Petualangan Mistis

Petualangan Mistis
Episode 209


__ADS_3

setelah menonaktifkan bom yang hampir membuat mereka meledak, kini ayah Adnan dapat bernafas lega. itu semua berkat satpam muda yang bernama Ramdan dan juga temannya. laki-laki muda itu tentu sangat berjasa dalam menyelamatkan perusahaan Sanjaya grup.


"terimakasih telah menolong kami" ayah Adnan memeluk pemuda yang bernama Aan itu


"sama-sama pak, selama bisa menolong maka tentu saya akan melakukannya" jawab Aan


"kamu sepertinya punya bakat dalam menangani hal ekstrim seperti ini" ucap Edward


memang tadi mereka begitu sempat deg-degan dimana detik-detik terakhir barulah Aan dapat memutuskan kabel mana yang harus ia potong.


"pekerjaan saya memang hal yang berbau bahaya seperti ini, kadang pun kami berada dalam situasi yang jika gegabah maka sudah pasti nyawa akan melayang" jawab Aan


"kalian polisi...?" tanya Ardi


"kami berdua TNI" jawab Aan melirik Ramdan


semua orang saling pandang dan sama sekali tidak menyangka kalau yang menyelamatkan mereka adalah dua orang anggota TNI.


"lalu kenapa kamu malah menjadi satpam...?" tanya ayah Adnan melihat ke arah Ramdan


"saya menggantikan teman pak. harusnya dia yang bekerja namun karena dia sakit maka saya yang mengambil alih pekerjaannya" jawab satpam muda itu


"sekali lagi terimakasih sudah membantu kami" ayah Adnan menjabat tangan keduanya


di rumah sakit, Gibran harus dilarikan ke ruang operasi karena pendarahan yang ia alami. luka tembak yang terus mengeluarkan darah membuatnya terbaring lemah di ruang operasi dan membutuhkan dua kantung darah.


"apa golongan darahnya...?" tanya Zidan


"golongan darahnya adalah B. untungnya stok darah di rumah sakit masih ada jadi tidak perlu mencari pendonor" jawab dokter Nathan yang berlalu masuk ke ruang operasi dengan pakaian yang lengkap dan khusus.


kini dokter Nathan mengambil alih untuk menangani Gibran. dia ingin teman sekaligus saudara yang sudah dia anggap seperti adiknya itu, selalu dalam pantauan dan pengawasannya.


Zidan dan Bagas serta Furqon duduk di ruang tunggu depan ruangan itu. tidak lama ketiga pengawal datang bersama dengan laki-laki yang mereka kejar tadi. pastinya wajahnya sudah babak belur karena ulah ketiganya.


"mau kita apakan orang ini...?" tanya Helmi


"bawa ke kantor polisi" jawab Zidan


Helmi menghubungi pengawal lain untuk membawa laki-laki itu ke kantor polisi. kedua tangannya telah diikat di belakang punggungnya. sambil menunggu pengawal datang, mereka duduk di depan ruangan itu.


"kita harus menyusul anak-anak" ucap Randi


"bagaimana dengan anak buah Jacob...?" tanya Zidan


"mereka dalam perjalanan ke sana. apa kamu tidak ingin ikut...?" ucap Randi


Zidan menghela nafas dan menghembuskan dengan pelan. fisiknya yang belum terlalu kuat akibat kecelakaan yang ia alami kemarin. dirinya juga memikirkan keadaan istrinya jika ia ikut bersama mereka.


"masalah Vania kita bisa menyuruh pengawal untuk menjaganya. tapi kalau kamu tidak ingin ikut, biar kami saja yang ke sana" ucap Pram


"aku akan ikut. suruh pengawal untuk menjaga Vania. kita pergi sekarang" Zidan mendongakkan kepalanya dan bangkit dari duduknya


"tolong jaga Gibran sampai kami kembali" Zidan melihat ke arah Bagas


"tenang saja, aku akan menjaganya di sini" jawab Bagas


Zidan mengangguk dan berjalan terlebih dahulu. Randi menyeret laki-laki tadi untuk ikut bersama dengan mereka. di lobi rumah sakit, mereka bertemu dengan pengawal yang lain. laki-laki itu di serahkan kepada para pengawal itu untuk membawanya ke kantor polisi dan yang sisa pengawal lainnya bergegaslah ke ruangan Vania untuk menjaga wanita itu.


"mereka berhasil menonaktifkan bom itu. hebat juga mereka" Baharuddin yang duduk di kursi mengambil gelas minumannya dan meneguknya


"mereka ternyata bukan lawan yang harus kita remehkan ya" ucap wanita yang berada di sampingnya. dialah ratu Sri Dewi


"tidak mengapa, aku yakin pertunjukan sebentar akan lebih seru lagi" Baharuddin menyeringai


"akan kita apakan kedua anak itu...?"


"menurutmu kita harus apakan mereka. kamu sudah memperkuat tabir pelindung agar kembaranmu itu tidak dapat mengetahui dimana keberadaan kita sekarang kan...?" Baharuddin menggeser posisinya semakin dekat dengan Sri Dewi. ia meraih pinggang wanita itu agar semakin merapat kepadanya.


"kamu meragukan kemampuan ku...?" Sri Dewi menatap tajam Baharuddin


"tentu saja tidak. aku hanya tidak ingin ratu Sundari datang dan membantu mereka. tanpa wanita itu jelas mereka tidak akan bisa mengalahkanmu bukan. terlebih lagi aku semakin kuat. iblis di dalam tubuhku memberikan aku kekuatan yang begitu besar" Baharuddin mencium leher Sri Dewi


semakin lama semakin menuntut bahkan kini wanita itu ia rebahkan di atas sofa dan laki-laki itu berada di atasnya.


"kamu semakin membuatku bergairah" Baharuddin berbisik di telinga Sri Dewi


berkat iblis yang ia puja, Baharuddin yang harusnya sudah mengalami penuaan seperti ayah Adnan namun ternyata laki-laki itu kini masih begitu terlihat fresh. tidak dapat dipungkiri bahwa memang ia kini telah berumur tidak muda lagi namun kekuatannya masih seperti anak muda karena tenaga yang ia dapatkan dari iblis yang ia puja.


Sri Dewi yang terlihat begitu cantik, ratu penguasa kegelapan itu mengalungkan tangannya ke leher Baharuddin.

__ADS_1


"kamu ingin melakukannya di sini...?"


"memangnya kenapa, kita cari sensasi yang berbeda dengan bermain di tempat yang berbeda" Baharuddin kembali mencium leher jenjang wanita itu membuat pemiliknya mengeluarkan suara *******


semakin lama semakin menuntut lebih bahkan kini ruangan itu telah dipenuhi dengan suara yang lolos dari mulut keduanya.


tidak puas melakukan di atas sofa, Baharuddin mengangkat Sri Dewi masuk ke dalam kamar dan mereka melakukan hubungan terlarang itu tanpa peduli dosa yang akan mereka tanggung.


sementara di kerajaan karing-karing ratu Sundari terus berjalan bolak-balik memikirkan sesuatu.


"kamu tidak menemukan mereka Senggi...?" tanya ratu Sundari saat Senggi datang menghadapnya


"saya kehilangan jejak mereka. maafkan aku ratu. ilmu yang dimiliki Sri Dewi sekarang semakin kuat saja sampai kita tidak bisa menembus penglihatannya kemana ia membawa Adam dan Deva"


"benar-benar licik kamu Dewi. aku tidak akan mengampunimu kalau kamu berani mencelakai kekasihku" amarah ratu Sundari begitu menggelegar bahkan para dayang istana yang berada di dekatnya membuat mereka ketakutan


"apa yang harus kita lakukan ratu...?"


wanita cantik penguasa hutan timur itu duduk di singgasana miliknya dengan mata yang nyalang menampakkan kemarahan yang begitu besar. aura kecantikan yang ia miliki sekarang berubah menjadi aura membuat semua yang ada di tempat itu merinding dan takut. ratu Sundari seakan ingin menelan hidup-hidup musuh-musuhnya.


"aku akan melakukan cara terakhir"


"apa itu ratu...?"


"kamu tau apa yang aku maksud Senggi"


"ratu akan menerima tawarannya...?"


"hanya dia yang bisa membantuku saat ini"


"tapi....jika itu ratu lakukan, ratu tidak akan bisa kembali ke tubuh ratu untuk selamanya*


"apa tubuh itu lebih penting dari Adam sekarang. nyawanya terancam Senggi dan aku tidak bisa hanya tinggal diam saja tanpa menyelamatkannya"


"kalau Adam tau keputusan yang ratu ambil, dia akan benar-benar kecewa ratu"


ratu Sundari memejamkan mata, teringat bagaimana pertemuannya dengan Adam saat laki-laki itu dikelabui oleh Jacob dan hampir saja mereka celaka. untungnya ratu Sundari saat itu yang datang menolong mereka.


flashback


"terimakasih telah menyelamatkan ku lagi" Adam memeluk ratu Sundari dengan eratnya


wanita itu tersenyum dan membalas pelukan Adam. ratu Sundari ingin melepas pelukannya namun Adam menahannya.


"biarkan seperti ini sejenak, aku rindu tau" Adam tidak ingin melepaskan pelukannya


setelah puas memeluk wanitanya, Adam melepaskan pelukannya dan menatap teduh wanita cantik yang kini sedang tersenyum manis padanya.


"aku ingin meminta satu hal darimu"


"apa itu...?"


"berjanjilah kamu tidak akan pernah meninggalkan aku lagi apapun yang terjadi nanti. aku tidak ingin kejadian seperti dulu terulang lagi. kamu tau kalau aku hanya memilih kamu, ratu penguasa hutan timur, tidak ada yang lain" Adam memegang tangan ratu Sundari dan menciumnya


"aku akan mendapatkan tubuhmu kembali dan kita bisa bersatu. selama aku berjuang, mohon jangan berpaling kepada yang lain apalagi kepada pangeran yang bernama ragi ragi itu"


"Ragiman, bukan ragi-ragi" ratu Sundari membenarkan


"terserah, mau beras tagi sekalian aku tidak peduli. jika kamu bersamanya maka aku pastikan aku akan menculikmu pergi darinya. aku tidak main-main" Adam memasang wajah yang serius


"iya iya, aku mengerti"


senyuman Adam mengembang dan tanpa aba-aba langsung mencuri ciuman dari bibir wanita itu sebelum akhirnya ia pergi karena para pengawal Sanjaya grup telah tiba di tempat itu.


ratu Sundari geleng kepala dan kemudian menghilang meninggalkan tempat itu karena tugasnya sudah selesai.


flashback end


"ini juga berat buatku Senggi, tapi...."


"kita cari cara lain ratu, asal jangan yang satu itu. aku tau pangeran Ragiman bisa membantu namun jika ratu menerima tawarannya, apa ratu tidak akan menyesal nantinya...?"


Senggi selalu mencari cara agar ratu Sundari tidak gegabah dalam mengambil keputusan. ia tau ratu Sundari dan Adam saling mencintai maka dari itu dirinya selalu memberikan nasehat serta solusi untuk tidak merugikan wanita itu.


"baiklah. kalau begitu aku akan melakukan cara yang satunya"


"apa itu ratu...?"


"aku yakin Sri Dewi akan keluar dari tempat persembunyiannya. dia pasti hanya memasang tabir pelindung di daerah tempat dimana Baharuddin tinggal. oleh karena itu jika dia keluar maka tentu aku akan menggunakan kesempatan itu untuk menghancurkan pertahanan mereka. setelah mengetahui dimana lokasi keberadaan Baharuddin, aku akan menghancurkan tabir pelindung itu. kita sulit menemukannya karena kita tidak tau keberadaan mereka namun jika kita sudah tau dimana letaknya, maka tentu saja kita akan menemukan Adam dan Deva. setelah aku menghancurkan tabir pelindung yang di buat oleh Sri Dewi, tugasmu adalah menyelamatkan Adam dan Deva. urusan Sri Dewi biar menjadi urusanku"

__ADS_1


"kamu harus berhati-hati ratu, dia semakin kuat saja.


"aku tau. sesakti apapun dia nantinya, aku harus tetap menghadapinya. sekarang pergilah dan awasi El-Syakir serta yang lainnya. jika kamu sudah menemukan titik keberadaan Baharuddin dan Sri Dewi, maka datanglah padaku"


"baik ratu"


tim samudera tiba di titik dimana lokasi keberadaan Adam dan Deva. mereka turun dari mobil dan sekarang ini mereka berada di dermaga.


"lah, ini kan tempat kami dibawa Gibran kemarin" ucap El-Syakir


"tidak ada apapun di sini. tapi titiknya berhenti di sini" ucap Leo


"sepi banget, kayak kuburan" ucap Melati


"jangan-jangan kita masuk perangkapnya lagi. bisa jadi dia...."


Vino yang belum selesai dengan ucapannya kini mereka semua telah terperangkap ke dalam jaring yang besar. tim samudera tidak dapat melepaskan diri karena mereka langsung di buat pingsan sebelum melakukan perlawanan.


"bawa mereka" ucap salah satunya


"woi...mau kalian apakan anak orang bung" anak buah Jacob datang tepat waktu


empat mobil datang dan jumlah mereka yang begitu banyak. sedang Jacob sendiri tidak ada, ia hanya mengirim anak buahnya saja untuk membantu keluarga Sanjaya.


"ini bukan urusan kalian, sebaiknya minggir dan kalian semuanya pulang"


"oh tidak bisa, kami ditugaskan untuk melindungi anak-anak itu. sekarang lepaskan mereka sebelum kamu merasakan bogem mentah dariku"


"cih, aku pikir aku takut. serang mereka"


"SERANG"


anak buah Jacob berteriak keras. kini orang-orang Baharuddin dan juga orang-orang yang dikirim Jacob mulai bertarung.


tim samudera belum juga sadarkan diri karena mereka dibius agar tidak melawan. Zidan dan para pengawalnya baru saja datang. melihat pertarungan sengit telah berlangsung, Zidan tidak mengarahkan pengawalnya untuk membantu. ia membiarkan anak buah Jacob saja saat ini yang meladeni orang-orang Baharuddin.


"di sana" tunjuk Furqon kepada tim samudera yang terperangkap di dalam jaring


"bebaskan mereka" perintah Zidan


para pengawal memotong-motong jaring itu kemudian berusaha menyadarkan anak-anak itu agar sadar dari pingsan mereka.


"paman" El-Syakir bangkit setelah ia mulai sadar


yang lainnya pun bangkit dan merasa heran kenapa mereka tidur di tanah.


"Zidan, ini adalah dermaga untuk ke pulau milik tuan muda Dirga" ucap Pram


"apa mereka bersembunyi di sana" gumam Zidan


"tidak ada siapapun di sini paman, malah kami dijebak oleh Baharuddin itu" ucap Leo


"kurang ajar" Zidan mengeram menggertakkan gigi-giginya


"siapkan jet ski untuk menyebrang ke sana. kepung pulau itu dari segala arah. tambah pasukan pengawal untuk menangkap Baharuddin. jangan lupa, siapkan helikopter jika mereka berhasil meloloskan diri. apapun yang terjadi hari ini kita harus menangkap biadab itu" Zidan mengeluarkan perintah


"baik bos"


Helmi menghubungi pasukannya untuk datang ke dermaga. sementara Pram dan Randi menyiapkan jet ski dan helikopter yang akan dibutuhkan.


anak buah Jacob masih terus bertarung dengan orang-orang Baharuddin. bahkan kini orang-orang Baharuddin sudah semakin terjepit dan mereka memutuskan untuk melarikan diri daripada mati. rupanya loyalitas merek terhadap bos mereka sangatlah rendah.


"jet ski yang bos butuhkan sudah siap" ucap Pram


"kita berangkat sekarang" ucap Zidan


"pakai ini" Helmi memberikan sebuah benda kecil yang akan dipakai di telinga sebagai alat untuk mereka berkomunikasi nantinya


Pram, Randi dan Furqon memakai alat itu namun tidak dengan yang lain. setelah itu mereka akan berangsur ke tempat tujuan.


"kami ikut kak" Bara datang menghampiri Pram dan Zidan


"kalian naik di helikopter saja. kamu bersama mereka saja Pram biar yang lainnya ikut denganku. ingat, kalian harus berhati-hati"


"baiklah" jawab Pram


Zidan, Helmi dan Randi, Furqon serta para pengawal yang sudah datang, akan bersiap untuk ke pulau itu. senjata telah mereka persiapkan. kini mereka menaiki jet ski dan menjauh dari dermaga.


Pram masih tetap membutuhkan anak buah Jacob. mereka naik ke helikopter bersama tim samudera untuk ke pulau itu. karena mereka begitu banyak maka empat helikopter mereka sediakan. bukan hal yang sulit bagi keluarga Sanjaya untuk menyiapkan transportasi seperti itu.

__ADS_1


__ADS_2