Petualangan Mistis

Petualangan Mistis
Episode 83


__ADS_3

acara yang harusnya meriah karena kebahagiaan kini malah ricuh karena seseorang yang menyusup menjadi tamu undangan agar tidak diketahui oleh pihak keamanan.


dua pengawal Zidan, Pram dan Helmi serta Thalita melindungi kedua pengantin sedang Randi melindungi ayah Adnan dan El-Syakir.


"ayah ada apa ini...?" tanya El


ayah Adnan tidak menjawab pertanyaan putranya. pria itu menarik El-Syakir untuk berada di belakangnya sedang di depan mereka ada Helmi dan juga Adam yang tidak mereka lihat kecuali El.


dor......


pria yang menembak ayah Adnan kembali menarik pelatuk pistolnya namun lagi peluru itu tidak sampai di tubuh target tapi malah berbalik ke arah si penembak.


ugh


"aaaggghh" ia berteriak karena dua peluru menembus kaki dan lengannya


semua tamu undangan kembali berteriak saat mendengar bunyi tembakan. tim samudera bersembunyi di bawah meja karena tidak mungkin bersembunyi di tempat lain.


"ini kenapa bisa ada penyusup yang bisa masuk" kesal Zidan karena keamanan yang teledor


"pengawal" teriak pria itu dengan kerasnya


semua pengawal sudah bersiap dan meringkus pria yang membuat onar. sayangnya pria itu datang dengan segala perencanaan yang matang. di tubuhnya ada sebuah bom dengan waktu yang berjalan. sisa 30 menit lagi maka bom itu akan meledak dan tentu akan memakan korban jika masih dibiarkan di dalam ruangan.


"jangan berani-berani menyentuhku atau aku potong kabel kuning ini agar bomnya cepat meledak" ancamnya saat kedua pengawal mendekatinya


"dia membawa bom bos" ucap Pram


"sayang bagaimana ini...?" Vania panik


"Thalita, bawa Vania keluar dari tempat ini bersama mas Adnan dan anaknya" ucap Zidan


"baik bos. ayo nona, pak Adnan" ucap Thalita


"bagaimana denganmu sayang, aku nggak mau pergi tanpa kamu" Vania menggeleng kepala


"aku akan baik-baik saja, percayalah" ucap Zidan


"mas Adnan, keluar lewat pintu di samping sana" lanjut Zidan


"saya tidak akan pergi kemanapun" jawab ayah Adnan tegas


"El keluar dengan mereka berdua lewat pintu samping, ayah harus tetap berada di sini" ucap ayah Adnan


"nggak, El nggak akan keluar kalau ayah nggak ikut" El menggeleng kepala


"dengar nak, keadaan mu sudah tidak aman setelah mereka tau kalau kamu anak ayah. sekarang pergi dan selamatkan dirimu"


"memangnya kenapa kalau mereka harus tau aku anak ayah. aku kan memang anak ayah, apa yang salah dari itu...?"


"akan ayah jelaskan, sekarang pergilah ayah mohon" ayah Adnan memegang bahu El


"tapi teman-teman El gimana yah. El datang bersama mereka"


"pergilah El, aku yang akan menjamin mereka untuk selamat. pergi ikuti kak Vania dan Thalita" ucap Adam menatap El


dengan berat hati akhirnya El-Syakir bersama Vania dan Thalita keluar dari ruangan itu dan pergi ke tempat yang aman.


Randi ikut bersama mereka karena tidak mungkin hanya membiarkan kekasihnya saja yang melindungi Vania dan El.


"hahahaha, kalian semua akan mampus. tidak akan ada yang selamat ketika bom ini meledak" pria itu tertawa meski tubuhnya sakit akibat peluru yang ia tembakan berbalik padanya


"apa yang kamu inginkan...?" ayah Adnan bersuara dan maju ke depan


"pak Adnan" panggil Helmi namun ayah Adnan mengangkat tangannya agar Helmi diam


"apa yang kamu inginkan...?" tanya ayah Adnan kembali


"nyawamu" pria itu menjawab dengan tersenyum menyeringai


"aduh bagaimana ini, kita harus bantu om Adnan agar dia tidak celaka" ucap Vino


"mau bantu gimana kita aja terjepit begini" timpal Bara


"kita keluar dan mengintip" ucap Leo


tim samudera keluar dari bawah meja untuk melihat situasi yang menegangkan. terlihat oleh mereka ayah Adnan tengah berhadapan dengan si pria beberapa meter jarak mereka.


"apa dengan mengambil nyawaku kamu akan merasa senang...?" tanya ayah Adnan


"tentu saja, karena memang itu tujuan kami"


"langkahi dulu mayatku sebelum mengambil nyawanya" Zidan melangkah mensejajarkan dirinya dengan ayah Adnan


"aku juga memang ingin mengambil nyawamu keturunan Sanjaya" ucapnya


"oh ya, kalian membiarkan pengantin wanita pergi begitu saja. sangat di sayangkan ya. mereka sepertinya tidak akan sampai di tujuan" lanjutnya


"waduh, El dalam bahaya. bagaimana dong ini" ucap Vino


"ssssttt, jangan kencang-kencang ngomongnya yank, nanti di dengar" timpal starla dengan suara pelan


benar saja, di perjalanan mobil yang dikemudikan oleh Randi di hadang oleh dua mobil berwarna hitam.


"bagaimana ini...?" Vania panik


"tenang nona, kami akan menjagamu" Thalita menenangkan

__ADS_1


"tetap di dalam dan jangan ada yang keluar. aku akan mengurus mereka" Randi membuka pintu mobil namun Thalita menahannya


"aku ikut"


"jangan, tetap di dalam. ini bahaya buat kamu"


"dengar sayang, diantara kami bertiga selain kamu, aku yang mempunyai ilmu bela diri. jadi biarkan aku membantumu. itu tugasku sebagai penjaga nona Vania"


"aku juga bisa berkelahi paman, aku akan ikut bersama kalian berdua" timpal El


"tidak, kamu tetap di mobil. kalau kamu kenapa-kenapa, aku bisa digantung oleh pak Adnan" jawab Randi cepat


"memangnya apa hak ayah menggantung paman. sebenarnya ada rahasia apa yang tidak aku ketahui" ucap El penasaran


"bukan waktunya bercerita. ayo Thalita, dan kalian berdua jangan keluar dari mobil ini. kalau sudah mendesak maka jalankan mobilnya dan tinggalkan kami" ucap Randi


keduanya keluar dari mobil, mereka sudah ditunggu-tunggu oleh musuh yang lumayan banyak dan memegang senjata tajam.


baru ingin menyerang, mobil hitam lainnya datang dengan kecepatan tinggi dan menabrak sebagian orang-orang itu membuat mereka terpental dan pastinya akan patah tulang, entah kaki atau pergelangan tangan karena kerasnya mereka ditabrak.


"Furqon, Ardi" panggil Randi saat kedua pria itu keluar dari mobil


(kak Furqon dan kak Ardi. setiap aku mengalami kesulitan mereka selalu hadir. aku jadi merasa aneh) batin El melihat kedua pria itu


"ayo habisi bersama" ucap Furqon ke arah Thalita dan Randi


Randi dan Thalita mengangguk. mereka berdua mengambil kuda-kuda dan siap melawan.


"kyaaaaaaaa mati kalian semua"


orang-orang itu mulai menyerang ke empatnya. dengan lihai ke empatnya menghajar mereka satu persatu dengan kemampuan bela diri yang mereka punya.


salah satu dari mereka mendekati mobil yang ditumpangi Vania dan El.


braaakkk


ia memukul kaca mobil sehingga kaca itu pecah berserakan.


"aaaaaaaa" Vania berteriak kaget dan ketakutan


belum sampai pria itu menyentuh Vania, El-Syakir menendang wajahnya sehingga pria itu tersungkur di tanah. pria itu kembali menyerang namun kemudian


jleb....


pisau tajam mendarat di dadanya. Thalita ternyata melempar pisau yang ia pegang ke arah pria itu. pria itu mendarat di tanah dan tumbang.


"Thalita awas" teriak Randi karena seseorang berlari menyerang wanita itu


dengan cepat Thalita berbalik dan duduk menendang kaki pria itu sehingga pria itu mendarat kasar di tanah.


bughhh


bughhh


kraaaak


"aaaaaagghh"


pria itu kesakitan karena kakinya di patahkan oleh Thalita.


kembali ke tempat pernikahan yang keadaannya dalam ketegangan. tidak ada seorangpun yang dibiarkan untuk keluar dari ruangan luas itu jika mereka tidak ingin menjadi mayat.


"kamu terlalu kepedean. aku tidak mungkin membiarkan mereka pergi tanpa pengawal yang melindungi mereka" ucap Zidan terlihat santai meski sebenarnya ia khawatir dengan keselamatan para tamu undangan


drrrrtttt drrrrtttt


handphone Zidan bergetar, ia melihat layar benda pipih itu dan Randi yang menelponnya.


📞 Zidan


bagaimana...?


Zidan sengaja membesarkan suara loud speaker handphone


📞 Randi


aman bos, kami sudah menghabisi mereka


📞 Zidan


bagus. bawa istriku dan El-Syakir ke tempat aman


klik, Zidan mematikan panggilannya


"kamu dengar kan, bahkan pengawalku yang hanya empat orang saja bisa menghabisi orang-orang suruhan kalian. banci" ejek Zidan


Pria itu kaget namun kemudian tertawa terbahak-bahak.


"mereka mungkin bisa selamat namun belum tentu kalian yang ada di sini selamat. lihat waktu bom ini, tersisa 15 menit lagi. jika kalian tidak menuruti perintahku, aku pastikan akan meledakkan tempat ini" ucapnya dengan nada mengancam


"lalu setelah meledakkan tempat ini apa yang akan kamu dapatkan, harta Karun ataukah warisan. ckckck, jangan mimpi terlalu tinggi. kamu bahkan akan menjadi mayat bersama kami dan bos mu pasti akan tetap hidup untuk menikmati kemenangan yang telah diraihnya karena kebodohan anak buahnya seperti kamu" Zidan memprovokasi pria itu


Adam yang mendengar ucapan Zidan tersenyum melihat pamannya itu. hantu itu melayang mendekati pria itu dan memperhatikan bom yang ada di tubuhnya. ia memegang bom itu dan menutup kedua matanya.


"kamu salah. jika aku mati, mereka akan memberikan kehidupan yang layak untuk istri dan anakku. aku mati membawa kebahagiaan untuk mereka" jawabnya


"kamu ternyata pria bodoh yang pernah aku temui. kamu pikir istrimu akan bahagia saat mengetahui perbuatan yang kamu lakukan. dia akan mencapmu sebagai suami yang pengecut dan tidak bertanggung jawab"

__ADS_1


"aku tidak peduli, demi kehidupan yang baik untuk mereka, aku rela melakukan apa saja" teriak pria itu


"kalau kamu butuh kehidupan yang layak, aku akan berikan" ucap ayah Adnan


"jangan banyak bicara kamu, tunggu saja ajalmu sebentar lagi" ucapnya yang sempat goyah karena ucapan Zidan


tit tit tit


waktu bom akan meledak beberapa detik lagi. semua tamu undangan panik dan berlari mencari jalan keluar.


"Bara, Leo, Vino. bantu aku melepas rompi bom ini" teriak Adam


ketiga remaja itu berdiri dan berlari mendekati pria itu. sempat melawan namun pria itu tidak berkutik saat pengawal Zidan ikut meringkusnya.


"ini bomnya mau dibawa kemana...?" tanya Vino saat berhasil melepaskan rompi itu dan mereka berada di luar hotel, di halaman depan karena mereka langsung berlari keluar saat berhasil melepaskan rompi itu


"potong kabel warna kuning" ucap Adam


"itu kan kabel yang akan membuat bom ini meledak" ucap Bara


"lakukan saja, potong kabel warna kuning" ucap Adam


"bisa meledak dam" timpal Leo


"bahkan akan meledak kalau kalian tidak memotong kabel warna kuning. cepat waktunya hanya beberapa detik lagi" teriak Adam


1


2


3


4


5


klak.....


kabel kuning itu berhasil dipotong oleh Vino dengan mata yang ia tutup. semua orang tegang bahkan saling memeluk. Nisda berpelukan dengan starla, Leo dan Bara memeluk Adam dan ayah Adnan, Zidan serta pengawalnya menutup mata.


"apakah bomnya sudah non aktif...?" tanya Vino tanpa membuka matanya


"iya, kita aman" jawab Adam


"hah...hah"


tim samudera terduduk lesu di tanah, semua orang yang menjauh kini mendekat ke arah mereka. ayah Adnan berjalan cepat dan memeluk mereka semua.


Pram merengkuh tubuh Bara, pria itu mencium pucuk kepala adiknya berkali-kali karena tadi dirinya hampir jantungan melihat Bara membawa rompi bom.


"Kalian hebat" ucap ayah Adnan


semua orang bertepuk tangan untuk keberanian tim samudera, tidak menyangka anak-anak remaja itu berani membawa bom yang bahkan bisa saja meledakkan tubuh mereka.


"Leo"


"Vino"


"starla"


"Nisda"


remaja-remaja itu dipanggil oleh orang tua mereka masing-masing. rupanya orang tua mereka adalah tamu undangan dari pernikahan Zidan dan Vania.


"papa" starla berlari memeluk papanya


"ya Allah sayang, kamu mau buat papa mati" pak Rendra merengkuh tubuh mungil putrinya


Melisa memeluk anaknya dengan erat. pak Rahmat ikut memeluk mereka berdua. Leo adalah anak mereka satu-satunya, kedua orang itu hampir pingsan melihat Leo berada dalam bahaya


Nisda di peluk oleh kedua orang tuanya. mama Nisda menciumi seluruh wajah anak gadisnya itu.


pak Wira segera merengkuh tubuh Vino ke dalam pelukannya.


"jangan seperti ini lagi nak, papa akan gila kalau kehilangan kamu" ucap pak Wira


"maafin Vino udah buat papa khawatir" ucap Vino membalas pelukan papanya


mama Nifa berjalan pelan mendekati suami dan anaknya itu. tatapannya tidak lepas dari putranya.


"mah" panggil Vino


"sini sayang" mama Nifa merentangkan kedua tangannya


Vino berlinang air mata. dengan cepat ia menghambur memeluk mamanya dan menangis sejadi-jadinya dipelukan wanita itu. kalau dari dulu hanya dengan membuat nyawanya terancam dapat membuat wanita yang melahirkannya itu menerimanya, maka dari dulu sudah Vino lakukan bahkan jika harus kehilangan nyawa sekalipun.


tim samudera ikut berlinang air mata. mereka tau bagaimana selama ini mama Nifa membenci Vino, namun sekarang wanita itu sudah bisa menerima Vino sebagai anaknya.


"mama" ucap Vino dengan lirih


"iya sayang, ini mama. maafin mama, maafin mama" mama Nifa mencium seluruh wajah Vino dan kembali memeluknya


pak Wira tidak dapat menyembunyikan wajah bahagianya. ia bersyukur akhirnya istrinya sadar juga. pria itu merengkuh anak dan istrinya ke dalam pelukannya.


semua orang terharu melihat pemandangan itu. betapa yang paling berharga di dunia ini adalah keluarga.


di pojok lain, seorang wanita tersenyum lega karena bom itu bisa di non aktifkan. ada perasaan bersalah dan menyesal telah ikut andil dalam kejahatan itu namun dirinya juga tidak bisa berbuat apa-apa karena sebuah ancaman.

__ADS_1


__ADS_2