Petualangan Mistis

Petualangan Mistis
Episode 124


__ADS_3

tubuh El-Syakir dan anak kecil itu semakin tenggelam ke dasar laut. kedua orang tua anak kecil itu semakin histeris terutama ibunya. tim samudera pun tidak kalah paniknya.


Alana yang melihat kakaknya tenggelam langsung teriak histeris dan berlari ke arah air. tidak peduli hujan yang begitu derasnya, dia ingin menyelamatkan El-Syakir.


"jangan Lana, bahaya" Leo menahan Alana dengan memeluknya


"lepasin kak, kak El tenggelam Alana harus menyelamatkan dia" Alana memberontak ingin terlepas dari pelukan Leo


"kalau kamu pergi bisa-bisa kamu juga tenggelam, sudah ada papa aku yang menyelamatkannya, jangan membantah" ucap Leo


mereka harus berbicara keras dan sedikit berteriak agar suara terdengar dikarenakan hujan yang turun begitu deras.


pak Rahmat yang sudah mencapai El-Syakir dan anak itu, dengan segera ia menyelam untuk meraih tubuh El-Syakir. ia menarik kedua tangan mereka kemudian membawa mereka ke atas.


El-Syakir dan anak kecil itu sudah tidak sadarkan diri. segera pak Rahmat membawa mereka ke permukaan dengan menggunakan pelampung yang ia bawa.


setelah sampai di permukaan, Leo dan Bara mengangkat El-Syakir dan membawanya ke gazebo karena tidak mungkin akan dibaringkan di pasir dalam keadaan hujan seperti itu.


ayah dari anak itu pun segera menggendong anaknya dan membawanya ke tempat yang sama dengan El-Syakir.


"El bangun plis bangun" Bara terus menekan dada El-Syakir agar sahabatnya itu bangun


"kak El bangun kak, hiks... hiks... bangun kak" Alana mulai menangis dan Leo memeluknya


"El plis bangun, cukup kak Dirga yang pergi, elu jangan sampai nyusul dia" Bara mulai berkaca-kaca, ia tidak berhenti terus menekan dada El-Syakir


perjuangan Bara membuahkan hasil. El-Syakir sadar dan ia terbatuk-batuk mengeluarkan air dalam mulutnya.


"haah haah, terimakasih Tuhan terimakasih" melihat El-Syakir sadar, Bara langsung memeluknya dengan erat. nafasnya memburu tatkala melihat El-Syakir yang tidak bangun juga namun akhirnya sahabat mereka itu bisa kembali kepada mereka


Leo dan Alana pun langsung menghambur memeluk El-Syakir. kehilangan Adam adalah trauma yang paling berat untuk mereka. mereka takut El-Syakir pergi seperti Adam dan pastinya itu akan semakin membuat mereka terpukul.


sedangkan anak kecil tadi tampaknya tidak bisa diselamatkan. ibunya meraung memeluk anak laki-laki itu yang wajahnya sudah sangat pucat dan bibirnya pun sudah membiru.


"bangun sayang bangun, jangan tinggalkan mama nak" sang ibu histeris dan memeluk anaknya dengan erat


"pah anak kita pah"


sang ayah tidak dapat berkata-kata, hanya air mata dan tangisan yang sekarang terdengar dari suaranya. ia memeluk istri dan anak mereka yang kini sudah tidak bernyawa.


"Nathan bangun nak" sang ibu terus berusaha membangunkan anaknya itu namun bagaimana pun usahanya, anak tampan itu tidak bisa untuk kembali lagi.


El yang masih sangat lemah digendong oleh Bara ke punggungnya menuju mobil Leo. Leo dan Alana mengikuti Bara sedang pak Rahmat menghampiri anak dan istrinya dan juga yang lainnya. tidak peduli hujan yang belum juga reda, mereka semua bergegas ke mobil untuk ke rumah sakit.


mama Melisa mendekap Bayu yang masih terlelap di pelukannya. karena mobil yang terparkir cukup jauh, mereka harus berlari untuk sampai pada mobil itu.


pak Rahmat memayungi istri dan anaknya dengan tas yang ia pegang sedang yang lainnya tanpa perlindungan, mereka mulai basah dan setelah sampai, mereka langsung masuk ke dalam mobil.


Vino dan Starla masuk ke dalam mobil Leo sedang sebagiannya berada di mobil pak Rahmat. memang sangat bahaya jika harus menyetir dalam keadaan hujan deras seperti ini tapi mereka tidak punya pilihan lain, El-Syakir harus dibawa ke rumah sakit segera mungkin.


entah bagaimana kondisi anak kecil tadi tapi yang pasti dia akan diurus oleh kedua orang tuanya.


hari libur seperti itu dan juga hujan yang deras membuat jalan semakin macet. kendaraan saling membunyikan klakson untuk berusaha agat tetap bisa melewati jalan yang sangat padat dengan kendaraan.


El-Syakir mulai menggigil, wajahnya mulai pucat dan bibirnya pun tampak membiru. Vino langsung membuka jaket Starla yang dipakainya dan menyelimuti tubuh El dengan jaket itu.


untungnya tadi saat Vino merasa tubuhnya mulai tidak sanggup menahan dingin karena dirinya yang tidak bisa terkena air hujan, Vino langsung kembali ke gazebo dan mengganti bajunya dengan baju pak Rahmat yang diberikan oleh mama Melisa, kemudian memakai jaket Starla agar tubuhnya hangat.


"tahan ya kak, bentar lagi kita sampai" Alana memeluk El-Syakir dengan erat, air matanya mulai mengalir


teringat dengan Dirga kakak sulungnya yang sekarang telah pergi meninggalkan mereka. Alana sangat takut El-Syakir akan pergi seperti Dirga meninggalkan dirinya dan semua orang.


"nggak ada jalan lain ya Le, kalau begini terus bisa sampai pagi kita tiba di rumah sakit" Vino sangat resah karena melihat jalan di depan sana yang sangat macet akan kendaraan


"lihat di google maps, ada nggak jalan lain" Leo menjawab, dirinya juga begitu resah melihat keadaan jalan sekarang ini


Vino mengambil handphonenya dan memeriksa jalan yang kemungkinan bisa membuat mereka cepat sampai di rumah sakit.

__ADS_1


"ada Le, tapi kita udah lewati. mending di depan itu elu putar balik dan kita ambil jalan yang ada di gang kecil ini" Vino memperlihatkan jalan yang bisa mereka lewati


"kecil banget Le, muat mobil nggak tuh...?" tanya Leo melihat


"coba aja dulu, kalaupun nggak bisa, kita cari jalan lain daripada tetap bertahan disini. El nggak akan bisa bertahan lama, tubuhnya udah sangat dingin banget" Bara melihat ke arah El yang menutup matanya dan sedang menahan dingin


setelah mendapat cela, Leo segera membelok mobilnya. jalan yang macet hanya satu arah, sedang jalan di sebelahnya masih lenggang kendaraan. Leo segera tancap gas untuk sampai di gang yang dimaksud oleh Bara.


"nggak muat mobil, gimana dong ini" mereka telah sampai di gang yang dimaksud


hujan masih tetap mengguyur bumi, seakan enggan untuk berhenti.


"gue telpon dulu kak Furqon" Bara segera mencari nomor Furqon dan menghubunginya


Furqon dan Ardi tidak lagi mengawasi El-Syakir, mereka ditugaskan yang lain oleh Zidan. itu sesuai permintaan dari El-Syakir sendiri. namun meskipun begitu kedua pengawal itu tetap memantau dimana El-Syakir berada agar jika terjadi sesuatu, mereka dapat dengan cepat menemukannya.


lama menunggu akhirnya sambungan telepon terhubung juga.


📞Furqon


halo Bara, ada apa...?


📞Bara


kak kami butuh bantuan. El harus dibawa ke rumah sakit, sedang jalanan macet dan jalan cepatnya tidak bisa dilewati mobil


📞Furqon


kalian di jalan mana sekarang


Bara mulai memberitahu dimana mereka berada sekarang. setelah itu Furqon mematikan panggilan dan berlari mendekati Ardi.


"kamu sepertinya harus ke bandara sendiri untuk menjemput Zidan dan pak Adnan, aku harus menyusul Bara dan yang lainnya. El-Syakir harus dibawa ke rumah sakit" Furqon memberitahu kepada rekannya itu


"memang El-Syakir sakit apa...?" tanya Ardi


tanpa menunggu jawaban Ardi, Furqon segera meninggalkan pria itu dan menuju motornya. ia sengaja menggunakan motor karena Bara mengatakan kalau jalan yang cepat untuk tiba di rumah sakit tidak bisa dilalui oleh mobil


tim samudera masih menunggu kedatangan Furqon. mereka tidak bisa meminta bantuan kepada pak Rahmat karena mobil pria itu terjebak macet.


setelah menunggu lama, akhirnya Furqon datang juga. ia turun dari motornya dan mengetuk pintu mobil.


"pakaikan baju hujan ini kepada El-Syakir kemudian bawa turun dirinya, aku akan memboncengnya untuk ke rumah sakit" Furqon memberikan baju hujan kepada Bara yang duduk di samping Leo


"tapi El sangat lemah kak, nanti kalau dia jatuh bagaimana" Bara menjawab


"kamu bisa ikut untuk menopang tubuhnya dari belakang"


El-Syakir mulai dipakaikan baju hujan begitu juga dengan Bara. setelah itu El-Syakir dibawa keluar dari mobil dan menuju motor Furqon yang terparkir di dekat mereka.


dengan hati-hati Bara mendudukkan El-Syakir di atas motor kemudian dirinya pun ikut naik dan dengan segera Furqon menarik gas motornya melewati jalan kecil itu.


mobil Leo segera mencari jalan lain untuk menuju rumah sakit. meskipun jauh tapi setidaknya sudah tidak ada El-Syakir yang bersama mereka. sehingga mereka tidak perlu terburu-buru melintasi jalan yang licin itu.


benar saja hanya beberapa menit saja motor Furqon telah tiba di rumah sakit. Bara turun lebih dulu kemudian menggendong El di punggungnya dan berlari masuk ke lobi rumah sakit.


"dokter tolong dokter" Bara berteriak, El-Syakir sudah tidak sadarkan diri semenjak tadi di jalan


beberapa perawat berlari mengambil brankar dan mendekati Bara dan El. El-Syakir dibaringkan di atas brankar kemudian di bawa ke ruang pemeriksaan untuk mendapatkan penanganan.


"Bara yang masih memakai baju hujan, berjalan ke luar dan melepas baju hujan itu. ia sangat merasakan kedinginan namun tetap saja dirinya harus betahan, setidaknya ia tidak boleh tumbang sama seperti El-Syakir.


Furqon dan Bara menunggu di kursi ruang tunggu. Furqon melirik Bara dan menyarankan agar sebaiknya ia pulang untuk mengganti pakaiannya.


" sebaiknya kamu pulang, tidak baik untukmu memakai pakaian yang basah seperti itu" ucap Furqon


"Iya kak tapi aku masih menunggu yang lain untuk pulang bersama" jawab Bara. sejujurnya ia juga tidak tahan lagi dengan tubuhnya yang kedinginan

__ADS_1


hampir 30 menit yang lainnya akhirnya datang juga. sudah ada Pak Rahmat dan juga mama Melisa. pak Rahmat memilih jalan lain agar bisa sampai di rumah sakit.


"bagaimana keadaan El...?" pak Rahmat datang masih dengan pakaian yang basah


"masih ditangani dokter om" jawab Bara


"pah sebaiknya papa sama mama pulang, kasian Bayu apalagi papa sekarang pakaiannya masih basah. nanti papa sakit" Leo memberikan usul


"pakaian kamu juga kan basah. bukan hanya kamu tapi Bara, Vino dan juga Alana. sebaiknya kita pulang saja dulu dan setelah itu kalian bisa datang lagi" pak Rahmat menjawab


"aku nggak mau ninggalin kak El" Alana menggeleng pelan


"kalau kamu nggak ganti baju, kamu bisa sakit nona muda. sebaiknya pulang dulu untuk tuan muda ada aku yang akan menjaganya" Furqon menimpali


"benar Lana, kita pulang dulu ya nanti setelah itu kalian bisa datang lagi. kalau kamu sakit, bagaimana bisa kamu akan menjaga El" mama Melisa membujuk


keputusan akhirnya dapat diambil, mereka yang basah akan pulang terlebih dahulu sementara mereka yang baik-baik saja, tetap di rumah sakit menunggu El-Syakir. Melati, Nisda, Starla dan Furqon mereka tidak ikut pulang.


pesawat jet pribadi Sanjaya grup mendarat di bandara. Ardi bertugas menjemput ayah Adnan dan juga Zidan. Edward sahabat Zidan sekaligus dokter yang menangani Dirga dulu, ikut pulang bersama mereka. Cecil kekasihnya pun, ikut bersamanya.


"waaah sudah lama sekali rasanya aku tidak menghirup udara Indonesia" Edward tersenyum saat keluar dari pintu pesawat


"aku udah nggak sabar pengen menikmati kuliner yang ada di sini" Cecil berucap


"aku akan mengantar kemanapun kamu mau sayang. ayo" Edward mengulurkan tangannya dan Cecil menyambutnya dengan senyuman


mereka berlima keluar dari bandara. ya mereka berlima, seseorang ikut bersama dengan mereka. ia berjalan sejajar dengan ayah Adnan. matanya melihat sekeliling, sudah lama sekali dirinya tidak berinteraksi dengan orang lain setelah apa yang telah dialaminya.


Ardi sudah menunggu mereka. pria itu tersenyum menyambut mereka dan mengambil barang-barang mereka kemudian memasukkan ke dalam bagasi mobil.


"kita pulang atau ke rumah sakit pak...?" Ardi bertanya saat mereka sudah berada di dalam mobil. hujan sudah reda menyisakan rintik-rintik yang masih turun membasahi bumi


"ngapain ke rumah sakit Ar, siapa yang sakit...?" tanya ayah Adnan mengerutkan keningnya


"El masuk rumah sakit pak. aku tidak tau dia sakit apa tapi tadi Furqon mengatakan bahwa dia akan mengantar El ke rumah sakit" Ardi menjawab, mobil mereka meninggalkan bandara


"kita ke rumah sakit sekarang" laki-laki yang duduk di samping Zidan langsung mengatakan kemana tujuan mereka. ayah Adnan duduk di depan sedang Edward dan Cecil duduk paling belakang


di rumah sakit, waktu sudah melewati sholat ashar. Furqon yang baru saja datang sholat ashar di mushola rumah sakit, memberitahu ketiga gadis itu untuk sholat terlebih dahulu. mereka pun mengangguk dan meninggalkan Furqon.


setelah ditangani, dokter keluar dari ruangan El-Syakir. Furqon menghampiri dokter tersebut dan menanyakan keadaan El-Syakir.


"bagaimana kondisinya dokter...?" tanya Furqon


"dia akan baik-baik saja, dia hanya demam karena tubuhnya yang kedinginan akibat mandi hujan"


"syukurlah. boleh aku masuk menemuinya dok...?"


"tentu saja. dia sedang tidur. saya tinggal dulu"


dokter meninggalkan Furqon, dengan segera pria itu masuk ke dalam ruangan El-Syakir dan saat masuk dapat ia lihat El-Syakir sedang tertidur pulas di ranjangnya. selang infus menempel di tangan remaja itu.


"aku harap setelah tuan muda bangun, rasa sakitmu akan segera sembuh karena obat untukmu telah tiba" Furqon menatap El-Syakir. Ardi sudah memberitahu dirinya bahwa ia sedang dalam perjalanan ke rumah sakit bersama bos mereka


langkah kaki seseorang terlihat terburu-buru. ia mencari sebuah ruangan yang akan di tujunya. saat melihat ruangan itu, dengan segera ia mendekat dan membuka pintu ruangan tersebut.


"dia belum bangun...?" laki-laki itu mendekati Furqon yang sedang duduk di samping El-Syakir


"belum. kalau begitu aku keluar dulu" Furqon membungkuk hormat dan meninggalkan ruangan itu


laki-laki itu duduk di kursi di samping El-Syakir. ia menatap El-Syakir dengan tatapan sendu dan sangat teduh.


"euugghh" El-Syakir bersuara


setelah lama tidur El-Syakir akhirnya bangun juga. perlahan ia membuka matanya. samar matanya melihat seseorang yang sedang duduk di sampingnya. matanya yang masih belum jelas melihat, ia tutup kemudian ia buka kembali. saat membuka matanya lagi dapat ia lihat siapa yang sedang duduk di dekatnya itu. laki-laki itu tersenyum hangat ke arah El-Syakir.


"Hai.... kangen nggak...?" tanya laki-laki itu dengan senyuman hangat

__ADS_1


__ADS_2