Petualangan Mistis

Petualangan Mistis
Episode 105


__ADS_3

semua hadiah-hadiah itu telah Adam buka satu persatu. mulai dari jam tangan, jaket hoodie warna navy, topi, baju kaos dan masih banyak lagi. bahkan di dalam hadiah-hadiah itu ada nama pemberi dan juga secarik kertas yang sepertinya berisi surat.


"ekhem ekhem" Adam berdehem bersiap membaca surat yang ada di tangannya


"senin dulu baru selasa"


"cakep" sorak Leo dan Vino mendengar pantun yang dibacakan oleh Adam. sementara El hanya mendengarkan saja


"senyum dulu baru dibaca" lanjut Adam


"siapa sih yang bikin pantunnya, pinter banget" timpal Starla


"di sini sih nggak ada namanya" Adam membolak-balikan kertas itu namun tetap tidak menemukan sebuah nama di sana


"lanjut dam" ucap Vino yang penasaran dengan isi suratnya


"apanya yang lanjut...?" Bara dan Nisda baru saja kembali dari kantin dengan beberapa snack di tangan mereka


"baca surat cinta buat El. nanti elu balas ya El" Leo menjawab sambil membuka kripik yang dibawa oleh Bara


"ogah, kurang kerjaan banget gue" balas El dengan wajah tidak setuju


"kalau gitu nanti gue yang balas" timpal Vino mengambil kripik yang ada di tangan Leo membuat Leo mendelik kesal


"nggak usah ngada-ngada deh Vin. gue malas berurusan dengan namanya perasaan" El membuka minumannya


"heran banget gue sama lu El. yang dekatin elu banyak loh, nggak ada gitu satupun yang tertarik di mata elu" ucap Starla


"nggak ada" jawab El


"gue penasaran, siapa sih nanti yang bisa cairin es batu balok seperti elu. kalau ada cewek yang bisa dapatkan hati elu, fix dia memang sangat spesial" Bara menimpali dan semuanya mengangguk membenarkan ucapan Bara


"eh jadi lupa kita sama isi suratnya. bacakan dam" perintah Vino


"untuk El-Syakir" baca Adam


"itu doang...?" Leo mengambil kertas itu dan memeriksanya


"hadeeeh, nggak romantis banget" Leo membuang kertas itu


"ini untuk aku semua ya, kan kamu nggak mau" Adam mengisi barang-barang itu ke dalam kantung


"ambil aja, gue nggak butuh" jawab El


"dam, elu kan calon direktur, suka banget ngambil gratisan" cibir Leo


"karena yang gratisan nggak makan ongkos. ih kalian mah curang, beli makanan kenapa nggak belikan dengan aku" Adam mendelik


"nggak ada jual melati di kantin" jawab Nisda


"pulang belikan ya, kamu udah janji loh" Adam menunjuk Bara


"iya kak, gue belikan sekarung kalau perlu" jawab Bara


"jangan juga sekarung, aku nggak bawa karung ini" timpal Adam membuka jaket hoodie yang ia coba tadi dan menyimpannya ke dalam kantung.


jam istrahat telah habis, kini waktunya masuk pelajaran kedua. tim samudera berpisah di depan kelas El-Syakir dan menuju ke kelas masing-masing. hanya El, Leo dan Vino yang satu kelas, selebihnya mereka berbeda kelas.


setelah mengikuti berjam-jam serangkaian mata pelajaran, bel panjang berbunyi pertanda semua siswa-siswi pulang ke rumah masing-masing.


tim samudera saling menunggu di depan kelas dan menuju parkiran bersama. di tempat parkir Alana sudah menunggu El-Syakir bersama dengan Seil.


"bentar ngumpul yuk" ajak Vino yang memakai helmnya


"dimana...?" tanya Bara yang sedang memberikan helm kepada Nisda


"di rumah gue aja gimana, kebetulan semalam itu nyokap gue habis bikin kue" usul Vino


"nyokap lu udah nggak kayak kemarin-kemarin kan...?" tanya El


"masih sangar mungkin, takut gue" timpal Nisda


"nggak lah, nyokap gue udah berubah jadi malaikat tanpa sayap. udah nggak kayak kemarin-kemarin pokoknya" Vino meyakinkan


"benar ya, jangan sampai kayak waktu itu kita main ke rumah elu, terus nyokap lu pas kita pulang langsung marahin elu. gue nggak mau elu dimaki-maki lagi Vin" kali ini Leo yang berbicara


jelas saja El dan Leo tau bagaimana sikap mama Nifa kepada Vino belakangan terakhir sebelum kejadian di pesta pernikahan Zidan. wanita itu sangat membenci Vino yang mana remaja itu adalah anak kandungnya sendiri. untuk yang lain mereka tau itu semua dari cerita El dan Leo, bagaimana sikap mama Nifa kepada Vino anaknya.


"udah baik kok, gue ama nyokap gue udah akur. kan gue udah cerita sama kalian" ucap Vino


"ok lah, nanti kita semua ketemu di rumah Vino" El setuju


El memberikan helm kepada Alana. sedang Seil menunggu seseorang untuk mengantarnya pulang.


"kamu gimana Seil...?" tanya Alana


"aku ke halte aja, nungguin kakakku datang" jawab Seil


"ya udah, Hati-hati ya... sampai ketemu besok"


"iya, kamu juga" Seil meninggalkan mereka menuju halte.


sebelum melewati gadis itu, El berhenti sejenak di sampingnya.


"nggak apa-apa kan kita tinggal...?" tanya El


"nggak apa-apa" jawab Seil tersenyum manis


"ya udah. duluan ya


El-Syakir kembali menjalankan motornya. Alana melambai kepada Seil dan gadis itu membalas lambaian tangan Alana, teman barunya di sekolah.


untuk Adam, hantu itu bersama Leo. dirinya akan pulang bersama Leo dan bertemu dengan yang lainnya sore nanti di rumah Vino.


Bara yang terus ditagih perihal melati, akan membelikan Adam bunga kesukaannya itu saat berangkat nanti ke rumah Vino.


"kamu benaran nggak punya adik ya Leo...?" tanya Adam yang melayang turun dari motor Leo


"nggak" jawab Leo mematikan mesin motornya dan berjalan ke arah pintu masuk

__ADS_1


"rumah sebesar ini pasti akan sepi sekali kalau nggak ada anak kecil" ucap Adam mengikuti Leo untuk masuk


"baru pulang den...?" tanya IRT yang bekerja di rumah Leo


"iya bi. mama mana bi...?" tanya Leo


"di belakang den, lagi siram tanamannya" jawab bi Ira


"oh. kalau gitu aku ke kamar dulu ya bi"


"iya den"


Leo menaiki anak tangga menuju kamarnya. Adam melayang mengikuti Leo dan sampailah mereka di kamar Leo yang seukuran lapangan bola, sangat luas dan rapi. remaja itu memang sangat pembersih, sama seperti El dan beda dengan Vino.


"luas sekali kamarmu" ucap Adam membuka gorden jendela


"sama dengan kamar elu di rumah paman Zidan" timpal Leo membuka kancing bajunya satu persatu


"eh tapi ngomong-ngomong, tumben elu ngikutin gue nggak ngintilin El terus" Leo membuka lemarinya dan mengambil baju kaos untuk di pakainya "


"emang kenapa, nggak boleh ya...?" Adam memainkan laptop milik Leo


"bukan gitu maksud gue. biasanya elu nggak bisa jauh dari El, kan gue heran aja" Leo masuk ke dalam kamar mandi. beberapa menit ia di dalam dan keluar lagi


"mau ikut turun di bawah nggak, gue mau makan" Leo melihat Adam


"ada melati...?" tanya Adam


"mana ada gue makan melati dam. nanti Bara bawain elu sebentar"


"oh, kalau gitu aku nggak ikut"


"ok lah"


Leo keluar kamarnya dan menuruni anak tangga, kemudian menuju dapur dimana makan siang telah tersaji di atas meja. remaja itu langsung menyendok nasi dan lauk kemudian melahap makanannya.


Adam merapatkan kedua tangannya di dada dan sedetik kemudian dirinya sudah berada di tempat lain.


"wah melati" mata Adam berbinar melihat makanan kesukaannya di depan mata


Adam mulai memetik bunga-bunga itu dan membawanya ke dalam mulut. wanita yang sedang bersantai di kursi dan membaca buku tidak mengira kalau bunga melatinya telah di petik oleh hantu yang penyuka bunga putih itu.


"tante, aku izin petik bunganya ya" Adam berucap dengan sopan


"oh iya nak, silahkan. petik saja semaunya" Adam menjawab ucapannya tadi. dia yang minta izin, dia juga yang memberi izin. tentu saja seperti itu karena ucapannya tidak di dengar oleh sang pemilik rumah


"hihihihihihi... terimakasih tante" ucapnya lagi


masih sibuk dengan memetik bunga, suara seseorang terdengar sedang menyapa wanita yang bersantai tadi.


"mah, papa keluar kota lagi ya...?" Leo duduk di kursi yang bersebelahan dengan mama Melisa. hanya dihalang oleh meja kaca yang bundar


"nggak, papa di kantor, nanti sore pulang" jawab mama Melisa


"emmm Leo izin ke rumah Vino ya mah"


"sore nanti abis ashar" jawab Leo


"haaaah" terdengar helaan nafas dari mulut wanita itu


"kenapa mah...?"


"kamu jalan terus, mama kesepian di rumah. kapan ya mama hamil lagi" mama Melisa mengusap perutnya


Adam yang mendengar percakapan keduanya langsung mendekat dan duduk di lantai di samping Leo.


"lah bukannya elu tadi di kamar ya...?" Leo berbisik


"aku kan jin, bisa ngilang sesukaku" jawab Adam


"mama pengen punya anak Leo. gimana menurutmu...?" mama Melisa memandang anak satu-satunya itu


"Leo kan udah gede mah, masa mau punya adik" Leo terlihat tidak setuju


"tapi mama kesepian di rumah sayang. papa sering ke luar kota, kamu main mulu nggak ingat mama. kalau kamu punya adik, mama kan ada temannya di rumah" mama Melisa mengutarakan perasaannya


"mau aja, punya dede bayi kan lucu" Adam ikut menimpali


"ck, apa kata teman-teman Leo kalau Leo nanti punya adik" ucap Leo masih tidak ingin


"ngapain urusin teman-teman kamu sih. yang ngurusin adik kamu nanti kan mama bukan mereka"


"betul betul betul"


"ish, diam nggak lu"


"kamu suruh mama diam...?"


"eh.... bu-bukan mah" Leo menggaruk kepalanya


"terus...?" mama Melisa mengangkat satu alisnya menatap Leo


"pkoknya Leo nggak mau punya adik"


"alasannya apa sayang...?"


"Leo malu mah, masa udah gede masih punya adik bayi"


"ya kan rezeki nggak bisa kita tolak sayang"


"mama hamil...?"


"belum, tapi mama mau program hamil" mama Melisa tersenyum


"tau ah, Leo bete" Leo berdiri dan meninggalkan mama Melisa


"kapan sih kamu setuju sayang" mama Melisa menatap punggung anaknya yang menjauh


Adam mengikuti Leo masuk ke dalam kamarnya. remaja itu bersembunyi di dalam selimut tanpa terlihat.

__ADS_1


"kamu nggak mau punya adik karena nggak ingin punya saingan kan...?" ucap Adam


Leo membuka selimutnya dan hanya kepalanya saja yang terlihat. ia melihat ke arah Adam yang sedang duduk di kursi belajarnya.


"sok tau lu" ucap Leo


"bukannya aku mau ikut campur tapi apa salahnya kamu punya adik. banyak kok di luar sana yang umurnya bahkan melebihi kamu tapi mereka masih punya adik. karena kenapa, karena Tuhan percaya kepada orang tua mereka untuk merawat anak bayi"


"yang namanya orang tua, jelas akan selalu menyayangi darah dagingnya. jangan takut punya saingan untuk mendapatkan kasih sayang, karena cinta kasih ibu untuk anak itu sepanjang jalan. entah kamu anak sulung atau anak bungsu, nggak akan membedakan kasih sayang orang tua"


"gue nggak mau sayangnya mama sama papa terbagi ke adik bayinya" Leo membuka selimutnya dan bersandar di ranjang


"itu namanya kamu egois"


"kok egois sih"


"ya iyalah. kamu nggak mau punya adik tapi kamu jalan mulu tinggalin tante melisa sendirian di rumah. maunya dapat kasih sayang tapi kamu tidak menunjukkan kasih sayang"


"aku jalan kan juga sama kalian, lagian gue bete di rumah"


"nah kan. elu aja bete di rumah apalagi tante Melisa" Adam melayang duduk di kasur


"punya adik tidak seperti yang kamu bayangkan, seru tau. kamu akan semangat pulang ke rumah karena ada yang nungguin kamu pulang untuk bermain dengannya, ada yang panggil kamu abang atau kakak. dia akan mengadu cerita sama kamu tentang kegiatannya di luar"


"kalau kamu punya adik, aku akan sering datang ke sini. aku paling suka dede bayi. mereka imut dan menggemaskan"


Leo tidak bicara namun dirinya melamun memikirkan perkataan Adam bahwa dirinya egois. ingin kasih sayang tapi dirinya selalu meninggalkan mama Melisa.


(apa gue setuju aja punya adik...?) batinnya


"kak, Lana ikut ya" Alana merengek ingin ikut bersama El ke rumah Vino


"ya udah, ganti pakaian sana"


"ok, bentar ya" Alana mencium pipi El sekilas dan berlari menaiki anak tangga menuju kamarnya


"dasar bocah" gumam El melihat Alana begitu bersemangat


setelah berganti pakaian, mereka berdua berpamitan kepada ibu Arini dan juga Vania. di halaman depan, mereka bertemu dengan Azam yang sedang bermain bulu tangkis bersama salah satu pengawal.


"pukul yang kerasa Zam" teriak El


"kak El sama kak Lana mau kemana...?" tanya Azam saat melihat El mengeluarkan motornya dari bagasi


"mau keluar dek. kamu mau pesan sesuatu...?" tanya El


"emang boleh...?"


"tunggu ya paman" Azam berlari ke arah El-Syakir dan Alana


"ok" jawab pengawal teman bermain Azam


"boleh dong, tapi mungkin kakak malam baru pulang" jawab El


"kalau gitu, aku pesan martabak coju ya"


"boleh boleh, nanti kakak bawain" jawab El


"paman pengawal nggak sekalian nitip juga...?" Alana berucap keras agar di dengar oleh pengawal yang sedang duduk istrahat "


"emang boleh nona...?" tanyanya


"boleh paman. mau pesan apa...?" tanya El


"samain aja sama Azam"


"ok, di tunggu aja ya"


"sip tuan muda" pengawal itu mengangkat kedua jempolnya


Furqon yang berada di tempat itu juga menghampiri El dan Alana.


"mau keluar tuan muda...?" tanya Furqon


"iya kak, ke rumah Vino" jawab El


"baiklah, aku tetap pantau dari jauh bersama Ardi"


"makasih ya kak" ucap Alana


"sama-sama nona, itu memang sudah tugas kami" jawab Furqon yang langsung menuju mobilnya untuk mengikuti El dan Alana dari belakang


keduanya meninggalkan halaman rumah dan membelah jalan raya. hanya beberapa menit mereka sampai di rumah Vino. sudah ada Bara, Nisda, dan Starla. Leo dan Adam belum terlihat batang hidung keduanya.


mereka berkumpul di halaman belakang rumah Vino. tidak ada kedua orang tuanya karena mereka menghadiri sebuah acara, namun Vino sudah memberitahu mereka bahwa teman-temannya akan datang ke rumah.


Adam sedang sibuk memilih pakaian Leo untuk ia kenakan. sementara Leo masih melaksanakan kewajibannya sebagai umat muslim.


"belum selesai juga elu milihnya" Leo baru saja selesai sholat


"aku bingung, bajunya bagus semua" Adam mengetuk-ngetuk dagunya


"buruan, kita udah ditunggu dari tadi"


"iya iya"


Adam mengambil baju yang di sukanya. kaos warna putih dan kemeja kotak-kotak lengan panjang berwarna merah. ia memakainya tanpa mengancingnya, celana jeans hitam dan sepatu putih.


"woah, keren banget lu. kalau ratu Sundari liat, makin klepek-klepek pasti dia" puji Leo


"hihihihihihi, aku ganteng kan...?" Adam menaik turunkan alisnya


"nggak" jawab Leo ketus


"ish, dasar" cebik Adam


"ayo buruan" Leo sudah berada di depan pintu


"iya" Adam melayang menghampirinya

__ADS_1


__ADS_2