
tampak semua berlinang air mata, untuk kedua kalinya Adam menyelamatkan temannya dan kedua kalinya juga hantu itu terperangkap di dunia mereka. entah kali ini hantu itu bisa keluar atau tidak dari lukisan yang sudah hancur lebur berantakan.
bahu El bergetar, dirinya menangis dan menggigit bibir. Leo pun sama, ia tersungkur di lantai bersandar di ranjangnya. starla menangis tergugu di pelukan Vino. Bara melepaskan pelukannya dari Nisda, ia berjalan dan duduk memegang abu dari lukisan itu.
"Adam" bergetar bibir El terus memanggil nama teman hantunya
bughhh
bughhh
terdengar suara seperti beban berat yang terjatuh. saat menoleh, mereka melihat dua sosok yang saling menindih.
"aduuuhh pantatku" ringisnya
"maaf maaf" seorang gadis berdiri dan membantu sosok yang ditindihnya untuk ikut berdiri
"berat badanmu berapa sih, kecil kecil cabe berat" gerutunya masih memegang bokongnya
"cabe rawit, mana ada cabe berat" timpal gadis itu
"adalah, kalau ditimbang jelas berat" jawabnya ketus
semua yang berada di tempat itu saling pandang dan tersenyum lebar.
"Adam" El berdiri dan menghapus air matanya. hantu itu melihat ke arahnya
"kenapa menangis...?" tanyanya, melihat semua temannya berlinang air mata
"kenapa sih, ada apa...?" lanjutnya merasa bingung
buuukkk
El dan Leo menghambur memeluknya membuat hantu itu terjatuh mendarat di lantai dan tentu saja keduanya berada di atas tubuhnya.
"aduh mamaeeeee..... pantatku" lagi, Adam berteriak
Bara dan Vino tidak mau kalah, keduanya melompat menindih ketiganya, maka semakin remuklah hantu itu.
"sungguh teganya teganya teganya teganya....hooooo pada diriku" mulailah drama Adam Kumbara
"kalian pikir aku kasur apa, main terjun aja. encok nih pantatku" gerutunya menahan kesal
"kita senang tau elu kembali. kita pikir elu terjebak lagi di alam lain" ucap Vino, Leo dan Bara mengangguk
"itu dunia buatan makhluk laknat itu, gampang aku bisa keluar karena itu bukan alam lain seperti alam ratu Sundari" jawab Adam
"gue khawatir banget sama elu, saat lukisan itu meledak, gue pikir elu nggak akan bisa kembali lagi" ucap El masih dengan mata yang nampak berair
"cengeng" ejeknya, namun tetap menarik kembali tubuh El dan memeluknya
Leo, Vino dan Bara pun kembali memeluk Adam, mereka senang Adam bisa kembali. Nisda dan starla tersenyum lega.
"sudah dibakar lukisannya...?" tanya Adam
"sudah, sudah menjadi abu" jawab El menunjuk abu bekas bakaran lukisan
"syukurlah, dengan begitu makhluk itu tidak akan mengincar Leo lagi. kalian hebat" puji Adam
"sebenarnya kami tadi enggan untuk membakar lukisannya karena kami khawatir padamu yang juga belum kembali padahal Leo sudah sadar" ucap Vino
"terus...?" tanya Adam
"gue....gue memaksa untuk membakar lukisan itu. karena... karena...." Nisda gugup dan tidak berani menatap Adam
"karena apa...?" tanya Adam menatap Nisda
"karena....kalau lukisannya tidak dibakar maka pengikatnya tidak akan terputus dan gadis itu masih akan mengincar Leo" jawab Nisda pelan
"kamu benar, kamu sudah melakukan hal yang benar" ucap Adam tersenyum
"elu nggak marah sama gue...?" tanya Nisda mengangkat kepalanya menatap Adam
"nggak lah, memang seharusnya lukisannya harus dibakar kan agar tali pengikatnya terputus" jawab Adam
"tapi....gue memaksa bakar namun elu masih di dalam lukisan. gue membahayakan elu" ucap Nisda
"sekalipun aku nggak kembali kalian tetap harus membakar lukisannya, itu rencana yang kita sepakati. terimakasih kalian telah mengkhawatirkan aku"
__ADS_1
"emmm...kak Dirga, dia....siapa...?" tanya Bara menunjuk gadis yang sedari tadi berdiri memperhatikan mereka
meski tim samudera yang lain memanggil hantu itu dengan nama Adam tapi tidak dengan Bara. remaja itu tetap memanggil Adam dengan nama yang sering ia panggil dulu.
"lihat baik-baik siapa dia...?" jawab Adam, matanya tertuju kepada gadis yang datang bersamanya
gadis remaja seusia Nisda dan starla, berdiri tidak jauh dari mereka dengan senyuman manisnya.
"bukankah dia....." tunjuk starla ke arah gadis itu
"gadis yang berada di lukisan itu...?" Nisda melanjutkan ucapan starla
"iya benar, dia gadis yang ada di lukisan" timpal Adam
"loh, lukisannya kan sudah di bakar. tali pengikatnya sudah terputus. lalu kenapa dia masih bisa datang ke sini...?" ucap El
"elu mau datang ambil Leo lagi ya. nggak akan gue biarin. sini hadapi gue dulu, sebelum elu menyentuhnya" Vino memasang badan di depan Leo
"aku datang bukan untuk mengambil teman kalian. aku datang untuk berterimakasih" jawab gadis itu
"berterimakasih....?" ucap mereka serempak dan menatap Adam meminta penjelasan
"bisa jelaskan....?" ucap El menatap Adam
"biar dia yang jelaskan seyuyur-yuyurnya. aku udah encok begini, minta maaf dulu kek, kasi makan kek, capek tau lari terus dari tadi" ucap Adam melayang duduk di atas kasur
"sejak kapan elu lari, wong elu melayang dan menghilang mulu mirip jini oh jini" timpal Leo
"di alam lain kami itu bisa berjalan seperti kalian, beda halnya di sini. lagian tadi saking buru-buru sampai lupa kalau aku bisa melayang, malah lari sampai keluar lidah. ditambah dia berat pula, encok semua badanku" jawab Adam melirik gadis itu
"maksudnya elu gendong dia...?" tanya El
"ho.oh, kalau nggak digendong mana bisa kabur. kami sudah dikejar-kejar sama Jin penghuni lukisan itu" jawab Adam
"bukannya dia penghuni lukisannya...?" tunjuk starla ke arah gadis itu
"bukan, dia hanya korban" jawab Adam
"ceritakan pada mereka kisah cintamu" ucap Adam ke gadis itu
"kisah hidup, kisah cinta mah beda lagi" jawabnya
"itu mah lagu Adam" timpal El yang berjalan mendekati Adam dan duduk di sampingnya. semuanya mengambil posisi duduk untuk mendengarkan cerita gadis itu
"ayo atuh cerita, bengong wae. aku lapar nih, mau melati. mau aku makan kamu" kesal Adam karena gadis itu hanya diam tanpa memulai
"aku cium lama-lama, gemas aku tuuuh" gerutu Adam
"mending dicium daripada dimakan" timpal gadis itu
"sok atuh dicium, katanya pengen cium" goda El menaik turunkan alisnya
"nggak, aku nggak mau bibirku kehilangan keperawanannya lagi" Adam menggeleng
"direnggut sama ratu Sundari ya, cie cie. enak nggak, enak nggak" goda Leo
"nggak seenak memakan melati. udah ah, ayo buruan cerita. ucap Adam
"aku Linda. aku meninggal karena dijadikan tumbal oleh bapakku" ucap gadis yang bernama Linda
"tumbal....?" tanya Bara
"iya. kami dari keluarga miskin, bapak hanya tukang ojek dan ibuku buruh cuci. bapak adalah pecandu judi. uang yang dihasilkan dari mengojek dihabiskan di meja judi. ibuku yang selalu membanting tulang mencari uang untuk makan sehari-hari"
"suatu waktu, bapak meminjam uang dari rentenir hanya untuk bermain judi. saat rentenir menagih utang, bapak tidak bisa membayar. bapak meminta waktu satu minggu untuk melunasi utangnya dan si rentenir setuju"
"satu minggu itu bapak mencari uang untuk membayar utangnya dan tepat setelah satu minggu bapak berhasil membayarnya. aku sempat heran hanya dalam jangka satu minggu bapak sudah mendapatkan uang yang begitu besar jumlahnya untuk membayar utangnya namun bapak bilang itu adalah hasil kerjanya. aku dan ibu tidak mencari tau, sudah bebas dari utang saja itu sudah cukup buat kami"
"semenjak saat itu, bapak selalu membawa pulang uang yang banyak. tapi setiap ibu bertanya uang dari mana maka bapak akan menjawab itu uang dari hasil mengojek"
"hari terus berlalu, dari uang yang bapak hasilkan yang katanya dari hasil ojek, kami membeli rumah baru yang lebih besar dan mewah dari rumah sebelumnya. kehidupan kami semakin baik, tapi bapak tetap terus bermain judi"
"ibu yang curiga dan tidak percaya dari hasil ojek bisa langsung membeli rumah baru bahkan hanya beberapa bulan, langsung mencari tau sebenarnya apa pekerjaan bapak. setelah diselidiki ternyata bapak bersekutu dengan setan, Jin atau apalah yang dapat membantunya untuk menghasilkan uang banyak namun dengan syarat harus menyediakan tumbal"
"tumbal perawan ya...?" tanya Nisda
"bukan, tapi tumbal anak remaja laki-laki yang masih perjaka" jawab Linda
__ADS_1
"terus terus" ucap Vino yang penasaran
"ibu memberitahu bapak untuk menghentikan semuanya namun bapak menolak dengan alasan kalau dia berhenti maka kami akan kembali miskin"
"memang kalau sudah dibutakan uang, bersekutu dengan setan pun akan dilakukan" ucap El
"iya. karena dibutakan oleh uang, bapak akhirnya memilih jalan pintas untuk menghasilkan uang yang banyak" timpal Linda
"ibu yang tidak mau semakin jauh terjerumus ke lembah dosa, menggagalkan setia ritual pemberian tumbal yang dilakukan bapak untuk iblis yang disembahnya. karena tumbal beberapa kali gagal tidak diberikan, akhirnya iblis itu marah dan membakar semua harta yang ia berikan untuk bapak"
"untuk menyelamatkan hartanya, bapak mengorbankan aku sebagai tumbal pengganti agar dirinya tidak kembali jatuh miskin lagi"
"manusia terkutuk. tega sekali terhadap anaknya sendiri" Leo merasa geram
"dia melakukan ritual pemberian tumbal tanpa ia tahu bahwa bapak telah melanggar perjanjian. perjanjian yang harusnya, bahwa tumbal yang ia siapkan haruslah remaja yang masih perjaka bukan gadis perawan"
"terus...?" starla terlihat tegang
"di situlah akhir hidupku. aku ditumbalkan oleh bapakku sendiri. namun setelah aku dijadikan tumbal, setan itu berteriak kesakitan karena tumbal yang salah diberikan oleh bapak"
"ibu akhirnya memanggil dukun untuk mengunci iblis itu di dalam sebuah lukisan, lukisan diriku sendiri. sayangnya, iblis itu membawa semua sukma para tumbal yang pernah diberikan bapak padanya masuk ke dalam lukisan, termasuk diriku. karena tumbal terakhir adalah diriku, setan itu akhirnya mengambil alih sukmaku dan menguasainya menjadikan wadah baginya agar ia tidak musnah begitu saja"
"meski iblis itu tidak bisa mengambil tumbal gadis perawan, namun ia terpaksa menguasai sukmaku karena hanya aku yang masih mempunyai energi yang cukup untuk membuat dirinya bertahan meskipun ia lemah menggunakan sukmaku"
"ia tidak punya pilihan lain. karena remaja laki-laki yang menjadi tumbalnya, tidak mempunyai energi yang cukup untuk ia hisap untuk bertahan hidup. dirinya akan menghisap sisa energi mereka di saat ia benar-benar membutuhkan"
"dukun yang membantu ibuku memperingatkan agar lukisan itu disimpan di tempat aman dan jangan terkena oleh darah remaja laki-laki, kalau sampai itu terjadi maka iblis itu akan bebas kembali dan akan mengambil tumbal dengan caranya sendiri meskipun tidak ada orang yang akan menyediakan tumbal untuknya"
"itulah mengapa saat darahnya mengenai lukisan itu, dia mulai diincar oleh iblis itu yang berada dalam sukma ku. dan terjadilah seakan aku yang mengincarmu" Linda menunjuk Leo
"setelah semuanya terkunci di dalam lukisan, ibu pindah rumah dan ayah pergi entah kemana meninggalkan ibu yang sakit-sakit"
"jadi ibu yang punya kebun melati itu ibu kamu...?" tanya Leo
"iya" jawab Linda
"gue udah suudzon sama ibu itu, gue kira dia jahat nyatanya dia baik. berdosa banget gue" ucap Vino merasa bersalah
"terus sekarang iblis itu bagaimana. sudah musnah atau kabur atau....."
"sudah di tumpaskan olehnya" Linda memotong ucapan Vino dan menunjuk Adam
"terimakasih" ucap Linda menatap Adam yang juga sedang menatapnya
"cie cie.... tatap tatapan nih" ledek Bara. Adam segera mengalihkan pandangannya
"sama-sama. sekarang kamu bisa pulang dengan tenang" jawab Adam masih menatap ke arah lain
"iya, tapi sebelum itu ingin bertemu ibuku untuk melihat dirinya yang terakhir kali" ucap Linda
"perlu kami antar...?" tanya Leo
"tidak perlu. aku tidak ingin merepotkan lagi. sekali lagi terimakasih untuk kalian semua. aku pamit" Linda menghilang dari pandangan mereka semua.
"huufftt....misi selesai" Vino berbaring di kasur
"belum selesai ya, masih ada lagi" ucap Adam
"hah, apalagi. kan dia udah pergi tadi" tanya Leo
"misi mengenyangkan perut dia" timpal El
"betul betul betul. aku nggak mau tau ya, pokoknya aku melati yang banyak-banyak tumpah-tumpah, lumer-lumer. udah pinggang ku encok, pantatku tepos. sakit tau, sesakit saat aku diberi harapan palsu" gerutunya
"pokoknya kalian tanggung jawab, aku mau melati. titik" tegasnya
"kakak yang tanggung kita yang jawab" timpal Bara
pluuk
"sakit kak" Bara meringis terkena geplakan Adam
"cepat carikan melati, aku lapar tau. nggak ngerti bahasa banget sih" Adam mulai jengkel
El keluar kamar dan setelahnya kembali lagi dengan kantung kresek di tangannya.
"nih, makan yang banyak" El memberikan kepada Adam
__ADS_1
dengan girang Adam menerima makanannya. malam itu mereka lewati dengan perasaan yang lega karena akhirnya dapat menyelamatkan Leo, menyelamatkan Linda yang terkurung di lukisan dan memusnahkan iblis di dalam lukisan itu.