
Gibran kembali ke kamar Vania, di sana masih ada dokter Nathan. laki-laki itu berdiri saat Gibran masuk ke dalam.
"aku harus pulang, nanti aku akan datang lagi untuk memeriksa keadaannya" ucap Nathan
"pergilah dan jangan datang malam ini, besok saja" ucap Gibran
Nathan mengangguk kemudian mengambil tasnya dan meninggalkan tempat itu. sementara Gibran menghubungi seseorang.
Gibran
persiapkan orang-orang kita, ada tugas dari bos
suruhan
baik
"apa aku harus menunggu saja di sini sendirian...?" tanya Furqon, saat ini mereka akan membawa Deva untuk pulang
"lalu kamu mau kami temani dan Gibran datang menghajar kita di sini" timpal Pram
"ya bukan begitu" Furqon menggaruk-garuk kepalanya
"paman, aku bilang aku baik-baik saja, kenapa masih tetap membawaku pulang" ucap Deva yang kini telah sadarkan diri
"peranmu akan digantikan oleh tuan muda Dirga dan tuan muda El-Syakir" jawab Randi
"keduanya dikenali oleh Baharuddin, bagaimana bisa mereka yang akan mengambil peran. nggak aku nggak mau, bukannya kit sudah sepakat kalau aku yang akan mendekati mereka bersama kak Furqon" Deva menggeleng tidak ingin dipulangkan
"tuan muda Dirga mengkhawatirkan mu, makanya itu kamu akan diberhentikan dan mereka yang akan mengambil alih. tenang saja, kita akan pantau terus mereka dari jarak dekat" Helmi meyakinkan Deva
"percaya saja kepada mereka, mereka tidak akan segampang itu dikenali jika sang ratu Sundari sudah ikut campur" Ardi berbisik di telinga Deva
"hei, ngapain kalian bisik-bisik" Randi memicingkan mata ke arah Ardi dan Deva
"kak Ardi menggodaku ingin memperkenalkan aku kepada seorang gadis" ucap Deva
"hei...sejak kapan aku bilang begitu" Ardi protes dengan pernyataan Deva sementara Deva cengengesan dan mengedip-ngedipkan matanya
"helleh, gadis darimana.... dikenalkan sama orang tua saja dirinya langsung kabur" Furqon mengejek Ardi
"ck, nggak usah buka kartu juga kali Fur" Ardi mencebik
mereka segera akan membawa Deva ke dalam mobil namun Furqon langsung geregetan saat melihat mobil Gibran mulai terlihat mendekat ke arah mereka.
"mampus mampus, itu dia datang" Furqon loncat-loncat menunjuk mobil Gibran
"haduh bagaimana ini" Pram kelimpungan
"angkat dia, cepat" perintah Randi
Ardi dan Randi mengangkat Deva buru-buru masuk ke dalam rumah. mereka mencari jalan keluar di belakang. untungnya ada pintu keluar yang ada di dapur. segera mereka keluar lewat pintu itu dan menjauh dari rumah Gibran.
Furqon celingukan terus melihat ke arah dalam, takut mereka semua belum juga pergi.
piiiiiip
"astaghfirullah" Furqon melompat karena terkejut, Gibran menyalakan klakson mobilnya
Gibran keluar dari mobil dan mendekati Furqon.
"sedang apa kamu di sini...?" tanya Gibran
"emm... olahraga, iya olahraga" Furqon memperagakan gerakan yang sedang berolahraga
"olahraga siang-siang begini, sepertinya kamu tidak waras" Gibran masuk ke dalam rumah
"eeeh tunggu" Furqon menghalangi jalan Gibran
"kenapa...?"
"bagaimana, apakah kamu sudah mencari tau dimana tempat tinggal Zidan Sanjaya itu...?" tanya Furqon
"siapa kamu beraninya menyuruhku" Gibran menjawab dingin dan mendorong pelan bahu Furqon agar bergeser dari posisinya
"aku kan hanya bertanya" Furqon merasa lega karena semua temannya telah meninggalkan tempat itu
"kamu ingin balas dendam kepada Zidan Sanjaya bukan...?" Gibran duduk di sofa
"iya, itu memang tujuanku" jawab Furqon
"kalau begitu malam ini, kamu ikut aku"
"kemana...?"
"ke tempat tujuanmu akan tercapai"
perasaan Furqon mulai tidak enak, dirinya mulai menduga-duga.
"adik aku bisa ikut kan...?"
"anak laki-laki yang membawa makanan tadi...?"
"iya, aku ingin dia ikut. bagaimana...?"
"apa dia punya tujuan sama denganmu...?"
"kami saudara, tujuan kami sama"
"baiklah, dia boleh ikut dan dimana dia sekarang"
__ADS_1
"dia aku suruh pulang bersama temanku tadi untuk membawanya ke rumah sakit" jawab Furqon
"aku menghubungi seseorang untuk datang menjemput mereka dan membawa temanku itu ke rumah sakit. dia tidak kuat menahan sakit makanya aku ambil tindakan" lanjut Furqon
Gibran manggut-manggut dan kemudian berdiri.
"ikut aku"
"kemana...?"
"ikut saja"
Gibran dan Furqon masuk ke dalam mobil dan meninggalkan tempat itu. sementara Randi, segera menyalakan mesin mobilnya dan mengikuti mobil Gibran.
"mereka akan kemana...?" tanya Randi
"apakah mereka akan bertemu Baharuddin...?" timpal Pram
mobil Gibran berhenti di sebuah tempat yang jauh dari keramaian, tempat itu seperti tidak terurus saat dilihat dari luar. namun saat masuk ke dalam, Furqon terperangah. kondisi di luar dan di dalam sangat jauh berbeda.
mobil para pengawal Sanjaya grup tidak dapat masuk ke dalam, mereka memarkirkan mobil di tempat yang tidak terlihat oleh orang-orang yang berjaga di luar tempat itu.
"sepertinya ini markas mereka" ucap Deva
"Furqon, apa di dalam banyak orang...?" Helmi bertanya
"banyak, ini sepertinya markas mereka" Furqon menjawab dengan sangat pelan
Gibran mengumpulkan semua orang-orang yang dibayar oleh Baharuddin saat itu juga. ratusan orang berdiri dan berkumpul di ruangan yang luas tersebut.
"kalian tau kan apa yang akan kalian lakukan malam ini...?" tanya Gibran
"tau bos" jawab mereka semua
"sebelum kita beraksi, aku akan memperkenalkan seseorang kepada kalian semua. dia adalah Abimana Aryasatya, dirinya akan membantu kita dalam melakukan misi kali ini" Gibran memperkenalkan Furqon kepada orang-orang itu
"misi...?" ucap Ardi
"perasaanku kenapa mulai tidak enak" ucap Pram
"kita kembali saja ke rumah, aku juga merasa akan terjadi sesuatu" Helmi menutup laptopnya
Randi segera kembali menyalakan mesin mobilnya dan meninggalkan tempat itu menuju ke kediaman keluarga Sanjaya.
"Abimana dan adiknya, akan bergabung bersama kita" ucap Gibran
"memangnya kita akan melakukan misi apa...?" Furqon pura-pura tidak begitu paham
"kamu akan tau nanti" ucap Gibran
setelah memperkenalkan Furqon kepada orang-orang itu, Gibran dan Furqon melangkah keluar dari tempat itu.
"mengantarmu bertemu orang yang kamu cari" jawab Furqon
mobil Gibran saat itu menuju ke arah kota, berjam-jam berada di dalam mobil kini mereka tiba di rumah sakit terbesar di kota itu. Gibran turun dari mobil begitu juga dengan Furqon.
keduanya masuk ke dalam dan berhenti di ruang ICU dimana ada empat orang yang berjaga di luar.
(ini kan ruangan tempat Zidan dirawat, aduh...kenapa dia bawa aku ke sini) Furqon menggaruk kepalanya
"kenapa...?" tanya Gibran saat melihat Furqon gelisah
"kenapa kita datang di rumah sakit...?" Furqon balik bertanya, dia berusia tetap tenang walau sebenarnya saat ini dirinya mulai was-was
"kamu tau, di dalam sana adalah seseorang yang kamu cari untuk balas dendam. saat ini dia terbaring koma di dalam ruangan"
"a-apa...?" Furqon memperlihatkan wajahnya yang terkejut
Gibran menatap intens tingkah laku Furqon hingga kemudian ia tersenyum tipis.
"kamu senang...?" tanya Gibran
(tentu saja aku tidak senang, aku malah sangat merasa kasihan dengan keadaan Zidan saat ini) Furqon menatap nanar pintu ruang ICU
"kenapa dengan ekspresi wajahmu itu, sepertinya kamu tidak senang mendengar musuhmu dalam keadaan tidak berdaya"
"mana mungkin, aku malah sangat senang. itu artinya aku tidak perlu susah payah untuk menghabisinya bukan" ucap Furqon memperlihatkan ekspresi wajahnya yang terlihat ceria
"kamu harus melakukan sesuatu agar dendammu tersalurkan"
"maksudnya...?"
"masuk ke dalam sana dan suntikan cairan ini ke dalam infus Zidan" Gibran memperlihatkan botol kecil berisi air
"kamu menyuruh ku untuk membunuhnya...?"
"kenapa, bukannya kamu ingin balas dendam dan menginginkan dia mati"
gleg....
tenggorokan Furqon terasa tercekat, dadanya bergemuruh. kalau bukan sedang dalam penyamaran mungkin saat ini dirinya sudah menghajar habis-habisan laki-laki yang bersamanya saat ini.
tiba-tiba Gibran menarik Furqon untuk menempel di dinding, rupanya mereka sedang bersembunyi saat salah seorang dokter baru saja keluar dari ruang ICU tersebut.
"masuk dan suntikan cairan ini ke infus Zidan" Gibran memberikan botol kecil itu ke tangan Furqon
"bagaimana caranya aku bisa masuk...?"
"pakai ini" Gibran rupanya telah menyediakan perlengkapan untuk menyamar untuk Furqon
__ADS_1
(astaga, apa yang harus aku lakukan) Furqon mulai frustasi
"pakai dan masuk ke dalam, cepatlah sebelum semuanya terlambat" Gibran mendesak Furqon
Furqon memakai jas putih tersebut kemudian ia memakai masker. berulang kali dirinya menarik nafas. Gibran mengambil hp milik Furqon dan mencatat nomor telepon laki-laki itu. setelah itu ia menyuruh Furqon untuk segera pergi.
"cepat pergi, ingat suntikan di kantung infus setelah itu cepat keluar" Gibran mendorong Furqon
perlahan Furqon melangkah mendekati ruang ICU dimana para pengawal Sanjaya grup sedang berjaga di depan ruangan itu.
"Helmi, Randi, Pram Ardi, kenapa dari tadi kalian hanya diam saja" ucap Furqon dengan pelan
"mereka kemana sih, aduh apa yang harus aku lakukan kalau begini"
Furqon maju semakin dekat dengan ruang ICU, saat hendak membuka pintu, dirinya ditahan oleh salah satu pengawal.
"bukannya tadi baru saja ada dokter yang memeriksa pasien, kenapa sekarang harus diperiksa lagi" ucap pengawal itu
"saya di suruh dokter tadi untuk memeriksa tekanan darahnya, karena dokter tadi sedang terburu-buru sehingga tidak sempat memeriksanya" ucap Furqon yang menekan suaranya
(dasar bodoh, orang koma kenapa malah memeriksa tekanan darah) Furqon merukuti dirinya
"bisa tunjukkan identitas Anda...?"
Furqon memperlihatkan tanda pengenalnya sebagai seorang dokter kemudian pengawal itu membiarkannya masuk ke dalam.
di dalam Zidan masih terbaring lemah. berkali-kali Furqon memanggil keempat rekannya namun tidak ada yang meresponnya.
"kalau sampai ini racun, bagaimana" Furqon frustasi sendiri
drrrttt... drrrttt
nomor yang tidak ia kenal sedang mengubunginya. Furqon mengangkat panggilan itu.
08xxx
sudah kamu lakukan
Furqon
apakah ini kamu
08xxx
cepat lakukan dan segera keluar
Furqon
baiklah
08xxx
aku melihat apa yang kamu lakukan di dalam, cepat suntikan cairan itu ke kantung infusnya dan segera keluar dari tempat itu
(heh, dia mengawasi aku... bagaimana bisa) batin Furqon
08xxx
ayo cepat
Furqon
iya iya
Furqon mendekati kantung infus milik Zidan dan mulai menyuntikkan cairan itu kedalam infus Zidan. setelah itu ia keluar dari ruangan itu dan menghampiri Gibran yang sedang menunggunya di lobi rumah sakit.
"apa tadi itu adalah racun...?" tanya Furqon, dirinya begitu menyesal telah melakukan kejahatan yang membahayakan nyawa Zidan
"kita pergi" Gibran tidak menjawab pertanyaan Furqon
Furqon mengirimkan gambar botol kecil itu ke nomor Helmi dan menyuruhnya untuk mencari tau cairan obat apa itu. kemudian ia menghubungi pengawal yang menjaga Zidan tadi untuk memberitahu dokter yang menangani Zidan agar memeriksa keadaan bos mereka tersebut.
sementara keempat pengawal Sanjaya grup baru saja tiba di rumah besar Sanjaya. mereka segera masuk ke dalam dan bertemu dengan ayah Adnan.
"apa kalian melihat Dirga, Alana dan El-Syakir...? mereka tidak kelihatan sejak tadi" ayah Adnan bertanya saat melihat keempat pengawal itu
"mereka ditempat yang aman, ada yang harus kami beritahu pak" ucap Randi
"ada apa, kenapa wajah kalian terlihat panik seperti itu...?" ayah Adnan menatap mereka satu persatu
"pak, entah ini benar atau tidak tapi kami merasa akan terjadi sesuatu nantinya. jadi kami meminta agar pak Adnan dan yang lainnya bersembunyi di tempat yang aman" ucap Helmi
"apa Baharuddin berulah lagi...?" tanya ayah Adnan
"dia akan terus melakukan kekacauan sebelum keinginannya tercapai. sekarang sebaiknya, bapak dan yang lainnya bersembunyi di tempat yang aman. kami akan mengantar kalian semua ke tempat persembunyian" ucap Pram Helmi
tanpa berpikir panjang semua penghuni rumah besar itu, diarahkan untuk ke tempat persembunyian yang tidak ada seorangpun yang tau kecuali Zidan dan para pengawalnya itu.
"sayang, ada apa...?" Sisil bertanya kepada Helmi
"kalian harus bersembunyi dulu yang" Helmi memeluk istrinya
"pah, apa akan terjadi sesuatu yang berbahaya...?" tanya Azam kepada Helmi
"semuanya akan baik-baik saja sayang, tolong jaga mamamu ya. papa harus melakukan sesuatu dulu" Helmi merangkul Azam dan memeluknya bersama dengan istrinya
"sayang, kenapa kita harus bersembunyi...?" Mita bertanya kepada Pram
"berjaga-jaga sayang" Pram memeluk istrinya itu
__ADS_1
semua penghuni rumah di bawa ke ruangan rahasia para pengawal itu. Deva yang juga akan dibawa ke ruang itu menolak dan tidak ingin ikut. dirinya lebih memilih bergabung bersama para pengawal itu untuk menghadapi sesuatu yang buruk yang akan terjadi.