
di hutan itu dengan keadaan Adam yang tidak sadarkan diri, ratu Sundari masih merengkuh Adam dalam pelukannya. kepala Adam bersandar di bahu wanita cantik itu. mereka masih dalam keadaan melayang. hingga kemudian ratu Sundari membawa Adam di batu tempatnya tadi dan membaringkan tubuhnya di sana.
ratu Sundari memberikan pagar gaib kepada Adam, Deva dan juga Wulan dimana gadis itu belum juga sadarkan diri. Deva kini dapat melihat wanita cantik itu.
"Dirga" panggil Deva dengan lirih saat melihat adiknya itu terbaring tidak berdaya
"dia akan baik-baik saja" ratu Sundari berkata kepada Deva
Deva hanya bisa mengangguk, ia pun sebenarnya juga terluka akibat serangan yang ia dapatkan dari pak Ujang. setelahnya ratu Sundari membebaskan Deva dan Wulan.
"kurang ajar kamu Sundari" kuntilanak merah begitu marah karena untuk kedua kalinya wanita itu menggagalkan ritualnya
"kamu pikir bisa lolos dariku Ranggina...? jangan kamu pikir aku tidak bisa menemukanmu" ratu Sundari begitu tenang dan berbicara dengan nada ancaman
"hihihihihi.... hihihihihi"
"kamu masuk di wilayah ku Sundari" kuntilanak merah tersenyum menyeringai
"Senggi" ratu Sundari memanggil abdi setianya
"saya ratu" Senggi datang dengan sekejap
"lindungi Adam dan juga gadis itu"
"baik ratu"
Senggi mengarahkan telapak tangannya ke arah Wulan. gadis itu melayang dan kemudian mendekati batu tempat Deva tadi berbaring. Wulan di baringkan di batu itu agar dirinya bisa dekat dengan Adam.
"wilayahmu atau bukan itu sama sekali tidak berpengaruh buatku Ranggina" ratu Sundari tersenyum simpul
"Ujang" kuntilanak merah memanggil pak Ujang
"saya di sini" pak Ujang segera menghampiri
"hadapi dia"
"baik"
pak Ujang hendak menyerang ratu Sundari namun Deva melesatkan cahaya biru ke arah laki-laki itu. pak Ujang menghindar sehingga serangan dari Deva hanya mengenai batang pohon dan meledak.
"lawanmu adalah saya pak tua" ucap Deva yang sudah begitu ingin menghajar pak Ujang
tanpa basa-basi Deva melompat menyerang kembali pak Ujang. pertarungan antara keduanya pun terjadi.
sementara kuntilanak merah harus turun tangan menghadapi ratu Sundari, ratu penguasa hutan timur.
"kenapa berdiam diri saja, kamu takut kali ini aku memusnahkan mu...?"
"hihihihihi.... hihihihihi"
"tidak segampang itu untuk menangkapku Sundari. lihatlah apa yang akan aku lakukan"
sejenak kuntilanak merah diam menatap lurus ke arah ratu Sundari. hingga kemudian senyuman yang menyeramkan terukir di wajahnya yang hancur sebelah.
grrrrr
grrrrr
dari berbagai arah, semua para arwah desa Baluran datang ke tempat itu karena junjungan mereka memanggil mereka semua. dari balik kabut semua makhluk itu datang mengepung ratu Sundari dan yang lainnya.
Deva menghentikan pertarungan dan mendekati ratu Sundari. sementara pak Ujang tersenyum penuh kemenangan karena bala bantuan telah datang.
"hihihihihi.... hihihihihi"
"bagaimana Sundari, kamu masih ingin melawanku...?"
"kamu memang seperti itu dari dulu Ranggina, selalu mengandung pasukanmu dan dirimu bersembunyi di belakang mereka" ratu Sundari masih sempat mencibir
"jangan banyak bicara kamu Sundari".
"SERANG MEREKA"
"berhati-hatilah, hindari tusukan dan cakaran dari kuku mereka" ratu Sundari mengingatkan Deva
"baik"
"saya akan bantu ratu" ucap Senggi dan ratu Sundari mengangguk
hanya dengan satu kipasan selendang dari wanita cantik itu, beberapa dari arwah-arwah itu terpental dan musnah begitu saja. sungguh luar biasa kekuatan yang dimiliki oleh sang ratu penguasa hutan timur.
Deva dan Senggi pun ikut bertarung. sementara kuntilanak merah dan pak Ujang berdiri tenang seperti orang yang menonton pertunjukan.
Deva merapalkan sebuah mantra dan mengangkat tangan kanannya ke atas. seketika sebuah tombak berwarna perak muncul di tangannya. hal itu mengejutkan pak Ujang yang tidak menyangka kalau ternyata anak muda itu mempunyai senjata pusaka.
"i-itu...."
"rupanya anak muda ini memiliki tombak pusaka perak" ucap kuntilanak merah
(bagaimana bisa Deva mendapatkan benda sakral itu) batin pak Ujang
sementara ketiganya melawan arwah-arwah itu, kuntilanak merah berniat menghancurkan pagar gaib yang dibuat oleh ratu Sundari untuk melindungi Adam dan Wulan. sayangnya kuntilanak itu tidak dapat menghancurkannya dan malah dirinya yang terpental akibat serangan mendadak dari sang ratu.
__ADS_1
"kamu mau mereka berdua...? maka hadapi dulu aku Ranggina"
"kurang ajar, rasakan ini"
pertarungan antar pemimpin pun mulai terjadi. beberapa kali kuntilanak merah melesatnya cahaya biru ke arah ratu Sundari namun hanya dengan mengibaskan selendang miliknya, cahaya itu berbalik arah dan menyerang tuannya.
kuntilanak merah terbang ke atas dan menghilang secara tiba-tiba. sedetik kemudian ia sudah berada di belakang ratu Sundari.
kuntilanak itu akan memukul punggung ratu Sundari namun bukannya mengenai lawan, setan itu malah memukul angin karena ratu Sundari hilang dengan tiba-tiba dan yang terjadi selanjutnya.
bughhh
satu pukulan keras mendarat di punggung kuntilanak merah. rupanya ratu Sundari berada di belakangnya dan memberikan pukulan telak pada setan itu.
"hiyaaaaaa"
kuntilanak merah menyerang ratu Sundari dengan membabi buta. wanita cantik itu melindungi dirinya dengan pagar gaib yang ia buat sehingga serangan dari kuntilanak merah tidak menyentuh kulitnya sedikitpun.
ddduuuaaaar
ddduuuaaaar
"tunggu" Vino menghentikan mereka semua
"kalian dengar itu...?" tanyanya
"suara ledakan" timpal El-Syakir
"dari arah sana" Leo menunjuk dimana ledakan itu berasal
"jangan-jangan" Bara menggantung ucapannya
"kita ke sana" pak Zainal melesat cepat dan tim samudera mengikutinya
ketika mereka tiba, dapat mereka lihat pertaruhan yang sedang berlangsung. Deva yang melawan pak Ujang karena laki-laki baya itu ingin merampas tombak pusaka perak milik Deva.
"pantas saja sepanjang jalan kita tidak bertemu dengan setan-setan ini, ternyata mereka semua berkumpul di sini" ucap Starla
"kak Dirga mana...?" Alana celingukan mencari Adam
"di sana" Nisda menunjuk ke arah Adam dan Wulan berada
"Adam" ucap Melati begitu melihatnya
"kita bantu mereka" ucap El-Syakir
tim samudera maju ke arena pertarungan. dengan senjata mereka masing-masing, satu persatu mereka menebas, menusuk dan membanting arwah-arwah itu.
"cuih, jangan mimpi kamu bisa mengambil benda pusaka ini" Deva meludah
"aku berniat berbaik hati padamu untuk mengampuni mu Deva. serahkan tombak itu dan kamu akan aman"
Deva terdiam sejenak dan melihat tombak yang ada di tangannya. warna perak dengan salah satu ujung yang runcing berbentuk seperti panah.
"paman mau tombak ini...?"
"iya, serahkan padaku" pak Ujang antusias
"paman benar-benar akan melindungiku...?"
"tentu saja. kamu hanya perlu menyerahkan tombak itu dan kamu akan aman"
(dasar anak bodoh, mudah sekali diperdaya) pak Ujang tersenyum licik dalam hati
"baiklah, tongkat ini milik paman sekarang" Deva melempar tongkat itu dan pak Ujang menangkapnya
"hahahaha... hahahaha"
"akhirnya tombak ini jadi milikku, hahaha"
pak Ujang tertawa puas bisa mendapatkan tombak perak itu. namun sedetik kemudian tawa itu berubah menjadi rintihan kesakitan.
"aaaggghh, apa yang terjadi" pak Ujang panik
tongkat perak itu mengeluarkan hawa panas membuat pak Ujang tangannya terasa terbakar di bara api.
pak Ujang berniat melempar tombak itu namun seperti lem yang melengket, tangan pak Ujang yang bisa lepas dari tombak tersebut.
Deva tersenyum menyeringai dan kemudian mengarahkan tangannya ke depan. tombak itu melesat begitu saja ke arah Deva dan ia pun menangkapnya. saat berada di tangannya, Deva sama sekali tidak merasakannya kepanasan seperti yang dialami oleh pak Ujang.
"bagaimana paman, apakah masih ingin memiliki tombak ini...?"
"kurang ajar, mati kamu anak sialan" dengan amarah yang menggebu-gebu pak Ujang menyerang Deva
kuntilanak merah kalah melawan ratu Sundari, pak Ujang pun tersungkur dikalahkan oleh Deva.
"bagaimana bisa kamu kalah merah, kamu kan sangat sakti"
"diam kau Ujang" kuntilanak merah menatap tajam pak Ujang
"kamu tidak bisa diandalkannya merah, harusnya kamu membunuh mereka semua"
__ADS_1
"berani sekali kamu menghardikku manusia hina"
"aku berhak merah, karena aku kamu bisa bebas dari incaran wanita itu"
saat ini malah pak Ujang dan kuntilanak merah yang saling menyalahkan.
"hihihihihi, aku butuh jiwa manusia untuk memulihkan tenaga ku. sepertinya kamu sangat cocok untuk menggantikan tumbal ku kali ini"
"a-apa maksudmu...?" pak Ujang seketika mulai panik
"kamu pasti tau maksudku Ujang" kuntilanak merah tersenyum menyeringai
"jangan macam-macam kamu merah. kamu lupa kalau aku ini yang sudah menyelamatkan mu" pak Ujang perlahan mundur.
"hihihihihi, aku tidak akan pernah lupa Ujang. untuk membuktikan kesetiaanmu padaku maka berkorban saja kali ini"
"tidak, saya tidak mau"
pak Ujang berlari untuk menyelamatkan diri dari kuntilanak merah. sayangnya bagai magnet yang ditarik, pak Ujang malah berlari mundur dan
greb
kuntilanak merah itu mencengkik leher laki-laki itu.
kuntilanak merah menghisap jiwa pak Umar. Deva hanya menjadi penonton saat laki-laki itu matanya melotot ke atas dan berusaha melepaskan diri. tanpa berniat sedikit pun untuk menolong, Deva hanya mematung dan menyaksikan saja.
namun saat itu juga tangan Kuntilanak merah terlepas dari leher pak Ujang. laki-laki itu terjatuh ke tanah dalam keadaan mengenaskan. meskipun kuntilanak merah tidak berhasil menghisap jiwanya, namun semua energi laki-laki itu telah habis terkuras.
ratu Sundari melilit tangan setan itu dengan selendang miliknya kemudian menariknya dengan kasar dan menghantam tubuh setan itu ke batang pohon.
"El-Syakir, bawa mereka semua ke sebuah tempat. pancing mereka semua agar berkumpul dalam satu tempat. biar aku yang membereskan mereka" ratu Sundari memerintah ketua dari tim samudera
"baik ratu" El-Syakir menjawab patuh
ratu Sundari mengikat Kuntilanak merah dengan selendangnya. sementara tim samudera memancing semua arwah itu untuk mengikuti mereka. sesuai dengan perintah ratu Sundari, para arwah itu dibawa ke tempat luas dan dikumpulkan di sana.
tim samudera berada di tengah-tengah setan-setan itu. mereka terjebak di dalam namun Senggi datang membawa mereka keluar dari tempat itu.
sementara itu ratu Sundari melayang dan berdiri dengan tenang menatap lurus ke depan. ia bersiap melesatkan sihir untuk memusnahkan para arwah itu.
dari kedua tangannya mengeluarkan sinar berwarna kuning. kemudian sinar itu melesat ke atas dan membentuk sebuah api yang berkobar-kobar. bahkan nyala api itu dapat menerangi hutan tersebut.
arwah-arwah itu yang melihat ada api besar di atas mereka langsung lari kalang kabut. tentunya ratu Sundari tidak akan membiarkan itu. satu hentakan kakinya di tanah maka api besar itu langsung terjun ke bawah dan membakar semua arwah-arwah itu.
lengkingan teriakan mereka memenuhi hutan itu. satu persatu mereka dibakar dengan api yang menyala-nyala.
"sekarang giliran mu Ranggina" ratu Sundari beralih ke kuntilanak merah
"lepaskanlah aku. akan aku balas kamu Sundari" kuntilanak merah memberontak namun tidak membuat ia terlepas dari lilitan selendang ratu Sundari
ratu Sundari tidak menanggapi. bibirnya mengucapkan sesuatu dan di telapak tangannya muncullah sebuah bola kecil berwarna hijau.
ratu Sundari melesatkan sinar bola itu ke arah kuntilanak merah. saat mendekat setan itu, sinar bola itu berubah menjadi anak panah dan melesat dengan cepat menusuk jantung kuntilanak merah.
mata setan itu membelalak dan kemudian dirinya meledak bersamanya dengan meledaknya semua para arwah itu.
hening.....
kini hutan itu kembali hening dan kabut yang menyelimuti perlahan-lahan mulai hilang.
"ratu" Melati berlari memeluk wanita cantik itu
"senang bisa bertemu lagi denganmu adikku" ratu Sundari memeluk Melati
El-Syakir dan yang lain berlari mendekati Adam dan Wulan. ratu Sundari pun mendekati mereka.
"apa yang terjadi dengan kak Dirga...?" El-Syakir menggendong tangan Adam
"dia akan baik-baik saja" ucap ratu Sundari
"berikan ini untuknya" ratu Sundari memberikan El-Syakir sebuah botol kaca berukuran kecil
"apa ini...?" tanya El-Syakir
"obat penawar racun yang ia minum"
"racun...?" mereka semua kaget
"jangan khawatir, setelah meminum itu dia akan pulih dengan perlahan-lahan"
"Senggi"
"saya ratu"
"kita pergi. tugas kita sudah selesai"
"baik ratu"
"terimakasih banyak ratu. lagi-lagi ratu menolong kami"
ratu Sundari mengangguk kecil dan tersenyum. saat hendak akan berbalik untuk menghilang, seketika tangannya ditahan oleh seseorang. karena kaget, ratu Sundari menoleh. rupanya tangan Adam yang menahannya.
__ADS_1