Petualangan Mistis

Petualangan Mistis
Episode 145


__ADS_3

setelah berganti pakaian, ketiga pengantin menuju ke tempat duduk yang telah di sediakan. ketiga mempelai wanita begitu cantik dengan gaun yang mereka pakai begitu juga pengantin laki-laki yang tampak gagah dengan jas yang mereka gunakan.


para tamu undangan mulai berdatangan. sebagian naik ke atas pelaminan dan memberikan selamat kepada pengantin dan ada juga sebagian yang menikmati hidangan yang tersedia di atas meja.


ayah Adnan menghampiri para rekan bisnisnya dan menyapa mereka. tamu undangan yang hampir ribuan itu memenuhi tempat tersebut.


"apakah ini istri pak Adnan...?" tanya salah satu rekan bisnis


"iya, perkenalkan dia istri saya" ayah Adnan merangkul pinggang ibu Arini dengan mesra. hal itu membuat ibu Arini merasa malu karena dilihat oleh banyak orang.


"ternyata istri pemilik Sanjaya grup sangat cantik sekali" puji orang itu


"tidak secantik wanita yang ada di samping ada pak" timpal ibu Arini. dia tersenyum melihat ke arah wanita yang berdiri di samping orang itu dan merangkul mesra lengannya, dia adalah istrinya


"oh tentu, meskipun ibu Arini cantik, tapi yang berada di sampingku jauh lebih cantik" dia pun merangkul pinggang istrinya


"papa ih, malu dilihat orang" wanita itu tidak merasa malu


"ngapain malu mah, lihat pak Adnan saja begitu mesra dengan istrinya"


mereka pun tertawa dan kembali membahas banyak hal, tentunya mengenai pekerjaan. sedangkan ibu Arini bercerita dengan istri dari kolega ayah Adnan tersebut.


sementara Zidan, setelah Vania tertidur pulas, dirinya keluar dari kamar dan kembali ke acara pesta. dia pun menyapa para koleganya yang hadir di pesta itu.


tim samudera berkumpul di satu titik, para perempuan kini sedang mencicipi berbagai macam kue dan juga makanan yang ada.


"ya ampun enak banget, ini teksturnya lembut banget" Starla sedang memakan salah satu kue yang ada di pesta itu


"kayak nggak pernah makan kue aja lu La" ucap Nisda


"abis ini enak banget Nis" jawab Starla


"pelan-pelan makannya yank, sampai belepotan gitu" Vino mengambil tisu dan melap bibir Starla


"makasih yank, nih makan" Starla menyuapi Vino dan dengan senang hati Vino membuka mulutnya menyambut suapan Starla


"hai Lana" seseorang menyapa Alana, dia adalah Seil


"ya ampun Seil, kamu cantik banget" puji Alana kepada teman kelasnya itu


"hehehe iya kah, aku jadi malu nih" Seil tersenyum manis


El-Syakir melihat ke arah Seil, untuk pertama kalinya dia melihat gadis itu berdandan seperti saat ini dan menurutnya gadis itu sangat cantik hari ini.


(cantik) puji El dalam hati


"benaran cantik loh Se. oh iya kamu datang sama siapa...?" tanya Alana


"sama kakak aku, tapi dia ke toilet tadi" jawab Seil


gadis itu mencuri pandang ke arah El-Syakir yang sedang menikmati salah satu kue hidangan di atas meja.


(kak El ganteng banget) pujinya begitu terpana dengan penampilan El-Syakir saat ini


"sut, diliatin tuh" Adam berbisik di telinga El


spontan El-Syakir melihat ke arah Seil, saat itu juga Seil salah tingkah karena El-Syakir memergoki dirinya sedang memperhatikannya. untuk membuang rasa canggung, Seil tersenyum dan di balas oleh El-Syakir.


(manis banget, pen gigit. eh astaghfirullah...mikir apa sih kamu Seil) Seil geleng-geleng kepala


"kenapa Se, kamu pusing...?" tanya Alana saat melihat Seil menggelengkan kepalanya dengan cepat


"ah nggak kok" jawab Seil bersikap biasa saja


"ciee...yang diperhatiin, kayaknya dia suka tuh sama kamu" Adam menggoda El


"apaan sih kak, nggak usah ngaco deh" El kembali melahap makanannya


"naik kasi selamat yuk buat pengantin" ajak Melati


"ayuk, sebelum banyak barang orang" jawab Alana


"ayo Seil" Alana merangkul lengan Seil


merekapun mengantri di belakang untuk naik ke pelaminan. setelah beberapa menit akhirnya mereka sampai juga kepada ketiga pengantin itu.


"selamat melepas masa jomblo paman" Adam memeluk Helmi


"terimakasih tuan muda" ucap Helmi


"selamat ya paman" El-Syakir ikut memeluk Helmi


"terimakasih banyak tuan muda El" Helmi memeluk El-Syakir


satu persatu mereka bersalaman dengan pengantin hingga kini Bara sampai pada kakaknya.


"selamat kakak aku yang ganteng tapi lebih ganteng adiknya ini. semoga menjadi keluarga bahagia" ucap Bara


"makasih dek" Pram menarik Bara dan memeluknya


"aku nggak boleh tidur di kamar kakak lagi deh" ucap Bara saat melepaskan pelukannya


"kan kamu punya kamar, ngapain masih pengen tidur di kamar kakak" timpal Pram


"ya Bara suka aja tidur sama kakak"


"udah nggak boleh, sekarang kamar kakak udah milik kakak ipar mu" Pram merangkul pinggang Mita


"selama ya kakak ipar, nanti kalau kakak aku nakal cubit saja hidungnya" Bara menjabat tangan Mita


Mita terkekeh dengan ucapan adik iparnya itu dan membalas menjabat tangan Bara.


"tenang saja, kalau dia nakal langsung tidur luar" jawab Mita tersenyum


"hahaha, emang enak" Bara mengejek Pram


"tenang saja paman, nanti aku bantu" timpal Adam


"tuan muda memang the best" Pram mengacungkan jempolnya


"bantu membawa selimut dan bantal paman ke luar rumah. hahahaha, ups keceplosan" Adam tertawa ngakak dan itu menarik perhatian banyak orang

__ADS_1


"dasar tuan muda sedeng" Pram mencebik


sementara di bawah, dua orang gadis sedang memperhatikan mereka. keduanya adalah Freya dan Anggi. kedua gadis itu berada di tempat itu karena mengikuti kedua orang tua mereka yang akan menghadiri pesta pernikahan yang tidak lain adalah orang-orang kepercayaan Sanjaya grup.


"itu kok mereka kayak dekat banget ya sam para pengantinnya" ucap Anggi


"apalagi sih cewek centil itu" timpal Freya yang melihat Alana sedang berpelukan dengan Sisil


"Untung aja El nggak ada yang dekatin, kalaupun ada gue nggak akan tinggal diam" ucap Anggi


setelah memberikan selamat kepada pengantin, tim samudera turun dari pelaminan dan menuju ke sebuah meja yang masih kosong. tidak ingin kehilangan kesempatan, Freya dan Anggi menghampiri mereka.


"hai semuanya, kita bertemu di sini rupanya" sapa Freya dengan menampilkan senyuman manisnya begitu juga dengan Anggi


mereka hanya melihat datar ke arah Freya. sejak apa yang dilakukannya kepada Alana waktu lalu, membuat mereka tidak suka dengan gadis itu.


tim samudera hanya menatap datar kedua gadis itu. Seil pun tampak heran kepada mereka semua yang tidak memperlihatkan wajah persahabatan kepada dua gadis itu.


"ini enak, cobain" Adam menyuapi Alana dengan kue yang ada di tangannya dan tentu saja Alana membuka mulutnya


"enak kan...?" tanya Adam


"humm enak" Alana mengangguk


"cobain deh kak" Alana menyuapi Leo dan tentunya Leo dengan senang menerima suapan dari gadis kecilnya itu


"iya benaran enak" ucap Leo


(dasar ganjen) kesal Freya dalam hati


"hai El" Anggi merapat ke arah El-Syakir


"bisa jauh-jauh sedikit, gue nggak nyaman" ucap El dengan dingin


"oke, sorry" Anggi menjauh selangkah namun tetap berada di dekat El-Syakir


"kalian ngapain ke sini...?" tanya Adam dengan wajah datarnya


"mau bergabung bersama kalian" Freya mendekat ke arah Adam dan mendorong Alana agar menjauh dari Adam


"elu nggak sopan banget, main dorong saja" Seil yang melihat itu sangat tidak suka. pantas saja El dan yang lainnya tidak suka dengan mereka berdua


"upzz, sorry...sengaja" Freya melirik sinis ke arah Alana


"kamu nggak apa-apa...?" tanya Leo khawatir


"nggak kak, aku baik-baik saja" Alana tersenyum ke arah Leo


"dasar ganjen" cibir Freya


"apa kakak bilang. kalau ngomong jangan sembarangan ya kak" Alana sungguh sudah sangat geram dengan kelakuan kakak kelasnya itu


"elu emang ganjen, udah dekatin Adam sekarang malah dekat lagi sama Leo. wanita murahan"


plaaaak


satu tamparan mendarat di pipi Freya, Alana yang terlihat lemah lembut kini menatap tajam ke arah Freya.


"aduh, kayaknya enak banget tuh di tampar" Nisda mengejek Freya.


Seil melongo melihat Alana menampar Freya dengan kerasnya. dia tidak percaya Alana dapat melakukan itu.


"elu...berani ya lu sama gue" Freya hendak menampar Alana namun Adam menahan tangannya dan menepisnya dengan kasar


"sekali kamu sentuh dia, aku pastikan kamu akan hidup menderita" ucap Adam dengan tatapan tajam


"kenapa sih lu selalu belain dia, lebih cantik juga gue daripada dia" Freya sungguh sangat kesal


"dia segalanya buat aku, lebih baik kalian berdua pergi, kita juga nggak butuh kalian" ucap Adam


Freya menghentakkan kakinya ke lantai dan meninggalkan mereka. Anggi menyusul Freya dari belakangnya.


"kayaknya dia suka sama elu deh dam" ucap Vino


"biarkan saja, aku nggak peduli" jawab Adam


tamu undangan terus berdatangan. tanpa terasa sudah berjalan tiga jam acara tersebut namun para tamu belum ada habis-habisnya.


Alana yang merasa ingin buang air kecil langsung pamit ke toilet. Melati ingin mengantarnya namun Alana menolak dan segera meninggalkan mereka.


"Fre, liat tuh" Anggi menunjuk Alana yang sedang berjalan sendiri


"ikuti dia" Freya menarik Anggi untuk mengikuti Alana


Alana buru-buru masuk ke dalam toilet. sedangkan kedua gadis itu menunggunya di luar. setelah selesai Alana langsung keluar namun di luar sudah ada Freya dan Anggi yang sedang menunggunya.


"ngapain kalian...?" tanya Alana


"nggak usah banyak tanya. apa sih yang dilihat Adam sama elu sampai mau-mau aja dia elu tempelin terus" ucap Freya


"emang aku kertas main ditempelin, lagian terserah aku lah mau nempel sama kak Adam atau nggak" jawab Alana


"permisi, aku mau lewat" Alana hendak pergi namun Freya menarik bahunya dan menempelkannya ke dinding.


"nggak usah sok cantik, Adam itu milik gue" Freya mencengkram wajah Alana


"lepasin" Alana berontak


"Anggi, pegang dia, bawa masuk ke dalam" perintah Freya kepada Anggi


mereka berdua membawa masuk Alana ke dalam toilet dan mengguyur tubuhnya dengan air. seketika gaun yang dikenakan Alana langsung basah.


"lepasin" Alana sudah menangis


"biar elu ngaca kalau elu nggak pantas buat Adam, dasar cewek murahan"


Freya menarik rambut Anggi dan Anggi terus mengguyur tubuh Alana dengan air.


bughhh


kepala Alana di benturkan ke dinding hingga pelipisnya berdarah. tidak sampai di situ, Anggi mengambil gunting yang ada di tasnya dan berniat menggunting habis rambut panjang Alana.

__ADS_1


"kasi botak aja Nggi, biar tau rasa dia" Freya tersenyum puas melihat penderitaan Alana


braaaakkk


tiba-tiba saja pintu toilet di buka. mereka kaget bukan main, Adam sudah berdiri di depan pintu dengan tatapan marah dan tajam kepada keduanya.


"apa yang kalian lakukan kepada adikku" teriak Adam membentak mereka


deg....


mata Freya dan Anggi membulat sempurna, keduanya pucat mendengar ucapan Adam.


"a-adik...?" Freya sangat terkejut begitu juga dengan Anggi


"astaga, Alana" El-Syakir masuk ke dalam dan memeluk tubuh Alana yang sudah tidak sadarkan diri


"dek...bangun dek" El memukul pelan pipi Alana namun gadis itu tidak merespon


"apa yang kalian lakukan bangsat" El-Syakir begitu marah melihat adiknya di siksa


"k-kami... k-kami" Freya dan Anggi begitu ketakutan dan bahkan wajah mereka mulai pucat


plaaaak


plaaaak


tanpa pikir panjang, Adam menampar kedua gadis itu. tim samudera sampai terkejut melihat Adam tanpa rasa kasihan menampar Freya dan Anggi.


"kalian sudah berhadapan dengan orang yang salah, akan aku buat kalian menderita"


Adam menarik kedua gadis itu membawanya ke tempat pesta. sedang El-Syakir menggendong Alana. Leo melepas jas yang dipakainya dan menutupi tubuh Alana karena gaunnya yang transparan.


"yah, itu Alana kenapa...?" ibu Arini panik saat melihat El-Syakir menggendong Alana dan mereka juga melihat Adam menarik paksa dua orang gadis


"Adam, El....adik kalian kenapa...?" ayah Adnan menghampiri mereka. semua yang berada di tempat itu langsung terfokus ke arah mereka


"bawa Alana ke kamar El, aku akan memberi pelajaran kepada dua orang ini yang telah melukai adikku" ucap Adam


"melukai, siapa yang berani melukai putriku" ayah Adnan begitu sangat marah


Freya dan Anggi semakin menunduk takut. mereka menang dua gadis bodoh, bisa-bisanya melakukan penganiayaan di tempat seperti itu yang sudah jelas pasti akan ketahuan.


"ikut aku yah, untuk ibu tolong urus Alana" ucap Adam


mereka mengangguk. ibu Arini mengikuti El-Syakir ke kamar untuk membaringkan Alana. tim samudera masih ditempat, mereka ingin melihat apa yang akan dilakukan Adam.


"apa yang akan dilakukan kak Adam...?" tanya Seil


"kita lihat saja" jawab Melati


Adam dan ayah Adnan naik ke atas panggung. ketiga pengantin kegat melihat Adam menarik kasar dua gadis muda naik ke atas bersama ayah Adnan.


"ada apa ini pak...?" tanya Helmi


"mereka menyiksa Alana paman" jawab Adam


"apa...? menyiksa...? semuanya nampak terkejut


"perhatian semuanya" Adam mengambil alih acara pernikahan tersebut


"loh pah, itu kan Freya...ngapain di atas sana" mama Freya menunjuk anaknya


"iya, ngapain dia atas sana" ucap papa Freya


sedang kedua orang tua Anggi pun tampak terkejut melihat anak mereka berada di atas panggung.


"saya ingin memanggil kepada kedua orang tua gadis ini untuk naik ke atas panggung. harus kalian tau, anak bapak dan ibu dengan sangat tidak punya hati nurani telah menyiksa adik saya di dalam toilet"


"apa...?"


semua orang tampak terkejut begitu dengan kedua orang tua Freya dan Anggi. dengan buru-buru mereka naik ke atas panggung. di sana Freya dan Anggi sudah menangis menahan malu dan ketakutan.


"Freya ada apa ini...?" tanya papa Freya


"Anggi, apa yang telah kamu lakukan...?" papa Anggi menatap tajam ke arah anaknya


"mereka berdua telah menyiksa anak saya dan ini sungguh sangat tidak bisa dimaafkan" ayah Adnan menjawab kedua pria itu


"wah gila, mereka menyiksa anak pemilik Sanjaya grup. nggak ada otak memang mereka"


"bisa-bisanya mereka menyiksa anak pengusaha ternama, cari mati mereka tuh"


"astaga, nggak waras kali ya"


tamu undangan mencibir kedua gadis itu. kalau jadi orang tua keduanya, mereka akan sangat malu melihat perbuatan anak mereka.


"apa benar itu Anggi...?" mama Anggi bertanya namun Anggi hanya menunduk takut dan terus menangis


"JAWAB" Adam membentak keduanya membuat kedua gadis itu tersentak kaget


"m-maaf... maafkan kami, kami nggak tau kalau Alana adik kamu" Freya menjawab lirih


"Adam kalau lagi marah seram banget" ucap Starla


"jelas dia marah, biar gue akan semarah itu kalau gue di posisi dia" timpal Melati yang sedang memperhatikan mereka


"oh jadi kalau Alana bukan adik aku, lantas kalian berhak begitu menyiksa dia" ucap Adam


"b-bukan begitu" Freya menjawab dengan tubuh yang bergetar


"ya Allah Freya, kamu benar-benar keterlaluan. sejak kapan mama mendidik kamu menjadi pembuli seperti itu" mama Freya sungguh sangat malu


"ayah aku nggak mau tau, putuskan kerja sama dengan kedua orang tua mereka. tarik semua investasi yang pernah ayah lakukan dan jebloskan mereka berdua ke penjara" setelah mengatakan itu Adam meninggalkan panggung untuk pergi melihat keadaan Alana


orang tua Anggi dan Freya sangat shock mendengar ucapan Adam. mereka memohon kepada ayah Adnan untuk tidak memutuskan kerjasama dengan perusahaan mereka. namun ayah Adnan tidak bergeming, sakit hatinya melihat putrinya terluka membuat dirinya enggan untuk memaafkan.


ayah Adnan menyuruh pengawal untuk menghubungi polisi agar menjemput kedua pelaku yang menganiaya anaknya. Freya dan Anggi menangis sejadi-jadinya. orang tua mereka bahkan akan berlutut di kaki ayah Adnan namun ayah Adnan langsung meninggalkan tempat.


Ardi dan Furqon serta pengawal lain membawa mereka turun dari panggung dan keluar dari hotel. Freya dan Anggi akan dijemput polisi di luar hotel.


emsi mengambil alih kembali acara dan menenangkan para tamu undangan. acara kembali dilanjutkan, semua orang tidak peduli dengan dua keluarga yang anak-anaknya mereka membiarkan onar. bagi mereka, hal itu pantas mereka dapatkan. apa yang kamu lakukan maka itu yang kamu tuai.

__ADS_1


__ADS_2