Petualangan Mistis

Petualangan Mistis
Episode 49


__ADS_3

Zidan terus memperhatikan foto Vania di layar handphonenya. ada perasaan bersalah telah mengacuhkan wanita yang telah menjadi kekasihnya beberapa bulan itu.


(maafkan aku) batinnya yang merasa sangat bersalah


"tenangkan pikiranmu. kamu harus berpikir jernih agar dapat menyusun rencana dengan baik. dia pasti baik-baik saja" ayah Adnan berusaha menenangkan Zidan


"iya mas" jawabnya


segera ia menyimpan handphonenya kembali namun ada satu hal yang tertangkap oleh matanya.


(tunggu...siapa gadis ini...?)


Zidan melihat seorang gadis yang terkapar tidak jauh dari tempat Vania. sama dengan Vania, gadis itu dalam keadaan terikat dan tidak sadarkan diri.


Zidan tidak dapat mengenal wajahnya karena rambut starla terurai ke depan sehingga menutupi wajahnya sebagian.


(apa dia tidak sendirian. kasian sekali mereka, aku harus segera bertindak)


tangannya terkepal membentuk tinju. sudah habis kesabaran seorang Zidan Sanjaya menghadapi musuh yang selama ini ternyata bisa dikatakan satu selimut dengan mereka.


setelah menempuh beberapa menit perjalanan, mereka sampai di tempat yang dituju. dengan cepat Zidan melangkah dan ayah Adnan mengikuti langkahnya.


"mana Helmi...?" tanya Zidan saat tidak melihat satu orang pengawalnya


"dalam perjalanan, dia baru saja melakukan meeting" jawab Randi


sekarang mereka berada di suatu tempat yang dijadikan markas. banyak pengawal yang yang menjaga di luar sana. ayah Adnan baru kali ini menginjakkan kakinya di tempat rahasia mereka itu.


tak...tak...tak


suara sepatu terdengar jelas di telinga mereka. hingga akhirnya pemilik sepatu itu muncul dihadapan mereka.


"maaf, tadi aku terkena macet. jadi ada apa kita berkumpul di sini...?" Helmi mengambil tempat di samping Pram


"Vania diculik" ucap Zidan


"apa...?" ketiganya terlihat kaget


"siapa yang menculiknya, apakah dia punya musuh...?" tanya Randi


"lihat ini" Zidan memperlihatkan foto Vania yang dikirimkan di handphonenya.


ketiganya saling pandang. mereka kini tau siapa yang menculik wanita itu.


"darimana dia tau kalau Vania pacar kamu, bukankah hubungan kalian tidak begitu diumbar. paling hanya orang kantor saja dan kami yang tau itu" ucap Pram


"itulah yang aku pikirkan. mungkin saja ada yang memata-matai ku saat aku bertemu dengan Vania" jawab Zidan


"sekarang, apakah kalian sudah temukan dimana persembunyian manusia brengsek itu...?" Zidan menatap ketiganya


"itulah yang akan aku beritahu di panggilan video kemarin. kami sudah menemukan tempat dimana persembunyiannya. tinggal merencanakan penggerebekan saja" jawab Pram


"mungkin saja di tempat itu, Vania disekapnya. dia tidak mungkin membawa Vania ke tempat yang jauh darinya" ayah Adnan menimpali


"pak Adnan benar. tunggu aku lacak dulu dimana posisi Vania sekarang. semoga saja handphonenya masih aktif sehingga kita dapat melacaknya"


segera Randi meninggalkan mereka mengambil sesuatu kemudian kembali lagi dengan iPad berada di tangannya.


tangannya menari-nari di benda pipih nan lebar itu, sementara yang lain menunggu dengan wajah tegang.


"dapat. seperti perkataan pak Adnan, posisi Vania sekarang berada di tempat persembunyian mas Rudi, jauh di sudut kota sana" ucap Randi saat menemukan titik dimana Vania berada


"kita ke sana sekarang" ucap Zidan.


"eh, tunggu tunggu" Helmi mengambil handphone Zidan


"sepertinya dia punya teman. lihat, ada seorang gadis di dekatnya yang keadaannya sama dengan Vania. siapa dia...?" Helmi melihat kembali foto itu


"benar, siapa gadis belia ini...?" ucap Pram yang memperhatikan foto itu juga


"yang jelas mereka adalah korban penculikan mas Rudi dan kita harus segera menolong mereka. siapkan pengawal terbaik, kita serang mereka" Zidan memberikan perintah


"baik" jawab ketiganya


ketiganya keluar memberikan perintah, tinggallah ayah Adnan dan Zidan yang berada di ruangan itu.


"aku akan menyuruh pengawal untuk mengantar mas Adnan pulang"


"bagaimana kalau saya ikut kalian...?"


"maaf mas, aku tidak mau melibatkan mas Adnan dalam masalahku ini. mas Adnan pulang saja, ibu Arini pasti sudah menunggu di rumah"


"masalahmu adalah masalahku juga, saya tidak suka kamu berbicara seperti itu"


"maafkan aku mas. aku bukannya ingin menyinggung perasaan mas, tapi aku tidak mau dengan mas Adnan ikut, mas Rudi akan mengincar mas di sana. seandainya nanti kami kalah, mas Adnan harus tetap baik-baik saja untuk terus menjalankan Sanjaya grup"


"jangan berkata begitu Zidan. semuanya pasti akan baik-baik saja, kalian harus pulang dalam keadaan baik-baik saja. saya menunggu kalian"

__ADS_1


"terimakasih mas. kalau begitu, mari kita ke depan untuk mengantar mas Adnan pulang"


"baiklah. kabari aku jika membutuhkan bantuan" ayah Adnan menepuk pelan bahu Zidan


"pasti mas"


Zidan mengantar ayah Adnan sampai di mobilnya, di sana sudah ada dua pengawal yang akan mengantar pulang bos mereka itu.


setelah mobil ayah Adnan tidak terlihat, ia kembali masuk ke dalam untuk mempersiapkan semuanya.


"sudah siap semua kan...?" tanya Zidan


"sudah bos" jawab Helmi


"kita pergi sekarang" ucapnya


"baik"


sementara itu, El, Vino dan Leo sedang bersiap untuk pergi ke tempat dimana starla berada.


"Lana ikut ya kak" ucap Alana memohon


"jauh dek, lagipula kita nggak tau apa yang terjadi sama starla. kamu di rumah aja ya temani ibu" jawab El


"tapi Lana mau ikut" rengek gadis itu


"dek, patuhi kakak kali ini. ok" El mendekap wajah adiknya itu


"baiklah" dengan terpaksa Alana mengiyakan


"aku kok merasa tegang ya" ucap Adam masih terus memakan melatinya


"apa yang tegang. apakah itu...?" Vino secepat kilat melihat dibawah perut Adam


dengan cepat juga Adam menutup asetnya dengan kedua tangannya dan mendelik ke arah Vino.


"dasar genit" cebik Adam


"cih, gue masih normal...iya kali gue mau pisang sama pisang" jawab Vino


"pisang enak tau kak" timpal Alana membuat Leo seketika terbahak


puuukkk


"aw...sakit El. salah apa sih gue" Leo meringis mengelus kepalanya


"nggak usah bicara ngawur deh, adek gue masih polos" ucap El


starla mencari sesuatu untuk membuka ikatan tangan dan kakinya. matanya melihat ke sekelilingnya mencari benda tajam yang bisa ia gunakan.


"cari apa...?" tanya Vania saat melihat gadis itu menoleh kanan dan kirinya


"cari sesuatu untuk membuka tali ini kak" jawab starla


"nggak ada pisau atau benda tajam lainnya di sini. kecuali kita sengaja memecahkan cermin yang ada di belakang kamu itu" ucap Vania


starla dengan susah berbalik melihat cermin yang ia sebutkan Vania. cermin dengan ukuran besar yang berdiri kokoh.


"kalau kita pecahin cermin itu, yang ada mereka datangi kita" jawab starla melihat lagi ke arah Vania


"tunggu bentar"


karena bukan hanya tangan yang di ikat tetapi kaki mereka juga, maka akan sangat sulit untuk mengambil posisi berdiri, apalagi tangan mereka di ikat dengan posisi berada dibelakang pinggang mereka.


Vania berusaha berdiri meskipun susah. beberapa kali ia jatuh ke lantai lagi hingga akhirnya dia berhasil berdiri dengan tegap.


"kakak mau apa...?"


"mau periksa setiap laci meja itu, siapa tau di dalamnya ada pisau atau gunting yang bisa kita gunakan" Vania menunjuk meja di sebelah kanannya dengan matanya


wanita itu melompat dengan kedua kakinya untuk mencapai meja di ujung sana hingga akhirnya lompatan terakhir ia sudah berdiri di depan meja itu.


perlahan ia membuka laci meja yang paling atas namun tidak ada benda yang dibutuhkannya di dalam itu. ia membuka lagi setiap laci meja yang lainnya namun tetap tidak ada yang dibutuhkannya.


"ada nggak kak...?"


"nggak ada. satu meja lagi"


Vania melompat lagi ke arah meja yang lainnya, ia sebenarnya lelah namun tetap saja dirinya tidak boleh menyerah.


seperti tadi, ia membuka tiap laci meja dan sekarang ia duduk untuk membuka laci meja yang paling bawah.


"dapat, ada gunting disini" senyumnya merekah, ia seperti mendapatkan sesuatu yang berharga padahal itu hanya sebuah gunting.


starla tersenyum lega, akhirnya ada juga gunting untuk membuka ikatan tangan dan kaki mereka.


tak...tak..tak

__ADS_1


suara langkah kaki terdengar jelas. langkah itu mendekat ke arah mereka dan semakin dekat saja.


"buruan balik kak" ucap starla pelan


Vania menutup laci meja itu dan berusaha untuk berdiri namun dirinya malah jatuh tersungkur ke lantai. kepanikan melanda keduanya apalagi langkah itu sudah hampir sampai di depan kamar.


tidak ada jalan lain, dengan terpaksa Vania menggulingkan dirinya agar bisa sampai di tempatnya semula. rasa sakit tangannya yang ia tindis tidak lagi ia hiraukan karena kepanikan menguasai dirinya.


cek lek


pintu terbuka dan saat itu juga Vania sampai di tempatnya. dengan cepat ia bangun dan mengambil posisi duduk. nafasnya terengah-engah memburu seperti telah melakukan lari maraton.


seorang wanita yang sebaya dengan Vania masuk ke dalam dan menghampiri mereka. kacamata hitam dan masker hitam yang ia pakai membuat Vania dan starla tidak dapat mengenal wajahnya.


"tidak secantik yang aku pikirkan" ucapnya mendekati Vania


"apa mau mu. jadi kamu dalang dari semua ini...?" sorot mata Vania tajam menusuk


"slow down baby. Zidan tidak akan suka melihat ekspresi wajahmu saat ini. oh atau, mata tajammu itu kah yang disukai Zidan" wanita itu memegang dagu Vania namun Vania menghindar


"dan kamu gadis manis, sayang sekali nasibmu harus berakhir di sini bersama wanita ****** ini" wanita itu melihat ke arah starla


"kalau aku yang kamu incar, maka lepaskan dia. dia tidak ada hubungannya denganku" ucap Vania


"tidak segampang itu sayang. kalau kamu mati di sini, berarti dia juga akan ikut mati"


deg....


seketika tubuh starla bagai dihantam benda keras. tubuhnya kaku dan keringat dingin mulai mengucur di keningnya. mendengar perkataan mati, sudut matanya mulai berair. apakah hidupnya memang akan berakhir di tempat itu.


"apa salah kami padamu, aku tidak mengenal dirimu. atas dasar apa kamu melakukan tindakan jahat seperti ini padaku" ucap Vania


"salahmu ya. tunggu aku pikir-pikir dulu apa sebenarnya kesalahanmu" wanita itu berdiri dan memegang keningnya seakan hendak memikirkan sesuatu


"salahmu adalah, kamu merebut Zidan dariku" lanjutnya dengan suara lantang dan menatap tajam Vania


wanita itu melihat kalung yang ada di leher Vania. kalung itu adalah yang diberikan Zidan kepadanya sebagai tanda permintaan maaf karena telah melewatkan ulang tahunnya waktu lalu. dengan pemandangan danau yang indah, Zidan memakaikan kalung itu di leher Vania.


saat itu ada seseorang yang melihat mereka. seseorang yang ingin menemui Zidan di kantornya namun yang menjadi resepsionis berkata bahwa Zidan tidak dapat diganggu kalau belum melakukan perjanjian temu.


hingga akhirnya saat Zidan keluar, ia mengikuti kemana pria itu pergi dan ternyata ia menemui Vania di dekat danau. seseorang itu adalah wanita yang berada di depan Vania sekarang.


dengan amarah yang membuncah, wanita itu menarik kalung Vania hingga kalung itu berpindah tangan kepadanya.


"kalungku... kembalikan kalungku" teriak Vania


"kamu tidak pantas memakai kalung ini. harusnya aku yang memakai kalung ini, bukan kamu ******"


"cih, bahkan kamu melebihi wanita ******" balas Vania dengan suara keras


plaaaaak...satu tamparan mendarat di wajah mulus Vania


"aku bahkan bisa membunuhmu saat ini juga" wanita itu memegang wajah Vania dengan kerasnya


"apa yang kamu lakukan...?" suara seorang pria membuat wanita itu melepaskan cengkraman tangannya dari wajah Vania


"aku sedang melakukan perkenalan dengan mereka" jawab wanita itu


"jangan bertindak gegabah. wanita ini adalah umpan untuk membuat Zidan tidak berkutik dan bersujud dihadapan kita"


"Zidan tidak akan pernah bersujud di hadapan iblis seperti kalian" ucap Vania dengan suara lantang


plaaaaak...


kembali wanita itu mendaratkan tamparan ke wajah Vania, membuat darah segar keluar dari sudut bibirnya. starla hanya menutup mata dan meringis melihat Vania di tampar. ingin rasanya ia membantu namun keadaannya saat ini benar-benar tidak berdaya.


"cukup Thalita" suara pria itu terdengar menakutkan


"maaf om, aku kelepasan" wanita yang bernama Thalita itu menunduk


"om akan biarkan kamu untuk menyingkirkan dia tapi bukan saat ini. sekarang, kembali ke depan"


"baik om"


kedua orang itu meninggalkan tahanan mereka di dalam kamar dan menguncinya dari luar.


(namanya Thalita, andai aku bisa melihat wajahnya) batin Vania


"kakak nggak apa-apa...?" tanya starla


"bohong kalau aku bilang nggak apa-apa. namun tidak usah dipikirkan. sekarang kita harus segera melepaskan ikatan ini dengan gunting ini" jawab Vania


starla menatap Vania dengan mata yang berkaca-kaca, sungguh dirinya sangat ketakutan saat ini. tidak ada ketiga sahabatnya yang akan membantunya, ia berharap pertolongan Allah segera datang menjemput mereka.


"aku tau kamu takut, tapi aku harap kamu harus berani untuk sekarang ini. tidak ada yang dapat menolong kita kalau kita tidak bertindak sendiri. jadi aku harap, kumpulkan keberanian mu ya"


"i-iya" jawab starla dengan terbata

__ADS_1


"kakak janji akan melindungi kamu. percaya padaku. asal kamu harus berani. mengerti kan...?"


gadis itu tidak menjawab namun ia hanya mengangguk sebagai jawaban atas perkataan Vania. air matanya tidak dapat ia tahan lagi. meskipun ragu, namun kali ini ia harus berani untuk melawan mereka yang di luar sana entah berapa banyak jumlahnya.


__ADS_2