Petualangan Mistis

Petualangan Mistis
Episode 163


__ADS_3

terbalik up episode. mohon dimaafkan ya, harap baca episode 162 sebelum membaca episode ini.


__________________________________________


"ini kenapa kita dari tadi nggak nyampe-nyampe ya. perasaan kita jalan udah berpuluh-puluh meter" Bara yang sudah kelelahan langsung duduk berlesehan di tanah. pakaian mereka yang sudah basah kuyup penuh dengan lumpur karena jalanan yang licin membuat mereka terkadang tergelincir dan jatuh


"apa iya kita kesasar...?" Leo ikut duduk di dan bersandar di pohon


"nggak mungkin kita nyasar, gue hafal jalan yang kita lalui tadi" El menelisik jalan yang mereka lewati


"tapi buktinya kita nggak sampe-sampe sejak tadi. kayaknya kita benaran kesasar" timpal Bara


"malah baju udah basah kuyup, Wulan nggak ketemu. jangan-jangan dia udah diambil jurik di tempat ini lagi" ucap Leo


"hus...elu kalau ngomong yang baik-baik Napa Le. jangan ngomong yang nggak-nggak, kita di hutan ini" El menegur temannya itu


"gue nggak ngomong yang nggak-nggak loh El, justru karena kita di hutan maka dari itu para lelembut pasti banyak penghuni hutan ini. kita udah lama loh melalui hal semacam ini. bukan hal baru buat kita untuk hal-hal semacam ini" ucap Leo


"tapi emang apa yang diucapkan Leo ada benarnya juga El. kalian ngerasa nggak sih, sejak saat menjelang malam desa yang kita datangi itu lumayan aneh. pintu di tutup rapat, orang-orang nggak ada yang berani untuk keluar. yang paling anehnya, lampu ada tapi mereka masih tetap menyalakan obor. itu kan aneh" Bara mengungkapkan apa yang ada dipikirannya


"benar juga. sepertinya desa itu menyimpan misteri yang nggak kita ketahui" ucap El ikut duduk bersama kedua temannya


"lalu apa yang harus kita lakukan sekarang...?" tanya Bara


"ya apalagi, mencari jalan pulang tentunya. El, gunakan keris sakti mu untuk menunjukkan jalan pulang" ucap Leo


"eh tapi tunggu" Bara menghentikan El-Syakir saat akan membaca mantra untuk mengeluarkan keris larangapati di dalam tubuhnya


"kenapa Bar...?" tanya El menghentikan bacaan mantranya


"kalian dengar suara nggak...?" tanya Bara mempertajam pendengarannya


"suara apaan, gue nggak dengar apa-apa" Leo menelisik di setiap sudut tempat mereka


"masa nggak dengar sih, ini gue dengar bahkan jelas banget. suara yang banyak orang" ucap Bara langsung berdiri untuk melihat sekitar


El-Syakir dan Leo pun ikut berdiri melihat sekitar. telinga keduanya terpasang dengan baik ingin mendengarkan apa yang didengar oleh Bara.


"iya, gue mulai dengar suara banyak orang. rame banget" ucap El yang mulai percaya


"kok gue nggak dengar apa-apa" timpal Leo


"suaranya berasal dari sana" El menunjuk asal suara itu, masuk semakin arah dalam


"mungkinkah itu Adam, kak Deva dan Wulan" ucap Leo


"nggak mungkin, suaranya bahkan lebih dari tiga orang" timpal El


"penasaran gue. kalau begitu kita ke sana saja. siapa tau di sana arah jalan keluarnya dari hutan ini" Bara bergegas melangkah ke arah sumber suara itu


"ayo, kalian nggak mau ikut...?" Bara berhenti dan berbalik memanggil El-Syakir dan Leo


"arahnya semakin masuk ke dalam hutan Bar, jelas nggak ada jalan keluar di sana" El ragu untuk mengikuti Bara


"daripada di sini kita duduk nggak jelas, mending kita lihat ada apa di depan sana."


"ya udah, gue juga penasaran, kenapa rame banget di arah sana" Leo menarik El-Syakir untuk mengikuti Bara yang sudah lebih dulu berjalan meninggalkan mereka


suara itu semakin dekat semakin jelas terdengar. suara riuh banyak orang, seperti orang-orang yang sedang berada di pasar.


ketiga remaja itu, bersembunyi di balik pohon melihat di depan mereka. beberapa meter dari ketiganya, terlihat banyaknya orang-orang yang sedang beraktivitas melakukan perdagangan. rupanya di tempat itu, adalah sebuah pasar. sangat ramai dan bahkan penjual.

__ADS_1


"pasar...?" ketiganya berucap bersamaan


"sejak kapan di tengah hutan ada pasar" ucap El


"jelas ini bukan pasar manusia, nggak mungkin ada manusia yang datang berjualan di hutan seperti ini" timpal Leo terus menatap lurus ke depan


"jadi maksud elu, ini pasar lelembut...?" tanya Bara


"menurut lu...?" Leo bertanya balik


"kayaknya memang pasar lelembut. ingat nggak ucapan kak Deva, di atas ini nggak ada satupun orang yang menjajakan dagangannya. salah satu pantangan yang ia berikan, kita nggak boleh membeli makanan apapun yang ada di atas ini" ucap El


"kenapa kalian berdiri saja di sini...?" suara seseorang mengagetkan ketiganya


mereka refleks berbalik untuk melihat siapa yang menyapa mereka. seorang gadis cantik dengan pakaian khas zaman dulu. menggunakan kain jarik berwarna ungu, dan rambutnya yang panjang sampai pinggang dengan sarung khas zaman dulu yang ia lilitkan di pinggulnya.


"kamu setan...?" Leo refleks bertanya


"setan...?" gadis itu mengernyitkan keningnya


"diam Le, diam dan jangan banyak bicara" El berbisik di telinga Leo membuat Leo menganggukkan


"kenapa kalian bersembunyi di sini...?" tanya gadis itu dengan suara lembut


"kami tidak bersembunyi tapi sedang istrahat" El menjawab


"pakaian kalian basah seperti itu, padahal kan tidak hujan" gadis itu menelisik ketiganya


"baru bangun dari tidur ya, hujan deras banget masa iya kamu nggak rasa" lagi Leo menjawab


"gue bilang diam Le" El-Syakir kembali memperingati


"hahah iya kah, aku mungkin ketiduran tadi jadi tidak merasa kalau turun hujan. sebaiknya kalian membeli pakaian dan mengganti baju kalian semua. tidak baik memakai pakaian basah seperti itu"


"benar kata dia El, daripada memakai baju ini terus, lebih baik kita membeli pakaian. gue udah nggak nyaman memakai baju basah ini" Bara sepertinya ingin masuk ke dalam pasar itu


"lihat, teman kalian sudah tidak nyaman. ayo aku temani, mau pakaian seperti apa. di dalam banyak yang menjual pakaian anak seusia kalian" gadis itu menggandeng tangan Bara untuk membawanya masuk ke dalam pasar yang riuh akan banyaknya orang-orang. namun dengan cepat El-Syakir menahan dan menarik Bara kembali ke tempatnya


"tidak perlu, kami akan pergi. silahkan kamu masuk saja" El-Syakir menarik kedua temannya


"apa kalian tidak lapar, lihat...aku mempunyai makanan enak. pasti kalian lapar kan sejak tadi berkeliling" gadis itu masih menahan mereka dengan menghadang ketiganya


melihat makanan yang sangat harum aromanya, langsung membuat Leo meneguk ludahnya. sungguh sangat menggiurkan baginya.


"kita makan dulu El, gue lapar" Leo menatap mata gadis itu yang sedang tersenyum manis ke arah mereka


"kamu lapar...? kalau begitu ayo ikut aku. aku akan memberikan makanan enak untukmu" lagi-lagi gadis itu terus membujuk mereka untuk masuk ke dalam pasar tersebut


Leo yang sepertinya sudah kehilangan akal, langsung mengangguk patuh dan meraih tangan gadis itu untuk ia pegang. namun belum sempat tangan Leo menyentuh tangan gadis itu, El-Syakir sudah menepis kasar tangan gadis itu dan menarik Leo agar menjauh dari gadis tersebut.


Jan sarikan lungurtum Kris larangapati


wuuuussshhh


cahaya kemilau keluar dari tubuh El-Syakir bersamaan dengan keluarnya keris larangapati dari tubuhnya. Bara dan Leo menutup mata karena silauan cahaya itu, hingga kemudian cahaya itu perlahan redup dan mereka membuka mata.


hal yang mengejutkan keduanya adalah, pasar yang tadinya ramai berada di depan mereka kini lenyap seketika. gadis cantik yang bersama mereka tadi kini sudah tidak ada. tempat itu kembali sunyi tanpa kehidupan manusia di dalamnya.


"mana pasarnya...?" Leo berlari ke depan untuk mencari pasar itu namun sudah tidak ditemukannya lagi


"Leo, Bara. harusnya kalian bisa menguasai pikiran kalian. jangan biarkan makhluk apapun itu mengambil alih pikiran kalian. untung saja ada keris larangapati, kalau nggak entah apa yang akan terjadi kepada kita. harusnya kalian tau kalau pasar itu adalah pasar gaib, pasar para lelembut di hutan ini" El menjelaskan mereka panjang lebar. tidak habis pikir, kedua temannya itu hampir saja terhasut oleh sihir dari gadis tadi

__ADS_1


"astaga, sebaiknya kita pergi dari sini" Bara segera menarik tangan El-Syakir dan Leo untuk meninggalkan tempat itu


baru beberapa langkah kaki mereka meninggalkan tempat itu, suara sapaan terdengar akrab di telinga mereka.


"mau kemana, apa kalian tidak lapar...?"


ketiganya berhenti kemudian saling pandang. suara itu adalah suara gadis cantik tadi yang bersama mereka. perlahan kepala mereka memutar untuk melihat siapa yang berada di belakang mereka.


"Allah Robbi"


Leo terjatuh seketika di tanah, begitu juga dengan Bara. mereka begitu kaget melihat penampakan yang ada di depan ketiganya. sedangkan El-Syakir terdiam mematung di tempatnya dengan mata menatap lurus ke depan.


"mereka kenapa lama banget ya, ini udah hampir 4 jam mereka pergi" Nisda yang begitu khawatir dengan teman-temannya, hanya bisa mondar-mandir dan seseorang melihat ke arah hutan tempat masuk ke lima teman mereka


"apa mereka kesulitan mencari Wulan, atau terjadi sesuatu dengan mereka" keresahan hati Nisda tidak bisa ia sembunyikan, terlihat jelas diwajahnya


"Lana juga khawatir dengan mereka. mereka pergi sudah sangat lama tapi belum juga kembali" Alana menimpali


"apa kita susul saja mereka...?" tanya Starla


"jangan kak. sebaiknya kita di sini saja menunggu mereka datang. kita nggak tau ada apa di dalam sana, hutan ini sangatlah menyeramkan" Seil menolak usulan Starla


"benar apa yang Seil katakan, lebih baik kita tetap di sini. itu pesan Adam sebelum mereka masuk ke hutan itu. jangan sesekali meninggalkan tempat ini. kalau salah satu dari kita ikut hilang, bisa tambah repot lagi" Vino angkat suara


"kenapa gue merasa kalau kucing hitam yang kita tabrak itu pertanda hal buruk akan terjadi ya" ucap Melati sedang memikirkan kucing hitam yang ditabrak oleh Bara saat mereka dalam perjalanan


"itu hanya perasaan kak Melati saja. jangan memikirkan hal yang buruk kak, sekarang kita berada di tempat yang lumayan angker" Zahra mengingatkan Melati agar tidak memikirkan hal yang tidak-tidak meskipun sebenarnya dirinya sendiri sudah merasakan hal yang tidak enak


hujan telah reda, pohon-pohon besar di tempat itu basah dengan air hujan yang mengguyur membasahi bumi. Vino yang hanya dirinya seorang laki-laki, begitu waspada menelisik setiap sudut jangan sampai sesuatu hal menyerang mereka atau ada hal yang tidak diinginkan akan terjadi. sebagai laki-laki, dia harus bisa melindungi semua perempuan yang bersamanya saat ini.


di sisi lain, Adam dan Deva sedang menghadapi monyet-monyet yang tiba-tiba saja menyerang mereka berdua. beberapa monyet di habisi maka akan datang monyet yang lain, seakan tidak ada habisnya hewan-hewan itu menyerang keduanya.


"kita nggak akan menang, mereka terlalu banyak" Deva menggunakan kayu yang ia dapatkan untuk menghajar monyet-monyet itu


sedang Adam tidak menanggapi ucapan Deva. satu pukulannya dapat menumbangkan beberapa ekor monyet namun lagi dan lagi akan datang monyet-monyet yang lain untuk menyerangnya kembali.


"sial, kenapa mereka banyak sekali" kesal Adam. ia masih belum menggunakan kekuatannya


"tidak bisa, tidak bisa seperti ini. bisa mati konyol aku hanya karena monyet-monyet ini. aku harus melakukan sesuatu" gumam Adam


Adam menutup matanya, fokusnya hanya pada satu titik, mengumpulkan kekuatannya untuk menyerang.


sedangkan Deva yang juga sudah tidak punya pilihan lain, menggunakan cara lain untuk menghadapi banyaknya monyet-monyet itu


"tidak ada cara lain, aku harus menggunakannya" gumam Deva yang sudah kelelahan menghajar monyet-monyet itu


Deva menghentikan serangannya. ia menutup mata dan merapatkan tangannya di depan dadanya. kemudian ia mengambil kuda-kuda dengan kaki kanannya ia angkat ke atas dan tangan kanannya pun diangkatnya.


bibirnya komat-kamit membaca sesuatu, Deva menggunakan tenaga dalam untuk menyerang. hingga kemudian Deva menurunkan kembali kaki kanannya dan tangan kanannya memukul tanah.


seketika tanah itu berguncang, angin yang sangat kencang seperti ****** beliung datang menyapu para monyet-monyet itu. bersamaan dengan itu, Adam melakukan hal yang sama, ia mengumpulkan kekuatannya kemudian kedua tangannya mengeluarkan cahaya putih.


Adam berputar dan tangannya langsung ia arahkan kepada monyet-monyet itu. bersamaan dengan berputarnya tubuh Adam, cahaya putih yang ada di kedua tangannya melesat begitu cepat menghabisi banyaknya monyet-monyet itu.


ddduuuaaaar


ddduuuaaaar


akibat dari kekuatan Adam, para monyet yang terkena cahaya itu langsung meledak seketika. Adam masih terus menyerang. mengarahkan kedua tangannya yang mengeluarkan cahaya, tubuh monyet-monyet itu hancur lebur dan menghilang seketika.


masih dengan angin ****** beliung yang Deva miliki untuk menyapu semua monyet-monyet yang datang menyerangnya. setelah itu, kini hutan kembali sunyi, semua monyet-monyet itu telah mereka habisi dan bahkan tidak tersisa.

__ADS_1


Adam dan Deva saling pandang. dalam pikiran Adam ternyata Deva mempunyai kekuatan dalam, sedangkan dalam pikiran Deva, Adam bukan manusia biasa. Adam manusia yang memiliki ilmu sihir.


"apakah namamu, Devano Yudharma..? tanya Adam kepada Deva yang ia lihat dengan tatapan menelisik


__ADS_2