Petualangan Mistis

Petualangan Mistis
Episode 75


__ADS_3

📞 Zidan


kamu dimana...?


📞 Pram


di rumah, ada apa...?


📞 Zidan


ke kantor ku sekarang


📞 Pram


sekarang mungkin nggak bisa, aku harus ke rumah pak Adnan dulu untuk memastikan keadaan di sana


📞 Zidan


kalau begitu setelah dari rumah pak Adnan, langsung ke kantorku. ambil map warna merah di laci mejaku, itu adalah pengurusan proyek di wilayah L, gantikan aku untuk melihat persiapan proyeknya. Mita akan menemanimu


📞 Pram


memangnya kamu mau kemana sampai harus aku gantikan segala...?


📞 Zidan


mau kencan


📞 Pram


ck, urusan kencan aku di korbankan, dasar bos nggak ada akhlak


📞 Zidan


mau dipotong gajimu


📞 Pram


ck, suka sekali mengancam. iya iya, nanti aku ke sana. suruh Mita mempersiapkan semuanya


Zidan terkekeh di ujung telpon sana, ia memang sangat suka mengancam ketiga pengawalnya dengan memotong gaji mereka. padahal Randi dan Pram adalah anak orang kaya, orang tua mereka memiliki perusahaan sendiri namun keduanya lebih suka dengan pekerjaan mereka sekarang.


📞 Zidan


ya sudah, selamat bertugas bapak Pramudya Anggara


klik


Zidan mematikan panggilannya dan beranjak keluar dari ruangannya. ia menghampiri Mita yang sedang sibuk dengan pekerjaannya.


"Mita"


"iya pak"


"Pram akan datang kemari, dia yang akan menggantikanku untuk memeriksa proyek di wilayah L bersama kamu. siapkan semua keperluannya"


"baik pak"


Zidan meninggalkan kantornya untuk menjemput Vania. wanita itu telah menunggu dirinya di kantor karena ada beberapa pekerjaan yang harus ia selesaikan.


"Thalita, bagaimana lukamu...?" tanya Vania


"sudah lebih baik nona setelah aku rutin meminum obat" jawab Thalita


"syukurlah. aku akan keluar dengan Zidan, kamu ikut ya"


"hah...?" Thalita terbengong


"tenang saja, kamu tidak akan menjadi obat nyamuk. ada Randi yang akan menemanimu. aku dan Zidan butuh pengawal kami masing-masing"


"tapi nona"


"aku nggak mau dengar penolakan"


"baiklah" Thalita menghela nafas


sebenarnya Vania telah merencanakan semuanya. ia telah memberitahu Zidan tentang kedekatan Thalita dan Randi. meskipun ia tidak tau bagaimana perasaaan Randi yang sebenarnya namun wanita itu ingin mendekatkan mereka berdua. ia meminta persetujuan dari Zidan dan pria itu setuju. Zidan dapat melihat perubahan dari Thalita, wanita itu jauh lebih bersikap hormat sekarang.


tok tok tok


setelah mengetuk pintu, Zidan masuk ke ruangan ayah Adnan. pria itu bersama Randi dan juga Helmi.


"sepertinya kalian sedang sibuk" Zidan duduk di depan ayah Adnan, Randi dan Helmi berada di sofa


"bagaimana kabarmu Zidan, akhir-akhir ini kamu jarang ke sini" tanya ayah Adnan


"aku sibuk mas, pekerjaanku menumpuk. bagaimana kabar mas Adnan...?"


"seperti yang kamu lihat. aku baik" jawab ayah Adnan


"sudah mendapatkan tempat untuk toko baru mas Adnan...?"


"sudah, bahkan sekarang sudah jadi. tinggal mengurus semua barang yang masuk dan mungkin minggu depan sudah bisa dibuka"


"mas Adnan sangat gesit, padahal aku mempunyai tempat yang cocok tapi mas malah menolak"


"aku tidak ingin terlalu banyak merepotkan mu"


"kita keluarga mas, jelas tidak merepotkan. oh ya aku mau pinjam salah satu pengawal mas Adnan" mendengar ucapan Zidan, kedua pria itu mengangkat kepala dan menatap Zidan


"siapa...?" tanya ayah Adnan


"Randi" jawab Zidan


"aku. memangnya mau kemana bos...?" tanya Randi


"ikut saja" jawab Zidan


"aku nggak diajak juga bos...?" tanya Helmi


"kamu nggak dengar dia nyebutnya cuman nama aku. nih, kerjakan semua pekerjakan ku" Randi menyodorkan semua berkas miliknya ke samping dekat Helmi


"bos pilih kasih banget, aku di anak tiri kan" gerutu Helmi


"aku hanya perlu sama Randi. nanti kalau kamu ikut siapa yang bantu mas Adnan" timpal Zidan


"kan ada Sisil, dia....."


"Sisil mengerjakan sesuatu, udah kamu di sini saja. nanti aku kasi bonus" ucap ayah Adnan


"benar ya pak, bonusnya harus double karena pekerjaan ku sekarang merangkap dari pengawal menjadi asisten pribadi" ucap Helmi


"aku juga ya pak, masa iya bapak pilih kasih. kan nggak adil" timpal Randi


"tenang saja. kamu, Helmi dan Pram pasti kebagian bonus. sekarang kerjakan tugas yang telah diberikan" jawab ayah Adnan

__ADS_1


"bapak memang the best daah. oke, aku siap bekerja sepenuh hati" Helmi mengacungkan jempol ke arah ayah Adnan


Zidan dan Randi meninggalkan Sanjaya grup menuju perusahaan Vania untuk menjemput wanita itu.


"kita kok ke sini" ucap Randi saat kereta besi itu terparkir di depan gedung besar itu


"udah ikut aja, nggak usah banyak tanya" Zidan melepas salbeat pengaman dan keluar dari mobil


Randi mengikuti Zidan melangkah masuk ke dalam lift untuk menuju ruangan Vania.


"kamu mau kencan ya...?" tanya Randi


"bisa dibilang seperti itu" Zidan tersenyum tipis


"tega banget jadi orang. masa iya kamu kencan aku dijadikan obat nyamuk. sungguh t e r l a l u" cebik Randi memasang wajah masam


"mau dapat bonus nggak, kalau nggak aku hubungi mas Adnan untuk membatalkan pemberian bonus untukmu" Zidan melirik Randi


"kamu mah gitu, suka sekali mengancam. memang bos nggak ada akhlak" kesal Randi


Zidan hanya tersenyum keluar dari lift dan menuju ruangan kekasihnya. dengan wajah manyun, Randi mengikuti langkah bosnya.


"sayang" panggil Vania saat melihat Zidan masuk ke dalam


"sudah siap...?" tanya Zidan


"sudah" jawabnya tersenyum


(haduuuuh, malangnya nasibku hidup dalam dunia. kapan sih Tuhan Engkau kiriman malaikat hati untukku) batin Randi menangis


cek lek


kamar pribadi yang yang ada di ruangan itu terbuka. tampak Thalita keluar dari kamar itu dan menghampiri mereka. ia menggunakan dress selutut berwarna peach. rambutnya yang panjang dan lurus sampai di pinggangnya terurai dengan indah. penampilannya sangat berbeda dari biasanya.


Thalita memang wanita yang cantik. dari dulu dirinya sangat modis dalam berpakaian, namun saat menjadi pengawal Vania, wanita itu sudah tidak memperhatikan penampilannya. meskipun begitu aura kecantikannya masih saja terpancar.


Randi terbengong melihat penampilan Thalita, matanya bahkan tidak berkedip sekalipun.


"air liur mu tuh, jatuh" goda Zidan


buru-buru Randi melap bibirnya. Vania dan Zidan terkekeh dan Thalita hanya tersenyum menunduk malu.


"ck, kampret kau" kesal Randi


"ayo, jalan. kita cari cincin dulu kan...?" tanya Vania


"yang mana-mana saja, aku mengikuti tuan putriku" jawab Zidan


Zidan bergandengan tangan dengan Vania, sedangkan Randi dan Thalita berjalan di belakang mereka dengan perasaan tidak karuan.


"kamu....cantik hari ini" ucap Randi


"terimakasih" jawab Thalita merona


Pram baru saja tiba di Perusahaan Zidan. pria itu segera masuk ke dalam ruangan Zidan dan mengambil map merah yang dimaksud. setelahnya ia menghampiri Mita di meja kerjanya.


"Mita"


"iya pak"


"sudah siapkan semua berkasnya...?"


"sudah pak"


"bagus. kita jalan sekarang"


sepanjang jalan, Mita mencuri pandang ke arah Pram. pria itu sangat terlihat sempurna di matanya.


"ada apa melihatku terus...?" tanya Pram tanpa menoleh ke arah Mita


"a...emmm...nggak ada apa-apa pak" Mita kikuk karena ketahuan sedang memandangi pria di sampingnya itu


Pram melirik wanita itu dari ekor matanya dan tersenyum tipis. beberapa jam perjalanan mereka sampai juga di tempat tujuan. Pram, segera melakukan tugas yang disuruh oleh Zidan, Mita terus mendampinginya dan tetap berdiri di sampingnya.


mereka naik ke lantai paling atas, lantai tujuh untuk mengecek sejauh mana pengerjaannya. saat menaiki tangga kaki Mita tidak berdiri seimbang sehingga hampir saja terjatuh dan dengan sigap Pram menarik tangannya masuk ke dalam pelukannya.


tanpa disengaja, kejadian tak terduga terjadi. saat menarik tangan Mita, wanita itu menabrak tubuh Pram dan bibir mereka saling bersentuhan.


deg...


deg....


deg....


jantung keduanya berpacu begitu cepat. darah Mita berdesir, tubuhnya ingin menjauh namun hatinya enggan untuk melakukannya. entah sadar atau tidak, Pram melakukan lebih dari itu. ia memangut bibir Mita membuat wanita itu kaget namun pada akhirnya ia mengikuti permainan Pram. keduanya terbuai dalam ciuman itu.


Pram melepas ciumannya, ia tatap Mita yang masih menutup matanya. tangannya melap bibir wanita itu yang basah karena ulahnya. Mita membuka mata dan mereka saling bertatapan.


"lain kali hati-hati" ucap Pram


"b-baik pak" jawab Mita gugup


Pram melepas pelukannya dan mundur selangkah. mereka masih berada di tangga menuju lantai atas.


Pram mengulurkan tangannya ke arah Mita, dengan ragu Mita mengangkat tangannya dan meraih tangan Pram.


"berpegangan tangan seperti ini akan membuatmu aman. kalau kamu jatuh, setidaknya aku juga ikut terjatuh. tetap pegang tanganku seperti ini, agar kamu selalu aman" ucap Pram tersenyum. senyuman itu membuat Mita ingin menjerit histeris karena itu membuatnya gila


"ayo" ajak Pram. keduanya menaiki anak tangga satu persatu


Helmi telah menyelesaikan pekerjaannya. ia baru saja mengantar ayah Adnan pulang karena pekerjaan mereka tidak begitu banyak, mereka pulang lebih awal.


saat akan kembali ke apartemen, Helmi ternyata melupakan handphonenya di ruangan ayah Adnan. terpaksa dirinya memutar lagi untuk ke perusahaan Sanjaya grup.


tiba di sana, ia masih melihat Sisil di kantor padahal ayah Adnan telah menyuruhnya untuk pulang.


"belum pulang Sil...?" tanya Helmi


"sedikit lagi. kenapa datang lagi...?" tanya Sisil


"handphone ku ketinggalan di ruangan pak Adnan. kamu punya kunci ruangannya...?"


"ada, tunggu sebentar"


Sisil membuka laci mejanya dan memberikan kunci cadangan ruangan ayah Adnan kepada Helmi. pria itu mengambil dan membuka pintu ruangan ayah Adnan. setelah mengambil handphonenya, Helmi keluar.


"nih" Helmi mengembalikan kunci itu kepada Sisil


"pak Adnan sudah menyuruh kamu untuk pulang, kenapa kamu belum pulang juga...?" tanya Helmi


"ini aku sedang bersiap untuk pulang" jawab Sisil merapikan mejanya


"ya sudah, sekalian aku antar"


"nggak merepotkan...?"

__ADS_1


"nggak lah"


"emmm...aku mau jemput anakku dulu yang sedang les privat bahasa Inggris. apa boleh kita jemput anakku...?"


"kamu ngomongnya kayak sama siapa aja sil. ya jelas bisalah. ayo kita jemput Azam" ucap Helmi tersenyum


"makasih ya Hel. kamu selalu baik sama aku"


"kita kan teman, rekan kerja, jelas harus saling membantu" jawab Helmi


Sisil hanya tersenyum tipis. entah mengapa ada perasaan kecewa saat Helmi mengatakan mereka hanya sekedar rekan kerja dan teman biasa.


keduanya meninggalkan kantor dan menuju tempat Azam mengikuti les privat bahasa Inggris.


bus yang membawa siswa siswi SMA xxx masih melaju membelah jalan raya. yang tadinya ribut kini berganti sepi karena mereka memilih untuk tidur mengistirahatkan diri.


starla sudah terlelap di bahu Vino begitu juga dengan Nisda yang terlelap di bahu Bara. sementara Leo dan El masih terjaga tanpa mengantuk sedikitpun.


"naik naik ke puncak gunung, tinggi tinggi sekali. kiri kanan ku lihat saja, banyak para mba Kunti" Adam menyanyi dengan suara emasnya memekakkan telinga


"pohon Cemara, kenapa malah jadi mba Kunti" ralat Leo


"suka suka aku lah. lagian memang yang aku lihat mba Kunti kok, bukan pohon Cemara" jawab El


"mana, kok gue nggak liat...?" tanya El


"tuh" tunjuk Adam di samping mobil, seorang wanita berpakaian putih lusu melayang mengikuti bus mereka


"eh buset daaaah...masih sore udah keliaran aja" ucap Leo


"mau ikutan camping dia. kan seru. tau gitu aku ajak mba Kunti sama mas poci aja tadi" ucap Adam


"ck, ini bukan liburan para hantu ya. main ajak aja lu" timpal Leo


"woi, berisik banget sih kalian dua. diam Napa" tegur salah satu siswa di belakang mereka


"maaf" ucap El


2 jam perjalanan, mereka sampai juga di tempat kemah. setelah beristirahat sejenak, mereka semua mendirikan tenda untuk tempat mereka tidur.


El, Leo, Vino dan Bara mendirikan tenda mereka. starla, Nisda dan dua teman mereka Dian dan Indri mendirikan tenda juga.


Adam berkeliling melihat kegiatan siswa siswi yang lain. hantu itu sangat antusias, bahkan bernyanyi tidak jelas membuat para sahabatnya hanya geleng kepala.


di tempat itu jauh dari rumah pemukiman warga, mereka berada di tengah hutan. setelah mendirikan tenda, Nisda dan starla membantu menyiapkan makan malam di tenda yang telah disediakan sebagai dapur umum mereka. sedang Dian dan Indri membereskan barang-barang mereka.


"setelah ini mau ngapain...?" tanya Adam


"elu nggak pernah ikut kemah ya...?" tanya Vino


"pernah" jawabnya


"biasanya, kegiatannya ngapain aja...?" tanya Vino


"makan" jawab Adam cepat


"selain makan, itu mah bukan kegiatan tapi kebutuhan" cebik Vino


"makan juga kegiatan tau. kegiatan mengambil piring, kegiatan menyendok nasi, kegiatan memakan nasi dan kegiatan menelan. itu semua kegiatan" Adam tidak mau kalah


"terserah elu daaah" ucap Vino yang kesal karena Adam selalu saja ada jawaban yang ia lontarkan


setelah melaksanakan sholat magrib, mereka semua makan malam. Nisda dan starla menyiapkan makanan untuk mereka dan membawa di tenda para laki-laki. mereka makan di depan tenda, begitu juga dengan siswa siswi yang lainnya. Dian dan Indri, kedua gadis itu memilih makan bersama dengan teman-teman mereka di tenda yang lain.


"mau ini...?" tanya Nisda kepada Bara


"nggak, aku itu aja" Bara menunjuk sayur yang ia suka


Nisda segera menyendok sayur itu di mangkuk dan memberikan kepada Bara.


"elu suka sayur Bara. emang enak...?" tanya Leo


"enaklah, elu nggak suka...?" jawab Bara


"nggak, rasanya bikin eneg" ucap Leo


"enak kok, cobain aja dulu. aaaa" Nisda berniat menyuapi Leo namun Leo menutup mulutnya rapat-rapat dan menggeleng


"aku juga mau dong disuapin" ucap Adam melihat ke arah Nisda


"nggak... nggak boleh" Bara melarang cepat


"ck, pelit" cebik Adam


"tuh, kakak minta disuapin sama mba Kunti yang sana" tunjuk Bara ke atas pohon


terlihat mba Kunti sedang tersenyum menyeringai dan mengedipkan matanya ke arah Adam.


"hiiiiiiii....ogah, kuntinya nakal" Adam menggeleng cepat dan bersembunyi di balik tubuh El


selesai makan malam, mereka sholat isya, lalu setelahnya mereka memulai kegiatan dengan mendengarkan materi dari para guru yang juga ikut dalam perkemahan.


"Nis antar gue pipis yuk" ucap Dian


"nggak punya senter gue" jawab Nisda


"gue ada. ayo, udah nggak tahan nih"


mereka berdua akhirnya meminta izin untuk keluar buang air kecil. keduanya berjalan menuju sungai yang tidak terlalu jauh dari tempat kemah.


"buruan gih" ucap Nisda


"tunggu di situ ya" Dian ke semak-semak untuk buang air kecil


Nisda memeluk dirinya sendiri karena angin malam yang membuatnya kedinginan. gelapnya malam di terangi dengan cahaya bulan di atas sana sehingga di hutan itu tidak begitu gelap.


"Di...udah belum" panggil Nisda


"bentar" jawabnya


saat menunggu, Nisda mendengar suara langkah kaki yang mendekat ke arahnya. kini gadis itu mulai was-was dan takut. suara langkah kaki itu semakin terdengar jelas. saat berbalik tidak ada siapapun di belakangnya, kosong tidak ada orang.


wuuusshh


sekelabat bayangan lewat di belakangnya, bahkan ia merasakan anginnya begitu kencang saat bayangan itu lewat.


"siapa di sana" teriak Nisda


"Dian, itu elu...?"


hening tidak ada jawaban. bahkan Dian belum juga kembali membuat Nisda semakin risau.


"Di, udah belum...?" panggil Nisda namun temannya itu tidak menjawab


Nisda melangkah mendekat ke tempat Dian. saat melangkah ia juga mendengar suara langkah kaki di belakangnya, dan saat ia berhenti suara langkah kaki itu juga berhenti. ia berbalik dan lagi tidak ada seorangpun di belakangnya. saat berbalik ke depan, Nisda mematung ditempatnya, matanya melotot melihat sosok di depannya.

__ADS_1


"aaaaaaaa"


bughhh.... Nisda jatuh tidak sadarkan diri


__ADS_2