Petualangan Mistis

Petualangan Mistis
Episode 159


__ADS_3

"Zahra" panggil Adam


hari yang mulai gelap membuat gadis itu mempercepat langkahnya, bahkan dia menggandeng tangan Adam dan terus melangkah tanpa berhenti.


"Zahra" panggil Adam lagi karena panggilan pertama, gadis itu tidak menjawab


Adam bahkan menghentikan langkahnya membuat Zahra pun terhenti karena tangannya yang berat menarik tangan Adam.


"jangan berhenti kak, ayo kita harus sampai rumah sebelum matahari tenggelam" Zahra berbalik melihat Adam


"memangnya ada apa sih, sikap kamu saat kita pergi dan pulang sekarang itu sangat berbeda" Adam menelisik


"tidak apa-apa kak, Zahra hanya takut tertinggal waktu magrib"


Zahra kembali menarik tangan Adam dan mereka kembali melangkah. Adam masih terus memperhatikan sekitarnya, pintu rumah tertutup rapat padahal tadi saat mereka pergi, rumah-rumah warga masih terbuka bahkan anak-anak pun masih berlarian ke sana kemari. namun untuk saat itu, desa itu seperti desa mati yang tidak berpenghuni, sunyi sepi dan terlihat kosong.


mereka telah sampai di lorong, beberapa meter lagi mereka akan tiba di rumah.


"ayo cepat kak" ucap Zahra menarik Adam


"sejak tadi aku udah jalan cepat loh" jawab Adam mengimbangi langkah Zahra yang kian cepat seperti berlari


di depan rumah sudah ada ibu Nurma dan Deva yang menunggu kedatangan mereka.


"kenapa kalian lama sekali, ayo cepat masuk ke dalam rumah" ibu Nurma mengambil kantung ikan yang dipegang oleh Zahra dan membawa Adam dan gadis itu ke dalam


"kalian darimana...?" Melati bertanya saat melihat Adam dan Zahra masuk, ibu Nurma segera menuju dapur


mata Melati melihat ke arah tangan mereka yang saling bertautan. Adam segera melepas tangannya yang digenggam erat oleh Zahra.


"dari jalan-jalan" jawab Adam


sementara Zahra memegang tangannya yang gunakan tadi untuk menggenggam tangan Adam. gadis itu tersenyum, dan Melati melihat itu.


"berdua saja...?" tanya Melati


"iya, mau ajak kamu tapi kamu kan masih tidur. lain kali kita jalan-jalan berdua ya, sekarang aku mau ke kamar dulu untuk mandi" Adam berkata lembut kepada Melati dan tersenyum kemudian meninggalkan mereka masuk ke dalam kamar.


"kamu juga harus mandi Zahra, sudah mau magrib" Melati mengagetkan gadis itu yang sedang menatap Adam masuk ke dalam kamar


"ah iya. apakah kakak sudah mandi...?" tanya Zahra


"sudah, tinggal kamu saja. masuklah" jawab Melati


Zahra pun mengangguk dan masuk ke dalam kamar. Melati berniat menutup pintu karena pesan dari ibu Nurma tadi bahwa pintu harus ditutup jangan dibuka, namun Melati melihat masih ada Deva di luar sana yang memandang ke arah jalan.


"kak Deva" panggil Melati menghampiri Deva


"sedang apa kak, terus itu....kenapa ada obor...?" Melati melihat di rumah itu ada obor yang mengelilingi setiap sudut rumah


"kenapa kamu keluar, ayo kita masuk ke dalam" Deva pun segera masuk namun Melati belum juga beranjak


"ayo, jangan diluar sendiri, bahaya" Deva menarik Melati dan masuk ke dalam rumah kemudian menutup pintu dan menguncinya


"Allahuakbar Allahuakbar"


suara adzan menggema di desa itu, mereka pun bersiap untuk melaksanakan sholat magrib.


"sholat di masjid yuk, lagian masjidnya sepertinya dekat dari sini" usul Bara


"boleh tuh, lebih bagus sholat di masjid, dipedesaan seperti ini pasti banyak orang. ayo berangkat sekarang, nanti kita ketinggalan" El pun setuju, mereka bergegas keluar kamar untuk menuju ke masjid


"mau kemana...?" pak Firman, suami dari ibu Nurma bertanya saat melihat remaja-remaja itu keluar dari kamar


"mau ke masjid pak" jawab Vino


"jangan, sebaiknya kalian sholat di rumah saja" pak Firman melarang


"loh memangnya kenapa pak, masa sholat di masjid aja di larang" ucap Leo


"bukan saya melarang tapi ini untuk kebaikan kalian semua. lebih baik sholat di rumah saja. di ruang tengah lebih luas, ayo kita sholat di situ saja. biar perempuan sholat di kamar saja mereka" pak Firman melangkah menuju ruang tengah


mereka semua saling pandang dan bertanya-tanya ada sebenarnya sampai dilarang untuk sholat di masjid. namun tidak ingin membantah, lebih baik mereka mengikuti saja ucapan laki-laki paruh baya itu.


"sholat di sini pak...?" Deva baru saja datang, sepertinya dia baru saja berwudhu karena terlihat wajahnya yang basah dan juga lengan bajunya yang digulung


"iya di sini saja. ayo berbaris rapi, biar bapak jadi imam" ucap pak Firman


pak Firman berdiri di depan mereka semua sementara kini mereka di belakang laki-laki itu, mereka melaksanakan sholat magrib berjamaah.


"Zahra, aku boleh bertanya nggak...?" ucap Melati, saat Zahra selesai sholat


"mau tanya apa kak...?" Zahra melipat mukenah dan sajadahnya. yang lainnya pun sudah melaksanakan sholat magrib namun tidak keluar kamar


"itu kenapa di luar ada obor, padahal kan sudah ada lampu yang menerangi" tanya Melati yang begitu penasaran


Melati penasaran karena bukan hanya di rumah itu yang menyalakan obor di dikelilingi di setiap sudut rumah, rumah lainnya pun melakukan hal yang sama. Melati pikir mungkin ada tradisi atau alasannya sehingga mereka menyalakan obor, maka dari itu ia bertanya.


"sudah kebiasaan orang-orang di desa ini kak, kalau malam menyalakan obor. dulu sebelum listrik masuk, setiap rumah memang menyalakan obor mengelilingi sudut rumah agar dapat terang dan tidak gelap" Zahra menjawab tenang

__ADS_1


"tapi kan sekarang listrik udah ada, kenapa masih ada obor...?" tanya Melati lagi


"emangnya di luar ada obor ya...?" Starla membuka jendela kamar dan melihat ke luar, benar saja, ada obor di dekat kamar mereka


"iya benar, ada obor" Starla menutup kembali jendela kamar


"sudah kebiasaan jadi ya seperti itu. Zahra juga tidak tau apa alasan lainnya, hanya itu yang Zahra tau" jawab Zahra


"warga desa tidak akan menyalakan lampu di setiap sudut rumah, mereka lebih memilih obor untuk penerangan" ucap Zahra


"aneh banget, padahal kan udah ada listrik, ngapain susah-susah menyalakan obor" ucap Nisda


"daripada bahas obor, mendingan kalian memperkenalkan diri. sejak tadi kan Zahra belum tau nama kalian siapa" Zahra sengaja mengalihkan pembicaraan


"iya ya, sampai lupa kita untuk perkenalan. jadi nama aku Melati, ini Starla, itu Nisda dan yang di samping kamu namanya Alana dan kalau yang duduk di meja belajar jelas kamu sudah tau sendiri" Melati memperkenalkan diri dan juga memperkenalkan teman-temannya. yang duduk di kursi meja belajar adalah Seil


"selamat datang di desa ini ya, Zahra senang bisa kedatangan tamu yang banyak. biasanya rumah sepi, hanya ada Zahra, ayah dan ibu" ucap Zahra


"oh iya, jadi kalian mau mengunjungi wisata yang mana...?" tanya Zahra


"belum sih, kami harus diskusi dulu sama yang lain. lagi pula nanti akan diberitahu oleh kak Deva tempat mana yang paling menarik" jawab Melati


"kalau gitu kita keluar aja yuk, rembuk dengan mereka. besok kan kalian harus segera melakukan penelitiannya. kalau mah ikut beraksi dibelakang layar" ucap Nisda


"emang ini bukan tugasnya kak Nisda juga ya...?" tanya Seil yang sejak tadi hanya mendengarkan saja


"bukan, kami hanya datang menemani saja. ini tugas Melati, Vino, Leo, El-Syakir dan Adam" jawab Nisda


"gitu ya, Seil pikir tugas kalian semua" ucapnya


"ayuk keluar, mereka sepertinya ada di ruang tamu tuh" Alana turun dari ranjang


mereka keluar dari kamar, memang benar para laki-laki ada di ruang tamu. ketiga kamar itu ada di ruang tengah sedangkan ruang tamu adalah ruangan pertama saat masuk ke dalam rumah.


"jadi, gimana sama kegiatan kita besok...?" tanya Melati


"ini baru mau tanya sama kak Deva, tempat mana yang cocok" El menjawab


"pilihannya sih ada tiga. pertama puncak Boneng, kedua pantai hijau, ketiga permandian air terjun" Deva memberikan pilihan


"tiga-tiganya itu banyak orang-orang yang datang di tempat itu...?" Adam bertanya


"tentu banyak, apalagi kalau hari-hari khusus seperti hari raya, atau tahun baru kadang masyarakat di luar Boneng Gunu datang di ketiga tempat itu" jawab Deva


"hari biasa bagaimana...?" tanya Adam lagi


"bahkan setiap harinya ada yang pergi ke tempat-tempat itu apalagi hari libur" jawab Deva


"boleh juga, gue setuju sama ide El-Syakir. lebih baik survei dulu mencari yang cocok untuk kita jelajahi" Vino setuju


"waktu kita di sini hanya dua hari loh, berarti kalau survei dulu harus dilakukan besok saja dan lusanya sudah mulai melakukan video aktivitas" ucap Starla


"oke, kita semua setuju untuk melihat dulu ya. sekarang pertanyaan siapa yang akan menyurvei tempat-tempat itu...?" tanya Adam


"yang jelasnya kak Deva harus ikut, karena kak Deva yang tau tempatnya" ucap Alana


"begini aja deh, daripada mau survei dulu lebih baik aku perlihatkan beberapa gambarnya saja dan juga video-video yang aku ambil saat berada di tempat-tempat itu. tunggu aku ambil laptop dulu"


baru saja Deva beranjak, adzan isya berkumandang. terpaksa mereka menghentikan pembicaraan dan bergegas berwudhu untuk melaksanakan sholat isya.


selesai sholat, ibu Nurma memanggil mereka untuk makan malam. karena kursi yang kurang untuk tempat duduk mereka, tim samudera makan di lantai dengan beralaskan tikar. bukan hanya mereka, tuan rumah pun ikut makan dibawah bersama-sama dengan anak-anak itu.


"kalian nanti jangan ada yang keluar ya" ucap pak Firman di sela makannya


"memangnya kenapa pak...?" tanya Leo yang penasaran mengapa mereka dilarang keluar rumah


"ini kan sudah malam, malam itu waktunya untuk istirahat" jawab pak Firman


tidak ada lagi suara selama mereka makan malam. setelah selesai, laki-laki kembali ke ruang tamu sedangkan perempuan membereskan tempat makan dan piring kotor.


"biar ibu dan Zahra saja yang membereskan ini, kalian sebaiknya istrahat saja" ibu Nurma melarang gadis-gadis itu untuk membantu


"nggak apa-apa bu lagipula kami juga belum mengantuk. masih ada yang harus kami bahas untuk kegiatan kami besok" Melati menjawab sopan


"kalau begitu ibu buatkan kalian minuman dulu untuk menemani kalian berbincang-bincang"


"biar Alana saja bu, ibu sebaiknya yang istrahat. biar kami yang membereskan dapur" ucap Alana


"kalian anaknya yang sangat baik. kalau begitu ibu ke kamar dulu ya"


"iya bu, selamat istirahat" ucap Alana ramah


"bibi, tunggu sebentar" Seil menahan ibu Nurma dan membawanya menjauh dari yang lain


"ada apa Seil...?" tanya ibu Nurma


"apa...desa ini masih seperti dulu...?" Seil bertanya pelan


"jangan ceritakan kepada teman-teman mu nanti mereka takut" pinta ibu Nurma

__ADS_1


"jadi benar, masih seperti dulu. bukannya yang lalu sudah aman, ayah pernah mengatakan itu"


"Seil, dengarkan bibi" ibu Nurma memegang bahu Seil


"tetap diam dan jangan cerita. kasian teman-teman mu sudah jauh-jauh ke sini namun mereka akan kembali dengan tangan kosong. lagipula selama tidak keluar rumah pada malam hari, mereka akan baik-baik saja"


"ingat pesan bibi ya"


"iya bi" Seil mengangguk


ibu Nurma meninggalkan Seil menuju kamarnya. di dalam sudah ada pak Firman yang sedang bersandar di ranjang.


"ayah, bukankah besok malam adalah kedatangan mereka" ibu Nurma naik di atas ranjang dan duduk di samping suaminya


"iya benar, kita harus berjaga-jaga" jawab pak Firman


"ibu takut yah, bagaimana kalau terjadi sesuatu dengan anak-anak itu"


"kita akan memberitahu mereka besok malam, sebaiknya ibu istrahat. pasti lelah seharian mengurus rumah" pak Firman memeluk istrinya


"tidak selelah ayah yang mencari nafkah. ayah juga istrahat, besok malam kita tidak akan tidur semalaman"


"ayah berharap besok malam tidak akan ada lagi korban yang diambil"


"ayah membuat ibu takut, jangan bicara itu lagi. lagipula ada Deva juga di sini"


"kenapa Deva berani membawa teman-temannya ke desa ini padahal dia tau desa ini seperti apa" ucap pak Firman


"selama mereka tidak melanggar pantangan, semuanya akan baik-baik saja"


"ya sudah, kita tidur saja" keduanya berbaring dan mulai menutup mata


di dapur, Alana sedang membuat minuman untuk mereka semua sedangkan Starla menyiapkan cemilan yang mereka beli tadi di minimarket.


"kak Nisda tolong bantu Lana membawa satu nampan lagi" ucap Alana


"iya, ayo kita ke depan" Nisda mengambil satu nampan lagi yang berisi gelas minuman


Zahra dan Starla membawa beberapa piring yang berisi cemilan untuk mereka, sedangkan Seil ternyata sudah bergabung bersama laki-laki, dia duduk di samping Deva.


"melati aku mana...?" Adam bertanya saat minuman itu berada di depan mereka masing-masing


"hadir sayang" spontan Melati menjawab dan mengangkat tangan


"cieeeee" Alana dan Nisda menggoda Melati membuat gadis itu tersipu malu sedangkan Adam hanya tersenyum


Zahra yang mendengar Melati memanggil Adam dengan panggilan sayang, wajahnya berubah kecewa.


"bukan kamu, kalau kamu mah nggak bisa aku minum" ucap Adam


"kamu suka teh melati...?" tanya Deva kepada Adam


"itu minuman favorit aku" jawab Adam


Deva manggut-manggut dan menyalakan laptopnya. sementara Melati kembali ke dapur mengambil minuman khusus untuk Adam dan kembali lagi.


"nih, khusus buat kamu dari Melatimu" Melati tersenyum manis


"terimakasih" Adam mengambil botol minuman itu


Zahra yang melihat itu lagi-lagi merasakan kecewa. dia ingin marah tapi pada siapa, lagipula dirinya tidak punya hubungan apapun dengan Adam, apa yang harus ia marahkan.


"ini beberapa gambar yang aku ambil di tiga tempat itu" Deva memberikan laptopnya kepada El


"mana yang bagus kak...?" El bertanya kepada Adam


"terserah kalian saja, kalau aku mengikut apa yang kalian suka" Adam menjawab


"sini Mel, coba lihatlah mana yang menurut kalian bagus...? El memanggil Melati untuk mendekat


Melati beranjak dan Adam menggeser posisinya agar Melati dapat duduk di dekat El-Syakir.


"bagus semua, gue jadi bingung mau pilih yang mana" ucap Melati


"pilih aku aja" ucap Adam singkat


"nggak kamu bilang juga udah dari kemarin-kemarin" cebik Melati ingin sekali menggeplak kepala Adam


"jangan marah-marah nanti cantiknya hilang" Adam berbisik di telinga Melati membuat Melati tersipu malu karena dikatakan cantik


"kalau menurut lu berdua, pilih yang mana...?" El bertanya kepada Vino dan Leo


"puncak Boneng aja gimana, pemandangan alamnya bagus terus kalau gue lihat di video ini, banyak orang-orang yang ke sana" ucap Vino


"benar, gue lebih sreg puncak Boneng. kita pilih itu aja, besok langsung berangkat" Leo mengangguk setuju


"ya sudah, kita akan ke puncak Boneng saja" El menaruh kembali laptop itu di atas meja


"tapi sebelum ke tempat itu, kalian harus tau dulu beberapa pantangan yang tidak boleh dilanggar" ucap Deva

__ADS_1


"karena sudah tiga kali ada orang yang hilang dan tidak ditemukan karena mereka melanggar pantangan yang seharusnya tidak boleh mereka lakukan" Deva menatap mereka dengan serius


"jadi apa pantangannya...?" tanya Adam menatap Deva


__ADS_2