya Pram


ayah Adnan menggeser posisi untuk mendekat ke arah Pram. ia ingin melihat apa yang ada di layar laptop itu.


Pram tidak mendapatkan jawaban dari Furqon, namun mereka mendengar percakapan laki-laki itu dengan seseorang yang mereka lihat itu adalah Gibran.


"jadi dimana adikmu...?" tanya Gibran


"dia sepertinya ada urusan penting sehingga belum pulang juga sampai sekarang. kalau dia tidak bisa ikut, biar aku saja. tapi bisakah kamu memberitahu apa yang akan kita lakukan nanti malam...?" ucap Furqon


saat ini mereka berada di dalam mobil, terlihat kamera yang ada di kacamata Furqon memperlihatkan situasi jalan raya.


"sudah aku duga, mereka pasti merencanakan sesuatu" ucap Helmi


"kalau begitu kita harus bersiap dari segala kemungkinan buruk yang akan terjadi" ucap Ardi


"perketat penjagaan di rumah sakit dan juga di sekitar rumah. aku yakin mereka akan ke sini" Randi memerintahkan Ardi


"baik" Ardi bangkit dari duduknya


"aku ikut" Deva pun ikut bangkit


"sebaiknya kamu mengubah kembali penampilan mu seperti biasa karena kalau seperti itu, Gibran bisa mengetahuimu dan dia pastinya akan curiga kepada Furqon" ucap Pram kepada Deva


"baik paman" jawab Deva


"apa tidak apa-apa kamu ikut, bagaimana dengan lukamu...?"


"luka...? kamu terluka...?" ayah Adnan yang tadinya fokus di layar laptop langsung menggerakkan kepalanya melihat Deva


"siapa yang terluka yah...?" ibu Arini datang menghampiri mereka semua


"tidak paman, aku baik-baik saja. ayo kak Ardi" Deva menarik tangan Ardi untuk kembali ke atas


"coba katakan padaku, apa yang sebenarnya terjadi saat kalian menjalankan rencana...?" ayah Adnan melihat satu persatu ketiga pengawal yang ada dihadapannya


ibu Arini duduk di samping suaminya sementara Pram yang berada di dekat ayah Adnan langsung berpindah tempat duduk.


"Deva terluka, terkena tusukan pisau" jawab Randi menunduk


"astaghfirullah, lalu kemana dia akan pergi tadi. kenapa tidak dirawat dan diobati" ibu Arini terlihat cemas


"apa itu bagian dari rencana kalian...?" tanya ayah Adnan


"jika tidak seperti itu, Gibran yang menjadi kepercayaan Baharuddin tidak akan memiliki simpati kepada mereka dan Furqon akan sulit untuk mendekatinya" Pram menerangkan


"Helmi, apa kamu sudah mencari tau apa obat apa sebenarnya yang ada di botol kecil yang aku kirimkan gambarnya padamu...?" terdengar suara Furqon di laptop Helmi


"menurut pencarian yang aku dapat, itu adalah obat penawar racun Fur" ucap Helmi


"penawar racun...? kamu nggak salah kan...? tanya Furqon lagi


"nggak, memangnya kenapa dengan obat itu...? jawab Helmi


"tadi aku dan Gibran ke rumah sakit. dia memaksaku masuk ke ruang ICU untuk menyuntikkan obat itu ke kantung infus Zidan. aku pikir itu adalah racun atau obat semacamnya tapi ternyata malah obat penawar racun" Furqon memberitahu

__ADS_1


"dia menyuruhmu untuk menyuntikkan obat itu ke infus Zidan...?" tanya Pram mengulangi apa yang di katakan Furqon


"iya, aku panik sekali... apalagi kalian tidak terkoneksi dengan alat pendengaran milikku. kalian kemana saja sih"


"tunggu... tunggu, kenapa dia menyuruh Furqon untuk menyuntikkan obat penawar racun itu ke infus Zidan...?" Randi bertanya


"jika obat penawar racun di suntikkan berarti obat racun pernah di suntikkan ke tubuh Zidan" ayah Adnan mengambil kesimpulan


"tapi kan....dia musuh kita, kenapa bisa secara tidak langsung dia.... menolong Zidan...?" Helmi bertanya-tanya


mereka semua dibuat bingung dengan apa yang telah dilakukan oleh Gibran. kenapa orang kepercayaan musuh mereka, berniat menolong hidup Zidan, musuh dari bosnya sendiri.


"apakah waktu itu kamu melihat ada orang yang mencurigakan yang masuk di ruang ICU...? tanya Pram


"hanya seorang dokter yang baru saja keluar setelah melihat keadaan Zidan dan setelah itu Gibran menyuruhku untuk masuk ke dalam" jawab Furqon


"apakah dia dokter yang menangani Zidan waktu kecelakaan itu...?" tanya Randi


"umm... sepertinya bukan. kalau aku lihat dari postur tubuhnya, dia bukan dokter Haikal yang menangani Zidan" jawab Furqon


"jangan-jangan dia dokter palsu yang memang ingin melenyapkan Zidan. tapi harusnya orang itu kan suruhan Baharuddin, atau ada orang lain yang ingin membunuh Zidan...?" Helmi nampak berpikir


"musuh kita saat ini hanya Baharuddin, aku yakin itu adalah orang suruhan dia. tapi....yang menjadi pertanyaan aku, kenapa Gibran datang dan menolong Zidan" ucap Randi


"jangan dulu pikirkan itu, sekarang hubungi dokter Haikal dan tanyakan kondisi Zidan. kemudian beritahu para pengawal agar tidak mengizinkan siapapun yang masuk ke ruang ICU kecuali dokter Haikal" ayah Adnan memerintahkan Pram


Pram mengangguk dan mengambil hp-nya untuk menghubungi dokter Haikal. sementara ibu Arini yang sama tegangnya dengan suaminya, memegang erat tangan ayah Adnan.


"kenapa keluarga kita jadi terancam seperti ini yah" ibu Arini begitu khawatir


"semuanya akan baik-baik saja bu, Allah tidak akan membiarkan kedzaliman terus mekar di atas bumi ciptaannya" ayah Adnan merangkul ibu Arini


"yah, anak-anak dimana, kenapa sampai sekarang mereka tidak terlihat. ibu khawatir Baharuddin itu menemukan mereka. yah ayo kita cari mereka" ibu Arini mendesak ayah Adnan


"mereka baik-baik saja bu, dan untuk tuan muda El-Syakir dan juga tuan muda Dirga, mereka....."


"mereka kenapa...?" wajah ayah Adnan menaruh curiga kepada ketiga pengawal itu


"tuan muda Dirga menggantikan Deva yang akan masuk ke dalam lingkungan Baharuddin sementara tuan muda El-Syakir menjadi partner Furqon dalam mendekati Gibran"


"a-apa...?" ibu Arini syok begitu juga ayah Adnan yang tentu saja kaget


"kenapa hal sepenting ini kalian tidak konfirmasi kepada saya terlebih dahulu. mereka berdua anak-anakku, kalau terjadi sesuatu yang membahayakan bagaimana" ayah Adnan begitu emosi


"ayah, tahan" ibu Arini mengelus punggung ayah Adnan


"maaf pak, tapi mereka memaksa untuk ikut dan kami tidak bisa menolak karena menolak pun akan percuma, mereka akan mencari cara lain untuk tetap bisa masuk menjadi anggota orang kepercayaan Baharuddin" Helmi menimpali ucapan ayah Adnan


ayah Adnan mengusap wajahnya dengan kasar, ia benar-benar frustasi dan khawatir dengan kedua putranya yang begitu nekat.


"apakah Alana juga ikut...?" tanya ayah Adnan


"kami tentu tidak akan membiarkan nona Alana ikut dalam masalah ini pak. dia serta teman-temannya yang lain, mengawasi tuan muda El-Syakir dan tuan muda Dirga bersama dengan kami. kami akan memastikan keselamatan mereka" Randi meyakinkan ayah Adnan


"ya Allah anak-anak ibu, lindungi anak-anakku ya Allah" ibu Arini mulai menangis


hal itu membuat ketiga pengawal Sanjaya grup merasa bersalah namun menolak pun anak-anak itu tetap tidak akan tinggal diam.


"mereka akan baik-baik saja bu, mereka akan baik-baik saja" ayah Adnan menenangkan istrinya meskipun sebenarnya dirinya juga begitu khawatir


Furqon dan Gibran sedang menunggu seseorang, keduanya berada di sebuah rumah yang pernah di datangi Gibran sebelumnya. di rumah itu juga, dimana Vania di rawat oleh dokter Nathan.


rupanya Aris berada di tempat itu. melihat keberadaan Aris di rumah itu, Furqon memasang wajah tajam menatap laki-laki itu. ia sedang bersama seorang wanita bahkan di sofa panjang itu keduanya sedang bercumbu.


"bukankah itu Aris...?" ucap Randi saat melihat laki-laki itu


ibu Arini telah meninggalkan mereka menuju dapur. ia ingin menyiapkan makanan untuk mereka semua karena saat pindah ke tempat itu, mereka belum makan sama sekali.


"mana...?" Pram langsung kembali mendekat ke samping Helmi


"menjijikkan sekali" Helmi memalingkan wajah begitu juga yang lainnya


"bukannya dia berada di penjara, kenapa dirinya tiba-tiba bisa keluar...?" tanya ayah Adnan


"Baharuddin tentu tidak akan membiarkan anak kesayangannya itu berlama-lama di hotel prodeo" ucap Randi

__ADS_1


Furqon dan Gibran mendekati Aris yang masih bercumbu dengan wanita itu. melihat kedatangan keduanya, Aris dan wanita itu menghentikan aksi mereka.


"siapa dia...?" Aris bertanya saat melihat Furqon


"orang baru yang akab bergabung bersama kita" jawab Gibran


"duduklah" Gibran menyuruh Furqon untuk duduk


"kenapa aku seperti tidak asing melihatmu ya" Aris memperhatikan Furqon secara detail


"apa dia mengenalnya...?" ayah Adnan was-was


di tatap seperti itu oleh Aris membuat Furqon tersenyum tipis dan memperkenalkan diri.


"saya Abimana Aryasatya, pemilik bengkel di kawasan tengah kota, jalan kemilau. kalau kamu seperti tidak asing melihatku, sepertinya itu hal yang tidak mungkin karena saya saja baru pertamakali ini bertemu denganmu" Furqon tanpa rasa gugup dapat menguasai dirinya


"kamu hebat" Randi langsung memuji Furqon sementara Furqon tersenyum tipis mendengar pujian dari temannya itu


lewat kamera yang ada di kacamata Furqon, mereka dapat melihat dengan jelas ruangan dimana mereka berada itu karena Furqon terus melihat ke segala arah.


"aku ingin mempertemukannya dengan bos" ucap Gibran


"modelan yang seperti ini yang akan menjadi orang kepercayaan ayah...? Aris secara tidak langsung mengejek Furqon


penampilannya yang sekarang memang terlihat amburadul, karena identitas yang ia miliki sekarang adalah seorang mahasiswa yang sedang dalam masa-masa akhir perkuliahan. rambutnya yang coklat dan berantakan kemudian sedikit ikal, serta kacamata yang menurut Aris dia orang cupu, sama sekali tidak masuk dalam kriteria yang Aris inginkan.


"jangan hanya melihat dari penampilannya pak, penampilan bisa menipu siapapun" Furqon menjawab santai


"aku yakin ayah tidak akan mau" ucap Aris


"ayahmu sendiri yang ingin bertemu dengannya" timpal Gibran


"bagus, dengan mereka bertemu Baharuddin, kita bisa melacak dimana keberadaan laki-laki brengsek itu" ucap ayah Adnan begitu menggebu-gebu


"terserah kamu lah"


Aris kembali mencium bibir wanita yang ada di sampingnya. ia bahkan membawa wanita itu ke dalam kamar tanpa melepaskan pagutan bibir keduanya.


sementara Furqon memalingkan wajahnya dan Gibran menutup mata.


(ternodai sudah mataku yang suci ini) batin Furqon yang begitu kesal melihat kelakuan Aris


******* wanita itu membuat Furqon merinding. namun Gibran seakan tidak terusik, ia yang lelah membaringkan tubuhnya di sofa dan memejamkan mata.


"kamar mandinya di mana...?" tanya Furqon. dirinya ingin melarikan diri dari tempat itu karena tidak sanggup mendengar suara indah di kamar yang kedua manusia tadi masuki


"di dapur, ikuti saja jalan itu" ucap Gibran


Furqon buru-buru bangkit dan melangkah cepat menuju ke toilet yang ada di dapur.


"oi Fur, jangan bilang kamu main solo ya" Pram mengejek


"sialan kau, kamu pikir aku laki-laki apaan" Furqon memberenggut kesal


mereka yang berada di ruang rahasia itu menertawakan Furqon yang saat ini begitu ingin menghilang dari muka bumi.


Furqon hanya mencuci tangannya kemudian keluar dan akan kembali. saat itu dirinya yang begitu penasaran dengan rumah tersebut langsung mengambil langkah untuk tidak menghampiri Gibran. ia masuk ke dalam suatu ruangan.


"ini seperti perpustakaan" ucap Furqon


"kalau aku tidak salah, Baharuddin memang suka membaca" ucap Helmi


banyak koleksi buku yang terpajang di rak buku. bahkan berjejer seperti di ruang perpustakaan. Furqon menelisik setiap sudut tempat itu. kemudian ia melihat satu lukisan seorang wanita yang pernah ia lihat sebelumnya.


"lukisan siapa itu, menyeramkan sekali" ucap Helmi


wanita itu yang berpakaian seperti seorang ratu, pakaian yang serba hitam dengan satu ular hitam yang melilit tubuhnya. Furqon merinding melihat lukisan itu, seakan mata wanita itu menatap tajam ke arahnya.


lukisan itu begitu besar, terpajang di dalam ruangan tersebut. tidak ingin berlama-lama, Furqon segera keluar dari tempat itu.


saat keluar dari ruangan itu, ia melihat Aris baru saja keluar dari satu kamar di depannya.


"rupanya dia sudah selesai" ucap Furqon


"masuk ke kamar itu Fur, siapa tau kamu menemukan petunjuk dimana Baharuddin bersembunyi" Randi mengarahkan

__ADS_1


Furqon melangkahkan kakinya mendekati kamar tersebut. tangannya perlahan terangkat memegang gagang pintu untuk membukanya. baru saja hendak masuk, seseorang memergokinya.


"sedang apa kamu...?" suara seseorang terdengar di belakangnya


__ADS_2