
"ratu Sundari" ucap Adam melihat wanita yang di lilit ular itu
benar saja, wanita itu mirip sekali dengan ratu Sundari ataukah memang dia ratu Sundari. ratu yang pernah menculik Vino untuk dijadikan suaminya namun Adam menggantikan Vino dan dibawa ke alam sang ratu.
"tapi kenapa pakaiannya beda ya. selendangnya juga, mahkota dan waktu itu dia tidak mempunyai ular yang ada di tubuhnya" ucap Adam masih memperhatikan
wanita itu mendekati mba Surip dan pria yang duduk di sampingnya. sesekali ular itu mendesis dan mengeluarkan lidahnya. giginya tajam dan matanya memperhatikan dia orang yang memanggil tuannya.
"ada apa lagu Surip....?" tanya wanita itu
"terimakasih telah memenuhi panggilan ku ratu Sri Dewi" mba Surip bersimpuh
"Sri Dewi....? " ucap Adam mengernyitkan keningnya
"apa itu nama lain dari ratu Sundari atau...... " Adam bertanya-tanya
"apalagi yang kamu siapkan kali ini...?" tanya wanita itu mengelilingi mbah Surip dan pria itu
pria yang di samping mbah Surip ketakutan dan gugup melihat ratu sri Dewi. bahkan ia ngeri dengan ular yang melilit di tubuh wanita itu.
"seperti yang ratu selalu inginkan. aku sudah menyiapkan kesukaan ratu" jawab mbah Surip
"perlihatkan padaku"
"baik ratu. Samsul, pergi ambil apa yang kita bawa tadi" mbah Surip menyuruh pria yang bernama Samsul itu
"b-baik mbah"
Samsul ke arah mobil yang terparkir di pinggir jalan sedikit jauh dari tempat mereka. pria itu membuka pintu tengan mobil dan melihat apa yang ada di dalam. seorang bayi laki-laki yang sangat tampan yang sedang terlelap tidur karena telah diberi makan olehnya.
"maafkan ayah nak" ucap Samsul mengambil bayi itu dan menggendongnya kemudian membawa ke tempat tadi
"ini mbah" Samsul memberikan bayi itu kepada mbah Surip
"bayi" mata Adam membulat melihat tumbal yang mereka berikan untuk ratu iblis itu
betapa geram hati Adam saat melihat bayi mungil itu dijadikan sebagai tumbal untuk memenuhi keinginan dua pria di depannya. ia mengepalkan tangannya dan rahangnya mengeras.
"dasar iblis" geramnya menahan gejolak amarah dalam dirinya. ia tidak boleh gegabah karena sekarang yang ia hadapi bukan makhluk yang gampang ia atasi
"ini bayi yang kamu inginkan ratu, bayi laki-laki" mbah Surip menyerahkan bayi itu ke ratu Sri Dewi
"katakan permintaan mu" ucap ratu Sri Dewi menimang bayi kecil di gendongnya
bayi itu sedang mengisap jempolnya dan sesekali membuka mulut mencari makanan. bayi mungil itu baru berumur satu minggu.
mbah Surip menyikut Samsul saat pria itu hanya terbengong menatap anaknya. ada perasaan kasihan dan menyesal namun ia tidak dapat berbuat apa-apa. perlahan matanya mulai berair.
"ucapkan permintaan mu" ucap mbah Surip
"sekarang mbah...?" Samsul menatap mbah Surip
"iya, sekarang" jawab mbah Surip
"emmm... aku.... aku ingin istriku sembuh dan bangun dari komanya, aku ingin memiliki banyak uang, pekerjaan yang layak dan rumah yang layak untuk ditinggali" ucap Samsul dengan mantap
"hahahaha, manusia memang tamak dengan harta" tawa ratu Sri Dewi menggema
"aku terima permintaan mu tapi ingat setiap malam jumat kliwon kamu harus memberikan aku tumbal bayi laki-laki yang baru lahir" ucap ratu Sri Dewi
"setiap malam jum'at....?" Samsul bertanya
"iya, kenapa apa kamu tidak sanggup...?" ratu Sri Dewi menatap Samsul dengan tatapan tajam
"dia sanggup ratu" bukan Samsul yang menjawab tetapi mbah Surip
"bagus. pulang nanti kamu akan melihat keinginanmu yang pertama akan terkabul" ucap ratu Sri Dewi
"terimakasih ratu" mbah Surip bersimpuh
"terimakasih ratu" Samsul ikut bersimpuh
ratu Sri Dewi meninggalkan keduanya dengan gelang yang bergerincing dan angin yang berhembus. bayi laki-laki itu dibawa olehnya dan setelahnya ratu Sri Dewi menghilang.
Adam memenghilang meninggalkan pemakaman itu. ia akan kembali ke rumah Zidan untuk memberitahu tim samudera agar mau membantunya menyelamatkan para bayi yang tidak berdosa yang akan dijadikan tumbal.
wuuussshh
angin berhembus dan Adam sudah berada di dalam rumah mewah itu. ia melayang mencari tim samudera namun ternyata mereka sudah tidur. Adam tidak melihat El-Syakir di kamar para laki-laki itu.
"kemana perginya....?" Adam melayang ke luar kamar mencari El-Syakir
"darimana saja kamu....?" baru saja keluar El-Syakir sudah berada di belakang hantu itu
__ADS_1
"dari main" jawab Adam melihat El yang sedang menatapnya sendu
"ada apa, kamu habis menangis...?" Adam melihat mata El bengkak karena tangisannya tadi
"iya, dan ini semua karena kamu" jawab El
"aku...?" Adam menunjuk dirinya sendiri
"memangnya aku habis ngapain...?" Adam binggung
"kamu itu jahat, sangat jahat" El sudah bertumpah air mata
"kak Dirga jahat" ucap El lirih
mendengar El memanggi nama aslinya, Adam mematung di tempatnya dan menatap El-Syakir tanpa berkedip sedikitpun.
"kakak selalu ada di samping ku tapi kenapa tidak pernah memberitahu aku kalau kakak adalah kak Dirga, kenapa"
"aku menahan rindu bertahun-tahun kak, aku sangat berharap bisa bertemu kakak dan bunda. tapi ternyata sekarang aku nggak bisa liat bunda lagi dan aku hanya melihat arwah kakak saja" suara El mulai serak
"kenapa nggak pernah ngomong, kenapa nggak jujur" El terisak
Adam tidak berkata apapun. ia hanya menatap terus El yang sedang mengeluarkan unegnya dan perasaannya.
"El" panggil Adam pelan
"kak Dirga" El-Syakir menghambur memeluk Adam.
El-Syakir menangis terisak di pelukan kakak yang selama ini dirindukannya. Adam membalas pelukan El dan meneteskan air mata. bukannya tidak ingin memberitahu hanya saja Adam tidak ingin membuka luka adiknya karena perpisahan mereka dulu dan apalagi saat ia tau kakaknya adalah arwah, El pasti akan sangat terluka.
"maaf" hanya itu yang mampu Adam lakukan karena hatinya juga ikut sedih namun dibalik kesedihan itu ada rasa bahagia karena El telah tau siapa dirinya
ada orang lain yang meneteskan air mata melihat kedua kakak beradik itu. mereka adalah tim samudera yang sedang berdiri di depan pintu. semuanya terbangun saat mendengar isak tangis El-Syakir.
"gue baper" Vino bersandar di bahu Bara
srooooot
"ih, jorok banget sih lu" Bara mendorong kepala Vino karena jijik
"mau peyuk juga tau" Vino merangkul lengan Bara
"jijik gue" Bara bergeser ke samping Leo
"ish, ya udah gue peyuk ayang aku aja" Vino menghampiri starla yang juga berdiri di depan pintu bersama Nisda
"hueeekk, pen muntah gue" Leo mencibir
"iri bilang bos...bleeeeeee" Vino menjulurkan lidahnya
Adam melepas pelukannya dan menghapus air mata El-Syakir. ia tersenyum hangat kepada adiknya itu.
"udah gede masih aja cengeng" ledek Adam
"ck, kakak juga sering nangis kalau nggak ada melati" cebik El dengan mata yang merah
mereka semua masuk ke dalam kamar yang di tempati para laki-laki tim samudera. pukul 3 pagi, mata mereka enggan untuk terpejam dan bahkan kini mereka ditemani minuman hangat.
"jadi sekarang kami akan memanggilmu kak Dirga atau kak Adam....?" tanya Leo
"kalau gue akan tetap memanggil dengan nama kak Dirga" timpal Bara
"panggil Adam saja. aku lebih suka nama itu" jawab Adam
"iya, aku juga sudah terbiasa dengan manggil elu nama Adam, jadi fix nama elu nggak usah diganti" ucap Vino
"kenapa nggak bilang dari dulu kalau elu itu Dirga...?" tanya Starla melihat Adam
"ada alasan kenapa aku nggak memberitahu" jawab Adam melihat El
"nggak nyangka ya ternyata hantu usil dan suka bikin greget adalah saudara El-Syakir yang terlihat cool di mata para cewek di sekolah" ucap Nisda mengamati kedua saudara itu
"cool...?" Adam mengernyitkan keningnya dan menatap El
hantu itu meraba kening, tangan, leher bahkan ia mengangkat kaki El dan meletakkan tangannya di tapak kaki adiknya itu, entah apa yang diperiksanya.
"nggak dingin kok" ucap Adam polos membuat mereka semua menepuk jidat
"bukan dingin begitu konsepnya Bambang" ucap Vino menggeleng kepala
"tadi Nisda bilang cool. cool kan artinya dingin, gimana sih. nggak pernah belajar bahasa Inggris ya. sana pergi kurkus" jawab Adam
"kursus Adam kursus. bahasa darimana pula itu kurkus" timpal Starla gelang kepala
__ADS_1
"sama aja tau, ada us usnya juga" ucap Adam selalu tidak mau kalah
"usus aja sekalian" timpal Bara
kruuuuuk kruuuuuk
bunyi perut hantu itu berbunyi keras dan Adam hanya cengengesan memperlihatkan gigi-giginya yang rapi.
"ampuuun... itu cacing di perutmu udah demo besar-besaran tuh" ucap Nisda
"aku lapar tau. cari melati yuk yuk yuk" ajak Adam bersemangat
"nggak ada toko bunga yang buka kak, ini mah masih ngorok orang" ucap El
"hais.... gara-gara hantu gigi merah aku nggak jadi makan tadi" gerutu Adam menghentakkan kakinya
"eh iya, aku kan mau ngasih tau kalian sesuatu" ucap Adam lagi
"ngasih tau apa...?" tanya El
Adam menceritakan apa yang dilihatnya tadi di kuburan. tentang dua orang pria yang sedang melakukan ritual pesugihan dengan memanggil ratu Sri Dewi, ratu yang sangat mirip dengan ratu Sundari atau memang itu adalah ratu Sundari.
"kalau elu merasa sangat mirip berarti itu memang dia. makhluk seperti mereka kan bisa berubah menjadi apa saja" ucap Leo
"aku nggak yakin sih tapi wajahnya benar-benar mirip namun pakaian mereka berbeda. ratu Sundari mempunyai selendang berwarna hijau tapi wanita itu selendangnya berwarna merah dan ratu Sundari nggak mempunyai ular sementara wanita itu ada ular yang melilit tubuhnya" timpal Adam
"kali aja dia ganti baju. nggak mungkin kan baju yang ia punya cuma satu aja" ucap Vino
"tapi bisa jadi mereka dua orang yang berbeda. namanya saja beda, ratu Sundari dan ratu Sri Dewi dan lagi waktu itu ratu tidak memiliki ular yang melilit tubuhnya" timpal El
"aku setuju dengan El. mungkin mereka dua orang yang berbeda. tempat ratu Sundari kan jauh dari sini, di dalam hutan tempat kita terjebak mogok" ucap Starla
"ratu Sundari itu siapa...?" tanya Bara
El-Syakir mulai menceritakan peristiwa yang mereka alami saat mereka pulang dari kampung Sintia. kesialan mereka dapatkan saat mobil mereka mogok dan di saat itulah Vino di culik dan dibawa ke dalam hutan, tempat kekuasaan ratu Sundari.
"mungkin memang itu benar ratu Sundari" ucap Nisda setelah mendengar cerita El
"atau bisa juga itu bukan ratu Sundari, mungkin itu adalah saudranya" timpal Bara
"maksud kamu ratu Sundari mempunyai kembaran begitu...?" tanya Adam dan Bara mengangguk
"apa yang kakak cium saat bersama ratu Sundari waktu itu...?" El menatap Adam
"bibirnya" jawab Adam spontan
"what...... kak Dirga ciuman...?" Bara kaget dan menganga
"ckckckck..... bravo lu dam" Nisda geleng kepala takjub
"ish... bukan ciuman begituan maksud gue kak" cebik El mendelik
"lah kan kamu tanya apa yang aku cium darinya ya aku jawab lah. gimana sih" celetuk Adam
"enak nggak kak ciuman sama ratu makhluk gaib" kepo Bara
"kenyal, lembut, manis dan"
plak
plak
plak
plaaaaaak
Starla memukul Adam berkali-kali membuat hantu itu meringis kesakitan.
"sakit tau. itu tangan terbuat dari cabe mana sih. pedis banget kalau mukul. pasti keturunan cabe rawit" ringis Adam mengelus lengannya
"rasain, makanya otaknya jangan mesum" cebik Starla
"yang mesum siapa sih. aduuuuh aku kenapa disakiti terus ya Tuhan.... kenapa. apa salah dan dosaku" Adam mengambil air di gelas dan meneteskan ke matanya seakan trlihat ia sedang menangis
"aku lapor mba Kun kamu ya supaya kamu digantung di pohon mangga. aku ini adik kesayangan mba Kun tau" Adam mengambil tisu dan melap air mata palsunya
"lapor aja sana, gue nggak takut. paling gue ngajak mbak Kun main salon salonan" balas Starla enteng
"wanita emang selalu nggak mau kalah" Adam melayang duduk di sebelah kiri El menghindari Starla
"lalu apa yang harus kita lakukan untuk melawan ratu Sri Dewi" ucap Vino
"aku akan mencari tau apakah dia ratu Sundari apa bukan. kalau dia ratu Sundari aku akan meminta bantuan kepada seseorang" jawab Adam
__ADS_1
"siapa, dukun kah...?" tanya Leo penasaran
"seseorang yang pernah menyelamatkan ku" jawab Adam