
"selamat datang pak direktur. akhirnya kita bertemu juga" Aris menyambut kedatangan ayah Adnan dengan senyuman lebar
"aku sudah datang, maka lepaskan mereka" ucap ayah Adnan menatap tajam ke arah Aris
"jangan terburu-buru pak direktur, aku akan membebaskan mereka dengan sebuah persyaratan tentunya" jawab Aris
"apa yang kamu inginkan....?"
"pertanyaan bagus. aku suka pertanyaan itu" Aris membunyikan jarinya
"jangan lakukan keinginannya pak. pergi dari sini, dia manusia licik" ucap Helmi yang mencoba untuk bangun
"jangan banyak gerak Hel, kamu masih lemah" Sisil menahan tubuh Helmi yang berusaha untuk bangun
"tetap di tempat mu Helmi, jangan banyak bergerak" perintah ayah Adnan
"bisa kita mulai. karena aku sedang banyak urusan" ucap Aris
"apa syaratnya" tanya ayah Adnan
Aris melangkah mengambil map berwarna biru kemudian map itu diberikannya kepada ayah Adnan.
"tanda tangan di tempat itu, maka urusan kita akan selesai" ucap Aris
"apa ini...?"
"silahkan baca isinya. aku baik kan, membiarkanmu membaca isinya terlebih dahulu"
ayah Adnan membuka map itu dan isinya adalah selembar kertas dengan tulisan ketik di dalamnya. mata ayah Adnan memicing membaca setiap baris dan kalimat yang ada.
"kamu ingin aku menyerahkan jabatan ku...?"
"tepat sekali. sekarang silahkan tanda tangan dan urusan kita selesai"
"jangan pak, jangan lakukan itu" teriak Helmi
"untuk apa aku menyerahkan jabatan ku kepada orang asing seperti kamu" ayah Adnan melihat dua pengawalnya telah masuk di dalam dan bersembunyi
"aku bukan orang asing pak Adnan. aku adalah bagian dari Sanjaya grup" jawab Aris
"oh, anak yang terbuang....?" ejek ayah Adnan, menarik kursi dan duduk
"bisa kamu tanda tangan saja pak direktur, atau aku bantu dengan mematahkan tanganmu" Aris mulai hilang kesabaran
"ingat baik-baik, katakan kepada Baharuddin. kalau dia pecundang" ucap ayah Adnan tanpa takut sedikitpun
"brengsek, mau mati rupanya kau. bunuh mereka berdua" Aris menunjuk Helmi dan Sisil
pyaaaar..... pyaaaar
lampu di pecahkan oleh dua pengawal ayah Adnan sehingga di dalam itu menjadi gelap gulita.
dor
dor
dor
terdengar suara tembakan namun bukan berasal dari dalam melainkan tembakan itu berasal dari luar.
"brengsek, beraninya mempermainkan ku. tangkap dan bunuh mereka semua" Aris berteriak dengan penuh amarah
"bagaimana mau tangkap bos, ini kan gelap" jawab salah seorang yang berusaha mencari pegangan
"pakai senter handphone kalian bodoh" umpat Aris dengan kesalnya
saat senter handphone mereka di nyalakan, ayah Adnan, Helmi dan Sisil sudah tidak ada di dalam. mereka telah kabur bersama dua pengawal yang datang menolong mereka.
di luar telah terjadi aksi saling serang. Aris menyuruh anak buahnya yang berada di dalam untuk melihat ada apa di luar sana, siapa yang datang menyerang mereka.
cahaya yang remang-remang di depan itu membuat mereka tidak begitu jelas untuk melihat siapa orang-orang yang di depan sana.
"mereka banyak bos. apa yang harus kita lakukan sekarang...?"
"bajingan, awas saja kalian" Aris mengepalkan tangannya dengan kuat
"kita pergi dari sini" ucapnya lagi
saat hendak keluar lewat pintu belakang gudang, tiga orang rupanya telah menunggu mereka.
"hajar mereka" Aris menyuruh anak buahnya untuk menghajar tiga orang itu
Aris kembali ke pintu depan gudang. dengan cepat dirinya berlari ke arah mobilnya namun
braaaak
sebuah tendangan menutup pintu mobil itu saat dirinya membukanya dan akan masuk ke dalam mobil.
"Zidan" Aris kaget siapa yang menghadangnya
"lama tidak bertemu Aris" sapa Zidan dengan seringainya
tanpa basa basi Aris langsung menyerang Zidan dengan pisau yang ada di tangannya. Zidan menghindar dan mengarahkan tendangan ke punggung pria itu membuat Aris terjungkal. namun itu tidak membuat Aris menyerah. dia terus menyerang Zidan dan sampai akhirnya Zidan terkena sayatan pisau tajam lawannya.
"bagaimana, sakit...?" Aris tersenyum mengejek
tangan Zidan telah terluka bahkan mengeluarkan darah.
"sial" umpat Zidan
sraaaaaak
Zidan merobek ujung bajunya kemudian melilit kain itu di lukanya sendiri.
"mati kau" teriak Aris yang berlari sekencang mungkin untuk menusuk Zidan saat pria itu masih sibuk membalut lukanya
sayangnya Zidan tidak sebodoh itu. ia mengambil pistolnya dan menembak paha Aris membuat pria itu jatuh ke tanah dan teriak kesakitan. Zidan menghampiri Aris yang teriak kesakitan, darah segar keluar dari pahanya.
__ADS_1
"bagaimana, sakit...?" tanya Zidan sinis
"bos semua sudah dibereskan" Randi datang melapor
"tinggalkan mereka di sini, kita bawa dia ke rumah sakit. aku tidak ingin dia mati sebelum mengorek informasi darinya" ucap Zidan
"kamu juga harus butuh penanganan Zidan, tanganmu terluka" Pram datang menghampiri mereka
"kita susul mas Adnan ke rumah sakit"
mereka semua masuk ke dalam mobil. Randi membantu Aris untuk berdiri dan membawanya masuk ke dalam mobil. mereka menuju rumah sakit.
saat tiba di rumah sakit, Aris langsung ditangani untuk mengeluarkan peluru di pahanya.
"temani dia, jangan sampai dia kabur" Zidan menyuruh Randi
"baik" jawab Randi mengikuti Aris yang di dorong di kursi roda oleh perawat
Zidan menghubungi Sisil untuk menanyakan dimana Helmi di rawat dan Sisil memberitahukan pada mereka.
cek lek
pintu terbuka, Pram dan Zidan masuk ke dalam. Helmi sedang terbaring tidak sadarkan diri karena dokter telah menyuntiknya dengan obat penenang.
"bagaimana dia...?" tanya Zidan
"dokter telah menyuntikkan obat penenang untuk Helmi bisa istrahat" jawab Sisil
"bagaimana dengan pria yang bernama Aris itu...?" tanya ayah Adnan
"sedang diurus dokter, ada Randi yang mengawasinya" jawab Zidan
"aku minta maaf Pak Adnan, pak Zidan" ucap Sisil. dia terus berada di samping Helmi dan tidak beranjak sedikitpun dari sisi pria itu
"harusnya dari dulu kamu memberitahu kami kalau mantan suami mu terus menggangu dan mengancam kamu" ucap Pram yang sebenarnya kecewa dengan tindakan Sisil
"aku minta maaf. aku takut dia akan menyakiti anakku kalau sampai aku memberitahu kalian. dia manusia licik, tidak peduli Azam adalah anaknya, dia tidak segan untuk membuatnya celaka" jawab Sisil
"Azam sudah aman sekarang. dia kabur dari rumah Aris karena dia mendengar Aris berbicara denganmu dan mengancam akan melukainya jika kamu tidak mengikuti perintahnya. sekarang Azam bersama istriku di rumah" ucap Zidan
"ya Allah nak. maafkan mama" Sisil mulai menangis lagi
"mas Adnan sebaiknya kembali ke hotel, biar kami yang menjaga Helmi" ucap Zidan
"baiklah. Sisil, sebaiknya kamu ikut aku pulang ke hotel. kamu juga perlu istrahat, biar Pram dan Zidan yang menjaga Helmi" ucap ayah Adnan
"aku ingin di sini pak. karena aku Helmi jadi seperti ini, aku ingin menemaninya sampai dia bangun" jawab Sisil memegang tangan Helmi
"dia akan baik-baik saja. sebaiknya kamu ikut pak Adnan pulang. besok kamu bisa datang lagi untuk melihatnya" timpal Pram
akhirnya Sisil mengalah dan akan kembali ke hotel bersama ayah Adnan dan juga dua pengawal ayah Adnan tadi.
setelah ayah Adnan dan Sisil pergi, Pram langsung menjatuhkan dirinya di sofa begitu juga dengan Zidan. untuk Randi, pria itu menjaga Aris yang sekarang berada di ruang perawatan setelah peluru yang bersarang di pahanya telah di keluarkan.
📞ibu Arini
ibu Arini langsung mencerca ayah Adnan dengan banyak pertanyaan saat suaminya itu mengangkat teleponnya
📞ayah Adnan
ayah baik bu. ibu kenapa panik seperti itu...?
📞ibu Arini
gimana ibu tidak panik, sejak semalam ayah tidak angkat telepon ibu. ibu khawatir ayah kenapa-kenapa
📞ayah Adnan
ayah baik kok bu, ibu tidak perlu cemas. mungkin besok atau lusa ayah akan pulang
📞ibu Arini
syukurlah kalau ayah baik-baik saja. ibu jadi tenang sekarang
setelah mendapatkan kabar kalau suaminya baik-baik saja, ibu Arini menjadi lebih tenang dari sebelumnya. dirinya langsung menuju dapur untuk membantu memasak bibi yang bekerja di rumah itu.
di dalam kamar, Adam menggeledah semua pakaiannya dan juga pakaian El. hantu itu bahkan terus mengomel tidak jelas.
"ampun kaaaaaaak.... kakak ngapain sih" El begitu kesal dibuatnya saat keluar dari kamar mandi
"aku cari seragam sekolah juga. aku juga kan mau sekolah" jawab Adam dengan cemberut karena tidak mendapatkan apa yang ia cari
"cih, pakai seragam juga nggak akan ada yang melihat kakak. beresin lagi nggak" ucap El mengambil pakaian sekolahnya yang digantung
"tapi aku juga mau pakai seragam, biar sama seperti kalian" ucapnya sambil memasukkan pakaian itu ke dalam lemari
"nggak pakai seragam juga nggak masalah" timpal El
"tapi aku mau pakai seragam. beliin nanti ya ya ya" Adam mengedip-ngedipkan matanya seperti lampu disko
"dih, sok imut"
"aku kan memang imut"
"iya, ingin muntah" ledek El
"aku lapor pacarku kamu ya"
"cih mentang-mentang udah punya pacar, dikit-dikit lapor" cebik El
"suka-suka aku lah. makanya cari pacar sana" Adam menyisir rambutnya di depan cermin
karena tidak mempunyai seragam sekolah, hantu itu memakai baju putih dan celana jeans warna abu-abu dan sepatu warna hitam. dirinya terus bergaya di depan cermin membuat El jengah karena dirinya tidak diberi ruang untuk bercermin.
"minggir dulu kali kak, aku juga mau bercermin"
"noh. marah-marah mulu kayak emak-emak" celetuk Adam yang bergeser memberikan ruang kepada El
__ADS_1
Adam melayang mengambil topi warna hitam dan memakainya. dirinya terus bernyanyi mengungkapkan apa yang dirasakannya saat berjauhan dengan kekasihnya, ratu Sundari.
"mau makan teringat padamu, mau minum teringat padamu. eh kira-kira pacarku lagi ngapain ya" ucap Adam mengambil handphone El dan memainkannya
"haduuuuuh... nasib nasib punya pacar beda dunia. kalau aku pergi ke sana lagi akan aku beritahu dia untuk membeli jaringan agar kami bisa video call tiap hari" celetuknya dan hal itu membuat El mengempiskan perutnya menahan tawa
"atau bikin tower jaringan di sana saja. Kira-kira bisa nggak ya" ucapnya sambil memainkan game yang ada di handphone El
"ya bisalah, pacarku kan sakti. tinggal sat set set, jadi deh" dia yang memikirkan dia juga yang menjawab pemikirannya sendiri
"haduuuuuh bego sekali kamu. ngapain lari ke sana, harusnya kan lari ke sini. metong kan kamu" kini bukan lagi tentang jaringan yang ia bahas melainkan memarahi game yang ia mainkan
"kakak mau ikut apa nggak...?" tanya El dengan pakaian yang sudah rapi
"ikuuuuut" Adam melayang mengikuti El turun ke pantai bawah
El menuju meja makan, sudah ada Alana dengan seragam sekolahnya dan yang lainnya untuk sarapan pagi.
"hari ini, hari pertama masuk ya Lana...?" tanya Vania
"iya kak" jawab Alana tersenyum
"gimana rasanya di hari pertama masuk sekolah...?" tanya Thalita
"senang, deg degan" jawab Alana antusias
"kok deg degan...?" tanya ibu Arini
"deg degan mau ketemu teman-teman baru bu" jawab Alana memasukkan nasi ke dalam mulutnya
"kalian berdua belajar yang baik ya. jangan cari masalah di sekolah" ucap Ibu Arini
"iya bu" jawab El dan Alana
setelah sarapan, El dan Alana berangkat ke sekolah tentunya dengan Adam. karena tempat tinggal mereka sekarang tidak begitu jauh dari rumah Vino dan Leo, hanya beberapa menit saja, tidak berapa lama kedua remaja itu tiba di rumah Zidan dan mereka berangkat bersama.
Adam bonceng di motor Leo, mereka harus menjemput Starla terlebih dahulu kemudian menuju sekolah. saat tiba di parkiran sekolah, sudah ada Bara dan Nisda.
"Nis, lukamu udah sembuh...?" tanya Starla saat turun dari motor dan langsung menghampiri gadis itu
"udah. nih bekasnya udah nggak ada juga" Nisda memperlihatkan lengannya
"syukurlah, gue kira masih akan lama sembuhnya" Starla merasa lega
"cie.... anting baru nih" Starla melihat telinga Nisda yang memakai anting
"iya, baru lu liat" timpal Nisda
"cieeee.... ternyata antingnya buat mantan. aku kira buat gebetan" Vino berbisik di telinga Bara
"apaan sih lu" Bara terlihat kikuk
"ohoooooo.... jadi anting yang kamu beli di alam ratu Sundari ternyata buat Nisda. aku kira buat Nabila, abisnya kalian udah saling pdkt" Adam mulai menjual kompor
"pdkt...?" Nisda melihat ke arah Bara
"ho'oh.... sudah tukaran nomor, jelaslah akan pdkt. kemarin di rumah paman Zidan, kamu berbalas pesan sama Nabila kan iya kan. ngaku ngak" Adam benar-benar hantu yang sangat menjengkelkan
wajah Nisda mulai merah padam, bahkan giginya ia gertakkan dan mengeluarkan bunyi.
gleg....
(mampus gue. ih kak Dirga benar-benar mancing singa yang lagi tidur) Bara menatap jengkel ke arah Adam
"kenapa menatap ku seperti itu. apa salah dan dosaku...?" tanya Adam dengan wajah sok polosnya minta di sleding
"ayo La" Nisda dengan wajah ditekuk menarik lengan Starla pergi dari parkiran
"sayang" panggil Bara
"apa sayang sayang. sayang sayangan sama Nabila sana" bentak Nisda berlalu pergi bersama Starla
"ini semua gara-gara kak Dirga tau. baru juga baikan sehari dan balikan, udah marahan lagi" ucap Bara menatap Adam dengan jengkelnya
"gue nggak ikutan ya" Leo mengangkat tangannya
"gue juga" ucap Vino
"sama, gue juga" ucap El
"aku juga nggak ikutan" ucap Adam bersembunyi di belakang El
"nggak ikutan gimana, semuanya salah kakak ya. pokoknya kak Dirga harus tanggung jawab" Bara menarik paksa Adam untuk menyusul Nisda yang telah ngambek akibat ulahnya
"kak, kak Bara kenapa...?" tanya Alana bingung melihat entah Bara berbicara dengan siapa
"biasa dek, kita mau tampil pentas drama. jadi lagi latihan" jawab El asal
"oooh" Alana manggut-manggut
Adam akan membantu menjelaskan kepada Nisda, namun hantu itu memberi syarat kalau Bara harus membelikannya melati pulang sekolah nanti dan dengan terpaksa Bara mengiayakan kemauan Adam.
"ok lah kalau begitu. let's Go membuat Nisda tambah ngambek" teriak Adam
"kak Dirga" Bara ikut berteriak saking kesalnya
"hehehehe" Adam cengengesan
El dan yang lainnya mengikuti Adam dan Bara, namun langkah El terhenti saat ada yang memanggil namanya.
"El" panggil seseorang
mereka semua berbalik dan seseorang sedang tersenyum ke arah El dan menghampiri mereka.
"Hai El" sapanya
"kamu...?" El-Syakir kaget melihat orang tersebut
__ADS_1