
Sintia berlari menghajar Kumar dan juga wanita yang duduk di sampingnya namun wanita itu hanya memukul angin tanpa bisa menyentuh keduanya. lagi-lagi ia melayangkan pukulan namun lagi-lagi semuanya sia-sia.
"tega kamu bang" teriak Sintia histeris
meski dirinya berteriak sekeras kerasnya tetap saja tidak ada yang dapat mendengar teriakannya.
"wanita iblis" Sintia kembali menyerang wanita itu namun lagi dirinya tidak dapat menyentuhnya
"hentikan Sintia. meski kamu menyerang bagaimana pun, mereka tidak akan tersentuh olehmu" ucap Adam menghentikan wanita itu dan memegang kedua tangannya
"aku harus menghajar mereka, mereka penghianat. wanita itu sahabatku, teganya dia melakukan semua ini padaku" Sintia memberontak namun Adam mencekalnya dengan kuat
sementara ayah Adnan dan yang lainnya melangkah mendekati para warga yang berkumpul di depan rumah. ada juga sebagian ibu-ibu; yang sedang memasak di samping rumah dengan beratapkan terpal.
acara pernikahan di kampung memang seperti itu biasanya. ibu-ibu membantu memasak, membuat kue dan semacamnya sampai acara selesai. begitu juga dengan bapak-bapak yang membantu mengambil kayu dan memasang segala pekerjaan untuk laki-laki.
"permisi pak, ini ada acara apa ya...?" tanya ayah Adnan ke bapak-bapak yang sedang bermain kartu
"acara nikahan pak. bapak dan mas-mas ini siapa ya, tamunya Bu Lilis...?" tanya bapak itu
"iya pak, saya ingin bertemu Bu Lilis. tapi kalau boleh tau siapa yang menikah...?"
"anaknya Bu Lilis, Kumar"
ayah Adnan saling pandang dengan Helmi dan Randi begitu juga dengan El dan ketiga sahabatnya. apa maksudnya Kumar yang menikah, bukankah pria itu suami dari Sintia, itulah pikiran mereka.
"duduk dulu pak, acara ijab qobul baru saja mau dimulai. nanti akan saya beritahu ibu Lilis bahwa tamunya telah datang"
para bapak-bapak mengambilkan kursi untuk ayah Adnan dan pengawalnya serta untuk El dan juga teman-temannya.
banyak pertanyaan yang muncul di kepala pria itu namun tentu saja dirinya harus menahan diri, ini bukan saatnya untuk memprotes pernikahan yang dilangsungkan itu.
beberapa menit kemudian terdengar kata sah dari dalam, itu artinya penghulu telah selesai menikahkan pengantin.
Sintia terduduk lemas masih dengan Adam menahan tubuhnya. wanita itu menangis tergugu di lengan Adam. tidak habis pikir olehnya, suami yang selama ini ia anggap paling baik tidak ubahnya lelaki penghianat rumah tangganya.
dari dalam kamar, suara anak kecil sedang menangis. Sintia mendengar dan ia tau bahwa itu adalah suara tangis anaknya.
segera ia melayang menghampiri kamar tersebut, di dalam kamar seorang anak kecil perempuan berumur dua tahun sedang menangis di gendongan seorang wanita yang sedang menenangkannya. wanita itu adalah adik dari Kumar yang artinya adik ipar Sintia.
"udah dong sayang, jangan nangis terus" tante dari anak itu terus menimang sang anak agar berhenti menangis
"ini juga bang Kumar nggak ada hati, bukannya perhatiin anak malah nikah lagi, kira gampang apa bersikap adil. aku aduin sama kak Sintia nanti"
"udah sayang udah, kamu udah keringat gini loh nak. udah ya, cup cup cup" wanita itu menggendong keponakannya dengan sayang
"sayang, ini mama nak" Sintia mendekat memeluk anaknya namun tidak dapat di sentuhnya
"kenapa seperti ini, aku hanya ingin memeluk anakku saja" Sintia berusaha memeluk anaknya namun tetap saja ia tidak bisa menyentuhnya
"apa yang harus aku lakukan agar dapat menyentuh anakku, aku ingin memeluk dan menciumnya" Sintia melihat Adam yang berdiri di depan pintu
setelah ijab qobul, acara dilanjutkan dengan ucapan selamat dari tamu undangan. tampak raut bahagia dari kedua pengantin begitupun dengan ibu Lilis yang tampak terlihat begitu semangat menjamu para tamu.
sedangkan ayah Adnan serta pengawalnya dan remaja yang ikut, mereka sudah lama menunggu dengan keadaan yang sedikit panas karena matahari yang begitu menyilaukan meskipun ada terpal sebagai pelindung di atas mereka.
"sayang, pengen pipis" bisik starla di telinga Vino
"tunggu bentar ya"
Vino mengatakan kepada ayah Adnan bahwa starla perlu ke kamar mandi. ayah Adnan menanyakan kepada para bapak-bapak yang duduk bersama mereka dimana kamar mandi yang bisa digunakan.
"di rumah saya saja pak. tunggu saya panggil istri saya untuk mengantarnya" ucap salah seorang
bapak tersebut berjalan menuju tempat permasakan para ibu-ibu, setelahnya ia kembali lagi dengan seorang wanita yang sepertinya itu adalah istrinya.
"mari neng ikut ibu" ajaknya ramah
starla mengikuti ibu tersebut menuju rumahnya yang tidak jauh dari pesta pernikahan itu. mereka berdua masuk ke dalam rumah khas rumah orang kampung pada umumnya.
"kamar mandi di dekat dapur, sok atuh. ibu tunggu di depan ya"
"iya Bu"
starla melangkah menuju kamar mandi yang memang letaknya di dekat dapur. setelah selesai dengan hajatnya, gadis itu melangkah menuju depan rumah. di depan halaman rumah yang terdapat pohon mangga besar sebagai pelindung, si ibu tadi sedang berbincang dengan seseorang entah siapa.
starla mencuri dengar, dari percakapan mereka yang kelihatannya serius menurutnya.
"ibu sudah beritahu Sintia belum kalau suaminya mau menikah...?" tanya ibu yang mengantar starla
"dari kemarin nomornya tidak aktif Tina, aku merasa bersalah padanya tidak memberitahu dari kemarin-kemarin" jawab si ibu satunya
"kasian Sintia Bu Tatik, dia bekerja keras di kota eh suaminya malah nikah lagi dengan sahabat istrinya sendiri. tidak waras memang si Kumar itu" ucap ibu Tina
__ADS_1
"aku juga kasian pada keponakan ku itu, harusnya dari dulu aku tidak merestui hubungan mereka karena memang aku berpikir Kumar laki-laki yang tidak baik dan terbukti semua perkataanku. aku hanya ingin mengambil anaknya Sintia, tidak sudi aku wanita itu yang mengurusnya" jawab ibu Tatik
starla memberanikan diri mendekati kedua ibu itu dan ikut nimbrung ke obrolan mereka.
"emmm...maaf sebelumnya Bu. ibu ini siapanya kak Sintia ya...?" tanya starla pada ibu Tatik
"saya bibinya neng, kakak dari almarhumah Sintia. Eneng ini siapa ya, saya baru melihat mu di sini...?" ucap ibu Tatik
"dari kota sepertinya Bu, tamunya ibu Lilis" timpal ibu Tina
"sebenarnya begini Bu, ada yang ingin kami sampaikan kepada ibu Lilis Mengenai kak Sintia tapi ternyata waktunya tidak tepat setelah kami datang. tapi kalau memang ibu bibi dari Sintia, sepertinya kami akan menyampaikannya saja kepada ibu" ucap starla
"menyampaikan apa toh neng, ada apa dengan Sintia...?" ibu Tatik mulai penasaran
"boleh saya panggil rombongan kami untuk datang ke rumah ibu, agar lebih enak bicaranya karena om dari temanku yang akan menyampaikan pesan itu"
"tentu saja, ayo ajak mereka kemari. itu rumahku, saya tunggu di rumah" jawab ibu Tatik
karena penasaran akhirnya ibu Tina ikut bersama ibu Tatik ke rumahnya sedangkan starla berjalan sendiri menghampiri ayah Adnan dan yang lainnya.
starla berbicara pelan di samping ayah Adnan. pria itu akhirnya mengangguk dan setuju dengan perkataan gadis itu.
"permisi bapak-bapak, kami mau ke sana sebentar" ucap ayah Adnan
"tidak ingin bertemu dengan ibu Lilis pak...?"
"nanti saja pak, insha Allah kami akan ke sini lagi" jawab ayah Adnan
setelah berpamitan, ayah Adnan beranjak di ikuti Randi dan Helmi. El dan kedua sahabatnya bertanya-tanya mau kemana mereka.
"kita mau kemana sih...?" tanya Vino
"nggak tau, ngikut ajalah" jawab El
dari jauh ibu Tatik tengah menunggu mereka di depan rumah. dengan ramah ibu Tatik dan juga ibu Tina mempersilahkan mereka masuk. ibu Tatik memanggil anak gadisnya untuk membuatkan minuman dan juga cemilan.
"tidak usah repot-repot Bu" ucap ayah Adnan
"sama sekali tidak pak" jawab ibu Tatik
"jadi apa yang ingin kalian sampaikan...?" tanya ibu Tatik
ayah Adnan melirik Helmi dan Randi, kedua pria itu serentak menganggukkan kepala.
"apa...?" ibu Tatik kaget dengan berita yang didengarnya. wanita itu seketika sesak nafas dan langsung pingsan untung saja ibu Tina menahan tubuhnya
"loh bu, ada apa ini...?" seorang bapak-bapak masuk ke dalam rumah dan memeluk ibu Tatik
wanita itu di baringkan di tikar dan anaknya tadi mengambil kipas angin agar ibunya tidak kepanasan.
"ada apa ini ibu Tina...?" tanya bapak tadi
"dengarkan penjelasan mereka saja pak Daud" jawab ibu Tina menunjuk ayah Adnan
dengan menghela nafas ayah Adnan meminta maaf terlebih dahulu karena akibat berita yang dibawanya sehingga ibu Tatik akhirnya jatuh pingsan.
ayah Adnan menceritakan semuanya kepada suami ibu Tatik itu. tentang tujuan mereka ke kampung itu hanya untuk memberitahu keluarga Sintia bahwa wanita itu telah meninggal dunia satu hari yang lalu akibat ledakan dari tempat kerjanya, di toko ayah Adnan sendiri.
"innalillahi wainnaillahirrajiun" ucap pak Daud
anaknya yang baru saja menghidangkan minuman terduduk lemas di samping ibunya mendengar kakak sepupunya telah tiada.
"malang sekali nasibmu nak, malang sekali" ucap pak Daud lirih
"kami sebenarnya ingin memberitahu ibu Lilis dan suami Sintia namun ternyata mereka sedang mengadakan acara pernikahan" lanjut ayah Adnan
"mereka memang berhati iblis. harusnya dari dulu saya memaksa Sintia untuk kembali ke rumah ini karena dirinya dijadikan sapi perah oleh mertuanya itu. dirinya bahkan harus merantau di kota yang seharusnya itu tugas suami untuk mencari nafkah" suara pak Daud terdengar emosi
"saya harus ke sana, ini tidak bisa dibiarkan. saya akan mengambil paksa Ainun" pak Daud langsung berdiri
semuanya kebingungan dan akhirnya ayah Adnan, mereka mengikuti pak Daud kembali ke acar itu. tiba di sana, pak Daud langsung masuk ke dalam menghampiri pengantin baru itu.
plaaaaak....
satu tamparan keras mendarat di pipi Kumar yang sedang duduk bersama wanita yang beberapa jam lalu menjadi istrinya.
"apa-apaan kamu Daud, datang-datang malah menampar anak saya" teriak ibu Lilis tidak terima anaknya di tampar
"cih, harusnya anak kurang ajar ini bukan hanya tamparan yang ia dapatkan melainkan lebih dari itu" pak Daud tidak kalah keras suaranya
"apa kamu tau istrimu baru saja meninggal kemarin Kumar, bahkan kuburannya saja belum kering dan kamu sudah duduk manis menjadi pengantin dengan wanita ular ini" emosi pak Daud tidak dapat di tahannya
"m-meninggal, siapa yang meninggal paman...?" tanya Kumar menatap pak Daud
__ADS_1
semua yang berada di tempat itu mengangga tidak percaya mendengar perkataan pria baya itu. kalau istrinya Kumar meninggal itu artinya yang dimaksud pak Daud adalah Sintia, keponakannya.
"Sintia, Sintia baru saja meninggal kemarin di tempat kerjanya dan kamu tau itu salah siapa. itu semua salah kamu dan salah ibu kamu"
"diam kamu Daud" bentak ibu Lilis
"kamu yang harusnya diam" tunjuk pak Daud ke wajah ibu Lilis dengan wajah yang sudah merah menahan amarahnya
"kalian pikir saya tidak tau rencana busuk yang kalian jalankan selama ini. saya tau kamu mendekati keponakan saya agar dapat menguasai harta warisannya yang ia dapatkan dari almarhum ayahnya. setelah itu kamu dapatkan, kamu berpura-pura kesulitan dalam perekonomian dan mengibah kepada Sintia agar dapat membantumu mencari nafkah dengan melemparnya ke kota sedangkan kamu sedang mempersiapkan pernikahan mu dengan wanita ini, dari hasil penjualan sawah warisan ayah Sintia"
Kumar dan ibu Lilis hanya menelan ludah mendengar ucapan pak Daud. mereka benar-benar tidak percaya kalau pria itu selama ini tau apa yang mereka lakukan.
"jangan asal bicara kamu Daud, saya bisa menjebloskan kamu ke dalam penjara" ancam ibu Lilis
"cih, penjara kamu bilang. yang harusnya membusuk di penjara itu adalah kalian berdua. oh bukan berdua tapi bertiga dengan menantu barumu itu karena telah melakukan perencanaan pembunuhan terhadap orang tua Sintia hingga akhirnya mereka meninggal"
sungguh terkejut dan geger hari itu para warga mendengar kabar yang sangat mengejutkan. semuanya saling berbisik dan memandang ibu Lilis dengan tatapan menjijikkan.
"mana buktinya, mereka meninggal karena sudah ajal mereka bukan karena kami. kamu sudah benar-benar keterlaluan Daud" ucap ibu Lilis. hanya wanita itu yang melawan pak Daud sedangkan Kumar dan istri barunya hanya menunduk
"kalian berdua yang keterlaluan. selama ini aku diam karena tidak mendapatkan bukti, namun tidak untuk sekarang. kalian mau bukti, baik akan aku datangkan bukti di hadapan kalian berdua, dihadapan semua orang warga kampung ini agar mereka tau siapa ibu Lilis yang terhormat ini" ucap pak Daud dengan penuh penekanan
pak Daud menghubungi seseorang, ia menyuruhnya untuk datang di tempat itu sekarang. ibu Lilis dan Kumar menjadi tegang, bahkan keduanya berkeringat dingin.
Sintia yang melihat pamannya itu menangis haru, tidak menyangka ia akan dibela sedalam itu di depan semua orang.
masih ingat betul dirinya yang menentang paman dan bibinya karena mereka tidak suka dengan Kumar namun Sintia dengan keras kepalanya tidak ingin mendengar nasihat keduanya dan malah memilih pergi dari rumah dan menikah dengan Kumar.
teringat itu, Sintia sangat menyesal kenapa dulu dirinya tidak mengindahkannya perkataan dua orang yang telah menganggapnya seperti anak sendiri.
Ainun yang tadinya sudah tertidur pulas langsung menangis karena kaget mendengar teriakan di luar sana.
mendengar Ainun terus menangis, pak Daud melangkah menuju kamar dan mengambil anak itu membawanya keluar dari kamar. adik Kumar yang menjaga Ainun ikut keluar.
dengan sigap starla mengambil anak itu dari gendongan pak Daud dan membawanya keluar agar tidak menyaksikan pertengkaran di dalam rumah itu. Vino mengikuti starla untuk membawa Ainun ke rumah ibu Tatik.
"mau dibawa kemana anakku" teriak Kumar yang melihat starla dan Vino berjalan keluar membawa Ainun
Kumar ingin mengejar namun pak Daud menahannya dan mendorong tubuh laki-laki itu. dengan emosi Kumar berdiri dan membalas mendorong pak Daud sekuat tenaga sehingga pria itu tersungkur namun di tahan oleh Helmi.
Kumar kembali menyerang pak Daud dengan melayangkan tendangan namun dengan sigap Randi menepis tendangan itu dengan tendangannya pula sehingga Kumar jatuh mendarat kasar di lantai.
"jangan ikut campur kamu, ini urusan saya dengan bapak tua itu" ucap Kumar berdiri
"tentu saya akan ikut campur kalau kamu sudah mengambil tindakan menyakiti orang" jawab Randi
"bacot"
Kumar melompat menyerang Randi namun dengan sigap Randi menghindar. acara pernikahan yang harusnya meriah karena tamu undangan dan kebahagiaan kini malah meriah dengan perkelahian.
Adam tidak ikut campur karena ia yakin kedua pengawal pamannya itu pasti bisa mengatasi Kumar. rupanya ibu Lilis mempunyai orang suruhan, ia ternyata telah menghubungi mereka dan beberapa orang itu datang dengan wajah yang bringas dan menakutkan.
semua orang ketakutan dan keluar dari rumah. El dan Leo serta pak Daud menepi di sudut ruangan agar tidak terkena serangan.
Lima orang itu menyerang Randi dan Helmi, ayah Adnan pun ikut di serang. walau usianya tidak lagi muda, rupanya ayah Adnan bisa bela diri untuk melindungi dirinya walau tidak sehebat kedua pengawalnya.
El yang melihat ayahnya di keroyok dua orang langsung maju membantu, Leo pun ikut dalam perkelahian itu.
bughhh...
braaakkk
ayah Adnan terkena tendangan dan tersungkur mengenai meja. melihat itu, Adam terlihat sangat marah. dengan mengepalkan tangannya kuat, seketika angin bertiup kencang di dalam rumah, gorden jendela menari-nari bahkan kaca jendela hancur terpecah.
semuanya menunduk agar tidak terkena pecahan kaca. langit yang tadinya cerah berubah menjadi mendung, awan hitam berkumpul seperti akan turun hujan deras. lampu yang tadi menyala terang seketika mati mendadak, dan di dalam itu menjadi gelap karena awan hitam yang berkumpul menutupi sinar matahari.
bughhh
bughhh
bughhh
braaakkk
braaakkk
kraaaak... kraaaak
"aaaggghh"
"aaaaggghhhh"
semua orang suruhan ibu Lilis terlempar keluar dalam keadaan babak belur bahkan ada yang munta darah dan satu orang kakinya patah menjadi bengkok, dialah pria yang tadinya menendang ayah Adnan hingga jatuh tersungkur.
__ADS_1