
"apa kita hanya akan tinggal diam saja...?"
"tentu tidak tapi mari kita lihat seberapa besar perlawanan mereka"
"Ranggina sangat kuat, mereka bukanlah tandingannya. kalau kita tidak turun tangan, bisa-bisa mereka celaka seperti yang sudah-sudah"
"kita lihat saja dulu"
buaaaak
buaaaak
bughhh
"bagaimana tante, masih ingin meremehkan kami...?" ucap Bara tersenyum mengejek
ibu Dewi kini terkena serangan dari mereka. tubuhnya menabrak pohon dan mendarat kasar di tanah. bahkan wajahnya pun terluka karena terkena sabetan ujung pedang Leo.
"bedebah, kalian benar-benar membuat saya muak" ibu Dewi begitu murka karena merasa terhina dikalahkan oleh tiga remaja yang dianggapnya bocah itu
sementara itu Adam, El-Syakir masih berhadapan dengan kuntilanak merah.
"kalian ingin mengeroyokku berdua...?" kuntilanak merah tersenyum menyeringai
"kamu takut...? ucap El
"hihihihihi.... hihihihihi. pertanyaan mu sungguh sangat lucu. kamu begitu pintar atau terlalu bodoh...?"
"hati-hati El, dia begitu kuat. kita harus menghindari serangannya jika nggak ingin terluka" bisik Adam dengan menatap ke arah kuntilanak merah
"sebaiknya elu pergi saja kak, bawa pergi Melati, Alana, Nilam dan kak Dian. biar gue yang menahannya disini agar dia nggak bisa menahan kakak membawa mereka"
"nggak bisa. gue jelas nggak mau kamu kenapa-kenapa. kita hadapi berdua, ingat hindari setiap serangan yang dia berikan"
"hihihihihi... berdiskusi lah terlebih dahulu, sebelum aku bungkam mulut kalian untuk selamanya" ucapnya
"kamu siap...?"
"siap kak" El mengangguk
"pantang mundur mati tak gentar" ucap keduanya bersamaan
"hihihihihi...aku suka semangat kalian menuju kematian"
swiiiiing
ddduuuaaaar
swiiiiing
ddduuuaaaar
setiap kuntilanak itu mengeluarkan sihir dari matanya maka saat itu juga benda apapun yang terkena sihirnya akan hancur meledak. Adam dan El-Syakir terus menghindari sihir kuntilanak itu, mereka jelas tidak ingin mati mengenaskan karena sihir setan itu.
"hiyaaaaaaa....mati kalian semua" ibu Dewi menyerang
masih dalam pertarungan, tim samudera terus melawan dan menyerang. beberapa kali terkena pukulan dan juga beberapa kali mereka berhasil mendaratkan serangan kepada lawan mereka.
buaaaak
bughhh
"ikat dia Le"
"nggak ada tali"
sreeet
"aaaaagghhh... wanita iblis"
buaaaak
bughhh
bughhh
ibu Dewi tersungkur di tanah di dekat sungai setelah Vino menghajarnya dengan brutal. bahkan Vino masih ingin menghajar wanita itu namun Leo menghentikannya sedang Bara mencari sesuatu yang dapat mengikat tubuh ibu Dewi. dia yang tidak menemukan apapun pada akhirnya mereka membiarkan wanita itu begitu saja yang sudah pingsan tidak sadar.
buaaaak
buaaaak
ddduuuaaaar
bughhh
bughhh
"Adam"
"El"
"hihihihihi, anak-anak yang benar-benar ingin mati"
"ughh, uhuk uhuk" Adam batuk begitu juga El-Syakir
"ya ampun dam, elu terluka parah" Leo melihat perut Adam yang menghitam dan mulai mengeluarkan darah
"dia kuat banget" ucap El dengan lemahnya
"biar kami yang hadapi dia" Bara beranjak untuk melawan kuntilanak merah namun Adam menghentikannya
"jangan, kalian bisa terluka" ucap Adam
"kami nggak mungkin diam saja melihat kalian sudah babak belur seperti ini" Vino mengepalkan tangannya
"sebaiknya kalian bawa pergi mereka" Adam melihat ke arah sungai tempat adik dan temannya terbaring di atas batu"
"selamatkan mereka, setan itu biar aku yang mengurusnya"
"nggak akan. elu membiarkan kami pergi sementara elu menghadapinya dan pada akhirnya akan skarat seperti dulu" El menggeleng
"kita tim, yang namanya tim harus tetap bersama, saling membantu apapun yang terjadi" lanjut El
"kalian membuang-buang waktu ku saja"
kuntilanak itu menyerang pagar gaib yang dibuat oleh Adam untuk melindungi Alana dan yang lainnya. melihat itu tentu saja mereka tidak tinggal diam.
mereka kembali menyerang kuntilanak itu. lima lawan satu tidak membuat kuntilanak itu kewalahan sama sekali. bahkan dia menumbangkan satu persatu tim samudera dan mereka terkulai lemas di tanah.
meskipun tenaga mereka sudah terkuras habis, mereka tetap melawan walau pada akhirnya kini mereka benar-benar sudah tidak bisa lagi bergerak.
Adam beberapa kali terkena cakaran kuku tajam kuntilanak merah. keadaan mereka sekarang sungguh benar-benar tidak lagi dapat melawan.
"uhuk uhuk"
"hihihihihi, apa hanya begitu saja kemampuan kalian...?"
"jangan pernah menggangguku, anak-anak bodoh" kuntilanak itu menatap tajam
ibu Dewi telah sadar kembali. melihat tim samudera dikalahkan okeh mahluk peliharaannya, dia kembali duduk bersila di depan dupanya dan kembali memalukan ritual penyerapan tumbal.
kuntilanak itu, merusak pagar gaib yang dibuat oleh Adam hanya dengan satu kali ledakan sihir dari matanya.
"hihihihihi.... hihihihihi"
dia kemudian mendekati Alana dan mulai mengisap jiwa gadis itu. mata gadis itu mulai melotot ke atas, tubuhnya mulai kejang-kejang.
__ADS_1
"LEPASKAN DIA"
Vino dengan sisa tenaganya berusaha menghentikan kuntilanak itu. ia menyabetkan cambuknya ke arah kuntilanak itu sehingga setan itu melepaskan Alana dan menatap tajam ke arah Vino.
"MATI KAMU"
"VINO"
"AWAS VIN"
kuntilanak itu menyerang Vino dan menusuk perutnya dengan kuku tajamnya.
jleb
"REHAAAAAAN"
perut anak itu tertusuk oleh kuku tajam kuntilanak merah. saat kuntilanak itu akan menyerang Vino, Adam melayang cepat mengambil tubuh Rehan dan menggunakan tubuh mati remaja itu sebagai tameng untuk melindungi Vino.
"Rehan"
"Rehan"
"apa yang kamu lakukan Ranggina, kenapa kamu menusuk anakku" ibu Dewi histeris melihat tubuh Rehan mengeluarkan darah dan menghitam
kuntilanak itu tidak mendengarkan rengekan ibu Dewi. dia kembali ingin menyerang Vino namun Adam menarik tubuh Vino dan menendang punggung kuntilanak itu.
"berani sekali kalian bermain-main dengan Ranggina" kuntilanak itu memancarkan kilatan kemarahan
"Ranggina, hidupkan kembali anakku. itu adalah janjimu padaku, hidupkan anakku" ibu Dewi berdiri dan meneriaki kuntilanak itu
"DIAM KAMU"
jleb
ughh
kuntilanak itu menyerang ibu Dewi, dia menusuk perut wanita itu sehingga ibu Dewi tersungkur di tanah.
"aku bukan pesuruhmu" bisik kuntilanak itu
"Allah, apa yang harus kita lakukan sekarang" Leo mulai frustasi. mereka memang bukanlah tandingan kuntilanak itu
"giliran kalian anak-anak pengganggu" kuntilanak merah tersenyum mengerikan
sudah berdarah-darah, luka cakaran dimana-mana, tim samudera berbaris dengan tubuh yang gontai bersiap menahan serangan kuntilanak itu.
"PANTANG MUNDUR MATI TAK GENTAR" teriak Adam menggema di hutan alam gaib itu
"MATI TAK GENTAR"
"hihihihihi....MATI KALIAN SEMUA"
di saat kuntilanak merah mengeluarkan sihir dari matanya, di saat itu juga sihir yang ia keluarkan terpental dan tidak mengenai tim samudera. beberapa kali kuntilanak itu menyerang namun lagi-lagi sihirnya terpental bahkan dirinya pun tidak dapat menyentuh mereka, seakan ada dinding penghalang diantara mereka.
"KURANG AJAR, SIAPA YANG BERANINYA MELINDUNGI KALIAN" murka sudah kuntilanak merah
"elu yang melakukannya dam...?" tanya Leo
"kamu tidak lihat pagar gaib yang aku buat tadi saja dia porak-porandakan dengan mudahnya" Adam menjawab, dan itu menandakan bahwa bukan dirinya yang melindungi mereka
"terus siapa...?"
"Sundari" kuntilanak merah itu menatap seseorang di belakang mereka
tim samudera berbalik, benar saja ratu Sundari dan Senggi ternyata ada tepat di belakang mereka semuanya. keduanya berjalan ke depan.
"kalian anak-anak yang tangguh" ratu Sundari menatap mereka
"terimakasih ratu, ratu telah datang membantu kami" Adam tidak menyangka wanita cantik itu akan turun tangan. padahal tanpa dia ingat kalau wanita cantik itu memang selalu menolong mereka di saat-saat tertentu
"mundur kalian" ucap ratu Sundari
"hihihihihi, lama tidak berjumpa Sundari" kuntilanak merah tertawa melengking
"kamu tidak pernah berubah Ranggina" ucap ratu Sundari
"biar saya yang menghadapinya ratu" Senggi meminta izin namun ratu Sundari mengangkat tangannya pertanda dia akan mengatasinya sendiri
"rupanya kamu masih setia menjadi anjing peliharaan wanita ini ya Senggi, kasian sekali hidupmu" kuntilanak merah mengejek Senggi
"hahaha" Senggi tertawa mendengar perkataan kuntilanak merah
"kamu bahkan tidak lebih dari seekor anjing yang meminta belas kasihan manusia untuk mendapatkan tumbal" Senggi menatap sengit
"kurang ajar, akan aku robek mulut besar mu"
"bukankah kamu sudah aku beritahu Ranggina" kali ini ratu Sundari mendekati kuntilanak merah, jarak mereka hanya beberapa langkah saja
"cih, apa bedanya aku denganmu Sundari. bukankah kamu juga mengambil tumbal untuk dijadikan suamimu"
(tumbal...?) Adam mengernyitkan dahinya
"siapa bilang aku menjadikan mereka tumbal. mereka kini menjadi abdiku di kerajaan karing-karing. kamu sepertinya tidak lupa itu Ranggina. mereka arwah yang datang secara suka rela kepadaku untuk mengikuti ke alamku"
"cih. jangan sok suci Sundari, kita itu sama. jadi lebih baik menyingkir dari hadapanku"
"jelas saja aku dan kamu berbeda Ranggina. aku pernah peringatkan kamu dulu, tapi sepertinya kamu enggan untuk menurutiku"
"jangan banyak bicara, hadapi aku"
kuntilanak merah mengeluarkan sihirnya, dia menyerang ratu Sundari namun hanya dengan tangan kanannya, ratu Sundari menahan sihir itu dan sihir itu berbalik kembali kepada tuannya.
kuntilanak merah kaget, dia segera menghindar sehingga dirinya tidak terkena sihirnya sendiri.
"Senggi, bawa mereka pergi dari sini" ucap ratu Sundari
"baik ratu"
"kemarilah" Senggi memanggil tim samudera
mereka mendekati Alana dan yang lain. Senggi juga membawa ibu Dewi dan Rehan di dekat mereka kemudian dia menggunakan kekuatannya untuk menghilang dari tempat itu.
sementara ratu Sundari masih terlibat pertarungan dengan kuntilanak merah. beberapa kali kuntilanak merah menyerang namun serangannya itu lagi-lagi malah berbalik kembali menyerangnya.
"hiyaaaaaaa...."
ddduuuaaaar
"aw... sakit banget kepalaku"
"aduh, perutku sakit sekali"
"dimana ini...?"
"apakah kita masih di alam gaib...?"
"sayang" Starla langsung memeluk Vino
"kak El, kak Dirga. syukurlah kalian sudah sadar. Lana takut banget"
"beb, kamu nggak apa-apa...?
"kak Leo, jangan bangun dulu kak, istrahat saja dulu"
"kita dimana...?" tanya Adam
"di rumah sakit" jawab Alana.
__ADS_1
"di rumah sakit...?" kelimanya nampak terkejut
"kenapa bisa di rumah sakit, bukankah kita baru saja meninggalkan alam gaib itu
"iya, kenapa tiba-tiba ada di rumah sakit"
cek lek
"kalian sudah sadar...?" orang tua mereka datang
"sayang" mama Nifa mendekat Vino
"lain kali jangan berbuat yang tidak-tidak nak, mama hampir jantungan melihat kamu berdarah-darah"
"kamu kenapa sih malah baku pukul sama orang, kalau keadaan kalian lebih buruk dari ini bagaimana"
"baku pukul...?" mereka benar-benar begitu bingung
"kalian tidak ingat apa sudah terjadi...?" mama Melisa bertanya
"memangnya apa yang terjadi mah...?" tanya Leo
"kalian sungguh tidak ingat...?" mama Reni bertanya
"emang ada apaan sih mah...? tanya Bara kepada mama Reni
"apa kalian amnesia...?" ucap ibu Arini
"ibu ada-ada saja, kalau amnesia bagaimana bisa aku mengenal ibu" ucap El
"kalau begitu kalian istirahatlah, biar kami bertemu dengan dokter dulu"
"ayo" ibu Arini mengajak yang lain
"mama pergi sebentar ya" mama Nifa mencium kening Vino
setelah orang tua mereka keluar, kini kelimanya meminta penjelasan kepada para perempuan, apa yang sebenarnya terjadi.
"waktu kita dibawa pulang oleh Senggi, tiba di rumah kalian semua langsung pingsan. makanya langsung di bawa ke rumah sakit" Melati menjelaskan
"terus kenapa nyokap gue bilang kita baku pukul...?" ucap Vino
"lah kalian kan emang baku pukul dengan kuntilanak itu. tapi nggak mungkin kan kami bilang sama mereka kalau kalian bertarung dengan kuntilanak. bisa dianggap gila kami semua" jawab Starla
"terus... bagaimana dengan ibu Dewi dan Nilam. terus kak Rehan bagaimana dia...?" tanya El
"haaah" mereka menghela nafas
"ibu Dewi telah meninggal, dia kemarin di makamkan bersama kak Rehan. untuk Nilam, dia sedang mengurus ayahnya" Nisda menjawab
"terus kuntilanak itu gimana dan juga ratu Sundari bagaimana...?" tanya Adam
"setelah kita dipulangkan dan Senggi kembali, sampai sekarang kami juga nggak tau bagaimana kabar mereka dan juga kuntilanak merah itu" jawab Melati
"semoga saja ratu Sundari dapat mengalahkan kuntilanak itu" ucap El
"kamu nggak apa-apa...?" Adam bertanya kepada Melati
"gue baik-baik saja" Melati tersenyum
"baik-baik saja gimana. tau nggak kak, kak Melati sampai nangis-nangis liat keadaan kakak kemarin. bahkan tidur aja dia genggam tangan kak Dirga terus" Alana memberitahu apa yang Melati lakukan
"Lana apaan sih" Melati menutup mulut gadis itu
"benar begitu...?" tanya Adam menatap Melati
"emm iya. lagian siapa yang nggak khawatir coba. kamu babak belur, gue sakit tau kalau liat kamu seperti kemarin. aku nggak mau calon pacar aku kenapa-kenapa" jawab Melati
"calon pacar...?" Adam mengulang
"hehehe...maaf" Melati cengengesan
"cieeee calon pacar, berarti sekarang kak Melati calon kakak ipar Alana dong" Alana menggoda Melati
"ekhem, aku haus" Adam mengalihkan pembicaraan
"nih" Melati memberikan air minum kepada Adam
"mau makan...?" tanya Melati
"boleh, aku memang lapar" jawab Adam
"aku suapin ya"
"boleh"
"bukan hanya kak Dirga yang lapar, kami juga lapar. beb suapin" Bara bermanja kepada Nisda
"ulu ulu caaayang, tunggu bentar ya" Nisda mengambil kotak makanan di atas meja
"yank, aku juga mau disuapin" Vino merengek kepada Starla
"siap big baby ku" Starla tersenyum manis
"Lana, mau suapin kakak nggak...?"
"mau dong" Alana menggangguk menjawab pertanyaan Leo
"terus gue siapa yang suapin...?" tanya El melihat yang lainnya tengah di suap oleh pasangan masing-masing
"siapa suruh jomblo" cibir Adam tersenyum mengejek
"ck, nasib.... nasib" El mengambil makanan dan menyuapi ke dalam mulutnya
"biar Alana yang suapin" ucap Alana
"no, terus aku gimana...?" rengek Leo
"makan sendiri Napa, itu adek gue tau" sungut El
"dia pacar aku tau" Leo tidak mau kalah
"dek suapin kakak aja yah"
"nggak boleh. sayang, suapin aku aja. aku lapar"
"gue aja"
"gue"
El-Syakir dan Leo menarik memperebutkan Alana membuka gadis itu mengenal nafas dan memijit pelipisnya. tiba-tiba terdengar suara yang mendayu namun membuat semua orang akan pingsan dengan baunya.
buuuuuu
seketika mereka semua terdiam dan melihat ke arah tersangka.
"hehehe, maaf epribadi, iklan lewat" Adam cengengesan
hueeek
"oksigen mana oksigen, susteeeer...dokteeeer, aku butuh oksigen"
"kulkaaaaas mana kulkaaaaas, panas panas"
"bau bangkeeeeeeeeee"
"hihihi"
__ADS_1
Adam hanya cekikikan melihat semua teman-temannya keracunan oleh gas yang ia keluarkan begitu terdengar merdu namun nyatanya mematikan.