Petualangan Mistis

Petualangan Mistis
Episode 59


__ADS_3

"sebentar. kamu mengenal mereka Zidan...?" tanya Vania


"iya. mereka anak-anak yang hebat. melihat mereka paman jadi teringat keponakan paman. dia persis seperti kalian, apa lagi dengan tingkah ketengilannya. paman jadi merindukan dirinya lagi" ucap Zidan dengan lirih


Adam hanya menatap sendu pria tampan itu. El melihat sedari tadi hantu itu tidak melepas tatapannya dari Zidan.


"paman" ucapnya sangat pelan namun didengar oleh El-Syakir


(paman. Adam memanggil paman Zidan dengan panggilan paman...?) batin El menatap lekat hantu itu


"kalau boleh tau nama keponakan paman siapa...?" tanya Leo


"Dirga Sanjaya" jawab Zidan melirik ke arah El


(namanya Dirga Sanjaya bukan Dirgantara seperti nama kalung yang aku temukan di rumah paman Zidan. lalu siapa pemilik nama Dirgantara itu yang sama persis dengan nama kak Dirga...?) El mulai berpikir


(ah... mengingat nama Dirgantara, aku jadi ingat kak Dirga. kira-kira seperti apa dia sekarang ya, andai Tuhan dapat mempertemukan kami kembali. aku sangat merindukannya dan juga bunda)


"kamu melamun El...?" tanya Zidan


"ah, nggak paman. aku hanya teringat seseorang" jawab El


"teringat dengan siapa, pacar ya...?" goda Zidan


"aku nggak punya pacar paman" jawabnya


"dia memang jomblo akut" cibir Vino


"ck, mentang-mentang udah punya yayang, jadi sombong sekarang lu ya" cebik Leo


Vino hanya nyengir lebar dan melirik starla yang juga sedang melihatnya.


"lalu...?" tanya Zidan lagi


"aku hanya teringat dengan kakakku. namanya sama dengan nama keponakan paman, Dirga. tapi dia nama lengkapnya Dirgantara" ucap El


(sepertinya mas Adnan belum memberitahu anak ini. apa aku saja yang beritahu, tapi.... bagaimana caranya aku memulai) batin Zidan


Adam menghapus kasar air matanya yang mulai jatuh. El dapat menangkap raut kesedihan di wajah hantu itu. tanpa berkata apapun, Adam melayang menembus pintu meninggalkan kamar rawat Vania.


(ada apa dengannya...?) batin El menatap lurus ke arah pintu


"begitu ya. lalu dimana kakakmu itu sekarang...?" tanya Zidan


"aku nggak tau paman. sudah lama kami terpisah sejak kami kecil dan sampai sekarang aku belum pernah bertemu dengannya. entah bagaimana rupanya sekarang"


"kamu merindukannya...?"


"sangat, aku sangat merindukannya" jawab El dengan suara parau


Vino dan Leo merangkul bahu El untuk menguatkannya. sedangkan Zidan, pria itu sedang berperang batin apakah harus memberitahu atau berdiam saja. karena ia berpikir pasti ada alasan kenapa ayah Adnan belum menceritakan yang sebenarnya kepada anak itu.


"dia juga pasti merindukanmu" ucap Zidan tersenyum


"oh iya, bagaimana kalau kalian menginap lagi dirumah paman. bukankah waktu itu kalian pernah bilang akan menginap lagi di lain waktu...?" lanjut Zidan


ke empat remaja itu saling pandang, mereka bingung harus menjawab apa. jika menolak, mereka tidak enak hati apalagi Zidan adalah pria yang sangat baik yang telah menolong mereka kemarin.


"kalian tidak mau ya...?"


"kami mau paman, dengan senang hati" jawab starla cepat


"baiklah, paman senang mendengar jawabannya. kita akan adakan barbekyu sebentar. kalian setuju...?"


"setuju" jawab Vino girang


"andai aku sudah sembuh, aku pengen ikut juga" ucap Vania manyun


"saat kakak pulih nanti, kita bisa barbekyu kembali" ucap starla


"benar ya...?"


"iya" jawab semuanya


setelah pulang dari rumah sakit, mereka mengikuti Zidan pulang ke rumah pria itu. sejak tadi El mencari keberadaan Adam namun hantu itu tidak terlihat batang hidungnya.


"Adam kok nggak ada, kemana dia...?" tanya Vino


"tadi kan sama-sama kita di dalam" jawab Leo


"tadi gue liat dia keluar, tapi kemana ya tuh anak" timpal starla


(dia kemana sih...?) batin El.


"ayo. ikut saja mobil paman dari belakang ya" ajak Zidan


"baik paman" jawab semuanya


dengan perasaan risau karena tidak menemukan Adam, El tanpa rasa semangat menyalakan motornya mengikuti mobil Zidan.


"selamat datang yang kedua kalinya di rumah paman" ucap Zidan menyambut para remaja itu


"aku baru pertama kali ke sini paman" timpal starla


"eh iya yah. ya sudah ayo masuk.


"paman tinggal sendiri di rumah besar ini...?" tanya starla


"iya. tapi paman selalu di temani sahabat-sahabat paman, sebentar lagi mereka juga akan datang ke sini"


"pasti ada kakaknya Bara ya paman" timpal Leo


"darimana kamu tau kalau ada kakaknya Bara sahabat paman...?" tanya Zidan


"Bara sendiri yang bilang kalau kakaknya bekerja di kantor paman. emangnya nggak ya...?" ucap Leo lagi


"iya kamu benar. kakaknya Bara memang bekerja dengan paman, dia salah satu sahabat paman. sekarang bersihkan diri kalian karena waktu magrib sudah menghampiri. kamar kalian bertiga masih tetap di kamar yang kalian tempati dulu, dan untuk kamu, kamu bisa menempati kamar di samping mereka"


"terimakasih paman" ucap starla

__ADS_1


"sama-sama. paman ke kamar dulu ya"


Zidan menaiki satu persatu anak tangga meninggalkan mereka yang juga masuk ke kamar masing-masing.


El mengitari kamar itu dengan matanya, masih sama seperti dulu. ia memegang kalung di lehernya, kalung yang ia temukan di dalam kamar itu.


(kalau bukan Dirga keponakan paman Zidan pemilik kalung ini, lalu siapa...?) batinnya


"El, dari tadi elu melamun aja. mikirin apa sih. mikirin Adam...?" Vino menepuk pundak El


"iya. dari tadi dia nggak keliatan, cemas gue. biasanya dia nggak pernah jauh dari gue"


"paling juga pergi nyari teman sesama hantu. nggak usah cemas, dia nggak akan kenapa-kenapa. gue mandi duluan ya, udah gerah nih" ucap Leo melenggang ke kamar mandi


selepas sholat isya, ketiga pengawal Zidan baru saja datang. mereka bersama Furqon dan Ardi. tentu saja mereka akan bertemu kedua pengawal yang mengawasi El itu karena mereka berdua berada di depan rumah Zidan yang pastinya sedang mengikuti kemana El pergi.


"paman berdua yang waktu itu membantu kami kan...?" tanya El kepada Furqon dan Ardi


"iya, senang bisa bertemu kalian lagi. dan jangan panggil aku paman, karena umurku baru 25 tahun. panggil saja kakak" jawab Furqon


"aku juga, karena umurku selisih dua tahun darinya" timpal Ardi


"kami ingin mengucapkan terimakasih karena kakak berdua telah membantu kami waktu itu" lanjut El


"sudah menjadi tanggung jawab kami untuk melindungi mu" timpal Ardi


"tanggung jawab...?" kening El mengkerut


"eeemmm maksud aku tanggung jawab saling membantu sesama manusia. iya itu maksud aku" ucap Ardi meluruskan agar El tidak curiga karena anak itu dan ketiga temannya menatap Ardi dengan bingung


"kita ke belakang saja, ayo" ajak Zidan


Helmi langsung mensejajarkan diri dengan Zidan karena ada hal yang ingin ia katakan.


"aku ingin bicara denganmu" ucap Helmi


"tentang apa...?" tanya Zidan yang terus melangkah


"tentang kematian pak Burhan dan komanya Dirga" jawab Helmi


mendengar itu, Zidan langsung menghentikan langkahnya seketika membuat mereka yang berjalan di belakangnya ikut berhenti dan terheran.


"kenapa...?" tanya Leo berbisik di telinga El


"nggak tau" jawab El dengan berbisik pula


Zidan dan Helmi saling tatap. Pram langsung menghampiri dan membawa mereka kembali berjalan agar tidak ada kecurigaan di benak anak-anak yang sedang bersama mereka.


"aku tau apa yang ada di pikiranmu Zidan tapi ini bukan saatnya untuk membahas itu. mari selesaikan dulu acara kita ini setelah itu kita bisa membahas kembali apa yang dikatakan Helmi" ucap Pram


acara mereka malam itu di lewati dengan riang. anak-anak itu bahkan sudah sangat akrab dengan Zidan dan juga ketiga pengawalnya termasuk Furqon dan Ardi.


semuanya berkumpul dan saling bercerita. Furqon yang merasa haus, beranjak dari duduknya untuk mengambil air minum.


Furqon melihat sekelilingnya, ia merasa sejak datang tadi, dirinya tidak melihat hantu yang terus bersama dengan El-Syakir.


"cari siapa kak...?" tanya El menghampiri Furqon


"boleh aku bertanya sesuatu kak...?"


"mau tanya apa...?"


"kakak seorang indigo...?"


Furqon meletakkan gelas minumannya dan menatap El-Syakir.


"kakak pasti tau apa sebabnya aku bertanya seperti ini. waktu itu kakak yang menendang Adam agar tidak mengincar musuh yang tertusuk ranting kayu. nggak ada yang bisa melihat Adam selain kami, jadi aku penasaran apakah kakak itu anak indigo"


"jadi namanya adalah Adam...?" Furqon bertanya balik


"iya"


"lalu dimana dia sekarang, kenapa tidak kelihatan...?


"jadi kakak celingak-celinguk tadi itu karena mencari Adam...?"


"aku hanya penasaran kenapa dia tidak ada. biasanya dia selalu bersamamu"


"biasanya...?" El mengerutkan lagi keningnya


"aaah, begini. aku sering melihat kamu menjenguk Vania dan yang bernama Adam itu selalu berada di samping kamu. jadi aku berpikir dia pasti sangat dekat denganmu"


"oh ya, tapi kenapa setiap kami ke rumah sakit, aku nggak pernah melihat kakak"


"itu karena kakak sudah pulang, kakak melihat kalian di lobi rumah sakit saat kakak akan pulang"


"harusnya kan kita bertemu di lobi rumah sakit"


"yaaah mungkin kita bukan jodoh makanya tidak saling bertemu" jawab Furqon tersenyum


"iya ya. Adam nggak ikut bersama kami. dia sedang mencari teman baru katanya" jawab El berbohong


"dia hantu yang baik" ucap Furqon


"sangat baik. bahkan baru beberapa jam nggak bersamanya aku sudah merasa kehilangan" ucap El lirih dan Furqon hanya menepuk pundak remaja itu


"Furqon, ngapain di situ aja kalian. ayo gabung" teriak Randi


"iya"


"ayo kita kembali" ajak Furqon


pukul 11 malam, semuanya beranjak meninggalkan tempat. Leo, El dan Vino masuk ke dalam kamar mereka begitupun dengan starla. namun setelah itu starla malah masuk ke kamar ketiga anak laki-laki itu karena dirinya belum juga mengantuk.


"jadi apa yang ingin kamu katakan...?" tanya Zidan


hanya tinggal mereka berempat, untuk Furqon dan Ardi, keduanya telah menempati kamar kosong di rumah itu karena Zidan menahan mereka untuk pulang.


Helmi mulai menceritakan penyelidikannya selama ini. Zidan mendengar dengan baik tanpa menyela sedikitpun sampai pria itu selesai berbicara.

__ADS_1


"kamu yakin...?" tanya Zidan


"sangat yakin. bahkan tes DNA itu membuktikan bahwa dia bukan Baharuddin melainkan orang lain" jawab Helmi


"tapi bagaimana bisa, sedangkan jelas kedua jarinya tidak ada di mayat itu" ucap Zidan


"semuanya bisa dimanipulasi Zidan. dia tinggal membayar orang yang sangat membutuhkan uang, memotong kedua jarinya kemudian membunuhnya dengan cara membakarnya. semua bisa dilakukan jika uang yang telah bicara" timpal Helmi


"ingat perkataan Rudi tempo hari. meskipun dia telah tertangkap tapi bukan berarti kamu aman karena kita hanya menangkap lalat kecil sedang ikan paus besar berada di luar sana. dari ucapannya itu kita sudah tau apa maksudnya" lanjut Helmi


"dan satu lagi"


"apa...?"


"yang membunuh orang tuamu bukanlah papa Vania melainkan saudaramu sendiri, Baharuddin Sanjaya"


deg.......


kilatan amarah terlihat jelas di mata Zidan. pria itu mengepal erat tangannya, rahangnya mengeras.


saat Baharuddin ditemukan meninggal, dia masih kecil waktu itu. mungkin baru saja berumur 9 tahun karena jarak antara dia dan kedua kakaknya sangatlah jauh. saat itu ibunya tidak akan menyangka akan hamil lagi, karena usianya sudah tidak memungkinkan untuk hamil namun ternyata takdir berkata lain, yang Maha Kuasa mempercayakan dia kembali untuk mempunyai anak lagi.


usia remajanya kedua orang tuanya meninggal. masih terekam jelas bagaimana kedua orang tuanya itu di bunuh dengan keji di rumah mereka sendiri. bahkan sekarang umurnya yang telah masuk 34tahun, ingatan itu masih melekat dalam dirinya.


"mana buktinya kalau semua perkataan mu ini benar Helmi...?" tanya Zidan


"aku akan mempertemukan dengan seseorang yang menjadi saksi atas kematian orang tuamu, dan ini" Helmi menyerahkan secarik kertas yang sudah usang " itu adalah bukti tes DNA yang telah dilakukan secara diam-diam oleh seseorang, yang menyatakan bahwa mayat itu bukan mayat Baharuddin Sanjaya"


Zidan mengambil kertas itu dan membukanya. di dalamnya memang menyatakan 99% negatif dalam artian memang benar mayat itu bukanlah mayat saudaranya.


"padahal aku mengenalnya, dia adalah sosok yang lembut meski kadang keras kepala. ternyata dia rupanya pemberontak keluarga sendiri. Zidan meremas kertas itu


"aaaaggghhhh.... brengsek" teriak Zidan dengan membanting meja yang ada di depannya


"kendalikan amarahmu. anak-anak tadi dapat mendengar teriakanmu" ucap Randi


"bunuh Rudi dan wanita ****** itu" ucap Zidan dengan mata membunuh


sementara di dalam kamar, ke empat remaja itu belum juga menutup mata. tidak ada rasa kantuk yang melanda mereka. bahkan Vino yang terbilang tukang ngantuk, matanya masih saja melek dan segar.


"nggak ada Adam, kita kangen juga ya" ucap Vino


"hummm, biasanya dia yang paling banyak tingkah. sebenarnya hantu itu kemana sih, heran gue" timpal Leo


"cari angin kali" jawab asal starla


"ini kedua kalinya kita tidur di kamar keponakan paman Zidan. kalau dilihat-lihat ya, sepertinya orang pembersih. kamarnya saja ini, rapi sekali" ucap Vino


"tapi aku penasaran tau cem mana orangnya. di kamar ini nggak ada fotonya biar satu" lanjut Vino


"di laci-laci itu mungkin ada" tunjuk starla ke arah laci lemari kecil di samping ranjang


"nggak usah terlalu kepo deh. ketahuan, kena marah nanti" timpal El


"tapi tangan gue gatal banget pengen buka, siapa tau aja memang ada album foto di situ" ucap Vino


"lagian pan kita hanya liat foto bukan mau liat yang lain"


Vino beranjak dari kasur dan turun melangkah mendekati laci lemari kecil itu. benar saja, ada album foto ukuran besar di dalam itu. segera ia ambil dan membawanya di atas kasur.


"mari kita buka"


foto pertama yang mereka lihat adalah sepasang suami istri yang baru saja menikah. mereka terlihat sangat bahagia.


"mungkin ini orang tua paman Zidan" ucap Leo


Vino membuka lagi lembaran itu, terlihat foto suami istri tadi dengan seorang bayi yang lucu dan tampan.


"apakah ini paman Zidan...?" tanya starla


"coba, buka lagi" ucap El


lembaran ketiga foto sepasang suami istri tadi dengan seorang anak kecil usia 3 tahun dan seorang bayi nan lucu dan juga tampan. setelah itu lembaran berikutnya, foto suami istri dengan dua orang anak yang berusia sekitar 14 tahun dan seorang bayi laki-laki yang di pangku oleh ibunya.


"kalau kedua anak ini sepertinya mereka tadi yang masih kecil-kecil dan bayi ini adalah adik mereka yang baru lahir" ucap starla menganalisa


"sepertinya memang begitu" timpal mereka manggut-manggut


lembaran-lembaran berikutnya adalah foto dua anak remaja dan seorang anak kecil. setelahnya lembaran berikutnya seorang pemuda dan seorang wanita serta anak kecil. sayangnya wajah anak kecil dan wanita itu tidak jelas terlihat karena foto itu sudah rusak. mungkin itu adalah foto lama.


mereka terus membuka lembaran foto itu, namun seketika mereka terkejut dan saling pandang dimana melihat satu foto yang membuat mereka menganga tidak percaya.


seorang anak laki-laki yang kisaran umurnya di atas mereka. mungkin sekitar umur 20 tahun. anak laki-laki itu sedang menjinjit tas ranselnya dan tersenyum manis ke arah kamera.


di foto tersebut, anak laki-laki itu sedang berada di sebuah kampus universitas ternama di kota itu, kota S.


bukan hanya itu saja. di beberapa foto lain, anak laki-laki itu berada di sekolah SMA xxx tempat dimana ke empat remaja itu menuntut ilmu. mereka semakin melongo dan sulit percaya bahwa dunia ini memang sangat sempit.


senyuman khas dari anak laki-laki itu sama persis dengan yang dia yang mereka kenal selama ini.


Vino membuka lagi lembar demi lembaran dan terlihat lah foto Zidan bersama anak laki-laki tadi yang sedang berada di pantai. mereka berdua menggunakan baju kaos warna putih dan celana pendek. Zidan memakai kacamata di kepalanya sedangkan anak laki-laki itu memakai topi warna hitam.


"i-ini kan.... d-dia kan"


Vino tergagap tanpa bisa melanjutkan kata-katanya. El mematung tanpa berkedip sekalipun. semuanya shock dan seakan tidak percaya


_______________________________________________


terimakasih sebanyak-banyaknya kepada kalian yang telah membaca novel ini, memberikan like komen, vote dan menjadikan novel favorit kalian semua. aku sangat berterimakasih sekali 🙏🙏🙏


sayang kalian banyak-banyak, tumpah-tumpah, lumer-lumer 😊🤗🥰❤️


mohon maaf apabila dalam penulisan masih ada kata dan tulisan yang tidak jelas itu semua karena aku hanyalah penulis biasa yang tidak berpengalaman dalam menulis.


maaf juga karena penulisan episodenya tidak beraturan. banyak yang double, aku harap kalian maklum. penulis yang masih pemula ya memang seperti aku ini, ada saja salahnya.


tetap dukung terus cerita aku ya. support kalian adalah semangat bagiku.


oh ya, aku rencana mau ganti cover novel ini agar lebih menarik lagi. siapa tau ada yang mau ngasih saran cover seperti apa yang bagus atau mungkin ada yang ingin dengan senang hati mengirimkan gambar cover yang cocok buat novel ini, aku sangat senang apabila ada yang memberi aku saran.

__ADS_1


tetap baca cerita hantu Adam, El-Syakir dan kawan-kawannya dalam petualangan mistis ya.


salam sayang banyak-banyak dari author cantik 😁😁🙄


__ADS_2