
El-Syakir meminta izin kepada ibu Rina bahwa mereka akan pulang menggunakan mobil dari kakak sepupunya yaitu Furqon. El terpaksa mengatakan Furqon adalah kakak sepupunya karena kalau mengatakan teman mungkin wanita itu tidak akan mengizinkan karena selama belum semua peserta kemah sampai di depan rumah, mereka adalah tanggung jawab dari para guru yang menjadi pembina mereka.
"udah baikan Vin...?" tanya El saat melihat Vino dan starla menghampiri mereka
"udah. gue cepat sembuh karena pujaan hati yang ngerawat gue" jawab Vino membuat starla tersipu
"alay lu" Leo mencebik
mereka semua masuk ke dalam mobil. Furqon dan Ardi di kursi depan. El, Adam, Nisda dan Bara di kursi tengah sedang Leo, Vino dan starla di kursi belakang.
perlahan mobil hitam itu meninggalkan tempat perkemahan dan melaju dengan kecepatan sedang.
Adam menikmati angin yang berhembus menerpa wajahnya. udara masih sangat dingin akibat hujan deras yang turun tadi.
"kenapa...?" tanya El saat melihat hantu itu menatap ke arah luar jendela dengan diam
"aku pikir aku tidak akan selamat. aku bersyukur Tuhan masih menolong aku" jawab Adam tanpa menoleh ke arah El
"lain kali elu harus ngasih tau kita kalau ada sesuatu yang mencurigakan. jangan bertindak sendiri. gue hampir gila tau nggak saat elu skarat. gue nggak bisa apa-apa untuk menolong mu" ucap El dengan tatapan teduh
"sekhawatir itu padaku...?" Adam menoleh menatap El-Syakir
"tentu saja, elu udah gue anggap sebagai kakak gue sendiri. jelas gue sangat khawatir" ucap El
"bukan hanya El yang khawatir, kita semua ikut khawatir. kita nggak tau apa jadinya kalau elu benar-benar pergi" timpal Leo
"kak Dirga harus melakukan apapun bersama kami, nggak boleh sendiri. kita kan tim, yang namanya tim harus saling bekerja sama" ucap Bara
"emang kenapa sih. terjadi sesuatu ya tadi...?" tanya Vino karena memang dirinya dan starla tidak ada saat kejadian itu
"terjadi sesuatu yang hampir merenggut nyawa Adam. kalau tadi Adam benar-benar pergi, gue akan merasa bersalah banget karena gara-gara gue Adam ditangkap oleh kakek tua itu" jawab Nisda dengan perasaan bersalah
"sudahlah, nggak usah dibahas lagi. yang penting sekarang kita semua selamat dan pulang ke rumah. aku sudah sangat rindu dengan suasana di kota dan juga melati" ucap Adam
perjalanan masih jauh, waktu menunjukkan 17.00. karena lelah, El-Syakir bersandar di bahu Adam tidak lama remaja itu tertidur.
mereka semua memilih untuk tidur karena memang sangat mengantuk dan lelah akibat dari penjelajahan menegangkan yang mereka lakukan tadi.
pukul 19.00 mereka sampai di kota S. setelah mengantar anak-anak itu ke rumahnya satu persatu, Furqon dan Ardi pulang ke rumah dan akan kembali bertugas esok hari.
"sholat dulu ya setelah itu kita makan malam bersama" ucap ibu Arini kepada El
"iya Bu. eemm ayah mana, kok nggak keliatan...?"
"belum pulang, mungkin sebentar lagi"
El-Syakir akhirnya menuju kamarnya. ia mulai melaksanakan sholat isya karena sholat magrib mereka lakukan diperjalanan tadi, disebuah masjid yang mereka temui di jalan.
setelah sholat ia keluar kamar menuju dapur. sudah ada ibu Arini dan juga Alana, kurang ayah Adnan yang belum juga pulang.
"gimana kemahnya kak, seru nggak...?" tanya Alana
"serulah" jawab El menyendok nasi
"coba aja kalau Alana boleh ikut"
"nanti juga kamu akan ikut kalau sudah masuk di sekolah itu" jawab El mengunyah makanannya
mereka menikmati makan malam dengan hidangan masakan enak dari ibu Arini. El sudah merindukan masakan ibunya itu. nafsu makannya bertambah dan sudah tiga kali ia menambah nasi.
"kakak seperti orang yang nggak makan satu minggu aja" ledek Alana
"masakan ibu enak, aku jadi pengen makan terus" jawab El menikmati makanannya
"pelan-pelan nak, nanti keselek" ucap ibu Arini
"iya Bu"
disela makan malam, tanpa mereka sadari ayah Adnan telah pulang dan menghampiri mereka di meja makan.
"udah pulang El...?" tanya ayah Adnan duduk di samping istrinya
"loh ayah, kapan pulangnya...?" tanya ibu Arini heran. biasanya suaminya itu akan mengucapkan salam
"nih baru sampai. ayah udah ucapin salam tapi nggak ada yang jawab, ya tak terobos saja" jawab ayah Adnan
ibu Arini meminta maaf karena tidak mendengar salam dari suaminya itu. ia kemudian mengambilkan nasi dan lauk kemudian diberikan kepada ayah Adnan.
"rame tokonya yah...?" tanya El
"Alhamdulillah, Allah melancarkan" jawab ayah Adnan
"ayah cari pegawai baru atau masih pegawai yang lama...?" tanya ibu Arini karena selama ini dia belum bertanya soal itu
"pegawai lama. ayah sudah percaya dengan mereka semua" jawab ayah Adnan
"bang Galang udah masuk kerja juga yah...?" tanya El
"belum. ayah belum mengizinkan karena dia masih dalam tahap pemulihan. tapi kondisinya sekarang sudah jauh lebih membaik" jawab ayah Adnan
"syukurlah" ucap El menghabiskan makanannya
setelah makan malam, El kembali ke kamarnya. ia mencari-cari keberadaan Adam karena saat masuk ke dalam rumah hantu itu sudah tidak terlihat.
"kayaknya dia lagi nongkrong sama mba Kun dan mas poci nih" ucap El
benar saja, hantu itu sedang nongkrong menggosip dengan kedua temannya di pohon mangga. mba Kun dan mas poci sangat serius mendengarkan cerita Adam.
"begitu mba Kun, mas poci" Adam mengakhiri ceritanya
"untung aku selamat, kalau nggak sudah metong aku di hutan itu"
"kalau aku metong, kita nggak akan ketemu lagi. huwaaaaa aku jadi sedih"
mba Kun mengelus lengan Adam untuk menenangkannya. sedang mas poci ikut menangis mendengar cerita Adam, mungkin karena terlalu menghayati.
"Adam tunggu dam" El berteriak memanggil hantu itu yang terus berjalan tanpa menghiraukan panggilan El
"Adam tunggu"
__ADS_1
El-Syakir terus memanggil Adam, namun hantu itu seperti tuli tanpa menghiraukan El yang terus mengejar dan memanggil namanya. Adam terus berjalan dan menghilang di balik kabut yang tebal.
"Adam" El terus memanggil dan mencari
"Adam"
"Adam"
El terbangun dari mimpinya dengan peluh keringat. Adam yang melihat El meneriaki namanya kaget dan mendekat.
"ada apa...?" tanya Adam duduk di samping El
bukannya menjawab El malah menghambur memeluk Adam dengan air mata yang sudah mulai jatuh. Adam merasa heran namun ia membalas pelukan El dengan mengelus punggungnya.
"kamu mimpi buruk...?" tanya Adam dan El mengangguk. ia masih memeluk Adam
"itu hanya mimpi, bunga tidur. tidak perlu cemas"
"tapi gue merasa itu seperti nyata" El melepas pelukannya dan menghapus air matanya. entahlah, kalau menyangkut soal Adam, remaja itu sangat lemah hatinya
"memangnya kamu bermimpi apa...?"
El menceritakan apa yang menjadi mimpinya tadi. ia sangat takut apabila hantu itu pergi meninggalkannya.
"gue takut"
"takut apa...?"
"takut kalau elu pergi ninggalin gue"
"semua makhluk pasti akan saling meninggalkan El, tidak ada yang abadi di dunia ini kecuali Tuhan"
"gue tau, tapi gue belum siap. elu jangan kemana-mana ya, harus tetap bersama gue kapanpun itu"
"meskipun kamu lagi boker...?" Adam menggoda menaik turunkan alisnya
"ish, nggak gitu juga konsepnya Sukijang" El mencebik dan Adam terkekeh
"sekarang tidur lagi. ini masih jam 1 malam, waktu pagi masih lama"
"tapi elu harus tetap di sini"
"ya kalau bukan di sini, aku mau kemana lagi"
"maksud gue, elu jangan pergi kemanapun harus tetap di sini sampai pagi gue bangun"
"kayak anak kecil aja kamu nggak mau ditinggal"
"nggak urus. pokoknya elu harus di sini sampai pagi, titik" El kembali berbaring namun tangannya mengapit lengan Adam agar hantu itu tidak pergi kemana-mana
"apa lukamu masih sakit...?"
"sudah membaik bahkan sudah hampir sembuh. keris larangapati memang obat dari racun yang dikeluarkan oleh keris itu sendiri"
"syukurlah. gue benar-benar frustasi saat melihat elu skarat"
"nggak usah bahas itu, sekarang tidurlah"
"iya"
El memejamkan mata dan lambat laun dirinya mulai terlelap,
"nggak jadi menggosip deh sama mba Kun dan mas poci" ucap Adam
"jadi teringat masa kecil saat kamu tidak ingin ditinggal karena mati lampu. semoga Tuhan mengembalikan aku ke tubuhku agar terus bersama kamu, ayah, ibu Arini dan Alana" Adam menatap wajah El yang teduh
"bunda, apakah kamu melihat dari atas sana. lihatlah, Dirga sudah bertemu dengan El. andai bunda masih ada, mungkin kita bisa kembali seperti dulu" tak terasa air mata Adam jatuh. kenangan saat masa kecil mereka dulu terbayang dikepalanya
"hiks....hiks.... kembalikan aku ke tubuhku Tuhan. aku ingin bersama dengan adik dan ayahku lebih lama lagi dalam wujud manusia" Adam terisak dengan bahu yang naik turun
sudah seminggu dari kepulangan tim samudera di perkemahan dan hari ini adalah hari pernikahan Vania dan Zidan. sebenarnya hari ini adalah hari pertunangan namun ternyata Zidan tidak ingin menunda terlalu lama dan akhirnya pria itu melamar kekasih hatinya dengan sederhana di rumah Vania sendiri atas restu dari mama Vania. sekarang adalah pernikahan mereka, tentu saja terlihat mewah dan glamor karena itu adalah pernikahan pengusaha kaya Zidan Sanjaya.
ayah Adnan tengah bersiap. ia ingin sekali mengajak ibu Arini namun dirinya tidak mungkin melakukan itu karena identitas keluarganya akan terbongkar dan sudah pasti mereka akan menjadi incaran manusia licik di luar sana yang menginginkan tahta Sanjaya grup.
"ibu ingin sekali ikut" ucap ibu Arini memakaikan jas ayah Adnan
"maaf ya Bu, ayah tidak bisa mengajak ibu. ayah tidak ingin mereka mengetahui keluarga ayah yang sebenarnya"
"tidak apa-apa yah. keselamatan keluarga kita memang lebih penting"
"terimakasih atas pengertiannya Bu" ayah Adnan mengecup kening istrinya itu
"ibu memang harus selalu mengerti disetiap keadaan ayah" jawab ibu Arini tersenyum dan ayah Adnan langsung memeluknya
Pram tengah bersiap-siap, pria itu memilih jas yang akan dikenakannya. tidak lama handphonenya berbunyi pertanda pesan telah masuk di benda pipih itu.
📱aku sudah siap. mau jemput jam berapa...?"
itu adalah pesan dari Mita, sekretaris Zidan.
📱aku jemput sekarang
setelah membalas pesan wanita itu, Pram segera memakai jasnya, memakai parfum maskulin yang menjadi ciri khas dari bau tubuhnya, kemudian ia keluar kamar menuju lantai bawah.
"aku ikut kakak ya" ucap Bara yang telah siap di ruang tamu
"sama papa dan mama aja. Kakak mau jemput seseorang" jawab Pram
"jemput siapa kamu, calon istri ya. kenalin dong sama mama" ucap wanita yang masih terlihat cantik turun bersama suaminya
"belum saatnya mah, nantilah kalau udah srek di hati" timpal Pram mencium tangan kedua orang tuanya dan berlalu pergi
"ayo Bara, kita harus datang lebih awal" ucap mama Bara
di lain tempat Vania sedang di rias secantik mungkin. hari ini dia akan menjadi ratu sehari bersama pangeran impiannya.
"nona sangat cantik" ucap Thalita
"aku grogi" jawab Vania yang merasa gugup
__ADS_1
"rilex saja nona, nikmati setiap momennya. jangan terlalu tegang, nanti nona bisa pingsan di tengah acara" Thalita mengingatkan
Vania mendengarkan ucapan wanita yang duduk tidak jauh darinya. ia menarik nafas dan membuangnya untuk mengurangi rasa gugupnya.
Helmi sedang berada di ruang tamu menunggu seseorang. lama menunggu akhirnya yang ditunggu-tunggu datang juga. Sisil keluar dengan gaun yang sangat indah, mempercantik dirinya.
"maaf ya Hel, aku lama" ucap Sisil
"nggak masalah. berangkat sekarang ya"
"iya"
keduanya meninggalkan rumah Sisil. anak Sisil yang bernama Azam, telah dititipkan kepada ART yang bekerja di rumahnya.
mobil yang dibawa oleh papa Bara melaju dengan kecepatan sedang. saat Bara tengah bermain handphone, ia melihat ke arah luar dan matanya menangkap tim samudera yang berada di pinggir jalan.
"pah stop pah" ucap Bara dan papanya memberhentikan mobilnya
"ada apa Bara...?" tanya papanya
"Bara turun di sini saja" jawabnya
"loh, nak kita kan belum sampai" ucap mama Bara yang heran
"Bara ada urusan mah. mama sama papa duluan aja nanti Bara nyusul ke sana"
Bara segera keluar dari mobil dan berlari ke arah teman-temannya. sedang papanya menjalankan kembali mobilnya menuju ke gedung pernikahan.
"kalian ngapain di sini...?" tanya Bara
"lagi nunggu Nisda sama starla beli buah di sana noh" tunjuk Leo ke arah dua gadis itu
"eh tapi ngomong-ngomong elu kok di sini. katanya ada acara" lanjut Leo
"iya, gue mau ke pernikahan paman Zidan sama kak Vania. tapi pas lewat gue liat kalian ya jadinya gue datang ke sini"
"paman Zidan dan kak Vania mau nikah...?" tanya El
"iya" jawab Bara
"kita kok nggak diundang ya" ucap Vino
"diundang kok, kak Vania yang bilang sama gue buat ngundang kalian makanya gue samperin kalian ke sini" jawab Bara
"elu kenapa baru ngomong sekarang. masa iya kita ke pesta pernikahan pakaiannya kayak gini" ucap Leo melihat penampilan mereka satu persatu
"ayuk belanja yuk" ucap Adam antusias yang sedang mengunyah melatinya
"kayaknya kita memang harus belanja dulu. nggak mungkin pergi dengan pakaian kayak gini" timpal El
"assiiiiiiikkkkk...ayo El buruan. di sana ada pakaian diskon gede-gedean. ayo buruan" Adam menarik-narik lengan El-Syakir
"mau kemana sih...?" tanya starla yang datang bersama Nisda
"mau belanja. ayo El, kamu mah lama ish" Adam mulai kesal
"iya iya, ayo" dengan di seret oleh Adam, El-Syakir mengikuti kemana hantu itu akan membawanya
setelah membeli pakaian yang cocok untuk menghadiri pesta pernikahan, mereka segera berangkat. hanya beberapa menit, tibalah tim samudera di hotel mewah dimana pernikahan Zidan dan Vania digelar.
(paman Zidan memang nggak main-main. akhirnya bisa kepincut juga sama wanita) batin Adam melihat dekorasi pernikahan mewah itu
untungnya mereka tidak terlambat dan dapat menyaksikan proses ijab qobul pernikahan yang sakral itu. terlihat raut wajah bahagia kedua pengantin. Zidan mencium kening Vania dan Vania mencium tangan Zidan.
"kenapa melamun...?" tanya Randi yang duduk bersama Thalita
"aku bahagia atas pernikahan nona. aku berpikir apakah aku bisa meraih kebahagiaan seperti ini nantinya" jawab Thalita menoleh ke arah Randi sekilas
"aku akan mengabulkannya nanti, kita akan menjadi raja dan ratu sehari seperti mereka" ucap Randi dengan senyuman yang lembut
"kamu yakin akan terus bersamaku, wanita seperti ku...?" Thalita menatap Randi
"memangnya kamu tidak yakin...?" Randi bertanya balik
Thalita hanya tersenyum dan menautkan jemari tangan mereka. tentunya Randi merasa senang. setelah keduanya ikut di kencan Zidan dan Vania, keduanya mulai terlihat sangat dekat bahkan sekarang mereka menjalin hubungan.
"ekhem, lihat situasi juga kali. nggak kasian apa sama yang jomblo seperti aku" Helmi berdehem di belakang mereka
"makanya cari pacar biar nggak karatan" ejek Randi. Pram menahan tawa membuat Helmi mencebik
setelah ijab qobul, kedua pengantin berganti pakaian dan duduk di pelaminan untuk menerima tamu undangan.
El dan yang lainnya berdecak kagum dengan ketampanan Zidan dan kecantikan Vania. mereka berdua terlihat sangat cocok dan romantis.
tim samudera mengantri untuk memberikan selamat kepada pengantin. saat itu juga ternyata ayah Adnan sedang di pelaminan memberikan selamat kepada Zidan dan Vania.
emsi yang melihat pemimpin Sanjaya grup langsung mendatanginya dan memperkenalkan ayah Adnan kepada semua tamu undangan. ayah Adnan diberikan kesempatan untuk memberikan sepatah kata dua kata untuk calon pengantin. mendengar pemimpin Sanjaya grup hadir, semua orang penasaran termasuk tim samudera.
"ayah" ucap El kaget melihat ayahnya berada di depan sana sedang memberikan sambutannya
"loh iya El, itu bokap lu" ucap Vino menganga
tim samudera kaget, terlebih lagi El-Syakir. pikirannya sesak, kenapa bisa ayahnya berada di pernikahan ini dan dipanggil sebagai pemimpin Sanjaya grup, perusahaan yang terkenal bahkan mempunyai cabang dimana-mana.
"ayah" panggil El membuat semua orang melihat ke arahnya begitu juga ayah Adnan
ayah Adnan kaget melihat El-Syakir berjalan mendekatinya. remaja itu bahkan tidak peduli tatapan dari semua orang yang sedang memperhatikan mereka.
"ayah" El-Syakir tiba di depan ayah Adnan
ngiiiiiiiiiiiiiing
telinga Adam berdengung, ia mulai merasakan sesuatu akan terjadi di pesta ini. matanya melihat ke segala arah siapa yang akan membuat kericuhan.
mata Adam menangkap seseorang yang berada di tengah kerumunan sedang mengarahkan pistolnya ke arah pengantin.
dor.....
satu tembakan melesat membuat semua para tamu undangan berteriak dan berhamburan.
__ADS_1
"menunduk kalian semua, atau ku tembak kepala kalian satu persatu" teriak pria itu
semua orang duduk melantai dan menundukkan kepala. pria itu melihat ke arah ayah Adnan yang menjadi target tembakannya tadi. pikirnya ayah Adnan akan sekarat karena tembakannya namun ternyata pria itu masih terlihat segar bugar dan tidak terluka sama sekali. jelas saja tidak, karena Adam menahan peluru itu dengan tangannya.