Petualangan Mistis

Petualangan Mistis
Episode 86


__ADS_3

"ayah, apakah ayah punya foto kak Dirga yang sekarang...?" tanya El-Syakir


"ada" ayah Adnan mencari foto yang ia tunjukkan tadi ke Alana dan ibu Arini


"lihatlah, itu kakakmu, Dirgantara" ayah Adnan menyerahkan handphonenya ke El-Syakir


El-Syakir mengambil handphone itu dan melihat sebuah foto di layar handphone ayahnya. seorang laki-laki yang terbaring dengan berbagai alat medis di tubuhnya. El meneteskan air matanya. ia sangat kenal siapa yang terbaring di ranjang itu dengan tubuh kaku tidak bergerak.


"kak Dirga" ucapnya lirih dan air matanya jatuh kembali


"Adam" suaranya serak menyebut nama hantu itu


ibu Arini memeluk El-Syakir intuk menguatkan hatinya. Alana yang tidak bisa melihat kakaknya menangis ikut terisak dan memeluk ibu dan kakaknya itu.


di ruangan rahasia tempat itu, berkumpul Zidan dan ketiga pengawal andalannya. ada Furqon dan juga Ardi di dalam itu.


"kalian sudah menemui istri dari pria itu...?" tanya Zidan


"belum, mungkin besok saja" jawab Pram


"kira-kira siapa yang menyuruh pria itu melakukan tindakan bodoh seperti tadi" ucap Helmi


"sudah pasti mas Bahar. tentu dia orangnya" jawab Zidan


"kita tidak bisa tinggal diam dan terus di serang. sebaiknya kita menyuruh pengawal untuk mencari tau mas Bahar dan mengawasi gerak-geriknya. kalau perlu sekali-kali kita berikan kejutan untuknya" ucap Randi


"benar. aku setuju dengan ide Randi. timpal Helmi


"maaf menyela percakapan kalian. kalau kami berdua boleh tau, Bahar itu siapa ya...?" tanya Ardi


"dia orang licik yang ingin merebut Sanjaya grup, dan sampai mati aku tidak akan menyerahkan semuanya kepada manusia picik itu" jawab Zidan dengan tatapan tajamnya


"tapi......ada yang aku pikirkan dari kejadian tadi" ucap Helmi


"ada apa...?" tanya Zidan


"sepertinya yang melihat itu bukan hanya aku saja tapi kalian semua pasti melihatnya. di saat pak Adnan di tembak oleh pria itu harusnya pelurunya mengenai pak Adnan kan, tapi yang ada malah pak Adnan baik-baik saja dan tidak terluka sama sekali. padahal dua kali pria itu menembak namun tidak membuat pak Adnan terluka. bukankah itu aneh" ucap Helmi


"benar juga. harusnya mas Adnan terluka terkena tembakan namun yang ada mas Adnan malah baik-baik saja" timpal Zidan membenarkan perkataan Helmi


"Furqon" panggil Pram


"ya" jawab Furqon


"apakah kamu tau sesuatu. apakah teman gaib El-Syakir dan teman-temannya yang menyelamatkan pak Adnan...?" tanya Pram melihat Furqon


"kalian tau tentang hantu yang bernama Adam itu...?" Ardi ikut menimpali


"jadi benar mereka mempunyai teman gaib...?" tanya Zidan


"bukankah aku pernah memberitahukan ini pada kalian semua" jawab Pram


"aku pikir waktu itu kamu dalam keadaan heng, jadi berbicara ngawur" timpal Zidan dengan raut wajah nyengir ke arah Pram


"sialan kau" Pram melempar bantal sofa ke arah Zidan dengan raut wajah kesal


"aku tidak tau pasti karena aku sedang berjaga di luar. mendengar cerita kalian kemungkinan itu memang dia" ucap Furqon


"jadi benar mereka mempunyai teman gaib. anak-anak itu sungguh luar biasa bisa berteman dengan makhluk tak kasat mata. nggak takut apa" ucap Randi


"mereka bukan kamu, yang penakut minta ampun" cibir Helmi


"kayak kamu nggak aja. dulu siapa yang teriak-teriak histeris bahkan melompat di punggungku saat kita tersesat di kuburan" balas Randi mencibir


"itu bukan aku" elak Helmi tidak mengaku


"terus siapa, setan....?" ucap Randi


klak


saklar lampu berbunyi dan lampu seketika mati saat Randi menyebut nama demit.


"lah kok lampunya mati" ucap Pram meraba handphone di atas meja


"rusak kali" timpal Ardi menyalakan senter handphonenya


"nggak mungkinlah. lampu itu saja bahkan lebih mahal dari harga jam tanganku, masa iya rusak" ucap Randi


Zidan berjalan ke arah saklar dan menekan benda itu sehingga ruangan luas itu kembali terang benderang. mereka bernafas lega dan mematikan senter handphone.


"Edward apa kabar ya. harusnya dia datang dipernikahanmu" ucap Pram. mereka mengubah topik pembicaraan

__ADS_1


"dia tadi telepon. dia nggak bisa meninggalkan Dirga begitu saja. sudah dua kali Dirga mengalami kritis" jawab Zidan yang kembali duduk di sofa


"aku penasaran dengan keponakan bos, seperti apa wajahnya. karena hanya aku yang belum pernah melihatnya" timpal Furqon


"dia tampan seperti diriku" ucap Randi dengan PDnya


"kepedean banget Anda. nggak punya cermin ya, mau aku belikan" timpal Helmi mengejek


"jelaslah. buktinya sekarang aku udah nggak jomblo lagi, nggak seperti dirimu yang masih karatan nggak laku-laku" jawab Randi tidak mau kalah


"aku hanya belum menemukan yang cocok, bukan berarti nggak laku" kesal Helmi dipanggil jomblo karatan


"jangan sok jual mahal, nanti jadi perjaka tua. hahahaha...uhuk...uhuk" Pram terbatuk-batuk karena Helmi memasukkan kue bolu ke dalam mulut pria itu


"rasain. makan tuh kue" ucap Helmi dengan sangat kesalnya


"enak" timpal Pram yang memakan kue itu dan Helmi memutar bola matanya


Zidan dan hanya geleng-geleng kepala melihat tingkah ketiga pengawalnya itu.


"aku punya fotonya. kamu mau lihat Furqon...?" tanya Zidan


"tentu" jawab Furqon


Zidan mencari foto Dirga di layar handphonenya. pria itu mencari foto kebersamaan mereka sebelum Dirga mengalami koma.


"ini dia" Zidan memperhatikan foto dirinya dan juga Dirga yang sedang berada di puncak


Furqon melihat foto itu. lama memperhatikan, ia kemudian mengucek-ngucek matanya dan melihat menatap Zidan.


"ini benar tuan muda Dirga Sanjaya...?"tanya Furqon


"iya, memangnya kenapa...?" tanya Zidan


"maaf bos" Furqon meminta maaf terlebih dahulu dan mengambil handphone Zidan untuk melihat pasti foto itu


(ini kan Adam. wajah, hidung, mata, bahkan senyuman mereka sangat mirip sekali) batin Furqon menatap foto Dirgantara


(tidak salah lagi, dia benar-benar Adam. jadi hantu yang gentayangan itu adalah tuan muda Dirga Sanjaya)


makan malam telah di hidangkan dia atas meja. semua yang memasak adalah Vania dibantu oleh ART di rumah itu. untuk Thalita, ia hanya melihat saja karena dirinya tidak pintar melakukan dalam hal perdapuran.


"wooaaaah.... makanannya enak semua" ucap Vino melihat berbagai macam aneka lauk


"bukan bibi tuan Zidan tapi istri tuan yang masak. bibi hanya bantu-bantu saja" jawab bi Imah, ART di rumah itu


"kamu sayang...?" Zidan menatap Vania yang duduk di sampingnya


"iya. silahkan semuanya. maaf ya kalau mungkin ada rasa yang kurang pas" jawab Vania mengambilkan makanan untuk suaminya


"kita seperti makan di hotel" ucap Alana takjub


"kapan-kapan ayah akan bawa kalian makan di restoran hotel" timpal ayah Adnan


Alana mengangguk tanda setuju. semua makan dengan lahap. tidak ada rasa yang kurang pas, semua makanan itu pas di lidah dan tentunya lebih pas juga di perut.


El-Syakir melihat sekelilingnya mencari Adam. ia ingin bertemu dengan hantu itu. setelah tau kalau Adam adalah kakaknya, El-Syakir begitu ingin secepatnya bertemu dan memeluk Adam dengan eratnya.


"wah Zidan, kalau setiap hari Vania memasak seperti ini, bisa-bisa perut sixpack mu akan berubah menjadi buncit" ucap Pram menikmati makanannya


"nggak apa-apa, buncit tanda sejahtera. iya kan sayang" jawab Vania


"iya" jawab Zidan yang mengunyah makanannya


di tempat lain, Adam masih bersama hantu merah gigi. setelah bercerita horor dan pendengarannya malah kabur, kini kedua makhluk itu sedang bermain kartu bersama para hantu yang lain. entah darimana mereka mendapatkan benda itu, namun itulah yang mereka lakukan sekarang.


"jangan yang itu, yang ini aja" Adam menarik kartu milik hantu gigi merah dan membantingnya di tanah


"ayo mas poci, turun" ucap Adam


mas poci menggeleng pertanda tidak ada kartunya yang lebih tinggi dari kartu milik hantu gigi merah, begitu juga sundel bolong, dan mba Kunti.


"nah kan, mereka tidak berani melawan kesaktian kartumu"


permainan terus di mulai bahkan kini sudah mulai ricuh karena mba Kunti dan sundel bolong saling tarik rambut. penyebabnya adalah, sundel bolong selalu mengintip kartu mba Kunti membuat mba Kunti jengah dan memarahi si sundel dan pertarikan rambut pun terjadi.


"ho ho ho ho" mas poci terlihat senang dengan melompat-lompat


"gagaga" hantu merah bertepuk tangan memberikan semangat kepada kedua hantu itu


"lah loh, kok pada tarik-menarik ini. bagaimana ceritanya" ucap Adam yang melihat mba Kunti dan sundel bolong sudah guling-guling di tanah.

__ADS_1


"hantu gimer (gigi merah). pisahkan mereka, malah girang aja kamu tepuk tangan gitu" ucap Adam


"gagagaga" hantu gimer menggeleng dan terus bertepuk tangan sementara mas poci melompat-lompat senang lawannya malah bertengkar


"haduuuuh, pusing pala bebi pala bebi" Adam memegang kepalanya


"hihihihihi.... hihihihihi"


"ho ho ho ho"


"gagagaga"


"ka ka ka ka"


"grrrrrrrr..... grrrrrrrr"


penghuni kuburan itu keluar dari tempat mereka untuk melihat perkelahian mba Kunti dan sundel bolong. seperti arena di pertinjuan, mereka mengelilingi kedua makhluk itu.


"setooooooooop" teriak Adam


mba Kunti dan sundel bolong berhenti saling adu jotos. mereka melihat ke arah Adam begitu juga dengan hantu yang lainnya.


"mau berhenti atau aku cium" ancam Adam


mba Kunti dan sundel bolong saling tatap, kemudian mereka tersenyum menyeringai melihat ke arah Adam.


"hihihihihi" mba Kunti malah tertawa centil dan memonyongkan bibirnya


(aduh. salah ucap aku) batin Adam ngeri melihat bibir mba Kunti


mba Kunti dan sundel bolong tersenyum centil dan mendekati Adam sehingga yang terjadi selanjutnya


"kyaaaaaaaa.... El tuluuuuuuuung" Adam melayang ke sana ke mari menghindari dua makhluk yang ingin menciumnya


"gagagaga" hantu gigi merah tertawa terbahak melihat Adam sedang berusaha menyelamatkan diri


karena terus di kejar, Adam menghilang begitu cepat dan bersembunyi di atas pohon.


"awas kamu ya hantu gigi merah. tunggu pembalasanku" gerutu Adam yang kesal hantu gigi merah bertepuk tangan dan terus tertawa


"sial banget sih aku. malah lapar, nggak ada melati, dikejar Kunti. ish....sebel sebel sebel" Adam terus memetik daun di pohon itu


mba Kunti dan sundel bolong yang tidak menemukan Adam akhirnya kembali ke tempat mereka. merasa dirinya aman, Adam keluar dari tempat persembunyiannya. ia ingin kembali ke rumah Zidan namun ledakan besar terdengar di area perkuburan.


ddduuaaaaarrrrrr


buuuummmmm


"apaan tuh"


api menyala di pojok tempat pemakaman. karena rasa ingin tahu, Adam melayang menghampiri suara ledakan itu. anehnya, yang tadinya banyak makhluk di tempat itu kini berubah menjadi sunyi dan sepi.


saat sampai di tempat ledakan, Adam melihat seorang pria yang terlihat tua sedang duduk bersila dan memejamkan mata. di sampingnya ada seorang pria yang seumuran dengan ayah Adnan.


"apa tidak apa-apa Mbah Surip dengan ledakan tadi...?" tanya pria itu kepada pria yang ia panggil si Mbah


"sudah diam saja. jangan ganggu konsentrasi ku" jawab si Mbah Surip mengingatkan


"baik Mbah" pria itu diam


"sedang apa mereka" Adam mengintai agak sedikit jauh


Mbah Surip merapalkan mantra dengan mulut yang komat-kamit. sebuah dupa berada di depannya dan sesekali mengambil bubuk entah apa dan di masukkan ke dalam dupa sehingga asap benda itu mengepul banyak.


"iris tanganmu dan tadahkan darahmu di wadah ini" perintah Mbah Surip


"baik Mbah"


pria itu mengambil pisau dan mengiris jarinya kemudian darahnya ia simpan di wadah yang telah di persiapkan.


"jangan-jangan mereka pesugihan" Adam masih terus memperhatikan


setelah darah itu berada di wadah kecil, Mbah Surip mencampur darah itu dengan bunga kantil kemudian menyiram di dupa yang ada di depannya. seketika dupa itu terbakar dengan api menyala namun setelahnya api itu padam kembali.


"wahai penguasa dunia gelap, aku menyembahmu malam ini. datanglah.... datanglah" Mbah Surip berkata dengan suara ia keraskan


"ratu penguasa gelap, aku memanggilmu. datanglah" ucap Mbah Surip lagi


setelah memanggil entah siapa, angin bertiup kencang, daun-daun berterbangan hingga sampai angin itu kembali tenang.


dari jauh terdengar suara gelang kaki yang gemerincing, seorang wanita dengan kebaya hitam dan mahkota yang berkilau di kepalanya. rambut terurai sampai pinggang. selendangnya berwarna hitam dan juga seekor ular melilit tubuhnya namun tidak menyakitinya.

__ADS_1


melihat wanita itu, Adam mengangga dan sangat kaget. wanita itu sangat ia kenal bahkan pernah bertemu dengannya dan masuk ke alamnya.


__ADS_2