Petualangan Mistis

Petualangan Mistis
Episode 174


__ADS_3

"hhh, kalian pikir dengan mempunyai wujud mengerikan seperti itu dapat membuat aku takut. tidak akan, majulah kalian semua" Adam menantang para makhluk yang ada di lorong itu


salah satu dari mereka mencoba menyerang namun Adam menahan dan menggorok leher makhluk itu dengan kuku tajam miliknya. setelah mengerang kesakitan, makhluk itu lenyap dan hilang.


"kalian mau bernasib seperti dia...? Adam menatap tajam mereka semua


makhluk-makhluk itu mulai gentar dan takut. mereka yang menghadang jalan Adam, kini mulai memberikan ruang baginya untuk melanjutkan perjalanan.


Adam tersenyum simpul saat mereka mulai menghindar dan memberikan jalan untuknya. namun mereka tidak pergi dari tempat itu melainkan tetap memperhatikan Adam tapi tidak berani untuk menyentuhnya.


terselip rencana licik di kepala Adam. ia pun merenggangkan otot-ototnya seakan hendak bersiap untuk bertarung. sengaja ia memperlihatkan kepalan tinjunya hingga kemudian dirinya mengagetkan semua makhluk itu.


"witachaaaaaaaa hiyaaaaaaaa"


Adam bertingkah seperti aktor terkenal Bruce Lee. bahkan kakinya melayang di udara sengaja ia lakukan. hal itu membuat semua makhluk di tempat itu kalang kabut dan melarikan diri.


bahkan saking kagetnya, ada yang saling bertabrakan saat hendak melarikan diri. mereka lupa bahwa harusnya mereka tinggal menghilang namun anehnya mereka lari terbirit-birit seperti seseorang yang dikejar anjing.


"hihihi....lucu sekali. kerjain lagi ah" Adam terpingkal-pingkal melihat para setan itu lari darinya


"woi mau kemana, aku belum selesai loh" Adam meneriaki mereka dan bahkan berlari untuk mengejar


"kyaaaaaa"


semua setan itu tancap gas mempercepat lari mereka.


"pada kabur semua, padahal aku kan mau ngajak main petak umpet. hhh nggak asik banget" Adam berhenti mengejar dan bersidekap


ia kembali ke wujudnya semula dan mulai melangkah melanjutkan menyusuri lorong itu.


"panjang sekali lorong ini, aish... capek juga aku" Adam berhenti sejenak


ia pun memutuskan untuk istirahat sejenak, dirinya duduk bersandar di dinding lorong dan berselonjor.


"lapar" rengeknya memegang perutnya


"El, aku lapar" ucapnya lagi


ia teringat dengan El-Syakir. jika dalam keadaan lapar seperti itu, dirinya tinggal merengek kepada adiknya itu dan El-Syakir akan mencarikan makanan untuknya juga minuman kesukaannya.


"kak Deva juga sih, main loncat aja di jurang. di kira enak apa jadi hantu. eh tapi emang ada enaknya juga sih, bisa melayang dan menghilang"


setelah dirasa cukup untuk istirahat, Adam berdiri dan mulai berjalan kembali. ia tidak menemukan lagi satupun dari makhluk tadi yang sempat mengintimidasi dirinya.


saat itu dirinya mulai yang merasakan lapar, tiba-tiba hidungnya mencium sesuatu. aroma wangi masakan yang entah apa dimasak namun Adam dapat mencium aroma harumnya masakan itu.


"waaah ada makanan" girangnya


dengan sigap ia mempercepat jalannya hingga dirinya sampai di ujung lorong. di luar sana keadaan sangat ramai sekali. orang-orang berlalu lalang dan Adam kini masih berdiri di mulut lorong.


"pasar...?" Adam menggaruk kepala yang sebenarnya tidaklah gatal


"sejak kapan di hutan ada pasar" gumamnya


kruuuuk... kruuuuk


"aduh perut, kamu tau aja tempat mendapatkan makanan" Adam mengelus perutnya


meskipun lapar Adam tidak menyentuh jajanan yang ada di tempat itu. dirinya tau kalau itu adalah pasar lelembut bukan pasar manusia. ia hanya bingung saja, kenapa dirinya berakhir di pasar itu. ia kira dirinya akan menemukan ritual tempat penyembahan atau semacamnya namun rupanya dirinya malah tembus ke dalam pasar.


"hei...." seseorang memanggil dirinya


Adam menoleh dan kaget melihat siapa yang memanggilnya tadi.


"Melati...?" kening Adam mengkerut


"kenapa seperti orang bingung saja kamu ini. ayo cepat yang lain sudah menunggu" Melati memegang tangan Adam dan membawanya ke tempat lain


"kenapa kamu bisa berada di sini Mel...?" tanya Adam saat Melati masih terus menariknya untuk mengikuti gadis itu


Melati hanya tersenyum dan tidak menjawab. ia tetap menarik tangan Adam agar terus mengikutinya hingga mereka jauh dari pasar itu.


"lihat mereka sudah menunggu kita" Melati menunjuk ke arah depan. di sana tim samudera yang lain tengah berkumpul di samping air terjun dan bermain air.


"ayo" Melati menarik Adam lagi


Adam semakin bingung, kenapa bisa semua teman-temannya ada di tempat itu. bagaimana caranya mereka bisa sampai di tempat itu.


"kamu tersesat, kenapa lama sekali" Bara bertanya kepada Adam


"kenapa kalian bisa ada di sini...?" tanya Adam


"kami memang sudah berada di sini sejak lama" Leo menjawab


"pasti capek kan. ini minumlah, air ini sangat segar rasanya" Vino memberikan air minum kepada Adam. karena memang merasa lapar dan kehausan, Adam mengambil minuman itu dan meneguknya sampai habis

__ADS_1


"kamu darimana...?" tanya Alana


"aku...."


"sudah, tidak usah dijawab. ayo kita makan, kamu pasti lapar kan...?" El-Syakir mengajak Adam untuk duduk di batu besar


"ini makanan dan minuman kesukaanmu. ayo makan" ucap El-Syakir


di atas batu itu ada beberapa lauk. ikan bakar, nasi goreng, ayam gulai tertata rapi dan begitu menggoda.


Adam hanya diam memperhatikan makanan yang ada di depannya itu.


"makanlah, ini makanan kesukaan mu kan" ucap El-Syakir


"aku ambilkan kalau begitu" Starla mengambil piring dan menyendok nasi kemudian mengambil lauk dan menyerahkan kepada Adam


"makanlah" ucap Starla


"kalian tidak makan...?" tanya Adam


"ini semua khusus untukmu" ucap Nisda


"waaah terimakasih, aku memang sangatlah lapar" Adam sumringah dan mengambil piring yang diberikan oleh Starla yang sudah berisi makanan


namun kemudian senyuman Adam lenyap dan menatap tajam piring makanan yang ia pegang itu.


"kenapa tidak dimakan, ayo makanlah" ucap Melati


"atau mau aku suapi...?"


Melati mulai menyuapi Adam. bukannya membuka mulut, Adam mencengkram pergelangan tangan gadis itu. kemudian ia membuang piring makanan itu ke dalam sungai.


"siapa kalian...?" tanya Adam


"kenapa bertanya seperti itu, kami ini jelas temanmu" jawab El-Syakir


"AKU BILANG SIAPA KALIAN" Adam membentak El-Syakir


hal pertama yang Adam sadari adalah, kalau di atas batu itu bukanlah makanan kesukaannya. Adam menyukai ayam kecap bukan ayam gulai dan juga nasi goreng bukankah makanan kesukaan Adam melainkan nasi padang.


hal kedua yang ia sadari kalau mereka semua menggunakan panggilan aku kamu, bukan lu gue seperti yang mereka gunakan biasanya. El-Syakir dan Alana serta Bara pun yang biasa memanggilnya dengan panggilan kak Dirga, saat ini mereka hanya memanggil Adam dengan panggilan kamu.


Adam hendak berdiri, ia sangat kesal telah tertipu oleh mereka semua. namun kemudian pandangannya mulai kabur dan tubuhnya jatuh dari atas batu mendarat di tanah.


uhuk...uhuk


hahaha


hahaha


tim samudera hanya menertawakan dirinya tanpa berniat membantu.


"bagaimana air yang aku berikan, sangat segar bukan...?" Vino terus menertawakan Adam


"aaaggghh"


wajah Adam mulai merah padam. ia terus-menerus batuk tanpa henti hingga akhirnya pandangannya mulai kabur, matanya mulai tertutup dan akhirnya dirinya pingsan seketika.


"hahaha" suara seorang laki-laki


ia datang mendekati Adam dan berjongkok menatap wajah Adam dengan lekat.


"dasar anak muda bodoh, mudahnya kamu tertipu" ucap pak Ujang


"tadinya aku ingin membiarkanmu menjadi santapan siluman buaya di tempat ini. namun saat melihatmu yang mempunyai kekuatan gaib, maka rencanaku berubah" pak Ujang tersenyum menyeringai


"kalian semua, pergilah. sekarang dia menjadi urusanku" pak Ujang mengusir semua makhluk yang menyerupai tim samudera


mereka menghilang setelah pak Ujang menyuruh mereka pergi. makanan yang di atas batu itupun berubah menjadi makanan yang sangat menjijikkan.


"untungnya kamu meminum air yang telah aku sediakan tadi. ckckck, anak malang"


sementara di desa Boneng, tim samudera dan juga pak Zainal tengah bersiap untuk ke hutan belakang desa itu. segala keperluan telah mereka siapkan. makanan dan juga minuman harus mereka bawa, mengingat mereka tidak akan pulang dalam satu hari kecuali telah menemukan Adam, Deva dan Wulan.


"kalau kalian pergi lalu siapa yang akan menjaga desa ini...?" pak Samsul berkata kepada pak Zainal


"benar apa yang dikatakan oleh pak Samsul. apa tidak sebaiknya pak Zainal tinggal saja, biar anak-anak ini yang pergi ke hutan itu. bukankah mereka memiliki kemampuan yang tidak kita duga sebelumnya" ucap pak Banu


"pak, jika tidak ada pak Zainal bagaimana bisa mereka menemukan anak kita. hanya pak Zainal yang dapat membantu mereka. lagi pula ini sudah terang, makhluk-makhluk itu tidak akan datang lagi ke sini" ibu Murni menimpali


"bakar obor saja pak Samsul. jangan pulang ke rumah, tetaplah berada di rumah ini" pak Zainal memberitahu


"saya akan membuat pagar gaib untuk kalian semua. in shaa Allah akan aman dan tidak mudah ditembus oleh arah itu" ucap El-Syakir


"iya, lebih baik seperti itu saja. sekarang buatkan pagar gaib untuk mereka El" ucap Vino

__ADS_1


"harus di luar rumah" timpal El-Syakir


mereka semua keluar dari rumah. El-Syakir membaca mantra dan keluarlah keris larangapati dalam tubuhnya.


seperti biasanya jika keris itu keluar maka cahaya putih akan menyilaukan semua mata yang ada hingga cahaya itu perlahan-lahan redup dan menghilang.


El-Syakir duduk bersila di atas tanah dan menancap kerisnya kemudian keris itu terbang melayang mengelilingi rumah pak Firman. kini rumah pak Firman dan ibu Nurma diselimuti pagar gaib berwarna biru yang dibuat oleh El-Syakir.


(aku nggak nyangka dia ternyata mempunyai ilmu seperti itu. hebat sekali) batin Seil yang menatap takjub ke arah El-Syakir


"saya sudah membuatkan pagar gaib. in shaa Allah sanggup menghalau arwah-arwah itu agar tidak bisa masuk ke dalam rumah


"lalu bagaimana dengan warga yang lain...?" tanya pak Firman


"kekuatan saya tidak mampu untuk membuat pagar gaib sebesar dan seluas desa ini pak. jika itu saya lakukan, tenaga saya jelas akan terkuras habis" El-Syakir memberitahu


"dan kalaupun dilakukan akan memakan waktu yang cukup lama. kami tidak punya waktu untuk menunda kepergian kami" Nisda menimpali


"peringatkan mereka saja agar tidak keluar rumah dan beritahu mereka untuk membakar obor. hanya rintik hujan tidak akan membuat obor mati" jawab pak Zainal


"kita berangkat sekarang saja pak" ucap El-Syakir


"baiklah" jawab pak Zainal


"nak, tolong temukan Wulan anak saya" ibu Murni mendekat El-Syakir, sangat berharap agar tim samudera menemukan mereka yang hilang


"doakan saja ya bu. kami akan berusaha" El-Syakir menjawab


"kalian hati-hati" Seil menatap sendu ke arah mereka


"kami akan baik-baik saja" Starla mengelus lengan gadis itu


saat akan melangkah, Seil memanggil El-Syakir sehingga langkah El-Syakir terhenti dan berbalik.


"ada apa...?" tanya El-Syakir


"hati-hati" ucap Seil menatap lekat mata El-Syakir


"kamu juga hati-hati di sini" El-Syakir tersenyum


"berjanjilah kakak akan pulang dengan selamat bersama yang lain"


"iya. terimakasih sudah mengkhawatirkanku"


"aku.... menunggu kakak pulang"


El-Syakir terdiam dan menatap lekat gadis itu.


"maksud aku.... aku menunggu kalian semua pulang"


El-Syakir tersenyum dan mengangguk kemudian berbalik menyusul yang lainnya.


"sepertinya akan ada yang rindu karena kepergian mu" Leo menggoda El-Syakir


"ho'oh, gue mencium aroma-aroma hujan asmara" Vino ikut menggoda


"lebai" El-Syakir mencebik


"Seil cantik loh kak" Alana secara tidak langsung seperti memberikan lampu hijau bahwa dirinya setuju jika El-Syakir bersama temannya itu


"nah, udah dapat restu tuh dari sang adik" timpal Melati sedang El-Syakir berjalan acuh tanpa menggubris perkataan mereka


kini pak Zainal dan juga tim samudera meninggalkan rumah pak Firman. mereka akan ke bagian atas dimana di sana lah jalan untuk menembus ke hutan, desa Baluran.


warga desa Boneng mendengar pesan dari pak Zainal yang disampaikan oleh Samsul. semua pintu rumah warga tertutup rapat dan tidak ada seorangpun yang berkeliaran di luar.


kini mereka tiba di ujung desa, dimana mereka akan memasuki hutan yang dikatakan angker oleh warga desa Boneng.


"setelah kita masuk ke dalam sana maka konsekuensi atas apa yang kita lakukan ini harus kita hadapi. jika kalian ragu untuk melanjutkan perjalanan maka bicaralah dari sekarang" ucap pak Zainal


"kami sudah sering melakukan hal seperti ini pak. bahkan pernah terjebak di alam gaib namun kami tidak akan saling meninggalkan. bagi kami, berjuang bersama sampai mati itu lebih baik. teman-teman kami di dalam sana pasti membutuhkan bantuan, kami akan mencari mereka sampai ketemu" El-Syakir menjawab dengan mantap


"tim samudera tidak akan saling meninggalkan, pantang mundur mati tak gentar" ucap Bara


"pantang mundur mati tak gentar" mereka semua bersorak


"saya salut dengan keberanian kalian semua. baiklah mari kita masuk ke dalam dan hadapi setiap makhluk yang menghalangi jalan kita" ucap pak Zainal


tim samudera mengangguk mantap dan mereka melewati batas antara desa Boneng dan hutan itu. pencarian mereka akan dimulai saat itu juga


_________________________________________


catatan :


gabung di grup chat aku yuk 😊😊

__ADS_1


siapa tau bisa saling ngobrol.


__ADS_2