
pagi hari perempuan tim samudera membantu ibu Nurma memasak di dapur. setelah sholat subuh mereka berkutdapur sementara untuk laki-lakinya, mereka di dalam kamar melanjutkan tidur setelah sholat subuh.
"ibu nggak jadi ke pasar....?" Zahra bertanya, saat ini gadis itu sedang membuatkan teh hangat untuk mereka semua sementara Nisda menggoreng pisang
"jadi, ini ibu mau siap-siap. tolong bangunkan kakakmu untuk mengantar ibu ke pasar. ayahmu sudah berangkat ke pasar lebih dulu untuk membuka toko" ibu Nurma mencuci tangannya yang kotor
"sepagi ini paman sudah pergi bi...?" Seil bertanya
"pagi-pagi biasanya banyak pembeli. makanya setelah sholat subuh pamanmu itu langsung bergegas ke pasar untuk membuka toko" jawab ibu Nurma
"pasarnya jauh ya bu...?" tanya Alana
"tidak begitu jauh juga. kalian lanjutkan saja memasaknya ya, ibu tinggal dulu. kalau butuh sesuatu bilang saja sama Zahra" ucap ibu Nurma
"ada Seil juga bi, bibi tidak perlu cemas" ucap Seil
ibu Nurma langsung meninggalkan mereka menuju ke kamarnya untuk bersiap-siap. di ruang tamu Deva sudah duduk di sofa menunggu ibunya. setelah siap ibu Nurma langsung mengajak Deva namun langkah mereka terhenti karena Adam tiba-tiba saja datang menawarkan hal lain.
"bu, bisa aku sama kal Deva saja yang pergi ke pasar...?" Adam datang menghampiri keduanya
"kamu mau ke pasar...?" ibu Nurma mencoba mengulang keinginan Adam
"iya. setelah datang di desa ini aku belum pernah keluar jalan-jalan. aku ingin melihat keadaan pasar di desa Boneng. ibu tinggal tulis saja apa yang perlu dibeli, biar aku sama kak Deva yang belanja. mau ya ya ya" Adam merayu dan memegang tangan ibu Nurma
"gue juga mau ikut dong, sekalian mau jajan. kayaknya banyak kue-kue tradisional yang enak-enak di pasar" Vino yang baru saja keluar dari kamar bersama yang lain langsung menyahut
"gue juga mau ikut" ucap Leo
"hoaaaam....gue juga ikut" Bara menguap lebar sambil mengucek matanya
"bukannya kalian akan pulang hari ini juga. sebaiknya kalian semua siap-siap. perjalanan ke kota itu sangat jauh, kalian tidak boleh capek-capek" ucap ibu Nurma
"kami nggak jadi pulang hari ini bu, in shaa Allah besok. rencananya hari ini kami mau jalan-jalan ke beberapa wisata yang ada di kecamatan Boneng" El-Syakir menjawab
"tapi....kalian benar-benar mau belanja di pasar...?" di sana panas loh" ibu Nurma bertanya lagi meyakinkan mereka
"memangnya kenapa bu...?" Leo bertanya
"tidak kenapa-kenapa. tapi.... kalian kan laki-laki, apa kalian tidak malu...?" tanya ibu Nurma
"untuk apa malu bu, lagian kan kami bukan pergi untuk minta-minta. ibu tuliskan saja yang perlu kami beli, biar nanti kami yang eksekusi" Adam begitu senang ingin pergi jalan-jalan
"ya sudah" ibu Nurma pada akhirnya tidak bisa menolak
Deva pergi ke kamarnya untuk mengambil buku dan pulpen kemudian keluar lagi dan memberikan kedua benda itu kepada ibu Nurma.
ibu Nurma menulis satu persatu bahan-bahan yang harus di beli oleh anak-anak remaja itu. setelah selesai ia merobek kertas tersebut kemudian memberikannya kepada Deva.
"jangan sampai ada yang kelupaan ya. semua yang tertulis di kertas itu harus kalian beli semuanya" ucap ibu Nurma
"siap Bu bos" Adam mengangkat tangan memberi hormat kepada ibu Nurma membuat wanita itu tertawa kecil
"ya sudah sana pergi ibu tunggu di rumah" ucap ibu Nurma
wanita itu masuk ke dalam kamarnya mengganti pakaiannya kemudian kembali lagi ke dapur.
"loh udah pulang Bu, cepat sekali" Starla bingung melihat ibu Nurma datang lagi, ia mengira wanita itu telah pulang dari pasar
"ibu nggak jadi pergi, yang pergi mereka laki-laki" ibu Nurma tersenyum dan kembali mengerjakan pekerjaan dapur
"mereka mau ke pasar...?" tanya Nisda dan ibu Nurma mengangguk
"demi apa mereka bisa-bisanya mau ke pasar" Melati yang mengupas pisang terheran-heran
"katanya mau jalan-jalan saja" timpal ibu Nurma
"hhh, gue yakin si tukang gila belanja pulang-pulang pasti bawa banyak barang" ucap Nisda
"pasti itu idenya kak Dirga ya Bu...?" tanya Alana
"iya, dia ingin sekali ke pasar" jawab ibu Nurma
"nah kan, apa gue bilang" Starla menggeleng kepala
laki-laki tim samudera kini telah bersiap dengan pakaian yang begitu keren. padahal mereka hanya akan pergi ke pasar namun style yang mereka kenakan seperti akan pergi ke tempat mewah.
"kita pakai mobil saja karena motor hanya ada satu, motor milik Zahra" ucap Deva
"kalau begitu pakai mobilku saja, kak Deva yang nyetir" Adam melempar kunci mobilnya ke arah Deva. dengan cepat Deva menangkap kunci itu dan menekannya hingga mobil tersebut mengeluarkannya bunyi
mereka semua masuk ke dalam mobil. perlahan mobil itu meninggalkan pekan rumah Deva. mereka keluar lorong lebih dahulu kemudian belok kiri untuk ke jalan raya. beberapa meter ke depan mobil itu telah tiba di jalan raya dan melaju dengan kecepatan sedang.
"pasarnya jauh ya...?" tanya Bara
"nggak, paling 20 menit saja" jawab Deva
"kita ke ATM dulu ya kak" ucap Adam
"ngapain...?" tanya Vino.
"berak" Adam menjawab asal
pluuukk
__ADS_1
"aduh.... sakit tau" Adam meringis mengelus kepalanya yang digeplak oleh Vino
"gue nanya serius ege" Vino kesal dengan jawaban yang dilontarkan Adam
"namaku Adam ya bukan ege. nama apaan itu nama ege ege" Adam memberenggut
"tuh ATM, turun sana" Deva berhenti tepat di depan ATM
Adam keluar dan langsung masuk ke dalam ruangan yang tidak begitu besar itu. karena tidak ada yang mengantri maka Adam cepat keluar dan kembali ke dalam mobil.
"kak minta uang" baru saja masuk El-Syakir langsung mengadahkan tangannya di depan Adam
"ondeh Mandeh......baru juga masuk sudah di palak aja" Adam mencebik
"gue lupa bawa dompet, sini bagi uangnya" ucap El-Syakir lagi
"dam gue juga ya, dompet gue ketinggalan" ucap Leo
"gue juga kak Dirga" Bara ikut bersuara
sementara Vino yang baru saja akan mengatasinya sesuatu langsung dikomentarin oleh Adam.
"apa kamu....mau minta uang juga" Adam memicingkan matanya ke arah Vino
"hehehe" Vino hanya nyengir kuda dan mengangkat kedua jarinya
Deva tertawa kecil, mobil yang ia bawa kembali bergerak pelan menuju ke tempat tujuan mereka.
saat itu hp Deva berbunyi, salah seorang sedang menghubunginya. Deva hanya melirik sekilas kemudian kembali fokus menyetir memperhatikannya jalan di depannya.
"nggak mau angkat kak...?" tanya Adam
"memangnya siapa yang menelpon...?" tany Deva
Adam mengambil hp hitam tersebut kemudian melihat nama yang tertera di layar hp.
"Nabila kak" Adam memperlihatkan nama yang ada di layar hp
"biarkan saja" Deva seperti enggan untuk mengangkat telpon dari gadis yang bernama Nabila itu
namun karena tangan Adam yang gatalnya seperti ulat bulu, langsung menggeser tombol hijau sehingga panggilan itu tersambung.
"halo assalamualaikum. siapa ini" Adam mengucap salam dengan menirukan suaranya seperti suara perempuan
Deva menoleh tatkala suara Adam yang mendayu-dayu keluar. sementara mereka yang berada di kabin tengah melongo dengan mata yang membulat. sengaja Adam menyalakan speaker hp tersebut agar mereka semua dapat mendengar suara gadis itu.
"wa alaikumsalam, ini siapa ya...?" suara gadis di sebrang sana bertanya
"Deva mana...?" suara gadis itu mulai meninggi
"kenapa menanyakan kakak aku, memang kamu siapanya kak Deva...?" Adam mengedipkan mata dengan genit ke arah Deva
"aku pacarnya, kamu yang siapa. kenapa bisa hp Deva ada sama kamu. mana Deva"
"kak Deva ada yang nelpon nih" Adam memanggil Deva dengan suara yang begitu manja
"wah ngajak perang nih si markonah" ucap Leo
"kok gue geli sendiri ya liat elu kayak gitu dam" Vino merinding
sementara El-Syakir sejak tadi menahan tawanya agar tidak meledak karena kelakuan kakaknya itu.
Deva tidak menggubris panggilan Adam, rupanya ia sedang sibuk mencari tempat parkir untuk memarkirkan mobilnya. setelah itu ia mematikan mesin mobil.
"sudah sampai, ayo keluar" aja Deva
"keluar kemana kak, belum juga masuk" Adam tersenyum genit, masih dengan suara yang lemah lembut dan mendayu-dayu
kembali Leo dan Bara melongo mendengar ucapan vulgar dari Adam sementara El-Syakir sudah lebih dulu keluar.
"Deva, kamu tega banget sama aku" gadis yang bernama Nadila itu rupanya masih terus mendengar suara Adam
Deva mengambil hpnya dan mematikan panggilan. kemudian mengantongi benda tersebut di kantung celananya.
"mau keluar atau gue tendang...?" Deva bersiap melancarkan serangan
"hihihi, aku mau masuk. kyaaaaaa...." Adam buru-buru keluar dari mobil karena Deva sudah melancarkan serangannya
"jahat banget sih sama adik sendiri" Adam memberenggut
masih pukul 07.00 pagi namun pasar tersebut sudah ramai dengan pengunjung. beberapa toko mulai buka, pedagangnya yang lainnya pun sudah siap menanti pembeli.
"jadi kita mau kemana sekarang...?" tanya El-Syakir
Deva mengambil secarik kertas di kantung celananya dan mulai melihat tulisan ibunya yang harus mereka beli.
"kita ke penjual bahan-bahan kue dulu" jawab Deva
mereka mulai berjalan masuk ke dalam namun Bara menghentikan mereka.
"bagaimana kalau kita berpencar saja agar cepat selesai belanjanya kemudian mencari sesuatu yang kita inginkan" usul Bara
"memangnya kalian tau tempat penjualan bahan-bahan yang kita mau beli...?" tanya Deva
__ADS_1
"kan tinggal nanya kak" ucap Bara
"kamu nanya...?" Adam memulai lagi
"edan lu" Vino menyentil bibir Adam
"sungguh terlalu" Adam mencebik
Deva pun setuju dengan usulan Bara. mereka membagi tugas apa saja yang harus mereka beli. El-Syakir, Adam dan Vino sementara Deva, Leo dan Bara. mereka berpisah di tempat itu dan akan bertemu kembali di parkiran tersebut.
El-Syakir, Adam dan Vino ke tempat penjualan bahan-bahan kue. karena belum tau tempatnya dimana, El-Syakir bertanya kepada ibu-ibu yang sedang berbelanja kebutuhan lain.
"permisi bu" sapa El-Syakir
"iya, ada apa nak...?"
"tempat yang menjual bahan-bahan kue dimana ya...?"
"oh,lurus saja terus belok kiri kemudian belok kiri lagi. di situ tempatnya"
"terimakasih ya Bu"
"iya sama-sama"
mereka berjalan mengikuti petunjuk dari ibu. lurus, belok kiri dan belok kiri lagi hingga mereka sampai di toko penjual yang mereka cari.
mereka mulai belanja. rupanya di tempat itu bukan hanya bahan-bahan kue yang dijual melainkan beberapa kue kering dan roti bungkus juga tersedia.
melihat banyak makanan, Adam mengambil satu persatu sampai penuh di tangannya bahkan ia menyimpan di bajunya.
"astaga dam, elu mau pinik...?" Vino bertanya
"suka-suka akulah. awas kalau kamu minta ya" Adam mengancam
"hh, pelit"
karena ada roti kesukaannya, Vino pun mulai mengambil dan memilah milih yang ia sukai.
"El bayar ya" belanjaan keduanya sudah satu kantung besar
"astaga Kalian ini" El-Syakir geleng kepala
ia pun membayar belanjaan mereka menggunakan uang Adam karena keduanya baik El-Syakir maupun Vino tidak membawa dompet.
setelah membeli bahan-bahan kue, kini mereka beralih ke penjual sembako. seperti pertanyaan tadi, mereka bertanya dulu sebelum akhirnya sampai di tempat.
"bu, jual minyak goreng zaitun nggak...?" Adam langsung bertanya hal yang membuat penjual kebingungan
"minyak goreng zaitun yang bagaimana ya dek...?" tanya penjual karena baru itu ia mendengar barang yang disebutkan Adam
"itu loh bu, yang bisa buat wajah kinclong dan awet muda" ucap Adam
"minyak zaitun markonah" Vino membenarkan
"nah itu dia, ada nggak Bu...?" tanya Adam lagi
"ya nggak ada atuh dek. yang ada mah hanya minyak Bimoli" jawab si penjual
"kak Dirga ada-ada saja. yang jual begituan ya di toko makeup lah kak bukan di penjual sembako" El-Syakir geleng kepala
"Bu saya mau ini" El-Syakir memperlihatkan apa yang mereka butuhkan dengan cekatan penjual itu mengambilkan satu persatu
dua kantung besar telah tersedia, El-Syakir membayar dan meninggalkan tempat itu.
"kemana lagi kita...?" tanya Vino
"belanja pakai yuk yuk yuk" ajak Adam
"sudah gue duga..... pasti ujung-ujungnya di situ" ucap Vino
"ayo lah belanja baju. aku mau beli baju, celana, sepatu, celana kolor, bh" Adam mulai menghitung
"heh markonah, ngapain elu beli bh segala. elu masih waras kan...?" Vino memegang kening Adam
"bh itu buat kamu. nanti aku mau jual kamu di om-om centil. lumayan kan bisa ongkos pulang"
"kampret lu" Vino menendang Adam namun dengan cepat Adam melompat dan menjauh. keduanya pun terlibat kejar-kejaran di tempat itu
El-Syakir mengeja nafas dan memanggil keduanya untuk kembali ke mobil membawa barang-barang mereka.
"yah nggak jadi belanja dong" Adam cemberut
"belanjanya nanti saja, bawaan kita banyak" El-Syakir berjalan lebih dulu
sepanjang jalan bibir Adam monyong ke depan beberapa centi. ia bahkan terus mengoceh. saat melihat kaleng minuman di jalan, dengan keras ia menendang kaleng minuman itu hingga melayang jauh namun kemudian terdengar teriakan seseorang.
"aduuuuh" kaleng minuman itu mengenai kepala seseorang
"kenapa bos...?" laki-laki berbaju merah bertanya
"siapa yang beraninya melempar kepalaku" laki-laki yang bertubuh besar dengan otot-otot yang kekar berteriak dengan marah
(alamak.....gaswat ini) Adam menelan ludah
__ADS_1