Petualangan Mistis

Petualangan Mistis
Episode 78


__ADS_3

"ssssttt...jangan keras-keras tertawanya, nanti Dian terganggu" Bara menyimpan jari telunjuknya di bibirnya


waktu menunjukkan pukul 14.00, masih ada 1 jam lagi menuju waktu ashar. ketiga remaja itu memilih untuk tidur agar bangun nanti tenaga mereka bertambah.


Adam melayang keluar dari tenda untuk mencari El-Syakir. matanya melihat sekelilingnya namun tidak dilihatnya remaja itu. Adam melayang menuju sungai, di sana ia melihat El-Syakir sedang duduk di sebuah kayu dan melempar batu ke dalam sungai.


"sedang apa di sini...?" tanya Adam duduk di samping El


"nggak ngapa-ngapain" jawabnya singkat


"kamu kesal...?"


"nggak, mau kesal karena apa" El-Syakir terus melempar batu ke sungai


"lalu kenapa wajahmu kusut begitu seperti baju yang nggak pernah di setrika" ledek Adam


"wajahku memang seperti ini, kusut tapi tetap terlihat tampan" jawab El dengan dingin


Adam merasa ada yang berubah dari sikap remaja itu, padahal tadi semuanya baik-baik saja.


"kamu nggak seperti biasanya. apa aku punya salah...?" Adam menatap El


"nggak"


Adam menghela nafas dan mengambil batu kecil dari tangan El-Syakir dan melemparnya jauh ke air sungai yang jernih itu.


"kalau aku punya salah maka katakan. sesuatu yang dipendam tidak baik untuk hati dan pikiran. kenapa aku katakan demikian karena dari pikiran, perasaan kita merespon. kalau yang kita pikir baik maka hati akan tenang namun kalau yang kita pikirkan negatif maka hati merasa gelisah, terkadang marah, kesal dan jengkel dengan sesuatu"


"katakan padaku, apa aku punya salah. karena aku tidak bisa membaca isi kepalamu" kembali Adam menatap El


El masih saja terdiam tanpa menjawab pertanyaan hantu itu. rasa cemburunya melihat kedekatan Bara dan Adam membuat dirinya kesal dan marah namun ia tidak dapat mengekspresikan semua itu karena pikirnya itu semua berlebihan, namun entah mengapa dia tidak suka dengan apa yang dilihatnya tadi.


"kamu marah karena aku nggak ajak kamu jalan-jalan ke pantai.. ?"


"nggak, untuk apa marah. elu bisa pergi tanpa gue sekalipun. bahkan kalau elu berdua saja dengan Bara gue nggak peduli" jawabnya ketus


kini Adam mengerti apa yang membuat remaja itu jutek padanya. senyuman terukir di bibirnya dan menatap El yang masih enggan melihat wajahnya.


"aku seperti laki-laki yang telah membuat pacarku marah dan cemburu karena dekat dengan gadis lain"


"apa hubungannya coba" cebik El


"kamu cemburu kepada Bara..?"


"ck, iya kali. gue masih normal ya" elak El padahal memang dirinya cemburu kepada Bara


"harus kamu tau El-Syakir. hari pertama dimana kita bertemu dan berteman maka hari itu juga kamu adalah orang terpenting dalam hidupku. siapapun itu, entah Bara atau siapa saja, nggak akan pernah bisa menggantikan posisimu sebagai orang sangat penting dalam hidupku. kamu tau alasannya apa, karena kamu adalah......"


"apa...?" kali ini El-Syakir mengangkat wajahnya dan menatap Adam


"seseorang yang akan aku lindungi bahkan jika aku mati untuk kedua kalinya" jawab Adam tersenyum


"sepenting itu, padahal gue bukan siapa-siapa elu"


"jadi kamu menganggap aku bukan siapa-siapa dan tidak penting bagimu...?" Adam menatap dalam mata El-Syakir


"b-bukan seperti itu" El merukuti dirinya sendiri yang telah salah dalam bicara


"sudahlah, lupakan" Adam melayang meninggalkan El yang terpaku dalam perasaan bersalah


namun sebelum benar-benar pergi, Adam berhenti dan berbalik melihat El yang juga sedang menatapnya.


"satu hal yang harus kamu tau, kalian semua adalah orang-orang yang sangat aku sayangi tapi tidak melebihi rasa sayangku kepadamu, karena kamu adalah teman sekaligus.....adikku" ucap Adam kemudian berbalik meninggalkan El-Syakir yang mematung di tempatnya


cemburu terkadang membuat kita lupa bahwa apa yang kita lihat tidak seperti pada kenyataannya, sehingga membuat siapa saja salah paham. cemburu bukan hanya tentang perasaan cinta kepada lawan jenis tapi cemburu juga bisa terjadi dalam persaudaraan dan persahabatan. saat kita melihat sahabat kita lebih dekat dengan seseorang teman yang lain, tentu membuat kita kesal dan merasa marah padahal mungkin mereka hanya dekat biasa saja tidak seperti kedekatan kita kepadanya. itu semua aku pernah merasakannya.


pukul 15.00, semuanya bersiap untuk sholat ashar. Dian telah sadar dari pingsannya, gadis itu dibawa ke tenda mereka untuk beristirahat lebih lama karena tenaganya masih lemah setelah tadi dirinya kerasukan.


"Adam kok nggak keliatan" ucap Vino saat mereka selesai melaksanakan sholat ashar dan akan bersiap masuk ke hutan mencari kayu bakar


"iya ya, pas bangun tidur sampai sekarang dirinya belum nongol juga. kemana tuh hantu" timpal Leo


"jalan-jalan mungkin, cari teman hantu yang lain" timpal starla


El merasa tidak tenang. karena ucapannya tadi sepertinya hantu itu pergi dan belum memunculkan diri. ia melihat sekelilingnya bahkan di atas pohon namun tidak dilihatnya batang hidung hantu itu.


(gue salah. elu kemana sih) batin El yang mulai resah


pak Lisman dan pak Ali mengarahkan semua peserta kemah untuk masuk ke dalam hutan mencari kayu yang akan digunakan untuk pembakaran api unggun.


dikawanan tim samudera, Nisda tidak diizinkan Bara untuk ikut mencari kayu, gadis itu disuruh menunggu di dalam tenda.


"tapi gue mau ikut" ucap Nisda merengek


"gue bilang nggak ya nggak. gue kepikiran dengan perkataan Dian waktu dia kesurupan tadi. pokoknya kamu harus di tenda dan jangan kemana-mana" ucap Bara


"benar kata Bara Nis, sebaiknya elu di tenda saja" timpal starla


"kamu sengaja ya nggak izinin aku ikut dengan alasan khawatir padahal kamu mau bertemu dengan Nabila. iya kan" tuduh Nisda kepada Bara


"Nis, aku nggak mau berdebat" ucap Bara


"kamu memang nggak mau berdebat sama aku karena waktu mu akan terbuang sia-sia dan tidak bisa berlama-lama bertemu dengan cewek itu kan"

__ADS_1


"jangan ngawur deh. lagian kalau aku ketemu dia memangnya kenapa, nggak ada salahnya juga kan. hanya bertemu dan nggak ngapa-ngapain" ucap Bara


"kamu suka sama dia...?" Nisda mulai terpancing emosi


"Nis, gue nggak mau bertengkar untuk hal yang sepele" timpal Bara yang mulai kesal


"aku tanya sama kamu. kamu suka sama dia...?" Nisda mulai meninggikan suaranya


bukannya menjawab Bara langsung melangkah meninggalkan mereka menyusul peserta kemah lainnya namun baru beberapa langkah Nisda menahannya.


"kenapa nggak mau jawab aku. kalau nggak jawab berarti benar apa yang aku katakan"


"cukup Nisda" bentak Bara dengan suara keras membuat gadis itu tersentak kaget karena baru kali ini Bara membentaknya selama mereka pacaran


"memangnya kenapa kalau gue bertemu Nabila, ada yang salah dan apa urusannya denganmu. gue nggak ngerti tau nggak apa yang ada dalam pikiran elu. bukannya kemarin-kemarin elu nggak keberatan gue dekat dengan siapa saja bahkan elu menyuruh gue untuk mencari cewek lain. sekarang kenapa malah elu marah saat cewek lain dekatin gue" nafas Bara memburu menahan emosi. bahkan panggilan aku kamu tidak diberlakukan lagi saat itu


Nisda mematung dengan mata yang berkaca-kaca. ia sadari apa yang dikatakan Bara memang benar dan sekarang ia menyesali itu semua.


El-Syakir menghampiri Bara dan membawanya pergi menjauh. starla mendekati Nisda dan memberikan pengertian pada gadis itu.


"Nisda, semua ini buat kebaikan elu. nurut aja ya, kami nggak mau terjadi sesuatu sama elu" starla mengelus lengannya


"ya sudah, gue nggak pergi" dengan terpaksa Nisda mengalah


tim samudera mulai menyusul yang lainnya masuk ke dalam hutan. Nisda yang tidak melakukan pekerjaan apapun pergi ke tenda dapur umum untuk membantu kakak pembina memasak makan malam nanti. namun sebelum pergi ia melihat kondisi Dian apakah bisa ditinggalkan atau tidak.


"Di, elu udah baikan...?" tanya Nisda duduk di samping Dian


"masih lemas, tapi udah jauh lebih baik kok" jawab Dian


"gue mau ke tenda dapur, bantu-bantu masak. elu nggak apa-apa gue tinggal...?"


"nggak apa-apa, gue mau tiduran aja"


"ya udah, gue pergi dulu ya" Nisda memperbaiki selimut yang menyelimuti tubuh Dian dan keluar dari tenda menuju tenda dapur


semua peserta kemah terkecuali Nisda dan yang bertugas menyiapkan makan malam, mereka mulai mencari kayu bakar.


"kamu jangan jauh-jauh, tetap di samping ku" ucap Vino kepada starla


"bucin banget sih lu" ejek Leo


"mending bucin daripada jomblo" balas Vino membuat Leo mencebik kesal


"hahahaha, kena skak mat lu" Bara tertawa melihat raut kesal wajah Leo


"kampret lu" Leo melemparkan ranting kayu kecil ke arah Bara dengan sigap ia menghindar


"Bara, elu udah putus beneran dengan Nisda...?" tanya starla. gadis itu benar-benar penasaran dengan status kedua temannya itu


"elu putusin Nisda....?" tanya Leo


"mungkin itu yang terbaik. gue nggak mungkin kan terus paksa dia untuk tetap bersama sementara dia mengharapkan cowok lain" ucap Bara tersenyum kecut


Leo dan El saling pandang dan melihat Vino yang mendengar tapi pura-pura tidak peduli. starla menghela nafas dan melanjutkan pencarian kayu bakar.


"putus dengan pasangan itu hal biasa. enjoy aja lagi. liat gue dan Leo, meski jomblo tapi tetap senang jalani hidup. iya kan Le" ucap El merengkuh pundak Bara


"yupz....thats right" jawab Leo


"eh nggak gitu ya konsep dalam hidup Leo. dia itu diam-diam suka sama gadis, adik teman sen....mmmmm" belum Vino menyelesaikan ucapannya, Leo bergerak cepat membekap mulutnya


"suka sama gadis adik teman siapa...?" tanya El


"jangan dengerin Vino, dia memang suka ngaco kalau bicara" ucap Leo yang masih membekap mulut Vino


"jangan buka kartu juga kali Vin, bisa disleding sama El nanti gue. elu mah suka gitu sama sahabat sendiri" bisik Leo melepaskan tangannya dari mulut Vino


"uang tutup mulut dulu, kalau nggak gue perlihatkan sama El foto mesra elu sama adiknya yang lagi tidur berdua sambil berpelukan" Vino menaik turunkan alisnya


"elu ngambil gambar kami. hapus nggak, itu kan kejadian tak terduga"


"enak aja, itu bakal gue jadikan foto paling bersejarah dalam handphone gue"


"kalian bahas apa sih, foto siapa...?" tanya starla menatap keduanya


"foto.....foto masa kecil gue La, yang masih ingusan" jawab Leo


"benaran, kalian nggak bohong...?" tatapan starla menelisik keduanya


"benar yank. lanjut lagi yuk cari kayu bakarnya" Vino memegang tangan starla


"ingat ya, uang tutup mulut. kalau nggak, tamat riwayatmu Le" bisik Vino di telinga Leo


(mampus gue.....si Vino mah nggak bisa jaga rahasia) batin Leo was was


Leo yang sedang melamun memikirkan nasibnya nanti dikejutkan oleh Adam yang datang dengan tiba-tiba.


"baaaaaa"


"aaaaaaaa"


plaaaaak

__ADS_1


dugh


"aduuuhh"


karena kaget, refleks Leo menampar Adam namun dirinya pun kena sial. saat berbalik kepelanya terbentur pohon dan ia jatuh ke tanah.


peserta kemah yang lain terheran heran melihat Leo yang tiba-tiba saja berteriak dan menabrak pohon besar di depannya saat ia berbalik untuk melarikan diri.


"kenapa lu Le teriak gitu, kayak orang lihat setan aja" tanya salah satu siswa dan kemudian tertawa melihat tingkah Leo


Leo bangun dengan mata yang ia sipitkan ke arah Adam. hantu itu mengelus pipinya yang terkena tamparan. El terlihat senang, Adam akhirnya kembali juga.


"aduuuhh, habis sudah ketampanan ku" ucap Adam cemberut


"satu sama lah. lihat nih jidat gue, sakit tau. elu datang kayak setan aja" kesal Leo mengelus jidatnya


"dia kan memang setan" timpal Vino


"habis aku melihat kamu sedang melamun. apa yang kamu pikirkan, mikirin utang ya...?" ucap Adam


"ck, gue nggak punya utang. kayak nggak punya duit aja mau ngutang. gue cuman....."


"dia lagi mikirin seseorang yang jauh di sana" timpal Vino


"ohooooo....kamu sedang jatuh tangga rupanya" ucap Adam manggut-manggut


"jatuh cinta. jatuh dari tangga mah sakit langsung nangis kejer" timpal Bara


"jatuh cinta juga sakit tau. apalagi pas lagi sayang-sayangnya eh malah di tinggal" timpal Adam mengambil kayu bakar El dan mengikatnya dengan tali rabutan


El tersenyum, ternyata hantu itu masih peduli padanya dan sama sekali tidak menunjukkan wajah yang tidak bersahabat.


"elu kayak pernah jatuh cinta aja" ucap El duduk di samping Adam.


karena merasa sudah cukup dengan kayu yang mereka dapatkan, mereka membuat lingkaran dan beristirahat sejenak. masih ada peserta kemah lainnya yang masih mencari karena kayu yang mereka dapatkan belum terlalu banyak.


"aku kan normal, jatuh cinta mah hal biasa. tapi sayangnya malah diputuskan di pinggir jalan. untung nggak putus di tengah jalan, kalau di tengah jalan bisa metong aku ditabrak mobil" celetuk Adam dan itu membuat starla terkekeh karena lucu


"kasian sekali dirimu" ejek Leo


"pasti diputusin sama kak Melani ya karena waktu itu dia lebih memilih kak Nathan daripada kakak" ucap Bara


"sampai kakak nangis-nangis ditinggalin" ejek Bara


"siapa bilang, nggak ya. itu mah Fatonah namanya" jawab Adam


"Fatonah...?" semuanya mengernyitkan kening


"fitnah" ralat Bara dan semuanya manggut-manggut


"aku nangis karena Kity ninggalin aku, padahal waktu itu aku lagi sayang banget sama dia" ucap Adam


"haduuuuh. nggak Melani nggak Kity, elu ditinggal Mulu. kasian sekali hidupmu. kali ini Kity ninggalin elu di pinggir jalan atau dimana...?" tanya Vino yang penasaran


"di kamar" jawab Adam pelan


"what....?" semuanya menganga saling pandang


"oh my God oh emji helloooo" Vino menutup mulutnya


"Kity siapa sih kak. kok aku nggak pernah dengar ya kalau kakak dekat dengan yang namanya Kity" ucap Bara menggaruk kepala


"ngapain kalian di dalam kamar, berdua lagi" tanya El curiga


"apa kalian ekhem ekhem terus setelah itu habis manis sepah dibuang. Kity ninggalin elu setelah kalian......"


"kalian kissing kissing, cupika cupiki, terus main senggol senggolan. iya dam, begitu dam. benar nggak, ngaku nggak" Vino mulai kepo dan menggoyang lengan hantu itu


"bukan hanya kissing kissing, tiap hari aku tidur terus sama dia kok. satu selimut berdua" jawab Adam


"dasar hantu mesum" cebik starla


"haaaah, berarti sekarang elu udah nggak perjaka Ting Ting lagi dong" ucap Leo


"sekate kate kalau ngomong. siapa bilang, aku masih original ya. masih dibungkus rapi dan tersegel" jawab Adam ketus


"lah tadi kan elu bilang sudah tidur sama Kity" ucap Vino


"iya emang" jawab Adam santai


El nampak berpikir dan kemudian menanyakan perihal tentang Kity.


"emang Kity itu siapa sih...?" tanya El


"kucing manisnya aku, si Kity Pretty" jawab Adam polos


"ya salaaaaam"


"****"


"uhuk uhuk"


"kampreeeeeeet....gue kira Kity siapa"

__ADS_1


semuanya menepuk jidat telah salah paham dengan cerita hantu Adam. Adam hanya cengengesan saat mereka semua menatapnya dengan kesal.


__ADS_2