
setelah beberapa hari di rumah sakit, Vania akhirnya diperbolehkan untuk pulang dan beristirahat di rumah. wanita itu sangat senang karena ia sudah sangat bosan berada di rumah sakit.
Zidan mengurus semua administrasi yang harus segera diselesaikan. setelahnya ia menghampiri Vania yang telah siap untuk kembali ke rumah. ibu Maya tidak menjemput putrinya, wanita itu menunggu kepulangan Vania di rumah saja.
"sudah siap...?" tanya Zidan
"sudah" jawabnya dengan senyuman mengembang
Zidan melangkah dan merengkuh wanita itu ke dalam pelukannya. ia memeluk erat wanita yang ternyata tanpa ia sadari telah mengisi relung hatinya.
"ada apa...?" tanya Vania masih dalam pelukan Zidan
"aku kangen" jawab Zidan
"apakah akhir-akhir ini kamu salah makan, sejak kemarin sikapmu berubah 100%" Vania melepas pelukan Zidan dan menatap pria itu
"aku bahkan akhir-akhir ini makan yang sehat dan teratur. memangnya kenapa, apa salah aku bersikap seperti ini...?" Zidan merengkuh pinggang Vania
"aneh saja rasanya, kamu tidak pernah bersikap seperti ini sebelumnya padaku"
"mulai sekarang dan seterusnya aku akan terus bersikap seperti ini padamu" Zidan mengecup lembut kening Vania
wanita itu tampak bahagia. setelah dirinya masuk rumah sakit, sikap Zidan berubah 180 derajat lebih manis perhatian padanya. ia berpikir kalau dengan sakit dapat membuat pria itu memperhatikannya maka ia akan rela terus sakit-sakitan untuk mendapatkan perhatian pria itu.
"ayo"
Zidan menggenggam tangan Vania, mereka berdua keluar dari kamar itu. dengan saling bergandengan tangan mereka berjalan beriringan menuju parkiran namun belum sampai di pintu keluar seseorang memanggil pria itu.
"Zidan"
Zidan berhenti dan menoleh siapa yang memanggilnya, rupanya Randi yang sedang mengurus sesuatu di meja administrasi.
"tunggu di sini ya" ucap Zidan kepada Vania dan wanita itu mengangguk
Zidan menghampiri Randi yang berdiri tidak jauh darinya. Randi melambaikan tangan menyapa Vania, wanita itu membalasnya dengan senyuman.
"bagaimana Thalita...?" tanya Zidan
"sudah dirawat. aku merasa kasihan padanya, dia cantik tapi sayangnya malah salah jalan" jawab Zidan
"kamu menyukainya...?"
"ck, aku hanya bilang dia cantik bukan suka. lagipula apa salahnya menyukai wanita, itu artinya aku masih normal"
"syukurlah kalau ternyata kamu masih normal" ejek Zidan
"sialan kau" Randi memukul bahu pria itu
"tetap awasi dia, jangan biarkan dia berbuat yang mencurigakan"
"apa ini tugas baruku...?"
"anggap saja begitu"
"kalau begitu aku meminta kenaikan gaji. karena beberapa hari ini pekerjaanku sudah melebihi kapasitas kemampuanku"
"kalau kamu sudah mendapatkan pasangan baru aku menaikkan gajimu"
"apa ini sebuah tantangan...?"
"anggap saja begitu. aku pergi dulu. ingat tetap awasi dia"
Zidan berbalik dan melangkah menghampiri wanita yang sedang berdiri menunggunya. Randi pun hendak kembali ke kamar Thalita namun matanya menangkap seseorang di sudut sana yang sedang mengarahkan pistolnya ke arah Zidan dan Vania.
"Zidan awas" teriak Randi yang berlari ke arah keduanya. pria itu melompat dan langsung menindih keduanya, bersamaan dengan itu sebuah tembakan terdengar menggema di lobi rumah sakit
dor....
yang tadinya suasana nampak tenang berubah menjadi ricuh. semua orang berteriak dan menunduk mencari perlindungan.
"brengsek, beraninya menyerang di rumah sakit"
Randi bangun dan langsung mengejar penembak tadi yang telah melarikan diri. Zidan merengkuh Vania membawanya ke dalam mobil.
di dalam mobil, Zidan menelpon Helmi dan Pram. Helmi di minta untuk menemani Thalita di rumah sakit sedangkan Pram di suruhnya untuk menyusul Randi mengejar buronannya tadi.
📞 Zidan
lacak saja di handphone mu dimana dia sekarang
📞 Pram
baik
klik....
Zidan mematikan panggilannya dan menatap Vania yang juga sedang menatapnya. ia memegang tangan wanita itu dan menciumnya dengan lembut.
"apakah kamu terluka...?"
Vania menggeleng pertanda dirinya tidak apa-apa. wanita itu hanya shock karena di rumah sakit saja mereka dalam keadaan tidak aman.
"maafkan aku telah membawamu ke dalam masalahku, harusnya kamu tidak mendapatkan masalah seperti ini"
"ingat perkataan ku waktu di wilayah B...?" tanya Vania dan Zidan menggeleng
"bukankah aku pernah bilang sekalipun kamu dalam lingkaran yang penuh bahaya aku tidak akan pergi karena aku percaya kamu akan melindungiku" Vania menggenggam erat tangan Zidan
"kamu tidak menyesal menjalin hubungan dengan pria yang penuh bahaya sepertiku...?"
__ADS_1
"untuk apa menyesal kalau sekarang saja aku sangat bahagia kamu telah berubah dan menerimaku. atau mungkin kamu yang menyesal menjalin hubungan denganku karena dulu kamu terpaksa karena ancamanku...?"
"tidak sama sekali, aku beruntung bisa memilikimu" Zidan menggeleng
"aku mencintaimu" ucap Zidan memegang pipi Vania
betapa bahagianya Vania mendengar pernyataan cinta dari pria yang selama ini ia tunggu untuk membalas cintanya. akhirnya cinta itu terbalas juga dan tidak bertepuk sebelah tangan lagi.
"aku juga mencintaimu"
di tempat lain, Randi terus mengejar mobil hitam yang ada di depannya. ia terus mengklakson mobil yang menghalanginya hingga akhirnya dirinya sampai di lampu merah. mobil itu menerobos sedangkan Randi tentu saja tidak akan melakukan itu karena di depannya seorang nenek renta sedang menyebrang dengan bakul di punggungnya.
"sialan" Randi memukul setir mobil
karena tidak berhasil mengejar, Randi akhirnya berbalik kembali ke rumah sakit. handphonenya bergetar, segera ia mengangkatnya.
📞 Pram
kenapa balik...?
📞 Randi
kamu tau aku dimana...?
📞 Pram
aku sedang menyusulmu. kenapa balik...?
📞 Randi
aku tidak bisa mengejarnya, dia lolos. aku akan kembali ke rumah sakit
📞 Pram
kita ke kantor saja, Thalita sudah ada yang menjaganya. kita bertemu di kantor, Helmi juga sudah ada di sana.
rupanya Helmi tidak jadi ke rumah sakit. Zidan menghubunginya kembali untuk tidak pergi dan ia menyuruh pengawal lain yang akan mengawasi Thalita.
📞 Randi
Sanjaya grup atau di kantor Zidan...?
📞 Pram
Sanjaya grup
📞 Randi
ok
klik
Ayah Adnan setelah mengantar Alana ke rumah Meri, pria itu langsung ke tokonya untuk melihat keadaan tempat ia mengais rezeki. sudah lama sejak ia terus ke luar kota, dirinya belum pernah lagi melihat bagaimana perkembangan tokonya.
El-Syakir ikut bersama ayah Adnan, karena dirinya bosan di rumah akhirnya remaja itu lebih memilih ikut bersama ayah Adnan. hari ini ayah Adnan rencananya tidak akan masuk ke kantor karena dirinya ingin satu hari ini berada dalam tokonya. Adam pun sudah tentu saja ikut, hantu itu sangat senang jika diajak ke luar rumah.
sebenarnya El-Syakir akan keluar bersama para sahabatnya namun itu nanti jam 3 sore, karena sekarang Vino masih merawat mamanya yang sedang sakit demam. meskipun ada rasa sakit hati tapi untuk berbakti kepada orang tua, Vino mengesampingkan rasa sakitnya itu.
cek lek
pintu kamar terbuka, Vino melangkah mendekati ranjang mama Nifa yang sedang tertidur pulas. namun saat mendengar pintu kamarnya terbuka, wanita itu membuka matanya.
"makan dulu mah, Vino sudah membuatkan bubur" Vino menarik kursi dan duduk di samping ranjang
"aku tidak lapar" jawabnya dingin
"meski nggak lapar, mama harus makan agar punya tenaga nanti. dikit aja mah, Vino suapi"
"aku bilang aku tidak mau makan, apa kau tuli" wanita itu mulai membentak
"mama harus makan, dan minum obat. itu pesan dokter Wilman tadi" dokter Wilman adalah dokter keluarga mereka
"kasian papa kalau pulang melihat mama lemas begini, papa pasti sedih. bukan hanya papa, aku sama kak Rain juga nggak bisa lihat mama lemah begini. makan ya dikit aja, Vino suapi"
Vino mulai menyendok sedikit bubur itu dan membawanya ke mulut mama Nifa namun dengan kasarnya wanita itu menepis bubur itu hingga bubur yang masih panas itu tumpah di baju Vino.
Vino segera melap bajunya dengan tisu, ia kepanasan dan meniup lengannya yang terkena bubur. mama Nifa melirik putranya itu yang sedang mengipas lengannya kemudian membersihkan bubur yang tertumpah di kasur ibunya.
"nggak ada siapa-siapa di rumah mah. papa nggak ada, kak Rain nggak ada, bibi juga sedang pulang dan pak Ali sedang mengantar berkas papa ke kantor. hanya Vino dan mama di rumah ini. kalau Vino mau, Vino bisa saja meninggalkan mama sendirian di rumah tanpa ada yang mengurus namun Vino bukan anak kurang ajar seperti yang selalu mama katakan. anak pembawa sial ini akan merawat mama karena mama adalah ibuku, wanita yang telah rela berkorban hanya untuk melahirkan anak pembawa sial sepertiku. kalau bisa Vino meminta, Vino ingin meminta kepada Tuhan agar tidak dilahirkan ke dunia ini namun itu diluar kuasa Vino. aku nggak meminta mama untuk sayang sama Vino karena sampai kapanpun meski mama nggak sama sekali menganggap Vino sebagai putra mama, Vino tetap menganggap mama sebagai wanita hebat Vino. jadi tolong sekali ini saja, biarkan Vino mengurus mama, karena hanya dengan mama seperti ini Vino bisa merasakan kedekatan dengan mama" Vino keluar kamar dengan membawa mangkuk yang berisi bubur yang telah di tumpahkan.
Nifa melihat putranya itu sampai hilang di balik pintu, ada rasa sesal dihatinya namun rasa bencinya mengalahkan itu semua.
Vino kembali lagi dengan mangkuk di tangannya, ternyata ia pergi mengganti bubur yang tumpah tadi dengan bubur yang baru.
"makan ya mah, Vino suapi"
akhirnya wanita itu bisa dibujuk juga untuk makan. karena ia sulit bangun, Vino membantunya bangun dan menyandarkan tubuh ibunya itu perlahan ke kepala ranjang.
dengan telaten Vino menyuapi mama Nifa, sesekali ia melap bubur yang berada di bibir wanita itu. setelah bubur itu habis, Vino memberi minum kemudian memberikan obat kepada wanita itu untuk diminumnya.
selesai dengan memberi makan, Vino kembali membaringkan tubuh mama nifa dengan hati-hati untuk berbaring kembali.
"selamat istirahat mah, kalau perlu apa-apa mama bisa panggil Vino"
remaja itu melangkah keluar namun seketika ia berhenti dan berbalik ke arah ibunya yang sedang menatapnya. Vino kembali mendekati mama Nifa dan mencium kening ibunya untuk pertama kalinya selama ia dilahirkan oleh wanita itu.
"Vino sayang sama mama" ucapnya yang akhirnya melangkah keluar meninggalkan mama Nifa yang telah meneteskan air mata
Ayah Adnan dan El baru saja sampai di toko. saat tiba Adam berjingkrak senang melihat toko bunga di sebrang jalan sana.
__ADS_1
"El, melati...aku mau melati" ucapnya menggoyangkan lengan El
"mau cari dimana, jauh loh kita jalan lagi" ucap El membuka helmnya
"tuh, lima langkah dari toko" tunjuk Adam di sebrang jalan sana
"lah sejak kapan ada toko bunga di depan sana, perasaan keamrin kita datang belum ada deh"
"ora urus kapan adanya yang penting aku mau melati"
"iya iya, tunggu bentar"
El-Syakir mendekati ayah Adnan untuk memberitahu dirinya akan ke toko bunga sebentar. setelah itu ia dan Adam segera menyebrang jalan untuk ke toko bunga sedangkan ayah Adnan langsung masuk ke dalam.
"pak Adnan, selamat pagi pak" ucap pegawai kasir dengan sopan
"selama pagi Cindi, bagaimana kabarmu...?"
"baik pak, Alhamdulillah. sudah lama bapak tidak datang melihat toko" jawab cindi
"iya, aku baru saja ada waktu. bagaimana, lancar kan pembeli...?"
"Alhamdulillah pak. untuk lebih jelasnya bapak silahkan tanyakan kepada bang Galang, dia yang tau semuanya"
"ya sudah, aku masuk dulu ya"
ayah Adnan masuk ke dalam ruangannya dan memanggil Galang untuk menanyakan keadaan toko selama ia tidak datang. semuanya berjalan lancar, barang-barang yang masuk di atur semua oleh pegawai toko dan juga Galang sangat bertanggung jawab, itulah mengapa ayah Adnan mempercayakan tokonya kepada lelaki itu.
setelah membeli melati, El dan Adam kembali ke toko. saat mereka masuk ada juga seseorang yang masuk lebih dulu dari mereka.
El menyapa cindi dan tersenyum, karena ada salah satu pembeli yang membeli banyak barang, El membantu cindi untuk membungkus barang-barang itu. sedangkan Adam duduk di atas komputer yang digunakan cindi.
"makasih ya El" ucap cindi
"sama-sama kak. harusnya kasirnya dua orang, kalau begini kan kak cindi kewalahan" ucap El yang melihat ada lagi yang mengantri di belakang
"harusnya memang, tapi Nadira sakit jadi kakak sendirian deh. terimakasih mba" ucap cindi ramah kepada pembeli
karena bosan, akhirnya Adam melayang berkeliling di toko itu sementara El masih membantu cindi. selesai semua maka datanglah seseorang tadi yang masuk bersamaan dengan El dan Adam.
pria itu memakai topi koboi dan juga kacamata hitam serta jaket kulit warna hitam.
"totalnya 150 rb" ucap cindi
pria itu menyodorkan uang 200 rb dari dompetnya. El tidak begitu memperhatikan namun matanya kini menangkap tangan kanan pria itu. di tangan kanannya pria itu tidak memiliki dua jari, jari manis dan jari kelingking.
mata El membulat melihat tangan pria tersebut, ia terdiam dan mengingat sesuatu.
"aku juga nggak tau siapa orangnya karena aku tidak dapat melihat wajahnya. tapi satu yang aku tandai, dia mempunyai tato gambar ikan paus di tangan kanannya dan dua jari tidak ia punyai di tangan kanannya. jari manis dan jari kelingking"
(pria itu tidak mempunyai dua jari sama persis dengan yang dikatakan Adam) batinnya
"El" panggil cindi
"El"
"ah iya, kenapa kak...?"
"kamu melamun, ada apa...?"
El melihat di depannya pria itu sudah tidak ada, artinya pria itu telah pergi. El berlari keluar mencari pria itu namun sayang ia tidak menemukannya.
sementara Adam yang sedang asik membaca setiap produk di rak kecantikan, hantu itu seketika menutup matanya karena telinganya tiba-tiba saja berdenging dengan kerasnya
ngiiiiiiiiiiiiiing......
"aaaaggghhhh" Adam meringis menutup telinganya
kali ini akibat dengungan itu, telinganya terasa sakit bahkan kepalanya ikut berdenyut. El yang baru saja datang dan menghampirinya langsung memeluk Adam yang untung saja tidak ada orang di tempat itu.
"kenapa dam...?"
"keluar" ucap Adam kesakitan
"kenapa, ada apa...?"
"keluar dari sini, ada bahaya di dalam sini. ajak semua karyawan, cepat" ucapnya menahan sakit di telinganya
wajah El berubah jadi tegang, remaja itu menghampiri ayahnya yang berada di dalam ruangannya namun baru saja ia membuka pintu ayah Adnan sudah lebih dulu membukanya.
"El, ada apa...?" tanya ayah Adnan melihat raut wajah tegang El-Syakir
"keluar dari sini yah"
"loh kenapa, ada apa...?"
ngiiiiiiiiiiiiiing..... ngiiiiiiiiiiiiiing
"aaaggghh.... cepat keluar El" teriak Adam
dengan cepat El menarik tangan ayah Adnan menuju pintu keluar. tangan cindi bahkan di tariknya untuk keluar dari toko itu.
"El, apa apa...?" tanya ayah Adnan kebingungan
belum sempat El menjawab suara ledakan terdengar begitu kerasnya.
buuuummmmm...
toko itu meledak, membuat bangunan itu sebagian hancur dengan tanah.
__ADS_1