
terimakasih sebanyak-banyaknya untuk kalian yang telah memberikan support, komentar positif terhadap cerita ini. aku bukanlah apa-apa tanpa kalian yang membaca dan menyukai cerita ini.
semoga kalian tidak bosan dengan alur ceritanya dan tetap setia membaca cerita petualangan mistis.
maaf belum bisa update yang sebanyak-banyaknya karena kehidupan nyata author jauh lebih rumit dari kehidupan dunia khayalan Adam dan tim samudera.
salam sayang banyak-banyak tumpah-tumpah lumer-lumer dari author cantik Awan Biru 😊🤗😁
_______________________________________________
Nisda terkapar di tanah tidak sadarkan diri. entah apa yang dilihatnya sehingga gadis itu teriak ketakutan dan akhirnya jatuh pingsan.
"Nisda, kenapa lu" Dian yang baru saja selesai dengan hajatnya kembali namun ia tidak melihat temannya ditempat ia menunggu tadi
"yah gue ditinggal. benar-benar deh itu anak"
Dian melangkah cepat untuk kembali ke perkemahan karena sendiri di tempat itu membuatnya merinding. saat berjalan, ia melihat ke sebelah kirinya dan dirinya melihat seseorang yang terbaring di tanah tanpa bergerak sedikitpun.
"siapa tuh" Dian menyenter tubuh itu
gadis itu memberanikan diri mendekati tubuh yang terkapar itu dan saat dekat barulah ia tau kalau itu adalah Nisda.
"astaga Nisda" buru-buru Dian memangku gadis itu
"Nis, Nisda...elu kenapa" Dian memangku Nisda dan menepuk-nepuk pipinya
"Nis bangun, kok jadi pingsan gini sih"
Dian berniat kembali untuk memberitahu kepada yang lain agar membantunya mengangkat Nisda. ia tidak bisa membawa Nisda seorang diri. kekuatannya tidak sekuat itu.
Dian membaringkan lagi Nisda di tanah dan beranjak untuk memberitahu peserta kemah lainnya. namun saat berdiri ia mendengar langkah kaki menghampirinya dan berhenti tepat di belakangnya.
"s-siapa itu...?" ucap Dian yang mulai takut
tidak ada jawaban dari sosok yang ada di belakangnya. karena besarnya rasa penasaran meskipun ketakutan menyelimuti dirinya, Dian memberanikan diri berbalik untuk melihat siapa yang berdiri di belakangnya.
"aaaaaaa"
"ugh"
mata Dian melotot dengan tubuh yang kejang-kejang dan hingga akhirnya dirinya jatuh pingsan di samping Nisda.
"La, Nisda sama Dian kok belum kembali ya" ucap Indri yang merasa kedua teman mereka sudah lama pergi dan tak kunjung datang
"iya ya, ini udah setengah jam mereka pergi" jawab starla melihat jam di pergelangan tangannya
"gue khawatir, kita susul yuk"
"nggak berani gue In, ini tengah hutan bukan di kota"
materi yang mereka terima masih terus berlanjut dan sampai sekarang Dian dan Nisda belum juga kembali.
"maaf kak" Indri mengangkat tangannya
"ada apa...?" tanya salah satu laki-laki, kakak kelas mereka yang menjadi kakak pembina di tempat itu
"tadi teman kami Dian dan Nisda meminta izin untuk buang air kecil namun sampai sekarang mereka belum datang juga, sudah 1 jam lebih mereka belum juga kembali. aku khawatir kak" ucap Dian dengan perasaan khawatir
Bara yang mendengar nama Nisda disebut baru sadar kalau ternyata memang pacar atau entah mantan pacarnya itu belum kembali setelah tadi meminta izin untuk keluar.
"kita cari sekarang juga. untuk kamu, coba periksa di tenda kalian siapa tau mereka langsung ke tenda dan mungkin ketiduran" kakak pembina itu menunjuk Indri
"baik kak" jawab Indri
tiga orang pembina laki-laki bergegas keluar untuk mencari Dian dan Nisda. Bara segera beranjak untuk ikut bersama mereka.
"mau kemana...?" Leo menahan Bara
"cari Nisda, gue khawatir" jawab Bara
Leo melepas pegangannya dari lengan Bara. segera Bara keluar menyusul ketiga pembina tadi namun baru saja keluar beberapa orang ia lihat sedang menggotong dua peserta kemah perempuan.
"Nisda" Bara berlari menghampiri mereka yang sedang membaringkan tubuh dua gadis itu di tenda khusus untuk UKS
"Nis bangun. kenapa bisa seperti ini kak...?" Bara melihat kakak pembina yang membawa Dian dan starla
"kami juga nggak tau apa terjadi pada mereka berdua. saat kami temukan, mereka pingsan di dekat sungai" jawab salah satu pembina
"Riki, Wandi, ada apa ini...?" pak Lisman bersama ibu Rina menghampiri mereka
"Dian dan Nisda ditemukan pingsan di pinggir sungai pak" jawab Alan teman satu kelas Nisda
"kok bisa, kenapa sampai mereka pingsan...?" ibu Rina duduk di samping kedua gadis itu
"kami juga nggak tau Bu" jawab Wandi
ibu Rina mengambil minyak kayu putih yang ia bawa dan mengoleskan di hidung keduanya berharap mereka cepat sadar.
semuanya telah dibubarkan dan di arahkan untuk istirahat di tenda masing-masing karena waktu sudah menunjukkan pukul 11 malam.
El dan yang lain serta hantu Adam pergi melihat keadaan Dian dan Nisda yang juga belum sadarkan diri. saat tiba di dalam, Adam mencium bau busuk dan juga bau seperti dupa yang dibakar.
"kalian mencium sesuatu...?" tanya Adam
"cium apa...?" tanya El
"bau bangkai dan dupa yang dibakar" jawab Adam
"kami nggak mencium apa-apa" jawab Vino
__ADS_1
tidak ada orang lain selain mereka di tenda itu. pak Lisman dan ibu Rina telah kembali ke tenda mereka.
"apa yang terjadi, kenapa mereka malah pingsan di pinggir sungai...?" tanya Leo
"entahlah, kita tidak tau pasti sebelum mereka sadar dan menanyakan hal itu kepada mereka berdua" jawab Bara yang tidak beranjak dari sisi Nisda
(pasti terjadi sesuatu. tapi, kenapa aku tidak merasakan apapun saat mereka mengalami sesuatu yang membahayakan) batin Adam menatap Nisda dan Dian
Indri datang dan membawa nampan berisi dua gelas teh hangat. ia sengaja membuat minuman itu untuk kedua temannya yang masih dalam keadaan tidak sadar.
"belum sadar juga" tanya Indri
"belum" jawab starla
"sebaiknya kalian berdua kembali ke tenda saja dan istrahat. biar kami yang menjaga mereka berdua" ucap El
"iya, kalian kembali ke tenda saja, biar para lelaki yang berjaga" ucap Vino
"baiklah" starla dan Indri kembali ke tenda mereka
malam semakin larut, Leo dan Vino sudah terlelap sementara El dan Bara masih terjaga. Adam keluar untuk menyusuri tempat perkemahan itu. ia juga pergi ke sungai tempat dimana Nisda dan Dian pingsan. di tempat itu dirinya dapat mencium bau busuk sama seperti bau di tenda UKS tadi namun ia tidak mendapati siapapun di sana.
Nisda mulai sadar, tangannya bergerak hingga ia langsung membuka mata. Dian pun sama, kedua gadis itu sudah sadarkan diri. Bara segera meminumkan teh buatan Indri tadi yang sepertinya sudah dingin, sementara El memberi minum Indri.
"kenapa gue bisa ada di sini...?" tanya Nisda melihat itu bukan tempat terakhir ia berada
"kamu pingsan di pinggir sungai dan dibawa ke sini" jawab Bara
"pingsan....?"
"iya. ada sebenarnya, kenapa kamu bisa pingsan seperti tadi...?" tanya Bara
"aku....."
Nisda mengingat-ingat kejadian yang dialaminya. yang dirinya ingat hanya mengantar Dian buang air kecil lalu setelahnya ia tidak ingat lagi.
"aku nggak tau...aku nggak ingat" jawabnya
"elu nggak ingat sama sekali...?" tanya El
"nggak, gue benar-benar nggak ingat. gue hanya mengantarkan Dian untuk buang air kecil, terus setelah itu.....gue....."
"*Di, udah belum....?
"aaaaaaaa"
bugh*
"gue teriak karena melihat sesuatu tapi gue nggak ingat itu apa. yang gue ingat hanya berteriak setelahnya itu gelap"
"elu melihat sesuatu...?" tanya El
"Dian, coba ceritakan apa terjadi padamu sehingga elu pingsan di pinggir sungai...?" El melihat Dian yang saat bangun dari pingsannya dia hanya diam dan menatap ke depan tanpa bicara sedikitpun.
"Dian" panggil El namun gadis itu tidak menjawab
"Dian" El memegang bahunya
refleks Dian menatap El-Syakir dengan tatapan tajam, wajahnya mengisyaratkan kemarahan, itu membuat El merasa aneh. namun setelahnya perubahan mimik wajahnya berubah menjadi seperti biasa.
"elu baik-baik saja...?" tanya El
"kepalaku pusing" jawab Dian memegang kepalanya
"kalau begitu kalian istrahatlah. tidak usah memikirkan hal yang terjadi di sungai tadi" ucap Bara
kedua gadis itu berbaring kembali. El dan Bara memperbaiki selimut mereka dan duduk di samping Leo dan Vino yang sudah berlabuh ke alam mimpi.
"aneh nggak sih, masa iya Nisda nggak ingat apa yang terjadi" ucap Bara
"memang aneh, gue juga merasa seperti itu" timpal El
"apa mereka melihat setan kali ya"
"hush...jangan ngadi-ngadi deh. udah ah tidur, besok masih banyak kegiatan yang akan kita lakukan" El berbaring di samping Vino Bara ikut berbaring di samping Leo
pagi harinya Nisda dan Dian sudah terlihat lebih baik namun ada yang berubah dari sikap Dian. gadis itu yang selalu terlihat riang dan ceria kini hanya diam dan menjawab sekata dua kata dari pertanyaan temannya.
starla dan Nisda menyiapkan sarapan untuk teman laki-laki mereka. mereka berdua mengambil makanan dan membawanya di depan tenda para lelaki.
"udah sehat lu...?" tanya Leo kepada Nisda
"gue kan nggak sakit" jawab Nisda
"semalam kan elu pingsan" ucap Leo
"udah baikan kok" jawab Nisda
mereka semua sarapan dengan nasi goreng. beda dengan Adam, hantu itu sarapan dengan bunga melati kesukaannya. dirinya memang tidak bisa hidup tanpa melati. mendengar nama melati saja, eror sudah otaknya.
"Bara" seseorang memanggil remaja itu
"woi, sini" ajak Bara kepada kedua temannya yang memanggilnya, Erlan dan Dika
"udah sarapan belum...?" tanya Bara
"udah. eh ada yang cariin elu tuh" ucap Dika
"siapa...?" tanya Bara
__ADS_1
"noh, gadis manis di sebelah Zahra" tunjuk Dika
semuanya melihat ke arah yang ditunjuk oleh Dika. dua orang gadis cantik sedang melayani peserta kemah yang ingin mengambil sarapan.
"yang nama Zahra yang mana...?" tanya Vino karena dia memang tidak tau
"yang pake baju putih" jawab Erlan
"ooooh.... berarti yang cariin Bara yang pake baju warna coklat" ucap Leo
"iya, dia Nabila. temuin ya nanti, gue capek tau dia tanyain elu terus" ucap Dika
Nisda melihat ke arah Nabila yang sedang tersenyum ramah melayani teman-temannya. ada perasaan tidak suka saat Dika berkata kalau gadis itu terus menanyakan Bara.
"nantilah, kalau gue ada waktu" jawab Bara
Dika melirik Nisda yang sedang melihat Nabila. terbentuk senyum tipis di bibir Dika. dirinya memang kesal kepada gadis itu yang selama ini tidak pernah menghargai kebaikan Bara dan hanya melihat sisi buruknya saja, padahal selama ini untuk menyangkut Nisda, Bara adalah laki-laki yang baik dan perhatian hanya saja dia memang sangat pencemburu dan akan menghajar siapa saja yang berani mendekati Nisda.
"gimana rasanya merasakan cemburu, sakit nggak. itu juga yang dirasakan Bara saat dulu elu mengabaikannya dan lebih memilih Vino" bisik Dika di telinga Nisda
"sepertinya bukan masalah bagimu kan, lagipula kan elu udah putusin Bara dari dulu jadi nggak ada hak lagi buat elu cemburu. makanya jangan hanya melihat sisi buruk seseorang saja, karena dibalik sisi buruknya ada juga sisi baiknya" lanjut Dika
Nisda terdiam membisu tanpa membalas perkataan Dika. gadis itu hanya menatap Bara namun Bara enggan untuk melihat ke arahnya.
"kita cabut dulu, jangan lupa temui Nabila. gue nggak mau diteror terus sama dia" ucap Dika dan berlalu pergi bersama Erlan
Leo melirik Nisda yang sedang memegang sendok makanannya dengan sangat kuat.
"ada yang terbakar api cemburu" bisik Leo di telinga El dan Vino
"mati dong kalau terbakar" timpal Adam yang mendengar bisikan Leo
"bukan terbakar benaran bahlul" Leo menyoyor kepala Adam
"sakit tau, kalau aku insomnia lagi bagaimana" kesal Adam memegang kepalanya
"amnesia Adam Hawa, amnesia. kapan sih elu bisa nyebut yang benar kata itu" Leo mulai gemas
"setelah Upin Ipin menjadi dewasa dan Nobita menikahi sizuka" jawab Adam asal
"sampai kiamat juga nggak bakalan terjadi" cebik Leo
Nisda melihat gadis yang bernama Nabila itu sedang melempar senyum ke arah Bara, Bara membalas senyumannya dan itu membuat Nisda meradang.
praaaaang
Nisda membanting sendok di piringnya membuat semua temannya kaget dan menatap ke arahnya.
"sepertinya perang dunia ke tiga akan terjadi" bisik Adam di telinga El
"bukan akan terjadi tapi akan segera dimulai. sebaiknya kita tutup mulut rapat-rapat, duduk manis dan diam-diam bae agar kita aman dari perang ini" ucap El dengan berbisik pula
"Nisda, elu kenapa...?" tanya starla
"sedang meratapi nasib ya karena posisimu akan tergeser dengan cewek cantik sana yang bernama Nabila" ucap Adam mulai menuangkan minyak tanah ke tubuh Nisda
(dasar setan, sudah dibilang diam malah mancing singa yang tidur) batin El kesal
"tapi......dia memang cantik sih, putih, bening, senyumnya manis. aaaah kalau aku jadi Bara, sudah lama ku makan dia karena dirinya memikat hati seperti melati yang memikat hatiku" Adam bertompa dagu dan menatap kagum ke arah Nabila tanpa disadarinya gadis di sampingnya sudah mulai naik pitam
pluuuuuk El menggeplak kepala Adam, dan mengkode hantu itu untuk melihat Nisda yang sedang menatapnya tajam.
"kenapa melihatku seperti itu, matamu seperti burung hantu saja." ucap Adam yang pura-pura bodoh atau memang bloon
(ampun daaaaam....ini hantu ngeselin banget sih) El menepuk jidatnya
"cih cantik darimana, gue hanya kalah putih dari dia" cebik Nisda
"ooooh....benar juga ya. kamu hanya kalah putih. kalau begitu pulang nanti kamu harus perawatan memakai lidah buaya dan minyak goreng zaitun" Adam merapatkan badannya ke arah Nisda
semua yang ada di situ hanya saling pandang dan menganga, mereka baru tau kalau ternyata hantu itu seorang provokator. Bara hanya geleng kepala.
"minyak zaitun. iya kali gue pakai minyak goreng, lu kira gue ikan mau digoreng" jawab Nisda ketus
"jangan suka ketus begitu, Bara nggak suka sama cewek yang bibirnya manyun kayak mulut ikan. lihat tuh Nabila, dari tadi dia senyum terus. masa kalah sama Nabila sih yang hanya kalah putih dari kamu" bisik Adam di telinga Nisda
"Bara suka apapun ekspresi gue, gue udah lama sama dia" bisik Nisda
"ikan bolu ikan cakalang" keluar sudah pantun si Adam
"cakeeep" sorak Leo dan Vino
"lain dulu lain sekarang" lanjut Adam
"kalian berdua ngomongin apa sih, bisik-bisik segala" tanya Bara
"ini bukan bisik-bisik segala tau tapi bisik-bisik tetangga. tetangga lain nggak perlu tau" jawab Adam
"sudah beralih profesi elu ya, jadi emak-emak berdaster tukang gosip" ucap starla
"wooaaaah Daebak....aku sungguh berbakat. war biasa, hebat kan aku" Adam bertepuk tangan girang atas bakat barunya, menggosip
"edan"
"kampret"
"bahlul"
mereka semua mencebik dan mendelik Adam. meskipun begitu Adam terlihat biasa saja bahkan sangat bangga dengan profesi barunya sekarang.
__ADS_1