Petualangan Mistis

Petualangan Mistis
Episode 89


__ADS_3

"Nisda kenapa...?" tanya Nabila


"nggak kenapa-kenapa" jawab Bara melihat Nisda duduk di bawa pohon bersama Adam yang sedang bersembunyi di balik pohon


Adam mengintip Nisda dan melayang mendekat duduk di sampingnya. pandangan gadis itu lurus ke depan dan sesekali melempar batu kecil.


"jangan terlalu fokus di tempat. semua orang punya masa lalu, terima keputusan yang telah kamu buat sendiri. ada konsekuensi dari apa yang telah kita lakukan" ucap Adam


Nisda melihat Bara yang sedang tertawa bersama Nabila. remaja itu sepertinya sangat terlihat bahagia bersama kakak kelas mereka itu.


(semuanya telah hilang, aku benar-benar kehilangan kamu) batin Nisda kembali menatap ke depan


"pegang devinisi kalau jodoh takkan kemana" ucap Adam


Nisda menatap hantu itu yang juga sedang menatapnya. Adam tersenyum dan menepuk pundak Nisda untuk memberikan semangat.


mereka mulai bercerita tentang segala hal dan Nisda mulai melupakan kesedihannya karena tingkah Adam yang konyol dan berlebihan. Bara melihat keduanya, Nisda tertawa lepas atas tingkah Adam. hantu itu memang ada saja tingkah lakunya yang membuat orang hanya geleng-geleng kepala dan kadang juga emosi bercampur gemes ingin menjitak kening hantu itu.


"masih ingat apa yang aku katakan saat di perkemahan...?" tanya Adam


"bermain elegan" jawab Nisda


"iya betul. tetap bersikap tenang dan jangan tampakkan kelemahan mu di depan lawan. ingat wanita itu akan terlihat bernilai di mata laki-laki kalau dia bisa menjaga harga diri, sikap dan santunnya kepada orang lain" ucap Adam


"lihat Nabila" Adam menunjuk gadis yang bergabung dengan tim samudera dan Nisda mengikuti arah telunjuk Adam


"dia gadis manis, cantik, tapi satu hal yang tidak aku suka darinya"


"apa itu...?" Nisda menatap Adam


"dia terlalu terang-terangan menunjukkan sikap sukanya bahkan sudah berlebihan dengan sikapnya yang sekarang. coba lihat"


Nisda kembali melihat ke arah Nabila yang kini bahkan sudah duduk berdempetan dengan Bara, padahal di samping kanannya masih sangat luas untuk ia duduki. karena bangku yang di kantin adalah bangku panjang dan meja yang panjang.


"paham kan maksud aku wanita seperti apa yang bernilai di mata laki-laki" Adam menatap Nisda


"iya, gue paham" ucap Nisda mengangguk


bel jam kedua berbunyi, tim samudera berpisah untuk ke kelas masing-masing. Adam duduk di jendela di samping Vino dan El yang sedang mengikuti pelajaran dari guru yang ada di depan.


"1di tambah 1 sama dengan 11" Adam bernyanyi


"heh... mana ada 1+1\=11" ucap Vino pelan agar tidak didengar oleh pak Lisman


"suka suka aku lah. lagian ya 1+1 memang jawabannya 11 kok. 1 + 1 kalau digabung kan jadinya 11" jawab Adam tidak ingin kalah


"bahluuuuuul" Vino menyoyor kepala hantu itu karena gemas dengan jawabannya


"ish... jangan digeplak palaku. nanti kalau aku Insomnia lagi kek mana" Adam cemberut kesal


"lagian elu, perhitungan aja nggak tau. itu kepala isinya apaan sih" cebik Vino


"isinya melati melati dan melati. eh melati aku tadi mana" Adam mulai sadar kalau melatinya tadi ia lupa di kantin akibat di kejar Nisda


"udah gue buang" timpal Leo yang duduk di depan mereka


Adam menatap Leo degan sengit dan sedetik kemudian


"huwaaaaaaaaa"


El, Vino dan Leo menutup telinga karena hantu itu sudah melakukan paduan suara yang membuat telinga mereka sakit.


"Leo jahat ih. aku sebel sebel sebel" Adam kini mulai merajuk


"lah gue pikir elu udah nggak mau lagi" Leo membela diri


"tapi jangan dibuang juga. ish kesal aku, sebel aku, aku ngambek nih" Adam mulai bertingkah


"jangan berisik kak" El mengingatkan


"ngambek aja, nggak urus" ucap Leo santai


1


2


3


"huwaaaaaaaaaaa.... huwaaaaaaaaaaaa" Adam teriak histeris dan meraung di jendela membuat jendela itu berbunyi dan semua yang ada di kelas melihat ke arah El dan Vino karena mereka berdua yang duduk tepat di dekat jendela


"apa yang kalian lakukan El, Vino...?" tanya pak Lisman melihat ke arah dua siswanya itu


"melati aku di buang pak" bukan kedua remaja itu yang menjawab melainkan Adam yang sudah berurai air mata, entah air mata buaya atau air mata kadal


"El-Syakir, Vino Erlangga" panggil pak Lisman karena keduanya tidak menjawab pertanyaan


"kodok melompat pak" jawab Vino spontan membuat seisi kelas tertawa


"maaf Pak" ucap El-Syakir karena ia tidak tau harus menjelaskan apa


"duduk yang tenang dan jangan banyak tingkah"

__ADS_1


"baik Pak" jawab El dan Vino


Vino melihat Leo yang hanya nyengir kuda, remaja itu memutar bola matanya dan kembali duduk. sementara Adam, wajah hantu itu bagai baju kusut tanpa di setrika. bahkan bibirnya maju beberapa centi.


"ngambek aja bang" Leo menggoda Adam


"huh" Adam memalingkan wajahnya


"idih..... jual mahal ni eeeee" ucap Leo


"aku nggak dijual ya, kamu kira aku laki-laki mahalan apa" cebik Adam dengan kesal


"jangan ngambek dong, pan kita tinggal pergi ambil di kebun melati" Leo membujuk hantu itu


"boleh, tapi ada syaratnya" Adam melihat ke arah Leo


"pake syarat segala ya elah"


"mau nggak, kalau nggak mau, aku mau ngambek terus sama kamu, titik nggak pakai koma apalagi tanda tanya"


"iya iya. apa syaratnya"


"suruh cium cewek dam" ucap Vino


"itu mah enak di Leo" timpal El


Adam tidak menjawab namun hantu itu tersenyum penuh arti ke arah Leo yang sedang was was karena perasaannya mulai tidak enak saat melihat Adam yang menarik turunkan alisnya.


(sepertinya gue bakalan sial nih) batin Leo


benar saja apa yang dipikirkan oleh Leo. sekarang ia dikerjai oleh Adam dengan menggendong hantu itu sampai di kebun melati. motor Leo di bawa oleh Nisda karena tidak mungkin menyimpan di sekolah.


"cepat dikit napa. lelet banget sih seperti ulat pucuk pucuk" ucap Adam


"pucuk pucuk pucuk" lanjut Adam yang berada di punggung Leo


"elu berat banget sih. bisa patah pinggang gue kalau gini" Leo berhenti dan mengangkat kembali tubuh Adam yang sudah akan jatuh


"aku bukan berat, tulang belulang kamu aja yang sudah kropos" timpal Adam


"gue bonceng aja ya kak, kasian Leo, bisa pingsan dia" El-Syakir mendekati mereka dengan motornya


"nggak mau, ini hukuman baginya. siapa suruh jadi maling kandang sama yang lebih tua" jawab Adam menggeleng


"naik motor aja ya dam. gue traktir belanja deh" ucap Leo yang mulai lelah


"benar....?" Adam memiringkan kepalanya untuk melihat wajah Leo


"iya benar" jawab Leo mulai kehabisan tenaga


"iya Adam.... iya" jawab Leo


"yeeeeiii... keo lah kalau begitu" Adam turun dari gendongan Leo di bawah pohon


Leo yang sangat lelah malah baring di bawah pohon rimbun itu. nafasnya terengah-terengah bahkan keringat membasahi baju seragamnya.


"haus" ucap Leo


"nih, minum minum" Adam memberikan air botol dan bahkan mengipas Leo dengan gardus yang ia temukan di dekatnya


"sudah adem kan" ucap Adam


(pasti ada maunya lagi nih) batin El melihat Adam begitu perhatian kepada Leo


"adem banget" ucap Leo


setelah merasa cukup untuk istirahat, Leo berdiri dan dibantu oleh Adam. hantu itu malah nempel kepada Leo, entah apa maunya.


"udah nggak capek kan...?" tanya Adam


"lumayan" jawab Leo


"udah nggak gerah kan...?" tanya Adam lagi dan Leo mengangguk


"hihihihi, kalau begitu ayuk cuslah putar haluan" ucap Adam bersemangat


"kemana...?" tanya semuanya


"ya belanja lah... kemana lagi" jawabnya enteng


El-Syakir hanya menggeleng, Leo berteriak kesal dan yang lainnya hanya menepuk jidat sementara Adam bersiul dan melayang dengan riangnya.


perjalanan ke pusat perbelanjaan, Adam berboncengan dengan El. namun di pertengahan jalan, Adam menyuruh El untuk berhenti di pinggir.


"stop El stop" Adam menepuk bahu El-Syakir


"kenapa lagi kak...?" tanya El menghentikan laju motornya begitu juga kawanan di belakang mereka


"kok berhenti...?" ucap Bara


"lihat itu...?" tunjuk Adam di sebrang jalan

__ADS_1


ada dua orang pria yang berjalan mendekati mobil hitam yang terparkir di pinggir jalan. satu pria sudah terlihat tua dan satu masih terlihat muda. mereka masuk ke dalam mobil hitam itu.


"memangnya kenapa dengan mereka...?" tanya Starla


"mereka mbah Surip dan Samsul yang aku ceritakan itu. ikuti mobil mereka" jawab Adam


tim samudera mengikuti mobil hitam mbah Surip dan Samsul. mobil hitam itu melaju dengan kecepatan sedang dan beberapa menit mereka sampai di tujuan, di rumah cat warna putih polos yang tidak terlalu besar. kedua pria itu keluar dari mobil. di depan rumah telah ada seorang wanita yang menunggu mereka.


"apa yang mereka lakukan ya...?" Nisda penasaran


"aku akan lihat ke dalam" Adam melayang masuk ke rumah itu


di rumah yang tidak begitu besar itu, hanya terdapat dua kamar tidur dan satu kamar mandi. Adam mendengar suara yang berasal dari kamar di dekat dapur. segera Adam menghampiri mereka namun masih menjaga jarak dengan mereka karena ia merasa mbah Surip bukan orang sembarangan. Adam berdiri sedikit jauh dari ketiga orang itu agar mbah Surip tidak mencium baunya.


"ini bayi yang aku maksudkan" ucap si wanita


"tampan sekali" puji Samsul melihat bayi yang baru saja lahir itu sedang tertidur pulas


"tidak perlu terpukau karena dia akan menjadi milik ratu Sri Dewi" tegur mbah Surip


"biadab, dasar manusia berwujud iblis" geram Adam


"aku tidak menginginkan bayi ini, jadi aku menjualnya kepada kalian" ucap si wanita


"berikan uangnya padanya" perintah mbah Surip


Samsul mengambil amplop coklat di tasnya dan memberikan kepada wanita itu. melihat amplop yang tebal, wanita itu begitu senang dan dengan cepat mengambilnya.


"setelah ini kami tidak ada lagi urusan denganmu. tutup mulutmu atas apa yang kita lakukan hari ini" ucap mbah Surip


"tenang saja, semuanya aman terkendali" jawab si wanita melihat takjub uang merah di dalam amplop


samsul segera menggendong bayi mungil itu dan mereka keluar dari rumah itu. Adam mengikuti kedua pria itu dan memberitahu tim samudera untuk mengikuti keduanya.


"terus kakak mau kemana...?" tanya El


"aku mau memberi pelajaran kepada wanita iblis tadi. cepat ikuti mereka nanti aku akan menyusul" jawab Adam


tim samudera segera mengikuti kembali mobil yang ditumpangi mbah Surip dan Samsul sedang Adam masuk kembali ke dalam rumah.


"hahahaha, nggak sia-sia penderitaan ku hamil sembilan bulan. terbayarkan juga dengan menjual anak sial itu" wanita tadi sedang menghitung uang yang diterimanya


"wah bisa happy happy aku dengan uang sebanyak ini" girangnya


Adam geram dengan kelakuan wanita itu. yang seharusnya ia merawat dan melindungi anak yang dilahirkannya namun malah sebaliknya, ia malah menjual buah hatinya sendiri.


"haram bagimu untuk memakan uang dari hasil kemaksiatan" ucap Adam


Adam menatap semua uang itu dan seketika uang yang tadinya berwarna merah dan menyilaukan mata kini berubah menjadi ular yang begitu banyak dan mulai melilit tangan wanita itu.


"Aaaaa... aaaaaa... ular ular ular"


wanita itu teriak histeris dan meloncat-loncat menggerakkan tangannya agar ular yang melilit tangannya itu terlepas.


karena geli dan takut, wanita itu keluar dari kamar dengan wajah pucat dan nafas ngos-ngosan.


"kurang ajar, aku ditipu oleh mereka" wanita itu mengepalkan tangannya karena amarah yang membuncah merasa di tipu oleh mbah Surip dan Samsul.


ular-ular tadi berubah kembali menjadi uang. Adam mengambil uang itu dan menghilang dari rumah itu.


tim samudera masih mengikuti mobil yang dikendarai mbah Surip dan Samsul. mobil itu melaju dan berhenti di sebuah rumah yang jauh dari keramaian bahkan hanya ada rumah itu di sekitar.


keduanya keluar dari mobil. mbah Surip menggendong bayi laki-laki itu menuju pintu rumah dan membukanya.


"datang jemput aku nanti malam" ucap mbah Surip


"baik mbah" jawab Samsul


Samsul kembali masuk ke dalam mobilnya. tim samudera menyalakan motor dan bersembunyi agar Samsul tidak melihat mereka.


"sepertinya ini rumah mbah Surip itu" ucap Vino


"iya, tapi apa yang harus kita lakukan sekarang" timpal Leo


"kita tunggu kak Dirga datang" ucap El


setengah jam menunggu, Adam datang juga. hantu itu memegang amplop yang diambilnya tadi.


"megang apa lu...?" tanya Starla


"duit. nih pegang, sumbang di masjid nanti" Adam memberikan uang itu kepada Starla


"uang darimana, nyolong ya...?" tanya Vino


"sekate kate kalau ngomong. kamu pikir aku tuyul" cebik Adam


"ada siapa di dalam...?" tanya Adam melihat rumah yang tidak jauh dari tempat persembunyian mereka


"hanya mbah Surip. nggak tau mungkin ada lagi orang lain di dalam" jawab El


"kali ini aku nggak bisa masuk tanpa bantuan kalian" ucap Adam

__ADS_1


"apa yang harus kami lakukan...?" tanya Bara


Adam mulai memberitahu mereka apa yang harus mereka lakukan agar dirinya bisa masuk ke dalam rumah dan melakukan sesuatu yang tentunya tidak boleh di ketahui oleh pemilik rumah, Mbah Surip yang bukan orang biasa.


__ADS_2