
POV (El-Syakir)
setelah Aris pergi, aku dan kak Furqon keluar dari dalam lemari tempat persembunyian kami. berada di dalam, aku seperti kehabisan oksigen.
aku dan kak Furqon mendekat ranjang tante Vania, kami berdua berdiri di samping kanan sementara Gibran ada di samping kiri.
"kalian pasti begitu penasaran dengan kebenaran yang kalian dengar. namun aku menyuruh kalian datang bukan untuk mendengar cerita bagaimana latar belakangku. simpan rasa penasaran kalian itu, karena sekarang ada yang harus kalian berdua lakukan" ucap Gibran
"kalian bawa wanita ini ke tempat yang aman, melewati jalan rahasia" ucap Gibran
"jalan rahasia...?" kami berdua serempak bertanya
ketukan pintu terdengar, Gibran mempersilahkan seseorang itu untuk masuk. seorang laki-laki datang membawa brankar dan meletakkan di samping Gibran.
Gibran dengan pelan mengangkat tubuh tante Vania kemudian menyimpannya di atas brankar itu. alat seperti komputer yang berukuran kecil menampilkan detak jantung tante Vania pun akan di bawa. aku memegang peranan tiang infus.
kami semua keluar dari kamar dan menuju ke arah belakang. bukan menuju ke dapur melainkan kami masuk lagi ke ruangan lain. di dalam seperti perpustakaan, banyak rak-rak buku yang berjejeran dan juga beberapa meja yang disediakan. pemilik rumah ini pasti suka membaca.
Gibran mendekati sebuah lukisan yang besar. lukisan itu adalah sama persis dengan yang aku lihat di markas mereka, yang berada di dapur.
"aku pernah masuk ke dalam sini" ucap Furqon berbisik
"sejak kapan...?" tanyaku dengan berbisik juga
"dua hari yang lalu" jawab kak Furqon
Gibran melangkah mendekati lemari pakaian kemudian aku melihat tangannya memencet sesuatu di belakang lemari itu hingga hal yang tidak terduga pun terjadi. lukisan ratu Sri Dewi terbelah menjadi dua dan menunjukkan sebuah jalan yang gelap.
"luar biasa, ternyata lukisan ini adalah pintu jalan rahasia" gumam kak Furqon namun aku masih dapat mendengarnya
"kalian masuk ke dalam sini, bersama dia" Gibran menunjuk laki-laki tadi yang membawakan brankar untuk tante Vania.
"ikuti saja dimana dia pergi. ambil jalur kanan karena kalau jalur kiri, kalian akan tembus langsung di markas kita" ucap Gibran
oooh
jadi lukisan yang ada di markas itu adalah pintu jalan rahasia. pantas saja mereka menyimpan lukisan itu di dapur, bukannya di tempat ruang tengah atau ruangan seperti ini.
"di sana dokter Nathan sudah menunggu kalian. dia yang akan membawa kalian ke tempat yang aman. aku akan menyusul nanti. ucap Gibran"
"untuk membuka pintu jalan rahasia, tekan saja tombol yang ada di dinding sebelah kanan"
"kenapa bos tidak ikut bersama kami...?" tanyaku
"aku harus melakukan sesuatu sebelum menyusul kalian" jawab Gibran
klak
Gibran menekan saklar yang ada di dekat lukisan itu sehingga jalan rahasia yang tadinya gelap kini menjadi terang benderang.
"pergilah, aku harus menutupnya kembali" ucap Gibran
laki-laki tadi dan kak Furqon mendorong brankar tante Vania sementara aku mendorong tiang infus. setelah kami masuk ke dalam, pintu ruang rahasia ini kembali tertutup dengan rapat.
"ayo" ajak laki-laki yang bersama kami
kami bertiga mulai melangkahkan kaki menjauhi pintu. aku yang berada di depan karena yang aku pegang adalah tiang infus dimana keberadaan aku tidak boleh berjauhan dari tante Vania.
"boleh tau siapa namamu...?" tanya kak Furqon kepada laki-laki itu
"Bagas" jawabnya
"apa kamu tau sebenarnya kita akan membawa wanita ini kemana...?" tanyaku
sejak tadi aku memang penasaran kemana tante Vania akan di bawa.
"setelah kalian tau lokasinya, kirimkan alamatnya kepada kami Furqon" ucap paman Helmi
aku ingin sekali menjawab ucapan Paman Helmi, apakah mereka telah bertemu dengan kak Dirga, kak Deva dan Vino. namun tidak bisa aku lakukan, sudah pasti Bagas nanti akan curiga.
aku teringat dengan ucapan Gibran tadi. dia mengatakan akan menculik paman Zidan untuk dijadikan sandera.
astaga
aku harus bagaimana, tidak mungkin menghubungi paman Helmi dan yang lainnya sementara mereka sedang ke wilayah timur. pikiranku mulai kacau kembali, aku menggigit kukuku memikirkan cara apa yang harus aku lakukan.
"kamu kenapa, seperti tidak tenang" tanya Bagas padaku
"ah tidak, tidak apa-apa" jawabku berusaha bersikap tenang
aku merogoh hp dan mengirimkan pesan kepada Leo dan Bara untuk memberitahu mereka menjaga paman Zidan. aku memberitahu rencana Gibran tadi kepada mereka, agar paman Zidan dapat dijaga dengan ketat. hanya mereka yang dapat aku mintai pertolongan. meskipun ada beberapa pengawal yang menjaga paman Zidan tapi tetap saja jangan sampai ada penyusup yang berusaha masuk dan menculiknya.
semenit kemudian aku mendapatkan balasan pesan dari Leo.
Leo : oke, kami ke sana sekarang
__ADS_1
huufffttt
aku baru merasa lega. semoga saja rencana itu belum dilakukan oleh Gibran sebelum paman pengawal kembali dari wilayah timur.
"Bagas, boleh aku bertanya sesuatu...?" tanya kak Furqon
"silahkan saja" jawab Bagas
"aku mendengar kalau wanita ini adalah istri dari Zidan Sanjaya, apakah itu benar...?" tanya kak Furqon
"iya, dia memang istri dari Zidan Sanjaya. memangnya kenapa...?"
"saat beberapa rekan kita bercerita di markas, aku mendengar kalau wanita ini sedang hamil. tapi kok, perutnya kempes ya"
rupanya kak Furqon sedang menggali informasi apakah anak tante Vania selamat atau tidak.
Bagas tidak langsung menjawab, dia diam beberapa saat. aku tidak bisa melihat ekspresi wajahnya karena aku berada di depan. tidak mungkin berhenti hanya untuk melihat wajah Bagas.
"maaf, aku tidak bisa memberitahu masalah ini kepada siapapun" jawab Bagas
dari jawabannya aku dapat mengambil kesimpulan kalau Bagas tau sesuatu tentang anak dari tante Vania.
"baiklah, tidak apa-apa" ucap kak Furqon yang tidak akan bertanya lagi
kini kami telah sampai di dua jalan yang dimaksud oleh Gibran tadi. kami mengambil jalur kanan, hingga setelah lama berjalan kami sampai di jalan yang buntu. artinya kami telah berada di pintu untuk keluar.
Bagas maju ke depan dan menekan tombol yang ada di dinding sehingga terbukalah dinding yang tadinya sama sekali tidak ada jalan keluar.
"dimana ini...? tanyaku karena kami seperti berada di sebuah tempat sempit seperti lemari
Bagas menarik tuas yang ada di dinding kayu ini sehingga terbukalah jalan untuk kami keluar. rupanya pintu masuk dari arah sini adalah berbentuk sebuah lemari.
aku menggeser beberapa pakaian yang menghalangi jalan kami dan mengeluarkan tante Vania. kini kami semua berada di dalam kamar.
"lah, ini seperti kamar yang ada di rumahnya Gibran" ucap kak Furqon
"ini memang rumahnya Gibran" jawab Bagas
"oh ya...?"
sangat sulit dipercaya, rumah yang tidak begitu besar ini ternyata mempunyai jalan rahasia. hebat, sekali laki-laki itu.
"ayo keluar, dokter Nathan sudah berada di luar" ucap Bagas
aku membuka pintu dan kak Furqon serta Bagas mendorong brankar tante Vania. di ruang tengah, seorang laki-laki berpakaian kasual, sedang duduk di sofa.
"kita akan kemana dok...?" tanya kak Furqon
"ke tempat yang aman" jawab dokter Nathan
kami semua keluar dari rumah. dan kemudian kami memasukkan tante Vania ke dalam mobil ambulan. aku dan kak Furqon ikut serta, sementara Bagas berada di depan bersama dokter Nathan.
"kak, apakah anak tante Vania selamat ya waktu itu" tanyaku
"aku tidak tau tuan muda. kecelakaan yang mereka alami sangat bergitu tragis. aku....tidak berpikir kalau anak itu akan selamat" jawab kak Furqon
aku berpikir juga seperti itu. paman Zidan dan tante Vania koma akibat kecelakaan itu, aku sangat pesimis kalau bayi itu akan selamat.
di saat kami sedang merenung, aku dan kak Furqon dikagetkan dengan suara tembakan yang kami dengar dari headset yang kami pakai.
"Randi, arah jam 9"
dor
dor
"tuan muda, lemparkan granat itu ke dalam gudang" teriak paman Pram
beberapa detik setelah paman Pram berteriak, suara ledakan terdengar.
"paman, apa yang terjadi" tanyaku dengan wajah tegang
"Helmi, kalian berperang...?" tanya kak Furqon
"Jacob si licik itu ingin bermain-main dengan kami. tentunya kami akan meladeninya" paman Randi menjawab
"paman, Jacob kabur membawa uangnya" aku mendengar suara Vino
"biar aku yang kejar, akan aku habisi si Jacob cob bule borokokok itu. berani sekali dia mempermainkan aku" kini suara kak Dirga yang terdengar
"aku ikut, ayo" ucap kak Deva
aku merasa begitu lega setelah mendengar suara ketiganya. itu berarti mereka baik-baik saja.
"Le, kalian sudah sampai di rumah sakit...?" tanyaku
__ADS_1
"baru saja sampai. ada kak Ardi juga di sini. paman Edward dan tante Cecil pun masih ada di sini" jawab Leo
"Leo, Bara, Ardi....ingat pesanku. jangan tinggalkan ruangan ICU, kalaupun kalian ke toilet harus tetap ada salah satu diantara kalian yang berjaga bersama pengawal lainnya. saat kami kembali, Zidan akan kita pindahkan ke tempat lain. beritahu Edward, agar jangan membiarkan siapapun masuk selain dokter yang menangani Zidan" ucap Paman Helmi
"baik paman" jawab Leo dan Bara
"baik" jawab Ardi
lama kami duduk di dalam mobil, hingga kemudian aku merasakan kalau mobil ini sedang naik tanjakan. aku melihat ke arah luar, sungguh luar biasa pemandangan di luar jendela mobil ini. selang beberapa menit melewati tanjakan, mobil ini pun berhenti.
"apakah sudah sampai...?" tanyaku
"sepertinya begitu" jawab kak Furqon
pintu belakang mobil ini di buka. aku dan kak Furqon mendorong pelan brankar tante Vania sedang Bagas dan dokter Nathan menahannya di luar setelah itu aku dan kak Furqon keluar dari mobil.
pemandangan yang sangat indah sekali. kami berada di tempat yang begitu jauh dari keramaian. kalau tidak salah, tempat seperti ini biasanya disebut dengan vila.
"vila siapa ini dok...?" tanya kak Furqon
"Gibran" jawab dokter Nathan
"rupanya, kaya juga si Gibran itu ya kak" ucapku pelan
"bapaknya aja kaya, apalagi anaknya" timpal kak Furqon
hamparan kebun teh yang begitu luas sangat memanjakan mata. aku menghirup udara sebanyak-banyaknya, karena baru kali ini aku merasakan udara yang begitu segar masuk di pernapasan.
kami semua masuk ke dalam. rupanya di vila ini ada pekerjanya. terlihat seorang ibu menyambut kami di depan pintu bersama seorang bapak-bapak.
"kamarnya sudah disiapkan kan bi...?" tanya dokter Nathan
"sudah dokter, mari ikut saya" ucap si ibu
kami semua mengikutiku ibu itu dan masuk ke dalam kamar yang begitu besar. tante Vania di letakkan di atas ranjang dan tiang infus aku letakkan di sampingnya. monitor kecil, disimpan di sampingnya juga.
dokter Nathan memeriksa keadaan tante Vania, dan kami masih belum keluar juga.
"dia baik-baik saja" ucap dokter Nathan
"Alhamdulillah" ucapku dan kak Furqon serta ibu tadi
"bi, tolong jaga dia ya...satu minggu satu kali aku akan datang memeriksa keadaannya" ucap dokter Nathan
"baik dokter" jawab si ibu
jika yang aku lihat, ibu ini sudah mengenal dokter Nathan. buktinya saat kami datang, dia langsung memanggil dokter Nathan dengan panggilan dokter.
kami semua keluar dan berkumpul di belakang halaman vila. pemandangan dari atas ini begitu menakjubkan. kami duduk di kursi yang ada di bawah pohon. meja bundar menjadi pelengkap dari kursi kursi yang kami duduki. setelah itu, ibu tadi datang membawakan kami minuman yang dingin, begitu tau kalau kami membutuhkan sesuatu yang dapat menghilangkan dahaga.
"Bagas, mungkin setelah ini kamu akan dicari-cari oleh Baharuddin itu, apa itu tidak masalah buatmu...?" ucap dokter Nathan
"memangnya Bagas habis melakukan apa sampai dicari oleh bos Baharuddin" tanyaku yang penasaran
"karena dia akan berada di sini untuk menjaga wanita tadi" jawab dokter Nathan
"aku lebih suka di sini. suasananya begitu nyaman Dan jauh dari kebisingan" ucap Bagas
"tapi kamu tidak akan punya teman" ucap dokter Nathan
"tidak masalah dok, saya memang suka suasana sepi seperti ini" jawab Bagas
aku melirik kak Furqon sedang mengetik pesan. sepertinya dia akan mengirimkan pesan kepada yang lain dimana keberadaan tante Vania sekarang. dengan begitu, kami dapat menculik tante Vania kembali seperti yang pernah mereka lakukan.
setelah mengirim pesan, kak Furqon melihat ke arahku kemudian tersenyum.
kami akan pulang namun masih menunggu kedatangan Gibran seperti yang dikatakannya tadi. sudah beberapa jam kami menunggu, bahkan kami telah makan juga namun belum juga terlihat batang hidung laki-laki itu.
"apa Gibran tidak jadi datang...?" tanya kak Furqon kepada Bagas
"entahlah, apa urusannya begitu berat kali ini" jawab Bagas
hari sudah semakin sore, kami menunggunya di depan vila. sementara dokter Nathan sedang menelpon dengan seseorang, tidak jauh dari kami.
"mungkin itu dia" ucap Furqon menunjuk ke arah bawah
sebuah mobil hitam sedang mengarah ke arah sini. sepertinya itu memang Gibran, aku mengenal mobilnya. tepat di samping mobil ambulan, mobil hitam itu berhenti.
Gibran keluar dari mobil, namun yang aku lihat dia berjalan sempoyongan dan lagi kemeja yang ia pakai sudah penuh dengan darah.
"astaga, Gibran" dokter Nathan berlari menangkap Gibran yang hampir saja jatuh ke tanah
"tolong bantu aku, bantu aku" dokter Nathan memanggil kami
Bagas dan kak Furqon menghampiri dan mereka membantu dokter Nathan mengangkat tubuh Gibran yang sudah pingsan.
__ADS_1
Gibran dibawa masuk ke dalam vila, dan di letakkan di ranjang kamar yang bersebelahan dengan kamar tante Vania.
kami tidak tau apa yang terjadi padanya, tapi yang pasti telah terjadi sesuatu padanya sehingga keadaannya menjadi seperti ini.